Senin, 16 Juli 2012

Surat Terakhir untuk Ibu


Senja yang indah. Langit telah berubah warna. Matahari semakin membenamkan dirinya di balik gunung-gunung yang tinggi. Tak begitu jelas, karena gedung-gedung bersisian membentuk penghalang menyaksikan semburatnya. Burung-burung pun secara naluri terbang kembali ke sarangnya.

Menikmati senja itu, seorang wanita paruh baya duduk di depan rumah. Seorang diri. Sebuah kursi reot didudukinya sambil matanya tak lepas menatap sekeliling rumahnya.

Diseruputnya teh yang sedari tadi berada di hadapannya. Ia tampak menantikan sesuatu. Ia berharap seseorang datang membuka pintu pagar di depan rumahnya. Ataupun jika perlu melompati pagar tersebut. Tidak sulit bagi orang dewasa untuk melompati pagar yang hanya terbuat dari kayu bambu tersebut.

Dua hari yang lalu, anaknya, berbicara lewat telepon, memberinya kabar.

"Halo, Ibu! Bagaimana kabarnya?" Alif, anak semata wayangnya menyapa begitu gembiranya.

"Ibu baik-baik saja, nak. Kamu sudah tiba, ya? Dimana kamu sekarang? Kamu sendiri bagaimana kabarmu? Kamu tidak kekurangan apapun, kan? Kenapa baru nelpon?" Rentetan pertanyaan diajukannya menyambut telepon dari anaknya.

"Alif baik, Ibu. Pertanyaannya jangan sekaligus, dong. Aku kan jadi bingung mau jawab yang mana. Ibu tenang saja, Aku disini baik-baik. Yang penting ibu terus mendoakanku," jawab anaknya.

"Alhamdulillah..." lirihnya.

"Yang penting sekarang, Ibu tunggu saja surat dariku. Nanti akan kuceritakan semuanya,"

"Lha, kok lewat surat? Bukannya kamu bawa handphone?" potongnya.

"Iya. Tapi, Alif rasa, lewat surat jauh lebih istimewa. Melalui surat, Alif bisa menyampaikan seluruh perasaan Alif. Ibu sendiri kan pernah bilang, kata-kata dalam rangkaian tulisan bisa mewakili perasaan penulisnya. Lagipula handphone baru aku gunakan untuk keperluan mendesak saja, Bu,"

Ia tidak bisa menolak keinginan anaknya. Ia tahu, anaknya memang selalu berbeda. Ada saja hal-hal yang menjadikan anaknya itu kebanggaan di matanya


Surat sudah cukup baginya. Selembar kertas, baginya, bahkan lebih jauh menuturkan seluruh isi hati pengirimnya. Bisa ditebak, mengapa sebuah surat, khususnya surat cinta,  selalu menjadi sebuah simbolisasi romantisme seseorang terhadap lawan jenisnya. Ini membuktikan bahwa surat masih bekerja jauh lebih baik dalam hal menyampaikan perasaan seseorang.
 

Seperti yang telah ditunggu-tunggunya, surat dari anaknya telah tiba. Seorang kurir pos baru saja mengantarkannya, tepat ketika tehnya diseruput habis. Surat pertama.

Hati-hati, dibukanya surat itu dengan penuh rasa bahagia dan penasaran yang berkecamuk menjadi satu. Rasa rindu seorang ibu pada anaknya telah membuncah untuk membuka tulisan tangan tersebut.


Yogyakarta, 20 Juli 2009

Yang Tercinta dan Kurindu Selalu...
Ibundaku di Rumah

Assalamu'alaikum wr wb.

Ibuku tersayang....
Betapa hati ini rindu untuk bertemu dengan ibu.

Dikirimnya surat ini menandakan bahwa aku telah tiba dengan selamat di Yogyakarta. Tidak kekurangan apapun (layaknya yang selalu ibu khawatirkan selama ini). Aku berharap ibu juga baik-baik saja. Semoga ibu selalu ada untuk mendoakan anakmu yang lemah ini.

Ibuku tersayang....
Tidak perlu cemas akan kelangsunganku disini .Bersama temanku, aku telah menemukan pondokan yang cocok untuk kami. Jadi, ibu tidak usah cemas. Anak ibu pasti bisa jaga diri.

Orang-orang disini semuanya ramah-ramah. Keakraban kami sesama mahasiswa cukup mudah terbangun. Ternyata memang benar kata ayah dulu, sebagian besar orang Jawa itu ramah dan baik. Sekarang pun, Alif sudah lihat sendiri buktinya.

