Sabtu, 26 Mei 2012

Cinematica: Negeri di Bawah Kabut



Suasana Cinematica yang digelar BaKTI



Baru semalam saya mengikuti Cinematica yang rutin diadakan BaKTI di tiap akhir bulan. Beberapa undangan sebelumnya tidak sempat saya hadiri dikarenakan kesibukan sebagai seorang mahasiswa. Lumrah.

Cinematica kali ini mengangkat sebuah film dokumenter berjudul Negeri di Bawah Kabut hasil garapan sutradara Shalahuddin Siregar. Membaca judulnya, jangan berharap akan menemukan cerita-cerita yang dikisahkan verbal secara bahasa Indonesia. Dari awal hingga akhir, kita akan disuguhi tontonan yang benar-benar menunjukkan kehidupan asli masyarakat petani di desa Genikan, dekat Salatiga. Mulai dari bahasa yang digunakan sampai rutinitas sehari-harinya. Malah, bahasa yang digunakan full Boso Jowo.

Film ini bercerita tentang kehidupan masyarakat petani sayur di kaki gunung. Kehidupan dua keluarga petani ditampilkan mengalir seperti biasanya, layaknya sebuah film dokumenter.

Yang saya sukai dari film ini, Arifin (12), anak dari salah satu keluarga yang diceritakan di film, dihadapkan pada seperti apa pendidikannya kelak. Ia sendiri tahu, ayah dan ibunya tidak banyak memiliki uang untuk membiayainya sekolah, bahkan untuk sekadar membayar biaya masuk di SMP Negeri, Rp 350ribu yang katanya termasuk seragam yang dibuatkan dari sekahnya. Apalagi, gagal panen sudah berulangkali dialami keluarganya dikarenakan musim hujan yang berkepanjangan.

Demi melihat anaknya yang sudah mendapatkan nilai tertinggi di ujian nasional agar bisa bersekolah, ayahnya berusaha dari pintu ke pintu mencari pinjaman uang. Tidak banyak yang bisa dilakukan tetangga-tetangganya. Mereka sama-sama mengalami kesulitan gagal panen. Alhasil, ia hanya mendapatkan pinjaman Rp 200ribu dari keluarga (yang juga diceritakan di film) Sudardi (32).

Arifin pada akhirnya tetap bisa melanjutkan pendidikannya meski sedikit melenceng dari tujuan awal; SMP Negeri. Ia melanjutkan ke sebuah Pesantren, dikarenakan biaya di pesantren jauh lebih murah, apalagi pakaiannya bisa beli di pasar dengan harga yang murah.

Meskipun cerita yang disajikan datar, tanpa skenario konflik dan semacamnya (bahkan tanpa iringan backsound), akan tetapi pesan yang disampaikannya cukup logis. Pesannya disampaikan secara langsung; bagaimana kita melihat realitas kehidupan di desa Genikan dan segala aspek permasalahannya. Isi cerita disajikan melalui rutinitas kehidupannya dan perbincangan-perbincangan ringan antar-penduduk. Tak jarang, dari perbincangan itu kita bisa menemui banyak persoalan yang terjadi di desa itu. Saya juga suka dengan suasana desa yang digambarkan dalam film itu, apalagi kabut-kabut yang sudah tampak seperti awan. Amazing.

Menurut sang sutradara, semua kisah di dalam dokumenter itu, termasuk perbincangannya adalah tanpa skenario. Ia membutuhkan waktu selama hampir 1 tahun untuk bisa melakukan observasi sebelum film dibuat. Ia tidak melakukan wawancara sebagaimana film-film dokumenter bergaya jurnalistik dibuat. Ia lebih menekankan pada pendekatan selama setahun itu. Jadilah dialog-dialog yang ada di film mengalir alami apa adanya.  "Timeline untuk pembuatan dokumenter itu bisa dibilang selama 5 tahun," ungkap sutradara yang juga merupakan alumni penghargaan Eagle Award. Ckckck...padahal cuma film dokumenter yah..

Dari film itu, saya juga mendapat pelajaran penting. Ternyata, untuk membuat film dokumenter yang berdurasi 105 menit saja butuh riset selama lebih dari setahun. Bagaimana dengan dokumenter lainnya. Padahal film dokumenter kan tidak pada ranah film bioskop.

"Film dokumenter dibuat dengan tiga cara, yakni Riset, Riset, dan Riset," begitu yang saya dapatkan dari hasil discuss dengan sang sutradara.

--Imam Rahmanto--


Tidak ada komentar:

Posting Komentar