Minggu, 22 Juli 2012

Ramadhan Untuk Banyak Hal


 Puasa Ramadhan yang ketiga…
 

Ada yang membuat saya terbangun siang ini, tepat sejam sebelum Dhuhur tiba. Sayup-sayup dari kamar sebelah, saya mendengar sebuah suara melantunkan ayat suci dengan terbata-bata. Sesekali ia berhenti dengan bacaannya yang tersendat. Meminta tolong barang sejenak cara membacanya.
 

“Kalau yang seperti ini, bacanya apa lagi ya?” tanya Ibu kost saya pada anaknya yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Ia tampaknya baru belajar mengaji pada anak perempuannya.
 

Saya sebenarnya hendak tertawa mengetahui bahwa dia baru saja belajar mengaji di usianya yang tampaknya menginjak 40-an itu. Akan tetapi, justru hal itu kemudian menampar kesadaran saya. Saya tidak lebih baik darinya. Saya hanya bangkit dari tidur saya, terdiam mendengarkan bacaannya yang tersendat-sendat. Sesekali tersenyum. Bukan senyum meremehkan, melainkan menghargai usahanya untuk berbuat lebih baik di bulan suci ini.
 

Kemauan itu lebih utama dibandingkan sekadar kepandaian atau bakat.
 

Di hari ketiga bulan Ramadhan ini, sudah ketiga kalinya pula saya secara tidak sadar menumbuhkan kebiasaan tidur pagi usai menjalankan shalat Subuh. Bukannya saya menghabiskan waktu fajar dengan hal berguna lainnya, semisal membaca Al-Qur’an, saya malah tidur hingga menjelang matahari di atas kepala. Memang benar, tidur di kala sedang berpuasa Ramadhan juga termasuk ibadah. Akan tetapi, melakukan hal-hal yang bermanfaat ketimbang tidur adalah jauh lebih baik. Dan saya membuktikan hal itu. Ada terbersit sedikit sesal ketika bangun menjelang siang hari. “Ah, kenapa juga saya tidak menikmati pagi dengan jalan-jalan? Atau membaca Al-Qur’an? Atau menyelesaikan tugas saya? Atau bahkan sekadar menulis?” Alih-alih saya hanya merasakan sakit kepala ketika terbangun.
 

Saya merasa kecil jika membandingkan diri saya yang sekarang dengan diri saya yang dulu. Ada jarak perbedaan yang sangat jauh. Semakin memasuki usia lebih dewasa, semakin jauh pula jarak yang terbentang dengan-Nya. Di satu sisi, saya merasa bahagia dengan pertambahan umur saya. Di sisi lain, entah kenapa saya begitu berharap kembali menjadi anak-anak polos yang dengan ringannya bisa menjalankan kewajibannnya pada Tuhannya.
 

Dulu, ketika masih kanak-kanak, saya lebih senang menghabiskan waktu subuh Ramadhan saya dengan jalan-jalan bersama teman-teman sepermainan. Beramai-ramai kami menyusuri sepanjang jalan kampung dengan tingkah polah sewajarnya anak kecil. Tidur tidaklah menjadi pilihan utama bagi saya. Mungkin, yang terbersit di pikiran saya kala itu lebih banyak bermain bersama teman-teman. Apalagi dalam balutan suasana yang berbeda, bulan Ramadhan.
 

Tidur tampaknya harus menjadi pilihan alternatif terakhir saya di bulan Ramadhan ini. Jika masih ada sesuatu yang bisa dilakukan atau dikerjakan selain itu, kenapa tidak? Mari menikmati nuansa Ramadhan yang penuh hikmah ini.  ^_^.


Selamat hari Anak Nasional!

--Imam Rahmanto--

4 komentar:

  1. hehe, jadi kangen ramadhan pas kecil. mungkin karena dulu masih sering ngumpul sama sodara sepupu yang seumuran. kalo sekarang sibuk dengan keluarga masing-masing :D

    happy ramadhan ya. barakallah ^^

    BalasHapus
  2. @Ila: Masa-masa kecil memang masa yang menyenangkan, gak ada beban sama sekali. Apalagi kalau pas Ramadhan...rame n seru bareng teman2 main petasan. Hehe..

    BalasHapus
  3. Tidah hanya kamu yang tertampar, tapi saya juga. Membuang-buang waktu libur sehari dengan tidur... Makasih atas tamparan yang jauh lebih keras Imam,,hehe

    BalasHapus
  4. @Dian: Hahaha...Bulan puasa begini bukan buat tiduran aja loh....

    BalasHapus