Untuk masalah kuliah dan kebutuhanku, ibu tidak perlu bekerja terlalu keras. Cukuplah ibu menjalani perkerjaan ibu sebagai seorang guru. Tidak usah menambah pekerjaan lain. Aku akan cari pekerjaan paruh-waktu disini. Suasana disini sepertinya sangat mendukung mahasiswa untuk menjalani pekerjaan paruh-waktu. Mudah-mudahan, tidak akan mengganggu waktu kuliah yang kujalani. Jadi, ibu tidak perlu khawatir.

Ibuku yang kusayangi....
Meskipun, kini ibu sendirian di rumah, aku harap ibu tidak kesepian. Aku pasti akan selalu ada buat ibu, seperti halnya ibu yang dulu selalu ada buatku. Aku harap kehadiran surat-surat dariku bisa mengurangi kesepian ibu.

Kini, aku baru akan menghadapi masa-masa yang berat disini. Menjalani kehidupan baruku sebagai seorang mahasiswa. Dengan segala tanggung jawab yang dilekatkan pada namaku. Bagiku, tidak masalah, karena aku tahu ibu pasti selalu mendoakan yang terbaik buatku. ^_^

Ibu...
Tulisan tangan ini kucukupkan dulu sampai disini. Aku janji pasti akan mengirimkan surat lagi lain waktu. Ibu tunggu saja. Tapi ibu harus selalu jaga kesehatan. Juga doakan aku ya biar berhasil... Terakhir, aku sayang ibu.


Salam Rindu

Alifianto



Hatinya bahagia usai membaca surat itu. Tak ada lagi alasan baginya untuk cemas dengan keadaan anaknya. Ia sadar, meskipun Alif adalah anak semata wayangnya, namun Alif sudah beranjak dewasa. Ia bukan kanak-kanak lagi. Kemandiriannya membuktikan segalanya. Bahkan, ia nampak lebih siap untuk menggantikan peran ayahnya.

Arini menyeka setetes air mata yang mencuri jalan di sela-sela pipinya. Air mata haru. Air mata penuh rasa rindu.
* * * * * * *


".......Ibu mungkin lupa hari ini adalah hari apa. Tapi aku tidak akan lupa. Semoga saja, tepat ketika surat ini telah sampai di genggaman ibu, ibu telah genap berusia 47 tahun. Oleh karena itu, ingin kutitipkan ucapan, "Selamat Ulang Tahun" buat ibu.

Di hari istimewa ini, aku selalu mendoakan semoga Yang Kuasa memberikan ketenteraman buat ibu. Semakin tabah, semangat menjalani hidup, ramah, pengertian, dan ulet. Satu lagi, semoga Yang Kuasa senantiasa mengabulkan doa-doa ibu.

Maaf, ya bu. Aku tidak bisa menemani ibu. Disini aku masih menjalani kuliah yang begitu padatnya. Meskipun baru sekitar empat bulan kuliahku berjalan, tapi sudah banyak tugas yang mesti diselesaikan dalam tempo yang juga cukup singkat. (Ya, seperti yang kuceritakan dalam surat sebelumnya, bu).

Ibundaku tercinta....
Ucapan sayangku sudah kusampaikan. Oleh karena itu, tibalah waktunya aku kembali mengakhiri surat ini. Tenang saja, surat lainnya akan menyusul. Yang penting, ibu sehat-sehat disitu............"

 

Matanya terus saja berkaca-kaca membaca surat anaknya. Ia benar-benar merasa bangga pada anaknya. Tidak sia-sia anaknya memilih untuk kuliah di Yogyakarta. Padahal, beberapa kali ia telah menganjurkannya untuk kuliah di Makassar.

"Tidak, Bu. Aku rasa kualitas disana sudah terjamin. Selain sebagai universitas tertua, dikenal juga sebagai salah satu universitas terkemuka. Lagipula kotanya juga terkenal sebagai kota pendidikan. Jadi tidak ada salahnya jika aku kuliah disana,"

"Tapi, disana kamu tidak punya siapa-siapa loh." cemasnya.

"Tidak apa-apa, Bu. Namanya juga orang kuliah. Sudah sepatutnya hidup mandiri dan mencari pengalaman sendiri, kan?"

"Tapi, Alif...."

"Sudahlah, Bu. Percaya deh sama Alif. Aku pasti bisa,"

Sebagai orang tua, dirinya juga tidak mungkin memaksakan kehendaknya. Toh, yang menjalani kuliah, ya Alif sendiri. Lagipula dia sudah percaya dengan keyakinan anaknya. Ia begitu mengandalkan kemampuan yang dimiliki anaknya. Anaknya sudah bisa mandiri.

Jika Alif sudah seyakin itu, tidak mungkin baginya untuk mencegahnya. Ia tahu betul watak anak kesayangannya itu. Keteguhan hati yang menurun dari ayahnya itu tidak akan mudah goyah dirusak siapapun.


* * * * * * *


"Ibuku yang kusayangi........
Kembali surat ini kukirim sebagai pelepas rinduku. Surat ini telah menjadi surat yang kesekian kalinya sampai ke tangan ibu. Tidak pernah terlintas dalam benakku untuk menghitung-hitung semua surat yang telah kukirimkan buat ibu, sebagaimana ibu yang tidak pernah menghitung-hitung kasih sayang ibu padaku.

Semoga, ibu disitu masih tetap sehat seperti biasa. Alhamdulillah, disini aku pun sehat wal'afiat.

Ibuku yang penuh pengertian......
Ibu adalah yang terbaik buatku. Hari ini merupakan hari yang cukup istimewa bagi seluruh ibu di dunia, tidak terkecuali bagi ibuku sendiri.

Selamat Hari Ibu!

Meskipun kini aku jauh dari ibu, tapi aku ingin menyempatkan diri untuk memberi ucapan selamat hari ibu pada ibu yang kusayangi. Ibu harus merasa bahagia pada hari ini. Semoga dengan surat yang kukirimkan ini ibu bisa bahagia selalu.

Ibu ingat tidak, ketika aku masih di rumah. Jika hari ini tiba, aku selalu menyempatkan diri untuk membuat kejutan buat ibu. Ketika masih kanak-kanak, aku selalu membuat semacam kerajinan tangan sekadar diberikan untuk ibu. Memang, tidak cukup bagus, tapi ayah selalu membantuku. Ayah pula yang dulu mengajariku untuk merangkai kembang buat ibu. Semua usaha kulakukan untuk membuat ibu senang di hari itu. Semua jerih payahku buat ibu terbayar dengan hadiah senyuman yang tulus dari ibu. Aku bangga, ibu tidak pernah menilai hadiahku, dan aku tahu bahwa ibu sebenarnya lebih menghargai usaha dan kemauanku. Terima kasih ibu. 

Aku kemudian sadar, itulah mengapa ayah sangat mencintai ibu.

Selamat Hari Ibu!

Aku sangat bahagia memiliki orang tua seperti ibu. Mungkin, bisa jadi, dari sekian banyak orang di dunia ini yang memiliki orang tua, akulah yang paling  beruntung.

Ibuku tersayang......
Kuliahku disini berjalan lancar sebagaimana yang selalu diharapkan Ibu. Bahkan aku memperoleh IPK yang cukup tinggi. Tak ada kesulitan berat selama aku kuliah disini. Semoga saja seterusnya bisa seperti itu. I hope so much....

Uang saku yang Ibu kirimkan bulan lalu belum aku pergunakan, karena uang hasil perkerjaanku masih cukup untukku disini. Uang ibu akan kusimpan untuk keperluan penting yang lainnya. Aku harap ibu bisa mengerti. Pekerjaanku, (seperti yang kuceritakan di surat sebelumnya) sebagai guru les privat, sepertinya cukup untuk membiayai sekedar keperluanku disini. Mengenai pembayaran kuliahku, akan kuusahakan agar bisa mendapatkan beasiswa. Doakan, ya bu...

Selamat Hari Ibu!
Aku sayang ibu, sebagaimana besarnya rasa sayang ayah pada ibu. Akan tetapi, tidak akan mungkin menyamai rasa sayang ibu padaku. Sekali lagi, semoga ibu tetap dalam lindungan Yang Kuasa.

NB: Aku titipkan hadiah buat ibu. Hanya sebatas foto-foto saat aku berada disini. Tapi, semoga ibu bahagia melihatnya.



Yogyakarta, 22 Desember 2009
Salam Rindu Anakmu,
Alifianto

* * * * * * *

Langit sungguh cerah. Terik matahari menyinari seluruh penjuru desa. Tak satu pun penduduk desa berkeinginan untuk keluar rumah. Hanya beberapa orang saja yang terlihat mondar-mandir di jalan setapak desa. Mungkin saja banyak dari penduduk desa yang menghabiskan waktunya dengan tidur siang.

Hari ini, Arini istirahat di rumah. Usai makan siang, ia merampungkan tugasnya. Sebagai seorang guru, ia harus membuat laporan tentang nilai-nilai siswanya. Harus ada pemeriksaan rutin terhadap perkembangan prestasi siswa-siswanya. Tugasnya pun sebagai seorang wali kelas menuntutnya untuk selalu memberikan motivasi guna meningkatkan prestasi belajar siswa-siswanya.

Ia terkenal sebagai seorang guru yang cukup disegani oleh guru lainnya. Meskipun usianya yang terbilang masih cukup muda, namun banyak guru-guru seprofesinya yang segan kepadanya. Pemikiran-pemikiran kreatifnya selalu disambut terbuka oleh guru-guru lainnya.

Tidak berbeda di kalangan para siswa. Ia menjadi salah satu guru yang paling banyak disukai oleh siswanya. Gaya mengajarnya yang sungguh bersahabat mampu mengubah suasana belajar di kelas. Siswa-siswa tidak pernah tegang dibuatnya. Bahkan mereka lebih leluasa dan tanpa malu-malu unjuk diri di kelas. Keakraban terjalin diantara dirinya dengan siswa.

Anak didiknya tidak pernah sungkan untuk datang berkunjung ke rumahnya. Baik untuk sekedar bertamu maupun untuk belajar. Baik secara individu, maupun secara kelompok. Sehingga ia tidak pernah merasa kesepian di rumah.

Minggu lalu, ia mendapat kiriman surat dari anaknya, Alif. Surat yang diterimanya sungguh merupakan surat yang sangat ditunggu-tunggunya selama ini. Ia begitu bahagia ketika membaca isi surat tersebut. Melebihi bahagianya ketika membaca surat-surat sebelumnya.

"Ibu yang selalu kurindu.......

Aku kali ini tidak peru menanyakan kabar ibu, karena aku yakin ibu disitu baik-baik saja. Seperti halnya denganku disini. Semoga Yang Kuasa selalu melimpahkan rahmat-Nya buat ibu.

Ibu.....

Sudah setahun lamanya aku berada disini. Tentu sudah banyak hal-hal yang telah kulalui. Kesepian pun tidak pernah menghampiriku. Semua pasti berkat doa ibu..

Kini, aku ingin memberikan kejutan buat ibu. Seminggu lagi, aku akan pulang ke Makassar. Ya, pulang.

Kampusku mendapat libur selama sebulan. Aku punya kesempatan untuk pulang ke rumah. Bertemu dengan ibu. Sebulan sebenarnya bukan waktu yang cukup untuk menghabiskan waktu bersama ibu. Tapi, aku rasa itu cukup untuk sementara. Setidaknya, aku bisa melepaskan kerinduanku pada ibu. Aku juga sudah rindu dengan suasana di kampung. Ada perubahan tidak, Bu? ^_^

Ibu.....
Seminggu lagi aku akan pulang. Ibu tunggu saja....!"


Isi surat tersebut selalu diingat-ingatnya selama seminggu terakhir ini. Rasa rindu pada anaknya akan terobati. Surat itu layaknya menjadi serotonin buatnya. Perangsang gembira.

"Kriiing...kriiinng!"

Telepon rumah berdering. Ia lalu menghentikan pekerjaannya sejenak seraya mengangkat telepon yang berada di pojok ruang tamunya.

"Halo, Assalamu'alikum..." sapa suara di seberang sana.

"Halo, Wa'alaikum salam." jawabnya.

"Benar, ini dengan ibunya Alif?" tanya suara itu.

"Benar, saya sendiri. Ada perlu apa, ya?"

Perasaannya berkata lain. Khawatir. Ia sendiri tidak mengerti. Suara orang yang meneleponnya terdengar agak berat dan sedikit terbata-bata. Sejenak suara itu terdiam. Tidak lama kemudian kemudian melanjutkan perkataannya.

Mendadak, telepon di genggamannya terlepas begitu saja. Kabar yang baru saja didengarnya bagaikan sambaran kilat di depannya. Kali kedua ia merasakan hal yang sama, meski dengan orang berbeda. akan tetapi, berlaku selalu buat orang yang disayanginya.



* * * * * * *

Cerahnya pagi ini tidak secerah yang dirasakan Arini. Hidupnya kini benar-benar terasa hampa. Raut wajahnya masih menyisakan gurat kesedihan yang dialaminya semenjak beberapa hari lalu. Dukanya begitu lara. Lantas, ia tak tahu lagi perbedaan antara hiytam dan putih.

Beberapa hari yang lalu, ia masih sempat berharap anaknya bisa selamat. Sebuah kecelakaan menimpa anaknya. Sepanjang perjalanan, ia berdoa seraya menguatkan diri, anaknya baik-baik saja. Selama perjalanan ke Yogyakarta, ia tak ingin sekalipun berpikiran yang bukan-bukan terhadap anaknya.

Akan tetapi, manusia hanya bisa berharap. Tuhan selalu mempunyai rencana sendiri. Segalanya tidak selalu sesuai dengan harapan. Sesampainya di rumah sakit, Alif telah menghembuskan napasnya yang terakhir. Tidak memberinya kesempatan untuk mengucap sepatah kata perpisahan pun dengan dirinya.

"Anak ibu saat tiba disini sudah dalam keadaan kritis. Di kepalanya terjadi benturan keras, sehingga ia sempat mengalami koma. Hanya sekitar tujuh jam saja ia sempat bertahan. Selebihnya, saya pun sudah tak sanggup lagi." jelas dokter padanya.

Air mata tiada henti mengalir dari kedua pelupuk matanya. Ia hanya mendapati jenazah anaknya di rumah sakit. Jiwanya sangat terpukul. Kesedihan benar-benar mencabik-cabik jiwanya. Kawan-kawan Alif yang saat itu berada di rumah sakit, hanya bisa memandang pasrah dan menenangkan.

Dan akhirnya, hari-hari dilaluinya berbalut kesedihan. Meski jenazah anaknya telah dimakamkan di desa, ia masih belum bisa merelakannya. Beberapa kerabat keluarga yang menemaninya di rumah pun tidak mampu menghiburnya, meski segurat senyuman. Hatinya benar-benar pilu. Remuk.

Air matanya berurai. Anaknya yang dulu telah mengisi rasa sepinya, kini harus pergi selamanya. Anak yang begitu disayangnya, anak yang begitu dibanggakannya. Tidak seulas senyum pun yang memancar dari wajahnya. Hanya gurat kesedihan yang selalu tampak dari wajahnya. Semakin lama, kesedihan akan menggerogoti usianya.

"Ada apa, Indra?"

Dewi, adik Arini, menyambut kedatangan Indra, sahabat Alif. Indra tak dihiraukan oleh Arini yang sejak tadi memandang kosong di depan teras rumah. Padahal Indra pun sejak tadi sudah menunggu di depan rumahnya.

Indra hanya diam. Secarik amplop putih diserahkannyampada Dewi.

"Ini ditulis Alif sebelum ia meninggal. Aku tidak tahu apa isinya. Ia hanya menyuruhku untuk menyerahkannya pada ibunya," ucap Indra dengan mata yang tampak berkaca-kaca.

Dewi menerima surat itu sembari mengucapkan terima kasih.

Surat itu tidak lantas dibukanya. Sadar bukan suratnya, surat itu ia serahkan pada kakaknya yang sejak tadi termenung di atas kursi reotnya.

"Kak, ada surat untukmu....." Dewi berkata pelan. Tapi, ia tahu, suaranya sudah cukup untuk menyadarkan Arini dari lamunan bawah sadarnya.

Tidak ingin dikatakannya pengirim surat itu. Ia menghindari kesedihan kakaknya. Masih tampak kilauan bulir air mata membasahi pipi Arini. Ia menerima surat tersebut tanpa menggerakkan bibirnya. Diam. Tatapannya begitu datar. Lantas, dibukanya surat itu.


Yogyakarta,..

Ibuku yang Selalu Kusayangi
Di Rumah

Ibu....
Semoga ketika membaca surat ini, kesedihan ibu tidak berlarut-larut. Alif tidak ingin melihat ibu meneteskan air mata barang sekejap. Alif tahu ibu sangat sayang padaku, akan tetapi tak semestinya rasa sayang selalu diwarnai dalam tangisan kesedihan.

Ibu....

Entah perasaan apa yang mendorongku untuk menulis surat ini. Sekian kemungkinan, aku tak tahu surat ini adalah surat yang terakhir kutuliskan buat ibu. Aku berharap semoga tidak seperti itu...

Aku ingin menitipkan salam sayangku buat ibu...

Ibu....
Aku tahu, ibu pasti sangat sedih jika seandainya aku pergi meninggalkan ibu. Aku tahu, dan akan selalu tahu, rasa sayang ibu terhadapku melebihi rasa sayangku pada ibu. Akan tetapi, aku berharap rasa sayang itu janganlah menjadi tabir penghalang jikalau seandainya aku harus pergi. Rasa sayang ibu terlalu berharga untuk disia-siakan.

Ibu....
Meskipun ayah telah lebih dulu meninggalkan kita, tapi ia selalu abadi dalam hati. Semua kenangan akan dirinya selalu tersimpan rapi dalam benakku. Tidak sedikitpun kesedihan yang kurasakan ketika aku mengingat ayah. Kebahagiaanlah justru yang kurasakan. Karena aku yakin, ayah tidak menginginkan dirinya untuk ditangisi.

Kini, jika memang aku harus pergi, aku harap kepergianku tidak menciptakan goresan luka di hati ibu. Sebagai seorang guru, ibu masih diperlukan untuk menjadi teladan. Semangat dan senyuman ibu masih dibutuhkan semua orang. Dan sesungguhnya, seperti itulah ibuku yang selama ini Alif kenal. Seorang ibu yang darinya kuwarisi sifat pantang menyerah. Dan dari ibu pula aku banyak belajar tentang kehidupan dan mimpiku.

Ibu pasti masih ingat dengan ucapan ini, "Buat apa menangis? Mata diciptakan bukan untuk selalu menangis, mengeluarkan air mata. Dua mata itu dianugerahkan Yang Kuasa untuk bisa melihat kehidupan. Menatap ke depan. Sudah sewajarnyalah kita melihat ke depan. Mengenang masa lalu dan hidup di masa sekarang. Buat apa menangis? Di saat sekelilingmu tertawa, tersenyum bahagia, akankah kau terus menangis? Tangisan tak akan pernah mengubah yang telah terjadi. Namun sebuah senyuman memberi arti yang lebih bagi hidupmu dan bagi orang lain. Maka dari itu, buat apa menangis? Tersenyumlah...."

Ucapan ibu itulah yang selalu memberi spirit buatku. Memberiku tenaga baru untuk menjalani hidup. Satu hal yang selalu kukagumi dari ibu, ibu selalu saja lebih kuat dariku.

Ibu....
Meskipun kalau tiba waktunya ibu harus hidup seorang diri, aku ingin ibu menerimanya dengan lapang dada. Aku berharap perasaan sedih tidak selalu mewarisi ibu. Aku mengenal ibu sebagai seorang wanita yang tabah. Semangat ibu selalu bisa ditularkan kepada orang lain. Senyuman ramah ibu pulalah yang selalu dirindukan oleh setiap orang. Itulah mengapa ibu selalu menjadi "the best one" di kalangan anak didik ibu. Oleh karen itu, jangan melupakan hal itu, Ibu....

Segala semangat, keceriaan, dan senyuman yang terpancar dari diri ibu akan sangat dirindukan oleh banyak orang. Ibu bisa saja kehilangan aku, akan tetapi lebih banyak orang yang akan merasa kehilangan ibu jika ibu terus menangis.... Percayalah, ibu selalu lebih kuat dariku....

Ibu.....
Masih banyak yang ingin Alif sampaikan pada ibu. Akan tetapi, sepertinya aku sudah tidak kuat lagi.. .Sebelum
waktuku benar-benar usai, aku hanya ingin menyampaikan "Alif selalu menyayangi ibu sampai kapanpun..." dan Tersenyumlah....

Salam Terakhir
Alifianto


Air mata deras membanjiri kedua pelupuk matanya. Perlahan, mengalir turun ke secarik kertas di tangannya. Membentuk pola-pola bundar gelap di atas kertas putihnya. Kali ini bukanlah air mata kesedihan, melainkan air mata haru dan bahagia. Gurat itu kemudian perlahan-lahan meninggalkan wajahnya. Seulas senyum menghiasi wajahnya, untuk pertama kalinya, ia mengawali kehidupannya yang baru. Sendiri.

"Terima kasih, anakku...." batinnya.


Belajen, 23 Agustus 2010
--Imam Rahmanto--

Notes: ditulis kembali dari dokumen cerpen pribadi dengan sedikit perubahan.



6 komentar:

  1. hikss...mengharukan cerpennya kak..
    good cerpen....

    BalasHapus
  2. @Fadilah: Thanks, dinda... ^_^

    BalasHapus
  3. serius jadi melankolisss

    BalasHapus
  4. @Chinta: Hahahaha....si Ai dari kemarin melankolis melulu...

    BalasHapus
  5. @Asriadi Blog: Terima kasih... ^_^.

    BalasHapus