Minggu, 27 Mei 2012

Tingkatan Wartawan Dalam Menerima Imbalan

Mei 27, 2012
"Wartawan dilarang meminta atau menerima imbalan dalam bentuk apapun,"

Sebuah slogan yang sudah sering saya dapati ketika membaca sebuah media. Bahkan, seorang wartawan sekalipun pasti menghafal mati slogan itu. Tapi, ya, dasar manusia pasti selalu saja melanggar aturan-aturan yang sudah dibuatnya, tidak terkecuali para wartawan.

Hari ini, saya mengikuti materi jurnalistik mengenai Straight News. Namun, pikiran saya ternyata melayang jauh ke masa setahun silam ketika saya mendapati materi serupa - dengan sedikit tambahan etika.

Ternyata, wartawan dalam meliput sebuah berita/ informasi tidak selalu terlepas dari perihal imbalan. Terkadang banyak malah pejabat-pejabat yang selalu memberikan imbalan bagi wartawan yang mewawancarainya. Entah untuk maksud apa. Tapi yang jelas, selalu pula ada udang di balik batu.
coret-coretan saya berdasarkan tingkatan itu

Nah, dalam proses menerima imbalan itu, wartawan dikategorikan dalam 5 tingkatan;

Kaget atau Terkejut; 
Ia akan terkejut ketika menerima imbalan/ amplop dari narasumber. Biasanya mereka berujar, "Apa ini?" dengan sedikit selidik pada narasumber. Tahap ini masih wajar bagi setiap wartawan. Hasilnya, ada yang menerima imbalan tersebut meskipun masih dalam suasana terkejutnya. Namun ada pula yang tetap bersikukuh menolal pemberian narasumber.

Biasa-biasa;
Bagi wartawan yang sudah terbiasa menerima pemberian dari narasumbernya, ia akan bersikap biasa-biasa saja tanpa merasa terkejut. Pemberian tersebut dianggap sudah sewajarnya.

Menunggu;
Tahap lanjutan dari "biasa-biasa" karena keseringan menerima imbalan. Usai wawancara dengan narasumber, ia biasanya menunggu. "Pasti ada imbalannya," pikirnya sendiri. Jika kurang beruntung, ia akan bersungut-sungut kesal. Biasanya banyak terjadi dalam jumpa-jumpa pers tertentu.

Meminta;
Tahap lanjutan. Cukup mengganggu. Tanpa tedeng aling-aling ia kan meminta imbalan dari narasumber. Apalagi jika narasumbernya itu merupakan tokoh-tokoh politik yang disinyalir "berkantong tebal". Mungkin bisa dapat, bisa juga ditolak.

Memeras;
Sangat berbahaya. Ia akan menghalalkan segala cara untuk bisa mendapatkan imbalan dari narasumber. Tak jarang ia akan mengancam si narasumber. Terlebih lagi jika yang bersangkutan diduga terkait kasus korupsi. Pada tahap ini, jumlah imbalannya juga sudah banyak. Hanya saja, si pemberi sudah tidak lagi ikhlas dalam memberi. Malah terkadang ia merasa sangat terganggu.

Dari kelima tingkatan itu, menurut Upi Asmaradana, seorang wartawan yang kala itu membagi pengalamannya, wartawan diharapkan harus selalu berada pada jalur "terkejut". Dengan begitu, nilai-nilai etik yang diembannya bisa dipertahankan. Istilahnya, wartawan itu harus idealis.

Jika sekali saja wartawan keluar dari jalur pertama itu, maka ia akan terjebak untuk mengikuti alur selanjutnya. Bisa saja malah sampai pada tahap kronis, "memeras". Untuk itu, para pekerja pers sangat diharapkan untuk bisa tetap pada jalur yang selalu diboyongnya. Masa sih, slogan itu hanya menjadi pemanis di khalayak publik. Namun sejatinya masih ada yang secara ikhlas menerima imbalan dalam bentuk apapun, khususnya uang.


--Imam Rahmanto--

Sabtu, 26 Mei 2012

Cinematica: Negeri di Bawah Kabut

Mei 26, 2012


Suasana Cinematica yang digelar BaKTI



Baru semalam saya mengikuti Cinematica yang rutin diadakan BaKTI di tiap akhir bulan. Beberapa undangan sebelumnya tidak sempat saya hadiri dikarenakan kesibukan sebagai seorang mahasiswa. Lumrah.

Cinematica kali ini mengangkat sebuah film dokumenter berjudul Negeri di Bawah Kabut hasil garapan sutradara Shalahuddin Siregar. Membaca judulnya, jangan berharap akan menemukan cerita-cerita yang dikisahkan verbal secara bahasa Indonesia. Dari awal hingga akhir, kita akan disuguhi tontonan yang benar-benar menunjukkan kehidupan asli masyarakat petani di desa Genikan, dekat Salatiga. Mulai dari bahasa yang digunakan sampai rutinitas sehari-harinya. Malah, bahasa yang digunakan full Boso Jowo.

Film ini bercerita tentang kehidupan masyarakat petani sayur di kaki gunung. Kehidupan dua keluarga petani ditampilkan mengalir seperti biasanya, layaknya sebuah film dokumenter.

Yang saya sukai dari film ini, Arifin (12), anak dari salah satu keluarga yang diceritakan di film, dihadapkan pada seperti apa pendidikannya kelak. Ia sendiri tahu, ayah dan ibunya tidak banyak memiliki uang untuk membiayainya sekolah, bahkan untuk sekadar membayar biaya masuk di SMP Negeri, Rp 350ribu yang katanya termasuk seragam yang dibuatkan dari sekahnya. Apalagi, gagal panen sudah berulangkali dialami keluarganya dikarenakan musim hujan yang berkepanjangan.

Demi melihat anaknya yang sudah mendapatkan nilai tertinggi di ujian nasional agar bisa bersekolah, ayahnya berusaha dari pintu ke pintu mencari pinjaman uang. Tidak banyak yang bisa dilakukan tetangga-tetangganya. Mereka sama-sama mengalami kesulitan gagal panen. Alhasil, ia hanya mendapatkan pinjaman Rp 200ribu dari keluarga (yang juga diceritakan di film) Sudardi (32).

Arifin pada akhirnya tetap bisa melanjutkan pendidikannya meski sedikit melenceng dari tujuan awal; SMP Negeri. Ia melanjutkan ke sebuah Pesantren, dikarenakan biaya di pesantren jauh lebih murah, apalagi pakaiannya bisa beli di pasar dengan harga yang murah.

Meskipun cerita yang disajikan datar, tanpa skenario konflik dan semacamnya (bahkan tanpa iringan backsound), akan tetapi pesan yang disampaikannya cukup logis. Pesannya disampaikan secara langsung; bagaimana kita melihat realitas kehidupan di desa Genikan dan segala aspek permasalahannya. Isi cerita disajikan melalui rutinitas kehidupannya dan perbincangan-perbincangan ringan antar-penduduk. Tak jarang, dari perbincangan itu kita bisa menemui banyak persoalan yang terjadi di desa itu. Saya juga suka dengan suasana desa yang digambarkan dalam film itu, apalagi kabut-kabut yang sudah tampak seperti awan. Amazing.

Menurut sang sutradara, semua kisah di dalam dokumenter itu, termasuk perbincangannya adalah tanpa skenario. Ia membutuhkan waktu selama hampir 1 tahun untuk bisa melakukan observasi sebelum film dibuat. Ia tidak melakukan wawancara sebagaimana film-film dokumenter bergaya jurnalistik dibuat. Ia lebih menekankan pada pendekatan selama setahun itu. Jadilah dialog-dialog yang ada di film mengalir alami apa adanya.  "Timeline untuk pembuatan dokumenter itu bisa dibilang selama 5 tahun," ungkap sutradara yang juga merupakan alumni penghargaan Eagle Award. Ckckck...padahal cuma film dokumenter yah..

Dari film itu, saya juga mendapat pelajaran penting. Ternyata, untuk membuat film dokumenter yang berdurasi 105 menit saja butuh riset selama lebih dari setahun. Bagaimana dengan dokumenter lainnya. Padahal film dokumenter kan tidak pada ranah film bioskop.

"Film dokumenter dibuat dengan tiga cara, yakni Riset, Riset, dan Riset," begitu yang saya dapatkan dari hasil discuss dengan sang sutradara.

--Imam Rahmanto--


Kamis, 24 Mei 2012

DEADLINE (part I)

Mei 24, 2012
part 1__

"Hidup mahasiswa!"

Mahasiswa? Tentu. Ia ingin bercerita banyak mengenai kehidupannya sebagai mahasiswa. Tetek-bengek perpeloncoan dan lainnya. Akan tetapi, potongan waktu diantara 24 jam tidak akan mampu menampung segala kisah pahit-manis kehidupan kampusnya. Ah, ada juga sih asem-asin perjalanannya. 

Akan tetapi, sejak setahun ia menjalani kuliah di kampus (yang katanya pencetak guru) ini, dunia telah menemukannya. Ia mulai sadar passion apa yang seharusnya menjadi pegangannya hingga akhir. Cocok. Setahun ngampus, ia selanjutnya bergelut dengan dunia berita. Ya, dunia berita; dunia yang dipenuhi dengan istilah Deadline dan Headline. Jangan lupa, keruwetan otak yang harus selalu berpikir skeptis. Tahu gak skeptis?

Ya, bukan hanya dia. "Mereka" bersepuluh juga telah menjadi bagian tak terlupakan dalam "dunia berita"nya. Siapa mereka? Mari kita tengok sebelum menumpang lorong waktu menuju kisahnya.

Leon, lelaki serabutan satu ini cukup terkenal di kalangan dosen-dosennya. Sebagai seorang aktivis, ia punya banyak kesibukan di luar kuliahnya, termasuk ketika nantinya ia sudah bergabung sebagai salah satu pemburu berita. 
Diantara 9 teman yang lain, ia sering dijagokan untuk mengolah sebuah berita. Beritanya banyak menghiasi Headline Weekly. Akan tetapi, kesibukannya yang bukan main (atau malah seakan-akan sibuk) memaksanya untuk sering mengeluarkan janji-janji palsu. Istilah "Sumpah deh, sumpah deh," sudah tidak asing lagi di telinga teman-temannya. Gini nih benih-benih seorang politisi partai.
Teman-teman redaksi sering menyapanya sebagai si "Cambang" gara-gara brewoknya yang tak ketinggalan ia pelihara. Gara-gara itu pula ia sering dianggap sebagai mahasiswa senior. Hehe...

Rian, seorang pecinta ulung yang menghuni redaksi. Dia sudah banyak mematahkan (atau dipatahkan) hati seorang perempuan. Wajah "di atas rata-rata"nya menjadi maskot buat teman-temannya. Sayangnya, gara-gara keusilan teman-temannya pula ia pernah diputuskan seorang perempuan. Alhasil, ia ketularan usil untuk menuntut balas dendam kepada 9 teman lainnya, selalu saja mencari cara.
Di balik sikap acuhnya terhadap berita, ternyata ia diam-diam menyimpan beribu puisi cinta di hape miliknya. Membacanya, membuat hati mendayu-dayu (lebay). Mungkin saja, puisi itu sengaja ia simpan untuk dikirimkan buat calon-calon "korban cinta" berikutnya.

Elfan, sang penghuni redaksi lainnya. Orangnya agak pendiam dibanding yang lainnya. Di balik itu, ia dikenal sebagai seorang pengusaha muda. Beragam usaha sudah pernah digelutinya. Pengalamannya sebagai seorang young enterpreneur sudah tidak meragukan lagi. Dari mukanya saja sudah kelihatan wajah-wajah para pebisnis. 
Jangan menilai buku dari sampulnya; meskipun otak-otak bisnisnya tak meragukan lagi, kenyataannya kehidupannya masih di bawah rata-rata. Miris. Tampaknya hasil yang ia capai berbanding lurus dengan belanja hariannya. Bahkan cenderung besar pasak dari tiang.

Reza, salah satu orang yang tidak perlu diperhitungkan dalam proses pencarian cinta. Pasalnya, ia sudah terikat oleh kisah kasihnya selama lebih dari dua tahun dengan seorang mahasiswa kampus lain. Katanya sih setia sudah menjadi harga mati baginya. Makanya, jarang sekali ia melirik perempuan-perempuan bening yang melintas di depannya.
Ketika teman-temannya ngerumpi perihal cewek, maka ia bisa menjadi contoh dan teladan untuk menuju rumah tangga yang sakinah, mawaddah, dan warahmah

Vero, bukan nama yang sebenarnya. Ia dihadiahi nama Verawati oleh kedua orang tuanya. Namun obsesinya untuk jadi yang paling "keren" diantara himpunan manusia di Indonesia menjadikannya tomboy. "Keren" adalah pegangan hidupnya. Facebook adalah jalan hidupnya. 
Lain padang, lain ilalang. Jika Vero sedang berkeliaran untuk kuliah di kampus, maka ia menjelma menjadi seorang perempuan sebagaimana mestinya. Bagi orang-orang yang belum lama mengenalnya, pasti sulit mengenali perbedaan wajahnya.


to be continued.....

--Imam Rahmanto--

Rabu, 23 Mei 2012

Motor Pusaka

Mei 23, 2012
Pagi ini, saya mengantar teman saya untuk sekadar "mengoperasi" motornya di bengkel. Entah sudah berapa bulan lamanya motornya terlantar ditinggalkan di redaksi. Saking lamanya, seluruh bagian motor sudah dilapisi oleh debu. Sungguh malang nian nasib motor itu.

Sebenarnya, bukan hanya motornya saja yang sudah lama teronggok di redaksi. Namun ada dua motor lainnya yang nasibnya serupa. Hanya beda "usia" tanggal terlantar saja. Jika diurut berdasarkan temponya, maka motor teman saya yang satu itu berada pada urutan kedua. Hehe...

Jadilah ketiga motor itu akhir-akhir kemarin sebagai "motor pusaka". Habisnya, motornya sama sekali tidak dipedulikan oleh pemiliknya. Malah, salah satu pemiliknya yang bertempat tinggal di rumah/ redaksi tidak pernah memperhatikannya lagi meskipun hanya untuk sekadar membersihkan debunya.

"Nasib, nasib....." lirih salah satu motor seandainya mereka berbicara.

Lama, jauh sebelumnya, saya juga merupakan orang yang sangat jarang peduli dengan kondisi motor saya. Istilahnya, asal pakai saja. Tak jarang, orang tua saya pun mengomeli perihal keterawatan motor saya. Setiap saya pulang (ke kampung), pasti ada saja masalah motor yang menjadi bahan omelan ayah saya.

Melihat kondisi motor ketiga teman saya menggugah sedikit kesadaran saya. Ceilah..! Motor juga merupakan "sesuatu" bagi saya. Karena tanpa kehadirannya, barang tentu beberapa aktivitas saya pasti terhambat. Kalau motor sudah rusak, barulah saya bakalan kelabakan.

Hal seperti itu sudah semestinya membuat saya lebih care dengan kondisi motor saya. Seandainya motor-motor itu bisa bicara, maka dengan mudahnya mereka akan berkata, "Rawatlah aku,". Karena ketika mereka sudah "ngambek", yang susah sendiri kan kita sebagai pemiliknya. Merayu motor yang ngambek sama susahnya loh dengan merayu cewek yang lagi ngambek.


Peace!!  V^_^

Dari kiri ke kanan; motor dengan rekor paling lama. Hahaha... debunya
sudah setebal apa ya? 
 Notes: Motor yang ketiga pun akhirnya dibawa juga ke bengkel. Hehehe.... :p




--Imam Rahmanto--

Selasa, 22 Mei 2012

Nuansa Pagi Mengenang Masa Kecil

Mei 22, 2012
Foto: ImamR

Saya masih belum terlelap ketika azan subuh tengah berkumandang di masjid sebelah rumah/ redaksi kami. Tanggung jawab sebagai layouter memaksa saya untuk tetap melek sampai detik ini. Bagaimanapun juga, pekerjaan tersebut harus rampung minggu ini.

Karena tanggung jawab adalah sebuah beban, maka terkadang memang berat melakukannya. 

Tidak seperti biasanya yang mana saya selalu lebih memilih untuk menunaikan ibadah di redaksi. Kali ini, angle dibuat sedikit berbeda. Mungkin karena saya sendiri merasa bosan duduk terlalu lama sendiri bersitegang dengan komputer. Saya memilih untuk menikmati hawa pagi dengan keluar rumah.

Shalat subuh di masjid sedikit mengingatkan saya masa-masa kecil di kampung (tempat domisili asal, karena saya bukan asli dari sana). Bukan tentang kenangan tingkah polah saya, melainkan tentang kepolosan anak kecil yang selalu menghabiskan shalatnya di masjid.

Saya rindu masa-masa itu. Saya bukanlah anak-anak tamatan pesantren maupun Madrasah Tsanawiyah. Meskipun begitu, ketika kecil saya tidak pernah luput dari shalat di masjid. Shalat Subuh sampai Isya selalu ada waktu buat saya untuk menunaikannya di masjid. Saking seringnya "kelihatan" di masjid, saya sering didaulat untuk mengumandangkan adzan Ashar dan kadang-kadang adzan Maghrib oleh pemuka masjid disana.

Saya ingat, mungkin sekarang saya sadar itu salah, sekali saja tidak dibangunkan oleh ibu (Mak'), maka saya akan kesal setengah mati. Malahan saya sering bersungut-sungut menyalahkan Mak'.

"Kenapa saya tidak dibangunkan?" Saya terus saja mengomel. Padahal sebenarnya salah saya sendiri, yang kata Mak' susah dibangunkan.

Saya juga pernah menangis hanya gara-gara tidak shalat di masjid. Bagi saya kala itu, shalat di masjid adalah hal yang penting. Meskipun ayah saya bukanlah orang yang taat menunaikan shalat, namun ia selalu mengingatkan untuk tidak meninggalkan shalat. Saya sendiri yakin, kelak ayah saya akan menemukan sendiri jalanNya. Dan sekarang hal itu terbukti.

Beranjak dewasa, tetap berada di "masa itu" adalah hal yang tidak mudah. Ada-ada saja hal yang memungkinkan saya untuk sekadar "beralasan" menunda waktu shalat. Akh, sungguh berbeda di masa kecil saya dulu. Entah kenapa saya rindu dengan masa itu. Masa-masa saya belum terbebani oleh tanggung jawab apapun. Masa-masa saya bisa tersenyum sepolos-polosnya. Masa-masa saya mnghabiskan waktu untuk belajar dan bermain. Masa-masa itu pula saya belum mengenal namanya "cinta", dulu hanya dikenal suka-suka.

Kini, saya tergelitik, apakah mungkin sumber segala kalut pikiran dan kehidupan saya bermula dari sana? Saya yang kini selalu menunda-nunda waktu (dengan alasan rutinitas kesibukan) kehilangan sedikit "embun" dari masa kecil itu. Mungkin saja ketika saya kembali menyempatkan diri untuk selalu "bertamu di rumahNya" maka segala urusan atau pikiran saya akan dimudahkan, sama ketika saya masih polos-polosnya. Wajarlah jika kini saya banyak mengalami keruwetan, karena telah lama lupa akan hal "kecil" itu.

Nuansa pagi memang nuansa yang menyenangkan. Hanya saja, sebagian kecil saja orang yang mampu menikmatinya. Merekalah yang beruntung melawan pengaruh kantuk di subuh hari. Padahal, mitosnya, rejeki akan menghampiri kita di pagi hari. Nah, sembari jalan-jalan (sendiri) pagi usai menjalankan salah satu "rukun" itu, saya mencari rejeki itu. Rejeki tak melulu harus dalam bentuk uang, kan? Sungguh, nuansa pagi itu menyenangkan.... :)


--Imam Rahmanto--

Minggu, 20 Mei 2012

Doa Seorang Alif Kecil

Mei 20, 2012
Anak kecil itu mondar-mandir di depan sebuah mushallah kecil. Sebuah karung dijinjingnya. Pakaiannya kumal. Tubuhnya dekil diterpa terik matahari. Beberapa mata sedari tadi selidik mengamati gerak-geriknya. Wajah polosnya tentu tidak mengurangi sedikit pun kecurigaan pada dirinya. Pemulung kecil itu tidak tahu, berapa orang tengah mengikutkan ekor mata padanya.

Ada sesuatu yang mengganjal pikirannya. Sejak tadi, ia terkatung-katung antara YA dan TIDAK. Seperti manusia kebanyakan, malaikat dan setan tengah berkonflik di hatinya.

"Sudah, pergi saja dari sini. Kau tidak pantas berada disini. Lihat, mereka menganggapmu sampah!" Tak henti-hentinya setan menggerogoti kepolosan hatinya.

"Bukankah kau seorang muslim? Sudah sepantasnya kau menjalankan kewajibanmu. Allah tidak menilai atas penampilanmu. Engkau bisa berbuat baik kapan saja," tutur suara hatinya lembut.

Seseorang datang menghampirinya. Orang itu mengenakan baju koko lengkap dengan peci yang hitam. Takut-takut, anak kecil itu bermaksud menjauh. Tak biasa ia berhadapan dengan orang yang lebih bersih darinya. Bahkan, suci hendak bermunajat kepada penciptaNya.

"Kamu kenapa, dik?" Orang itu mendekat. Beberapa orang lainnya di sekitar mushallah hilir-mudik.

Gerak-geriknya terhenti. Diam. Ia hanya menunduk. Tidak berani menatap wajah teduh di depannya. Ia rapat-rapat menggenggam karung yang ukurannya lebih besar dari tubuhnya.

"Saya..... sa...ya, cuma pengen......" ujarnya takut-takut. Laki-laki asing itu menunggu.

"Shalat disini," anak kecil itu, Alif, berkata lirih dan pelan. Sangat pelan.

Matahari makin meninggi, namun menyejukkan. Langit membisikkan keagungan pencipta-Nya.

*******

12 jam sebelumnya...

Alif gelisah. Ia tak bisa tidur malam ini. Malam terasa mencekam baginya. Sudah tiga hari ia tak lagi bekerja. Sudah tiga hari pula teman-teman sepermainannya menjauhi dirinya. Ia sedih. Ia bingung dengan penolakannya seminggu yang lalu.

"Ah, kamu tidak asik lagi," Salah satu teman mencibirnya.

"Iya. Kamu tidak mau lagi kerja bareng kita, Kamu bakalan nyesel deh," ancam seorang temannya lagi.

Ia hanya bisa diam. Tertunduk. Teman-teman bergantian menuding-nudingnya. Mengancam.

Namun keputusannya sudah bulat. Ia justru lebih menyesal jika tak berhenti dari pekerjaannya. Meskipun, ia tahu, tak mudah meninggalkan pekerjaan yang selama ini ia geluti. Dan satu-satunya yang selalu memberikannya penghidupan sesuap nasi.

Kini, ia sendiri menempati rumah semi-kardusnya. Tak ada lagi Nek Iteh yang makan bersamanya. Nenek yang satu-satunya menjadi keluarganya di pinggiran rel kereta api ini. Sejak kecil, ia tidak tahu siapa bapak-ibunya. Bahkan ia juga tidak tahu mengapa ia mesti dilahirkan. Nek Iteh lah yang perlahan mengajarinya untuk memaknai hidup. Tidak terlepas hingga di akhir ajal menemui tua renta itu.

"Nak, aku tidak ingin memaksakan sesuatu padamu. Kubiarkan kau cari sendiri pemahamanmu. Kebaikan pasti akan selalu menemui jalannya padamu. Cukup bagiku untuk selalu mengajak dan mengajarimu arti kebaikan itu. Meskipun nenek tak mau menerima hasilmu yang seperti itu," tutur Nek Iteh lembut sambil mengusap kepala Alif. Ia bersikukuh tak ingin menggunakan uang hasil copetan Alif untuk berobat sakitnya. Lama, Nek Iteh terbaring sakit. Alif yang cemas berusaha memperoleh uang sebanyak-banyaknya. Ia ingin neneknya sembuh.

"Tapi....Nek, kalau nenek tidak berobat, nenek bisa sakit terus," Suara Alif bergetar. Tangannya menggenggam tangan neneknya yang keriput. Tangan yang lainnya masih memegang uang hasil "buruannya".

Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, Nek Iteh hanya tersenyum. Dengan sisa-sisa kekuatannya, senyum itu menyiratkan sebuah makna bagi Alif kecil. Sebening embun, setetes air mengalir dari kedua pelupuk mata Alif.

Ia bangun. Mengingat neneknya hanya menyisakan penyesalan bagi dirinya. Sesal itu datang, sesak itu hadir begitu saja. Ia terisak menangis. Sendu.

Perlahan ia menengadahkan tangannya ke atas. Ia sering melihat orang-orang di masjid melakukannya.

"Tuhan.....aku bingung bagaimana mereka berdoa pada-Mu,"

Langit yang kelam tiba-tiba menunjukkan blitz cahayanya. Kilat menyambar diikuti gemuruh berlipat-lipat. Pertanda akan turun hujan.

"Aku, a...ku ingin berdoa buat Nek Iteh, Tuhan..." Ia terisak. Air mata telah membanjiri kedua pipi polosnya itu, "Aku menyesal, sudah, mencuri... Ampuni Nek Iteh, Tuhan,"

Hujan pun turun. Berdenting di atap-atap rumah penduduk. Guyuran air itu membasahi rumah kecilnya yang terbuat dari kardus. Sekaligus, hatinya basah oleh siraman hujan penyesalan dari dalam hatinya. Menyejukkan.

*******


"Kamu sudah ada disini, kan? Trus, kenapa ndak ikut masuk?"

Malu-malu, sambil tetap tertunduk, ia menjawab, "Saya masih belum tahu caranya shalat,"

"Kamu kesini mau belajar, kan?" Lelaki itu mengerti. Ia lantas tersenyum. Duduk dan merangkul bahu Alif kecil. Ia tak perlu merasa risih sedikitpun dengan tatapan-tatapan orang yang lalu-lalang di sekitarnya. Ia paham, ada secercah keikhlasan yang hari ini ditemukannya.

Alif mengangguk pelan. Masih tak berani menatap wajah orang di hadapannya itu.

"Kalau begitu, tunggu apa lagi?" ujar laki-laki itu. Ia menuntun Alif mendekat ke arah mushallah. Alif, diam-diam melihat raut wajah orang yang menuntunnya. Lamat-lamat ia merasakan keteduhan di wajahnya. Ia mengangguk, mengusir kegundahan hatinya. Ia kini bisa mendoakan neneknya. Susah payah ia mengusap air matanya. Kebaikan ini baginya benar-benar menyejukkan.



--Imam Rahmanto--

Makassar, 20/5.2012



*inspired by song Alif Kecil

Ketika malam datang mencekam
Kulihat si Alif kecil yang malang
Duduk tengadah ke langit yang kelam
Meratapi nasib diri
Kilat menyambar hujan pun turun
Semakin basah hatinya yang resah
Kapankah semua ini kan berakhir
Di jalanan penuh duri


ya Allah, tunjukkan jalanMu pada si Alif kecil
Agar ia dapat menahan cobaan dan rintangan yang datang menghadang
Menuju cahaya Ilahi

Kamis, 17 Mei 2012

Aku, Segelas Cappuccino - part III end

Mei 17, 2012

Sumber gambar: Google Search
Suara alarm di handphonenya memecah kesunyian pagi. Belum sempat berdering setengah jalan, tangan Bintang meraihnya. Mematikan.

Ia sudah terbangun sejak tadi. Lebih tepatnya, terjaga sejak semalam. Aku masih dibiarkan tergeletak di sampingnya. Sesekali ia menggeserku untuk mendapatkan posisi yang tepat.

"Akhirnya selesai juga," lirihnya.

Ia memperbaiki posisi duduknya. Berselonjor. Semalaman ia menghabiskan waktunya berhadapan dengan teknologi-teknologi biner itu. Lesehan, karena memang kamarnya tak pernah dilengkapi dengan meja belajar seperti mahasiswa kebanyakan.

Ia pun senang menghabiskan waktunya bersamaku. Sejujurnya, dia lebih suka menikmati minuman selain aku. Sesuatu yang dingin dan menyegarkan. Seperti dirinya yang selalu dianggap dingin oleh orang-orang yang belum mengenalnya.

"Cuek," begitulah yang sering kudapati kisah-kisah di dalam hatinya. Sejatinya, aku mengenalnya, ia menyimpan berjuta masa kanak-kanak yang ia pendam hingga kedewasaannya kini. Tak jarang, masa itu muncul ke permukaan.

Akan tetapi, jika malam sudah tiba, ia kan memilihku. Ia "alergi" dengan minuman dingin di malam hari. Sedikit saja diteguknya, ketahanannya akan goyah. Kantuk dan makin terlelap. Meninggalkan suasana malam yang selalu didambakannya.

Ia bermaksud merebahkan badannya. Mengembalikan sedikit tenaganya yang terkuras. Namun aku tahu, seperti biasa, ia akan tertidur tanpa sadar.

"Hei, bukan lagi saatnya untuk tidur," Aku mencoba menegurnya sebelum ia benar-benar terlelap. Ia harus ingat untuk apa semalaman ia bertahan sampai pagi. Tugas. Paper.

"Ayolah, sahabatku.. Kau tidak mau hasilmu pagi ini sia-sia, kan," Aku berusaha meyakinkan melalui sugesti-sugesti bawah sadarnya.

"Masih jam enam pagi," ucapnya dalam hati. Ia lantas bangkit dan keluar dari kamar. Ia menghirup napas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. Pelan. Meniti setiap hawa pagi yang menyenangkan. Aku pun tahu, setiap datang pagi seperti ini, maka ia kan teringat masa-masa yang takkan pernah dilupakannya. Akh, sudahlah, aku tak ingin - lagi - bercerita tentang nama itu. Aku cemburu.

"Sudah lama aku tak merasakan udara sepagi ini," ujarnya sambil meregangkan otot-otot lengannya yang kaku. Lantas, ia menjauh dari pandanganku. Aku tahu, ia bermaksud menikmati udara yang masih perawan ini dengan berjalan-jalan.

*******

Kosong. Aku tak lagi mengisi gelas semalam. Ia tadi telah mencampakkanku. Bukan karena ia tak suka, melainkan karena aku telah jauh dari definisi "hangat". Sekali lagi, aku tak mati. Aku telah menyatu dalam dirinya. Menyaksikan dan merasakan apa yang ia alami. Menyaksikan dan merasakan pula apa yang akan ia perbuat terhadap apa yang ia alami tersebut.

Ia bersiap. Tadi, seorang temannya baru saja menelepon. Memastikannya untuk dijemput sebentar lagi. "Ok, kawan. Aku tunggu disini ya..." ucapnya menutup telepon.

Ia memastikan laptop di depannya telah te-refresh dengan sempurna. Semalaman dinyalakan, acapkali membuat perangkat-perangkatnya memanas, yang akhirnya bisa mengakibatkan crash. Sambil menunggu temannya, ia menyempatkan diri memainkan keyboardnya. Program word yang dibukanya telah dipenuhi oleh beberapa karakter huruf. Ia menuliskan sesuatu.

Sebelum aku tahu apa yang dituliskannya, seseorang sudah mengetuk pintu kamarnya.

"Bintang!" seseorang memanggilnya, "yang bersinar di langiit," lanjut suara itu lagi.

"Iya, iya tunggu sebentar," Ia mengalihkan perhatiannya. Dibukanya pintu kamar seraya memelototi si empunya suara. Dika, yang dipelototi, hanya bisa memasang wajah jahilnya.

"Lho, katanya sudah siap?" Dika memastikan.

"Sudah, kok. Cuma, sambil nunggu, iseng-iseng aja nulis," Bintang beranjak merapikan laptop milik Dika. Men-shutdown usai menutup aplikasi yang dibukanya tadi. Sekilas, terlihat setengah dari tulisannya sebelum aplikasi itu tertutup sempurna.

Lamat-lamat terbaca, tentu aku akan tersenyum seandainya aku memiliki bibir layaknya manusia. Ia menghargaiku. Tak kusangka sejauh itu, meskipun ia tak menyadari sepenuhnya kehadiranku. Nyatanya, ia menuliskan sebuah kisah tentang, "Aku, Segelas Cappuccino".

Karena akulah segelas cappuccino yang akan memberinya kehangatan dalam kesendiriannya, dan menciptakan kehangatan dalam kebersamaannya. Inspirasinya, bukan datang dariku. Ia datang dari tulisan-tulisannya. Aku hadir, hanya sebagai pembuka jalan, membisikkan rahasia-rahasia kehidupan....

Aku yakin, ia kan bersinar menjadi penunjuk jalan...


(end)

__potongan kisah sebelumnya__
--Imam Rahmanto--




Rabu, 16 Mei 2012

Eliana: Mempertahankan Kearifan Hutan

Mei 16, 2012
republika.co.id
Judul Buku        : Eliana
Penulis              : Tere Liye
Tebal buku        : 524 halaman
Penerbit            : Republika Penerbit
Tahun Terbit      : 2011

"Urusan ini bukan sekadar bilang 'tidak', Eli. Kita harus pintar, tahan banting dan punya daya tahan menghadapi mereka. Hanya dengan itu kita bisa memastikan seluruh warisan hutan dan kebijakan leluhur kampung bertahan puluhan tahun."

Ayahnya berulang-ulang kali mengingatkan Eliana si Anak Pemberani. Ia keras kepala, melawan kerakusan tambang pasir di desanya dengan keberaniannya.

Eliana membawa kita untuk jauh berkenalan dengan kearifan alam. Dengan kepolosan seorang anak pemberani yang berusaha sekuat tenaga menjaga warisan hutan leluhurnya.

Sekilas, cerita tentang pelestarian alam sudah "basi" di telinga kita. Saya sudah sering membaca buku - ketika masih menginjak SD - mengenai hutan dan lingkungannya. Bagaimana kerusakan-kerusakan yang terjadi, tokoh anak-anaknya - yang selalu digambarkan berani menentang orang dewasa -, perjuangan "pembebasan” hutannya, sampai konflik petualangan yang dihadapi tokoh-tokoh ciliknya.

Cerita yang disajikan Tere Liye dalam serial anak-mamaknya ini sungguh berbeda. Saya bisa merasakan semangat dari keberanian yang dipancarkan Eliana. Bersama tiga orang temannya - Marhotap, Hima, dan Damdas yang membentuk geng "Empat Buntal", mereka mengadakan perlawanan menolak tambang pasir di kampungnya. Kebencian Eliana pun menjadi-jadi ketika salah satu rekan gengnya menjadi korban kerakusan orang-orang kota itu. Marhotap yang sebelumnya merupakan musuh Eliana, menyerang malam-malam sendirian, hingga harus menyisakan sebuah misteri duka yang baru terbongkar oleh kearifan alam itu sendiri.

Kisah utama - mengenai perlawanan - pun tidak melulu menjadi fokus utama cerita, yang pada dasarnya hanya akan membuat bosan para pembaca seperti saya. Di balik usaha perlawanannya, saya melihat ada banyak kearifan yang dibagi pada novel ini. Saya sebagai pembaca ternyata banyak belajar dari kepolosan anak-mamak ini. Belajar tentang kearifan keluarga. Sedikit bisa mengundang tawa menyaksikan kepolosan tingkah polah mereka. Bahkan, cerita-cerita di dalamnya pun sedikit dibumbui dengan kisah perjalanan cinta bapak-mamak sewaktu masih muda.


"Kata tetua bijak, manusia memiliki sendiri hari-hari spesialnya. Ada hari ketika ia dilahirkan, hari mulai belajar merangkak, hari mulai berjalan hingga bisa berlari. Manusia tumbuh besar dengan hari-hari. Jatuh, bangun, sakit, sehat, tertawa, menangis, sendirian, ramai, sukses, gagal, semua dilalui bersama hari-hari. Tentu termasuk salah-satunya hari ketika kita bertemu dengan pasangan hidup."

Ketika saya lebih jauh membacanya, ada banyak kepingan-kepingan "penasaran" yang terlintas di kepala saya. Saya akui, Tere Liye selain pandai mempermainkan emosi pembacanya (beberapa buku yang sudah saya baca), ia juga mampu mengolah cerita sedemikian rupa hingga membangun rasa penasaran di tiap potongan kisahnya. Saya malah selalu ber-Yaa penasaran. Ketika penasaran itu muncul, perlahan kisah lainnya sejenak (melupakan) penasaran itu. Akan tetapi, tanpa diduga-duga ia mengapungkannya kembali di tengah-tengah saya sudah sedikit "mengikhlaskan" rasa penasaran itu.

Saya yang sudah pernah membaca salah satu serialnya, Burlian, semakin dibuat penasaran untuk membaca serial lainnya (Pukat, Amelia). Secara kisah, keempat nama itu merupakan anak-anak mamak yang dibesarkan dengan penuh ketegasan dan kedisiplinan. Meskipun disebut "serial", masing-masing punya kisah sendiri - namun tetap membentuk mata rantai - hingga akhir cerita. Tiap satu buku berkisah, saya akan menemukan potongan-potongan kisah dari buku lainnya yang akan membuat saya ber-Oo.... Namun di akhir cerita, saya akan setengah mati penasaran ingin membaca serial lainnya, "Yaaaa....".

Ini bukan sekadar cerita "anak-anak" seperti ketika saya membaca covernya, serial anak-mamak. Lebih dari itu, novel ini merupakan sebuah bacaan keluarga yang pantas dibaca oleh siapa saja.



--Imam Rahmanto--

Selasa, 15 Mei 2012

Menulis, Memulai dari Hal Kecil

Mei 15, 2012
Ilustrasi: ImamR

Mungkin bagi sebagian orang menulis adalah hal yang mudah. Berpikir sejenak lalu tuliskan. Namun pada kenyataannya tidak demikian semudah itu.

"Saya bingung bagaimana memulai sebuah tulisan," kata-kata yang sudah lazim saya dengarkan dari teman-teman saya.

Memang benar, tidak mudah untuk memulainya, jika kita terlalu lama berpikir. Padahal menulis itu tidak butuh banyak berpikir. Cukup menuliskan apa yang dipikirkan.

"Mulailah dari diri sendiri, mulailah dari hal yang paling kecil, dan mulailah dari sekarang," yang dislogankan oleh pendakwah kita, Aa Gym, ada benarnya juga. Hal tersebut juga berlaku dalam sebuah tulisan. Memulai dari hal yang paling kecil.

Untuk memulai pun tidak ada mekanisme yang pasti seperti apa. Tiap personal punya cara sendiri untuk memulai sebuah tulisan. Berdasar selera saja. Namun cara paling simple yang bisa kita terapkan adalah dengan mulai memperbaiki tulisan kita dalam bentuk apapun, baik short message service (sms), Blacberry messenger (BBM), status facebook, twitter, komentar-komentar di jejaring sosial, dan sejenisnya. Sederhananya, berhentilah menggunakan bahasa-bahasa singkatan sekaligus "alay" di segala bentuk tulisan tadi. Membiasakan diri untuk tidak terjebak dalam pencideraan tata bahasa.

Penyingkatan tulisan dalam sms seharusnya tidak lagi dipengaruhi persoalan pulsa. Toh, sudah banyak provider yang menyediakan biaya gratis - paling tidak biaya murah - untuk sekali pengiriman sms. Selain itu, gadget yang dimiliki pun tidak lagi begitu membatasi penggunaan karakter huruf melalui sms.

Facebook? Jangan ditanya lagi. Maka sudah sewajarnya tulisan di dalamnya ditulis "biasa-biasa" saja, termasuk komentarnya. Tak perlu pakai bahasa alay. Saya malah pernah ditegur di salah satu lapak Kompasiana ketika berkomentar menggunakan bahasa sms. Disingkat, sesingkat-singkatnya. Hehe...

Untuk jejaring yang memang masih membatasi jumlah karakter tulisan, sebisa mungkin membuat tulisan tidak usah panjang-panjang dan disingkat alay. Apalagi jika ingin tulisan/ status kita dimengerti para pembacanya. Dikarenakan kita tidak membayar sejumlah karakter di dalamnya, lalu buat apa disingkat-singkat?

Memulai dari hal yang paling kecil tentu bisa membawa perubahan yang besar. Setidaknya dalam hal pembiasaan kita menulis. Memulai dari diri sendiri, sebelum mengajak orang lain. Jika kita sudah membiasakan, mencontohkan, semoga bisa meng-influence orang lain. Tidak perlu menunggu terlalu lama jika memang bisa dilakukan saat ini. Maka, mulailah dari sekarang juga.

It's so simple, kan..


--Imam Rahmanto--

Senin, 14 Mei 2012

Aku, Segelas Cappuccino - Part II

Mei 14, 2012
Part 2

Sumber Gambar: Google Search

Sudah dua kali ia menyeduhku. Tampaknya ia tak ingin terlelap malam ini. Apa pasal? Tugas kuliah yang ditumpuknya sejak seminggu lalu masih terbengkalai. Beragam paper menjelma menjadi santapan malamnya. Tugas-tugas berbau “ilmiah” sejenak mengalihkan perhatiannya dari menulis itu sendiri. Ia senang menulis, tapi bukan seperti itu. Seperti yang kutahu, ia mendambakan kebebasan dalam berkarya.

Sejak sore tadi, ia sudah berkutat dengan laptop hasil pinjamannya. Ia beruntung masih ada teman seperti Dika yang berbaik hati mau membantunya.

“Dik, pinjami laptopmu, dong,”

“Mau buat apa?” tanya Dika.

“Ya, buat kerja tugas lah. Soalnya komputer di kamarku lagi rusak,” jawabnya santai sambil berjalan beriringan dengan Dika. Ia dan Dika baru saja pulang dari kampus.

“Ayolah.....sehari saja,” pintanya lagi. Kali ini ia memasang muka memelas pada teman sekampusnya itu.

“Oke, deh. Tapi harus dijaga baik-baik, ya?” seperti biasa, Dika tak akan pernah bisa menolak permintaan Bintang.

“Pasti!” serunya bersemangat.

Berulangkali ia membolak-balikkan buku yang ada di tangannya. Buku yang agak tebal. Aku tak tahu apa isinya. Tak ingin pula untuk tahu. Melihat raut wajahnya yang terlipat saja sudah membuatku enggan untuk mencari tahu soal buku itu. Cukup saja aku dengan setia menemaninya hingga tegukan terakhir.

******

Aku mencoba meniti setiap raut wajahnya. Ada yang berbeda. Detak jantungnya seakan sedang beralun dengan gerakan cepat. Tak ada irama. Matanya teliti menatap sekeliling kamar. Tatapannya berhenti padaku.

“Aduh, pasti sudah dingin,” sesalnya seraya mengangkatku. Ia sama sekali belum sempat menyentuhku ketika ia terlelap tanpa sadar di tengah-tengah kesibukannya. Aku tak perlu bertanya mengapa ia mendadak terbangun di sepertiga malam ini. Biarkan aku menelusuri lorong-lorong hatinya, mencari tahu.

Lagi, ia memimpikan satu nama itu. Nama yang telah lekat-lekat di hatinya. Sekeras apapun ia berusaha menjauhkan pikirannya dari nama itu, ternyata mimpi-mimpi tentangnya selalu menghampiri. Sesungguhnya ia bahagia memimpikannya, namun ia juga sakit jika harus mengingat nama itu.

“Ah, sudahlah. Ingat tugasmu barusan yang kau tinggalkan,” aku berusaha men-sugesti lewat hatinya. Berharap, ia bisa menyelesaikannya tepat waktu. Mengalihkannya dari nama itu.
 

Pandangannya berangsur pada layar laptop di sampingnya. Hitam. Hanya kedap-kedip lampu indikator yang menandakan bahwa perangkat masih dalam mode sleep. Pikirannya flashback ke belakang. Sontak, ia teringat akan tugasnya yang masih belum terselesaikan.

Ia membiarkanku di sampingnya. Lebih tepatnya, tak menghiraukanku. Tergeletak dalam dingin tak beraroma. Pasrah, hanya bisa menyaksikannya membolak-balikkan buku-buku tebal itu lagi. Padahal, aku juga cemas melihatnya. Setiap malam, ia selalu menghabiskan waktunya hingga dini hari. Ia tak peduli dengan kesehatannya. Acuh terhadap penyakit yang kelak akan menghampirinya. Andai itu terjadi, siapa lagi yang akan mempedulikannya? Aku hanya bisa peduli, namun tak bisa membantu. Ia tak tahu, aku hanya bisa membaca hatinya dan sedikit membisikkan sugesti-sugesti tak nyata.

Aku memandang ke atas langit. Bintang menyebar begitu indahnya. Satu sama lain membentuk formasi rasi bintang. Dari kamar ini, aku bisa melihat rasi bintang Biduk, seperti yang dulu sering ia gumamkan.

“Lihatlah,” aku berusaha menunjuk ke langit, tentu saja tidak bisa. Siapa aku, apa aku. Maka lebih baik kubisikkan sugesti-sugesti itu padanya.

Sejenak, ia menghentikan pekerjaannya. Dipandangnya langit itu. Terlintas seulas senyum dari bibirnya. Aku tahu, ia teringat masa kecilnya. Setiap malam, selalu menghabiskan waktu di luar rumah sambil menunjuk-nunjuk bintang di langit. Ayahnya pula yang mengajarkan setiap nama-nama rasi bintang itu padanya.

“Ingatlah, engkau akan bersinar cemerlang seperti bintang di langit. Meski sudah ada bulan yang terang cahayanya selalu dipuja-puja orang, bintang tetap istimewa. Tanpa bintang, orang-orang akan kehilangan arah. Tak tahu mana selatan, mana utara. Kapan hujan, kapan kemarau,”

“Kelak, engkau tak perlu menjadi orang yang dipuja-puja atau dihormati. Cukup dengan menjadi orang yang berguna dan selalu dibutuhkan oleh orang lain, engkau akan dihargai,” bisikku menirukan suara hati ayahnya yang selalu ia simpan hingga sekarang.

Ketetapan hatinya mantap. Ia kembali menyibakkan ingatan-ingatan itu. Tak ingin berlama-lama tenggelam di dalamnya. Tersisa kurang dari tujuh jam baginya untuk menyelesaikan paper itu tepat pada waktunya. Kantuk tak lagi ia rasakan. Ia bersikukuh akan bertahan hingga pagi hari, menjelang kuliah jam pertamanya. Ia yakin, ia akan tetap bersinar malam ini. Aku akan menemaninya bersinar meski ia tak punya pemanas sekadar untuk mengembalikan kehangatanku. Biarlah, aku rela dicampakkannya pagi-pagi.





__potongan kisah sebelumnya__
__potongan akhir__
......to be continued.

--Imam Rahmanto--

Jumat, 11 Mei 2012

Aku, Segelas Cappuccino - Part I

Mei 11, 2012
Part 1
Sumber Gambar: Google Search


Berjam-jam lamanya aku menemani ia di depan layar komputer. Ia menenggelamkan diri dengan kesibukan yang entah kenapa begitu banyak menyita waktunya. Ia tak peduli waktu. Dibiarkannya sang waktu terus bergulir tanpa ampun. Justru dialah yang ingin berimprovisasi dengan waktu demi kesibukan yang dijalaninya.

“Aku ingin terus seperti ini. Kesibukan bisa sedikit memberikan racun buat memoriku. Meskipun aku harus mengorbankan beberapa hal, aku ingin melupakannya,” lirihnya.

Aku cemburu. Hatinya berusaha menghilang dari sejati perasaannya. Ia sering berbicara tentang “cinta” yang tak pernah kumengerti wujudnya. Meskipun aku tahu, ia tak akan pernah bisa melupakan yang berusaha dilupakannya. Tanpa ia tahu, aku pernah mengacak-acak hatinya. Memeriksa kedalaman hatinya. Dan aku menemukan satu nama itu. Jelas sudah, kesibukan sebagai obat yang diandalkannya hanya akan menjadi “penghilang rasa nyeri”. Sekadar pengalih perhatian sesaat.

Aku cemburu. Tak sekalipun ia menyentuhku ketika jari-jarinya sudah menari-nari di atas tuts-tuts keyboard. Pun ketika ia menyentuhku, pandangannya tak pernah lepas dari layar komputer. Diteguknya aku sedemikian rupa lalu dilupakan selepas mendapatkan kehangatan yang ia dambakan. Aku tak ingin cemburu. Karena ia selalu memilihku sebagai “teman” di kala sunyi malam menyapanya sendirian. Seperti malam ini.

Seperti kataku tadi, aku tak mengerti siapa atau apa “cinta” itu. Yang aku tahu, aku suka dia karena dia pun menyukaiku.

“Aku suka kamu. Dimana pun aku berada, aku pasti kan mencarimu,”

Begitulah yang selalu dijanjikannya padaku. Maka, aku pun menjadi sahabatnya. Segala kekuranganku tak pernah begitu dipikirkannya. Ia selalu berkata, “Kesempurnaan sejati adalah ketika kita mampu menerima segala kekurangan yang ada,” dan aku terhanyut mendengarnya.

Meskipun aku tak bisa bicara dengannya, segala yang tak dimengerti olehnya kubisikkan melalui hatinya. Darinya pula aku bisa mengerti banyak hal. Tanpa ia sadari, ketika aku telah sampai di kerongkongannya, aku mampu menjelma jadi apa saja dan memeriksa di kedalaman hatinya. Tak perlu heran, aku akhirnya tahu dia yang sejatinya.

Sejujurnya, aku senang bersama dengannya. Ia selalu menghabiskan waktunya di malam hari kala orang-orang sudah terlelap. Aku ingin tersenyum tatkala ia bercerita mimpi-mimpinya. Aku ingin tertawa ketika ia dengan malu-malu menyebut satu nama. Ya, nama itulah yang banyak kutemukan padanya. Aku ingin menangis pula menyaksikan ia terhimpit oleh banyak beban akibat kesibukannya. Namun, ia selalu berusaha tegar dan tak ingin dikasihani, apalagi olehku.

“Aku kuat kok. Tak apa-apa,” bohongnya selalu di sampingku.

Sekali lagi, aku bisa menjelma mengacak-acak informasi dalam hatinya. Orang lain bisa tertipu, tapi tidak denganku.

Aku senang bersama dengannya. Menanti pagi. Menurutnya, akulah Cappuccino yang tepat untuk membuatnya tetap terjaga sepanjang malam. Di sunyi malam seperti ini pula aku sering membisikkan satu persatu rahasia alam. Menginspirasinya. Membuatnya lancar menekan tombol keyboard.  Membuatnya semakin percaya akan mimpi-mimpi yang disusulnya. Membuatnya menghadiahkanku segaris senyum di bibirnya seraya menuliskan kisah tentangku.

Namun, aku cemburu, lagi. Dari sorot matanya, aku bisa tahu ia sedang menanti sesuatu selain pagi. Seperti ketika kemarin ia menerima short message dari sesosok nama di hatinya itu. Dan aku tahu, irama hatinya lantas berubah menjadi indah. Atau mungkin, nama itulah yang selalu diharapkannya, meskipun ia tahu nama itu telah nyata-nyata menampiknya.

Ah, sudahlah. Aku tak ingin berbicara tentang masalah hati. Tak sejelas “cinta”, aku selalu berbeda. Aku sudah bosan mendengar istilah “cinta” dari orang-orang yang menikmatiku. Aku sering menemani para remaja kalangan atas untuk sekadar hang-out di kafe-kafe. Tak jarang aku dibandrol dengan harga mahal sesuai dengan tingkatan kualitas aromaku. Sayang, sahabatku tak pernah merasakan nikmatnya aku di kafe-kafe ternama.

“Bersabarlah, kawan. Kau pasti kelak menikmatiku lebih lama disana. Kau bahkan bisa mengajak kawan-lawanmu,” ujarku selalu. Namun, lagi-lagi ia disibukkan oleh tulisannya yang tak kunjung-kunjung selesai.

Aku, cappuccino berbeda dengan kopi, teh, atau susu. Aku tahu, sahabatku enggan menikmati susu. Baginya, susu mempercepat rasa kantuknya sebelum ia benar-benar menikmati sunyinya malam.

“Aku dulu pernah suka minum susu, tapi itu saat aku masih kecil-kecilnya. Di masa-masa sekolah dulu, aku adalah siswa yang paling pendek. Makanya aku rajin minum susu,” katanya tanpa menggerakkan sesenti pun bibirnya. Aku kan sudah bilang, aku tahu yang dipikirkannya tanpa diucapkannya. Dan aku tahu, ia tersenyum lucu.

Pada akhirnya, ia sudah membuktikan, tanpa meminum seteguk susu pun ia bisa “tumbuh”. Ia memilihku, karena aku bisa menemaninya terjaga. Going to the extra miles, selalu didengung-dengungkannya. Bekerja di atas rata-rata orang lain. Jika orang lain bekerja hingga larut malam, maka ia akan bekerja hingga dini hari. Tak ada yang bisa kulakukan lagi sebatas memberikan senyum chocolate granule-ku.

Ia tak suka kopi. Ayahnya penyuka kopi. Ada trauma masa kecil yang ia rasakan atau mungkin disembunyikan jika harus berhadapan dengan kopi. Tentang ayahnya dan tentang keluarganya. Ia sampai hari ini berusaha menjauh dari “ampas” kopi.

Teh, hanyalah pilihan alternatif ketika ia tak bertemu denganku. Sudah kesekian kalinya ia harus berteman dengan teh. Terlebih jika ia sudah berkumpul dengan rekan-rekan kerjanya. Di tiap tegukannya pada teh, ia akan selalu mengingatku.

Sejenak, irama ketukan jarinya berhenti. Aku melihat lebih tinggi ke arah layar komputernya. Waktu sudah menunjukkan pukul 03.13 dini hari.

Ada apa?” aku bertanya, meskipun tidak akan dijawabnya.

Ia menegukku hingga habis. Aku tak mati. Aku telah menjelma ke dalam dirinya. Seraya menjauhkan dirinya dari layar komputer, ia merebahkan dirinya ke lantai. Seperti biasa, ia akan terbawa dalam arus lelapnya. Dan lagi, aku telah menemani untuk ke sekian kalinya malam ini, membagi kisahku dengannya.



--Imam Rahmanto--

Senin, 07 Mei 2012

Berburu Buku Murah di Senen

Mei 07, 2012

Sebagai seorang yang gemar menulis, saya juga tidak boleh lepas dari membaca. Penulis yang baik adalah pembaca yang baik. Beberapa buku bacaan sudah banyak memenuhi lemari kamar saya. Targetnya, paling sedikit harus ada 20 buku koleksi saya.

Menurut kabar yang saya dengar, di Jakarta ada tempat yang menyediakan buku-buku murah. Maka tak mau ketinggalan, saya ingin berburu buku-buku murah disana, Pasar Senen. Yah, meskipun uang yang ada tidak mencukupi.

Buku-buku disana ternyata benar-benar murah. Tiap buku bahkan berselisih hingga 80% dari harga buku di toko aslinya. Jika kita biasa membeli buku seharga Rp60ribu si Gramedia, maka di Pasar Senen kita sudah bisa membandrol tiga buku dengan uang sebanyak itu. Benar-benar murah, kan?

Saya pun terkejut bercampur kegirangan ketika tahu perbedaan harganya. "Wah, seandainya saya punya banyak uang, sudah saya penuhi tas saya dengan selusin buku," gumam saya.

Akan tetapi, buku-buku yang dijajakan disana bukanlah buku-buku keluaran pabrik aslinya. Buku-buku tersebut merupakan hasil cetakan "sendiri" dari agen lain. Oleh karena itu, wajar, kualitasnya masih kalah dengan buku-buku yang sering kita temui di Gramedia.

"Yang penting bisa dibaca lah," ujar kawan saya menanggapi.

Terkadang, akan ditemui buku-buku yang lembarannya hilang, cetakannya buram, jilidannya kusut, isinya lecek, dsb. Kualitasnya memang masih dipertanyakan. Oleh karena itu, butuh ketelitian ketika membeli buku disana. Jangan asal beli. Pun, pandai-pandai menawar juga sangat penting. Saya, dengan uang Rp40ribu bisa membawa pulang dua buku (novel) keluaran terbaru. Setahu saya, harga di toko sekitar Rp70ribuan.

So, bagi yang ingin berburu banyak buku namun uang tak mencukupi, maka Pasar Senen bisa jadi tempat alternatifnya.


-Imam Rahmanto--



ImamR

Jumat, 04 Mei 2012

Mengunjungi Monas

Mei 04, 2012


Siang masih sangat terik ketika kami tiba di kamar hotel. Perjalanan dari Universitas Indonesia (UI) dengan memanfaatkan jalur kereta commuter line menghabiskan waktu selama 25 menit. Belum usai jadwal company visit kami (MNC dan Jakarta Post), saya bersama teman-teman sudah "melarikan diri." Mangkir sedikit, yo wis lah... Saya tidak ingin lagi mengulang kesalahan saya sebelumnya; tidak menyempatkan diri untuk menikmati kota Jakarta.

"Mau kemana kita?" adalah pertanyaan yang klise jika berada di tempat-tempat yang baru. Beruntung, tempat kami menginap (dekat MNC tower) adalah tempat yang strategis untuk persoalan jalan-jalan. Berdasarkan survei GPS, Monumen Nasional (Monas) yang menjadi kebanggaan orang Jakarta hanya berjarak setengah kilometer. Tapi, menurut kawan saya yang telah lama tinggal disini, di Jakarta orang-orang tidak berbicara soal jarak. Jika akan melakukan perjalanan, biasanya yang mesti diperhitungkan adalah tempat 'berapa lama'. So, bukan 'berapa jauh'. Saking macetnya kota ibukota kita.

Untuk mengawalinya, kami sepakat (memanfaatkan naluri penasaran) menjelajah jalan Kebon Sirih demi menemukan jalan ke Monas. Selang beberapa menit, kami akhirnya menemukannya.

Perasaan bahagia kami pun disambut oleh kawanan rusa yang ada di balik pagar taman monas. Tentunya, sebagai orang luar Jakarta, kami tak ingin melewatkan momen berharga ini. Dokumentasi harus berjalan sebagaimana perlunya.

Tugu Monas dikelilingi oleh taman-tamannya. Orang-orang bisa berjalan-jalan di sekitar taman itu sekadar untuk istirahat. Di tiap-tiap jalan paving blocknya, berselang-seling pedagang-pedagang souvenir. Beraneka ragam miniatur monas, gantungan kunci, kaos oblong dijajakan buat para penikmat Monas. Mengabadikan momen di Monas pun bisa secara komersial. Ada tukang-tukang foto yang menawarkan jasa foto-langsung-jadi dengan memanfaatkan printer portable.

Antara taman dan tugu Monas dipisahkan oleh lapangan besar berpaving block yang mengelilinginya. Tanpa dinaungi satu pohon pun. Kalau hari lagi terik-teriknya, kulit bisa terbakar oleh panasnya matahari. Menurut para pedagang yang sering mangkal di sekitar sana, tugu Monas ditutup pada jam tiga sore. Oleh karena itu, tanpa buang-buang waktu, mulailah kami hunting beragam souvenir itu, baik sebagai ole-ole, maupun buat diri sendiri.

Puas berbelanja, kami kembali ke penginapan. Kali ini tidak dengan berjalan kaki, melainkan dengan bajaj. Sekali-kali mesti merasakan naik bajaj juga dong. Hehehe...

Pergi Monas jalan kaki, pulang Monas naik bajaj.

--Imam Rahmanto--

Jakarta, 2/5

ImamR

Jangan Selalu Percaya TV

Mei 04, 2012
Beberapa kali menangani maupun mengikuti event yang melibatkan artis maupun tokoh-tokoh di dunia hiburan kembali membangun pengetahuan baru buat saya. Ada banyak hal yang ternyata tidak boleh langsung kita percayai ketika berhadapan dengan layar kaca. Para penonton, termasuk saya, hanya disuguhi dengan sebuah skenario.

Lima hari menghabiskan waktu di kota Jakarta tidaklah cukup untuk mengenal dunia "real" sebuah panggung hiburan. Namun berdasarkan pengamatan saya, sedikit kesimpulan bisa saya petik; orang-orang di layar kaca tak seramah yang anda kira.

Di layar televisi, kita mungkin sering melihat para selebriti dengan ramahnya menyapa para penggemarnya, tak terkecuali dalam sebuah wawancara. Tak jarang mereka juga melemparkan senyum secara gratis. Hingga kita mungkin (para penonton) terbius oleh keramahan mereka di layar kaca.

Lihat saja ketika para fans begitu fanatiknya terhadap idolanya. Mengelu-elukannya. Memujinya dimana saja. Padahal mereka belum pernah bertemu langsung dengan idolanya itu.

Meskipun bukan fanatik siapapun, saya sudah merasakan bagaimana "asli"nya para bintang layar kaca itu. Sebelum bertemu, kita selalu menganggapnya "baik" dan pasti ramah. Akan tetapi, semua berbalik 180 derajat jika perlakuan di kenyataan yang lita dapati jauh lebih buruk.

"Ternyata dia begitu..."

Kita hanya bisa menggumam.

Sudah banyak tokoh-tokoh TV itu yang pada awalnya saya anggap, "Orangnya pasti ramah," dan kenyataannya jauh dari itu. Hanya untuk diminta wawancaranya saja saya harus tertatih-tatih. Nada bicaranya pun tak mengenakkan hati.

Jadi, saya sarankan; mengidolakan itu boleh dan wajar, namun tak usah terlalu fanatik jika belum pernah bertemu dengan orangnya secara langsung. Sebatas tahu latar belakang dan kehidupan si idola tidak menjamin sepenuhnya bahwa kita telah mengenalnya. Toh, tak kenal maka tak sayang.


--Imam Rahmanto--

Rabu, 02 Mei 2012

Kereta Refleksi Padatnya Jakarta

Mei 02, 2012

Tidak lengkap rasanya jika bertandang ke Jakarta tidak merasakan sensasi mengendarai keretanya. Kereta api listrik yang sehari-harinya hanya bisa ditemui di layar televisi mengantarkan kami ke stasiun Gondangdia. Usai mengikuti Forum Diskusi Nasional di UI, saya bersama kedua orang teman saya memutuskan untuk bertandang ke tempat salah satu senior LPPM Profesi di Jakarta.

Bepergian dengan kereta api listrik ( KRL) ternyata jauh lebih murah  ketimbang mengendarai angkutan umum semisal bus. Untuk KRL kelas bisnis (AC), cukup merogoh kocek Rp 6ribu. Sementara kelas ekonomi hanya Rp1500, tapi harus rela berdesak-desakan dengan penumpang yang lain. Bahkan atap KRL kelas ekonomi juga dinaiki para penumpang, sehingga akan benar-benar terlihat tumplek-blek. Sedangkan bus DAMRI yang kami tumpangi saat menuju Depok membandrol harga tiket Rp20ribu. Itupun hanya sampai di Pasar Minggu.

Kereta kelas ekonomi berbeda dengan komuter ctl (julukan buat KRL kelas bisnis), tidak satu pun penumpang diperbolehkan (baca: dibiarkan) naik ke atas atap. Hal itulah yang membedakannya dengan kelas ekonomi, menurut Delinda, LO kami. Selain itu, gerbong khusus wanita juga disediakan di kelas bisnis. "Jangan salah masuk, yang warna pink itu khusus cewek," wanti-wantinya.

Sedikit, saya mulai agak mengerti persoalan kereta api itu. Stasiun dimana. Isinya bagaimana. Rasanya bagaimana. Suasananya bagaimana. Dan justru dari kereta-kereta itulah saya melihat tumpah ruahnya penduduk di ibukota Indonesia ini. Dalam hati hanya bisa berujar, "Subhanallah! Apa penduduk ibukota sebanyak ini ya?" sambil geleng-geleng kepala.

Sumber Gambar: Google Search

Kereta kelas ekonomi menjadi cerminan sesungguhnya dari ibukota. Ia menjadi alternatif transportasi bagi masyarakat-masyarakat kelas bawah yang mewarnai kota ini. Tanpa memikirkan keselamatannya, para penumpang rela berdesak-desakan sampai duduk di pintu kereta. Tidak takut jatuh. Mereka yang naik di atas atap kereta malah abai terhadap kabel-kabel listrik di atas kepala mereka. Padahal sewaktu-waktu jalur listrik tersebut bisa saja merenggut nyawa mereka.

"Yang mesti disalahkan siapa ya?" Lagi-lagi geleng kepala.


Dari Depok, UI ke Gondangdia hanya memakan waktu 25 menit dengan memanfaatkan jalur kereta. Dan di Gondangdia itulah MNC Tower, tempat tujuan kami bisa ditempuh dengan jalan kaki. Kami sampai narik-narik koper menuju lantai 20. Hehe.. Setidaknya punya pengalaman di Jakarta, kan?




-Imam Rahmanto--

Perpustakaan Semegah Mall

Mei 02, 2012
Kokok ayam menyibak berulang-ulang. Dalam tiap aksennya, tidak ada yang beda. Hanya kokok itu berulang-ulang. Kucari ponsel yang berbunyi di sebelahku. Dengan sedikit “sentuhan” kokok ayam itu berhenti. Alarm itu berhasil membangunkanku. Setengah enam, seperti kemarin ketika aku terbangunkan suasana baru disini.
 


Hari kedua event Journalist Days dilanjutkan dengan Forum Diskusi Nasional (FDN). Acara ini hanya diperuntukkan bagi undangan finalis FDN, termasuk LPPM Profesi UNM sebagai finalis subtema 1 “Degradasi Idealisme Pers Mahasiswa”. Jumlah peserta diskusi tidak lebih dari 27 orang dari berbagai Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) se-Indonesia.
 

Menikmati pagi dengan segelas cappucino (tak pernah luput buat saya) sembari ngobrol bareng teman-teman dari LPM lainnya. Berbeda dengan hari pertama, kini kami bisa mengenal lebih banyak teman dari daerah lain. Adalah hal sia-sia jika kami tidak membangun persaudaraan diantara persma-persma se-Indonesia. Makanya momen ini perlu dimanfaatkan.
 

Kami diberangkatkan menuju Perpustakaan Pusat UI sebagai lokasi kegiatan berikutnya. Seperti biasa, mahasiswa senantiasa memanfaatkan kehadiran Bis Kuning (Bikun) sebagai transportasi alternatif berkeliling dalam lingkungan kampus UI, tak terkecuali bagi kami. Hanya saja, saya masih awam jika harus sendirian menggunakan Bikun yang dibedakan menjadi dua warna tersebut. Kedua warna itupun berasal dari kardus berwarna yang hanya bisa dilihat dari jendela depan bus. Merah dan Biru.
 

Perpustakaan UI yang dilengkapi dengan fasilitas-fasilitas mewah

Tiba di perpustakaan UI, terasa ada suasana yang agak berbeda. Gedung berlantai delapan itu lebih terasa mirip sebagai pusat shopping ketimbang sebuah perpustakaan. Saya berpikir, “Bagian mananya yang disebut sebagai perpustakaan?”. Saat memasukinya, hanya komputer-komputer “pencari buku” yang mencirikan tempat itu sebagai perpustakaan. Saya baru tahu perpustakaan disana ada tiga lantai setelah berdiskusi lepas dengan Mas Ade Armando.
 

“Kalian saat masuk menganggap gedung ini seperti apa?” tanyanya memancing rasa penasaran kami. Usai kami, kelompok subtema 1, berdiskusi satu sama lain, ia yang mendampingi kelompok kami kemudian bercerita banyak.
 

“Saya serasa memasuki mall, Mas,” jawab saya sekenanya. Meskipun begitu, ia membenarkannya.
 

“Bayangkan, gedung ini namanya perpustakaan. Tapi perpustakaannya cuma ada tiga lantai. Sisanya, seperti yang kalian lihat sendiri, jadi mirip mall,” ujarnya. Selain itu, ia pun berani bertaruh, buku apapun yang kami sebutkan dan ingin cari dijamin bakalan tidak ada, karena buku-buku yang tersedia adalah buku-buku lama.
 

It’s so embarassing, Ini merupakan sebuah pemborosan,” tutur dosen FISIP UI ini yang juga sering muncul di layar kaca.
 

Starbuck Coffee pun telah hadir dalam perpustakaan UI
Memang, semua teman-teman peserta dari daerah lain pun merasakan kesan serupa. Gedung yang berada di samping danau UI ini lebih cocok disebut sebagai sebuah mall. Bagaimana tidak, baru memasuki pintunya, kita sudah disuguhi dengan pemandangan toko (bukan perpustakaan) buku dan Starbuck coffee. Saya sama sekali tidak menemukan ruangan yang berisi jejeran-jejeran rak buku. Barulah ketika turun dari ruang diskusi (di lantai 6) untuk shalat, kami melintasi  perpustakaannya.
 

Menurut Mas Ade, ruangan-ruangan yang ada di gedung perpustakaan sama sekali tidak proporsional dengan nama “perpustakaan”nya. Arsitektur-arsitekturnya lebih mencerminkan sebuah pusat perbelanjaan. Dan itu bisa didapati ketika melintasi jalan-jalan di gedung ini. Mahasiswa-mahasiswa (entah semuanya atau sebagian yang saya lihat) bercengkerama layaknya sedang berada di Mall.
 

”Kalau di Makassar, gedung sebesar ini sudah bisa jadi kampus,” kelakar saya, yang hanya ditanggapi dengan tertawa oleh teman-teman saya.




--Imam Rahmanto--