Kamis, 28 Juni 2012

Aku, Segelas Cappuccino (Season 2 - Part 2)

Juni 28, 2012

Pagi ini aku menemaninya. Bukan di kamarnya, melainkan di kamar salah seorang temannya. Waktu libur, ia banyak menghabiskan waktunya dengan bercengkerama bersama sahabatnya. Bercerita mengenai banyak hal. Dari waktu seperti ini aku juga banyak mendapatkan jejak-jejak hidup Bintang.

“Kamu mimpi tentang itu lagi ya?” tanya Andi, seperti biasa.

“Iya,” keluhnya, “Tak tau kenapa mimpi itu selalu muncul sejak kejadian tempo hari,” Bintang memutar-mutar gelasnya.

Aku tidak begitu mengerti apa yang barusan dikatakannya. Mimpi? Lalu kenapa aku sama sekali tidak tahu. Tak satu pun mimpinya yang seharusnya luput dariku. Aku mampu menggali kedalaman hatinya. Tapi

Rabu, 27 Juni 2012

Tempe, Makanan Untuk Semua Kalangan

Juni 27, 2012
Saya yakin, semua orang Indonesia pasti mengenal TEMPE. Dan saya yakin pula, 90% dari kita sudah pernah merasakan makanan dari kacang kedelai itu. Bagaimana tidak, buku-buku pelajaran sekolah yang membahas "4 sehat 5 sempurna" selalu menyertakan tempe sebagai salah satu lauknya. Selain itu, tempe pun menjadi salah satu makanan pilihan bagi mereka yang tidak mengkonsumsi daging a.k.a vegetarian.

Tempe, bisa dibilang salah satu makanan yang menjangkau semua kalangan. Ia menyentuh seluruh lapisan masyarakat. Tentu saja ia diolah dengan beragam variasi untuk beragam keperluan pula. Untuk dinikmati sebagai makanan ringan (cemilan) ia diolah menjadi " tempe goreng" yang banyak dijual di pinggir-pinggir jalan kala malam menjelang. Sementara

Selasa, 26 Juni 2012

Kembali Pulang

Juni 26, 2012

Kembali pulang? Seperti sebuah lagu ya? Haha...saya tidak bermaksud memutar sebuah lagu yang berjudul sama. Hanya saja ketika menulis artikel ini, judul yang terlintas di kepala saya adalah itu.

Setelah lama, beberapa bulan sejak lebaran Idul Adha kemarin, saya akhirnya bisa kembali menjejakkan kaki saya di Kab. Enrekang, kampung kecil yang senantiasa dirindukan. Banyak hal yang membuat saya rindu; makanannya, udara dinginnya, orang tua, teman-teman, dan lingkungannya yang asri. Meski saya haya tinggal barang sehari-dua hari, itu sudah cukup. Mungkin saja dengan waktu sesingkat itu bisa memberikan banyak inspirasi buat saya. Tentu saja, mengembalikan kehidupan untuk berada di jalurnya kembali butuh sesuatu yang berbeda. Kita lihat saja.

Jumat, 22 Juni 2012

Novel yang Akan Tayang di Bioskop

Juni 22, 2012
Kabar gembira bagi Anda (termasuk saya) yang gemar menikmati bacaan novel. Pasalnya, tahun ini tampaknya akan menjadi klimaks dari trend film-film Indonesia yang diangkat dari sebuah novel. Setelah beberapa film sebelumnya sukses menarik banyak minat penonton, maka tak diherankan lagi perkembangan film-novel mulai dilirik oleh kalangan insan perfilman.

Kamis, 21 Juni 2012

Aku, Segelas Cappuccino (Season 2)

Juni 21, 2012

Dingin. Malam ini cukup dingin baginya. Udara yang menyusup di sela-sela  kulitnya terasa lembap. Mungkin karena hujan sore-sore, bukan hujan kepagian. Rintik-rintik air yang luruh dari atas langit baru saja mereda.

Aku adalah segelas Cappuccino. Oh ya, aku ingat pernah berkata itu pada kalian. Maka biarkan aku

Senin, 18 Juni 2012

Cappuccino Cafe Kualitas Sachet

Juni 18, 2012
Seharusnya cappuccino ya seperti ini...

Saya tidak habis pikir, ternyata cappuccino dimana-mana (warung kopi) sama saja. Di setiap warung kopi atau café yang pernah saya kunjungi, bahan untuk membuat cappuccino sama saja; cappuccino sachet merk tertentu. Padahal saya berkeinginan menikmati cappuccino yang benar-benar dibuat bukan dari

Minggu, 17 Juni 2012

Daun Jatuh Terenggut oleh Angin

Juni 17, 2012
Sumber Gambar: goodreads.com
Satu lagi kisah bertema “cinta” yang usai saya baca dari seorang (Darwis) Tere Liye. Kisahnya yang selalu menggugah hati membuat saya tidak lepas-lepasnya penasaran dengan buku-bukunya yang lain. Jika beberapa bukunya lebih sering bercerita mengenai keluarga, kali ini ia memilih untuk berkisah tentang “cinta” dalam sudut pandang yang berbeda.

Di dalam buku Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin mengisahkan seorang gadis kecil, Tania yang tinggal di sebuah rumah kardus bersama adiknya, Dede dan ibunya. Untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, ia dan adiknya memutuskan untuk mengamen dari bus kota ke bus kota lainnya. Mereka telah lama meninggalkan sekolah, sejak ayahnya meninggal gara-gara penyakit TBC.

