Rabu, 02 Mei 2012

Kereta Refleksi Padatnya Jakarta


Tidak lengkap rasanya jika bertandang ke Jakarta tidak merasakan sensasi mengendarai keretanya. Kereta api listrik yang sehari-harinya hanya bisa ditemui di layar televisi mengantarkan kami ke stasiun Gondangdia. Usai mengikuti Forum Diskusi Nasional di UI, saya bersama kedua orang teman saya memutuskan untuk bertandang ke tempat salah satu senior LPPM Profesi di Jakarta.

Bepergian dengan kereta api listrik ( KRL) ternyata jauh lebih murah  ketimbang mengendarai angkutan umum semisal bus. Untuk KRL kelas bisnis (AC), cukup merogoh kocek Rp 6ribu. Sementara kelas ekonomi hanya Rp1500, tapi harus rela berdesak-desakan dengan penumpang yang lain. Bahkan atap KRL kelas ekonomi juga dinaiki para penumpang, sehingga akan benar-benar terlihat tumplek-blek. Sedangkan bus DAMRI yang kami tumpangi saat menuju Depok membandrol harga tiket Rp20ribu. Itupun hanya sampai di Pasar Minggu.

Kereta kelas ekonomi berbeda dengan komuter ctl (julukan buat KRL kelas bisnis), tidak satu pun penumpang diperbolehkan (baca: dibiarkan) naik ke atas atap. Hal itulah yang membedakannya dengan kelas ekonomi, menurut Delinda, LO kami. Selain itu, gerbong khusus wanita juga disediakan di kelas bisnis. "Jangan salah masuk, yang warna pink itu khusus cewek," wanti-wantinya.

Sedikit, saya mulai agak mengerti persoalan kereta api itu. Stasiun dimana. Isinya bagaimana. Rasanya bagaimana. Suasananya bagaimana. Dan justru dari kereta-kereta itulah saya melihat tumpah ruahnya penduduk di ibukota Indonesia ini. Dalam hati hanya bisa berujar, "Subhanallah! Apa penduduk ibukota sebanyak ini ya?" sambil geleng-geleng kepala.

Sumber Gambar: Google Search

Kereta kelas ekonomi menjadi cerminan sesungguhnya dari ibukota. Ia menjadi alternatif transportasi bagi masyarakat-masyarakat kelas bawah yang mewarnai kota ini. Tanpa memikirkan keselamatannya, para penumpang rela berdesak-desakan sampai duduk di pintu kereta. Tidak takut jatuh. Mereka yang naik di atas atap kereta malah abai terhadap kabel-kabel listrik di atas kepala mereka. Padahal sewaktu-waktu jalur listrik tersebut bisa saja merenggut nyawa mereka.

"Yang mesti disalahkan siapa ya?" Lagi-lagi geleng kepala.


Dari Depok, UI ke Gondangdia hanya memakan waktu 25 menit dengan memanfaatkan jalur kereta. Dan di Gondangdia itulah MNC Tower, tempat tujuan kami bisa ditempuh dengan jalan kaki. Kami sampai narik-narik koper menuju lantai 20. Hehe.. Setidaknya punya pengalaman di Jakarta, kan?




-Imam Rahmanto--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar