Minggu, 08 Juli 2012

Ayahku dan Layang-layang


Mengejar layangan


“Tolong, tutup kembali pintunya, Dan!” teriakku dari dalam kamar.

“Siip!!” seru Dani dari luar kamarku dan menutup pintu kamar sambil berlalu pergi.

Buku yang tadi tergeletak di atas ranjang kembali kubaca. Di dalam kamar, aku sendiri. Mencoba mendalami buku yang sedang digenggam tanganku.

Di luar kamar, suara teman-teman yang lain begitu ramai. Tampak dari jendela kamar, mereka sedang menyaksikan suatu acara televisi sambil bersenda gurau antar-sesama penghuni kost, anak-anak kampus. Begitulah kebiasaan penghuni di asrama ini. Jika tidak ada hal yang dirasa cukup perlu untuk dikerjakan, mereka akan berkumpul bersama di ruang tengah asrama.

Kusetel radio kamarku. Aku men-channel pada salah satu siaran FM. Di malam hari, biasanya masih banyak stasiun radio yang sedang mengudara.

“……….kirimkan atensi anda…..kosong…..satu…”

Sayup-sayup dari balik buku yang sedang kubaca terdengar suara seorang broadcaster sedang mengudara. Suara broadcaster yang satu ini sudah familiar dalam siaran radio yang sedang mengudara ini.

Selang beberapa menit kemudian, suara broadcaster tadi berganti menjadi sebuah lantunan lagu. Lagu nostalgia yang dibawakan oleh Ebiet G. Ade dengan judul Ayah ini tiba-tiba mengingatkanku pada keadaan keluarga di desaku. Keluarga yang telah lama kutinggalkan. Keluarga yang telah lama nyaris mengendap lama di dasar hatiku.

“…..bahumu yang dulu kekar, legam terbakar matahari. Kini kurus dan terbungkus…..”

Sudah empat tahun semenjak kepergianku dari rumah. Kepergian yang ingin membuktikan sesuatu pada ayahku. Bahkan, hingga kini, aku masih belum pernah menjenguk mereka, keluargaku.

* * * * *



“Ayah, itu kurang tinggi. Lebih tinggi lagi, Yah!’ teriakku dari belakang sambil berusaha menyamakan lariku dengn lari ayahku.

“Ini sudah tinggi!” balas ayahku sambil berbalik ke arahku.

Di atas sana, sebuah layang-layang hijau sederhana terbang tinggi mengangkasa. Melawan segala angin yang menerpanya. Aku bersama ayahku sedang berlari-lari kecil mengelilingi lapangan. Ayah menemani aku yang sedari pagi merengek minta ditemani menerbangkan layang-layang. Layangan itu baru saja dibelikan ayah sebagai hadiah buatku.

“Lihat, kan Firman. Begini caranya menerbangkan layangan.” jelas ayah padaku.

“Iya, Yah.”

“Kalau begitu coba kamu yang pegang,” pinta ayahku ketika layang-layang telah mengudara dengan stabil.
Aku berusaha mengimbangi layang-layang yang telah diterbangkannya meski dengan agak sempoyongan. Tubuh mungilku masih belum cukup kuat untuk mengimbangi pergerakan layang-layang yang meliuk-liuk diterpa oleh angin itu. Aku memegangi gulungan benangnya dengan bantuan ayahku.

Hari ini adalah hari pertamaku menerbangkan layang-layang. Setiap sore, aku biasanya bermain bersama teman-temanku. Sebatas aku hanya menjadi penonton dan penyorak saja. Karena saat itu aku belum punya layang-layang sendiri.

Sore ini, ayah memutuskan untuk menemaniku bermain layang-layang. Meskipun berstatus sebagai guru di sekolah menengah, ayah masih menyempatkan sedikit waktu luangnya untuk menemaniku bermain layang-layang.

“Firman, kalau dewasa nanti jadilah seperti layang-layang,” ujar ayahku tiba-tiba.

“Kok gitu, Yah?” tanyaku polos sambil memandangi wajahnya.

