Selasa, 10 Juli 2012

Aku, Segelas Cappuccino (Season 2 - part 3)

Ia keluar dari kamar sore ini. Entah apa yang membuat perasaannya gelisah senja ini. Banyak hal yang dipikirkannya. Ah, tidak. Hanya satu yang dipikirkannya. Ya, sebuah nama yang baru tempo hari usai diceritakannya padaku. Sebuah nama yang ia sendiri kesulitan menyebutnya. Sinar.
 

Aku tidak tahu persis kapan mereka berjumpa atau berkenalan. Sekonyong-konyong aku tahu nama itu telah menghantui pikirannya. Segalanya berubah kacau. Segala hal yang telah terjadwal, tersusun dengan baik mendadak berubah. Hanya karena dia.
 

“Bagaimana? Sinar cantik kan?” tanya Dika suatu ketika membuka pembicaraan. Dika dan Bintang baru saja merebahkan badan di lantai kamar ini.
 

Bintang diam sejenak. Ia tampak berpikir. Mencoba menimbang-nimbang kecantikan Sinar, mahasiswi jurusan Sastra Jepang yang baru saja diperkenalkan Dika sepulang kuliah tadi. Jika saja bukan karena bertemu dengan teman lama, mana mau Dika mendadak berbaik hati menraktir Bintang makan siang. Tentu saja dengan mengajak Sinar.
 

“Ah, tunggu dulu. Cantik menurutmu dan menurutku kan berbeda. Lalu, buat apa kamu minta pendapatku? Toh, aku bilang jelek, kamu pasti gak mau terima,” cibir Bintang. Pandangannya masih tak lepas pada langit-langit kamarnya. Ada beberapa lembar kertas yang ia tempelkan di langit-langit itu. “Ternyata masih banyak yang masih belum kuraih,” pikirnya.
 

“Iya lah… Karena dia cantik kan?” Dika masih tetap memaksa.
 

“Menurut versi-ku, dia biasa-biasa saja, kok. Tak ada…”
 

“Ah, mana ada orang seperti Sinar yang biasa-biasa saja? Kamu pasti bohong kan?”
 

Dika masih saja keras kepala. Padahal aku tahu sendiri Bintang berkata jujur. Ia sama sekali tidak menganggap cantik Sinar, teman sekolah Dika dulu. Bagiku, Bintang memiliki cara pandang tersendiri terhadap setiap kecantikan wanita. Ada hal-hal khusus di dalam dirinya yang membuatnya memberikan penilaian berbeda pada setiap wanita yang ditemuinya. Tidak jarang, wanita-wanita yang dianggap cantik oleh Dika, ia anggap biasa-biasa saja. Yah, kecantikan, kata orang, memang relatif kan? Hanya saja, Dika-lah yang terus menanamkan “cantik” itu ke penilaian Bintang.
 

Sama, ia tetap menganggap teman Dika itu biasa-biasa saja. Butuh seribu alasan untuk membuatnya berpaling dari kata “cantik” versinya sendiri. Hingga tiba hari itu, ketika aku bisa melihatnya kembali memutarbalikkan pikirannya.
 

Ia baru saja bertemu Sinar di sebuah café. Sudah menjadi kebiasaannya, setiap minggu, lebih tepatnya malam minggu, ia akan menghabiskan waktunya sendiri di café dekat kostnya sekadar menjelajah dunia maya, sekaligus menyelesaikan beberapa tugas kuliahnya. Hanya saja, ia tak pernah menyangka akan bertemu dengan Sinar.
 

“Hei!”
 

“Eh, hei!” Bintang sedikit gugup dengan kemunculan Sinar.
 

“Sendirian? Mana Dika?” Sinar segera mengambil tempat duduk di depan Bintang.
 

“Biasalah, kalau malam minggu seperti ini, yang punya pacar ya pasti cari udara segar di luar,” ujarnya seraya mempersilahkan duduk.
 

Lha, kamu sendiri?” Sebuah pertanyaan yang memojokkan. Seperti biasa, Bintang hanya menanggapinya dengan mengangkat kedua bahunya, pertanda seperti yang kau lihat sendiri lah.
 

Setelah berbicara panjang lebar dengannya, Bintang kemudian tahu sesuatu yang  berbeda padanya. Faktanya, berbincang dengannya di café yang sama-sama digemarinya membuat penilaiannya berubah 180 derajat. Ada banyak hal yang mereka ceritakan. Semakin lama, kian akrab.
 

Darinya, ia juga tahu Sinar turut menjadi pelanggan setia Primera Café, tempat Bintang selalu menghabiskan waktu bermalam minggu. Hanya saja, mungkin selama ini mereka tidak saling mempedulikan karena belum saling kenal. Selepas itu, akhirnya Bintang punya teman untuk menghabiskan waktu akhir pekannya.
 

Beberapa minggu kemudian, ia terpaksa harus mengajak Dika. Mendengar cerita darinya, Dika menggebu-gebu untuk ingin ikut bersama dengannya.
 

“Ternyata semasa SMA dulu, kamu pernah pingsan ya gara-gara seekor cacing?”
 

Dika yang mendengarnya hanya melongo. Bagaimana bisa rahasia yang disimpannya begitu lama bisa diketahui oleh Bintang. Pasti, dalam pikirannya sekarang, darimana kamu tahu?
 

“Tahu darimana?” tanya Dika tak percaya.
 

Tuh, kan begitu katanya. Aku memang paling bisa membaca pikiran orang lain.
 

“Dari Sinar…” jawabnya santai.
 

Ah, singkat cerita, pertemuan dengan Sinar yang berlangsung selama beberapa minggu sudah membuat penilaiannya terhadapnya berubah. Wanita berparas cantik itu akhirnya menguasai tema pembicaraan di dalam kamar Bintang ini, terlebih jika Dika sudah mulai memancing-mancingnya. Tidak hanya Dika, ia juga senang bercerita pada Andi jika sedang berkunjung ke kamarnya.
 

Pertemananya dengan Sinar menjalar begitu cepat. Mereka memiliki kegemaran yang sama; menulis. Sesama orang yang suka menulis membuat mereka cepat akrab. Mereka berbagi tulisan, mereka berbagi cerita. Tak jarang, Bintang sering mengajaknya untuk mengikuti suatu acara workshop terkait penulisan. Tentu saja, dengan senang hati Sinar akan menerimanya.
 

Hingga tiba ketika ia harus berpikir lebih banyak mengenai kedekatannya dengan Sinar. Dalam kamar ini, ia sering berasumsi mengenai kedekatan-kedekatan itu. Bahkan, ia mengecek satu-persatu pertanda yang ia anggap diberikan oleh Sinar. Beberapa kesimpulan nyaris saja membuatnya buta.
 

Dika tak pernah tahu akan hal itu. Sebagai orang yang menutup diri, Bintang tidak terbiasa bercerita mengenai perasaannya pada temannya sendiri. Terlebih jika temannya itu pernah menjadi pacar Sinar di masa SMA dulu. Ia takut, terlalu takut, untuk berbagi dengan Dika, meski hanya sekadar bercerita tentang perasaannya. Maka jadilah Andi korban keluh-kesah Bintang selama ini, selain aku yang selalu menamani tiap malamnya.
 

Barulah aku tahu alasan ia keluar kamar sore-sore begini. Sudah bersiap sejak tadi, meskipun kuliahnya selesai sejak pukul sepuluh. Aku sudah hafal betul jadwal kuliahnya sehari-hari. Seusainya menegukku tadi, aku bisa menangkap pikirannya hanya ada satu nama itu. Sinar Purnama Dewi. 

Seperti yang direncanakannya, senja itu, di seberang lautan lepas, ia mengungkapkan sebuah perkataan yang sudah lama direncanakannya. “Entah apa namanya ini, tapi seandainya aku katakan bahwa aku cinta, apakah kau akan menerimanya?” 






...to be continued. 

--Imam Rahmanto--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar