Kamis, 23 Agustus 2012

Joglo Semakin Ditinggalkan


Salah satu rumah adat yang banyak dipakai oleh masyarakat Jawa adalah rumah Joglo. Setahu saya (semenjak duduk di bangku sekolah dasar), Joglo merupakan rumah adat dari Jawa Tengah. Tapi menurut saudara saya (yang lama tinggal di Jawa), rumah Joglo umumnya memang digunakan oleh seluruh masyarakat Jawa. Ooo.... (sedikit mengerti).

Rumah yang beratapkan genteng dengan asitektur atap menjulang tinggi itu memang masih banyak dijumpai di daerah-daerah pedesaan meakipun keberadaannya pun berangsur punah. Bahkan di bagian-bagian kota sudah sangat jarang lagi ditemukan rumah-rumah adat serupa. Masyarakat perkotaan lebih suka membangun rumah dengan gaya arsitektur khas perkotaan. Sebagian besar malah sudah melupakan sentuhan-sentuhan khas Jawanya.

Saya masih bisa menjumpai sebagian besar masyarakat di desa saya (Keting, Sekaran/ Lamongan) mendirikan rumah Joglo. Akan tetapi, di tempat saya, keberadaan rumah Joglo lebih diidentikkan dengan ke-kurangmampu-an pemiliknya. Mungkin karena modelnya yang masih bergaya tradisional dan penghuninya yang berprinsip "asal hidup", maka dianggap ketinggalan zaman. Padahal (setahu saya), rumah Joglo di Jawa Tengah lebih identik dengan gelar kebangsawanan seseorang.

Akan tetapi, di daerah saya hal seperti itu tidak berlaku. Rumah model Joglo tampaknya hanya menjadi tampilan luar bangunannya saja. Ditilik isi rumahnya, kita hanya akan menemukan ruangan yang sangat luas dan berlantaikan tanah. Sebagian besar masyarakat nampaknya ogah-ogahan sekadar "menembok" lantai rumahnya. Padahal jika seandainya ukuran kemegahan rumah dinilai dari luas bangunannya, maka kebanyakan masyarakat Jawa sudah memiliki rumah-rumah yang megah, loh.

Rumah-rumah model Joglo tersebut sengaja dibuat sangat luas, terutama bagian ruang depannya (ruang tamu), agar bisa menjadi tempat meletakkan banyak hasil sawah. Ya, biasanya jika musim panen tiba, semua karung hasil panen padi (dsb) dibawa ke rumah dan ditumpuk di ruang depan sambil menanti untuk dijual. Selain itu, di dalam rumah-rumah tersebut kita bakal sangat jarang menemukan perabot-perabot yang biasa ditemukan menghiasi rumah pada umumnya. Mungkin, masyarakat pedesaan berprinsip "asal bisa hidup" sehingga mereka lebih memilih memanfaatkan uang mereka untuk barang-barang yang lebih berguna. Sama sekali tidak ada niat mereka untuk merenovasi rumah mereka. Pada akhirnya, Joglo menjadi model rumah yang dianggap ketinggalan zaman. Dan berdasarkan pengamatan saya, rumah Joglo lebih identik dengan kondisi kemiskinan masyarakat di daerah pedesaan.

Saya pun bisa melihat, penduduk-penduduk desa yang berasal dari rantauan masing-masing berlomba-lomba memperbaharui tampilan rumah mereka, dari sederhana menjadi modern. Rumah-rumah yang awalnya berlantaikan tanah diubah menjadi lantai porselen. Dinding-dinding kayu ditembok. Pintu-pintu dengan kunci dari batang bambu diganti dengan pintu bergembok besi. Atap genteng dari tanah liat diganti dengan genteng dari bahan plastik ataupun kaca. Jendela yang hanya berupa lubang-lubang ventilasi dari kayu diubah menjadi jendela kaca.

Lambat-laun rumah joglo mulai ditinggalkan. Kini, yang bermodelkan Joglo hanyalah rumah-rumah dari 'simbah-simbah' yang masih setia menghuni rumah tradisional mereka sembari setia menanti anak-anaknya pulang dari rantauan. (*)


--Imam Rahmanto--


2 komentar:

  1. Di alenia terakhir, rumah joglo itu hanya milik simbah-simbah yang menunggu anaknya dari perantauan? Apakah juga menunggu sang anak merombak rumah antiknya menjadi modern, seperti tetangga?

    BalasHapus
  2. @Dian Kurniati: Biasanya sih gitu. Bagi "simbah", merombak rumah atau tidak itu terserah anak-anaknya. Tapi, kebanyakan aku melihat mereka yang pulang dari rantauan biasanya mengubah sedikit model rumahnya (jadi lebih baik) jadi lebih layak huni buat orang tuanya.

    BalasHapus