“Layang-layang bisa terbang tinggi bukan karena ia mengikuti arah angin, melainkan karena ia melawan arah angin. Oleh karena itu, jadilah sepertinya. Kelak, ada banyak tantangan yang akan menghadangmu. Jika kamu menghadapinya, janganlah kamu lantas berpikir untuk menghindarinya atau bahkan ikut jatuh terpuruk ke dalamnya. Hadapilah! Kalau bisa tersenyum, maka tersenyumlah. Dengan begitu, kamu juga bisa terbang tinggi layaknya layang-layang.” jelas ayahku sambil tetap memandangi layang-layang yang sedang terbang di udara.

"Tapi ingat, semakin tinggi kamu terbang, maka semakin kuat juga tantangan yang akan menghadangmu. Bahkan, sebuah layang-layang pun masih butuh kita untuk mengendalikannya. Tanpa kita, ia akan terbang tanpa tujuan. Menjauh. Jadi, sekuat apapun pula kamu melawan arus, kamu pasti butuh seorang teman,"

“O…….” jawabku singkat.

"Bahkan, ketika kelak engkau akan menghadapi ego Ayah....." lirihnya.

Aku tak mengerti. Aku hanya bisa mengangguk. Kata-kata ayahku tidak begitu kupahami, meskipun aku yakin suatu saat nanti aku bisa mengerti.

* * * *


“Sudahlah, Firman. Ayah tidak punya waktu buatmu. Kamu belajar sendiri saja,”

Ayahku telah banyak berubah semenjak ia diangkat sebagai kepala sekolah, tempat dia mengajar. Entah apa yang membuatnya berubah. Hal ini juga dirasakan oleh saudara-saudaraku. Hingga aku beranjak remaja, ayah tetap sama. Bukan lagi seperti ayah yang dulu sering menemaniku bermain layang-layang.

Buku yang ada di tanganku sepertinya tidak lagi menjadi bahan bacaanku. Saat ini aku hanya bisa termenung sendiri. Lagu yang masih bersenandung di radio kesayanganku itu telah membuatku teringat akan semua kenangan tentang ayahku.

Semenjak itu, ayah telah berubah menjadi orang yang begitu sombong. Ia tak lagi menghargai keputusan anak-anaknya. Segala sesuatu yang berlaku di rumah harus menurut kehendaknya. Segalanya harus cara ayah. Selain itu, aku juga sering mendapat makian dari ayahku.

Orang-orang dalam keluargaku tidak ada yang berani membantah perkataan ayahku, terlebih jika ia sedang emosi. Sedikit saja kami berkomentar, maka emosi ayahku akan semakin meningkat. Oleh karena itu, jika ayahku sedang berpendapat, tak ada satupun yang berani mengomentarinya, kecuali ibuku.

“Apa yang kamu mau andalkan jika dewasa nanti, Firman? Meski orang-orang di sekolah menganggap kamu sebagai anak yang pandai, tapi dalam hal pengalaman kamu hanya orang yang bodoh,”

“Bekerja saja kamu tidak becus. Coba kamu lihat anak Pak Andi, ia begitu rajin ke sawah untuk membantu ayahnya. Sedangkan kamu? Kakakmu saja yang selalu ke sawah untuk menggarap sawah milik keluarga kita,” lanjutnya.

Kata-kata seperti begitu membakar telingaku. Ayah tidak pernah menghargai prestasi yang selama ini kuraih. Segala juara akademik yang dibanggakan oleh guru-guruku sirna begitu saja di hadapan ayahku. Bahkan ia sering membanding-bandingkan aku dengan orang lain. Pemikirannya sungguh ku tak mengerti.

“Tugas sekolah?? Kamu saja yang tidak mau bekerja…….”

Soal pekerjaanlah yang paling sering dijadikan bahan oleh ayahku untuk mencibirku. Semua prestasi yang kudapatkan di sekolah hanya dianggap angin lalu oleh ayah. Di saat aku mencoba membuatnya senang pun, ia tidak pernah merasa senang atau setidaknya mengucapkan terima kasih.

“Lihat, kan. Pekerjaanmu tidak pernah ada yang beres. Bekerja saja kamu tidak becus. Lihat saja dari caramu pegang cangkul. Begitu saja salah. Mau kerja apa kamu nanti?" ujarnya padaku saat membantunya di sawah.

Aku sesekali membantunya bekerja di sawah. Waktu yang tepat selama musim tanam padi. Mendengarnya, aku hanya diam saja. Sebenarnya, aku sudah muak dengan segala omelan ayahku. Segala sesuatu yang kulakukan harus dengan caranya. Tidak peduli sesuai atau tidak. Ia tidak pernah membiarkanku untuk berkembang sendiri.

”Mungkin dalam hal kepintaran, kamu lebih pintar dari teman-temanmu. Tapi kalau pengalaman kamu tidak ada, sia-sia belaka. Pengalaman itu pun tidak pernah diajarkan di sekolah. Ayah ini sudah banyak pengalaman. Jadi, kamu tidak usah banyak mengomentari ayah,”

Sejak itu, aku jadi enggan untuk bekerja membantu ayahku. Seandainya pun aku membantunya, itu karena terpaksa. Semua hasil pekerjaanku selalu diangap sia-sia meskipun ibu selalu mendukungku.

“Ayahmu sebenarnya mau yang terbaik buat kamu, nak,” nasehat ibuku.

“Percuma, Bu. Kepercayaanku pada ayah sudah mulai hilang,” balasku.

Puncak kekecewaanku terjadi ketika aku lulus SMA. Aku merasa tersisih diperlakukan seperti itu oleh ayahku. Hingga aku berani melawan semua kata-kata ayahku.

“Ayah selalu beranggapan seperti itu karena ayah tidak merasakan. Ayah tidak pernah mau mendengarkan perkataanku. Pemikiran ayah itulah yang terlalu picik!!” bantahku.

“Apa?? Kamu berani melawan ayahmu, hah!!”

Ayah nyaris saja melayangkan tangannya ke arahku. Beruntung, ibuku menghalanginya. Saat itulah aku mulai sadar untuk memulai kehidupanku sendiri.

“Ayah terlalu picik,” lirihku.

Hari berikutnya, aku telah menghilang dari rumahku. Entah bagaimana reaksi keluargaku atas kepergianku. Aku pun tidak pernah berusaha untuk mencari kabar mereka, terutama ayahku karena aku pun tidak pernah mau tahu.

* * * *


Empat tahun sudah kutinggalkan keluargaku. Sudah waktunya aku harus kembali memperlihatkan diriku dengan semua kehidupanku. Aku pernah berjanji pada ayahku untuk kembali setelah empat tahun. Sudah saatnya lah aku harus kembali…

* * * *


Aku pulang ke desaku. Aku merasakan banyak suasana baru dan berbeda dari empat tahun yang lalu. Ternyata, telah banyak yang berubah selama empat tahun ini. Asing. Banyak hal yang tidak aku kenali. Beberapa orang yang berpapasan denganku tersenyum agak dipaksakan. Cenderung mereka bersikap ramah meskipun kepada orang yang baru mereka kenal. Aku tersenyum.

Keadaan rumahku tetap masih seperti dulu. Hanya catnya saja yang telah berubah. Aku heran, seharusnya ayah bisa membuat banyak perubahan di beberapa sudut rumahku. Aku melangkah masuk ke dalam rumah dengan menggendong ransel di punggungku.

“Firman?… Apa kamu itu, nak?”

Ibuku yang baru saja keluar dari dalam dapur terkejut melihatku. Ia terlihat tidak percaya. Ia seakan tengah bermimpi melihat kedatanganku. Aku hanya tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca. Mata ibu sembap. Aku meletakkan tasku di atas meja dan segera saja ibuku menyongsongku dengan pelukan hangatnya. Erat. Erat sekali.

“Nak, sudah lama ibu merindukanmu. Kamu kemana saja?”

Ibuku terlarut dalam kesedihannya. Dapat kurasakan air mata menetes dari matanya yang telah keriput. Tanpa kusadari air mataku pun menetes. Ternyata, aku punya keluarga yang telah lama kutinggalkan dengan orang-orang yang menyayangiku.

Sejenak kemudian, ibuku tersadar. Ia mengusap air matanya dan memanggil seseorang dari dalam rumah.

“Intan, tolong panggil kakakmu Anto kesini. Bilang kalau Firman sudah pulang!” seru ibuku memanggil Intan, adikku.

Intan segera berlari keluar rumah, dalam tangis harunya, usai melepaskanku dari pelukannya.

Beberapa saat kemudian, ibu banyak bertanya tentangku. Banyak hal. Semua kisahku juga turut menjadi perbincangan dengan ibuku. Segala suka duka yang juga selama ini aku rasakan.

Mendengar segala hal tentangku, ibu tampakbahagia. Ia juga bangga denganku. Kini, aku berkumpul lagi dengan keluargaku. Meski tidak semuanya, karena kakakku yang kedua sedang melanjutkan S2-nya di sebuah perguruan tinggi di kota.

Kakakku, Anto, telah sampai di rumah. Tanpa menunggu aba-aba dariku, ia segera memelukku dengan begitu erat. Tampak wajahnya telah banyak berubah. Wajahnya yang dulu kukenal begitu bersih, kini telah riuh dipanasi oleh sinar matahari. Aku merasa sedih melihat kakakku. Tapi ia malah senang dengan pekerjaannya di sawah sekarang.

“Hitung-hitung untuk menggantikan ayah,” katanya menghiburku.

Begitu mendengar kata “ayah”, aku langsung teringat tujuanku pulang ke rumah.

“Oh, iya. Ayah sekarang ada dimana? Kok dari tadi ndak ada toh?” tanyaku penasaran.

Padahal aku yakin jam segini ayah pasti sudah sedari tadi pulang dari sekolahnya. Ibu dan kedua kakakku saling berpandangan. Diikuti oleh adik perempuanku. Tiba-tiba raut wajah keluargaku berubah. Ibu, Intan, dan kakakku semuanya terlihat murung.

“Ada apa?” tanyaku lagi.

Hening.

"Friman...." ibuku bersuara, namun dicegah oleh kakakku.

“Firman, tahukah kau, dua tahun yang lalu, dua tahun setelah kepergianmu, ayah mengidap penyakit kaker,”

Ibuku terisak. Ibuku mencoba menegarkan dirinya. Kakakku tetap melanjutkan ceritanya.

“Penyakit ayah semakin hari kian parah. Sudah beberapa kali kami membawanya ke dokter, tapi segala usaha kami tidak pernah membuahkan hasil. Penyakit ayahmu sudah parah,” lanjut ibuku sambil meneteskan air mata.

Sejenak, semua orang yang ada di dalam rumah terdiam. Aku merasakan suasana yang tidak seperti biasanya. Perasaanku mulai tidak enak. Sesak.

“Penyakit ayah tidak kunjung sembuh dan akhirnya....... ia meninggal,”

Kepalaku terasa berat mendengar apa yang dikatakan kakakku. Aku tidak sanggup lagi berkata apa-apa. Bibirku serasa kelu dan bergetar. Tanpa terasa air yang bening keluar dari mataku.

Aku merasa waktu berjalan begitu cepatnya. Begitu cepatnya pula ia telah mengambil nyawa ayahku.

Ayahku yang begitu picik menurutku, tapi ayah yang mengajarkanku arti hidup.

Aku merasakan suasana hening di rumahku. Tak ada satu pun yang memecah keheningan tersebut. Bahkan seekor cicak pun enggan memecah kesunyian itu

* * * *


“Kamu sudah mengunjungi makam ayahmu, nak?” tanya ibuku yang menghampiriku di depan teras rumah.

“Sudah, Bu,” jawabku datar.

“Nak, ada satu hal yang perlu kamu ketahui tentang ayahmu,”

Aku menatap ibuku. Ada perasaan terkejut mendengar ucapannya. Aku penasaran. Ibuku menghela napas pelan.

“Sejak kamu pergi dari rumah, ayahmu sangat marah,” lanjutnya.

“Firman tahu itu, Bu.”

“Tapi yang ingin ibu katakan pada kamu bukan itu,” ujarnya sambil terus melanjutkan, “Suatu hari, surat yang kamu kirimkan kepada ayahmu, empat tahun silam sampai ke rumah ini,”

Aku kembali teringat pada surat yang sempat kukirimkan untuk ayahku ketika aku pergi dari rumah. Beberapa minggu setelah aku pergi dari rumah, aku memutuskan untuk mengirimi keluargaku surat agar tidak mengkhawatirkanku. Surat yang isinya mengguratkan luka hatiku.

“Kamu pasti masih ingat, kan?” tanya ibuku.

Aku hanya mengangguk.

“Surat yang kamu kirimkan telah mengubah ayahmu. Ia sepertinya mulai bisa kembali seperti ayahmu yang dulu. Ia mulai sadar akan sikapnya selama ini. Oleh karena itu, ia menyuruh kakak-kakakmu untuk mencari kabar tentang keberadaanmu. Ayahmu ingin kamu melihatnya seperti dulu lagi karena ia telah menyadari semuanya. Entah mengapa surat itu bisa mengubah ayahmu,”

Ibuku meneteskan air matanya. Tentang ayahku, selalu saja ia diselubungi kesedihan. Aku sebenarnya tidak tega melihatnya seperti itu.

“Karena surat itu, nak. Ayahmu sadar akan semua sikapnya selama ini. Ia sudah memaafkanmu sejak dulu. Ibu betul-betul tidak mengerti mengapa suratmu bisa membuat ayahmu berubah,”

Aku terharu mendengar penuturan ibuku. Tak pernah kuduga sebelumnya, ayah akan berubah secepat itu. Tak pernah kuduga sebelumnya, surat yang dituliskan oleh penulis amtiran bisa mengubah segala hal. Apakah ini pertanda tulisan bisa mengubah segalanya? Air mataku berkaca-kaca mengenang sebuah surat singkat yang kukirimkan waktu itu. Sebuah surat yang sengaja ditulis olehku yang selalu ingin mengubahnya.

* * * *


Yth. Bapak Aditya, ayahku yang selalu kusayang
Di
Rumah


Dengan segala hormatku…..


Aku ingin mengatakan bahwa aku disini baik-baik saja. Ayah tidak perlu mencariku. Aku tidak sedang ingin dicari. Maafkan aku…


Ayah…
Aku tidak bermaksud untuk menggurui ayah karena aku tahu ayah memiliki lebih banyak pengalaman jika dibandingkan dengan aku yang masih seumur jagung ini. Tapi sadarkah ayah jika pemikiran ayah selama ini salah? Ayah tidak pernah mau menerima saran dari orang lain. Segala sesuatu yang berasal dari ayah, ayah selalu anggap benar. Ayah selalu membenarkan diri ayah. Segala sesuatu pun harus dengan cara ayah. Semua harus menurut ayah. Jujur, ayah yang dulu aku kenal tidak seperti itu. Ayah telah banyak berubah..


Ayah….
Tahukah ayah, mengapa aku pergi dari rumah? Jika ayah mengatakan bahwa aku melarikan diri dari masalah. Itu adalah jawaban yang salah. Aku tahu, mungkin saat ini ayah sedang membaca suratku dengan perasaan marah sekaligus benci. Aku sadar, aku memang salah dan sudah sewajarnya aku dibenci. Tapi, aku sama sekali bukanlah seorang anak yang berusaha durhaka kepada orang tuanya…


Ingatkah ayah akan layang-layang waktu itu? Ayah pernah mengatakan bahwa aku harus jadi seperti layang-layang yang bisa terbang karena menantang arus angin. Belajar mengendalikan arah. Bukan malah mengikutinya. Kata-kata itu akhirnya kupahami. Bahkan, jika aku harus menentang ayah...


Saat ini, aku ingin menjadi layang-layang itu. Aku tidak ingin tinggal diam di rumah hanya untuk mengikuti segala kemauan ayah. Bukannya aku menentang ayah, tapi aku hanya berusaha untuk mencari kebenaran atas kemauanku. Aku ingin mengikuti apa yang dikatakan oleh hatiku. Maafkan aku, ayah…


Ayah….
Mungkin ayah tidak akan pernah mempercayaiku jika aku berusaha dengan segala kemampuanku. Namun hal itulah yang akan aku lakukan. Aku akan melanjutkan sekolahku di tempatku sekarang. Jadi ayah tidak perlu mengkhawatirkanku. Dan aku akan mencari pekerjaan yang sesuai dengan kemampuanku, aku suka menulis. Tidak perlu dengan cara ayah. Aku ingin membuktikan bahwa aku juga bisa mandiri seperti yang lainnya. Tidak perlu dengan cara ayah, cukup dengan caraku sendiri.


Aku berjanji, tiga tahun lagi aku akan kembali ke rumah dengan membawa kabar yang membahagiakan. AKU BERJANJI, ayah.


Yang terakhir, jika ayah berkenan, tolong sampaikan salamku pada ibu, kakak, dan adikku.




Anakmu yang bodoh,
Firman Hartanto


*Cerpen ini di-repost dengan sedikit perubahan.
--Imam Rahmanto, 2011--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar