Rabu, 02 Mei 2012

Perpustakaan Semegah Mall

Kokok ayam menyibak berulang-ulang. Dalam tiap aksennya, tidak ada yang beda. Hanya kokok itu berulang-ulang. Kucari ponsel yang berbunyi di sebelahku. Dengan sedikit “sentuhan” kokok ayam itu berhenti. Alarm itu berhasil membangunkanku. Setengah enam, seperti kemarin ketika aku terbangunkan suasana baru disini.
 


Hari kedua event Journalist Days dilanjutkan dengan Forum Diskusi Nasional (FDN). Acara ini hanya diperuntukkan bagi undangan finalis FDN, termasuk LPPM Profesi UNM sebagai finalis subtema 1 “Degradasi Idealisme Pers Mahasiswa”. Jumlah peserta diskusi tidak lebih dari 27 orang dari berbagai Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) se-Indonesia.
 

Menikmati pagi dengan segelas cappucino (tak pernah luput buat saya) sembari ngobrol bareng teman-teman dari LPM lainnya. Berbeda dengan hari pertama, kini kami bisa mengenal lebih banyak teman dari daerah lain. Adalah hal sia-sia jika kami tidak membangun persaudaraan diantara persma-persma se-Indonesia. Makanya momen ini perlu dimanfaatkan.
 

Kami diberangkatkan menuju Perpustakaan Pusat UI sebagai lokasi kegiatan berikutnya. Seperti biasa, mahasiswa senantiasa memanfaatkan kehadiran Bis Kuning (Bikun) sebagai transportasi alternatif berkeliling dalam lingkungan kampus UI, tak terkecuali bagi kami. Hanya saja, saya masih awam jika harus sendirian menggunakan Bikun yang dibedakan menjadi dua warna tersebut. Kedua warna itupun berasal dari kardus berwarna yang hanya bisa dilihat dari jendela depan bus. Merah dan Biru.
 

Perpustakaan UI yang dilengkapi dengan fasilitas-fasilitas mewah

Tiba di perpustakaan UI, terasa ada suasana yang agak berbeda. Gedung berlantai delapan itu lebih terasa mirip sebagai pusat shopping ketimbang sebuah perpustakaan. Saya berpikir, “Bagian mananya yang disebut sebagai perpustakaan?”. Saat memasukinya, hanya komputer-komputer “pencari buku” yang mencirikan tempat itu sebagai perpustakaan. Saya baru tahu perpustakaan disana ada tiga lantai setelah berdiskusi lepas dengan Mas Ade Armando.
 

“Kalian saat masuk menganggap gedung ini seperti apa?” tanyanya memancing rasa penasaran kami. Usai kami, kelompok subtema 1, berdiskusi satu sama lain, ia yang mendampingi kelompok kami kemudian bercerita banyak.
 

“Saya serasa memasuki mall, Mas,” jawab saya sekenanya. Meskipun begitu, ia membenarkannya.
 

“Bayangkan, gedung ini namanya perpustakaan. Tapi perpustakaannya cuma ada tiga lantai. Sisanya, seperti yang kalian lihat sendiri, jadi mirip mall,” ujarnya. Selain itu, ia pun berani bertaruh, buku apapun yang kami sebutkan dan ingin cari dijamin bakalan tidak ada, karena buku-buku yang tersedia adalah buku-buku lama.
 

It’s so embarassing, Ini merupakan sebuah pemborosan,” tutur dosen FISIP UI ini yang juga sering muncul di layar kaca.
 

Starbuck Coffee pun telah hadir dalam perpustakaan UI
Memang, semua teman-teman peserta dari daerah lain pun merasakan kesan serupa. Gedung yang berada di samping danau UI ini lebih cocok disebut sebagai sebuah mall. Bagaimana tidak, baru memasuki pintunya, kita sudah disuguhi dengan pemandangan toko (bukan perpustakaan) buku dan Starbuck coffee. Saya sama sekali tidak menemukan ruangan yang berisi jejeran-jejeran rak buku. Barulah ketika turun dari ruang diskusi (di lantai 6) untuk shalat, kami melintasi  perpustakaannya.
 

Menurut Mas Ade, ruangan-ruangan yang ada di gedung perpustakaan sama sekali tidak proporsional dengan nama “perpustakaan”nya. Arsitektur-arsitekturnya lebih mencerminkan sebuah pusat perbelanjaan. Dan itu bisa didapati ketika melintasi jalan-jalan di gedung ini. Mahasiswa-mahasiswa (entah semuanya atau sebagian yang saya lihat) bercengkerama layaknya sedang berada di Mall.
 

”Kalau di Makassar, gedung sebesar ini sudah bisa jadi kampus,” kelakar saya, yang hanya ditanggapi dengan tertawa oleh teman-teman saya.




--Imam Rahmanto--



 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar