Sabtu, 21 April 2012

Pilih Layout atau Menulis?

Pekerjaan layout yang sedang saya garap minggu ini benar-benar menyita waktu saya. Sudah empat hari-empat malam berturut-turut saya mesti menghabiskan waktu saya di redaksi kampus, hanya untuk menggarap perwajahan tabloid. Otomatis, kegiatan menulis saya harus berhenti untuk sementara waktu.

Kadangkala saya berpikir, tugas saya sebagai seorang layouter sangatlah menyita waktu saya untuk mengasah kemampuan saya dalam menulis. Padahal sedari awal saya tidak begitu berharap untuk bisa mengemban tugas seperti itu. Ya, sebagai bentuk kepatuhan, maka “sambil menyelam, minum air” menjadi pegangan saya.

Sumber gambar: Google Search

Tidak dipungkiri, selama menjalani tugas sebagai layouter, saya banyak mendapat pelajaran, ilmu sekaligus pengalaman. Akan tetapi, menjalani sebuah proses desain tata letak tampaknya sangat bertolak belakang dengan  menjalani aktivitas kepenulisan. Bagaimana tidak, di satu sisi saya harus berhadapan dengan proses desain yang menuntut kreativitas dalam bentuk “gambar”, di sisi lain saya ingin sekali mengasah kemampuan saya dalam sebuah tulisan yang lebih menuntut pada kreativitas mengolah “kata”.

Dibandingkan proses menulis, proses layout ternyata membutuhkan waktu dan tenaga serta pemikiran yang extra. Berpikirnya itu loh. Saya sendiri merasa lebih “stress” ketika mengerjakan sebuah tugas layout dibandingkan harus menulis sebuah artikel. Layout atau desain perwajahan tabloid, kita dituntut untuk banyak berpikir, banyak mencoba, geser sana, geser sini, sampai menemukan model yang tepat. Sangat jarang kita menemukan pelaku desain (desainer) yang bisa langsung tahu konsep dan isi dari desain yang akan dikerjakannya. Mereka pasti selalu butuh waktu untuk mencoba tiap model yang dirasa bagus.

Bagi saya, sebenarnya menulis tidak begitu jauh berbeda dalam hal mencobanya. Saya pun menulis harus selalu “mencoba”. Akan tetapi, ketika saya menulis, saya tidak perlu berpikir persoalan desain-desain (yang akan banyak menyita waktu untuk mencoba). Bayangkan, mendesain atau mengatur tata letak sebuah halaman tabloid saja saya sampai butuh waktu lebih dari sejam. Hal ini berdasarkan kemampuan saya dalam hal mendesain.

Berdasarkan pengalaman saya, melakukan proses desain membutuhkan waktu yang jauh lebih lama dibandingkan proses menulis artikel. Di samping itu, saya juga lebih menikmati ketika menulis. Dengan menulis, maka saya bisa mendapatkan semangat di dalamnya. :D

Saling Mendukung
Lebih jauh, keterampilan desain dan tata letak itu sebenarnya bisa berkorelasi dengan keterampilan menulis yang kita miliki. Saya pun akhirnya berpikir, suatu saat nanti saya tidak perlu lagi membayar orang lain untuk mengatur perwajahan buku saya nantinya. Karena saya punya keinginan untuk bisa menulis sebuah buku atau novel, maka segala isinya dan desain perwajahannya adalah milik saya. Ongkos terbitnya lebih irit, kan? Hehehe…

Jadi, tidak ada penyesalan dalam menguasai sebuah ilmu dan pengalaman. Karena yakin ilmu yang kita dapatkan akan berguna kelak di kemudian hari. Saya pun merasakan hal itu. Semenjak saya terampil sebagai desainer lepas, saya beberapa kali mendapat job untuk mendesain tampilan sebuah produk maupun sebuah buku.

Benar kata ayah Alif dalam film Negeri 5 Menara,

“Jabat dulu!”

Jalani dulu, dan kita rasakan. Barulah kita putuskan setelah kita menjalaninya. Apakah baik atau buruk? Dan ternyata setelah saya menjalani tugas saya sebagai layouter, banyak ilmu yang telah saya dapatkan. Karena saya “menjabat”nya terlebih dulu. Dan kelak, pasti!, ilmu itu akan saya manfaatkan untuk kepentingan menulis saya. Meskipun saya harus menghabiskan waktu yang “benar-benar” ekstra untuk menjalaninya, sembari tetap belajar untuk menulis.

Lalu, saya tidak perlu lagi  bingung memilih antara layout atau menulis, karena kedua-duanya ternyata bisa dijalani berdampingan, lagi-lagi dengan pikiran dan mental yang “benar-benar” ekstra. Hehe…


--Imam Rahmanto--
*Ditulis ketika benar-benar tidak memiliki kesempatan untuk menulis gara-gara layout. :p

Tidak ada komentar:

Posting Komentar