Selasa, 31 Juli 2012

Ledak Petasan Masa Kecil

Juli 31, 2012
Anak kecil suka bermain petasan

Pletak! Pletak! Dorr!!

Suara ledakan petasan berselang-seling di luar masjid. Suara penceramah malam itu sesekali diwarnai dengan ledakan petasan yang disulut oleh anak-anak kecil di halaman masjid. Bukannya mereka tidak dilarang, namun beberapa kali dilarang pun mereka tetap bandel menyulut sumbu petasan dan melemparkannya kepada sesama temannya. Maka tak jarang bakal terdengar suara berteriak anak-anak lainnya.

Hal seperti itu menjadi pemandangan lumrah di setiap bulan Ramadhan tiba. Bagaimana tidak, sudah menjadi tradisi anak-anak Indonesia membunyikan petasan (jenis apapun) di bulan suci ini. Mulai dari petasan komersil sampai petasan tradisional yang dibuat sendiri dari sebatang bambu. Meskipun dilarang, anak-anak tetap saja membunyikan petasan mengikuti naluri mereka. Toh, sudah menjadi bawaan mereka untuk selalu bermain-main di masa kecilnya…

Saya ingat ketika dulu juga masih sering memainkan petasan. Salah satu petasan yang menjadi andalan ketika bulan Ramadhan tiba adalah meriam bambu. Petasan ini hanya memanfaatkan batang bambu sebagai mediumnya dan minyak tanah sebagai bahan bakarnya. Ada juga yang menggunakan karbit sebagai bahan peledaknya. Dulu, masih belum beredar larangan untuk bermain ‘ledak-ledakan” seperti itu. Jadi, saya dan teman-teman bisa puas bermain di halaman belakang rumah, dari pagi hingga petang. Kita saling mengadu bunyi petasan siapa yang paling heboh. Jikalau bunyinya masih kurang heboh, maka kita akan mengeluarkan segala jurus dan teknik untuk mengakali suara petasan itu.

Akan tetapi, berangsur zaman, saya sudah tidak pernah lagi melihat petasan-petasan jenis tradisional seperti itu. Kini yang beredar luas di kalangan anak-anak hanyalah petasan-petasan modern. Cukup disulut dengan api dan akan meledak dengan sendirinya. Biasanya untuk menambah kekacauan, dilemparkan ke arah tertentu dulu sebelum dilempar.

Petasan jenis ini sebenarnya sudah mulai “menjajah” di masa-masa SMP saya. Karena praktisnya dan tergolong murah, maka banyak anak-anak yang beralih dan berbondong-bondong membeli petasan modern tersebut. Saya termasuk salah satunya, ikut teman. Alhasil, jika subuh hari tiba, menjelang matahari terbit anak-anak sudah beramai-ramai saling lempar petasan. Tak jarang, gadis-gadis yang lewat sekadar jalan-jalan subuh turut menjadi sasaran kenakalan kami. Saya sekali lagi cuma ikut-ikutan. Jika beruntung, kami akan menjadi target pengejaran mereka. Bahkan lebih (seru) parahnya lagi, kami akan berkejar-kejaran dengan tim Buser (Buru Sergap) masyarakat sekitar. Masa-masa itulah juga kemudian muncul larangan untuk membunyikan petasan di Bulan Ramadhan.

Sebenarnya, larangan yang dialamatkan kepada penggunaan petasan adalah hal yang wajar bagi masyarakat sekitar. Hal itu tentu demi kenyamanan umat muslim menjalankan ibadah di bulan suci Ramadhan. Akan tetapi, pelaksanaannya saja seakan-akan dijalankan setengah hati. Selalu dilarang, namun tetap juga dibiarkan. Yah, wajar jika anak-anak masih suka bandel menyulut petasan di bulan puasa.

Sebagai orang yang sedikit lebih tua, tidak perlu mencela atau menyumpahi anak-anak kecil yang bermain petasan di bulan Ramadhan. Kita pun dulu pernah kecil. Dan mungkin pernah melakukan hal yang sama. Selama mereka bisa menjaga diri, maka biarkan saja mereka menikmati masa-masa kecilnya.

Meskipun masa-masa "meledakkan petasan" saya sudah berakhir, saya cukup senang mendengar bunyi ledakan-ledakan kecil petasan di bulan Ramadhan. Bunyi-bunyi itu pula yang menjadi ciri khas bulan Ramadhan bagi orang Indonesia. Hal itu tentu sudah menjadi tradisi (tak langsung) masyarakat di seluruh pelosok tanah air. Justru hal itu bisa juga jadi khasanah kekayaan budaya kita, kan? Dorr!


--Imam Rahmanto--

Sabtu, 28 Juli 2012

Aku, Segelas Cappuccino (Season 2 - Part 4)

Juli 28, 2012
Hening. Kaku. Mendadak ada pembatas tak terlihat yang menghalang diantara keduanya. Memaksa keduanya untuk mengunci mulut masing-masing. Tak ada suara semilir angin yang menyela ucapannya. Deburan ombak pun seakan-akan sejenak berhenti demi mendengarkan jawaban yang akan diterima oleh Bintang.
 

Sinar tak bersuara. Hatinya tersentak nyaris tercerabut dari dadanya. Ia melepas pandangannya yang tadi menatap tak percaya pada Bintang ke tengah laut. Duduknya kini gelisah. Bagaimana tidak, ia tidak pernah menyangka Bintang akan mengungkapkan hal seperti itu padanya. Atau justru ia sedari awal sudah tahu dan menantikan ucapan itu keluar dari mulut Bintang.
 

Bintang mengikutkan pandangannya ke laut lepas.
 

“Maaf…jika ini membuatmu…”
 

“Tidak. Bukan seperti itu,” Sinar menyela.
 

“Aku hanya sedikit…kaget mendengarmu berkata seperti itu…” lirihnya pelan ditelan riuh anak-anak yang berlarian di sekitar pantai.
 

“Aku tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya berusaha jujur. Sudah sekian tahun aku tenggelam dalam ketertutupan hatiku sendiri. Memilih untuk sakit dalam hati dibanding berkata yang sesungguhnya. Baru kali ini aku sadar, semua yang kulakukan semasa itu adalah bodoh,” Bintang bersuara pelan. Ia tidak ingin mengacau di kebimbangan hati Sinar.
 

“Aku tidak ingin lagi menjadi orang bodoh yang hanya bisa menyimpan perasaan untuk dirinya sendiri. Dan baru kali ini aku benar-benar sadar dan berani untuk berkata jujur pada orang….,” Ia melihat sekilas ke wajah Sinar yang sedarin tadi tak lepas memandang ke laut.
 

“…yang kusayang,” lanjutnya lirih. Ia memilih untuk kembali diam. Menanti.
 

“Ya, kau benar. Egois ketika kita hanya menyimpan perasaan untuk diri sendiri,” Sinar tersenyum tipis, “Aku hanya tidak tahu apa yang mesti kukatakan padamu. Kau belum tahu aku yang sesungguhnya. Kau baru mengenalku selama empat bulan. Selama itu pula kau dengan mudahnya suka padaku. Ah, atau entah aku yang membuatmu suka padaku?”
 

“Mungkin,” gumam Bintang.
 

“Maafkan aku, Bintang. Kau belum tahu, aku sudah punya orang lain. Aku mungkin terlalu bodoh memberikanmu harapan-harapan itu. Aku tidak pernah sadar kalau perasaan itu akan tumbuh seiring pertemanan kita,” tatapan Sinar menembus ulu hati Bintang. Tepat mengenai penanda rasa sakitnya. Bahkan aku pun tak mampu meraihnya.
 

Bintang berusaha kuat mendengarkan ucapan Sinar. Di balik senyuman yang dibuat-buatnya, hatinya terasa hancur. Di balik kata-kata “tidak apa-apa”nya, hatinya kembali menenggelamkan diri.
 

“Hm,..tidak apa-apa. Aku sudah puas kok, tidak lagi menjadi orang bodoh seperti dulu,” tuturnya agak dipaksakan. Ia merasa kikuk. Antara malu dan sungkan.
 

Lepas hari itu, aku tahu, hubungan “seperti biasa” antara keduanya tak lagi seperti biasanya. Tidak ada lagi waktu berdua menghabiskan tegukan Cappuccino di café Primera. Tidak ada lagi pergi berdua jalan-jalan ke suatu tempat. Tidak ada lagi celoteh-celoteh via telepon. Tidak ada lagi Bintang yang bersemangat mendengar nama itu. Sebaliknya, nama itu seakan mengungkit sakit hatinya. Akan tetapi, dari dalam hatinya aku tahu, ia juga takkan pernah bisa membenci nama itu.
 

*******

Aku masih bingung. Sedari kemarin aku masih belum bisa menemukan jawaban atas mimpi buruk yang dialami oleh Bintang. Aku sudah menceritakan nama itu, namun aku belum sedikitpun memperoleh inspirasi mengenainya. Tapi, kenapa juga aku harus penasaran dengan mimpi buruknya. Aku Cappuccino dan hanya sebatas minuman, semestinya tidak terlalu mengurusi kehidupannya. Bukankah ia juga tidak tahu kalau aku ada?
 

Akan tetapi, aku pernah mendengarnya berujar, “Rasa penasaran terkadang bisa membunuh,” pada temannya. Ya, meskipun itu hanya sebuah idiom candaan. Bagiku hal itu benar terjadi. Sekarang rasa penasaranku sudah mencapai klimaksnya. Ada apa dengan mimpi-mimpinya? Tidak biasanya aku luput dari satu pun mimpi-mimpinya.
 

“Bulan bersinar sebagian,” Aku memandang ke atas langit malam ini.
 

*******
 
Aku memutuskan untuk menyelam ke lubuk hatinya.  Dalam dan semakin dalam. Aku mendapatkan sedikit petunjuk usai menceritakan nama itu pada kalian. Bersinar? Sebagian? Ya, tampak seperti itulah yang terjadi. Aku mengacak-acak setiap pintu hati yang terbuka. Aku mendobrak setiap pintu hati yang tertutup.
Aku baru mendapati kenyataan pahit yang dirasakan oleh Bintang. Sinar tidaklah pernah mengucapkan kata TIDAK padanya. Ia hanya mengungkapkan keadaan yang ada pada dirinya. Bukan salahnya pula ketika ia memberikan harapan-harapan itu yang kemudian harus memupuk perasaan Bintang dan menjalar ke hatinya sendiri. Ia pun sadar, ia tidak akan mungkin berkata YA jika dirinya sendiri belum yakin akan hal itu. Aku paham, ada bulan yang bersinar sebagian. Meskipun demikian, semakin lama, tentu akan bersinar sepenuhnya.
 

Bintang sadar akan hal itu. Ia harus menerima kenyataan pahit lainnya ketika sebuah kabar menghampiri dirinya.
 

“Bintang, Sinar sedang terbaring di rumah sakit,” Dika memulai percakapannya di telepon.
 

“Aku segera kesana,” Tanpa berpikir panjang, Bintang menutup telepon dan mencari alamat rumah sakit yang dimaksud Dika. Ia takut mimpinya seminggu terakhir menjadi kenyataan, senyata keadaan Sinar sekarang.
 

Aku tersentak. Baru saja aku menemukan wujud mimpi buruknya, kabar itu semakin menegaskannya. Bagaimana tidak, keadaan itu nyaris memetakan mimpi buruk Bintang menjadi kenyataan. Kecelakaan yang dikabarkan padanya itu hanya menjadi déjà-vu bagi dirinya. Saat-saat kritis itu akan berlanjut lebih kritis. Ia tahu dari mimpinya. Dan ia tahu pula, kehilangan itu bisa saja datang sesuai dengan yang terpatri dalam mimpinya. Bukankah kematian itu semakin dekat? Entahlah. [end]
 


--Imam Rahmanto--

Selasa, 24 Juli 2012

Teman Bisa Jadi Keluarga

Juli 24, 2012
Ramadhan sungguh indah jika bisa dinikmati dengan berkumpul bersama keluarga. Ada ayah, ibu, atau adik yang menjadi teman berbagi cerita kita di perantauan. Terkadang, saya pun rindu bagaimana asyiknya mengerjai adik saya sendiri. Senang rasanya melihat bibirnya monyong gara-gara kesal dengan saya.


Tidak untuk tahun ini (dan bahkan tahun kemarin). Saya menjalankan ibadah puasa di kampung orang, kota Makassar. Tentu suasananya jauh berbeda dengan menjalankan puasa di "negeri" sendiri. Parahnya, disini godaannya terlalu banyak. Apalagi jauh dari keluarga. Serius, saya akhirnya benar-benar jauh dari keluarga. Mereka sudah lebih dulu meninggalkan saya sendirian di Makassar menuju daerah asal kedua orang tua saya, Lamongan. Jadilah saya benar-benar sendiri di kota ini.


Akan tetapi, sebenarnya disini saya tidak sendiri. Disini saya masih memliki keluarga. Sejatinya keluarga tidak hanya diikat oleh pertalian darah, namun juga diikat oleh pertalian hati pemiliknya masing-masing. Keluarga itu yang menjadi teman-teman saya menjalankan puasa di bulan Ramadhan. Keluarga itu pula yang membuat saya betah untuk bisa berlama-lama disini. 

Meskipun saya dan mereka hanya dipertemukan dalam satu lembaga kejurnalistikan kampus, namun di balik itu kami sudah menjadi keluarga. Ada suasana yang berbeda ketika saya harus berbuka sendiri, ketimbang berbuka dengan keluarga-keluarga saya disini. Berbuka ataupun sahur dengan mendengar canda maupun teriakan-teriakan (seru) dari tiap orang seakan menghilangkan rasa sepi yang saya dapati ketika harus jauh dari keluarga. 



Dan untuk itulah, ketika kita tidak bisa berkumpul bersama keluarga (kandung) maka teman-teman bisa menjadi alternatif keluarga yang baru. :p

--Imam Rahmanto--

Minggu, 22 Juli 2012

Ramadhan Untuk Banyak Hal

Juli 22, 2012

 Puasa Ramadhan yang ketiga…
 

Ada yang membuat saya terbangun siang ini, tepat sejam sebelum Dhuhur tiba. Sayup-sayup dari kamar sebelah, saya mendengar sebuah suara melantunkan ayat suci dengan terbata-bata. Sesekali ia berhenti dengan bacaannya yang tersendat. Meminta tolong barang sejenak cara membacanya.
 

“Kalau yang seperti ini, bacanya apa lagi ya?” tanya Ibu kost saya pada anaknya yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Ia tampaknya baru belajar mengaji pada anak perempuannya.
 

Saya sebenarnya hendak tertawa mengetahui bahwa dia baru saja belajar mengaji di usianya yang tampaknya menginjak 40-an itu. Akan tetapi, justru hal itu kemudian menampar kesadaran saya. Saya tidak lebih baik darinya. Saya hanya bangkit dari tidur saya, terdiam mendengarkan bacaannya yang tersendat-sendat. Sesekali tersenyum. Bukan senyum meremehkan, melainkan menghargai usahanya untuk berbuat lebih baik di bulan suci ini.
 

Kemauan itu lebih utama dibandingkan sekadar kepandaian atau bakat.
 

Di hari ketiga bulan Ramadhan ini, sudah ketiga kalinya pula saya secara tidak sadar menumbuhkan kebiasaan tidur pagi usai menjalankan shalat Subuh. Bukannya saya menghabiskan waktu fajar dengan hal berguna lainnya, semisal membaca Al-Qur’an, saya malah tidur hingga menjelang matahari di atas kepala. Memang benar, tidur di kala sedang berpuasa Ramadhan juga termasuk ibadah. Akan tetapi, melakukan hal-hal yang bermanfaat ketimbang tidur adalah jauh lebih baik. Dan saya membuktikan hal itu. Ada terbersit sedikit sesal ketika bangun menjelang siang hari. “Ah, kenapa juga saya tidak menikmati pagi dengan jalan-jalan? Atau membaca Al-Qur’an? Atau menyelesaikan tugas saya? Atau bahkan sekadar menulis?” Alih-alih saya hanya merasakan sakit kepala ketika terbangun.
 

Saya merasa kecil jika membandingkan diri saya yang sekarang dengan diri saya yang dulu. Ada jarak perbedaan yang sangat jauh. Semakin memasuki usia lebih dewasa, semakin jauh pula jarak yang terbentang dengan-Nya. Di satu sisi, saya merasa bahagia dengan pertambahan umur saya. Di sisi lain, entah kenapa saya begitu berharap kembali menjadi anak-anak polos yang dengan ringannya bisa menjalankan kewajibannnya pada Tuhannya.
 

Dulu, ketika masih kanak-kanak, saya lebih senang menghabiskan waktu subuh Ramadhan saya dengan jalan-jalan bersama teman-teman sepermainan. Beramai-ramai kami menyusuri sepanjang jalan kampung dengan tingkah polah sewajarnya anak kecil. Tidur tidaklah menjadi pilihan utama bagi saya. Mungkin, yang terbersit di pikiran saya kala itu lebih banyak bermain bersama teman-teman. Apalagi dalam balutan suasana yang berbeda, bulan Ramadhan.
 

Tidur tampaknya harus menjadi pilihan alternatif terakhir saya di bulan Ramadhan ini. Jika masih ada sesuatu yang bisa dilakukan atau dikerjakan selain itu, kenapa tidak? Mari menikmati nuansa Ramadhan yang penuh hikmah ini.  ^_^.


Selamat hari Anak Nasional!

--Imam Rahmanto--

Jumat, 20 Juli 2012

Just Believe It...

Juli 20, 2012
Hari ini saya menjalani puasa pertama di Bulan Ramadhan 1433H. Ya, meskipun masih ada perbedaan diantara beberapa orang tentang jatuhnya awal Ramadhan, hari ini atau besok. Akan tetapi, mengikuti kata hati dan keyakinan yang didasarkan pada alasan yang saya anggap benar, maka saya menjalani puasa hari ini. Tidak usah dipaparkan disini, nanti malah jadi perdebatan lagi.
 

Raih mimpi itu. (Ilustari: ImamR)
Semalam saya mendapati sebuah status di wall facebook milik teman saya. Sebuah status tentang “mimpi”. Bukan mimpi yang dialami ketika tidur, melainkan mimpi berupa “sesuatu” yang benar-benar diidam-idamkan untuk dicapai.
 

Jika cita-cita adalah sesuatu yang diinginkan dan selalu ada jalan untuk merealisasikannya, maka bagi saya mimpi adalah sesuatu yang kita menganggapnya "tidak mungkin dicapai atau direalisasikan", namun tetap ada sedikit cara untuk menuju ke sana. Tentu saja dengan usaha keras.
 

Entah kenapa saya selalu tertarik jika berbicara tentang impian. Kebanyakan membaca buku-buku/ novel (yang berkisah tentang impian dan cita-cita) tampaknya mengubah saya menjadi orang yang agak berani menggantungkan impian. Saya tidak peduli jika orang menganggap itu sebagai sesuatu yang “gila” dan mustahil. Semakin sulit untuk diwujudkan, bukankah semakin manis pula proses untuk mencapainya? Dan bagi saya, disitu pulalah letak perbedaan antara impian dan cita-cita. Tahun kemarin, saya menyimak ucapan Anies Baswedan (saya tidak begitu mendengar persis siapa orang yang dimaksudnya mengucapkan hal itu) di kampus kami, yang semakin mengukuhkan mimpi saya,
 

“Kekhawatiran terbesar saya bukan ketika generasi muda tidak berhasil mencapai impian mereka, melainkan ketika mereka berhasil mencapai impian mereka. Akan tetapi, ternyata impian mereka itu sangat rendah sekali,”

Kenapa mesti takut bermimpi? Bermimpi tidak membutuhkan biaya alias gratis. Siapa saja bisa bermimpi, tidak memandang kaya atau miskin. Bahkan terkadang orang kaya pun masih senang bermimpi.  Jika ada yang mengatakan mimpi dibatasi oleh biaya, ah itu hanya bentuk pelampiasan karena ia tidak tahu harus berbuat apa. Seringkali “takut gagal” membayang-bayangi para pemimpi, lazimnya pernyataan, “Apa saya bisa?” atau “Bagaimana jika saya gagal” atau “Saya tidak punya apa-apa,”. Klise dan klasik. Memangnya untuk sekadar bermimpi dibutuhkan biaya berapa banyak?
 

Tahu tidak, Thomas Alfa Edison saja tidak menganggap 1001 kesalahannya dalam menemukan unsur yang tepat untuk bahan bola lampu sebagai bentuk sebuah kegagalan. Ia justru berujar, “Saya akhirnya menemukan unsur-unsur yang tidak cocok untuk dijadikan sebagai bahan bola lampu,”. Lantas, mengapa kita mesti takut dengan kegagalan? Semua orang pernah gagal. Semua orang pernah membuat kesalahan. Nah, yang dilakukan bukan lantas menyesalinya, melainkan berusaha memperbaikinya, berharap kita belajar dari kesalahan sebelumnya.
 

Melalui beberapa hal yang telah saya lalui, saya banyak belajar…
 

Saya belajar untuk memupuk impian saya. Orang yang paling miskin di dunia ini bukan orang yang “tidak punya apa-apa". Namun orang yang paling miskin adalah mereka yang sama sekali “tidak punya mimpi”. Begitu kata Andrea Hirata.
 

Saya belajar untuk menghargai impian itu. Tidak menertawakannya ketika orang lain menertawakannya. Tidak jarang saya pun sering menjumpai orang-orang yang meremehkan impian saya. Tentu saya tidak akan mengepalkan tinju saya dan mendaratkannya di kepala mereka. Namun saya mengepalkan tangan seraya bertekad untuk membuktikan mimpi itu, hingga suatu hari bisa saya buktikan pada mereka sambil berkata, “Lihat kan?”.
 

Saya belajar untuk menyerahkannya pada Tuhan yang selalu menggenggam impian tiap makhluk-Nya. Bagi-Nya, segala sesuatu masih bisa berubah sepanjang kita sendiri yang berusaha mengubahnya. Hanya jodoh, kelahiran, dan kematian saja yang masih dirahasiakan-Nya dan tak bisa diubah dari kita.
 

Saya belajar untuk percaya pada impian saya. Ya, harus PERCAYA. Sebagaimana saya percaya bahwa akhirat itu ada dan kelak akan menuju ke sana, begitu pula saya mempercayai mimpi-mimpi itu. Saya tidak peduli keadaan saya sekarang, bisa atau tidak - berbakat atau tidak - punya uang atau tidak -. Yang saya lakukan cukup mempercayainya bahwa kelak pasti terwujud. Seperti ketika saya mempercayai ucapan saya sendiri; “Saya memang pertama kalinya menginjakkan kaki di ibukota Indonesia, namun itu bukan untuk yang terakhir kalinya,” dan benar hal itu terwujud kedua kalinya. Karena saya PERCAYA.
 

Saya pun percaya, segala hal yang terjadi pada saya bukan sebuah kebetulan. Saya berbuat sesuatu, maka dunia memberikan saya petunjuk. Law of attraction. Hukum “tarik-menarik” benar-benar nyata terjadi. Sebentuk puzzle-puzzle yang dirangkaikan oleh semacam teka-teki. Mata-rantai. Rantai itu pula secara kasat mata yang akan menghubungkan saya dengan mimpi-mimpi itu, sepanjang saya selalu mempercayainya.
 

Saya belajar untuk bersabar melalui proses mencapai impian itu. Man shabara zaafira, barang siapa yang bersabar maka ia akan beruntung. Begitu kata bang Ahmad Fuadi. Bahkan jikalau saya harus berputar dulu menjadi diri orang lain sebelum menjadi diri saya sendiri. Begitu kata mbak Dewi Lestari. Jikalau kelak (hal terburuk) mimpi-mimpi saya tidak terwujud, saya tentu belajar  untuk bersabar. Meskipun gagal karena mimpi saya terlalu tinggi, setidaknya saya pernah menjadi orang yang paling “kaya” di muka bumi ini.
 

Dan yang terpenting, kita harus selalu PERCAYA mimpi itu bisa terwujud bukan karena dengan kekuatan sendiri. Namun kita semestinya selalu percaya akan ada tangan-tangan lain yang dengan senang hati membantu kita untuk mewujudkannya. Just believe it!

--Imam Rahmanto--

Kamis, 19 Juli 2012

Ramadhan Tiba, Lantas…

Juli 19, 2012
Marhaban ya Ramadhan…
 


Semua umat muslim beramai-ramai menyambut bulan Ramadhan. Bulan yang dijabari dengan segala amal kebaikannya. Setiap detik, segala amal kebaikan akan dilipatgandakan. Setiap menit, manusia akan beristighfar. Setiap jam, manusia akan berdoa memohon ampunan. Setiap hari, selama sebulan penuh, kita kan menjalankan puasa.
 

Menjelang terbukanya pintu Ramadhan, mengingatkan saya dengan masa-masa silam ketika masih kecil dulu. Nuansa-nuansa yang saya rasakan sungguh jauh berbeda jika dibandingkan dengan masa sekarang. Jika dulu saya tidak pernah telat melaksanakan shalat fardhu, semenjak menjalani hidup sebagai mahasiswa, lambat-laun kewajiban itu nyaris saja tertinggalkan. Ya, beruntung, hingga kini masih bisa menunaikannya, mesti harus selalu diburu waktu. Jika dulu saya masih bisa menamatkan bacaan Al-Quran hingga dua kali dalam sebulan Ramadhan, maka semenjak larut dalam kehidupan kuliah, bahkan menamatkan satu kali pun saya belum pernah.
 

Sebuah lantunan lagu-lagu religi mengalun di dalam ruangan tempat saya menulis sekarang…
 

Akh, mendengar lagu-lagu itu membuat saya menerawang jauh lebih dulu ke suasana Bulan Ramadhan.
Meski Ramadhan masih ada sehari lagi, namun rasanya sudah ada di pelupuk mata. Saya sendiri tidak tahu harus melakukan apa memasuki bulan Ramadhan ini. Sebagian teman-teman kuliah saya memutuskan untuk menikmati puasa perdana Ramadhan di kampung halaman masing-masing. Sebagaimana mitos yang lazim menyebar di kalangan para perantau, puasa pertama mesti bersama keluarga sendiri. Sementara saya masih punya beberapa tanggung jawab yang harus diselesaikan disini, khususnya terkait lembaga jurnalistik kampus saya.
 

Saya rindu bisa menikmati suasana Ramadhan tanpa ada tekanan-tekanan sebagai bentuk tanggung jawab. Saya rindu bisa menjadi anak kecil, yang masih polos menjalankan kewajibannya sebagai umat muslim. Saya rindu menikmati masakan-masakan berbuka dan sahur hasil olahan tangan bunda, bukan hasil beli di luar. Saya rindu, pagi-pagi usai menjalankan Shalat Subuh, jalan santai sejauh dua kilometer beramai-ramai bareng teman. Saya rindu semua itu…
 

Tapi, ya semakin beranjak dewasa, semakin besar pula tanggung jawab yang mesti kita pikul. Yang bisa dilakukan hanya menjalankannya. Melaksanakannya sepenuh hati. Kelak, bakal ada hasil yang didapatkan darinya.
 

Ramadhan tinggal sehari lagi. Atau justru sedetik lagi. Lantas, apa yang mesti kita lakukan?
 

Saatnya bersihkan “segalanya”….


--Imam Rahmanto--

Rabu, 18 Juli 2012

Menjadi Dewasa Sudah Pasti

Juli 18, 2012
Mari memutuskan untuk bersikap dewasa

Saya sebenarnya tidak tahu persis bagaimana esensi menjadi dewasa itu sendiri. Ketika usia bertambah, apakah itu yang dimaksud menjadi dewasa? Karena pada hakikatnya semua orang usianya akan bertambah. Atau ketika kita sudah baligh maka sudah dianggap dewasa? Atau ada titik tertentu dalam bersikap sehingga kita bisa disebut “dewasa”? It’s the problem.
 

Kalau dewasa diidentikkan dengan wibawa, jaim (jaga imej), tidak malu-maluin, dan sebagainya, saya tampaknya tidak termasuk dalam golongan itu. Sifat kekanak-kanakan saya masih terbawa hingga sekarang, bahkan masih suka apa yang disukai oleh anak-anak. Hehehe…
 

Persepsi saya, dewasa diidentikkan dengan pengalaman yang telah kita lalui. Bukan apa yang terjadi pada kita yang disebut pengalaman, melainkan bagaimana cara kita menghadapi apa yang terjadi pada kita itu yang dimaksud pengalaman. Melalui pengalaman itu, kita belajar menyelesaikan sebuah masalah. Melalui pengalaman itu, kita tahu cara menyelesaikan sebuah masalah. Seseorang yang dewasa tentu punya banyak penyelesaian. Ia telah berhitung dari beberapa pengalamannya. Oleh karena itu, pertambahan usia biasanya sejalan dengan level kedewasaan seseorang.
 

Akibatnya, menjadi dewasa itu tidak lantas berupa "pilihan". Pernah tidak, mendengar sebuah idiom, “Tua itu pasti, Dewasa itu sebuah pilihan”?
 

“Saya tidak mau dewasa,” Atau “Saya pilih dewasa”. Ah…tidak semudah itu (kali) kita memilih MAU atau TIDAK. Percaya atau tidak, sebenarnya masing-masing dari kita sudah dipilihkan waktu yang tepat oleh Tuhan untuk menjadi dewasa. Kita ya tinggal nrimo (terima) saja. Tidak ada satupun orang yang tahu pasti kapan dia menjadi dewasa. Proses waktu dalam menjalani kedewasaan tiap orang pun berbeda-beda. Saya yang (misalnya) dewasa di usia 60-an, tidak akan sama dengan orang-orang yang dewasa di usia 20-an.

Semakin dewasa, semakin bijak dalam menghadapi sesuatu. Ada banyak hal yang dipertimbangkan sebelum memutuskan sesuatu. Sama halnya ketika saya (dulu masih sekolah) begitu mudahnya merutuk seseorang hanya gara-gara caranya berkomunikasi dengan saya. Namun, ketika saya bertemu kembali dengannya (beberapa waktu lalu), saya mulai sadar bagaimana cara yang baik untuk berkomunikasi dengannya. Dan tidak ada lagi perasaan merutuk atau "mau menjauh" darinya. Saya sendiri yang harus belajar cara bersikap untuk menghadapinya. Jika saja saya masih membawa-bawa cara saya bersikap terhadapnya di masa lalu, tentu saja tidak fair, kan? Meskipun dia masih tidak berubah, saya mesti menyesuaikan diri. Dan ternyata, bersikap dewasa itu sungguh menyenangkan... ^_^.


Dewasa itu bukan sebuah pilihan, melainkan sebuah kepastian yang akan dianugerahkan Tuhan kepada manusia-Nya.


Makassar, 18/7
--Imam Rahmanto--

Selasa, 17 Juli 2012

Dikirimkan...

Juli 17, 2012
Assalamu ‘alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh..

Gimana kabarnya, Bunda? Semoga disana Bunda baik-baik saja (meski dengan seabrek aktivitasnya). Hehehe… :) Tetap semangat, Bunda!

Oh, ya. Tentu Bunda terkejut dengan surat ini. Tidak biasanya saya berkirim surat seperti ini. Padahal teknologi komunikasi sudah merajalela. Bahkan katanya, komunikasi melalui handphone misalnya, lebih efisien (lebih keren lagi).

Yah, itu memang benar. Tapi setidaknya karena saya ingin menulis, maka saya menulis. Saya selalu senang dengan menulis, Bunda. Entah kenapa, ketika menulis, saya bisa menuangkan semua perasaan ke dalam sebuah tulisan. Saya punya sebuah quote yang baru-baru ini saya baca dan benar-benar menginspirasi saya,


“Dengan membaca maka kita akan mengenal dunia. 
Dengan menulis maka dunia akan mengenal kita,”

Benar kan, Bunda? Karena itulah, saya ingin tetap menulis. Siapa tahu melalui tulisan ini mungkin suatu hari nanti saya bisa menjadi penulis terkenal, layaknya Ahmad Fuadi, sang penulis buku Negeri 5 Menara yang kini ada di tangan Bunda. Amin..

Buku yang sekarang ada di tangan Bunda, anggap saja sebagai hadiah, karena Bunda telah menjadi pendorong dan motivator saya selama ini. Saya bisa menjadi seperti sekarang ini tidak lain karena dukungan dari Bunda. Hingga akhirnya, kok, lambat laun saya semakin mencontoh Bunda… Tapi memang patut dicontoh sih semangatnya, Bun…

Buku N5L itu bercerita tentang seorang anak dari tanah Minang, Alif, yang (secara terpaksa) melanjutkan studinya di tanah pesantren Jawa. Padahal ia ingin melanjutkan ke jenjang formal agar bisa mewujudkan cita-citanya menjadi seorang BJ Habibie. Akan tetapi, ibunya sangat berharap agar ia bisa menjadi seorang Buya Hamka, ulama terkenal Indonesia. Jadilah ia menghabiskan waktu belajarnya di pesantren.

Namun, barulah ketika ia menjalani proses hidupnya di pesantren, ternyata ia menemukan hal-hal baru, teman-teman baru, dan pengalaman baru. Dari situlah awal ia kemudian menancapkan mimpi-mimpinya bersama keempat orang sahabatnya yang berbeda daerah.

Yah, sedikitnya saya juga ingin berbagi dengan Bunda.

Oh, ya. Benar yang Bunda katakan. Tatkala saya sudah enjoy dengan kegiatan saya, terkadang saya mulai melupakan kuliah. Sebenarnya bukan melupakan, tapi kegiatan saya agak menyita waktu kuliah saya. Saya mulai keteteran membagi waktu saya, antara kuiah, kerja, dan organisasi. Di satu sisi, saya ingin mewujudkan mimpi saya sebagai seorang penulis. Di sisi lain saya pun punya kewajiban untuk menyelesaikan kuliah saya. Entah kenapa, semua pada akhirnya mulai memburuk.

Sejak semester ini, saya sering telat masuk kuliah. Tidak hanya itu, bahkan sudah beberapa kali saya absen mata kuliah. Terkadang saya tidak bisa memprioritaskan kuliah saya. Hal ini dikarenakan tanggung jawab saya dalam setiap kegiatan itu. Saya merasa bersalah jika harus meninggalkannya. Apalagi, saya sangat senang dengan yang namanya tantangan untuk memenuhi pengalaman saya.

Akan tetapi, pikiran saya juga jadi agak “terganggu” manakala teman-teman kelas begitu perhatian terhadap saya. Mereka seringkali menanyakan kehadiran saya, layaknya orang-orang yang peduli. Di saat saya tidak hadir di kelas, mereka senantiasa bertanya sana-sini. “Kenapa tidak kuliah?” kata sebagian mereka. “Aih, sudah mulai nih jarang masuk kuliah,” Begitulah kepedulian teman saya. Di satu sisi, saya bersyukur masih ada teman-teman yang perhatian pada saya. Di sisi lain, saya merasa menjadi orang yang tidak bertanggung jawab, tidak tahu terima kasih terhadap perhatian yang mereka berikan.

Jikalaupun saya menjelaskan, saya tidak yakin apakah mereka akan mengerti dengan alasan saya? Terkadang, mereka menjadi orang-orang yang tidak mau tahu mengenai selain "kuliah”.

Lha kok malah jadi curhat??

Ndak apa-apa kan, Bunda kalau saya sedikit menyita waktunya untuk membaca surat ini? Anggap saja Bunda sedang membaca sebuah kisah (yang memiriskan, hehehe….) dalam surat ini. Pada kenyataannya, saya memang harus sering menuangkan segala perasaan saya ke dalam sebuah tulisan, karena selain melalui tulisan, saya tidak punya tempat lain. Lha, kan saya belum punya pendamping, Bunda… Hehehe…

Saya kemudian berpikir, apakah saya banyak berubah. Banyak hal yang mesti saya bangun ulang. Kata orang, hidup itu mesti memilih. Apakah selalu begitu? Jika saya dihadapkan pada pilihan itu, saya tampaknya ingin (bisa) mengambil kedua-duanya.

Saya suka menulis, Bunda. Bahkan saya sedikit menyesal, kenapa terlambat menyadari akan hal itu. Baru saat saya disini, saya bisa lebih leluasa untuk menulis. Memang, di sekolah menengah saya suka menulis, hanya saja tidak pernah saya tuangkan dalam usaha yang nyata. Barulah, ketika saya sekarang disini, saya benar-benar terdorong untuk bisa berkarya. Apalagi ketika saya melihat orang-orang sepantaran saya telah berhasil menelurkan karya mereka, itu membuat saya iri dan sakit hati. Saya iri karena mereka bisa, kenapa saya tidak? Saya sakit hati, karena tidak berusaha seperti mereka.

Oh ya, Bunda. Saya belum ceritakan ya bahwa beberapa waktu lalu saya sempat bertemu dengan teman saya yang sudah menghasilkan dua buah novel.

Awal saya tahu namanya, ketika salah seorang teman saya di kemahasiswaan lain menawari saya untuk membaca sebuah novel. Ia menyebutkan bahwa penulisnya adalah mahasiswa kampus kami. Wah, bukan main saya agak terkejut. Saya pun penasaran dengan isinya (juga dengan orangnya).

Alhasil, bukan novelnya yang membuat saya kagum. Saya dibuat iri untuk bisa menelurkan karya serupa. Apalagi, beberapa waktu lalu saya mendapat kesempatan untuk mengenal orangnya. Karena ternyata, dia juga mengikuti pelatihan serupa yang diadakan oleh lembaga jurnalistik kampus saya.

Berbincang dengannya membuat saya semakin yakin untuk terus menulis. Dia juga cantik loh, Bunda. Saya masih punya mimpi yang mesti dibangun dari sekarang. Saya ingin, kelak saya punya tulisan yang begitu bernyawa dan mampu menginspirasi semua orang. Melalui tulisan, saya ingin dunia mengenal saya.

Bunda,..
Saya kini sering merasakan bagaimana beratnya sebuah masalah. Terkadang saya merasa menjadi orang yang paling sial di dunia ini. Terkadang saya ingin untuk hilang sejenak dari dunia ini. Melarikan diri dari segala masalah yang silih berganti datang menyapa saya. Mulai dari kamar saya yang tak terurus, tuntutan peliputan, tuntutan kegiatan Profesi, tuntutan memenuhi kuliah, tuntutan kepenulisan saya, tuntutan untuk bisa mencapai 100 target yang saya tuliskan di atap kamar saya, tuntutan untuk memenuhi kebutuhan hidup saya sendiri, karena saya sudah berjanji pada diri saya sendiri untuk bisa hidup mendiri di Makassar semenjak ayah saya sakit Februari lalu. Bahkan diri saya pun tidak terurus. Hingga saya akhirnya kemudian berpikir, apakah saya telah salah untuk bermimpi? Saya terlalu banyak membaca novel-novel yang berbicara tentang mimpi. Batin saya memberontak.

"Sudah saatnya kau menanggalkan mimpi-mimpi yang tak pasti itu. Ini adalah realitas, bung! Bertindaklah sesuai kenyataan dan kemampuanmu. Janganlah jadi layaknnya pungguk merindukan bulan. Mimpimu hanyalah angan-angan belaka. Kosong. Jangan sampai kau terjatuh dan merasakan sakit yang mendalam. Sudah saatnya kau kembali ke dunia nyata. Menyelesaikan semua pekerjaan realita yang sempat tertunda."

Tapi, Bunda, apakah saya mesti menanggalkan impian saya? Apakah satu-satunya jalan bagi saya adalah dengan membuang segala impian saya? Apakah saya terlalu banyak bermimpi? Apakah salah jika saya bermimpi?

Bunda, ketika saya dirundung masalah, dan dituntut oleh batin untuk membuang impian saya, saya merasa kecewa. Saya merasa sedih. Saya kecewa karena kenapa saya tidak sekuat ‘mereka’. Masalah yang bertubi-tubi menghantam saya begitu mudahnya merobohkan kekuatan saya. Saya ingin mengeluh. Saya ingin merutuk. Tapi pada siapa?

Bunda, saya juga ingin menjadi seperti "mereka", tokoh-tokoh dalam tiap novel yang saya baca. Mereka selalu bisa menginspirasi saya. Mereka yang juga dirundung masalah, mereka yang juga punya mimpi dan cita-cita. Namun, mereka bisa menuntaskan segala masalah mereka. Saya pun merasa, saya mirip dengan mereka.

Akan tetapi, saya tersadar, melarikan diri hanya akan membuat masalah itu semakin “tertawa” mengejar kita. Yang mesti saya lakukan adalah menghadapinya. Dengan sekuat tenaga dan penuh keyakinan menyelesaikan semuanya secara tuntas. Jika saya yang memulai, maka saya pula yang mesti mengakhiri.

Banyaknya masalah yang menimpa, membuat saya sedikit demi sedikit belajar. Saya belajar untuk tidak mengeluh. Saya belajar untuk tidak mundur. Saya belajar untuk semakin pandai membangun “pondasi” saya. Karena saya tidak ingin “pondasi” yang telah semakin tinggi saya buat hancur berantakan. Benar, kan Bunda? Masalah mesti dihadapi. Saya mencoba untuk kuat (atau mungkin menguatkan diri). Demi mimpi yang selalu saya tanamkan dalam hati saya.

Ah, tampaknya sudah terlalu banyak saya bercerita, Bunda. Jangan sampai, hanya gara-gara surat ini, menyita waktu kerja Bunda. Sebenarnya masih banyak hal yang saya ingin ceritakan pada Bunda. Namun, tampaknya waktu juga membatasi saya untuk bercerita. Apalagi Bunda juga sekarang sedang sibuk-sibuknya sebagai tangan kanan Kepala Sekolah. Selain itu, jam di depan saya sudah menunjukkan pukul 13.24. Saya harus segera menyelesaikan tugas saya di Profesi, layout tabloid. Pastinya, saya menghabiskan waktu saya sepanjang malam, Bunda. Begadang lagi, begadang lagi. (Bagaimanapun saya ngggak bisa gemuk..).  Saya sudah sering menikmati teh + jeruk nipis seperti yang Bunda sarankan. Hanya saja, untuk malam ini, saya bekerja dengan segelas cappuccino. (hehehe… soalnya untuk persediaan jeruk nipis, saya selalu defisit atau kekurangan)

Sudah dulu, ya Bunda. Lain kali saya akan sambung dengan cerita lainnya. Tentunya dengan tetap menulis. Dengan begitu, saya bisa kembali menyalakan semangat saya. Saya pun ingin membagi pengalaman saya dengan yang lainnya. Terbitnya dua tulisan singkat saya pada media massa lokal  sudah membuktikan sebagai langkah awal saya. Saya bangga akan hal itu, karena dengannya, saya juga bisa membakar semangat teman-teman saya disini. Teman-teman di redaksi juga “terbakar” untuk bisa menulis hal serupa. Lumayan, kan foto bisa nampang di media umum. Kata mereka.

Oh ya, Bunda, salam ya buat guru-guru lainnya. Semoga ketika saya kembali hadir disitu, saya sudah bisa membawa karya yang membanggakan. Pun sudah banyak cerita dan pengalaman yang bisa saya bagi bersama Bunda di meja dapur.

Terima kasih, Bunda. Maaf, sudah menyita waktunya. Tetap semangat, Bunda..!

"Bukan inspirasi yang membuat kita menulis, 
namun menulislah yang akan menciptakan inspirasi bagi kita."

Wassalamu ‘alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

PS: Jika ingin melihat tulisan-tulisan saya, bisa buka m-kreatif.blogspot.com atau http://www.kompasiana.com/ImamR


Makassar, 13 September 2011
Dari muridmu yang berbekal mimpi,
Imam Rahmanto

*Sebuah arsip surat..

Senin, 16 Juli 2012

Surat Terakhir untuk Ibu

Juli 16, 2012

Senja yang indah. Langit telah berubah warna. Matahari semakin membenamkan dirinya di balik gunung-gunung yang tinggi. Tak begitu jelas, karena gedung-gedung bersisian membentuk penghalang menyaksikan semburatnya. Burung-burung pun secara naluri terbang kembali ke sarangnya.

Menikmati senja itu, seorang wanita paruh baya duduk di depan rumah. Seorang diri. Sebuah kursi reot didudukinya sambil matanya tak lepas menatap sekeliling rumahnya.

Diseruputnya teh yang sedari tadi berada di hadapannya. Ia tampak menantikan sesuatu. Ia berharap seseorang datang membuka pintu pagar di depan rumahnya. Ataupun jika perlu melompati pagar tersebut. Tidak sulit bagi orang dewasa untuk melompati pagar yang hanya terbuat dari kayu bambu tersebut.

Dua hari yang lalu, anaknya, berbicara lewat telepon, memberinya kabar.

"Halo, Ibu! Bagaimana kabarnya?" Alif, anak semata wayangnya menyapa begitu gembiranya.

"Ibu baik-baik saja, nak. Kamu sudah tiba, ya? Dimana kamu sekarang? Kamu sendiri bagaimana kabarmu? Kamu tidak kekurangan apapun, kan? Kenapa baru nelpon?" Rentetan pertanyaan diajukannya menyambut telepon dari anaknya.

"Alif baik, Ibu. Pertanyaannya jangan sekaligus, dong. Aku kan jadi bingung mau jawab yang mana. Ibu tenang saja, Aku disini baik-baik. Yang penting ibu terus mendoakanku," jawab anaknya.

"Alhamdulillah..." lirihnya.

"Yang penting sekarang, Ibu tunggu saja surat dariku. Nanti akan kuceritakan semuanya,"

"Lha, kok lewat surat? Bukannya kamu bawa handphone?" potongnya.

"Iya. Tapi, Alif rasa, lewat surat jauh lebih istimewa. Melalui surat, Alif bisa menyampaikan seluruh perasaan Alif. Ibu sendiri kan pernah bilang, kata-kata dalam rangkaian tulisan bisa mewakili perasaan penulisnya. Lagipula handphone baru aku gunakan untuk keperluan mendesak saja, Bu,"

Ia tidak bisa menolak keinginan anaknya. Ia tahu, anaknya memang selalu berbeda. Ada saja hal-hal yang menjadikan anaknya itu kebanggaan di matanya


Surat sudah cukup baginya. Selembar kertas, baginya, bahkan lebih jauh menuturkan seluruh isi hati pengirimnya. Bisa ditebak, mengapa sebuah surat, khususnya surat cinta,  selalu menjadi sebuah simbolisasi romantisme seseorang terhadap lawan jenisnya. Ini membuktikan bahwa surat masih bekerja jauh lebih baik dalam hal menyampaikan perasaan seseorang.
 

Seperti yang telah ditunggu-tunggunya, surat dari anaknya telah tiba. Seorang kurir pos baru saja mengantarkannya, tepat ketika tehnya diseruput habis. Surat pertama.

Hati-hati, dibukanya surat itu dengan penuh rasa bahagia dan penasaran yang berkecamuk menjadi satu. Rasa rindu seorang ibu pada anaknya telah membuncah untuk membuka tulisan tangan tersebut.


Yogyakarta, 20 Juli 2009

Yang Tercinta dan Kurindu Selalu...
Ibundaku di Rumah

Assalamu'alaikum wr wb.

Ibuku tersayang....
Betapa hati ini rindu untuk bertemu dengan ibu.

Dikirimnya surat ini menandakan bahwa aku telah tiba dengan selamat di Yogyakarta. Tidak kekurangan apapun (layaknya yang selalu ibu khawatirkan selama ini). Aku berharap ibu juga baik-baik saja. Semoga ibu selalu ada untuk mendoakan anakmu yang lemah ini.

Ibuku tersayang....
Tidak perlu cemas akan kelangsunganku disini .Bersama temanku, aku telah menemukan pondokan yang cocok untuk kami. Jadi, ibu tidak usah cemas. Anak ibu pasti bisa jaga diri.

Orang-orang disini semuanya ramah-ramah. Keakraban kami sesama mahasiswa cukup mudah terbangun. Ternyata memang benar kata ayah dulu, sebagian besar orang Jawa itu ramah dan baik. Sekarang pun, Alif sudah lihat sendiri buktinya.

Untuk masalah kuliah dan kebutuhanku, ibu tidak perlu bekerja terlalu keras. Cukuplah ibu menjalani perkerjaan ibu sebagai seorang guru. Tidak usah menambah pekerjaan lain. Aku akan cari pekerjaan paruh-waktu disini. Suasana disini sepertinya sangat mendukung mahasiswa untuk menjalani pekerjaan paruh-waktu. Mudah-mudahan, tidak akan mengganggu waktu kuliah yang kujalani. Jadi, ibu tidak perlu khawatir.

Ibuku yang kusayangi....
Meskipun, kini ibu sendirian di rumah, aku harap ibu tidak kesepian. Aku pasti akan selalu ada buat ibu, seperti halnya ibu yang dulu selalu ada buatku. Aku harap kehadiran surat-surat dariku bisa mengurangi kesepian ibu.

Kini, aku baru akan menghadapi masa-masa yang berat disini. Menjalani kehidupan baruku sebagai seorang mahasiswa. Dengan segala tanggung jawab yang dilekatkan pada namaku. Bagiku, tidak masalah, karena aku tahu ibu pasti selalu mendoakan yang terbaik buatku. ^_^

Ibu...
Tulisan tangan ini kucukupkan dulu sampai disini. Aku janji pasti akan mengirimkan surat lagi lain waktu. Ibu tunggu saja. Tapi ibu harus selalu jaga kesehatan. Juga doakan aku ya biar berhasil... Terakhir, aku sayang ibu.


Salam Rindu

Alifianto



Hatinya bahagia usai membaca surat itu. Tak ada lagi alasan baginya untuk cemas dengan keadaan anaknya. Ia sadar, meskipun Alif adalah anak semata wayangnya, namun Alif sudah beranjak dewasa. Ia bukan kanak-kanak lagi. Kemandiriannya membuktikan segalanya. Bahkan, ia nampak lebih siap untuk menggantikan peran ayahnya.

Arini menyeka setetes air mata yang mencuri jalan di sela-sela pipinya. Air mata haru. Air mata penuh rasa rindu.
* * * * * * *


".......Ibu mungkin lupa hari ini adalah hari apa. Tapi aku tidak akan lupa. Semoga saja, tepat ketika surat ini telah sampai di genggaman ibu, ibu telah genap berusia 47 tahun. Oleh karena itu, ingin kutitipkan ucapan, "Selamat Ulang Tahun" buat ibu.

Di hari istimewa ini, aku selalu mendoakan semoga Yang Kuasa memberikan ketenteraman buat ibu. Semakin tabah, semangat menjalani hidup, ramah, pengertian, dan ulet. Satu lagi, semoga Yang Kuasa senantiasa mengabulkan doa-doa ibu.

Maaf, ya bu. Aku tidak bisa menemani ibu. Disini aku masih menjalani kuliah yang begitu padatnya. Meskipun baru sekitar empat bulan kuliahku berjalan, tapi sudah banyak tugas yang mesti diselesaikan dalam tempo yang juga cukup singkat. (Ya, seperti yang kuceritakan dalam surat sebelumnya, bu).

Ibundaku tercinta....
Ucapan sayangku sudah kusampaikan. Oleh karena itu, tibalah waktunya aku kembali mengakhiri surat ini. Tenang saja, surat lainnya akan menyusul. Yang penting, ibu sehat-sehat disitu............"

 

Matanya terus saja berkaca-kaca membaca surat anaknya. Ia benar-benar merasa bangga pada anaknya. Tidak sia-sia anaknya memilih untuk kuliah di Yogyakarta. Padahal, beberapa kali ia telah menganjurkannya untuk kuliah di Makassar.

"Tidak, Bu. Aku rasa kualitas disana sudah terjamin. Selain sebagai universitas tertua, dikenal juga sebagai salah satu universitas terkemuka. Lagipula kotanya juga terkenal sebagai kota pendidikan. Jadi tidak ada salahnya jika aku kuliah disana,"

"Tapi, disana kamu tidak punya siapa-siapa loh." cemasnya.

"Tidak apa-apa, Bu. Namanya juga orang kuliah. Sudah sepatutnya hidup mandiri dan mencari pengalaman sendiri, kan?"

"Tapi, Alif...."

"Sudahlah, Bu. Percaya deh sama Alif. Aku pasti bisa,"

Sebagai orang tua, dirinya juga tidak mungkin memaksakan kehendaknya. Toh, yang menjalani kuliah, ya Alif sendiri. Lagipula dia sudah percaya dengan keyakinan anaknya. Ia begitu mengandalkan kemampuan yang dimiliki anaknya. Anaknya sudah bisa mandiri.

Jika Alif sudah seyakin itu, tidak mungkin baginya untuk mencegahnya. Ia tahu betul watak anak kesayangannya itu. Keteguhan hati yang menurun dari ayahnya itu tidak akan mudah goyah dirusak siapapun.


* * * * * * *


"Ibuku yang kusayangi........
Kembali surat ini kukirim sebagai pelepas rinduku. Surat ini telah menjadi surat yang kesekian kalinya sampai ke tangan ibu. Tidak pernah terlintas dalam benakku untuk menghitung-hitung semua surat yang telah kukirimkan buat ibu, sebagaimana ibu yang tidak pernah menghitung-hitung kasih sayang ibu padaku.

Semoga, ibu disitu masih tetap sehat seperti biasa. Alhamdulillah, disini aku pun sehat wal'afiat.

Ibuku yang penuh pengertian......
Ibu adalah yang terbaik buatku. Hari ini merupakan hari yang cukup istimewa bagi seluruh ibu di dunia, tidak terkecuali bagi ibuku sendiri.

Selamat Hari Ibu!

Meskipun kini aku jauh dari ibu, tapi aku ingin menyempatkan diri untuk memberi ucapan selamat hari ibu pada ibu yang kusayangi. Ibu harus merasa bahagia pada hari ini. Semoga dengan surat yang kukirimkan ini ibu bisa bahagia selalu.

Ibu ingat tidak, ketika aku masih di rumah. Jika hari ini tiba, aku selalu menyempatkan diri untuk membuat kejutan buat ibu. Ketika masih kanak-kanak, aku selalu membuat semacam kerajinan tangan sekadar diberikan untuk ibu. Memang, tidak cukup bagus, tapi ayah selalu membantuku. Ayah pula yang dulu mengajariku untuk merangkai kembang buat ibu. Semua usaha kulakukan untuk membuat ibu senang di hari itu. Semua jerih payahku buat ibu terbayar dengan hadiah senyuman yang tulus dari ibu. Aku bangga, ibu tidak pernah menilai hadiahku, dan aku tahu bahwa ibu sebenarnya lebih menghargai usaha dan kemauanku. Terima kasih ibu. 

Aku kemudian sadar, itulah mengapa ayah sangat mencintai ibu.

Selamat Hari Ibu!

Aku sangat bahagia memiliki orang tua seperti ibu. Mungkin, bisa jadi, dari sekian banyak orang di dunia ini yang memiliki orang tua, akulah yang paling  beruntung.

Ibuku tersayang......
Kuliahku disini berjalan lancar sebagaimana yang selalu diharapkan Ibu. Bahkan aku memperoleh IPK yang cukup tinggi. Tak ada kesulitan berat selama aku kuliah disini. Semoga saja seterusnya bisa seperti itu. I hope so much....

Uang saku yang Ibu kirimkan bulan lalu belum aku pergunakan, karena uang hasil perkerjaanku masih cukup untukku disini. Uang ibu akan kusimpan untuk keperluan penting yang lainnya. Aku harap ibu bisa mengerti. Pekerjaanku, (seperti yang kuceritakan di surat sebelumnya) sebagai guru les privat, sepertinya cukup untuk membiayai sekedar keperluanku disini. Mengenai pembayaran kuliahku, akan kuusahakan agar bisa mendapatkan beasiswa. Doakan, ya bu...

Selamat Hari Ibu!
Aku sayang ibu, sebagaimana besarnya rasa sayang ayah pada ibu. Akan tetapi, tidak akan mungkin menyamai rasa sayang ibu padaku. Sekali lagi, semoga ibu tetap dalam lindungan Yang Kuasa.

NB: Aku titipkan hadiah buat ibu. Hanya sebatas foto-foto saat aku berada disini. Tapi, semoga ibu bahagia melihatnya.



Yogyakarta, 22 Desember 2009
Salam Rindu Anakmu,
Alifianto

* * * * * * *

Langit sungguh cerah. Terik matahari menyinari seluruh penjuru desa. Tak satu pun penduduk desa berkeinginan untuk keluar rumah. Hanya beberapa orang saja yang terlihat mondar-mandir di jalan setapak desa. Mungkin saja banyak dari penduduk desa yang menghabiskan waktunya dengan tidur siang.

Hari ini, Arini istirahat di rumah. Usai makan siang, ia merampungkan tugasnya. Sebagai seorang guru, ia harus membuat laporan tentang nilai-nilai siswanya. Harus ada pemeriksaan rutin terhadap perkembangan prestasi siswa-siswanya. Tugasnya pun sebagai seorang wali kelas menuntutnya untuk selalu memberikan motivasi guna meningkatkan prestasi belajar siswa-siswanya.

Ia terkenal sebagai seorang guru yang cukup disegani oleh guru lainnya. Meskipun usianya yang terbilang masih cukup muda, namun banyak guru-guru seprofesinya yang segan kepadanya. Pemikiran-pemikiran kreatifnya selalu disambut terbuka oleh guru-guru lainnya.

Tidak berbeda di kalangan para siswa. Ia menjadi salah satu guru yang paling banyak disukai oleh siswanya. Gaya mengajarnya yang sungguh bersahabat mampu mengubah suasana belajar di kelas. Siswa-siswa tidak pernah tegang dibuatnya. Bahkan mereka lebih leluasa dan tanpa malu-malu unjuk diri di kelas. Keakraban terjalin diantara dirinya dengan siswa.

Anak didiknya tidak pernah sungkan untuk datang berkunjung ke rumahnya. Baik untuk sekedar bertamu maupun untuk belajar. Baik secara individu, maupun secara kelompok. Sehingga ia tidak pernah merasa kesepian di rumah.

Minggu lalu, ia mendapat kiriman surat dari anaknya, Alif. Surat yang diterimanya sungguh merupakan surat yang sangat ditunggu-tunggunya selama ini. Ia begitu bahagia ketika membaca isi surat tersebut. Melebihi bahagianya ketika membaca surat-surat sebelumnya.

"Ibu yang selalu kurindu.......

Aku kali ini tidak peru menanyakan kabar ibu, karena aku yakin ibu disitu baik-baik saja. Seperti halnya denganku disini. Semoga Yang Kuasa selalu melimpahkan rahmat-Nya buat ibu.

Ibu.....

Sudah setahun lamanya aku berada disini. Tentu sudah banyak hal-hal yang telah kulalui. Kesepian pun tidak pernah menghampiriku. Semua pasti berkat doa ibu..

Kini, aku ingin memberikan kejutan buat ibu. Seminggu lagi, aku akan pulang ke Makassar. Ya, pulang.

Kampusku mendapat libur selama sebulan. Aku punya kesempatan untuk pulang ke rumah. Bertemu dengan ibu. Sebulan sebenarnya bukan waktu yang cukup untuk menghabiskan waktu bersama ibu. Tapi, aku rasa itu cukup untuk sementara. Setidaknya, aku bisa melepaskan kerinduanku pada ibu. Aku juga sudah rindu dengan suasana di kampung. Ada perubahan tidak, Bu? ^_^

Ibu.....
Seminggu lagi aku akan pulang. Ibu tunggu saja....!"


Isi surat tersebut selalu diingat-ingatnya selama seminggu terakhir ini. Rasa rindu pada anaknya akan terobati. Surat itu layaknya menjadi serotonin buatnya. Perangsang gembira.

"Kriiing...kriiinng!"

Telepon rumah berdering. Ia lalu menghentikan pekerjaannya sejenak seraya mengangkat telepon yang berada di pojok ruang tamunya.

"Halo, Assalamu'alikum..." sapa suara di seberang sana.

"Halo, Wa'alaikum salam." jawabnya.

"Benar, ini dengan ibunya Alif?" tanya suara itu.

"Benar, saya sendiri. Ada perlu apa, ya?"

Perasaannya berkata lain. Khawatir. Ia sendiri tidak mengerti. Suara orang yang meneleponnya terdengar agak berat dan sedikit terbata-bata. Sejenak suara itu terdiam. Tidak lama kemudian kemudian melanjutkan perkataannya.

Mendadak, telepon di genggamannya terlepas begitu saja. Kabar yang baru saja didengarnya bagaikan sambaran kilat di depannya. Kali kedua ia merasakan hal yang sama, meski dengan orang berbeda. akan tetapi, berlaku selalu buat orang yang disayanginya.



* * * * * * *

Cerahnya pagi ini tidak secerah yang dirasakan Arini. Hidupnya kini benar-benar terasa hampa. Raut wajahnya masih menyisakan gurat kesedihan yang dialaminya semenjak beberapa hari lalu. Dukanya begitu lara. Lantas, ia tak tahu lagi perbedaan antara hiytam dan putih.

Beberapa hari yang lalu, ia masih sempat berharap anaknya bisa selamat. Sebuah kecelakaan menimpa anaknya. Sepanjang perjalanan, ia berdoa seraya menguatkan diri, anaknya baik-baik saja. Selama perjalanan ke Yogyakarta, ia tak ingin sekalipun berpikiran yang bukan-bukan terhadap anaknya.

Akan tetapi, manusia hanya bisa berharap. Tuhan selalu mempunyai rencana sendiri. Segalanya tidak selalu sesuai dengan harapan. Sesampainya di rumah sakit, Alif telah menghembuskan napasnya yang terakhir. Tidak memberinya kesempatan untuk mengucap sepatah kata perpisahan pun dengan dirinya.

"Anak ibu saat tiba disini sudah dalam keadaan kritis. Di kepalanya terjadi benturan keras, sehingga ia sempat mengalami koma. Hanya sekitar tujuh jam saja ia sempat bertahan. Selebihnya, saya pun sudah tak sanggup lagi." jelas dokter padanya.

Air mata tiada henti mengalir dari kedua pelupuk matanya. Ia hanya mendapati jenazah anaknya di rumah sakit. Jiwanya sangat terpukul. Kesedihan benar-benar mencabik-cabik jiwanya. Kawan-kawan Alif yang saat itu berada di rumah sakit, hanya bisa memandang pasrah dan menenangkan.

Dan akhirnya, hari-hari dilaluinya berbalut kesedihan. Meski jenazah anaknya telah dimakamkan di desa, ia masih belum bisa merelakannya. Beberapa kerabat keluarga yang menemaninya di rumah pun tidak mampu menghiburnya, meski segurat senyuman. Hatinya benar-benar pilu. Remuk.

Air matanya berurai. Anaknya yang dulu telah mengisi rasa sepinya, kini harus pergi selamanya. Anak yang begitu disayangnya, anak yang begitu dibanggakannya. Tidak seulas senyum pun yang memancar dari wajahnya. Hanya gurat kesedihan yang selalu tampak dari wajahnya. Semakin lama, kesedihan akan menggerogoti usianya.

"Ada apa, Indra?"

Dewi, adik Arini, menyambut kedatangan Indra, sahabat Alif. Indra tak dihiraukan oleh Arini yang sejak tadi memandang kosong di depan teras rumah. Padahal Indra pun sejak tadi sudah menunggu di depan rumahnya.

Indra hanya diam. Secarik amplop putih diserahkannyampada Dewi.

"Ini ditulis Alif sebelum ia meninggal. Aku tidak tahu apa isinya. Ia hanya menyuruhku untuk menyerahkannya pada ibunya," ucap Indra dengan mata yang tampak berkaca-kaca.

Dewi menerima surat itu sembari mengucapkan terima kasih.

Surat itu tidak lantas dibukanya. Sadar bukan suratnya, surat itu ia serahkan pada kakaknya yang sejak tadi termenung di atas kursi reotnya.

"Kak, ada surat untukmu....." Dewi berkata pelan. Tapi, ia tahu, suaranya sudah cukup untuk menyadarkan Arini dari lamunan bawah sadarnya.

Tidak ingin dikatakannya pengirim surat itu. Ia menghindari kesedihan kakaknya. Masih tampak kilauan bulir air mata membasahi pipi Arini. Ia menerima surat tersebut tanpa menggerakkan bibirnya. Diam. Tatapannya begitu datar. Lantas, dibukanya surat itu.


Yogyakarta,..

Ibuku yang Selalu Kusayangi
Di Rumah

Ibu....
Semoga ketika membaca surat ini, kesedihan ibu tidak berlarut-larut. Alif tidak ingin melihat ibu meneteskan air mata barang sekejap. Alif tahu ibu sangat sayang padaku, akan tetapi tak semestinya rasa sayang selalu diwarnai dalam tangisan kesedihan.

Ibu....

Entah perasaan apa yang mendorongku untuk menulis surat ini. Sekian kemungkinan, aku tak tahu surat ini adalah surat yang terakhir kutuliskan buat ibu. Aku berharap semoga tidak seperti itu...

Aku ingin menitipkan salam sayangku buat ibu...

Ibu....
Aku tahu, ibu pasti sangat sedih jika seandainya aku pergi meninggalkan ibu. Aku tahu, dan akan selalu tahu, rasa sayang ibu terhadapku melebihi rasa sayangku pada ibu. Akan tetapi, aku berharap rasa sayang itu janganlah menjadi tabir penghalang jikalau seandainya aku harus pergi. Rasa sayang ibu terlalu berharga untuk disia-siakan.

Ibu....
Meskipun ayah telah lebih dulu meninggalkan kita, tapi ia selalu abadi dalam hati. Semua kenangan akan dirinya selalu tersimpan rapi dalam benakku. Tidak sedikitpun kesedihan yang kurasakan ketika aku mengingat ayah. Kebahagiaanlah justru yang kurasakan. Karena aku yakin, ayah tidak menginginkan dirinya untuk ditangisi.

Kini, jika memang aku harus pergi, aku harap kepergianku tidak menciptakan goresan luka di hati ibu. Sebagai seorang guru, ibu masih diperlukan untuk menjadi teladan. Semangat dan senyuman ibu masih dibutuhkan semua orang. Dan sesungguhnya, seperti itulah ibuku yang selama ini Alif kenal. Seorang ibu yang darinya kuwarisi sifat pantang menyerah. Dan dari ibu pula aku banyak belajar tentang kehidupan dan mimpiku.

Ibu pasti masih ingat dengan ucapan ini, "Buat apa menangis? Mata diciptakan bukan untuk selalu menangis, mengeluarkan air mata. Dua mata itu dianugerahkan Yang Kuasa untuk bisa melihat kehidupan. Menatap ke depan. Sudah sewajarnyalah kita melihat ke depan. Mengenang masa lalu dan hidup di masa sekarang. Buat apa menangis? Di saat sekelilingmu tertawa, tersenyum bahagia, akankah kau terus menangis? Tangisan tak akan pernah mengubah yang telah terjadi. Namun sebuah senyuman memberi arti yang lebih bagi hidupmu dan bagi orang lain. Maka dari itu, buat apa menangis? Tersenyumlah...."

Ucapan ibu itulah yang selalu memberi spirit buatku. Memberiku tenaga baru untuk menjalani hidup. Satu hal yang selalu kukagumi dari ibu, ibu selalu saja lebih kuat dariku.

Ibu....
Meskipun kalau tiba waktunya ibu harus hidup seorang diri, aku ingin ibu menerimanya dengan lapang dada. Aku berharap perasaan sedih tidak selalu mewarisi ibu. Aku mengenal ibu sebagai seorang wanita yang tabah. Semangat ibu selalu bisa ditularkan kepada orang lain. Senyuman ramah ibu pulalah yang selalu dirindukan oleh setiap orang. Itulah mengapa ibu selalu menjadi "the best one" di kalangan anak didik ibu. Oleh karen itu, jangan melupakan hal itu, Ibu....

Segala semangat, keceriaan, dan senyuman yang terpancar dari diri ibu akan sangat dirindukan oleh banyak orang. Ibu bisa saja kehilangan aku, akan tetapi lebih banyak orang yang akan merasa kehilangan ibu jika ibu terus menangis.... Percayalah, ibu selalu lebih kuat dariku....

Ibu.....
Masih banyak yang ingin Alif sampaikan pada ibu. Akan tetapi, sepertinya aku sudah tidak kuat lagi.. .Sebelum
waktuku benar-benar usai, aku hanya ingin menyampaikan "Alif selalu menyayangi ibu sampai kapanpun..." dan Tersenyumlah....

Salam Terakhir
Alifianto


Air mata deras membanjiri kedua pelupuk matanya. Perlahan, mengalir turun ke secarik kertas di tangannya. Membentuk pola-pola bundar gelap di atas kertas putihnya. Kali ini bukanlah air mata kesedihan, melainkan air mata haru dan bahagia. Gurat itu kemudian perlahan-lahan meninggalkan wajahnya. Seulas senyum menghiasi wajahnya, untuk pertama kalinya, ia mengawali kehidupannya yang baru. Sendiri.

"Terima kasih, anakku...." batinnya.


Belajen, 23 Agustus 2010
--Imam Rahmanto--

Notes: ditulis kembali dari dokumen cerpen pribadi dengan sedikit perubahan.



Sabtu, 14 Juli 2012

Pagi yang Indah

Juli 14, 2012
Pagi itu indah.
Aroma segar udaranya selalu menggetarkan pori-pori kulit.
Hawa udaranya selalu mengingatkan masa-masa di belakang.
Sunyi sepi suasananya memberikan kedamaian. Luruh.

Pagi itu Indah.
Dari sanalah kita bisa menemukan kedamaian.
Menghirup tiap partikel murni embun paginya.
Lihat pula, embun menetes pelan membasahi bumi.
Selalu, ada tetes-tetes kecil berjatuhan di atas permukaannya yang hijau.

Pagi itu indah,
Berapa kali kita bisa bangun pagi?
Berita kecil, Ketika kanak-kanak ibu yang selalu membangunkan.
Seraya menyuruh membasuh muka
Dinginnya  terkadang menggetarkan langsung ke ulu hati.

Pagi itu indah.
Awal mula kita menyusun rencana-rencana kecil untuk tujuan-tujuan yang besar.
Langkah awal menapaki hari berikutnya.
Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu.
Minggu, kan jauh lebih indah.

Bukankah sudah kukatakan pagi itu indah?
Maka mengapa juga engkau masih tidur di pagi begini?
Bangunlah…
Tunjukkan rahasiamu pada dunia.
Sedikit senyuman akan memicu roda waktu berputar.
Dan sampaikan, Selamat Pagi!







--Imam Rahmanto--

Jumat, 13 Juli 2012

Kisah Perdebatan Serumpun Minuman

Juli 13, 2012

Di dunia yang tak pernah dijamah oleh manusia, berkumpullah para minuman yang menjadi maskot kehidupan dunia. Sebuah topik diskusi menjadi perbincangan hangat mereka.
 

“Ah, jangan mentang-mentang kamu yang selalu dijadikannya teman lantas kamu sombong begitu, Cappie,” tegur Kopi tidak terima dirinya dianggap rendah oleh Cappuccino.
 

“Aku tahu, aku memang dibencinya. Tapi, maaf-maaf saja, karena aku lebih banyak disukai oleh orang-orang dewasa. Ingat juga loh, kamu itu dilahirkan karena manusia terinspirasi dariku,”
 

“Betul itu,” Minuman lainnya membenarkan ucapan Kopi. Si Lemon Tea tampak bersemangat pula ingin menjatuhkan Cappuccino. Tampaknya, tak ada satu pun minuman yang bersimpati pada kehadiran Cappuccino.
 

