Senin, 02 April 2012

Jawaban (Tak HArus) Melalui Buku



Saya terkadang heran sendiri dengan murid saya. Suatu waktu dia mengajukan tugasnya pada saya, tugas non-hitungan, yang berupa penjelasan-penjelasan. Ia mengaku tidak tahu jawabannya, apalagi setelah dia mencari jawabannya di buku. Ia tidak menemukannya.

Setelah saya baca tugasnya, saya merasa pertanyaan-pertanyaannya tidak sesulit yang dia utarakan. Saya pun mencari-cari dalam bukunya dan menemukan jawabannya meskipun tersirat. Ia tidak tahu itu, karena terbiasa membaca jawaban langsung. Mungkin memang karena perbedaan usia dan tingkat pemahaman kami. Saya yang sudah terbiasa berpikir “lepas dari buku” tentu merasa mudah dengan tugasnya.

Pikiran saya tiba-tiba tersentak. Hal yang sebelumnya tidak saya sadari ternyata sudah lama meracuni pemikiran anak-anak seusia murid saya, malah mungkin se-Indonesia. Ya, benar.

“Ini jawabannya apa? Tidak ada di dalam buku,” kata murid saya jika tidak menemukan jawaban tugasnya di dalam buku. Atau jika dia menemukan jawabannya di dalam buku, maka ia akan berkata, “Jawabannya dari mana? Dari sini ya?” tanyanya sambil menunjuk-nunjuk beberapa baris kalimat dalam buku di hadapannya.

Saya tersadar, ternyata anak-anak usia sekolah dasar, maupun sekolah menengah masih terbiasa dengan pedoman buku. Di pikiran mereka terpatri, buku selalu benar. Sehingga segala jawaban atas pertanyaan yang diberikan pada mereka dicari di dalam buku.

Hampir semua mata pelajaran seperti itu, tidak terkecuali Matematika, meskipun hanya dalam taraf hitung-hitungan selalu berpatokan pada buku. Bagi saya, itu tidaklah salah. Wajar, karena buku adalah gudangnya ilmu. Tapi yang menjadi permasalahan disini ketika apa yang mereka tulis, ucapkan, sama persis dengan isi buku, mulai dari bahasanya, kata-katanya, sampai pada titik-komanya. Jika pertanyaannya “ini”, maka jawaban yang mereka tuliskan selalu saja sama persis dengan yang ada di buku. Tidak heran jika kemampuan anak-anak menemukan sendiri jawaban sangatlah kurang. Lha wong kita selalu “nyontek” buku. Ini menunjukkan kemampuan untuk menyusun atau merangkai kata-kata sangatlah kurang. Orang Indonesia kok lemah dalam Bahasa Indonesia?

Saya pun tidak menyangkal, saat menginjak sekolah dasar hingga sekolah menengah dulu saya juga melakukan hal serupa. Mengerjakan tugas atau PR dengan mencari jawabannya di buku. Kalau jawabannya tidak sama persis dengan buku, saya (atau bahkan guru sekalipun) menganggap jawaban itu salah. Jadilah saya dulu mencari banyak-banyak buku untuk persiapan jawaban saya.

Sumber Plagiat

Saya kemudian berpikir, mungkin inilah yang menjadikan kita sebagai seorang plagiator. Kita terbiasa “mengutip” isi buku sama persis. Kita sangat kekurangan kosa kata pribadi dan bahkan tidak mampu merangkai kata-kata sendiri. Kita takut salah, ketika menyusun kata-kata sendiri.

Dari google hingga yahoo, referensi yang kita miliki hanya sebatas dicopy-paste. Memang, dengan mencantumkan sumbernya pada tulisan kita maka sudah dianggap sesuai dengan prosedur pengutipan. Namun, apakah kemudian kita puas dengan sekadar menjadikan tulisan kita sebagai “kliping” dari beberapa tulisan orang lain?

Sejak usia dini, anak-anak memang jarang diberikan pemahaman mengenai mencari jawaban. Guru-guru pun terbiasa memupuk “kemunduran” itu dengan mengharuskan jawaban yang mereka terima sama persis dengan isi buku. Berbeda sedikit saja, nilai yang diberikan pun agak berbeda, meskipun isi yang terkandung dalam jawabannya sama. Hal inilah yang kemudian menggerus sikap analitis pada saat mereka dewasa. Mungkin ini jugalah yang menyebabkan banyak orang mengalami kesulitan dalam menuangkan ide ke dalam sebuah tulisan.

Seyogyanya, anak-anak sedari awal sudah diajari untuk memahami sebuah tulisan bukan berdasar pada apa yang dibacanya, namun pada apa yang dipahaminya. Lebih dari sekadar membaca “lurus-lurus” saja. Mencari jawaban, esensinya tidak “nyontek” pada buku, namun sekadar dijadikan pedoman. Jawaban yang dituliskan harus disusun dengan menggunakan kalimat sendiri. Dengan begitu, anak-anak akan terbiasa merangkai kata-kata sendiri dan secara tidak langsung semakin memperkaya pemahaman kosakata mereka sendiri. Alhasil, tindak plagiat di usia dewasa bisa dihindari, kan?

--Imam Rahmanto--





Tidak ada komentar:

Posting Komentar