Minggu, 17 Juni 2012

Daun Jatuh Terenggut oleh Angin

Sumber Gambar: goodreads.com
Satu lagi kisah bertema “cinta” yang usai saya baca dari seorang (Darwis) Tere Liye. Kisahnya yang selalu menggugah hati membuat saya tidak lepas-lepasnya penasaran dengan buku-bukunya yang lain. Jika beberapa bukunya lebih sering bercerita mengenai keluarga, kali ini ia memilih untuk berkisah tentang “cinta” dalam sudut pandang yang berbeda.

Di dalam buku Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin mengisahkan seorang gadis kecil, Tania yang tinggal di sebuah rumah kardus bersama adiknya, Dede dan ibunya. Untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, ia dan adiknya memutuskan untuk mengamen dari bus kota ke bus kota lainnya. Mereka telah lama meninggalkan sekolah, sejak ayahnya meninggal gara-gara penyakit TBC.

Sebuah kejadian mempertemukannya dengan seorang pemuda,Danar di dalam bus kota yang akhirnya menjadi bagian kehidupan mereka selanjutnya. Ia bagai malaikat. Berselang beberapa bulan, kehidupan Tania dan keluarganya pun berubah. Karena kebaikan dan ketulusan Danar pula, Tania dan adiknya akhirnya bisa kembali bersekolah dan meraih
peringkat yang sempurna. Semua yang dilakukan Tania, termasuk menjadi orang yang pandai dan dewasa adalah demi dia, Danar.

Perlahan, perasaan cinta Tania pada Danar mulai tumbuh dan mengembang. Saat gadis, ia tidak tahu perasaan apa itu. Ketika ia sudah dewasa, baru ia mengerti perasaan “cinta” itu. Ia tak peduli dengan usianya yang terpaut 14 tahun lebih muda dari Danar.

Seperti biasa, di kisah-kisah yang dituliskan Tere Liye, saya sering mendapati salah satu tokoh cerita yang harus “meninggal”, termasuk ibu Tania. Ia meninggal di saat-saat kehidupan keluarganya mulai membaik, meninggalkan Tania dan adiknya. Memberikan pesan daun yang jatuh tak pernah membenci angin.

Akan tetapi, semua perasaan yang berusaha dipendam Tania hingga ia meluluskan pendidikannya di Singapura akhirnya harus hancur oleh pernikahan Danar dengan Ratna, seorang gadis yang ramah namun dibenci oleh Tania akibat “cinta”nya. Sejak saat itu, ia melupakan perasaannya itu. Ia berusaha membunuh perasaannya, meskipun menyakitkan baginya. Sedikit demi sedikit, ia mulai melupakan perasaan itu. Ia ingin, kedua kakaknya itu bahagia dalam pernikahannya, meskipun ia tidak (mau) menghadiri pernikahan itu.

Tiba sebuah email tentang keluh-kesah Ratna yang menjadi seorang kakak sekaligus teman buat Ratna, ia mulai menyadari sesuatu. Ada yang berubah dengan Danar. Cahaya di wajah malaikat keluarganya itu telah redup. Entah oleh apa, hingga ia baru menyelesaikan potongan-potongan teka-teki itu ketika ia memutuskan pulang ke Indonesia. Perasaan yang dibunuhnya, oleh sebuah fakta, terkuak kembali. Di bawah pohon Linden yang daunnya jatuh tertiup angin, ia tahu semuanya. Ia tahu fakta itu.

Melalui cerita ini, Tere Liye memaksa kita melihat cinta dalam sudut pandang yang berbeda. Bukan cinta seorang remaja tanggung yang kebanyakan kita saksikan di layar-layar televisi, namun cinta dewasa antara dua orang yang terpaut usia cukup jauh.

Kronologis penceritaan yang dibuat pun cukup menarik, berselang-seling flashback dengan masa kini. Terlebih ketika mencapai titik klimaks di akhir cerita, kita dibawa pada cuplikan-cuplikan kejadian sebelumnya dengan tetap menghubungkan di waktu pertemuan Tania dan Danar. Akan tetapi, entah mengapa saya merasa “menggantung” membaca buku ini. Di akhir kisah, tidak disebutkan apakah Danar mencintai Tania. Kita dipaksa untuk membuat kesimpulan sendiri atas cerita-cerita yang sebelumnya telah terjadi. Cintakah Danar pada Tania?
*******

“Dia bagai malaikat bagi keluarga kami. Merengkuh aku, adikku, dan Ibu dari kehidupan jalanan yang miskin dan nestapa. Memeberikan makan, tempat berteduh, sekolah, dan janji masa depan yang lebih baik.

Dia sungguh bagai malaikat bagi keluarga kami. Memberikan kasih saying, perhatian, dan teladan tanpa mengharap budi sekalipun. Dan lihatlah, aku membalas itu semua dengan membiarkan mekar perasaan ini.

Ibu benar, tak layak aku mencintai malaikat keluarga kami. Tak pantas. Maafkan aku, ibu. Perasaan kagum, terpesona, dan entahlah itu muncul tak tertahankan bahkan sejak rambutku dikepang dua.

Sekarang, ketika aku tahu dia boleh jadi tidak pernah menganggapku lebih dari seorang adik yang tidak tahu diri, biarlah… Biarlah aku luruh ke bumi seperti sehelai daun… daun yang tidak pernah membenci angin meski harus terenggutkan dari tangkai pohonnya.”


--Imam Rahmanto--

2 komentar:

  1. :) . . .
    One of my favorite book.

    BalasHapus
  2. Yupz, tapi buat saya, ceritanya agak menggantung... buat penasaran aja.

    BalasHapus