Sebuah kejadian mempertemukannya dengan seorang pemuda,Danar di dalam bus kota yang akhirnya menjadi bagian kehidupan mereka selanjutnya. Ia bagai malaikat. Berselang beberapa bulan, kehidupan Tania dan keluarganya pun berubah. Karena kebaikan dan ketulusan Danar pula, Tania dan adiknya akhirnya bisa kembali bersekolah dan meraih

Kamis, 14 Juni 2012

Waktu itu Luruh

Juni 14, 2012
Entah aku harus bereaksi apa
Sedihkah yang mesti kutunjukkan padamu? Meratap histeris.
Atau bahagia mungkin yang 'kan kau sematkan di hatiku? Melonjak.
Karena kau akan meninggalkanku jauh, jauh sekali
Engkau tak akan kembali lagi, takkan pernah sedetik pun
Bukan karena tak mau, tapi memang karena tak mampu

Rabu, 13 Juni 2012

DEADLINE (Part 3)

Juni 13, 2012
Lengang. Rumah itu, seperti biasa ditinggalkan para penghuninya ke kampus masing-masing. Namun seorang lagi penghuninya masih berdiam diri di dalam kamarnya. Berpikir. Bersemedi. Merenung. Meratapi nasib. Antara ya dan tidak. Antara hidup dan tak mati.

Dulu, ia sebenarnya telah berniat untuk melakukannya lebih awal, sebelum ia terlalu tua setahun. Akan tetapi, mendadak ia sakit. Tidak mungkin baginya untuk turut serta dalam kegiatan dengan kondisi tubuh seperti itu. Padahal keinginannya sudah bulat. Sebulat-bulat bumi, masih lebih bulat lagi tekadnya. Dan kini, kejadian itu bagai deja vu baginya.

Tampilan Tak Perlu Sempurna

Juni 13, 2012
Bagi teman-teman yang sudah beberapa kali pernah mengunjungi blog saya, mungkin menyadari perubahan tampilan yang sekarang. Dua hari belakangan pun perwajahan blog ini sempat berganti-ganti. Saya mencari template yang tepat. Dan mungkin, bagi saya, perwajahan simple inilah yang tepat.

Sebenarnya, perubahan atas tampilan blog saya disebabkan oleh beberapa alasan (kecil). Ya, maklum, saya masih awam dan amatir dalam mengelola kode-kode HTML template yang tersedia. Apalagi saya tidak tahu mesti bertanya kemana. Kemana,...kemana...kemana....

Senin, 11 Juni 2012

Menikmati Kesunyian di Ujung Pulau (part 2)

Juni 11, 2012
Wah, jam tidur saya sebenarnya masih belum cukup. Katanya, tidur yang sehat itu adalah sekira 8 jam sehari. Akan tetapi, gara-gara semalam habis menjalani musyawarah kerja dengan teman-teman LPPM Profesi, saya baru bisa tidur sejenak menjelang jam 5 lewat. Itupun tidur menggantung di titian ruangan. Beruntung, saya tidak celaka dan masih bisa bangun di jam pagi hari. Hehe... Sukses, tidur hanya satu jam...


Tentunya, tidak lengkap rasanya jika tidak menikmati pantai yang mengelilingi PPLH Puntondo ini. Teluk Laikang, laut sepanjang pantai yang akan menjadi tujuan jalan-jalan saya. Beberapa teman lainnya, yang berhasil bangun pagi dan tidak ingin melewatkan kesempatan di pagi hari, sudah lebih dahulu kesana dan bernarsis-narsis ria. Sekali saja, tidak ada yang ingin melewatkan momen di pinggir pantai begitu saja.

Salah seorang teman saya sedang hunting foto di sepanjang bibir pantai Teluk Laikang. (Profesi)
 Menemukan jalanan ke pinggir pantai cukup mudah. Saya yang baru bangun (dengan badan pegal bergulat di titian) dituntun oleh suara-suara riang teman-teman saya. Tidak butuh waktu lama, apalagi letaknya persis di belakang areal PPLH, saya bisa menemukan pinggiran laut itu yang hanya dibatasi oleh pagar-pagar kayu pekarangan Puntondo. Ditambah pula dengan suara-suara ombak kecil yang menghempas di pinggiran pantai.

Matahari tidak begitu terik ketika saya berjalan di sepanjang pantai itu. Pantai disini berbeda dengan pantai-pantai yang selama ini saya kunjungi yang memang menjadi tujuan wisata atau jalan-jalan. Karena lokasi pantai disini menjadi cagar pelestarian mangrove (tanaman bakau), maka area ini benar-benar dijaga. Tidak untuk keramaian. Wajar, suasana yang didapati, sunyi. Di beberapa titik, saya mendapati bibit-bibit tanaman bakau yang terlihat baru saja ditanam, yang hanya dibatasi oleh batuan-batuan kapur. 

Bibit bakau. (Profesi)

Sejauh mata memandang, pantai berpasir putih ini sungguh menenangkan. Semilir angin pagi benar-benar menjadi sebuah terapi. Air laut yang bening membuat mata bebas memandang tanaman-tanaman di bawahnya. Kepekatan air lautnya pun sangat berbeda dengan pantai-pantai pada umumnya. Menurut saya, kadar garam di laut ini tidak begitu tinggi. sekilas saja memandang airnya, nampak seperti air tawar biasa. Namun ketika saya mencoba sekadar mencicipinya, barulah terasa asin layaknya air laut pada umumnya. Pasir-pasir putihnya pun masih terlihat alami bercampur dengan pecahan-pecahan koral kecil atau kerang laut. Kaki telanjang yang berjalan di atasnya akan terasa tertusuk-tusuk oleh pecahan-pecahan koral itu. Tapi menyenangkan. Saya juga bisa melihat lubang-lubang (yang baru saya tahu) ternyata bekas-bekas galian kepiting. Binatang-binatang itu baru keluar di malam hari, katanya.

Sepanjang pantai, jejeran batu membatasi tiap dua-tiga meter dari pantai. Di sisi dalam, dedaunan-dedaunan yang berguguran dari pantai menggenang. Di sisi satunya lagi, disitulah didapati air laut yang bening. Perkiraan saya, jejeran batu itu sengaja dibuat agar sampah-sampah di pinggiran pantai tidak masuk mengotori laut Teluk Laikang. Maka wajar, laut-laut disana sangat bersih dari sampah. Oh ya, batu-batuan itu pula yang bisa jadi titian menikmati pemandangan di sekitar pantai itu, baik sekadar berfoto ria, maupun jalan-jalan sambil menikmati hilir-mudik perahu-perahu nelayan yang pulang dari melaut. Tak jarang (dan sudah jadi kebiasaan), saya melihat penampakan-penampakan teman-teman saya berpose ala fotomodel siap dijepret.

Di ujung perjalanan kecil saya, sekumpulan rerimbunan tanaman bakau di pinggir laut menjadi latar belakang yang menarik jika ingin berfoto. Bakau-bakau itu pula yang kemudian menjadi pembatas wilayah untuk keperluan snorkeling.


Menjajal Snorkeling

Siap-siap nyebur. (Profesi)
Pernah bermain snorkeling? Sekalipun saya belum pernah. Saya hanya sering mendengarnya dari televisi-televisi dan beberapa media lainnya. Snorkeling berkaitan dengan menyaksikan keindahan bawah laut sambil menyelam dan sebagainya. Saya (pada mulanya) menganggap snorkeling itu mirip dengan diving. Namun pada kenyataannya berbeda. Keduanya memang sama-sama menikmati keindahan bawah laut. Bedanya, jika diving menikmatinya dengan menyelam memanfaatkan perlengkapan selam dan sejenisnya, maka snorkeling hanya sebatas mengapung di perairan memanfaatkan pelampung dan snorkel (sejenis kacamata renang dan pipa untuk bernapas) untuk menyaksikan penampakan bawah laut.


Nah, berkunjung di lokasi perkampungan nelayan ini, kami diberi kesempatan untuk menjajal snorkeling. Tentu saja, untuk menikmatinya tidaklah gratis. Banyaknya anggota kelompok LPPM Profesi mengharuskan kami dibagi ke dalam beberapa kelompok. Pasalnya, speedboat yang menjadi jalan satu-satunya ke lokasi snorkeling hanya bisa dimuat oleh 10-15 orang saja. Perlengkapan snorkeling yang tersedia pun hanya ada 10 unit. Jadilah kami harus menunggu beberapa antrian.


Sore itu, cuaca sebenarnya menandakan akan hujan. Awan mendung menggumpal di langit sebelah barat. Matahari pun agak redup, seperti malu-malu memancarkan sinarnya. Namun, kami sudah kepalang tanggung ingin menikmati rasanya ber-snorkeling ria. Dan petugas yang mengantarkan kami tidak sedikitpun melarang perihal cuaca itu. Mereka sudah berpengalaman.


Wuzz, deru mesin speedboat bercampur dengan celoteh riang kami. Rasa penasaran seakan mengantarkan kami tak henti-hentinya berbicara di atas kapal. Dengan lincahnya, kami berebut perlengkapan yang ada di atas kapal. Satu-tiga orang, malangnya, tidak kebagian perlengkapan. Ya sudah, nunggu giliran. Ombak-ombak yang menggulung seakan mengguncang kapal cepat kami. Naik turun, oleng kiri-kana, menambah sensasi "menantang" di atas kapal. Ditambah lagi, teriakan-teriakan kegirangan kami yang mewarnai setiap loncatan kapal di atas ombak. "Waow!! Woi!"


Kapal berhenti sekitar satu kilometer jauhnya dari bibir pantai. Kedalaman yang tepat, menurut petugasnya, untuk bersnorkeling. Kami harus bersiap untuk kedalaman dua meternya, termasuk saya yang sama sekali tidak pandai berenang. Tapi, rasa penasaran menjajal pengalaman baru itu seakan mendorong saya untuk tetap memberanikan diri. Lha wong, kita juga pakai pelampung kok. 
Para kru Profesi sedang menikmati snorkeling berbekal pelampungnya. (Profesi)

Usai mendapatkan pengarahan dari pengemudi speedboat, kami langsung menceburkan diri begitu saja ke laut. Melalui snorkel, saya bisa melihat pemandangan bawah laut yang cukup mengagumkan, meskipun hanya sebatas karang-karang laut. Saya jarang menemukan ikan-ikan atau hewan laut yang melintas di bawah kami. Sensasi mengapung di tengah laut begitu memacu adrenalin. Saya merasa diombang-ambingkan oleh ombak yang menggulung. Tidak besar memang, tapi itu cukup untuk membuat saya "berkonsentrasi" dengan posisi terapung saya. Sedikit-sedikit, air garam masuk ke kerongkongan saya. Asin.

Sekilas, saya melihat teman-teman yang lain juga berkutat dengan "terapung"nya. Suara-suara teriakan mereka pun terdengar jelas di telinga, berseling dengan air laut di sekeliling kepala saya. Tidak jarang, saya mendengar teriakan-teriakan takut sebagian yang lainnya. "Hei, saya mau tenggelam!" teriaknya. Sambil tetap bertahan di posisi saya (karena tidak bisa berenang), saya hanya bisa tertawa melihat tingkah mereka. Ada pula yang menceburkan diri tanpa perlengkapan snorkel, karena terbiasa berenang.  

Sudah kebiasaan berenang nih. (Profesi)

Sejam berlalu, snorkeling harus berakhir. Dingin dan menggigil benar-benar menyertai saya. Kulit pun terasa pekat akibat direndam air laut. Rambut acak-acakan "kaku" oleh air laut. Pun, pakaian harus basah semua. 

Akan tetapi, kepuasan bersnorkeling telah tercapai. Yang ada kini, derai tawa dan pengalaman baru bercerita sensasi snorkeling masing-masing. Sungguh, perjalanan jauh nan mencekam ke PPLH Puntondo terbayar sudah. Dan akhirnya, PPLH Puntondo bisa menjadi alternatif objek wisata bagi Anda yang tertarik menghabiskan waktu di pinggir laut. Alami dan bersih.





--Imam Rahmanto--

Menikmati Kesunyian di Ujung Pulau (Part 1)

Juni 11, 2012
Sumber gambar: pplhpuntondo.org


Puntondo, nama yang pada awalnya sangat asing bagi saya. Apalagi disebutkan bahwa tempat tersebut merupakan salah satu lokasi tujuan wisata yang asyik, berhubung kami sedang mencari lokasi musyawarah kerja (musker). Terlintas di pikiran saya, tempat itu tidak jauh berbeda dengan Galesong, Takalar (saya pun belum pernah kesana, hanya mendengar cerita-ceritanya dari teman-teman). Namun ketika saya membuka peta di internet, saya menemukan Puntondo persis berlokasi di "kaki" pulau Sulawesi, dan berjarak dua kali

Kamis, 07 Juni 2012

Setangkai Mawar Rosa

Juni 07, 2012

Maafkan aku... Aku tak pernah bermaksud menyakitimu. Aku pikir kau yang seperti mawar merah tak akan pernah tersakiti oleh mawar merah malam itu. Meski hanya setangkai, aku tak tahu. Aku sungguh tak pernah tahu.

Sedari awal, kau begitu berharga buatku, bagai mawar. Aku selalu melihatmu layaknya setangkai mawar itu. Setiap jam, mungkin orang-orang akan selalu memperhatikanmu. Mencoba menarik

Semua Tentang Pemahaman Cinta

Juni 07, 2012
Judul buku    : Berjuta Rasanya
Penulis         : Tere Liye
Tebal buku   : vi + 205 halaman
Penerbit       : Mahaka Publishing 
Harga          : Rp 40.000,-



Buku yang ditulis Tere Liye kali ini berbeda dengan buku-buku sebelumnya. Jika ia sebelumnya lebih banyak menulis novel, kini ia mencoba untuk menulis buku berupa antologi cerpen dengan satu tema, yakni "Cinta". Kepiawaiannya dalam mengaduk-aduk emosi pembaca melalui tulisannya di novel-novel sebelumnya tentu tak diragukan lagi akan turut mewarnai pula di buku Berjuta Rasanya ini. 


Akan tetapi, bagi saya pribadi, cerita-cerita terpisah di dalam buku ini terasa tidak lagi begitu mengaduk-ngaduk emosi. Beberapa cerita memang cukup "menggetarkan". Namun cerita yang lain terkesan begitu santai mengalir. Tanpa proses "emosional". Yah, meskipun saya akui, banyak pesan-pesan moral terkait "Cinta" yang diselipkan penulis di dalamnya. Beberapa cerita sempat membuat saya tertawa, tersenyum, ataupun mengangguk-angguk membenarkan kejadian itu (yang mugkin juga terjadi pada saya dan orang lain pada umumnya). Membaca cerita-cerita di dalamnya membuat saya sedikit merenung ketika berpindah ke halaman-halaman berikutnya.


Melalui buku ini, saya juga akhirnya mengerti "cara" menulis Tere Liye. Saya banyak menemukan kalimat maupun paragraf-paragraf yang kesannya diulang-ulang saja. Kata-katanya sama persis, tak ada yang berubah. Mungkin saja dengan maksud menggambarkan sesuatu yang "ditekankan". Akan tetapi, karena terlalu seringnya, saya menjadi bosan sendiri. 


Terlepas dari semua itu, saya pikir buku ini bisa menjadi alternatif bacaan yang bagus di waktu senggang, khususnya bagi mereka yang "terlalu malu walau sekadar menyapanya, terlanjur bersemu merah, dada berdegup lebih kencang, keringat dingin di jemari, bahkan sebelum sungguhan berpapasan." Atau buat mereka "yang hanya berani menulis kata-kata dalam buku harian, memendam perasaan lewat puisi-puisi, dan berharap esok lusa ia akan sempat membacanya."


Nah, berikut beberapa cuplikan cerita di dalam buku Berjuta Rasanya;

Vin yang selalu menganggap dirinya tidak beruntung ternyata salah mengartikan sebuah kecantikan itu. Urusan itu sebenarnya amat sederhana buatnya.  
Seseorang yang mencintaimu karena fisik, maka suatu hari ia juga akan pergi karena alasan fisik tersebut. Seseorang yang menyukaimu karena alasan materi, maka suatu hari ia juga akan pergi karena materi. Tetapi seseorang yang mencintaimu karena hati, maka ia tidak akan pernah pergi! Karena hati tidak pernah mengajarkan tentang ukuran relatif lebih baik atau lebih buruk.
Vin menyesal telah berdoa untuk mengubah kecantikan semua orang.

--Bila Semua Wanita Cantik--

Putri dan Tina ternyata terlalu melebih-lebihkan pertanda itu. Mereka menganggap Rio menyukai salah satu diantara mereka. 
Orang-orang yang jatuh cinta terkadang terbelenggu oleh ilusi yang diciptakan oleh hatinya sendiri. Ia tak kuasa lagi membedakan mana yang benar-benar nyata, mana yang hanya kreasi hatinya yang sedang memendam rindu. Kejadian-kejadian kecil, cukup sudah ntuk membuatnya senang. Merasa seolah-olah itu kabar baik. Padahal, saat ia tahu kalau itu hanya bualan perasaannya, maka saat itulah hatinya akan hancur berkeping-keping.
Dan ternyata Rio tidak memilih keduanya.
--Hiks, Kupikir Kau Naksir Aku--

Ayu yang terlalu mencintai Topan, si playboy. Ia tidak pernah kapok dipermainkan olehnya. 
Tetapi dalam urusan cinta itu, tidak seharusnya Ayu menjadi zooplankton-nya. Teman dekat Dian itu terlalu baik untuk Topan, si Hiu. Terlalu polos memandang sebuah cinta. Selalu menerima apa-adanya. Ayu sejak dulu selalu meyakini dan berharap cinta yang ia miliki cukup untuk memperbaiki banyak hal, mengubah banyak tabiat buruk. Padahal, cinta zooplankton Ayu sama sekali tidak cukup untuk Topan, sang penguasa rantai makanan.
Yah, tapi ternyata ada banyak hal yang akhirnya merubah si Hiu itu. Bagaimanapun, Dian harus memenuhi sumpahnya itu.
--Cinta Zooplankton--

Cintanometer, semacam alat pengukur cinta yang dipasang di telinga. Dibuat untuk mengatasi penurunan jumlah penduduk di kota itu. Namun, darinya banyak yang berubah. 
Mereka telah kehilangan kosa kata cinta.
Alat itu ternyata membuat kehidupan mereka menjadi sangat sistematis, terukur, dan tidak menarik lagi. Tidak ada lagi seorang pemuda atau seorang gadis yang cemas menunggu di halte, berharap idaman jantungnya datang, dan mereka bisa pergi satu bus. Tidak ada lagi degup jantung penasaran saat seorang pemuda menyatakan cintanya. Tidak ada lagi lipatan surat-surat secara sembunyi-sembunyi dititipkan di lemari sekolah. Disana, di kota itu, perlahan-lahan cinta telah berubah menjadi barang instan.
--Cintanometer--


Joni dan Doni baru saja selesai melakukan ujian skripsi. Diperhadapkan pada cerita dua orang yang saling bertolak belakang.
Percayalah, hal yang paling menyakitkan di dunia bukan saat kita lagi sedih banget tapi nggak ada satu pun teman untuk berbagi. Hal yang paling menyakitkan adalah saat kita lagi happy banget tapi justru nggak ada satu pu teman untuk membagi kebahagiaan tersebut.
--Joni dan Doni--
Wah, memang, jika berbicara tentang cinta, takkan ada habisnya....

Rabu, 06 Juni 2012

Aduh, Salah Rasanya...

Juni 06, 2012

Susah juga ya punya banyak teman atau sekadar kenalan. Seperti malam ini (baru saja) saya bertemu dengan salah seorang teman saya. Agak kikuk rasanya karena saya pada awalnya tidak begitu mengenalnya.

Begini ceritanya,

Yah, untuk menghilangkan kesuntukan, saya berkunjung ke kost salah satu teman saya. Selanjutnya, karena lapar, saya berniat untuk sekadar beli gorengan di luar. Seperti biasa, saya sudah tahu tempat yang paling enak menjual gorengan.

Alkisah (?), tiba-tiba seseorang yang mengendarai motor lewat di samping tempat saya membeli  gorengan. Ia sejenak berhenti dan memandangi saya sambil tersenyum. Saya yang melihatnya agak risih juga. Mau senyum, tidak tahu siapa dia. Mau tidak senyum, ntar dianggap sombong lah. Apalagi saya tidak tahu jelas siapa dia karena ia mengenakan helm, meskipun tanpa penutup kaca.  Akhirnya saya memaksakan senyum (sedikit) dan kembali berpaling pada kesibukan saya (menunggui gorengan yang dibungkus).

Akan tetapi, tak perlu menunggu lama, ia mendekat dengan tetap mengendarai motornya. Pelan tapi pasti. Pasti tapi pelan.

"Imam?" Ia berseru dengan sedikit tanda tanya. Banyak-banyak ndak apa-apa juga lah...

Karena agak risih, saya memutuskan untuk memandangi lekat-lekat wajahnya. Konsentrasi. Meditasi. Regenerasi (nah loh?). Dan taraaa! Saya mengenalnya. Dia teman sekampung saya, meskipun berbeda sekolah. Dia sekolah di SMK, sedangkan saya di SMA. Kami berkenalan di kegiatan-kegiatan ekskul Pramuka. Akhirnya, kami ngobrol sedikit.

Waduh, saya merasa bersalah sudah mengabaikan (senyum termanis) teman saya itu, padahal cuma lelaki. Padahal ia bermaksud baik dengan masih mengingat saya. Tapi, saya malah mengacuhkannya. Kirain siapa. Kesannya, saya terlihat sombong. Haha....beginilah nasib terlalu banyak dikenali orang, namun sedikit mengenali orang. Lha, orang terkenal kan begitu...


--Imam Rahmanto--

Selasa, 05 Juni 2012

Banyak Baca, Banyak Tahu

Juni 05, 2012
Buku baru saya

Sudah hampir tiga hari saya merasa sedikit terlepas dari beban saya. Tugas sebagai layouter benar-benar menyita waktu saya, tidak hanya 24 jam. Menyita pikiran pula. Malah, saya jenuh dengan persoalan desain dan tetek-bengeknya yang selalu dilimpahkan pada saya. Gara-garanya, saya tidak punya kesempatan lagi untuk berkreativitas lewat tulisan.

Toh, orang-orang juga tidak tahu apa layouter itu. Tugasnya apa? Bagaimana tugasnya? Hanya orang-orang media yang tahu. Bah, padahal saya orang yang paling tidak suka bekerja di belakang layar. Kita kan juga perlu mengaktualisasi diri, nambah pengalaman, berinteraksi.

Oleh karenanya, seperti sekarang, begitu saya usai melaksanakan kewajiban saya itu (menanti tugas berikutnya), saya jadi punya sedikit waktu luang. Meski sedikit saja, tapi banyak buku yang mesti saya lahap. Bukan buku kuliah juga sih. Haha....

Beruntungnya, saya punya sedikit rezeki untuk sekadar memborong buku di Gramedia. Lihat saja, buku-buku Berjuta Rasanya (Tere Liye), Writer VS Editor (Ria N Badaria), dan Catching Fire (Suzanne Collins) resmi menjadi milik saya. Itu belum termasuk buku-buku yang masuk dalam daftar tunggu bacaan saya (hasil pinjaman dari teman); Aku, Kau, dan Sepucuk Angpau Merah (Tere Liye), Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin (Tere Liye), Madre (Dee), Partikel (Dee). Pokoknya semuanya harus saya lahap. Wuih, banyak sekali.

Saya sudah lama merasa rindu dengan membaca buku itu, sama rindunya ketika saya lama tidak berceloteh di tulisan. Sangat kolot jika saya beralasan "kesibukan" adalah penyebab semua itu. Kesibukan ya semata-mata hanya jadi sebuah alibi pembenaran.

"Banyak baca, banyak tahu," Idiom itu berlaku untuk semua bacaan yang kita lahap. Tidak terkecuali untuk sekadar baliho sekalipun. Di dalam novel, di balik ceritanya, selalu saja terselip pelajaran-pelajaran berharga. Tidak menggurui, namun menunjukkan. Bagi saya, itu lebih baik ketimbang harus membaca buku-buku yang langsung "mengajarkan" kita. Saya lebih banyak belajar tentang hidup dari buku-buku bacaan itu.

Oh ya, selain itu, saya juga punya mimpi suatu hari bisa membuat perpustakaan mini pribadi di kamar sendiri. Meski kamar saya kecil (dan selalu tak berpenghuni), dengan kehadiran buku-buku di dalamnya akan membuatnya serasa luas, bagai mengelilingi dunia. Yah, dengan membaca buku, maka kita akan mengenal dunia. Sweet...


--Imam Rahmanto--

Senin, 04 Juni 2012

Belajar CJ dari Pendiri Kompasiana

Juni 04, 2012

Wah, Pepih Nugraha lagi-lagi menginjakkan kakinya di Kota Daeng, Makassar ini. Kali ini ia datang bukan membawakan blogshop seperti yang selalu ia bawakan. Ia datang sebagai pembicara dalam workshop bertemakan Citizen Journalism di UIN Alauddin. Ringkas, workshop ini merupakan salah satu rangkaian wvent yang digelar oleh media Kompas, KompasKampus.

Tentu, saya tak ingin melewatkan momen ini. Sebisa mungkin saya harus bertemu "lagi" dengan Pepih Nugraha. Berdiskusi dengannya sangat interest dan mencerdaskan. Pernah saya melakukan sedikit wawancara dengannya usai membawakan materi di event Blogshop Kompasiana. Kesan saya: orangnya ramah. Hehe...^_^

Jauh hari malah saya berencana untuk mengundangnya sekadar berkunjung ke redaksi lembaga jurnalistik kampus kami, Profesi UNM. Akan tetapi, jadwal seharinya dengan agenda yang padat tidak membebaskannya untuk bisa berkunjung kesana. Yaa...padahal saya ingin memperkenalkan Kompasiana lebih jauh kepada teman-teman saya di redaksi.

Tak ada rotan, akar pun jadi. Tidak di redaksi, maka sedari awal saya sudah berniat untuk mengikuti workshop Citizen Journalismnya Bang Pepih. Dimana ada Pepih Nugraha, disana harus ada saya. Hehe...

KompasKampus Sepi Audiens

Pukul 1 siang lewat, saya dan seorang teman saya sudah sampai di lokasi workshop, berbekal navigasi dari teman saya karena saya lupa-lupa ingat dengan jalanan ke kampus ini. Suasana yang kami temui di lokasi kegiatan KompasKampus ini, bisa dibilang sangat sepi. Malah, saya sempat ragu-ragu, "Apa benar disini ada acaranya Kompas?". Hanya umbul-umbul dan booth sponsorlah sebagai penanda adanya kegiatan. Suara-suara MC juga hanya terbang melayang-layang di udara. Sepi audiens.

Jika menilik acara Kompas di event Kompas MuDA Creativity, masih kalah jauh. Event kali ini jauh lebih (sangat) sederhana. Tidak ada embel-embel hujan voucher tiket bioskop. Ya, untungnya ad sertifikatnya. Hehe..

Sebenarnya, jika berpatok pada jadwal, saya dan teman saya sudah terlambat. Namun, untuk materi Bang Pepih, saya tidak terlambat. Saya juga bertemua dengan kakak saya di Profesi UNM, Ilham Arsyam. Setahu saya, saat ini dia bertugas sebagai reporter salah satu media anaknya Kompas, Tribun Timur. Beruntung pula, saya bisa mengikuti materi sampai selesai. Bahkan saya bisa sekadar nimbrung melontarkan pertanyaan padanya. Lagi-lagi saya harus berbekal keberanian.

Apa saja yang disampaikan Pepih Nugraha?

Kali ini bukan tentang bagaimana caranya menulis. Ataupun perihal Kompasiana dan blog-blognya. Ia lebih fokus pada tema yang telah ditentukan sejak awal, citizen journalism (CJ).

Meskipun salah satu wahana untuk CJ itu adalah Kompasiana.

Sebelum memulai pemaparannya, beberapa slide berganti dari scenenya. Beberapa memperlihatkan peristiwa-peristiwa yang menurut Pepih merupakan kejadian yang diliput oleh warga untuk pertama kalinya. Salah satunya, kejadian Tsunami di Aceh. Ia kemudian terus bertanya, "Dimanakah wartawan-wartawan profesional itu?" setiap kali ia usai menceritakan kejadian-kejadian yang diliput eksklusif oleh warga. Maka, itulah pentingnya CJ.

Menurut teori, CJ itu merupakan peristiwa yang sedang atau telah terjadi diliput, dilaporkan, disebarluaskan warga melalui beragam media yang dapat diakses oleh publik. Begitu yang ditampilkan oleh slide milik Bang Pepih.

Untuk menulis laporan CJ pun tidak begitu rumit. Kita bisa menggunakan bahasa sendiri, selama bahasa itu masih dianggap sopan di kalangan dunia nyata. Karena, menurut Pepih, kode etik menulis CJ itu tidak jauh berbeda dengan etika di dunia nyata. Jadi, kesopanan di dunia nyata, kesopanan itu pula di dunia maya. Meskipun demikian, tidak memungkinkan seorang jurnalis warga disamakan dengan seorang wartawan resmi.

Media-media pers resmi tidak perlu takut dan khawatir dengan menjamurnya CJ. Karena kategori CJ tidak sama dengan berita-berita mainstream. Ada berita yang bisa dituangkan dalam wawasan jurnalisme warga, adapula berita yang hanya bisa dilaporkan melalui media-media mainstream. "Yang dibutuhkan untuk membedakan peristiwa-peristiwa mana yang bisa dilaporkan sebagai CJ atau bukan adalah dengan insting jurnalistik," ungkap jurnalis Kompas ini.

Sayang sekali, Bang Pepih harus mengakhiri paparannya setelah hampir dua jam. Beberapa lontar pertanyaan dari mahasiswa juga dijawabnya. Padahal, saya masih ingin banyak berbagi dengannya. Apalagi dia juga belum sempat berkunjung melihat-lihat redaksi kami. Kapan-kapan kalau ke Makassar lagi, datang ya, Bang Pepih!

Saya juga banyak berbincang dengan orang di sebelah saya yang ternyata Kompasianer juga, Pak Irwan. Saya ingat, dia pula yang pernah hadir di Blogshop Kompasiana tempo lalu. Saya pun banyak belajar dari Pak Irwan, yang juga sangat bersemangat dan bisa dikatakan sangat ambisius. Tapi, saya akui usahanya memang sungguh luar biasa. "Yang penting kita berani saja," ujarnya dengan logat Ambonnya.

Ya, kita harus jadi orang berani.... <selanjutnya postingan mengenai obrolan dengan Pak Irwan>


Salam Kompasiana!


Notes: yang saya sesali, kok bisa-bisanya saya tidak memotret workshop hari ini? Waduh....

--Imam Rahmanto--



Sabtu, 02 Juni 2012

Google, si Mbah Dukun Modern

Juni 02, 2012


Wah, sudah beberapa hari ini saya tidak menulis lagi. Padahal saya berkomitmen untuk tetap menulis "apapun" yang saya sukai dan "kapanpun". Apalagi saya kan sudah bisa mobile dimana saja. Hehe... Makanya, begitu saya rindu, saya langsung tulis saja.

Saya agak tertarik dengan fenomena google yang sudah jadi orang paling pandai di dunia. Entahlah, saya harus menyebutnya apa; orang pintar - karena tahu segalanya atau orang sakti - karena bisa mencari apa saja.

Saya selalu mendapati hal serupa dari teman-teman saya. Kalau mencari referensi atau materi mata kuliah atau juga sebuah artikel, maka wajar kita bisa banyak menemukannya di google. Itu sudah menjadi hal biasa sekarang. Malah, banyak mahasiswa yang memanfaatkan "si Google" hanya untuk copy-paste tugas makalah.  Namun, berkembangnya waktu, semakin berkembang pula pemahaman penggunaan Google. Kini, yang berkembang, "apapun" bisa dicari melalui mesin pencari itu.

Beberapa hari yang lalu, teman saya kesulitan mendapatkan foto seseorang. Dia pun meminta saya untuk googling. "Coba cari fotonya "anu" di google," suruhnya.

Pikiran saya, memang ada foto orang yang dimaksudnya itu? Padahal dia kan bukan orang ternama. Tapi, ya, saya tetap melanjutkan mencari. Beberapa menit kemudian, saya mendapatkan foto yang dimaksud meski barang satu-dua foto saja.

Berikutnya, pernah teman saya kesulitan menemukan alamat sebuah rumah. Lagi-lagi, dia browsing dengan google. Tapi yang ditemukannya cuma nama beserta jabatan orang yang dicarinya. Alamat rumahnya tidak tercantum begitu jelas.

Ternyata di zaman super canggih seperti sekarang ini, google sudah merajai. Siapa lagi coba yang tidak tahu mengenai google? Kemudahan yang diberikannya semakin menekankan pada setiap orang bahwa segalanya bisa dicari melaluinya. Bahkan budaya lokal Indonesia, mbah dukun yang sakti masih kalah dengan si Google. Apalagi untuk memanfaatkan jasa pencarian google tak perlu biaya kan? Cukup mengetikkan "hal" yang dicari, tunggu sekian detik, dan berjejerlah hasil pencariannya.

Meskipun begitu, tidak lantas semuanya bisa dicari dan ditemukan oleh google. Tidak pantas rasanya jika kita selalu menggantungkan diri pada google searching. Lama-kelamaan sikap kritis kita akan tergerus. Bisa-bisa pemahaman kita kelak hanya akan dikendalikan oleh mesin seperti google. Lihat saja, mahasiswa kebanyakan mencari tugas-tugasnya melalui google. Tidak sedikit pula dari mereka yang hanya sekadar menyalin dari sana, tanpa proses editing.

Kemudian yang saya khawatirkan adalah generasi-generasi mendatang. Apalagi sekarang sudah banyak pula anak-anak umur 5 tahun yang sudah difasilitasi dengan perangkat canggih yang terkoneksi ke internet. Minimal, blackberry. Kelak, mereka hanya bisa bertanya terus pada Om Google. Tidak ada lagi proses penemuan sendiri. Tidak ada lagi usaha sendiri. Otomatis mereka akan disulap menjadi orang-orang pemalas. Bagaimana pula nantinya Indonesia lebih banyak dipimpin oleh para pemalas. Padahal, "experience is the best teacher" kan?

Ya, bagaimanapun fenomena google telah lama menjangkiti kita, sadar atau tidak sadar. Saya pun terkadang begitu, mencari sesuatu dari google, khususnya gambar. Tapi, ya, tidak semuanya juga saya cari disana. Kalau masih bisa diusahakan di dunia nyata, buat apa dicari di dunia maya. Tidak semuanya lah bisa dicari oleh mbah Google. Cari jodoh gimana?

Ckck...bisa-bisa penghasilan para mbah dukun berkurang nih...

*Tulisan ini dibuat sebagai keprihatinan atas terjajahnya para mbah dukun di Indonesia atas kehadiran mbah Google.

--Imam Rahmanto--


Jumat, 01 Juni 2012

DEADLINE - Part II

Juni 01, 2012

Trias, lelaki ahli filsafat. Ia sangat hobi membaca dan mempelajari teori-teori dalam buku megenai filsafat. Tak heran, ia sangat pandai berdebat dengan teman-temannya. Tak akan ada yang menandingi kehebatan berdebatnya.
Soal penampilan, ia tak ambil pusing.Penampilannya yang terlalu sederhana menunjukkan kesan awut-awutan. Bayangkan saja, ia pernah melakukan wawancara birokrat kampus hanya dengan menggunakan sandal jepit. Jika ia ke redaksi, maka baju kaos dan celana pendek jadi alternatifnya. Rambutnya yang agak gondrong semakin membuatnya terlihat jutek.
Meskipun simple "so much", tapi ia tergolong teman yang bisa diandalkan. Ia pun gemar memuji setiap orang yang dikenalnya. Oleh karena itu, teman-teman redaksi sudah tidak mempan lagi jika dipuji-puji olehnya. Bisa-bisa termakan rayuannya.

Ristya, cewek cengeng satu ini suka mengingat-ngingat tanggal kelahiran teman-temannya. Tidak salah jika ia dijuluki oleh teman-temannya sebagai "kalender berjalan". Tapi, ya itu tadi, ia gampang sekali menangis jika sudah dibuat kalut. Sayang, keseringan menangis membuat tangisannya hanya dijadikan bahan tertawaan oleh teman-temannya.
Sifatnya yang sensitif menjadikannya peka terhadap segala permasalahan yang dialami temannya. Ia sering dijadikan tempat curhatan teman lain, bahkan mereka yang sangat pendiam. Namun, jika ia sendiri sudah mengalami masalah maka moodnya yang jelek akan dibawa-bawa sampai redaksi.
Oh ya, ia juga gampang sekali kaget alias latah. Sekali dibuat kaget, maka teman-temannya pun akan kena pukul darinya. Soal pukul-memukul, ia tak mau kalah. Ia tak akan berhenti memukul sebelum semua pukulannya terbayar lunas.

Sophie, seorang wanita paranoid. Tubuhnya kecil namun berisi. Ia gampang sekali termakan isu-isu tak jelas. Tak pernah ia merasa aman pulang sendirian ke rumah. Teman-temannya selalu dibuat kerepotan dengan sifatnya itu. Sedikit-sedikit, takut. Sedikit-sedikit takut. Takut kok sedikit-sedikit.
Kesembilan temannya juga menganalogikannya sebagai komputer pentium 2. Soalnya dia tergolong orang yang sangat susah diajak bicara. Butuh waktu lebih dari waktu standar untuk membuatnya mengerti perihal sesuatu. Istilahnya, ia agak lamlod (lambat loading).
Akan tetapi, soal kemauan, dialah jagonya. Ia punya prinsip; dimana ada kemauan, disitu ada jalan. Dimana ada jalan, disitu harus ada kemauan. Superr sekali!

Prisia, cewek paling modis diantara kesembilan temannya. Namun juga ia termasuk cewek paling alay sedunia. Setiap status di akun facebooknya dibuat se-alay mungkin. Cmunguddh. Thayangq. Atit peyutq. Segala jenis bahasa planet ia buat di statusnya.
Bermodalkan wajah hitam manisnya, ia selalu punya pacar di luar. Bertolak belakang dengan Rian. Padahal Rian pun suka menggodanya.
Ia juga cukup bersemangat. Suatu hari nanti, ia nyaris memisahkan diri dari kesembilan temannya. Namun dorongan yang ia dapatkan lagi akhirnya kembali membawanya untuk terus merasakan kebersamaan di redaksinya.

Rantou, lelaki asal Jawa namun entah bagaimana bisa terdampar di Sulawesi Selatan. Ia dikenal cukup penyabar diantara kesembilan temannya. Begitu polos dan lugunya, ia sama sekali belum pernah merasakan pacaran. Meskipun soal jatuh cinta itu biasa karena sejak sekolah ia sudah sering suka pada teman sekolah. Namun dasar orangnya pemalu, perasaannya itu hanya bisa terpendam jauh di bawah lubuk hatinya. Kelak, ia akan jatuh cinta lagi dan merasakan pula pil pahit akibat perasaannya itu sendiri.
Rantou masih saja menyimpan masa kanak-kanaknya. Misalnya saja, ia masih suka menonton film kartun.Bukan karena ia tidak pernah bahagia di masa kecilnya, namun ia selalu ingin dekat dengan anak-anak yang ia temui. Ia menganggap dunia anak-anak itu adalah dunia yang paling jujur apa adanya dan bisa membawakan sedikit ketenteraman buatnya, apalagi jika suatu hari nanti ia sudah terbebani oleh banyak kesibukan dan rutinitas.
Rantou yang terbiasa menjadi terbaik di segala bidang ketika bersekolah sangat berobsesi untuk juga bisa jadi yang terbaik di redaksinya. Ia menjadikan Leon sebagai rivalnya, bukan perkara wajah. Keduanya sering bersaing dalam meliput sebuah berita. Namun pula, Rantou dan Leon pada akhirnya akan bersama-sama berpetualang ke ibukota negeri.
Maka sudah waktunya kita menumpang lorong waktu (Doraemon). Melihat seberapa banyak yabg telah terjadi dalam kehidupannya. Lamat-lamat menyaksikan suka-duka yang dialami ketika bergabung dengan sebuah lembaga kuli tinta. Ia, dan kesembilan temannya dipertemukan oleh nasib. Bukan sebuah kebetulan. Karena, tak ada yang namanya kebetulan. Jalur nasib sudah ada yang menggenggam dan diskenariokan. Begitu kata-kata dari film.

Check this out!

to be continued.....

--Imam Rahmanto--