Kamis, 07 Juni 2012

Semua Tentang Pemahaman Cinta

Judul buku    : Berjuta Rasanya
Penulis         : Tere Liye
Tebal buku   : vi + 205 halaman
Penerbit       : Mahaka Publishing 
Harga          : Rp 40.000,-



Buku yang ditulis Tere Liye kali ini berbeda dengan buku-buku sebelumnya. Jika ia sebelumnya lebih banyak menulis novel, kini ia mencoba untuk menulis buku berupa antologi cerpen dengan satu tema, yakni "Cinta". Kepiawaiannya dalam mengaduk-aduk emosi pembaca melalui tulisannya di novel-novel sebelumnya tentu tak diragukan lagi akan turut mewarnai pula di buku Berjuta Rasanya ini. 


Akan tetapi, bagi saya pribadi, cerita-cerita terpisah di dalam buku ini terasa tidak lagi begitu mengaduk-ngaduk emosi. Beberapa cerita memang cukup "menggetarkan". Namun cerita yang lain terkesan begitu santai mengalir. Tanpa proses "emosional". Yah, meskipun saya akui, banyak pesan-pesan moral terkait "Cinta" yang diselipkan penulis di dalamnya. Beberapa cerita sempat membuat saya tertawa, tersenyum, ataupun mengangguk-angguk membenarkan kejadian itu (yang mugkin juga terjadi pada saya dan orang lain pada umumnya). Membaca cerita-cerita di dalamnya membuat saya sedikit merenung ketika berpindah ke halaman-halaman berikutnya.


Melalui buku ini, saya juga akhirnya mengerti "cara" menulis Tere Liye. Saya banyak menemukan kalimat maupun paragraf-paragraf yang kesannya diulang-ulang saja. Kata-katanya sama persis, tak ada yang berubah. Mungkin saja dengan maksud menggambarkan sesuatu yang "ditekankan". Akan tetapi, karena terlalu seringnya, saya menjadi bosan sendiri. 


Terlepas dari semua itu, saya pikir buku ini bisa menjadi alternatif bacaan yang bagus di waktu senggang, khususnya bagi mereka yang "terlalu malu walau sekadar menyapanya, terlanjur bersemu merah, dada berdegup lebih kencang, keringat dingin di jemari, bahkan sebelum sungguhan berpapasan." Atau buat mereka "yang hanya berani menulis kata-kata dalam buku harian, memendam perasaan lewat puisi-puisi, dan berharap esok lusa ia akan sempat membacanya."


Nah, berikut beberapa cuplikan cerita di dalam buku Berjuta Rasanya;

Vin yang selalu menganggap dirinya tidak beruntung ternyata salah mengartikan sebuah kecantikan itu. Urusan itu sebenarnya amat sederhana buatnya.  
Seseorang yang mencintaimu karena fisik, maka suatu hari ia juga akan pergi karena alasan fisik tersebut. Seseorang yang menyukaimu karena alasan materi, maka suatu hari ia juga akan pergi karena materi. Tetapi seseorang yang mencintaimu karena hati, maka ia tidak akan pernah pergi! Karena hati tidak pernah mengajarkan tentang ukuran relatif lebih baik atau lebih buruk.
Vin menyesal telah berdoa untuk mengubah kecantikan semua orang.

--Bila Semua Wanita Cantik--

Putri dan Tina ternyata terlalu melebih-lebihkan pertanda itu. Mereka menganggap Rio menyukai salah satu diantara mereka. 
Orang-orang yang jatuh cinta terkadang terbelenggu oleh ilusi yang diciptakan oleh hatinya sendiri. Ia tak kuasa lagi membedakan mana yang benar-benar nyata, mana yang hanya kreasi hatinya yang sedang memendam rindu. Kejadian-kejadian kecil, cukup sudah ntuk membuatnya senang. Merasa seolah-olah itu kabar baik. Padahal, saat ia tahu kalau itu hanya bualan perasaannya, maka saat itulah hatinya akan hancur berkeping-keping.
Dan ternyata Rio tidak memilih keduanya.
--Hiks, Kupikir Kau Naksir Aku--

Ayu yang terlalu mencintai Topan, si playboy. Ia tidak pernah kapok dipermainkan olehnya. 
Tetapi dalam urusan cinta itu, tidak seharusnya Ayu menjadi zooplankton-nya. Teman dekat Dian itu terlalu baik untuk Topan, si Hiu. Terlalu polos memandang sebuah cinta. Selalu menerima apa-adanya. Ayu sejak dulu selalu meyakini dan berharap cinta yang ia miliki cukup untuk memperbaiki banyak hal, mengubah banyak tabiat buruk. Padahal, cinta zooplankton Ayu sama sekali tidak cukup untuk Topan, sang penguasa rantai makanan.
Yah, tapi ternyata ada banyak hal yang akhirnya merubah si Hiu itu. Bagaimanapun, Dian harus memenuhi sumpahnya itu.
--Cinta Zooplankton--

Cintanometer, semacam alat pengukur cinta yang dipasang di telinga. Dibuat untuk mengatasi penurunan jumlah penduduk di kota itu. Namun, darinya banyak yang berubah. 
Mereka telah kehilangan kosa kata cinta.
Alat itu ternyata membuat kehidupan mereka menjadi sangat sistematis, terukur, dan tidak menarik lagi. Tidak ada lagi seorang pemuda atau seorang gadis yang cemas menunggu di halte, berharap idaman jantungnya datang, dan mereka bisa pergi satu bus. Tidak ada lagi degup jantung penasaran saat seorang pemuda menyatakan cintanya. Tidak ada lagi lipatan surat-surat secara sembunyi-sembunyi dititipkan di lemari sekolah. Disana, di kota itu, perlahan-lahan cinta telah berubah menjadi barang instan.
--Cintanometer--


Joni dan Doni baru saja selesai melakukan ujian skripsi. Diperhadapkan pada cerita dua orang yang saling bertolak belakang.
Percayalah, hal yang paling menyakitkan di dunia bukan saat kita lagi sedih banget tapi nggak ada satu pun teman untuk berbagi. Hal yang paling menyakitkan adalah saat kita lagi happy banget tapi justru nggak ada satu pu teman untuk membagi kebahagiaan tersebut.
--Joni dan Doni--
Wah, memang, jika berbicara tentang cinta, takkan ada habisnya....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar