Jumat, 31 Agustus 2012

"Melegalkan" Kuota Penumpang Berlebih

Agustus 31, 2012

Langkah kami dipercepat ketika memasuki area pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Kapal Umsini yang dijadwalkan berangkat pukul sepuluh pagi telah berlabuh sejak tadi. Segala keinginanku yang ingin sekadar mondar-mandir di pelabuhan sebelum berangkat, buyar seketika. Kami harus berlomba dengan penumpang lain memperebutkan ranjang tidur yang tersedia di kelas

Hal seperti itulah yang kerap terjadi jika kita memanfaatkan transportasi kapal laut. Mendaftarkan tiket untuk Economy Class berarti kita harus siap untuk berlomba dengan penumpang lain memperoleh ranjang di kabin Ekonomi. Jika tidak, maka kita harus rela mencari tempat tidur lain; bisa saja lesehan di lantai atau memanfaatkan bangku-bangku kosong yang tersedia.

Di atas kapal, Kelas Ekonomi sangat berbeda dengan kelas utama (termasuk persoalan biayanya). Bagi penumpang kelas utama, kamar-kamar khusus telah disediakan sebagai tempat peristirahatan mereka. Sementara bagi penumpang kelas ekonomi, mereka masih harus menghadapi "calo-calo kasur" yang senantiasa menghadang di pintu masuk kabin. Calo-calo tersebut menawarkan "lapak-lapak" tempat tidur di dalam kapal, berhubung jumlah penumpang yang selalu melebihi kuota seharusnya. Tentunya, jasa yang ditawarkan oleh mereka tidaklah gratis.

Saya agak kesal ketika harus berhadapan dengan calo di dalam kapal. Apalagi jika saya sampai tidak kebagian ranjang yang diperuntukkan buat penumpang kelas ekonomi. Padahal, jika ditelisik, ranjang-ranjang di kabin kelas ekonomi beserta kasurnya sudah seharusnya menjadi hak fasilitas bagi penumpangnya. Ranjang-ranjang tersebut sudah menjadi bagian dari pemesanan tiket kapal. Akan tetapi, disebabkan jumlah penumpang (kelas ekonomi) yang melebihi jumlah maksimum, maka banyak penumpang yang tidak memperoleh tempat. Segelintir orang pun mencoba memanfaatkan kondisi tersebut, termasuk para anak buah kapal yang bersangkutan.

Saya juga heran dengan banyaknya berkeliaran pedagang-pedagang asongan, yang sebenarnya adalah ABK, menawarkan dagangan dengan harga tiga kali lipat dari harga sebenarnya. Keuntungan yang mereka dapatkan tersebut apakah menjadi pemasukan pemerintah atau pribadi masing-masing? Banyak hal yang dijadikan sumber keuntungan oleh pihak-pihak pelayaran di atas kapal.

PELNI sebagai salah satu instansi perusahaan milik pemerintah seharusnya tidak membiarkan hal-hal seperti itu terjadi. Kapal dibiarkan berlayar dengan jumlah penumpang lewat batas, apalagi jika musim mudik tiba. Apa karena ingin mengambil untung sebanyak-banyaknya ya? Mereka tidak berpikir bahwa banyak penumpang yang harus tidur di lantai, di tepian tangga, di depan pintu masuk sampai kamar mandi, bahkan di luar kapal. Apalagi yang di luar kapal itu, seharusnya dek-dek luar kapal bisa menjadi tempat sekadar berjalan-jalan menghirup udara segar, namun menjadi terganggu dengan dipenuhinya penumpang yang tidur di sepanjang dek luar. Selain itu, jaminan keselamatan penumpang kemudian menjadi hal yang diabaikan oleh mereka.

Ya, ternyata pemerintah juga selalu mengambil keuntungan (terlalu banyak) dari masyarakatnya. Entahlah, apakah mereka sengaja tidak tahu atau benar-benar tidak tahu dengan fenomena tersebut. Yang jelas, hal seperti itu tidak lagi menjadi rahasia umum di tengah para pemudik. Lantas, bagaimana mungkin pemerintah tidak tahu? Pemerintah nampaknya sengaja menutup mata demi tetap membuka keuntungan yang bakal mereka hasilkan dari fenomena itu.

Libur sebagai rangkaian dari perayaan Lebaran sudah berakhir. Namun keuntungan yang dihasilkan bagi pemerintah tidak akan pernah berakhir.


--Imam Rahmanto--

Kamis, 30 Agustus 2012

Hujan di Sela Doa

Agustus 30, 2012
Sumber gambar: Google search

Kesunyian berbalut hujan ini benar-benar membawaku tenggelam. Hening. Benar-benar hening. Seluruh penghuni rumah ini sudah lebih dulu terlelap. Santap sahur di pukul 4 dinihari tidak berhasil membuat mereka tetap terjaga hingga pagi hari. Usai bersantap sahur bersama, masing-masing telah kembali ke peraduannya masing-masing.

Di bulan Ramadhan ini, ternyata rasa kantuk meningkat begitu pesat pada setiap orang. Entah bagaimana menjelaskannya secara ilmiah. Namun, berdasarkan pengamatanku sehari-hari, tingkat kantuk setiap orang di bulan puasa ini melebihi standar rata-rata. Di atas normal. Hal itulah yang membuat banyak orang menghabiskan waktu subuhnya hanya untuk tidur. Puasa pun hanya dihabiskan dengan bermandikan mimpi-mimpi kosong.

Pagi ini, aku memilih duduk sendirian di tepi jendela kamarku. Menatap bulir-bulir embun di depan mataku. Di sisi jendela lainnya, perlahan tetes-tetes air jatuh satu-persatu membentuk selarik garis vertikal hingga ke dasar jendela. Aku menatap titik-titik air yang luruh itu. Dan pikiranku menerawang, menembus tiap inci kaca jendela, menerpa beribu-ribu rintik hujan yang mengguyur di luar kamar.

Hujan. Ia mengguyur. Meskipun demikian, aku takkan pernah membencinya. Mengapa orang mesti membenci hujan? Jikalau banjir musababnya, tak berdasar sama sekali. Bukankah banjir disebabkan oleh manusia sendiri? Banjir sekalipun datang, aku tidak akan memaki hujan. Ia terlalu berharga buatku. Berkahnya berlipat pula ketika diturunkan di bulan yang juga penuh berkah ini.

Aku masih ingat ketika hujan menyapa doaku. Hujan membisikkan ucapan-ucapan ketenangannya padaku. Ia memberiku secercah harapan yang tak akan pernah kulupakan. Nyaris, nyaris saja aku meragukan kebesaran-Nya.

Tenanglah, aku dikirimkan untukmu,
 

*****


Aku baru saja mendapatkan kabar gembira. Terlebih lagi, hal ini baru pertama kalinya buatku. Aku sebelumnya tak pernah menduga-duga akan mendapatkannya. Bahkan untuk berharap saja aku menolak. Aku masih terlalu muda untuk berharap yang tinggi-tinggi.

Aku sudah tidak sabar lagi mengabarkan berita ini kepada ayah dan ibuku. Melihat keduanya tersenyum bangga adalah hal yang selalu kukejar-kejar selama ini. Perihal aku suka atau tidak, bukan masalah besar bagiku. Ah, seperti itulah memang jalan pikiranku hari ini. Aku masih terlalu muda untuk berpikiran bijak layaknya orang dewasa. Usiaku yang baru menginjak 14 tahun masih belum bisa dikategorikan dewasa. Remaja pun tidak cocok sama sekali. Hingga kelak aku baru tersadar untuk berlaku atas dasar keinginan dan jalanku sendiri.

Aku baru saja ingin membuka pintu ketika suara tangis terisak kudengar pecah dari dalam rumah. Berselang suara makian juga melintasi celah-celah telingaku. Aku diam. Berharap tidak bisa masuk ke dalam rumah. Kabar gembira yang semula ingin kusampaikan mendadak lebur dalam ketakutanku. Aku takut. Aku takut membayangkan hal yang terjadi. Aku sudah terlampau sering mendengar atau bahkan menyaksikan hal yang mungkin saja sedang berlaku di dalam rumahku.

Aku bukannya takut. Perasaan yang satu itu sudah lama menyekat dalam rongga dadaku, berbuah kebencian. Aku benci. Berharap tidak ada di tempat ketika hal seperti itu terjadi.

“Aku tidak suka ini,” lirihku masih berdiri di depan pintu rumah yang sederhana ini. Rumah dari batu bata yang berdiri megah di sampingnya seakan-akan mengejek “rumahmu terlalu sederhana”. Aku tak peduli. Aku ingin pergi saja dari rumah. Aku bosan menyaksikannya. Akan tetapi, penasaran ternyata mampu membuatku melangkah lebih jauh. Benar kata orang, rasa penasaran bisa membuatmu mati.

“Siapa?” Suara ayahku menyapa dari dalam rumah. Hanya berbatas tirai kelambu, ayahku keluar dan melihat anaknya pulang dari sekolah.

“Oh, kamu sudah pulang ya?” ujar ayahku lagi. Sekilas ia hanya tersenyum sebentar. Aku bisa menyaksikan dari raut wajahnya, senyum yang terkesan dipaksakan dengan mata yang sedikit berkaca-kaca. Ia mengajak masuk ke kamarku. Ia menuntunku. Aku merasa ada sesuatu yang “lebih” dari biasanya. Aku memasang wajah berpura-pura tidak tahu dan ingin tahu apa yang terjadi.

Sekali lagi, aku menatap penasaran ke arah ayahku. Aku masih mendengar suara isak tangis, yang kutahu, pasti dari ibuku.

Adikku yang masih berumur enam tahun, yang tahu kepulanganku dari sekolah, segera menghambur ke arahku. Wajahnya sembap karena menangis. Terisak. Matanya nyaris bengkak. Ah, ada apa ini sebenarnya?
“Amel, kenapa?” Aku mencoba bertanya langsung pada adikku yang sedari tadi masih tidak melepaskan pelukannya dariku. Erat. Ia masih saja terisak.

“Sini, nak. Ayah beritahu,” Ayahku mengambil alih. Ia menjauhkan adikku, merenggangkan pelukannya.

“Ayah akan memulangkan ibumu,”

Aku tidak menyangka hal seperti ini bakal terjadi. Pertengkaran antara ayah dan ibuku dalam keluarga memang sudah sering terjadi. Namun kesemuanya itu tidak sampai membawa-bawa perpisahan. Aku mendadak tergugu. Entah ingin berkata apa. Tidak perlu menjadi dewasa untuk bisa mencerna matang-matang perkataan ayahku. Hal itu sudah cukup jelas. Pertanda kedua orang tuaku akan berpisah hari ini.

“Ayah sudah tidak mampu lagi membina ibumu. Ibumu sudah terlalu sering mengulangi kesalahan yang sama,”

Bukan. Bukan ibu yang salah! Ayah yang terlalu kasar pada ibu. Ayah yang terlalu kurang ajar. Ayah yang terlalu mudah tersulut emosinya. Ayah yang terlalu ringan melayangkan tangannya ke arah ibu. Tidak peduli, siang atau malam. Bukan. Bukan ibu yang salah! Aku membatin tidak terima perkataan ayahku. Aku sudah terlampau sering menyaksikannya untuk bisa menyimpulkan siapa yang benar.

“Ayah sudah sering menasehati ibumu, memberitahunya baik-baik. Kau sendiri tahu, kan,”

Tidak. Ayah tidak pernah secara baik-baik menyampaikannya pada ibu. Ujung-ujungnya selalu kekesalan ayah berwujud pukulan atau bahkan tendangan. Aku sering menjadi saksi keberingasan ayah. Aku benar-benar benci ayah. Dan ayah kelak akan tahu hal itu.

“Ibumu sudah terlalu keterlaluan. Ini sudah puncaknya, dan biarkan ayah memulangkannya hari ini juga,”

Ayah yang keterlaluan! Aku tidak akan membiarkan ibu pergi. Bagaimana denganku? Apa ayah tidak memikirkanku? Atau, atau setidaknya pikirkan adik kecilku yang malang?

Aku tergugu. Pandanganku tiba-tiba memudar. Air mata yang selama ini berusaha kubendung untuk tidak jatuh di depan adikku, jatuh begitu saja. Mengalir deras. Aku tak ada bedanya dengan ibu atau adikku. Terisak saat itu juga.

Maka kubiarkan diriku menangis. Kali ini, tak ada lagi kata-kata ayahku “Anak lelaki tak boleh menangis.” Aku, anak lelaki dan aku menangis. Aku tak ingin ibu pergi dari sini. Jika ayah berlaku hal itu, maka siapa lagi yang akan membangunkanku di waktu Subuh? Siapa lagi yang akan memasakkan makanan kesukaanku? Siapa lagi yang akan membuatkanku sambal pecel? Siapa lagi yang akan mengingatkanku waktu shalat?

Aku ingin berkata “Jangan pergi, ibu. Ayah tidak boleh memulangkan ibu.” Namun lidahku selalu kelu tertahan ketika berhadapan dengan ayahku. Sekadar menengahi kekesalan ayah pada ibuku saja aku tak mampu. Yang terjadi selalu aku hanya menjadi penyimak kata-kata cercaan dari ayahku buat ibuku. Entah, apa karena aku masih terlalu kecil untuk melawan ayahku atau aku memang tidak punya keberanian untuk melawannya.

Segala kebahagiaan yang kubawa mendadak lenyap. Aku tidak tahu lagi bagaimana cara untuk menyampaikannya, barang sedetik. Aku lupa. Takkan ada yang peduli dengan kabar yang akan kusampaikan pada mereka. Apalah arti kemenanganku hari ini jika ayah dan ibu tidak akan bersama lagi.

“Irfan, kamu berhasil meraih peringkat pertama dalam Lomba Pelajar Teladan,” Masih terngiang perkataan Ibu Murni, guru sekolahku yang menyampaikan hasil dari kompetisi tahunan tingkat kabupaten yang diikuti oleh sekolahku. “Jadi, minggu depan kamu sudah harus mempersiapkan diri untuk mewakili kabupaten ke kota Makassar,” lanjutnya.

Sesuai dugaanku, ayah hanya menanggapinya sekilas kabar yang kubawakan untuknya. Ia hanya tersenyum sambil mengusap kepalaku.

“Kalau begitu kamu mesti mepersiapkan lagi karya yang bakal kamu bawa lagi kesana,” Ayah hanya mengingatkanku.

Bagaimana aku akan mempersiapkannya jika ayah sama sekali tidak peduli lagi dengan ibu?
 

 *****

Hujan masih mengguyur di luar sana. Jika ia terus mengguyur, bisa dipastikan banjir akan melanda lorong-lorong di sekitar wilayah kost¬ku. Aku tak membenci hujan. Bagaimanapun, hujan adalah teman bermain semasa kecilku.

Aku masih menatap rerintikan hujan di luar sana. Masih di jendela yang sama. Masih dengan memori yang sama.

Aku masih ingat ketika harus menyelesaikan trafo itu. Karya berupa power supply sederhana hasil dari buah tanganku sendiri. Karya serupa yang memberiku poin kemenangan di kompetisi tingkat kabupaten. Dan yang seharusnya membuatku bangga sebagai seorang anak sekolah.

Kala itu, waktu membawaku untuk menyusunnya di tengah-tengah konflik yang terjadi diantara ayah dan ibuku. Aku benci akan hal itu. Aku ragu dengan diriku sendiri. Apa aku bisa? Aku memaksa diri untuk berkata “tidak”. Aku benci dengan diriku sendiri.
 

 *****

Siang itu waktu berjalan sungguh lama. Tidak seperti hari-hari biasanya. Justru hari ini aku tidak ingin berlalu begitu saja. Seperginya waktu, maka secepat itu pula ibu kan meninggalkanku.

“Ayah sudah memikirkan bagaimana ibumu kesana,” Ayah membuka perbincangan. Sejak tadi hanya hening yang terdengar. Apakah hening bisa terdengar juga, sedangkan hening itu sendiri tak bersuara? Adikku masih saja meneteskan air matanya. Masih terisak.

“Ada seorang teman ayah yang juga akan pulang hari ini. Ayah akan menitipkan ibumu padanya,”

Mengapa bukan ayah saja yang mengantarkannya?

“Ayah tidak mungkin akan meninggalkan kalian berdua disini tanpa siapa-siapa,” tegas Ayahku. Ia seolah-olah bisa membaca apa yang kupikirkan barusan.

Ah, jika saja aku dibolehkan memilih, aku lebih baik ikut bersama ibuku. Biarkan aku yang akan menjaga ibu. Hanya saja, ibu sendiri justru menyuruh kami berdua untuk tetap tinggal disini bersama ayah. “Tidak, kalian tidak boleh ikut. Kalian disini saja. Kalian masih sekolah. Kalau kalian ikut Ibu, siapa yang akan membiayai sekolah kalian nanti?” ujar Ibuku di sela-sela tangis dan pelukannya padaku.

Sambil menunggu teman ayahku itu, aku -masih dengan perasaan tersiksa- mencoba mengalihkan perhatianku dengan menyibukkan diri pada sirkuit-sirkuit listrikku.Akan tetapi, tahukah kalian, bagaimanapun aku mencoba fokus dan tenggelam dalam kesibukan itu, air mata masih saja mengalir dari pelupuk mataku. Menetes satu persatu di atas punggung tanganku yang sementara memegangi solder. Sesekali, aku mengusap mataku, mengucek-nguceknya dengan punggung tanganku itu pula. Isakku tertahan, tetapi air mataku mengalir perlahan. Tak bisa kupingkiri, aku masih belum rela ibu pergi dari sisiku.

Aku ingin ibu tetap disini. Aku berdoa di dalam hati.

Berdoa? Ya, berdoa. Aku masih punya Tuhan yang sayang padaku. Aku termasuk hamba-Nya. Lantas, mengapa aku tak meminta tolong kepada-Nya? Selama ini, aku sudah sering mendengar dari guru agamaku bahwa doa akan selalu di-ijabah oleh-Nya. Terlebih ketika kita berdoa dengan mencucurkan air mata.

“Biarpun tangis kita itu dibuat-buat, ustadz?” Dan guruku menjawabnya tegas hanya dengan menganggukkan kepalanya. Aku tahu ia menjawab “Ya”.

Maka aku tahu apa yang mesti kulakukan hari ini. Jika aku tidak punya kekuatan sekadar beradu mulut dengan ayahku, maka biarkan Tuhan yang memutuskannya buatku. Aku cukup meminta kepada-Nya, berdoa pada-Nya. Ia tahu yang terbaik buatku.

Hanya gara-gara terlarut dalam kondisi hari ini, aku belum sempat menjalankan salah satu ibadahku sebagai seorang muslim. Pantas saja Tuhan tidak sedikitpun merasuk untuk memberikan idenya ke dalam kepalaku. Aku lupa, maka Ia pun lupa. Aku ingat, tentu Dia akan senantiasa mengingatku.

Usai mengambil air wudhu, maka kubiarkan diri terlarut dalam ibadahku. Aku tidak bisa lagi membedakan mana air mata dan mana air wudhu yang membekas di pipiku. Hari ini, begitu banyak air mata yang kualirkan percuma. Mau bagaimana lagi? Aku tidak tahu cara untuk membendung air mata ini. Jika bukan aku, maka siapa lagi yang akan menghapuskannya buatku?

“Ya Tuhan, aku percaya Engkau hari ini mengawasiku. Engkau melihatku dari tempat yang aku tidak pernah tahu keberadaannya.Engkau tahu keadaanku sekarang. Engkau mengerti bagaimana perasaanku sekarang,”

“Hari ini, aku ingin berdoa padamu. Doa yang sungguh-sungguh aku yakin Engkau menerimanya,”


“Ya Tuhan, aku tidak ingin keluargaku bercerai-berai seperti ini. Aku tidak ingin ibu pergi dari sini. Aku tidak ingin menjadi bagian dari anak-anak “broken home” yang selama ini selalu kusaksikan di layar-layar televisi. Aku ingin segalanya berjalan normal seperti biasa,”


“Ya Tuhanku… Jika ibu pergi, maka tidak akan ada lagi yang membangunkanku untuk shalat Subuh pada-Mu. Tidak akan ada lagi yang mengingatkanku untuk shalat lima waktu. Tidak akan ada lagi yang membuatkan makanan kesukaanku,”


“Aku tahu, ya Tuhan, aku terkadang menjadi anak durhaka ketika mengomel-ngomel tak jelas pada ibuku jikalau ia lupa membangunkanku di waktu Subuh. Bahkan ia malah tidak lupa. Aku yang justru sangat sulit dibangunkan dan tidak menyadari hal itu. Aku tahu, ya Tuhan, aku juga terkadang selalu menuntut ibu untuk membuatkan makanan yang sesuai seleraku, karena jikalau tidak, aku bakal mogok makan,”


Entah, di sela-sela tanganku yang menengadah, air mataku hanya dibuat-buat atau benar-benar mengalir sewajarnya. Dari dalam kamar, aku masih bisa mendengarkan isak tangis ibu dan adikku. Hatiku getir.

Aku mengucek mataku dengan salah satu lenganku.

“Ya Tuhan, aku memohon maaf pada-Mu. Aku sadar telah melakukan banyak kesalahan pada ibuku. Tapi…bukan berarti ia harus dipisahkan dari kami… ya Tuhan, aku memohon pada-Mu, ja—jangan biarkan ibuku pergi…jangan biarkan keluarga kami terpecah.”
Aku menelan ludah.

“Ya Tuhanku yang Maha Penyayang, aku sadar tidak mungkin memaksakan keinginanku ini. Engkau tahu yang terbaik bagi hamba-Mu. Jikalau yang terjadi hari ini adalah yang terbaik untukku dan keluargaku, maka aku akan menerimanya. Asalkan itu yang terbaik, Tuhan. Jikalau ibuku benar-benar harus pergi dari sini, maka kuatkan pula aku dan adikku. Meskipun sebenarnya aku tidak ingin ibuku pergi,”

“Aku tahu, Engkau Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu dan mampu melakukan segalanya. Engkau mampu memperbaiki segalanya. Engkau tahu yang terbaik. Dan untuk kali ini, aku hanya berharap mendapatkan sebuah keajaiban, langsung dari-Mu…”


“Amiin,” gumamku mengakhiri doaku.

Gemerisik air terdengar berkejaran di luar sana. Pelan tapi pasti, membentuk irama semakin kencang. Menyadarkanku bahwa hujan kemudian turun begitu derasnya diantara terik matahari tengah hari. 


 *****

Hujan berhenti perlahan. Ia membentuk seuntaian titik halus air yang turun satu persatu di luar sana. Gerimis kecil. Sangat halus. Perasaan was-was terhadap banjir akhirnya terbendung. Aku membuka jendela kamar ini. Membiarkan udara sejuk pagi masuk ke dalam kamar. Membiarkan percikan kecil air mengenai wajahku.

Ayahku akhirnya membatalkan niatnya untuk memulangkan ibuku. Hujan deras, siang itu, berlangsung berjam-jam lamanya. Aku lupa berapa jam ayahku mesti menunda-nunda keberangkatannya, berapa kali pula ia bolak-balik menelepon temannya itu. Hingga aku jelas menangkap pembicaraannya di telepon, “Ya sudah, kamu duluan saja. Kayaknya Ibunya Irfan gak jadi saya ikutkan sama kamu.” Suara ayahku terdengar pasrah.

Aku sadar Tuhan benar-benar menunjukkan keajaiban-Nya buatku. Hujan dikirimkannya kala itu untuk menyapa doa seorang anak kecil yang polos. Anak kecil yang tidak ingin kehilangan ibunya. Sejak itu, aku berteman dengan hujan.

Aku menjulurkan tanganku keluar jendela. Aku mengibaskan kantuk yang sedari tadi berusaha menarikku ke dalam ketenangan pagi. Sayup-sayup terdengar suara lantunan ayat-ayat suci dari speaker masjid memecah keheningan. Anak-anak kecil meramaikan Ramadhan pagi hari dengan membaca ayat suci Al-Qur’an. Damai.

Titik air itu menyentuh tanganku. Aku masih bisa merasakan keajaiban yang pernah dibawakannya padaku. Dingin nan menyejukkan…

Tenanglah, aku tak akan membencimu,” lirihku pada hujan. [end]
 

Makassar, Agustus 2012
--Imam Rahmanto--

Rabu, 29 Agustus 2012

Lor-Kidul, Kulon-Wetan

Agustus 29, 2012

“Iku loh, nang kulon,” (Itu di sebelah barat)

Saya baru sadar, ternyata orang Jawa begitu kental dengan arah mata angin. Faktanya, dimanapun berada mereka pasti selalu tahu dimana arah Utara, Selatan, Timur, dan Barat. Padahal saya sendiri merasa kesulitan jika disuruh melakukan sesuatu berdasarkan arahan Lor-Kidul, Kulon-Wetan itu meskipun saya tahu artinya. Tahu artinya tidak berarti tahu arahnya, bukan?

Nampaknya, sejak kecil masyarakat di Jawa memang sudah dibiasakan untuk menentukan arah sesuatu berdasarkan mata angin. Layaknya budaya yang masih kental di Jawa, tentunya mata angin telah menjadi sahabat mereka sejak kecil (bagi mereka yang lahir dan hidup di Jawa).

Saya selalu menemukannya dalam setiap percakapan menggunakan bahasa Jawa. Masyarakat selalu mengandalkan arah mata angin untuk menunjukkan sesuatu, baik arah jalan maupun lokasi tempat. Jika ditelisik, sangat jarang ditemukan penggunaan kata “kiri-kanan atau depan-belakang” untuk menunjukkan sesuatu. Mungkin karena arah tersebut kondisinya relatif, sementara arah mata angin itu adalah pasti.

Hal itu menjadi tradisi yang cukup unik. Disadari atau tidak, penggunaan arah mata angin tersebut telah turun-temurun ditularkan di lingkungan Jawa. Menarik, karena dengan demikian, panduan mereka bisa sangat jelas. Komunikasi yang terjalin (mengenai arah) pun sangat tepat, tidak relatif.

Coba bayangkan, jika kita berkomunikasi dengan orang lain sambil berhadapan dan menyebut kata “sebelah kiri”. Kata “sebelah kiri” disini bakal menjadi kata yang ambigu karena melahirkan dua persepsi, yakni sebelah kirinya “si pembicara” atau sebelah kirinya “lawan bicara”. Oleh karena itu, dengan menggunakan arah mata angin, persepsi antara kedua orang atau lebih bisa menyatu. Kulon-Wetan atau Lor-Kidul.

Jadi, sebelum mengunjungi suatu tempat di Jawa, maka ada baiknya untuk memastikan terlebih dahulu arah mata anginnya sebelum bertanya kepada orang (Jawa) disana. Jangan sampai kita yang ditunjukkan arahnya malah tidak tahu arah mata angin di tempat tersebut. Jadi bingung, kan? Hehehe


--Imam Rahmanto--

Teori Sains yang Dilebur Roman

Agustus 29, 2012

Sumber gambar: Goodreads.com
Judul Novel: Supernova; Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh

Pengarang: Dewi "Dee" Lestari

Penerbit: Bentang Pustaka

Tahun terbit: 2012

Jumlah halaman: 322 halaman

Supernova ini sebenarnya bukan novel yang baru lagi bagi saya. Sudah sejak lama saya "mengidamkan" untuk membacanya, terlebih ketika teman-teman (yang sudah menikmatinya) selalu mengacungkan jempol ketika merekomendasikan novel jebolan Dee ini. Akan tetapi, meskipun saya memiliki serial keempatnya, saya lebih memilih untuk menunggu membaca mulai dari seri pertamanya; Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh. Mengapa?

Jauh hari, sekilas, saya membaca sedikit isinya. Isinya berputar pada penjelasan-penjelasan fiksi (ilmiah) yang bakal sulit dimengerti jika tidak dimulai dari awal. Selain itu, dari sisi cerita, teman saya selalu berkomentar, "Tidak bakalan menarik jika tidak membaca mulai dari serial pertamanya," Tentu saja hal itu membumbui rasa penasaran saya, yang membuat saya harus rela bersabar menunggui buku serial pertamanya ada di tangan saya. Alhasil saya dapat pinjaman dari teman saya. Hehe...

Novel ini berputar pada cerita dua orang pasangan guy yang berusaha menelurkan karya bersama; sebuah novel roman "Kesatria, Putri,dan Bintang Jatuh" dengan cerita yang dibuat "berbeda". Akan tetapi, tanpa mereka berdua sadari, kisah yang mereka tuliskan itu benar-benar berlangsung di kehidupan nyata, tidak sebatas sebuah cerita.

Dalam romannya, mereka berdua menjadi "dalang" dari kisah cinta terlarang antara Ferre sang eksekutif muda yang sukses dan Rana sang penulis berita. Merekalah Kesatria dan Putri yang dihadirkan Dimas dan Reuben dalam ceritanya. Sementara itu, sang Bintang Jatuh diperankan oleh Diva yang berprofesi sebagai seorang pelacur high class. Diva sendiri baru berperan dengan identitas aslinya menjelang akhir cerita.

Alur dan plot yang direncanakan oleh mereka sedemikian rupa ternyata mengalami "distraksi" yang menghadirkannya ke dunia nyata. Hal itu semakin diperkuat dengan kehadiran Supernova, sang cyber avatar yang ternyata menjadi penghubung diantara ketiga tokohnya.

Bagi penikmat bacaan-bacaan ringan, novel ini bakal menjadi bacaan yang sangat berat apalagi memusingkan (termasuk saya). Novel ini menjadi sarang beberapa teori-teori ilmu eksak maupun paikologis. Bahkan, berbicara tentang filsafat juga akan banyak kita temukan ketika mengikuti alur cerita dalam novel ini. Mungkin bagi orang awam, teori ilmiah dalam buku ini sangat asing dan membingungkan. Saya pun harus memeras otak ketika mencerna ceritanya. Akan tetapi, membacanya seperti belajar memahami pengetahuan-pengetahuan baru. Kita pun serasa jadi seorang ilmuwan.

Tidak sebatas teori ilmiah, ceritanya diparalelkan dengan kisah cinta romantis yang lebih dewasa. Bukan seperti kisah-kisah yang selama ini kita pahami.

Entah bagaimana caranya seorang Dewi Lestari menjejalkan begitu banyak teori-teori ilmiah dalam novelnya ini. Saya tidak habis pikir, ada berapa banyak buku pengetahuan yang harus dia baca sebelum menulis Supernova-nya. Ia benar-benar memberikan persepsi baru mengenai kisah dalam sebuab novel. BERBEDA. Hal itu yang saya rasakan jika membandingkan dengan novel-novel yang selama ini saya baca. Namun MENARIK. Karena menyajikan pengetahuan-pengetahuan baru meskipun sebagian besar masih membuat kepala saya berputar-putar.

Buku ini menjadi rekomendasi bacaan menarik buat mereka yang bergelut dalam dunia eksakta. Bagi mereka, mungkin ceritanya tidak akan memusingkan kepala. Oh ya,  bisa pula menjadi bahan bacaan menarik buat penyuka kajian-kajian filsafat. Interested.

"Saya harus baca yang selanjutnya." Sugesti pada diri sendiri. Next: Supernova 2: Akar.


--Imam Rahmanto--


Menulis Secara Sukarela

Agustus 29, 2012

Menulis apa saja bisa menjadi hal yang menggairahkan. (ImamR)
Beberapa waktu yang lalu, saya sempat berbagi cerita dengan salah seorang teman saya. Kami berbagi banyak motivasi mengenai minat menulis.

Ada hal unik yang ternyata baru saya sadari dari potongan perbincangan itu. Mengenai menulis. Mengenai betapa menyenangkannya menulis secara sukarela. Tanpa paksaan maupun tuntutan dari pihak lain.

Sekali saja, coba pikirkan, pernahkah kamu meluangkan waktu untuk menulis secara sukarela? Karena benar-benar ingin menuliskan "sesuatu itu". Bukan karena tuntutan pekerjaan maupun paksaan dari orang lain. Tulisan yang benar-benar hasil ketertarikanmu terhadap sesuatu. Bukan tulisan sebagai tuntutan pekerjaan maupun permintaan orang lain.

Disadari atau tidak, sebagian dari kita masih sangat jarang melakukan hal itu; menulis dengan sukarela. Kebanyakan, khususnya bagi yang aktif di lingkungan jurnalistik, mereka menuliskan sesuatu berdasarkan tuntutan pekerjaan. Setiap minggu mereka tentu menulis. Akan tetapi tulisan-tulisan yang mereka hasilkan adalah pengejawantahan dari tuntutan kehidupan sehari-harinya untuk memenuhi waktu deadline.

Saya pun menyadari selama ini saya banyak menghasilkan tulisan-tulisan hanya sebagai pemenuhan tugas saya sebagai seorang reporter kampus. Untuk memperbaikinya, saya menulis apa saja sesuai minat saya.

Sementara bagi mahasiswa, mereka menulis karena tuntutan pemenuhan tugas dari mata kuliahnya. Kesemuanya itu, belum tentu apa yang mereka tulis sudah sesuai dengan minat ketertarikan mereka.

Nah, mari luangkan waktu sejenak menulis segala sesuatu yang kita sukai. Refresh otak dari rutinitas sehari-hari. Tulis saja apa yang kita pikirkan mengenai suatu hal (sesuai minat). Lantas, tidak perlu dipikirkan lagi apa yang kita tulis mengenainya. Sungguh menyenangkan secara sukarela menulis segala hal yang kita senangi, baik itu soal perasaan maupun sesuatu yang kita sendiri anggap unik.

"Aku malu dengan tulisanku yang kacau,"

Ah, alasan klasik! Memangnya kepala setiap orang sama? Jelek di mata si A belum tentu jelek di mata B, C, maupun D. Tetap percaya, ada satu orang diantara ribuan manusia yang bakal selalu menanti tulisan-tulisan orisinil kita. Oleh karena itu, jangan membuat mereka menunggu terlalu lama. Come on!


--Imam Rahmanto--


Kamis, 23 Agustus 2012

Pendidikan Hanya Sebatas Jadi PNS

Agustus 23, 2012

"Nanti kalau lulus di UNM itu jadi opo?" Paklik (paman) saya bertanya mengenai kuliah saya di Makassar.

"Kalau beruntung, ya bakalan jadi guru," saya menjawab santai. Toh, sebenarnya saya tidak terlalu berkeinginan untuk menjadi guru.

"Wah, enak yo? Nanti bisa jadi PNS,"

Perbincangan dengan Paklik saya pun berlanjut, seputar pekerjaan yang tak jauh-jauh dari nilai sebuah kesuksesan. Baginya, pekerjaan yang paling bagus itu adalah menjadi seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS). Jika seseorang sudah memperoleh titel sebagai PNS, maka orang itu sudah bisa dicap sebagai orang berhasil.

Nah, pandangan-pandangan seperti itulah yang kini berkembang di kalangan masyarakat pedesaan. Ukuran kesuksesan biasanya diukur dari seberapa besar pekerjaan yang didapatkan. Anak-anak disekolahkan dengan harapan bisa mendapatkan pekerjaan yang pantas selain bertani. Oleh karena itu, tidak heran jika melihat anak-anak yang baru lulus dari SMA enggan untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang kuliah, termasuk dua saudara sepupu saya. Mereka lebih memilih untuk langsung bekerja dan memperoleh uang. 

Muncullah perkataan-perkataan "Ah, bapak dan ibu tidak punya uang untuk membiayai kuliah," atau "Mending langsung kerja biar bisa langsung dapat uang." Sebuah ungkapan-ungkapan yang secara tidak sadar telah mengubur impian-impian anak desa. Semangat-semangat bersekolah yang seharusnya dimiliki oleh anak-anak desa dipotong secara perlahan. Membuat mereka takut untuk berkompetisi.

Padahal, menurut saya, pendidikan itu sangatlah penting. "Jangan dikira menjadi seorang TKI, nelayan, atau petani itu tidak perlu sekolah"

--Serdadu Kumbang the Movie-- Dengan bersekolah, kita sudah menggantungkan mimpi-mimpi kita. Dengan bersekolah, hidup kita bakal berubah. Bahkan, dengan bersekolah, kita bisa mengubah hidup orang banyak.

Jika "uang" menjadi permasalahan dominan masyarakat di desa untuk menyekolahkan anaknya, menurut saya hal itu hanyalah menjadi "kambing hitam" atas hidup mereka. Nyatanya, setelah saya menjalani seluk-beluk pendidikan itu sendiri, persoalan "uang" bisa jadi urusan berjalan. Menjalani pendidikan bukan berarti sama sekali tidak bisa mencari uang pula. Selama ini, saya banyak menemukan mahasiswa yang menjalani kuliahnya sambil bekerja mengumpulkan uang. Hal yang sama terkadang juga saya tekuni. Jadi, dengan bersekolah kita bisa menjalani keduanya sekaligus; bersekolah dan bekerja.

Saya senang ketika mendengar ayah saya tidak memaksakan kehendaknya pada saya. Meski dibatasi masalah finansial, ia tetap menyekolahkan saya. Memaksa saya untuk menyelesaikan pendidikan saya. Saya malah pernah mendengarnya berujar, "Selama anak-anak bisa menjadi apa yang mereka inginkan, hal itu sudah cukup. Ya, apapun cita-cita mereka, kita sebagai orang tua hanya bisa mendukung dengan segala kemampuan yang kita punyai." Wajar jika ayah saya berkata demikian, karena ia telah lama merantau jauh keluar dari lingkungan desanya. Terkadang lingkungan memang memberi pengaruh yang sangat besar bagi pemikiran-pemikiran yang berkembang di kepala setiap orang.

Saya miris ketika menyaksikan banyak anak-anak di desa yang menanggalkan mimpi-mimpi mereka. Padahal kemiskinan tidak seharusnya menjadi kendala untuk meraih apa yang mereka impikan. Bukankah, orang-orang yang paling miskin di dunia ini bukanlah mereka yang sama sekali tidak memiliki harta apapun. Tapi orang yang paling miskin adalah mereka yang sama sekali tidak memiliki mimpi. --Sang Pemimpi-- Selama kita punya mimpi, seharusnya hal itu pula yang perlu diperjuangkan. Tekad yang kuat tentunya bisa menjadi senjata utama untuk meraih mimpi ataupun cita-cita. Bagi saya, selama kita punya keinginan, maka jalan menuju kesana selalu terbuka buat kita. Just believe it!


--Imam Rahmanto-- 


Joglo Semakin Ditinggalkan

Agustus 23, 2012

Salah satu rumah adat yang banyak dipakai oleh masyarakat Jawa adalah rumah Joglo. Setahu saya (semenjak duduk di bangku sekolah dasar), Joglo merupakan rumah adat dari Jawa Tengah. Tapi menurut saudara saya (yang lama tinggal di Jawa), rumah Joglo umumnya memang digunakan oleh seluruh masyarakat Jawa. Ooo.... (sedikit mengerti).

Rumah yang beratapkan genteng dengan asitektur atap menjulang tinggi itu memang masih banyak dijumpai di daerah-daerah pedesaan meakipun keberadaannya pun berangsur punah. Bahkan di bagian-bagian kota sudah sangat jarang lagi ditemukan rumah-rumah adat serupa. Masyarakat perkotaan lebih suka membangun rumah dengan gaya arsitektur khas perkotaan. Sebagian besar malah sudah melupakan sentuhan-sentuhan khas Jawanya.

Saya masih bisa menjumpai sebagian besar masyarakat di desa saya (Keting, Sekaran/ Lamongan) mendirikan rumah Joglo. Akan tetapi, di tempat saya, keberadaan rumah Joglo lebih diidentikkan dengan ke-kurangmampu-an pemiliknya. Mungkin karena modelnya yang masih bergaya tradisional dan penghuninya yang berprinsip "asal hidup", maka dianggap ketinggalan zaman. Padahal (setahu saya), rumah Joglo di Jawa Tengah lebih identik dengan gelar kebangsawanan seseorang.

Akan tetapi, di daerah saya hal seperti itu tidak berlaku. Rumah model Joglo tampaknya hanya menjadi tampilan luar bangunannya saja. Ditilik isi rumahnya, kita hanya akan menemukan ruangan yang sangat luas dan berlantaikan tanah. Sebagian besar masyarakat nampaknya ogah-ogahan sekadar "menembok" lantai rumahnya. Padahal jika seandainya ukuran kemegahan rumah dinilai dari luas bangunannya, maka kebanyakan masyarakat Jawa sudah memiliki rumah-rumah yang megah, loh.

Rumah-rumah model Joglo tersebut sengaja dibuat sangat luas, terutama bagian ruang depannya (ruang tamu), agar bisa menjadi tempat meletakkan banyak hasil sawah. Ya, biasanya jika musim panen tiba, semua karung hasil panen padi (dsb) dibawa ke rumah dan ditumpuk di ruang depan sambil menanti untuk dijual. Selain itu, di dalam rumah-rumah tersebut kita bakal sangat jarang menemukan perabot-perabot yang biasa ditemukan menghiasi rumah pada umumnya. Mungkin, masyarakat pedesaan berprinsip "asal bisa hidup" sehingga mereka lebih memilih memanfaatkan uang mereka untuk barang-barang yang lebih berguna. Sama sekali tidak ada niat mereka untuk merenovasi rumah mereka. Pada akhirnya, Joglo menjadi model rumah yang dianggap ketinggalan zaman. Dan berdasarkan pengamatan saya, rumah Joglo lebih identik dengan kondisi kemiskinan masyarakat di daerah pedesaan.

Saya pun bisa melihat, penduduk-penduduk desa yang berasal dari rantauan masing-masing berlomba-lomba memperbaharui tampilan rumah mereka, dari sederhana menjadi modern. Rumah-rumah yang awalnya berlantaikan tanah diubah menjadi lantai porselen. Dinding-dinding kayu ditembok. Pintu-pintu dengan kunci dari batang bambu diganti dengan pintu bergembok besi. Atap genteng dari tanah liat diganti dengan genteng dari bahan plastik ataupun kaca. Jendela yang hanya berupa lubang-lubang ventilasi dari kayu diubah menjadi jendela kaca.

Lambat-laun rumah joglo mulai ditinggalkan. Kini, yang bermodelkan Joglo hanyalah rumah-rumah dari 'simbah-simbah' yang masih setia menghuni rumah tradisional mereka sembari setia menanti anak-anaknya pulang dari rantauan. (*)


--Imam Rahmanto--


Senin, 20 Agustus 2012

Tips Melakukan Perjalanan Laut Seorang Diri

Agustus 20, 2012

Perjalanan dengan memanfaatkan transportasi kapal laut tampaknya masih menjadi pilihan bagi sebagian besar orang. Tarifnya yang cukup murah membuatnya banyak diminati oleh semua kalangan. Tak tanggung-tanggung, di musim mudik, penumpangnya tentu melebihi batasnya.

Ruangan/ kabin yang disediakan khusus bagi penumpang kelas ekonomi khususnya, selalu saja terisi penuh. Maka jangan heran jika kita bisa melihat penumpang-penumpang lainnya yang tidak kebagian tempat menggelar tikar sembarangan. Bahkan di dek paling atas pun sangat riuh dijumpai orang-orang yang tidur di sepanjang teras kapal. Parahnya lagi, tanpa memikirkan keselamatannya sendiri, ada yang nekat tidur di tepi badan kapal. Saya malah melihat dengan santainya mereka main gaplek.

Sederhananya, sebenarnya melakukan perjalanan jauh dengan menggunakan kapal adalah hal yang menyenangkan. Kita bisa berkeliling di dek paling atas diterpa angin kencang dari laut. Pemandangannya pun benar-benar asli di tengah laut. Di malam hari kita bisa melihat langit lepas yang bertabur bintang. Di pagi hari bisa menyaksikan matahari terbit (sunrise). Dan akhirnya, di sore hari menanti matahari kembali ke peraduannya (sunset). Pokoknya, banyak hal yang bisa dilakukan.

Tentu, semua itu bisa dilakukan dengan sangat leluasa jika kita memiliki teman seperjalanan. Jika tidak, jadilah kita bakalan seharian di tempat menunggui barang bawaan. Oleh karena itu, sebelum melakukan perjalanan sendirian dengan menggunakan kapal, ada beberapa hal yang menurut saya perlu diperhatikan.


Sabtu, 11 Agustus 2012

Sehat di Pagi Hari

Agustus 11, 2012

Jika ada yang bertanya kapan waktu yang tepat untuk menuliskan sebuah ide, maka mungkin jawabnya; pagi hari.
 
Pagi ini saya baru saja selesai menuliskan sebuah “coretan tak penting” setelah sekian hari tidak menulis. Saya tidak mau beralasan kesibukan yang menghambat kreativitas menulis saya, karena menurut saya itu hanya sebuah alibi pembenaran dari kesalahan saya sendiri. Justru pada dasarnya saya yang memang enggan meluangkan waktu barang sejenak. Kenapa? Puasa hanya diisi dengan tidur, dan tidur. Eits, tapi hanya 30%-nya loh…
 
Tidur, memang rasanya begitu nyaman, bukan? Tapi, percaya deh bangun dan mengerjakan hal-hal berguna jauh lebih baik dan menyenangkan. Terlebih lagi jika kita bisa terlepas dari “tidur pagi” di bulan Ramadhan ini. Tidur pagi entah kenapa menjadi kebiasaan orang-orang di bulan puasa.
 
Di kala matahari masih belum bersinar begitu sempurna, hawa dingin masih membelai kulit kita, tak ada suara gemuruh duniawi, menjadi waktu yang tepat buat bersantai maupun sekadar menulis sesuatu. Bahkan di pagi hari bisa pula menjadi waktu untuk menyimak keindahan-keindahan yang ditawarkan oleh alam.
 
Selain itu, beberapa hari yang lalu, seorang dai berceramah di masjid, “Salah satu rahasia agar kita sehat selalu adalah dengan bangun pagi-pagi, beraktivitas, menikmati udara segar pagi itu,” Hal tersebut, timpalnya, berdasarkan kebiasaan yang dijalani oleh para nabi. Wah, wah, pantesan saya jarang sekali sakit. Hehe..

--Imam Rahmanto--

Ramadhan Menjauh, Ibadah Luruh

Agustus 11, 2012
Ramadhan kini sisa menghitung hari. Seiring berjalannya hari, jamaah-jamaah yang memenuhi masjid pun lambat laun kini bisa dihitung jari. Jumlahnya semakin hari kian menurun. Fenomena demikian memang sering terjadi di bulan Ramadhan. Saya malah belum pernah menemukan masjid yang jumlah jamaahnya statis hingga akhir Ramadhan.
 

Memasuki awal-awal Ramadhan, orang-orang memenuhi masjid. Jika tiba waktunya masjid mengumandangkan adzan, masyarakat berduyun-duyun bersama keluarga (atau malah pacar) melaksanakan shalat Tarawih di masjid. Bahkan di malam pertama melaksanakan shalat Tarawih, jikalau saja kita tiba usai adzan dikumandangkan, maka bisa dipastikan kita tidak akan kebagian tempat. Hal tersebut berlangsung selama beberapa hari.
 

Akan tetapi, hari berlalu, orang-orang juga semakin “ogah-ogahan” untuk berkumpul di masjid. Seperti sekarang, kejenuhan sudah mulai terlihat. Orang-orang tidak lagi berduyun-duyun melaksanakan shalat Tarawih secara berjamaah.
 

Di hari pertama puasa Ramadhan, saya selalu saja nyaris tidak kebagian tempat di dalam masjid. Setiap saya memasuki halaman masjid (yang letaknya bersebelahan dengan redaksi saya), puluhan orang terlihat bersiap-siap hendak masuk masjid. Jikalau saja saya tidak bergeas usai adzan dikumandangkan, maka jangan harap saya bakalan kebagian tempat. Bahkan telat beberapa menit usai adzan saja, masih terhitung sebagai kelalaian. Ckckck...
 

Akan tetapi, sekarang, saya tidak perlu lagi tergesa-gesa untuk bergegas ke masjid. Berapa menit pun saya terlambat tiba di masjid, selalu ada ruang kosong yang tersisa. Jika dihitung-hitung, hingga hari ini, jamaah yang masih konsisten menjalankan shalat malam di masjid tersebut hanya mencapai setengah dari jumlah jamaah di awal Ramadhan.
 

Padahal seperti yang kita ketahui, di ahir-akhir Ramadhan seharusnya menjadi ladang pahala bagi umat muslim. Sepuluh hari terakhir merupakan penantian yang “pas” untuk malam Lailatul Qadar, malam yang lebih mulia dari malam 1000 bulan. Beribadah di malam itu sama halnya dengan beribadah 1000 bulan lamanya. Nah, kan? Tapi, ya, dasar memang kita manusia tidak menyadari hal itu (atau sebenarnya kita sadar tapi malas mengerjakannya), lantas kita mengabaikannya.
 

Ilustrasi: ImamR
Dari masjid, orang-orang beralih ke pusat-pusat perbelanjaan. Maklum, cari baju lebaran. Menjelang berakhirnya Ramadhan, kuantitas masyarakat yang mengunjungi mall/ supermarket meningkat pesat. Jikalau bisa dibuatkan kurva statistiknya, maka jumlah pengunjungnya sejak awal hingga akhir Ramadhan meningkat begitu pesatnya. Sementara jumlah orang-orang yang beribadah di masjid malah jauh kian menurun.

Hal tersebut memang cukup memprihatinkan. Di saat kita menyambut hari kemenangan nanti, kita bergembira luar biasa. Seolah-olah kita bergembira karena telah memenangkan pertarungan dengan hawa nafsu di bulan Ramadhan. Padahal jika dicerna lebih baik, mungkin gembira lantaran bulan Ramadhan telah kita lewati begitu saja. Coba deh dipikirkan, sudah banyakkah yang kita "menangkan" selama bulan Ramadhan ini sehingga kita pantas untuk senang bukan kepalang menyambut hari raya nanti? Nah, cukup kita tertawa dalam tangis.
 

Lupakan sejenak mengenai “baju lebaran”. Mari tetap menjaga ketetapan hati untuk menjalankan ibadah hingga akhir Ramadhan. Tetap pula ramaikan masjid seperti saat kita menyambut Ramadhan. Perihal pakaian-pakaian yang akan dikenakan di hari raya nanti, stop thinking about it. Menurut saya, yang butuh baju baru untuk hari raya nanti ya adik-adik kita. Kalau masih ada baju lama yang bagus buat kita, tidak apa-apa juga, kan? Ada lagunya, kok.
 

“Baju baru, alhamdulillah… Tuk dipakai di hari raya. Tak adapun tak apa-apa....”
 

Selamat menjalankan ibadah puasa!
 
--Imam Rahmanto--
*Pagi hari berusaha menahan kantuk.

Jumat, 03 Agustus 2012

Cari Suasana Berbeda di Bulan Ramadhan

Agustus 03, 2012
Adakalanya menikmati suasana di bulan Ramadhan seperti ini membuat kita jenuh. Beberapa mungkin karena bertepatan dengan liburan, maka hanya tinggal di rumah. Malah, ada yang menghabiskan sebagian besar waktunya hanya untuk tidur. Duh, puasa-puasa begini kok lebih banyak tidurnya?
 

Perasaan jenuh sudah pasti menghampiri setiap orang. Terlebih jika hal yang dikerjakan adalah sebuah rutinitas “mutlak”. Ini-itu saja setiap hari.
 

Baru kemarin saya bisa berbuka bersama teman-teman kost. Sejak awal pertama puasa Ramadhan, saya selalu menghabiskan waktu berbuka puasa di redaksi. Setiap hari di redaksi. Maklum, nasib mahasiswa kan begitu, selalunya cari yang gratisan. Hehe… Jadinya, lama-lama membuat jenuh juga. Oleh karena itu, salah satu cara saya mengatasi kejenuhan itu, ya dengan mencari suasana-suasana baru. Jika sebelumnya selalu bersama rekan-rekan redaksi, berganti dengan teman-teman kost.
 

Saya hanya berusaha mencari suasana-suasana yang baru di bulan Ramadhan ini. Jenuh juga rasanya jika setiap hari hanya menghabiskan waktu di satu tempat yang sama. Sebagai orang yang suka melihat hal-hal baru, saya sebenarnya juga ingin bisa merasakan hal-hal yang berbeda di waktu bulan puasa ini. Bulan puasa tidak lantas hanya dijadikan sebagai ajang untuk bermalas-malasan di dalam rumah, menghabiskan waktu dengan tidur, sampai berbuka pun di rumah. Ya, masih beruntung jika ada teman-teman berbuka puasa. Nah, kalau tidak? So lonely…
 

Ada banyak hal yang bisa kita telusuri. Bulan puasa tidak hanya sekadar menjalankan puasa, shalat Tarawih, ataupun tadarrus-an (itu juga sangat penting loh). Akan tetapi, nilai-nilai yang terkandung di dalam bulan suci ini jauh lebih penting. Segala kebaikan yang dikerjakan akan dinilai pahala dan berlipat ganda, bukan? Maka sudah seyogyanya pula kita berlomba-lomba di bulan ini untuk berbuat kebaikan.



Untuk menghilangkan kejenuhan kita, cari beragam suasana di bulan Ramadhan. Nikmati suasananya. Jika sebelumnya kita berbuka sendiri di rumah, lain waktu berbuka bersama teman-teman. Jika sebelumnya hanya menghabiskan waktu buat tidur, lain waktu cobalah tengok beragam aktivitas di luar sana, jalan-jalan. Kali aja ada orang yang butuh pertolongan. Hehe.. Jangan sampai bulan yang penuh berkah ini terlewat begitu saja tanpa kesan apa-apa. ^_^.



--Imam Rahmanto--

Rabu, 01 Agustus 2012

Hal yang Tak Pernah Kita Tahu

Agustus 01, 2012

Di balik semua anggapan miring mengenai diri kita yang dilontarkan oleh diri sendiri, ternyata masih ada banyak hal yang belum kita ketahui mengenai diri kita. Bahkan, mungkin hal-hal tersebut enggan untuk kita bawa melintas di dalam kepala kita. Terkadang kita membiarkan diri kita terpuruk oleh keadaan, baik itu persoalan keluarga, pekerjaan, maupun cinta.
 

Baru-baru ini saya menemukan sebuah inspirasi baru (atau motivasi) mengenai kehidupan di sebuah halaman facebook. Membacanya, ternyata memberikan semangat kehidupan yang baru. Bagi saya, just believe it. Tidak perlu lagi kita repot-repot pesimis mengatakan, "Apa benar?". Sebaliknya, yang mesti diucapkan adalah; "Benar juga." Bukankah hidup ini menjadi percuma jika harus dilingkupi kesedihan?


Nah, berikut 15 hal yang (ternyata) tak pernah kita tahu bahkan terpikirkan oleh kita:
  1. Sedikitnya 5 orang di dunia ini sangat mencintaimu hingga  rela mati demi kamu.
  2. Sedikitnya 15 orang di dunia ini mencintaimu dalam berbagai cara.
  3. Satu-satunya alasan seseorang pernah membencimu karena dia ingin menjadi sepertimu.
  4. Seulas senyum darimu bisa membawa kebahagiaan kepada siapapun bahkan jikalau orang itu tidak menyukaimu.
  5. Setiap malam, seseorang selalu memikirkanmu sebelum ia tertidur.
  6. Kamu berarti dunia bagi seseorang.
  7. Jika bukan karenamu, seseorang tidak mungkin bertahan.
  8. Kamu spesial dan unik.
  9. Seseorang yang kamu bahkan tidak tahu ada, mencintaimu.
  10. Ketika kamu membuat kesalahan terbesar, sesuatu yang baik datang dari kesalahan itu.
  11. Ketika kamu berpikir dunia berbalik padamu, Lihatlah; kemungkinan besar kamulah yang membalikkan dunia itu.
  12. Ketika kamu berpikir tidak ada lagi kesempatan untuk mendapatkan apa yang kamu inginkan, kamu kemungkinan tidak akan mendapatkannya. Akan tetapi, jika kamu percaya pada dirimu sendiri, kemungkinan, cepat atau lambat, kamu akan mendapatkannya.
  13. Selalu mengingat pujian yang kamu terima. Lupakan komentar-komentar kasar.
  14. Selalu ungkapkan pada seseorang bagaimana perasaanmu padanya; kamu akan merasa lebih baik ketika dia tahu.
  15. Jika kamu memiliki sahabat terbaik, luangkan waktu agar dia tahu bahwa dialah yang terbaik.
Tuh kan, masih ada banyak hal yang bisa membuat kita tersenyum? Just believe it! ^_^.


--Imam Rahmanto--