Jumat, 20 April 2012

Waterboom ala Bantimurung

Saya dan empat orang lainnya dicegat di depan pintu masuk. Mata petugas jaga itu tajam menatap ke arah saya. Selidik. Ada kesan curiga yang dialamatkannya pada kami.
 

“Mana karcisnya?” tanyanya kemudian.
 

Petugas jaga itu tahu, tak satupun diantara kami yang memegang karcis masuk ke lokasi itu. 
******

Taman Nasional Bantimurng tidak hanya terkenal dengan kehidupan satwa kupu-kupunya. Meskipun mata kita tidak lagi disuguhi warna-warni kupu-kupu yang mengudara, namun masih ada pesona lain yang bisa dinikmati disana.
 

“Bantimurung masih tetap menarik, kok,”
 

Tidak salah, karena kita masih bisa menikmati suasana nan asri dan alami dari air terjun dan gua-gua alamnya, gua Batu dan gua Mimpi. Namun untuk saat ini, saya hanya ingin menceritakan mengenai air terjunnya saja. Lagipula saya juga baru sekali menginjakkan kaki di salah satu gua tersebut, sebentar saja.
 

Untuk menikmati sarana-sarana hiburan “alam” yang ada disana, tiap pengunjung akan berhadapan dengan petugas jaga di pintu masuk. No ticket, no entry. Istilah seperti itulah yang mungkin dialamatkan bagi pengunjung yang tidak memiliki karcis masuk untuk berwisata di lokasi air terjun. Oleh karena itu, tiap pengunjung diwajibkan untuk membeli karcis di loket sebelah pintu masuk.
 

Lain halnya dengan kami. Dikarenakan kami adalah rombongan organisasi dan sudah menyewa salah satu tempat di dalam lokasi (milik Dinas Pariwisata) untuk kegiatan kami, maka kami bisa bebas melenggang keluar-masuk. Ya, sebelumnya melapor juga lah.
 

“Coba kita bawa makanan juga,” ujar teman saya ketika berjalan diantara beberapa orang yang menikmati paginya dengan berpiknik. Mereka menggelar tikar (sendiri maupun sewaan) di beberapa lokasi yang rindang, kiri-kanan jalan.
 

“Kita kan bukan mau piknik. Mau mandi-mandi lah,” jawab saya sekenanya.
 

Pengunjung bersiap-siap meluncur dengan ban-ban bekasnya. (Rizki/Profesi)
Wisata air terjun di Bantimurung tidak kalah dengan wahana-wahana Waterboom yang ada di kota-kota besar. Air terjun yang mencapai ketinggian 9 meter sudah bisa membuat kepala terasa sakit ketika dihujaninya. Arusnya sangat deras, apalagi di kala musim hujan. Tidak ada seorang pun yang berani memasang tubuhnya tepat di bawah guyuran air terjun. Yang ada, mereka malah berdiri beberapa meter di depan air terjun.
 

Setahun yang lalu ketika berkunjung, saya masih bisa menikmati mandi di bawah guyuran air terjunnya. Saat itu, air mengalir tidak begitu deras. Rasanya seperti dipijat-pijat. Bahkan, para pengunjung pun bisa masuk ke dalam liang-liang kecil yang tersembunyi di balik air terjun.
 

Semakin deras aliran airnya, semakin menyenangkan pula wahana waterboomnya. Aliran air terjun yang membentuk sungai kecil dimanfaatkan para pengunjung untuk berseluncur ria. Mereka berseluncur dengan mengandalkan ban-ban bekas yang banyak disewakan disana.
 

Bertahan agar tidak terjungkir. (Rizki/Profesi)
Tak jarang, saya dan pengunjung lainnya tertawa menyaksikan para “penantang” arus terjungkir-terbalik oleh riak-riak air sungai. Saya pun mengalaminya ketika baru pertama mencobanya. Sungguh mirip dengan nuansa arung jeram. Bedanya hanya pada perahunya saja. Cukup berbekal ban dalam bekas, kita sudah bisa meluncur jauh. Jauh sekali.
 

Aliran air terjun yang membentuk sungai kecil itu bisa mengantarkan kita hingga jauh ke tempat yang dikhususkan buat anak-anak kecil. Di atas kepala, kita juga bisa menyaksikan orang-orang ber-flying fox. Hanya saja, saya mesti berpikir panjang jika harus mengikuti aliran air sangat jauh. Pasalnya, saya juga harus menempuh perjalanan yang agak melelahkan untuk kembali ke tempat semula (start point).
Wajar, jika saya menikmati ketika meluncur di atas ban saya. Tidak kapok meluncur saat terjungkir berkali-kali. Meskipun saya belum pernah merasakan pengalaman menikmati waterboom, namun waterboom “alam” yang satu ini sangatlah menyenangkan. Melihat anak-anak kecil begitu berani meluncur, kenapa tidak dengan saya?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar