Senin, 11 Juni 2012

Menikmati Kesunyian di Ujung Pulau (Part 1)

Sumber gambar: pplhpuntondo.org


Puntondo, nama yang pada awalnya sangat asing bagi saya. Apalagi disebutkan bahwa tempat tersebut merupakan salah satu lokasi tujuan wisata yang asyik, berhubung kami sedang mencari lokasi musyawarah kerja (musker). Terlintas di pikiran saya, tempat itu tidak jauh berbeda dengan Galesong, Takalar (saya pun belum pernah kesana, hanya mendengar cerita-ceritanya dari teman-teman). Namun ketika saya membuka peta di internet, saya menemukan Puntondo persis berlokasi di "kaki" pulau Sulawesi, dan berjarak dua kali
lebih jauh dibanding Galesong. Hm...tampaknya akan menjadi travel-story menarik. 
*******

Perjalanan yang dimulai di waktu malam hari jam delapan akan menjadi suasana yang cukup mencekam. Saya tidak pernah menyangka, untuk mencapai lokasi PPLH (Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup) Puntondo, kami (saya dan teman saya, Asri) harus melintasi rerimbunan pohon dan semak-belukar di sepanjang jalan yang hanya bisa dilalui satu mobil. Ditambah lagi, kami yang mengendarai motor mengalami gejala "buta arah". Kami sama sekali belum pernah berkunjung ke PPLH Puntondo. Sementara itu, bus yang menjadi panduan kami  mendadak hilang dari jangkauan. Saya pun heran, sekencang-kencangnya saya memacu motor untuk menyusul bus itu, tetap saja tidak memadai. Berbekal pengalaman teman saya ke Takalar, kami tetap melanjutkan perjalanan di malam hari itu.


Malu bertanya, sesat di jalan. Wah, slogan ini benar-benar menjadi senjata pamungkas bagi orang-orang yang tidak tahu arah jalan seperti kami. Tanpa ragu-ragu, kami selalu bertanya pada orang-orang di pinggir jalan. Ya, daripada harus kesasar malam-malam di tengah jalan.

"Permisi. Jalan ke Puntondo lewat mana ya?"

Ternyata Puntondo memang sudah cukup terkenal di kawasan Takalar. Buktinya, dari sekian orang yang kami temui, mereka dengan mudah menujukkan lokasi PPLH tersebut.

"Lurus saja...belok kanan...nanti ketemu jembatan Cikoang...ikuti saja terus jalanannya...belok kanan...lurus sampai ujung," seperti itulah arahan yang saya dapati dari berbagai penjelasan penduduk setempat.

Navigasi yang diberikan memang terbilang sangat akurat. Akan tetapi, kondisi malam hari yang tanpa penerangan di sepanjang jalan (hanya berbekal penerangan lampu motor) sedikit membuat kami harap-harap cemas. Gelap. Berbagai pikiran negatif berseliweran di kepala tatkala melintasi rerimbunan pepohonan yang sunyi tanpa rumah-rumah penduduk. Cemas jika seseorang mendadak muncul dari balik pohon membawa golok dan senjata tajam lainnya. Atau saya yang harus siap-siaga mengantisipasi teman saya yang sudah berganti dengan "makhluk" lain. Hahaha....

Akan tetapi, suara gemuruh ombak di sebelah kanan jalan menandakan jalanan yang kami lalui sudah benar. Hingga akhirnya, kami tiba di ujung jalan tepat di depan sebuah gerbang bertuliskan PPLH Puntondo. Di luar dugaan, kami tiba lebih dulu dibanding bus yang seharusnya menjadi "pedoman" kami.
*******

Bangunan Serba semi-Tradisional
Lokasinya yang berada tepat di ujung pulau Sulawesi membuatnya dikelilingi oleh lautan. Tak heran, semilir angin sepoi-sepoi berhembus tatkala saya memasuki area gerbang lokasi wisata seluas lima hektar ini. Di kiri-kanan jalan setapak yang beralaskan batu-batuan, rerimbunan pohon-pohon rindang tampak menyela satu sama lain. Tidak ada nuansa menyeramkan, karena di sepanjang jalan setapak dihiasi oleh lampu-lampu temaram taman. Gesekan-gesekan dedaunan yang tertiup angin juga memecah keheningan menjelang tengah malam itu. Dari pintu gerbang, kurang dari 100 meter, jalanan itu berujung pada bangunan-bangunan artistik semi-tradisional khas penduduk setempat. Semi-tradisional? Ya, saya melihat bangunan-bangunan disini bergaya tradisional (rumah-rumah panggung), namun penataannya cukup modern. Suasana yang saya dapatkan pun berkelas non-tradisional. Antara bangunan yang satu dengan yang lainnya dihubungkan oleh jembatan-jembatan kecil (koridor terbuka) dari kayu. Kayunya pun merupakan kayu ulin yang dikirimkan langsung dari Kalimantan. Dan justru gaya bangunan-bangunan disini yang kemudian menginspirasi teman-teman saya untuk kemudian bermimpi kelak memiliki rumah seperti disini. 

"Biar miskin, tapi kalau sudah punya rumah seluas ini, tidak apa-apa," begitulah kira-kira canda yang selalu diucapkan teman-teman saya seraya menikmati tiap inci dari bangunan-bangunan swadaya Masyarakat tersebut.

Satu kata yang bisa mewakili kesan saya hadir di Puntondo ini; Damai. Yah, karena kondisinya yang memang jauh dari keramaian kota. Kebersihannya yang juga terjaga. Adalah dilarang ketika pengunjung memesan makanan sajian dari luar. Di sepanjang area wisata ini pun sudah disediakan tong-tong sampah. Pengunjung juga sangat dilarang membuang sampahnya di sembarang tempat. Bahkan, disadari atau tidak, tulisan-tulisan "penanda" di sekitar tempat ini tidak memanfaatkan fasilitas print. Mereka mengolah sendiri berbagai kreativitasnya melalui tulisan tangan dan desain dari pasir-pasir pantai.

Bangunan-bangunan yang hadir di lokasi pusat studi dan wisata ini diperuntukkan sesuai dengan fasilitas-fasilitas yang ditawarkannya. Tepat di depan, sebelum menjejakkan kaki di sepanjang jembatan koridornya, kita akan berjumpa dengan Pendopo. Disitu, biasanya, petugas penerima tamu yang akan mengantarkan kita ke tujuan. Menurut salah seorang penjaga yang mengantarkan kami, ada sekitar lebih dari 20 orang yang setiap hari bertugas di lokasi PPLH ini. Mereka sebagian besar adalah penduduk setempat yang ditugaskan oleh Yayasan Pendidikan Lingkungan Hidup Puntondo (YPLHP). Yayasan ini diresmikan tahun 2001. Di belakang Pendopo, saya melihat ada perpustakaan (tertera di tulisan bangunannya). Namun, sepanjang kami berada di lokasi, entah mengapa perpustakaan itu selalu tertutup.

Selain itu, ada pula ruang seminar (baca: aula) yang tepat berada di sebelah timur Pendopo, ujung jembatan koridor. Bangunan tersebut sebenarnya tidak tepat dinamakan "ruang" karena desainnya yang dibiarkan terbuka, tanpa jendela maupun pintu. Untuk rapat-rapat "berat", aula mungkin tidak cocok dijadikan alternatif lokasi. Namun untuk keperluan diskusi, musyawarah, ataupun sejenisnya, saya kira tempat itu sangatlah memadai. Selain luas, tempat itu juga didesain lebih unik dibanding tempat-tempat yang selama ini saya kunjungi. ala colesseum Gladiator. 

"Ruang" aula yang dijadikan tempat musyawarah, mirip arena gladiator. (Profesi)



Di ujung jembatan koridor lainnya, kita akan dibawa pada restorannya. Berbeda. Restoran yang terbayang dalam benak saya, yang glamour, modern, seketika lenyap ketika menginjakkan kaki di restoran tradisional ini. Suasananya cukup menarik. Desain interiornya pun dibuat bertingkat-tingkat. Dan lagi, tidak ada dinding-dinding yang membatasi, kecuali dengan dapurnya. Hanya sebatas pagar-pagar pengaman setinggi lutut. Jadi, saya dan teman-teman lainnya bisa memilih makan di atas atau makan di bawah, duduk di kursi atau lesehan di atas. Interested. Suguhan yang diberikan pun ala prasmanan. Maka jangan heran jika (seperti biasa) kami saling berebutan makanan. Padahal, porsi yang disediakan cukup banyak, loh.

Restoran inilah yang menyediakan fasilitas breakfast, makan siang, maupun makan malam bagi siapa saja yang ingin bermalam secara berkelompok (untuk keperluan organisasi) di area Puntondo. Karena lokasi ini memang dikhususkan bagi kelompok, maka di area ini disediakan pula beberapa fasilitas games atau outbound di sekitar bangunannya. Pekarangannya memang disediakan untuk keperluan permainan-permainan berkelompok seperti itu. Dari atas jembatan koridor, jelas terlihat pekarangan-pekarangan luas itu.

Jembatan koridor menuju restoran Puntondo. (Rizki)

Oh ya, disediakan pula bungalow-bungalow sebagai tempat penginapannya. Tampilannya juga semi-tradisional. Ada sekitar enam bungalow yang disediakan, porsi untuk 5-6 orang. Bungalow-bungalow itu juga dihubungkan oleh jembatan-jembatan koridor. Cukup asyik ditempuh dengan jalan kaki, sambil menikmati suasana malamnya. Masih belum jelas di benak saya "tampilan"nya ketika terang-benderang. Di pinggir pantai, dengan iming-iming snorkeling di tengah laut.


*******





--Imam Rahmanto--
Note: artikel ini diikutkan dalam lomba Blog Paling Indonesia

2 komentar:

  1. asiknya dapat pergi berlibur.. :)

    BalasHapus
  2. Hehe...sebenarnya bukan juga berlibur. Tapi agenda organisasi. Ya, sekalian deh refreshing.

    BalasHapus