Jumat, 13 April 2012

Dengarkan Tulisanmu Berbicara

Menulis untuk mendengarkan kata hati.

Masalah? Problem?

Mungkin bagi sebagian orang, istilah itu adalah sebuah momok yang patut untuk dihindari. Tidak semua orang berani untuk berhadapan dengan masalah. Apalagi masalah yang bisa membuat pikiran kalut alias depresi sampai pada kondisi stres.

Saya pikir hal itu wajar.  Semua orang menginginkan hidup yang tenang. Damai. Tanpa ada gangguan-gangguan. Namun, apakah mungkin hidup yang dijalani ini bisa mulus tanpa ada aral melintang? Tentu, jawabannya TIDAK. Oleh karena itu, kita butuh obat/ terapi yang menyenangkan untuk bisa terlepas dari tiap beban-beban hidup yang kadangkala menemui kita.

Sebenarnya, menurut saya, semua masalah yang terjadi pada diri kita memiiki solusi. Pikiran kita sebenarnya telah menyediakan solusi sendiri. Istilahnya, “dengarkan kata hati”. Karena kata orang, kata hati tak akan pernah bohong. Kata hati senantiasa akan selalu menjadi motivator kita. Benar.

Nah, untuk itu, saya pribadi mempunyai cara sendiri dalam menggali “kata hati” saya di kala saya sedang bingung, gelisah, atau bahkan depresi.

Menulis. Yah, saya menulis.

“Menulis Saja”

Selama dua tahun belakangan, saya punya sebuah jurnal (semacam buku harian) yang berisi tulisan mengenai riwayat saya. Saya sengaja menyiapkan buku itu, berharap suatu hari nanti saya bisa menulis sebuah novel berdasarkan kisah saya sendiri. Hingga kini, saya masih aktif menulis di buku tersebut. Sudah dua buku tulis – setebal seratusan halaman – yang saya habiskan untuk menulis sedikit kisah saya.

Terkadang, saat saya sedang bingung karena suatu hal, maka saya tuliskan kebingungan saya – Tulis Saja – di dalam buku itu. Layaknya orang bercerita, pena saya mengalir begitu saja. Tidak peduli seberapa jelek tulisan saya. Toh, buku itu akan menjadi konsumsi saya sendiri.

Nah, di saat saya sementara menulis “kegundahan hati” itu, entah darimana asalnya, mendadak di kepala saya muncul dorongan/ semangat untuk mengatasi masalah saya. Awalnya, saya “mengeluh” melalui tulisan saya, namun pada akhirnya saya juga yang memberikan solusi. Saya menguatkan diri sendiri melalui tulisan saya. Dari tulisan itulah kemudian terlahir gejolak semangat yang baru. Usai menulis, saya merasa lega, puas, sekaligus bangga. Saya bangga bisa menjadi motivator bagi diri sendiri melalui tulisan.

Setiap manusia selalu dibekali dengan “kata hati”, namun terkadang kita tidak tahu bagaimana cara mendengarkannya. Untuk itu, tulisan bisa berbicara. Dengarkan hatimu, dengarkan tulisanmu.

"Saya terkadang tidak menemukan alasan yang tepat untuk menulis," ujar teman saya.

Memang sulit untuk memulai sebuah tulisan. Namun, jika kita membiasakan diri, yakin, semua akan mengalir apa adanya. Bahkan, layaknya seorang perokok, seorang penulis pun tak akan merasa puas jika tidak menulis apapun dalam sehari atau seminggu. Yakin pula, menulis itu menyehatkan! :D

Salam kompasiana!

--Imam Rahmanto--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar