Selasa, 17 Juli 2012

Dikirimkan...

Assalamu ‘alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh..

Gimana kabarnya, Bunda? Semoga disana Bunda baik-baik saja (meski dengan seabrek aktivitasnya). Hehehe… :) Tetap semangat, Bunda!

Oh, ya. Tentu Bunda terkejut dengan surat ini. Tidak biasanya saya berkirim surat seperti ini. Padahal teknologi komunikasi sudah merajalela. Bahkan katanya, komunikasi melalui handphone misalnya, lebih efisien (lebih keren lagi).

Yah, itu memang benar. Tapi setidaknya karena saya ingin menulis, maka saya menulis. Saya selalu senang dengan menulis, Bunda. Entah kenapa, ketika menulis, saya bisa menuangkan semua perasaan ke dalam sebuah tulisan. Saya punya sebuah quote yang baru-baru ini saya baca dan benar-benar menginspirasi saya,


“Dengan membaca maka kita akan mengenal dunia. 
Dengan menulis maka dunia akan mengenal kita,”

Benar kan, Bunda? Karena itulah, saya ingin tetap menulis. Siapa tahu melalui tulisan ini mungkin suatu hari nanti saya bisa menjadi penulis terkenal, layaknya Ahmad Fuadi, sang penulis buku Negeri 5 Menara yang kini ada di tangan Bunda. Amin..

Buku yang sekarang ada di tangan Bunda, anggap saja sebagai hadiah, karena Bunda telah menjadi pendorong dan motivator saya selama ini. Saya bisa menjadi seperti sekarang ini tidak lain karena dukungan dari Bunda. Hingga akhirnya, kok, lambat laun saya semakin mencontoh Bunda… Tapi memang patut dicontoh sih semangatnya, Bun…

Buku N5L itu bercerita tentang seorang anak dari tanah Minang, Alif, yang (secara terpaksa) melanjutkan studinya di tanah pesantren Jawa. Padahal ia ingin melanjutkan ke jenjang formal agar bisa mewujudkan cita-citanya menjadi seorang BJ Habibie. Akan tetapi, ibunya sangat berharap agar ia bisa menjadi seorang Buya Hamka, ulama terkenal Indonesia. Jadilah ia menghabiskan waktu belajarnya di pesantren.

Namun, barulah ketika ia menjalani proses hidupnya di pesantren, ternyata ia menemukan hal-hal baru, teman-teman baru, dan pengalaman baru. Dari situlah awal ia kemudian menancapkan mimpi-mimpinya bersama keempat orang sahabatnya yang berbeda daerah.

Yah, sedikitnya saya juga ingin berbagi dengan Bunda.

Oh, ya. Benar yang Bunda katakan. Tatkala saya sudah enjoy dengan kegiatan saya, terkadang saya mulai melupakan kuliah. Sebenarnya bukan melupakan, tapi kegiatan saya agak menyita waktu kuliah saya. Saya mulai keteteran membagi waktu saya, antara kuiah, kerja, dan organisasi. Di satu sisi, saya ingin mewujudkan mimpi saya sebagai seorang penulis. Di sisi lain saya pun punya kewajiban untuk menyelesaikan kuliah saya. Entah kenapa, semua pada akhirnya mulai memburuk.

Sejak semester ini, saya sering telat masuk kuliah. Tidak hanya itu, bahkan sudah beberapa kali saya absen mata kuliah. Terkadang saya tidak bisa memprioritaskan kuliah saya. Hal ini dikarenakan tanggung jawab saya dalam setiap kegiatan itu. Saya merasa bersalah jika harus meninggalkannya. Apalagi, saya sangat senang dengan yang namanya tantangan untuk memenuhi pengalaman saya.

Akan tetapi, pikiran saya juga jadi agak “terganggu” manakala teman-teman kelas begitu perhatian terhadap saya. Mereka seringkali menanyakan kehadiran saya, layaknya orang-orang yang peduli. Di saat saya tidak hadir di kelas, mereka senantiasa bertanya sana-sini. “Kenapa tidak kuliah?” kata sebagian mereka. “Aih, sudah mulai nih jarang masuk kuliah,” Begitulah kepedulian teman saya. Di satu sisi, saya bersyukur masih ada teman-teman yang perhatian pada saya. Di sisi lain, saya merasa menjadi orang yang tidak bertanggung jawab, tidak tahu terima kasih terhadap perhatian yang mereka berikan.

Jikalaupun saya menjelaskan, saya tidak yakin apakah mereka akan mengerti dengan alasan saya? Terkadang, mereka menjadi orang-orang yang tidak mau tahu mengenai selain "kuliah”.

Lha kok malah jadi curhat??

Ndak apa-apa kan, Bunda kalau saya sedikit menyita waktunya untuk membaca surat ini? Anggap saja Bunda sedang membaca sebuah kisah (yang memiriskan, hehehe….) dalam surat ini. Pada kenyataannya, saya memang harus sering menuangkan segala perasaan saya ke dalam sebuah tulisan, karena selain melalui tulisan, saya tidak punya tempat lain. Lha, kan saya belum punya pendamping, Bunda… Hehehe…

Saya kemudian berpikir, apakah saya banyak berubah. Banyak hal yang mesti saya bangun ulang. Kata orang, hidup itu mesti memilih. Apakah selalu begitu? Jika saya dihadapkan pada pilihan itu, saya tampaknya ingin (bisa) mengambil kedua-duanya.

Saya suka menulis, Bunda. Bahkan saya sedikit menyesal, kenapa terlambat menyadari akan hal itu. Baru saat saya disini, saya bisa lebih leluasa untuk menulis. Memang, di sekolah menengah saya suka menulis, hanya saja tidak pernah saya tuangkan dalam usaha yang nyata. Barulah, ketika saya sekarang disini, saya benar-benar terdorong untuk bisa berkarya. Apalagi ketika saya melihat orang-orang sepantaran saya telah berhasil menelurkan karya mereka, itu membuat saya iri dan sakit hati. Saya iri karena mereka bisa, kenapa saya tidak? Saya sakit hati, karena tidak berusaha seperti mereka.

Oh ya, Bunda. Saya belum ceritakan ya bahwa beberapa waktu lalu saya sempat bertemu dengan teman saya yang sudah menghasilkan dua buah novel.

Awal saya tahu namanya, ketika salah seorang teman saya di kemahasiswaan lain menawari saya untuk membaca sebuah novel. Ia menyebutkan bahwa penulisnya adalah mahasiswa kampus kami. Wah, bukan main saya agak terkejut. Saya pun penasaran dengan isinya (juga dengan orangnya).

Alhasil, bukan novelnya yang membuat saya kagum. Saya dibuat iri untuk bisa menelurkan karya serupa. Apalagi, beberapa waktu lalu saya mendapat kesempatan untuk mengenal orangnya. Karena ternyata, dia juga mengikuti pelatihan serupa yang diadakan oleh lembaga jurnalistik kampus saya.

Berbincang dengannya membuat saya semakin yakin untuk terus menulis. Dia juga cantik loh, Bunda. Saya masih punya mimpi yang mesti dibangun dari sekarang. Saya ingin, kelak saya punya tulisan yang begitu bernyawa dan mampu menginspirasi semua orang. Melalui tulisan, saya ingin dunia mengenal saya.

Bunda,..
Saya kini sering merasakan bagaimana beratnya sebuah masalah. Terkadang saya merasa menjadi orang yang paling sial di dunia ini. Terkadang saya ingin untuk hilang sejenak dari dunia ini. Melarikan diri dari segala masalah yang silih berganti datang menyapa saya. Mulai dari kamar saya yang tak terurus, tuntutan peliputan, tuntutan kegiatan Profesi, tuntutan memenuhi kuliah, tuntutan kepenulisan saya, tuntutan untuk bisa mencapai 100 target yang saya tuliskan di atap kamar saya, tuntutan untuk memenuhi kebutuhan hidup saya sendiri, karena saya sudah berjanji pada diri saya sendiri untuk bisa hidup mendiri di Makassar semenjak ayah saya sakit Februari lalu. Bahkan diri saya pun tidak terurus. Hingga saya akhirnya kemudian berpikir, apakah saya telah salah untuk bermimpi? Saya terlalu banyak membaca novel-novel yang berbicara tentang mimpi. Batin saya memberontak.

"Sudah saatnya kau menanggalkan mimpi-mimpi yang tak pasti itu. Ini adalah realitas, bung! Bertindaklah sesuai kenyataan dan kemampuanmu. Janganlah jadi layaknnya pungguk merindukan bulan. Mimpimu hanyalah angan-angan belaka. Kosong. Jangan sampai kau terjatuh dan merasakan sakit yang mendalam. Sudah saatnya kau kembali ke dunia nyata. Menyelesaikan semua pekerjaan realita yang sempat tertunda."

Tapi, Bunda, apakah saya mesti menanggalkan impian saya? Apakah satu-satunya jalan bagi saya adalah dengan membuang segala impian saya? Apakah saya terlalu banyak bermimpi? Apakah salah jika saya bermimpi?

Bunda, ketika saya dirundung masalah, dan dituntut oleh batin untuk membuang impian saya, saya merasa kecewa. Saya merasa sedih. Saya kecewa karena kenapa saya tidak sekuat ‘mereka’. Masalah yang bertubi-tubi menghantam saya begitu mudahnya merobohkan kekuatan saya. Saya ingin mengeluh. Saya ingin merutuk. Tapi pada siapa?

Bunda, saya juga ingin menjadi seperti "mereka", tokoh-tokoh dalam tiap novel yang saya baca. Mereka selalu bisa menginspirasi saya. Mereka yang juga dirundung masalah, mereka yang juga punya mimpi dan cita-cita. Namun, mereka bisa menuntaskan segala masalah mereka. Saya pun merasa, saya mirip dengan mereka.

Akan tetapi, saya tersadar, melarikan diri hanya akan membuat masalah itu semakin “tertawa” mengejar kita. Yang mesti saya lakukan adalah menghadapinya. Dengan sekuat tenaga dan penuh keyakinan menyelesaikan semuanya secara tuntas. Jika saya yang memulai, maka saya pula yang mesti mengakhiri.

Banyaknya masalah yang menimpa, membuat saya sedikit demi sedikit belajar. Saya belajar untuk tidak mengeluh. Saya belajar untuk tidak mundur. Saya belajar untuk semakin pandai membangun “pondasi” saya. Karena saya tidak ingin “pondasi” yang telah semakin tinggi saya buat hancur berantakan. Benar, kan Bunda? Masalah mesti dihadapi. Saya mencoba untuk kuat (atau mungkin menguatkan diri). Demi mimpi yang selalu saya tanamkan dalam hati saya.

Ah, tampaknya sudah terlalu banyak saya bercerita, Bunda. Jangan sampai, hanya gara-gara surat ini, menyita waktu kerja Bunda. Sebenarnya masih banyak hal yang saya ingin ceritakan pada Bunda. Namun, tampaknya waktu juga membatasi saya untuk bercerita. Apalagi Bunda juga sekarang sedang sibuk-sibuknya sebagai tangan kanan Kepala Sekolah. Selain itu, jam di depan saya sudah menunjukkan pukul 13.24. Saya harus segera menyelesaikan tugas saya di Profesi, layout tabloid. Pastinya, saya menghabiskan waktu saya sepanjang malam, Bunda. Begadang lagi, begadang lagi. (Bagaimanapun saya ngggak bisa gemuk..).  Saya sudah sering menikmati teh + jeruk nipis seperti yang Bunda sarankan. Hanya saja, untuk malam ini, saya bekerja dengan segelas cappuccino. (hehehe… soalnya untuk persediaan jeruk nipis, saya selalu defisit atau kekurangan)

Sudah dulu, ya Bunda. Lain kali saya akan sambung dengan cerita lainnya. Tentunya dengan tetap menulis. Dengan begitu, saya bisa kembali menyalakan semangat saya. Saya pun ingin membagi pengalaman saya dengan yang lainnya. Terbitnya dua tulisan singkat saya pada media massa lokal  sudah membuktikan sebagai langkah awal saya. Saya bangga akan hal itu, karena dengannya, saya juga bisa membakar semangat teman-teman saya disini. Teman-teman di redaksi juga “terbakar” untuk bisa menulis hal serupa. Lumayan, kan foto bisa nampang di media umum. Kata mereka.

Oh ya, Bunda, salam ya buat guru-guru lainnya. Semoga ketika saya kembali hadir disitu, saya sudah bisa membawa karya yang membanggakan. Pun sudah banyak cerita dan pengalaman yang bisa saya bagi bersama Bunda di meja dapur.

Terima kasih, Bunda. Maaf, sudah menyita waktunya. Tetap semangat, Bunda..!

"Bukan inspirasi yang membuat kita menulis, 
namun menulislah yang akan menciptakan inspirasi bagi kita."

Wassalamu ‘alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

PS: Jika ingin melihat tulisan-tulisan saya, bisa buka m-kreatif.blogspot.com atau http://www.kompasiana.com/ImamR


Makassar, 13 September 2011
Dari muridmu yang berbekal mimpi,
Imam Rahmanto

*Sebuah arsip surat..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar