Senin, 18 Juni 2012

Cappuccino Cafe Kualitas Sachet

Seharusnya cappuccino ya seperti ini...

Saya tidak habis pikir, ternyata cappuccino dimana-mana (warung kopi) sama saja. Di setiap warung kopi atau café yang pernah saya kunjungi, bahan untuk membuat cappuccino sama saja; cappuccino sachet merk tertentu. Padahal saya berkeinginan menikmati cappuccino yang benar-benar dibuat bukan dari
sachet jualan warung-warung seberang jalan, seperti ketika menikmati kopi susu yang asli diolah sendiri oleh café-café tersebut.

Saya bisa tahu, cappuccino-cappuccino yang biasanya disajikan di cafe hanyalah hasil seduhan sachet merek tertentu. Karena saya sudah terbiasa menikmati cappuccino itu dengan rasa dan aroma yang sama. Bermodalkan Rp1500, saya sudah bisa membuat sendiri cappuccino itu di rumah.

Sebagai seorang penikmat cappuccino, tentu saya agak kecewa dengan hal itu. Bayar mahal, tapi kualitasnya cuma sebatas minuman olahan saya, sobek-seduh-aduk-tabur-minum. Rasanya ya sama. Padahal, saya sebenarnya penasaran dengan cappuccino bukan sachet. Jika menikmati minuman sachet olahan sendiri yang dijajakan di toko-toko pinggir jalan saja sudah enak, apalagi minum yang asli olahan tangan.

Mungkin fenomena ”cappuccino sachet” terjadi di semua warkop, dengan alasan komersial tentunya. Saya belum pernah mencoba cappuccino di café-café sekelas Starbukcs. Entahlah, apakah berbeda atau sama saja. Sebagai penggemar cappuccino, saya berharap dari café-café seperti itu bisa menyajikan rasa minuman yang berbeda, apalagi dibanding minuman sachet.



--Imam Rahmanto--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar