Kamis, 21 Juni 2012

Aku, Segelas Cappuccino (Season 2)


Dingin. Malam ini cukup dingin baginya. Udara yang menyusup di sela-sela  kulitnya terasa lembap. Mungkin karena hujan sore-sore, bukan hujan kepagian. Rintik-rintik air yang luruh dari atas langit baru saja mereda.

Aku adalah segelas Cappuccino. Oh ya, aku ingat pernah berkata itu pada kalian. Maka biarkan aku
bercerita mengenai sahabatku, Bintang. Mengisahkan sebuah rahasia kecil darinya.

Sedari tadi, ia duduk menatap lembaran demi lembaran sebuah buku. Beberapa detik berlalu, lembaran itu juga ikut berlalu. Berpindah ke halaman-halaman berikutnya.

Aku membiarkannya sibuk dalam dunianya sendiri sebagaimana ia mengacuhkanku. Sesekali ia menegukku tanpa sekilas pun memandangiku. Terus saja ia mencermati tiap paragraf disana sambil sesekali menghela
napas, sesekali mengangguk-angguk. Aku merasa terabaikan.

“Ah, memangnya aku ini apa?” Aku tak sadar bahwa aku hanyalah seteguk minuman penghangat sesaat baginya.

Aku berkenalan dengannya bukan ketika ia pertama kali menginjakkan kakinya di kota ini. Jauh. Jauh sebelumnya, ia tidak pernah mengenalku. Mungkin ia juga tak pernah melihat tampangku dari iklan-iklan di layar kaca yang ditontonnya. Tahukah kalian, layar kaca yang kumaksudkan itulah yang kini menjadi “racun” bagi kalian, khususnya anak-anak. Aku melihatnya,banyak anak-anak kecil yang telah tumbuh tidak wajar sebagaimana mestinya.  Tivi itu pula yang mengajarkan beberapa perilaku menyimpang pada kalian, sadar atau tidak sadar.

Ia tiba di kota ini dengan membawa banyak mimpi dan kepolosan sebagaimana orang dari kampung. Ia sedang menggenggam cita-citanya. Entah siapa yang telah mengajarkannya tentang arti sebuah cita-cita. Seperti namanya, Bintang, ia gantungkan cita-cita itu di atas awan. Ah, tidak, bukan di atas awan. Di atas langit. Jika awan bisa luruh menjadi hujan, maka langit tidak akan luruh hingga kiamat menjelang.

Kala itu, bulat sudah keinginannya untuk mendaftarkan diri di fakultas hukum dari sebuah universitas ternama di kotanya. Tanpa disadarinya, aku tahu, sesungguhnya jurusan itu bukanlah murni dari lubuk hatinya. Ada sesuatu yang diinginkannya saat itu namun belum mencuat ke permukaan karena rasa hormatnya pada ayahnya.

“Ayah ingin melihatmu menjadi seorang pakar hukum. Di negara kita, banyak dibutuhkan orang-orang seperti kamu untuk membela rakyat yang lemah,” Ayahnya berpesan padanya. Terdengar klasik baginya, seperti di film-film. Akan tetapi, ia tidak sadar hari itu menjadi hari terakhir bagi ayahnya bercakap dengannya. Ia tidak sadar, saat itu, malaikat maut sudah lama berdiri di ambang pintu rumah sakit bersitatap dengan ayahnya. Andai ia bisa tahu, mungkin dia akan mengusir malaikat maut itu. Apa daya, ia hanya manusia.

Seminggu sebelumnya, ia baru tahu ayahnya mengidap penyakit kanker. Tiba-tiba saja ayahnya ambruk saat hendak bekerja.

“Maaf, Bu. Suami Anda mengidap penyakit kanker…..” Sayup-sayup ia mendengarkan penjelasan dokter itu dari luar ruang kerjanya. Cukup sudah, kata “kanker” begitu menohok hatinya. Ia tidak lagi ingin (dan mau) mendengar penjelasan selanjutnya.Matanya yang berkaca-kaca suidah menginstruksikan telinganya untuk tuli dengan pendengaran selanjutnya.

Selama ini, yang pernah dilihatnya, tidak ada seorang pun yang selamat dari penyakit gila itu. Bahkan orang sekuat ayahnya harus bertekuk dengan penyakit itu. Ia ingin berdamai. Namun sebelum hal itu terjadi, maut sudah menjemput ayahnya berselang seminggu kemudian. Hanya mengucap kata itu, ayahnya tiada. Begitu saja.

Nyaris saja ia membuang semua kesempatannya untuk kuliah. Beberapa hari lagi ia akan menjalani ujian masuk perguruan tinggi. Kesedihan masih membekas di hatinya. Luka di hatinya itu tak mudah hilang begitu saja.

“Nak, bukan seperti ini caranya untuk mengenang ayahmu, menyayanginya. Kau pikir dengan menunggui pusaranya disini tanpa melakukan apa-apa, hal itu bisa membuatnya senang?” ujar ibunya.

“Apa kau tidak ingat, pesan terakhir ayahmu sebelum ia jatuh sakit?” Sedikit demi sedikit air mata ibunya mengalir. Air mata itu membelah kulit pipinya yang semakin renta dimakan waktu. Teriris Bintang melihat ibunya meneteskan air mata.

“Ingat dengan namamu, Nak. Ayahmu memberikan nama Bintang semata-mata bukan karena kebetulan. Tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Kelak, ia berharap kau bisa bersinar di kala sekitarmu meredup, seperti sekarang ini. Kau membagi sinarmu, memberikan kebahagiaan setiap orang yang melihatmu,” Ibunya menghapus titik air di pipinya, “Ayahmu tahu kau akan menjadi orang yang berguna, bukan berhasil. Ia ingin kau mandiri. Ia ingin kau menyelesaikan apa yang sudah kau mulai,”

Lamat-lamat, Bintang merasakan dingin dari kulit ibunya. Tangannya digenggam oleh ibunya. Tak tahan rasanya ia harus menyaksikan ibunya berlinang air matanya hanya demi mengenang ayahnya. Ia ingin menangis, tapi hatinya menolak. Ia lelaki, seharusnya tak menangis. Begitu pula yang pernah didengar dari ayahnya.

Sejak itu, ia memutuskan perubahan besar dalam hidupnya. Ia akan memenuhi pesan terakhir ayahnya.

Garis hidup manusia sudah ditentukan oleh Yang Maha Kuasa. Dan memang, tak ada yang kebetulan di muka bumi ini, seperti saat ia pada akhirnya “dibelokkan” arah hidupnya oleh Yang Maha Kuasa. Bukan pada keinginan ayahnya, tidak pada maksud memenuhinya.

…to be continued.

--Imam Rahmanto-- 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar