Kamis, 14 Juni 2012

Waktu itu Luruh

Entah aku harus bereaksi apa
Sedihkah yang mesti kutunjukkan padamu? Meratap histeris.
Atau bahagia mungkin yang 'kan kau sematkan di hatiku? Melonjak.
Karena kau akan meninggalkanku jauh, jauh sekali
Engkau tak akan kembali lagi, takkan pernah sedetik pun
Bukan karena tak mau, tapi memang karena tak mampu
Engkau sama sekali berbeda dengan dendang itu, "Aku hanya pergi 'tuk sementara"
Tidak. Engkau pergi dan tak akan lagi menengokku, sedetik atau sekejap mata pun.

Yang tersisa kini, hanya jejak-jejak yang kau torehkan
Baik sekali itu luka yang dihunjamkan olehmu, maupun suka yang kau jejalkan ke dasar hatiku.
Engkau lantas berkata, "Simpan dan kenang saja,"
Ya, aku menyimpannya, bukan karena aku mengharap engkau kembali.
Ya, aku mengenangnya, bukan karena aku mencintaimu.
Tidak. Aku tidak mencintaimu. Jika aku mencintaimu, aku tentu sudah gila. Tak waras.
Mana ada manusia yang sesukarelanya ingin terus bertahan denganmu?

Aku melihatmu bergandengan dengan seseorang.
Ah, kau bilang, dia itu sang waktu.
Selang satu hari lagi, engkau resmi meninggalkanku.
Kata mereka, usiaku bertambah. Kata teman-temanku, hari itu istimewa. Kata ibuku, aku bertambah dewasa.
Namun kenyataannya, engkau luruh ke bumi.
Perlahan, bagaikan daun yang ada di atas pohon, gugur satu per satu.
Angka itu bertambah, meski luruh sesungguhnya oleh waktu.

Tidak seperti dendang yang lain, aku tak berniat menghapus jejakmu.
Kubiarkan jejak-jejak itu hadir di kepalaku, mengakar di hatiku.
Masih tersisa puluhan jejak itu yang harus kujalani
Atau, bahkan kuinjakkan kakiku disana.
Dan, haruskah kuucapkan "selamat tinggal" padamu?
Ataukah, "sampai jumpa" karena atas nama doa, berharap akan berjumpa lagi.
Aku berpikir, sejenak, kau takkan pernah kembali lagi kan?
Maka biarkan aku melambai sambil tersenyum padamu dan sang waktu, mengucap,
 "Selamat Tinggal dua puluh-ku"...



-song-
Semoga Tuhan melindungi "aku", serta tercapai semua angan dan cita-cita"ku"...
Mudah-mudahan diberi umur panjang, sehat selama-lamanya...


-1 to 21
--Imam Rahmanto--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar