Selasa, 24 Juli 2012

Teman Bisa Jadi Keluarga

Ramadhan sungguh indah jika bisa dinikmati dengan berkumpul bersama keluarga. Ada ayah, ibu, atau adik yang menjadi teman berbagi cerita kita di perantauan. Terkadang, saya pun rindu bagaimana asyiknya mengerjai adik saya sendiri. Senang rasanya melihat bibirnya monyong gara-gara kesal dengan saya.


Tidak untuk tahun ini (dan bahkan tahun kemarin). Saya menjalankan ibadah puasa di kampung orang, kota Makassar. Tentu suasananya jauh berbeda dengan menjalankan puasa di "negeri" sendiri. Parahnya, disini godaannya terlalu banyak. Apalagi jauh dari keluarga. Serius, saya akhirnya benar-benar jauh dari keluarga. Mereka sudah lebih dulu meninggalkan saya sendirian di Makassar menuju daerah asal kedua orang tua saya, Lamongan. Jadilah saya benar-benar sendiri di kota ini.


Akan tetapi, sebenarnya disini saya tidak sendiri. Disini saya masih memliki keluarga. Sejatinya keluarga tidak hanya diikat oleh pertalian darah, namun juga diikat oleh pertalian hati pemiliknya masing-masing. Keluarga itu yang menjadi teman-teman saya menjalankan puasa di bulan Ramadhan. Keluarga itu pula yang membuat saya betah untuk bisa berlama-lama disini. 

Meskipun saya dan mereka hanya dipertemukan dalam satu lembaga kejurnalistikan kampus, namun di balik itu kami sudah menjadi keluarga. Ada suasana yang berbeda ketika saya harus berbuka sendiri, ketimbang berbuka dengan keluarga-keluarga saya disini. Berbuka ataupun sahur dengan mendengar canda maupun teriakan-teriakan (seru) dari tiap orang seakan menghilangkan rasa sepi yang saya dapati ketika harus jauh dari keluarga. 



Dan untuk itulah, ketika kita tidak bisa berkumpul bersama keluarga (kandung) maka teman-teman bisa menjadi alternatif keluarga yang baru. :p

--Imam Rahmanto--

2 komentar:

  1. Mungkin di bawahnya perlu ditambahkan kalimat; "Didedikasikan untuk LPPM Profesi UNM", hehe :D

    BalasHapus