“Bukankah memang itu kenyataannya? Aku selalu menjadi pilihan buatnya, dan karenanya, hanya aku juga disini yang bisa mengerti mengenai perasaan yang dibangunnya, terlepas dari aku masih keluargamu, Kopi,” Cappuccino tak mau kalah. Sedari tadi, ia merasa dipojokkan oleh kawan-kawannya. Jika jadinya seperti ini, sesungguhnya ia merasa menyesal pulang ke kampung halamannya.
 

Kampung halaman? Ya, kampung halaman. Bukan hanya manusia ciptaan Tuhan saja yang punya kampung halaman. Mereka, para minuman, juga punya perkampungan tersendiri. Perkampungan itu takkan pernah terjamah oleh manusia. Bukankah manusia hanya makhluk fana yang tersia-siakan demi waktu? Tak ada manusia yang punya kesempatan untuk sekadar menghabiskan waktu menelisik keberadaan para minuman itu. Selama para minuman itu bisa dinikmati, tak penting manusia tahu asal-usulnya. Begitulah sifat dasar manusia. Seperti ketika mereka yang kehausan “cinta” menikmati kemolekan tubuh para pramuria. Mana ada yang dengan sukarela sekadar bertanya, “Rumahnya dimana?” atau “Asalnya dari mana?”. Tak ada. Selama mereka bisa menikmatinya, segala basa-basi dibuang begitu saja.
 

Nun jauh di bawah selubung yang tak pernah terungkap manusia, dekat tapi tak terjamah, tampak tapi tak terasakan, kampung halaman itu berdiam. Disanalah para minuman itu berdebat layaknya kusir. Bagaimana tidak, mereka hanya para minuman yang kebanyakan aktivitasnya mencontoh manusia. Berdebat tanpa penyelesaian. Disana pula berkumpul segala jenis minuman, mulai dari minuman kelas bawah sampai minuman kelas atas yang membuat lidah sering terpeleset ketika menyebut namanya.
 

“Kau tentunya bisa mengerti dia, wajar, karena kau selalu bersama dengannya di setiap malam,” Jus Alpukat angkat bicara.
 

“Sementara aku, yang juga menjadi pilihannya, hanya bisa dinikmatinya di siang hari. Itu pun di saat-saat tertentu,” lirihnya lagi, “Sebulan belakangan ini aku selalu dicarinya. Sayang, musimku tampaknya belum tiba. Dicari kemanapun, aku dilabeli setiap cafe; stok kosong,”
 

“Aku juga. Dulu, bisa menjamah perasaannya, menemani waktu senggangnya ketika kamu belum hadir. Terlebih, aku adalah minuman yang  disarankan oleh gurunya tercinta,” sergah Lemon Tea tak mau kalah.
 

Cappuccino tahu akan hal itu. Sebelum kehadirannya, Lemon Tea lebih tahu segalanya. Ia lebih suka menyeruput teh yang sebelumnya sudah ditetesi jeruk nipis. Cukup beberapa tetes, dan ia akan merasakan kedamaian di tiap tegukannya. Namun, tetap saja, Cappuccino tak mau mengakuinya. Seiring waktu berjalan, kemampuan Lemon Tea untuk menciptakan kedamaian itu memudar, berganti dengan kehangatan yang ditawarkan olehnya.
 

“Itu kan dulu…” cibir Cappuccino merasa jumawa di atas semuanya.
 

Lemon Tea melirik saudaranya, Teh Manis, yang sedari tadi diam saja. Ia berharap mendapatkan bantuan.
“Kamu jangan terlalu kegeeran ya, Cappie. Kamu tinggal menunggu waktu saja, ia akan bosan denganmu, lantas meninggalkanmu dan melupakanmu,” Jus Jeruk berusaha menasehati.
 

“Aku tahu, Jeruk. Kamu juga pernah menghabiskan malam dengannya, kan? Kalau tidak salah, ketika ia masih menetap di rumah pamannya. Bahkan tampaknya ia belajar cara membuatmu,” sambung Lemon Tea.
 

“Paling tidak, kamu dibuatnya secara langsung. Berbeda dengan si Cappie yang hanya diseduhnya secara instan,” Terlalu jelas sindiran yang dialamatkan Lemon Tea kepada Cappuccino. Sontak, membuat Cappuccino harus berkomentar.
 

“Memangnya…”
Halaaah, segala yang instan-instan biasanya jadi sumber penyakit, kok,” potong Lemon Tea tiba-tiba.
 

“Benar kan, Air?” Semua pandangan tertuju pada Air Putih. Mereka yang tak bersimpati pada Cappuccino meminta penjelasan yang semoga bisa menjatuhkan.
 

Air putih memang dikenal sangat bijaksana. Sebagai minuman sumber kehidupan, ia sudah lama menikmati gula-garam kehidupan. Ia juga dianggap sebagai orang tua dari semua jenis minuman di muka bumi. Tak ada satu pun minuman di dunia yang tidak mengenalnya. Jika hal itu terjadi, minuman tersebut bak durhaka kepada orang tuanya.
Air putih pula yang tahu segala seluk-beluk permasalahan manusia. Ia begitu mudah menyelami tiap perasaan para penikmatnya. Ia malah sudah mengerti bagaimana cara kerja perasaan manusia, yang seringkali membuat minuman lain bingung tak berdaya. Ia mengerti makna dari kata cinta, suka, sayang, benci, sedih, pilu, bahagia, sukacita. Ia selalu menjadi tempat bertanya bagi minuman lain.
 

Air Putih berpikir sejenak. Ia tak ingin membuat perpecahan diantara kalangan minuman.
 

“Sebenarnya, apa yang dikatakan oleh Lemon Tea ada benarnya juga. Tapi, tidak semua yang instan itu berpenyakit. Ada banyak hal di dunia ini yang berlaku instan tapi tidak menimbulkan penyakit sama sekali. Begitu pula sebaliknya,” papar Air Putih.
 

“Seperti Cinta?” lirih Susu menyerobot arah pembicaraan. Semua pandangan teralih padanya. Susu hanya bisa tersenyum kikuk dipandangi oleh kawan-kawannya, meskipun ia tahu seluruh kawannya juga tentu masih penasaran dengan satu istilah itu. Air Putih hanya tersenyum.
 

“Tentu saja. Sedikit dari penjelasan yang pernah kuberikan pada kalian, cinta itu berlaku instan. Terkadang ia hadir begitu saja, bahkan tanpa perlu dibuat-buat ataupun diaduk-aduk seperti kalian. Akan tetapi, manakala ia tak diolah dengan baik, ia akan menjadi sumber penyakit. Dan penyakitnya itu sangat destruktiif, yang dirusak bukan tubuh manusia, melainkan batin manusia secara langsung,” Air Putih memberikan sedikit intermezzo buat para minuman. Ia sadar, baik di dunia minuman maupun di dunia manusia, persoalan seputar cinta menjadi tema menarik untuk dibahas.
 

“Tapi, cinta itu bisa jadi obat juga, kan?” Tuh kan, tema itu langsung menjadi perhatian para minuman. Bahkan Teh Manis yang sedari awal hanya diam, kini berinisiatif mengajukan pertanyaan. Minuman lain hanya mengangguk-angguk ingin tahu.
 

“Ingat, Teh Manis. Kita sekarang bukan membicarakan persoalan cinta,” sergah Air Putih bijak.
Mendadak suara Yaaah! kecewa memenuhi udara. Nyaris saja perdebatan antar-minuman dilupakan begitu saja. Sungguh, mereka sangat ingin tahu.
 

Nah, oleh karena itu, masing-masing punya kelemahan tersendiri. Instan-tidaknya kalian pun takkan mempengaruhi kualitas rasa kalian. Tiap minuman punya rasa tersendiri dalam memaknai hidup. Setiap minuman punya cara masing-masing memberikan kedamaian buat penikmatnya. Ingat, rasa itu memang sudah ditentukan di tiap lidah manusia. Akan tetapi, 'kualitas' rasa segelas minuman seperti kita adalah sesuatu yang relatif,”
 

Tak ada yang menanggapi perkataan Air Putih. Seperti biasa, semua minuman penasaran menanti penjelasan selanjutnya. Lagi-lagi, Air Putih hanya tersenyum melihat tingkah para minuman. Baginya, minuman-minuman itu sudah menjadi anak-anak buatnya.
 

“Ada yang menganggap kehangatan adalah hal terbaik, ada pula yang menganggap dingin dan lembut sebagai pembawa kedamaian buatnya,”
 

Tanpa disadari yang lainnya, Milk-Shake, Jus Alpukat, Banana Coffee Blend, Coco Chocolato, Lime Squash, Ice Ginger Milk Coffe, dan beragam Soft Drink tersenyum bangga.
 

“Semuanya tergantung dari kebutuhan tiap manusia itu sendiri. Seperti ketika manusia pertama mengatakan Jus Jeruk sebagai minuman terbaik baginya. Hal itu belum tentu berlaku bagi manusia yang lainnya. Toh, seperti yang kita tahu, Cappie unggul di mata tuannya. Sehingga segala pernyataan yang dibuat Cappie adalah subjektif berdasarkan segala yang dipahami dari tuannya,” Air Putih memandangi Cappuccino setelah pandangannya menyapu seluruh minuman. Cappuccino hanya bisa cengar-cengir.
 

“Dengar tuh, Cappie,” Jus Alpukat menimpali dari belakang yang kemudian disusul teriakan Huu! dari minuman yang lainnya. Yang mendapat teriakan hanya bisa menggaruk-garuk kepala, seandainya bisa.
 

“Ya sudah, yang terpenting kalian sudah mengerti. Selain itu, perdebatan seperti ini yang hanya mengunggulkan diri masing-masing sebenarnya bukan hal yang patut dicontoh dari manusia. Kalian mending mencontoh diskusi-diskusi lepas mereka yang biasanya memberikan pengetahuan-pengetahuan baru bagi manusianya. Tentunya dengan tetap mengesampingkan ego masing-masing,”
 

“Ego?” tanya Cappuccino tidak mengerti.
 

Air Putih lupa, dari sekian banyak kosa kata yang diajarkannya pada minuman-minuman, “ego” adalah salah satu yang belum diajarkannya.
 

“Ego sama dengan sifat mementingkan diri sendiri,”
 

Emm…kalau cinta itu apa?” Susu, lagi-lagi bertanya hal itu. Meskipun ia tahu, ia masih saja berharap mendengar banyak penjelasan. Air Putih hanya menggeleng tak percaya.
 

Tidak ada teriakan mencemooh dari minuman di sekitarnya. Diam. Pada dasarnya, mereka juga penasaran akan hal itu. Mereka berharap mendapat banyak-banyak penjelasan. Bagi mereka, jikalau saja ada soal ujian yang dihadapkan pada mereka, maka pertanyaan-pertanyaan tentang cinta-lah yang akan menggugurkan nyali mereka.
 

Cinta itu…akan kita bahas lain waktu,” ujar Air Putih yang sontak mengundang teriakan Yaaah! kecewa beramai-ramai dari minuman yang lainnya. [end]



--Imam Rahmanto--

Rabu, 11 Juli 2012

Kuburan Tak Lagi Menakutkan

Juli 11, 2012
Bila meninggal, sudah sewajarnya manusia akan kembali menghadap ke hadirat-Nya. Cukup jiwanya saja yang akan melanglang buana ke alam lain meninggalkan raga berkalang tanah. Dan tempat terakhir bagi raga yang tak lagi berjiwa (disebut jasad) adalah kuburan.

Tentu, tak ada satu pun orang yang tidak mengenal apa itu kuburan, meski hanya sebagian saja yang pernah melihatnya secara langsung. Karena pada dasarnya manusia kan takut dengan kematian. Maka ia pun (secara umum) takut dengan kuburan.

Akan tetapi, disini (Makassar), khususnya di sekitar kompleks tempat tinggal saya (kost) hal yang terjadi malah sebaliknya. Kuburan-kuburan yang mestinya disakralkan ataupun ditakuti justru dianggap tidak menakutkan bagi warga sekitar. Saya banyak menemukan kuburan-kuburan itu dijadikan tempat bersantai oleh warga. Ah, tidak hanya itu. Bahkan tanpa segan-segan (maupun hormat-hormat) mereka menjadikan lahan pemakaman itu sebagai tempat jemuran cucian-cucian mereka sehari-hari.

Entah bagaimana dengan daerah selain tempat saya. Di tempat Anda? Dari dua hingga tiga pemakaman yang pernah saya lalui, saya menjumpai kondisi yang serupa. Ada pula pemakaman yang sebenarnya sudah dibatasi dengan tembok beton sebagai pagarnya, namun keramaian tidak lepas dijumpai di depannya. Disanalah warga mendirikan beberapa lapak yang digunakan untuk menjajakan barang dagangannya. Semakin lama, semakin riuh menjelma menjadi sebuah pasar. Ckckck....

Akibatnya, warga sekitar pun tidak lagi merasa ketakutan dengan istilah "kuburan". Kuburan sudah tak ada bedanya lagi dengan tempat-tempat biasa lainnya. Paradigma berpikir lantas berubah. Berubah positif atau negatif??

"Ah, itu sih biasa," pikir mereka.

Entah, apakah kita mesti bangga dengan pertumbuhan penduduk Indonesia atau malah miris melihat "ketidaksopanan" masyarakat menganggap kuburan sebagai tempat "biasa". Ya, meskipun pemakaman merupakan tempat umum, tapi pada dasarnya tiap tempat umum memiliki adab masing-masing, kan? Rumah sakit, sekolah, jalanan, pasar, dan sejenisnya selalu memiliki tingkat penghormatan yang berbeda-beda. Ada tempat yang memang dikhususkan untuk ramai. Ada pula tempat yang keramaian menjadi hal yang sangat dilarang.

Kita semua tahu (khususnya yang beragama muslim) bahwa, pemakaman itu adalah tempat sakral yang harus dihormati, namun tidak secara berlebihan juga. Tidak seharusnya sebuah areal pemakaman dijadikan tempat keramaian, apalagi seperti pasar. Karena kuburan adalah tempat isitirahat terakhir jasad manusia, maka kita tidak semestinya mengganggu tempat peristirahatan orang lain. Biarkan setenang mungkin.... Ssst... 



--Imam Rahmanto--

Selasa, 10 Juli 2012

Aku, Segelas Cappuccino (Season 2 - part 3)

Juli 10, 2012
Ia keluar dari kamar sore ini. Entah apa yang membuat perasaannya gelisah senja ini. Banyak hal yang dipikirkannya. Ah, tidak. Hanya satu yang dipikirkannya. Ya, sebuah nama yang baru tempo hari usai diceritakannya padaku. Sebuah nama yang ia sendiri kesulitan menyebutnya. Sinar.
 

Aku tidak tahu persis kapan mereka berjumpa atau berkenalan. Sekonyong-konyong aku tahu nama itu telah menghantui pikirannya. Segalanya berubah kacau. Segala hal yang telah terjadwal, tersusun dengan baik mendadak berubah. Hanya karena dia.
 

“Bagaimana? Sinar cantik kan?” tanya Dika suatu ketika membuka pembicaraan. Dika dan Bintang baru saja merebahkan badan di lantai kamar ini.
 

Bintang diam sejenak. Ia tampak berpikir. Mencoba menimbang-nimbang kecantikan Sinar, mahasiswi jurusan Sastra Jepang yang baru saja diperkenalkan Dika sepulang kuliah tadi. Jika saja bukan karena bertemu dengan teman lama, mana mau Dika mendadak berbaik hati menraktir Bintang makan siang. Tentu saja dengan mengajak Sinar.
 

“Ah, tunggu dulu. Cantik menurutmu dan menurutku kan berbeda. Lalu, buat apa kamu minta pendapatku? Toh, aku bilang jelek, kamu pasti gak mau terima,” cibir Bintang. Pandangannya masih tak lepas pada langit-langit kamarnya. Ada beberapa lembar kertas yang ia tempelkan di langit-langit itu. “Ternyata masih banyak yang masih belum kuraih,” pikirnya.
 

“Iya lah… Karena dia cantik kan?” Dika masih tetap memaksa.
 

“Menurut versi-ku, dia biasa-biasa saja, kok. Tak ada…”
 

“Ah, mana ada orang seperti Sinar yang biasa-biasa saja? Kamu pasti bohong kan?”
 

Dika masih saja keras kepala. Padahal aku tahu sendiri Bintang berkata jujur. Ia sama sekali tidak menganggap cantik Sinar, teman sekolah Dika dulu. Bagiku, Bintang memiliki cara pandang tersendiri terhadap setiap kecantikan wanita. Ada hal-hal khusus di dalam dirinya yang membuatnya memberikan penilaian berbeda pada setiap wanita yang ditemuinya. Tidak jarang, wanita-wanita yang dianggap cantik oleh Dika, ia anggap biasa-biasa saja. Yah, kecantikan, kata orang, memang relatif kan? Hanya saja, Dika-lah yang terus menanamkan “cantik” itu ke penilaian Bintang.
 

Sama, ia tetap menganggap teman Dika itu biasa-biasa saja. Butuh seribu alasan untuk membuatnya berpaling dari kata “cantik” versinya sendiri. Hingga tiba hari itu, ketika aku bisa melihatnya kembali memutarbalikkan pikirannya.
 

Ia baru saja bertemu Sinar di sebuah café. Sudah menjadi kebiasaannya, setiap minggu, lebih tepatnya malam minggu, ia akan menghabiskan waktunya sendiri di café dekat kostnya sekadar menjelajah dunia maya, sekaligus menyelesaikan beberapa tugas kuliahnya. Hanya saja, ia tak pernah menyangka akan bertemu dengan Sinar.
 

“Hei!”
 

“Eh, hei!” Bintang sedikit gugup dengan kemunculan Sinar.
 

“Sendirian? Mana Dika?” Sinar segera mengambil tempat duduk di depan Bintang.
 

“Biasalah, kalau malam minggu seperti ini, yang punya pacar ya pasti cari udara segar di luar,” ujarnya seraya mempersilahkan duduk.
 

Lha, kamu sendiri?” Sebuah pertanyaan yang memojokkan. Seperti biasa, Bintang hanya menanggapinya dengan mengangkat kedua bahunya, pertanda seperti yang kau lihat sendiri lah.
 

Setelah berbicara panjang lebar dengannya, Bintang kemudian tahu sesuatu yang  berbeda padanya. Faktanya, berbincang dengannya di café yang sama-sama digemarinya membuat penilaiannya berubah 180 derajat. Ada banyak hal yang mereka ceritakan. Semakin lama, kian akrab.
 

Darinya, ia juga tahu Sinar turut menjadi pelanggan setia Primera Café, tempat Bintang selalu menghabiskan waktu bermalam minggu. Hanya saja, mungkin selama ini mereka tidak saling mempedulikan karena belum saling kenal. Selepas itu, akhirnya Bintang punya teman untuk menghabiskan waktu akhir pekannya.
 

Beberapa minggu kemudian, ia terpaksa harus mengajak Dika. Mendengar cerita darinya, Dika menggebu-gebu untuk ingin ikut bersama dengannya.
 

“Ternyata semasa SMA dulu, kamu pernah pingsan ya gara-gara seekor cacing?”
 

Dika yang mendengarnya hanya melongo. Bagaimana bisa rahasia yang disimpannya begitu lama bisa diketahui oleh Bintang. Pasti, dalam pikirannya sekarang, darimana kamu tahu?
 

“Tahu darimana?” tanya Dika tak percaya.
 

Tuh, kan begitu katanya. Aku memang paling bisa membaca pikiran orang lain.
 

“Dari Sinar…” jawabnya santai.
 

Ah, singkat cerita, pertemuan dengan Sinar yang berlangsung selama beberapa minggu sudah membuat penilaiannya terhadapnya berubah. Wanita berparas cantik itu akhirnya menguasai tema pembicaraan di dalam kamar Bintang ini, terlebih jika Dika sudah mulai memancing-mancingnya. Tidak hanya Dika, ia juga senang bercerita pada Andi jika sedang berkunjung ke kamarnya.
 

Pertemananya dengan Sinar menjalar begitu cepat. Mereka memiliki kegemaran yang sama; menulis. Sesama orang yang suka menulis membuat mereka cepat akrab. Mereka berbagi tulisan, mereka berbagi cerita. Tak jarang, Bintang sering mengajaknya untuk mengikuti suatu acara workshop terkait penulisan. Tentu saja, dengan senang hati Sinar akan menerimanya.
 

Hingga tiba ketika ia harus berpikir lebih banyak mengenai kedekatannya dengan Sinar. Dalam kamar ini, ia sering berasumsi mengenai kedekatan-kedekatan itu. Bahkan, ia mengecek satu-persatu pertanda yang ia anggap diberikan oleh Sinar. Beberapa kesimpulan nyaris saja membuatnya buta.
 

Dika tak pernah tahu akan hal itu. Sebagai orang yang menutup diri, Bintang tidak terbiasa bercerita mengenai perasaannya pada temannya sendiri. Terlebih jika temannya itu pernah menjadi pacar Sinar di masa SMA dulu. Ia takut, terlalu takut, untuk berbagi dengan Dika, meski hanya sekadar bercerita tentang perasaannya. Maka jadilah Andi korban keluh-kesah Bintang selama ini, selain aku yang selalu menamani tiap malamnya.
 

Barulah aku tahu alasan ia keluar kamar sore-sore begini. Sudah bersiap sejak tadi, meskipun kuliahnya selesai sejak pukul sepuluh. Aku sudah hafal betul jadwal kuliahnya sehari-hari. Seusainya menegukku tadi, aku bisa menangkap pikirannya hanya ada satu nama itu. Sinar Purnama Dewi. 

Seperti yang direncanakannya, senja itu, di seberang lautan lepas, ia mengungkapkan sebuah perkataan yang sudah lama direncanakannya. “Entah apa namanya ini, tapi seandainya aku katakan bahwa aku cinta, apakah kau akan menerimanya?” 






...to be continued. 

--Imam Rahmanto--

Minggu, 08 Juli 2012

Ayahku dan Layang-layang

Juli 08, 2012

Mengejar layangan


“Tolong, tutup kembali pintunya, Dan!” teriakku dari dalam kamar.

“Siip!!” seru Dani dari luar kamarku dan menutup pintu kamar sambil berlalu pergi.

Buku yang tadi tergeletak di atas ranjang kembali kubaca. Di dalam kamar, aku sendiri. Mencoba mendalami buku yang sedang digenggam tanganku.

Di luar kamar, suara teman-teman yang lain begitu ramai. Tampak dari jendela kamar, mereka sedang menyaksikan suatu acara televisi sambil bersenda gurau antar-sesama penghuni kost, anak-anak kampus. Begitulah kebiasaan penghuni di asrama ini. Jika tidak ada hal yang dirasa cukup perlu untuk dikerjakan, mereka akan berkumpul bersama di ruang tengah asrama.

Kusetel radio kamarku. Aku men-channel pada salah satu siaran FM. Di malam hari, biasanya masih banyak stasiun radio yang sedang mengudara.

“……….kirimkan atensi anda…..kosong…..satu…”

Sayup-sayup dari balik buku yang sedang kubaca terdengar suara seorang broadcaster sedang mengudara. Suara broadcaster yang satu ini sudah familiar dalam siaran radio yang sedang mengudara ini.

Selang beberapa menit kemudian, suara broadcaster tadi berganti menjadi sebuah lantunan lagu. Lagu nostalgia yang dibawakan oleh Ebiet G. Ade dengan judul Ayah ini tiba-tiba mengingatkanku pada keadaan keluarga di desaku. Keluarga yang telah lama kutinggalkan. Keluarga yang telah lama nyaris mengendap lama di dasar hatiku.

“…..bahumu yang dulu kekar, legam terbakar matahari. Kini kurus dan terbungkus…..”

Sudah empat tahun semenjak kepergianku dari rumah. Kepergian yang ingin membuktikan sesuatu pada ayahku. Bahkan, hingga kini, aku masih belum pernah menjenguk mereka, keluargaku.

* * * * *



“Ayah, itu kurang tinggi. Lebih tinggi lagi, Yah!’ teriakku dari belakang sambil berusaha menyamakan lariku dengn lari ayahku.

“Ini sudah tinggi!” balas ayahku sambil berbalik ke arahku.

Di atas sana, sebuah layang-layang hijau sederhana terbang tinggi mengangkasa. Melawan segala angin yang menerpanya. Aku bersama ayahku sedang berlari-lari kecil mengelilingi lapangan. Ayah menemani aku yang sedari pagi merengek minta ditemani menerbangkan layang-layang. Layangan itu baru saja dibelikan ayah sebagai hadiah buatku.

“Lihat, kan Firman. Begini caranya menerbangkan layangan.” jelas ayah padaku.

“Iya, Yah.”

“Kalau begitu coba kamu yang pegang,” pinta ayahku ketika layang-layang telah mengudara dengan stabil.
Aku berusaha mengimbangi layang-layang yang telah diterbangkannya meski dengan agak sempoyongan. Tubuh mungilku masih belum cukup kuat untuk mengimbangi pergerakan layang-layang yang meliuk-liuk diterpa oleh angin itu. Aku memegangi gulungan benangnya dengan bantuan ayahku.

Hari ini adalah hari pertamaku menerbangkan layang-layang. Setiap sore, aku biasanya bermain bersama teman-temanku. Sebatas aku hanya menjadi penonton dan penyorak saja. Karena saat itu aku belum punya layang-layang sendiri.

Sore ini, ayah memutuskan untuk menemaniku bermain layang-layang. Meskipun berstatus sebagai guru di sekolah menengah, ayah masih menyempatkan sedikit waktu luangnya untuk menemaniku bermain layang-layang.

“Firman, kalau dewasa nanti jadilah seperti layang-layang,” ujar ayahku tiba-tiba.

“Kok gitu, Yah?” tanyaku polos sambil memandangi wajahnya.

“Layang-layang bisa terbang tinggi bukan karena ia mengikuti arah angin, melainkan karena ia melawan arah angin. Oleh karena itu, jadilah sepertinya. Kelak, ada banyak tantangan yang akan menghadangmu. Jika kamu menghadapinya, janganlah kamu lantas berpikir untuk menghindarinya atau bahkan ikut jatuh terpuruk ke dalamnya. Hadapilah! Kalau bisa tersenyum, maka tersenyumlah. Dengan begitu, kamu juga bisa terbang tinggi layaknya layang-layang.” jelas ayahku sambil tetap memandangi layang-layang yang sedang terbang di udara.

"Tapi ingat, semakin tinggi kamu terbang, maka semakin kuat juga tantangan yang akan menghadangmu. Bahkan, sebuah layang-layang pun masih butuh kita untuk mengendalikannya. Tanpa kita, ia akan terbang tanpa tujuan. Menjauh. Jadi, sekuat apapun pula kamu melawan arus, kamu pasti butuh seorang teman,"

“O…….” jawabku singkat.

"Bahkan, ketika kelak engkau akan menghadapi ego Ayah....." lirihnya.

Aku tak mengerti. Aku hanya bisa mengangguk. Kata-kata ayahku tidak begitu kupahami, meskipun aku yakin suatu saat nanti aku bisa mengerti.

* * * *


“Sudahlah, Firman. Ayah tidak punya waktu buatmu. Kamu belajar sendiri saja,”

Ayahku telah banyak berubah semenjak ia diangkat sebagai kepala sekolah, tempat dia mengajar. Entah apa yang membuatnya berubah. Hal ini juga dirasakan oleh saudara-saudaraku. Hingga aku beranjak remaja, ayah tetap sama. Bukan lagi seperti ayah yang dulu sering menemaniku bermain layang-layang.

Buku yang ada di tanganku sepertinya tidak lagi menjadi bahan bacaanku. Saat ini aku hanya bisa termenung sendiri. Lagu yang masih bersenandung di radio kesayanganku itu telah membuatku teringat akan semua kenangan tentang ayahku.

Semenjak itu, ayah telah berubah menjadi orang yang begitu sombong. Ia tak lagi menghargai keputusan anak-anaknya. Segala sesuatu yang berlaku di rumah harus menurut kehendaknya. Segalanya harus cara ayah. Selain itu, aku juga sering mendapat makian dari ayahku.

Orang-orang dalam keluargaku tidak ada yang berani membantah perkataan ayahku, terlebih jika ia sedang emosi. Sedikit saja kami berkomentar, maka emosi ayahku akan semakin meningkat. Oleh karena itu, jika ayahku sedang berpendapat, tak ada satupun yang berani mengomentarinya, kecuali ibuku.

“Apa yang kamu mau andalkan jika dewasa nanti, Firman? Meski orang-orang di sekolah menganggap kamu sebagai anak yang pandai, tapi dalam hal pengalaman kamu hanya orang yang bodoh,”

“Bekerja saja kamu tidak becus. Coba kamu lihat anak Pak Andi, ia begitu rajin ke sawah untuk membantu ayahnya. Sedangkan kamu? Kakakmu saja yang selalu ke sawah untuk menggarap sawah milik keluarga kita,” lanjutnya.

Kata-kata seperti begitu membakar telingaku. Ayah tidak pernah menghargai prestasi yang selama ini kuraih. Segala juara akademik yang dibanggakan oleh guru-guruku sirna begitu saja di hadapan ayahku. Bahkan ia sering membanding-bandingkan aku dengan orang lain. Pemikirannya sungguh ku tak mengerti.

“Tugas sekolah?? Kamu saja yang tidak mau bekerja…….”

Soal pekerjaanlah yang paling sering dijadikan bahan oleh ayahku untuk mencibirku. Semua prestasi yang kudapatkan di sekolah hanya dianggap angin lalu oleh ayah. Di saat aku mencoba membuatnya senang pun, ia tidak pernah merasa senang atau setidaknya mengucapkan terima kasih.

“Lihat, kan. Pekerjaanmu tidak pernah ada yang beres. Bekerja saja kamu tidak becus. Lihat saja dari caramu pegang cangkul. Begitu saja salah. Mau kerja apa kamu nanti?" ujarnya padaku saat membantunya di sawah.

Aku sesekali membantunya bekerja di sawah. Waktu yang tepat selama musim tanam padi. Mendengarnya, aku hanya diam saja. Sebenarnya, aku sudah muak dengan segala omelan ayahku. Segala sesuatu yang kulakukan harus dengan caranya. Tidak peduli sesuai atau tidak. Ia tidak pernah membiarkanku untuk berkembang sendiri.

”Mungkin dalam hal kepintaran, kamu lebih pintar dari teman-temanmu. Tapi kalau pengalaman kamu tidak ada, sia-sia belaka. Pengalaman itu pun tidak pernah diajarkan di sekolah. Ayah ini sudah banyak pengalaman. Jadi, kamu tidak usah banyak mengomentari ayah,”

Sejak itu, aku jadi enggan untuk bekerja membantu ayahku. Seandainya pun aku membantunya, itu karena terpaksa. Semua hasil pekerjaanku selalu diangap sia-sia meskipun ibu selalu mendukungku.

“Ayahmu sebenarnya mau yang terbaik buat kamu, nak,” nasehat ibuku.

“Percuma, Bu. Kepercayaanku pada ayah sudah mulai hilang,” balasku.

Puncak kekecewaanku terjadi ketika aku lulus SMA. Aku merasa tersisih diperlakukan seperti itu oleh ayahku. Hingga aku berani melawan semua kata-kata ayahku.

“Ayah selalu beranggapan seperti itu karena ayah tidak merasakan. Ayah tidak pernah mau mendengarkan perkataanku. Pemikiran ayah itulah yang terlalu picik!!” bantahku.

“Apa?? Kamu berani melawan ayahmu, hah!!”

Ayah nyaris saja melayangkan tangannya ke arahku. Beruntung, ibuku menghalanginya. Saat itulah aku mulai sadar untuk memulai kehidupanku sendiri.

“Ayah terlalu picik,” lirihku.

Hari berikutnya, aku telah menghilang dari rumahku. Entah bagaimana reaksi keluargaku atas kepergianku. Aku pun tidak pernah berusaha untuk mencari kabar mereka, terutama ayahku karena aku pun tidak pernah mau tahu.

* * * *


Empat tahun sudah kutinggalkan keluargaku. Sudah waktunya aku harus kembali memperlihatkan diriku dengan semua kehidupanku. Aku pernah berjanji pada ayahku untuk kembali setelah empat tahun. Sudah saatnya lah aku harus kembali…

* * * *


Aku pulang ke desaku. Aku merasakan banyak suasana baru dan berbeda dari empat tahun yang lalu. Ternyata, telah banyak yang berubah selama empat tahun ini. Asing. Banyak hal yang tidak aku kenali. Beberapa orang yang berpapasan denganku tersenyum agak dipaksakan. Cenderung mereka bersikap ramah meskipun kepada orang yang baru mereka kenal. Aku tersenyum.

Keadaan rumahku tetap masih seperti dulu. Hanya catnya saja yang telah berubah. Aku heran, seharusnya ayah bisa membuat banyak perubahan di beberapa sudut rumahku. Aku melangkah masuk ke dalam rumah dengan menggendong ransel di punggungku.

“Firman?… Apa kamu itu, nak?”

Ibuku yang baru saja keluar dari dalam dapur terkejut melihatku. Ia terlihat tidak percaya. Ia seakan tengah bermimpi melihat kedatanganku. Aku hanya tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca. Mata ibu sembap. Aku meletakkan tasku di atas meja dan segera saja ibuku menyongsongku dengan pelukan hangatnya. Erat. Erat sekali.

“Nak, sudah lama ibu merindukanmu. Kamu kemana saja?”

Ibuku terlarut dalam kesedihannya. Dapat kurasakan air mata menetes dari matanya yang telah keriput. Tanpa kusadari air mataku pun menetes. Ternyata, aku punya keluarga yang telah lama kutinggalkan dengan orang-orang yang menyayangiku.

Sejenak kemudian, ibuku tersadar. Ia mengusap air matanya dan memanggil seseorang dari dalam rumah.

“Intan, tolong panggil kakakmu Anto kesini. Bilang kalau Firman sudah pulang!” seru ibuku memanggil Intan, adikku.

Intan segera berlari keluar rumah, dalam tangis harunya, usai melepaskanku dari pelukannya.

Beberapa saat kemudian, ibu banyak bertanya tentangku. Banyak hal. Semua kisahku juga turut menjadi perbincangan dengan ibuku. Segala suka duka yang juga selama ini aku rasakan.

Mendengar segala hal tentangku, ibu tampakbahagia. Ia juga bangga denganku. Kini, aku berkumpul lagi dengan keluargaku. Meski tidak semuanya, karena kakakku yang kedua sedang melanjutkan S2-nya di sebuah perguruan tinggi di kota.

Kakakku, Anto, telah sampai di rumah. Tanpa menunggu aba-aba dariku, ia segera memelukku dengan begitu erat. Tampak wajahnya telah banyak berubah. Wajahnya yang dulu kukenal begitu bersih, kini telah riuh dipanasi oleh sinar matahari. Aku merasa sedih melihat kakakku. Tapi ia malah senang dengan pekerjaannya di sawah sekarang.

“Hitung-hitung untuk menggantikan ayah,” katanya menghiburku.

Begitu mendengar kata “ayah”, aku langsung teringat tujuanku pulang ke rumah.

“Oh, iya. Ayah sekarang ada dimana? Kok dari tadi ndak ada toh?” tanyaku penasaran.

Padahal aku yakin jam segini ayah pasti sudah sedari tadi pulang dari sekolahnya. Ibu dan kedua kakakku saling berpandangan. Diikuti oleh adik perempuanku. Tiba-tiba raut wajah keluargaku berubah. Ibu, Intan, dan kakakku semuanya terlihat murung.

“Ada apa?” tanyaku lagi.

Hening.

"Friman...." ibuku bersuara, namun dicegah oleh kakakku.

“Firman, tahukah kau, dua tahun yang lalu, dua tahun setelah kepergianmu, ayah mengidap penyakit kaker,”

Ibuku terisak. Ibuku mencoba menegarkan dirinya. Kakakku tetap melanjutkan ceritanya.

“Penyakit ayah semakin hari kian parah. Sudah beberapa kali kami membawanya ke dokter, tapi segala usaha kami tidak pernah membuahkan hasil. Penyakit ayahmu sudah parah,” lanjut ibuku sambil meneteskan air mata.

Sejenak, semua orang yang ada di dalam rumah terdiam. Aku merasakan suasana yang tidak seperti biasanya. Perasaanku mulai tidak enak. Sesak.

“Penyakit ayah tidak kunjung sembuh dan akhirnya....... ia meninggal,”

Kepalaku terasa berat mendengar apa yang dikatakan kakakku. Aku tidak sanggup lagi berkata apa-apa. Bibirku serasa kelu dan bergetar. Tanpa terasa air yang bening keluar dari mataku.

Aku merasa waktu berjalan begitu cepatnya. Begitu cepatnya pula ia telah mengambil nyawa ayahku.

Ayahku yang begitu picik menurutku, tapi ayah yang mengajarkanku arti hidup.

Aku merasakan suasana hening di rumahku. Tak ada satu pun yang memecah keheningan tersebut. Bahkan seekor cicak pun enggan memecah kesunyian itu

* * * *


“Kamu sudah mengunjungi makam ayahmu, nak?” tanya ibuku yang menghampiriku di depan teras rumah.

“Sudah, Bu,” jawabku datar.

“Nak, ada satu hal yang perlu kamu ketahui tentang ayahmu,”

Aku menatap ibuku. Ada perasaan terkejut mendengar ucapannya. Aku penasaran. Ibuku menghela napas pelan.

“Sejak kamu pergi dari rumah, ayahmu sangat marah,” lanjutnya.

“Firman tahu itu, Bu.”

“Tapi yang ingin ibu katakan pada kamu bukan itu,” ujarnya sambil terus melanjutkan, “Suatu hari, surat yang kamu kirimkan kepada ayahmu, empat tahun silam sampai ke rumah ini,”

Aku kembali teringat pada surat yang sempat kukirimkan untuk ayahku ketika aku pergi dari rumah. Beberapa minggu setelah aku pergi dari rumah, aku memutuskan untuk mengirimi keluargaku surat agar tidak mengkhawatirkanku. Surat yang isinya mengguratkan luka hatiku.

“Kamu pasti masih ingat, kan?” tanya ibuku.

Aku hanya mengangguk.

“Surat yang kamu kirimkan telah mengubah ayahmu. Ia sepertinya mulai bisa kembali seperti ayahmu yang dulu. Ia mulai sadar akan sikapnya selama ini. Oleh karena itu, ia menyuruh kakak-kakakmu untuk mencari kabar tentang keberadaanmu. Ayahmu ingin kamu melihatnya seperti dulu lagi karena ia telah menyadari semuanya. Entah mengapa surat itu bisa mengubah ayahmu,”

Ibuku meneteskan air matanya. Tentang ayahku, selalu saja ia diselubungi kesedihan. Aku sebenarnya tidak tega melihatnya seperti itu.

“Karena surat itu, nak. Ayahmu sadar akan semua sikapnya selama ini. Ia sudah memaafkanmu sejak dulu. Ibu betul-betul tidak mengerti mengapa suratmu bisa membuat ayahmu berubah,”

Aku terharu mendengar penuturan ibuku. Tak pernah kuduga sebelumnya, ayah akan berubah secepat itu. Tak pernah kuduga sebelumnya, surat yang dituliskan oleh penulis amtiran bisa mengubah segala hal. Apakah ini pertanda tulisan bisa mengubah segalanya? Air mataku berkaca-kaca mengenang sebuah surat singkat yang kukirimkan waktu itu. Sebuah surat yang sengaja ditulis olehku yang selalu ingin mengubahnya.

* * * *


Yth. Bapak Aditya, ayahku yang selalu kusayang
Di
Rumah


Dengan segala hormatku…..


Aku ingin mengatakan bahwa aku disini baik-baik saja. Ayah tidak perlu mencariku. Aku tidak sedang ingin dicari. Maafkan aku…


Ayah…
Aku tidak bermaksud untuk menggurui ayah karena aku tahu ayah memiliki lebih banyak pengalaman jika dibandingkan dengan aku yang masih seumur jagung ini. Tapi sadarkah ayah jika pemikiran ayah selama ini salah? Ayah tidak pernah mau menerima saran dari orang lain. Segala sesuatu yang berasal dari ayah, ayah selalu anggap benar. Ayah selalu membenarkan diri ayah. Segala sesuatu pun harus dengan cara ayah. Semua harus menurut ayah. Jujur, ayah yang dulu aku kenal tidak seperti itu. Ayah telah banyak berubah..


Ayah….
Tahukah ayah, mengapa aku pergi dari rumah? Jika ayah mengatakan bahwa aku melarikan diri dari masalah. Itu adalah jawaban yang salah. Aku tahu, mungkin saat ini ayah sedang membaca suratku dengan perasaan marah sekaligus benci. Aku sadar, aku memang salah dan sudah sewajarnya aku dibenci. Tapi, aku sama sekali bukanlah seorang anak yang berusaha durhaka kepada orang tuanya…


Ingatkah ayah akan layang-layang waktu itu? Ayah pernah mengatakan bahwa aku harus jadi seperti layang-layang yang bisa terbang karena menantang arus angin. Belajar mengendalikan arah. Bukan malah mengikutinya. Kata-kata itu akhirnya kupahami. Bahkan, jika aku harus menentang ayah...


Saat ini, aku ingin menjadi layang-layang itu. Aku tidak ingin tinggal diam di rumah hanya untuk mengikuti segala kemauan ayah. Bukannya aku menentang ayah, tapi aku hanya berusaha untuk mencari kebenaran atas kemauanku. Aku ingin mengikuti apa yang dikatakan oleh hatiku. Maafkan aku, ayah…


Ayah….
Mungkin ayah tidak akan pernah mempercayaiku jika aku berusaha dengan segala kemampuanku. Namun hal itulah yang akan aku lakukan. Aku akan melanjutkan sekolahku di tempatku sekarang. Jadi ayah tidak perlu mengkhawatirkanku. Dan aku akan mencari pekerjaan yang sesuai dengan kemampuanku, aku suka menulis. Tidak perlu dengan cara ayah. Aku ingin membuktikan bahwa aku juga bisa mandiri seperti yang lainnya. Tidak perlu dengan cara ayah, cukup dengan caraku sendiri.


Aku berjanji, tiga tahun lagi aku akan kembali ke rumah dengan membawa kabar yang membahagiakan. AKU BERJANJI, ayah.


Yang terakhir, jika ayah berkenan, tolong sampaikan salamku pada ibu, kakak, dan adikku.




Anakmu yang bodoh,
Firman Hartanto


*Cerpen ini di-repost dengan sedikit perubahan.
--Imam Rahmanto, 2011--