Selasa, 17 April 2012

Kupu-kupu Bantimurung di Ambang Kepunahan

Beberapa waktu lalu, saya sempat berkunjung ke Taman Nasional Bantimurung. Kunjungan saya ini bukanlah yang pertama kalinya. Setahun yang lalu, saya juga pernah menginjakkan kaki disini dalam rangka mengikuti Musyawarah Kerja (Musker) lembaga jurnalistik kampus saya. Namun, dengan suasana yang berbeda.

Kali ini, masih melalui lembaga jurnalistik yang sama, saya bersama teman-teman melakukan fieldtrip ke Bantimurng. Kami tidak sendiri, karena ada sekitar 20 orang mahasiswa dari universitas lain di Indonesia yang ikut bersama kami menikmati keindahan alam disini.


Taman Nasional Bantimurung terkenal dengan ciri khas fauna kupu-kupunya. Dari memasuki gerbang saja, pengunjung sudah disambut oleh gapura yang berbentuk kupu-kupu. Di belakang gapura juga berdiri patung kera menyambut para pengunjung. Namun, saya agak bingung ketika melihat patung itu.

“Apa hubungannya Bantimurung dengan monyet?” tanya saya bingung.

Namun seorang teman saya yang berasal dari Maros mengungkapkan, dahulu Taman Nasional Bantimurung merupakan habitat asli dari ekosistem kera. Namun, semenjak orang-orang ramai berwisata ke Bantimurung, habitat asli kera itu mulai tergusur. Mereka mulai menyembunyikan diri dari kawanan manusia di Bantimurung. Yah, saya membuktikan hal itu ketika sempat menyaksikan seekor kera bergelantungan di salah satu pohon dekat penginapan kami.

Realitasnya, tidak hanya habitat kera yang sudah mulai langka ditemukan disana. Kawanan kupu-kupu yang menjadi ikon khas di Bantimurung juga sudah mulai mendekati kepunahannya. Dua kali saya berkunjung disana, tidak pernah saya temukan kupu-kupu beterbangan di sekitar taman nasional itu. Padahal menurut teman saya, seharusnya Bantimurung menjadi habitat asli dari kupu-kupu di Kab. Maros. Semasa kecil teman saya, ia mengaku selalu mendapati kupu-kupu beterbangan di sekitar taman nasional. “Baru memasuki kawasan Bantimurung, sudah ada banyak kupu-kupu yang terlihat di sekitar saya. Berbeda jauh dengan kondisi sekarang,” paparnya.

Memang benar, seharusnya di Bantimurung banyak berterbangan kupu-kupu. Toh, sejak dulu saya selalu diperdengarkan cerita mengenai keindahan Bantimurung, terutama kehidupan kupu-kupunya. Dalam benak saya, pasti beraneka ragam kupu-kupu berkeliaran membentuk kawanan-kawanan tersendiri. Dan nyatanya, setelah saya berkunjung ke sana, yang saya temukan hanya wisata air terjun (pemandian) dan gua-gua alaminya. Yang mencirikan “kupu-kupu” hanya souvenir-souvenir yang dijajakan oleh pedagang-pedagang di sekitar taman nasional itu.

“Tak ada lagi kupu-kupu seperti saat saya kecil dulu,” tutur teman saya yang juga sesama mahasiswa.

Eksploitasi Kupu-kupu


Saat berjalan-jalan di sepanjang pedagang-pedagang souvenir-souvenir, teman saya sempat bertanya,

“Kupu-kupu yang diawetkan seperti itu, bukankah merupakan salah satu bentuk eksploitasi terhadap kehidupan kupu-kupu?”

Beragam jenis kupu-kupu diawetkan demi meraup keuntungan semata. Malah, kebanyakan dari kupu-kupu yang diawetkan itu merupakan jenis-jenis langka.

“Silahkan dilihat-lihat. Ini kupu-kupu langka,” seru seorang pedagang menawarkan dagangannya sambil menunjuk-nunjuk salah satu bingkai kupu-kupu.


Bahkan, jika dipikir-pikir para pedagang bisa memperoleh keuntungan yang sangat besar dengan usaha souvenir itu karena menangkap kupu-kupu hanya dengan modal dengkul. Dan mungkin inilah penyebab punahnya ekosistem kupu-kupu di Bantimurung. Mereka yang hanya berpikir soal untung-rugi terus-menerus menangkapi kupu-kupu di alam Bantimurung.

Menurut kabar yang saya dengar, ada penangkaran kupu-kupu di Taman Nasional Bantimurung. Namun kenyataannya, proses penangkaran itu tidak sebanding dengan jumlah masyarakat yang menjadikan usaha “mengawetkan kupu-kupu” sebagai mata pencahariannya. Semakin banyak saja orang-orang di sekitar Bantimurung yang tergiur dengan usaha souvenir mengawetkan kupu-kupu itu.

--Imam Rahmanto--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar