Rabu, 29 Agustus 2012

Lor-Kidul, Kulon-Wetan


“Iku loh, nang kulon,” (Itu di sebelah barat)

Saya baru sadar, ternyata orang Jawa begitu kental dengan arah mata angin. Faktanya, dimanapun berada mereka pasti selalu tahu dimana arah Utara, Selatan, Timur, dan Barat. Padahal saya sendiri merasa kesulitan jika disuruh melakukan sesuatu berdasarkan arahan Lor-Kidul, Kulon-Wetan itu meskipun saya tahu artinya. Tahu artinya tidak berarti tahu arahnya, bukan?

Nampaknya, sejak kecil masyarakat di Jawa memang sudah dibiasakan untuk menentukan arah sesuatu berdasarkan mata angin. Layaknya budaya yang masih kental di Jawa, tentunya mata angin telah menjadi sahabat mereka sejak kecil (bagi mereka yang lahir dan hidup di Jawa).

Saya selalu menemukannya dalam setiap percakapan menggunakan bahasa Jawa. Masyarakat selalu mengandalkan arah mata angin untuk menunjukkan sesuatu, baik arah jalan maupun lokasi tempat. Jika ditelisik, sangat jarang ditemukan penggunaan kata “kiri-kanan atau depan-belakang” untuk menunjukkan sesuatu. Mungkin karena arah tersebut kondisinya relatif, sementara arah mata angin itu adalah pasti.

Hal itu menjadi tradisi yang cukup unik. Disadari atau tidak, penggunaan arah mata angin tersebut telah turun-temurun ditularkan di lingkungan Jawa. Menarik, karena dengan demikian, panduan mereka bisa sangat jelas. Komunikasi yang terjalin (mengenai arah) pun sangat tepat, tidak relatif.

Coba bayangkan, jika kita berkomunikasi dengan orang lain sambil berhadapan dan menyebut kata “sebelah kiri”. Kata “sebelah kiri” disini bakal menjadi kata yang ambigu karena melahirkan dua persepsi, yakni sebelah kirinya “si pembicara” atau sebelah kirinya “lawan bicara”. Oleh karena itu, dengan menggunakan arah mata angin, persepsi antara kedua orang atau lebih bisa menyatu. Kulon-Wetan atau Lor-Kidul.

Jadi, sebelum mengunjungi suatu tempat di Jawa, maka ada baiknya untuk memastikan terlebih dahulu arah mata anginnya sebelum bertanya kepada orang (Jawa) disana. Jangan sampai kita yang ditunjukkan arahnya malah tidak tahu arah mata angin di tempat tersebut. Jadi bingung, kan? Hehehe


--Imam Rahmanto--

2 komentar:

  1. Iya, lor-kidul, kulon-wetan, memang sering digunakan dalam percakapan Jawa. Bahkan, digunakan juga untuk penamaan jalan atau daerah. Salahsatunya nama jalan di perumahan om-ku; Tlogosari Kulon. Meski aku sering terbalik-balik mengartikannya, aku suka penamaan itu. Sangat Jawa :D

    BalasHapus
  2. @Dian Kurniati: Halah, padahal Dian kan tulen Jawanya... Ternyata masih bisa juga ya salah2 arah... Hahahah...#sering kesasar juga kali.

    BalasHapus