Senin, 30 April 2012

Ngaret dan Mahasiswa

April 30, 2012




Satu hal yang kemudian saya sadari. Ternyata mahasiswa dimana-mana nyaris sama saja. Terlebih dalam menghelat sebuah event. Poin utama yang mesti diprioritaskan - tepat waktu - selalu diabaikan. Pembukaan seminar nasional yang dijadwalkan dalam rundown acara harus molor hingga jam sembilan lewat. Padahal sedari awal saya menyangka orang-orang Jakarta itu berbeda. Yah, pada akhirnya sama saja, hanya masalah logatnya saja yang berbeda.

Tak seperti di Makassar, kali ini saya begitu mudahnya bangun pagi. Entah karena saya tidur cepat atau memang saya merasakan suasana yang berbeda dari biasanya. Kamar yang tak dilengkapi dengan pendingin ruangan maupun kipas angin tidak mempengaruhi kondisi tidur saya. Jauh berbeda dengan Asri, yang mengeluh karena merasa kepanasan. Saya biasa saja, kok. Mungkin karena dia terbiasa menggunakan kipas angin.

Akan tetapi kesan berbeda saya dapati ketika sekembalinya dari mandi pagi.

"Wah, mandinya ndak perlu antri. Kamar mandinya berjejer banyak. Shower to shower..." serunya memasuki kamar.

Tinggal di asrama UI serasa menjadi mahasiswa baru (maba). Karena semua penghuni asrama merupakan maba. Setiap tahun, penghuni akan berganti dengan maba yang lainnya. Jadi, mahasiswa-mahasiswa yang akan ditemui adalah mahasiswa baru seluruhnya.

Dijemput oleh LO, Delinda yang akan mengantarkan kami ke auditorium FE UI dengan mengendarai Bikun, sapaan akrab buat Bis Kuning bagi mahasiswa UI. Bus inilah yang beroperasi di sepanjang jalan UI mengantarkan mahasiswa bolak-balik secara gratis.

Untuk menjelajah kampus UI tidak hanya bisa dengan memanfaatkan fasilitas Bikun yang puluhan jumlahnya. Disana, mahasiswa juga disediakan fasilitas kampus seperti sepeda. Namun untuk bisa menggunakannya, mahasiswa harus memperlihatkan kartu identitasnya sebagai mahasiswa UI - layaknya meminjam buku di perpustakaan. Dan area tempuhnya sebatas kampus. UI luas lho...

Tiba di auditorium FE tidak lantas opening acara. Sejam lebih, acara baru dimulai oleh MC dan didatangkanlah para pembicara-pembicara dari Media ternama yang akan dibagi dalam tiga sesi hingga acara seminar berakhir.

Yah, pada dasarnya yang namanya mahasiswa memang sama saja. Mekanisme menggelar event disini pun tidak jauh berbeda dengan Makassar. Peralatannya, kualitas layarnya, jumlah pesertanya, panitianya. Meskipun makanannya sedikit berbeda, perihal sponsornya saja agak berbeda. Pada umumnya sama saja. Apalagi persoalan molornya. Saya sendiri, pribadi, sangat jarang menemukan acara-acara mahasiswa yang tepat waktu.

Menurut mitos, "Selama pohon karet masih tumbuh di Indonesia, ngaret akan selalu jadi budaya." Dan mahasiswa lah yang biasa jadi pelakunya.


--Imam Rahmanto--

Depok, 30/4



ImamR

Nikmati Malam

April 30, 2012

Kesan pertama ketika tiba di Jakarta adalah Macet. Dimana-mana tak pernah lepas dari macet. Bahkan jalan tol sekalipun. Namun, kedatangan kami kali ini agak berbeda. Kami terjebak macet hanya sesekali.

Menurut Bayu, salah seorang mahasiswa UI yang menjemput kami di Bandara, pada hari-hari libur seperti sabtu dan minggu jalanan-jalanan tidak begitu macet. Jalan tol bisa menjadi jalan tol yang "sesungguhnya". Tanpa macet. Tanpa berhenti tiap detik.

Meskipun sedikit terbebas dari macet, untuk sampai di Pasar Minggu, kami harus bersabar selama hampir dua jam. Pasalnya bus DAMRI yang kami tumpangi juga harus beberapa kali menurunkan penumpangnya.

"Safari, Safarii, Safari!!" seru sang kondektur bus ketika melewati Safari.

Ketika melakukan perjalanan jauh, jangan luput dari mengisi perut terlebih dulu. Jika tidak, layaknya kami, sepanjang perjalanan akan lemas tak berdaya. Beruntung, kalori sisa makanan semalam di pernikahan senior Profesi di Pangkep masih sedikit membantu. Oleh karena itu, di Pasar Minggu kami memutuskan untuk sekadar mengisi perut sebelum jemputan yang kedua (by mobil) datang.

Menikmati suasana malam (ba'da Maghrib) di Jakarta cukup menyenangkan juga. Sebelumnya, dulu saya tidak bisa kemana-mana usai dijemput di Bandara siang harinya, karena saya harus menghabiskan waktu bersama teman-teman dalam Welcome Party Kompas Muda.

Kali ini saya benar-benar merasakan "berkeliaran" di malam kota Jakarta. Bisa menyaksikan suasananya di malam hari. Para pedagang-pedagang yang menjajakan dagangannya. Warung-warung makan yang berjejer di pinggir jalan. Bahkan merasakan pula menyeberang di jalanan ibukota. Untuk makanannya, tidak jauh beda dengan Makassar, termasuk soal harganya.

Perjalanan Bandara - Depok kami usai ketika tiba di UI. Suasana di UI nyaris menyamai suasana di universitas tetangga. Pohon rindang sana sini. "Inilah UI, mirip hutan ya.." canda Nadia di samping Bayu. Ia yang menjemput kami mengendarai mobilnya memasuki halaman UI.

Selanjutnya, kami harus melepaskan lelah di asrama UI, berharap esok lebih baik.



--Imam Rahmanto--

Jakarta, 29/4

ImamR

Rekam Wawancara

April 30, 2012

Menulis berita bagi sebagian orang tidaklah sulit. Cukup bermodalkan 5W + 1H, jadilah sebuah berita, asalkan diceritakan secara tepat dan berdasar pada fakta.

Akan tetapi, mempertahankan sebuah berita itu yang lebih sulit. Terlebih jika berita yang dituliskan adalah kontrol. Mau tidak mau kita sebagai penulis berita menyiapkan "tameng" untuk bertahan. Apalagi jika beritanya sudah begitu dalam menginfeksi sang objek berita.

Salah satu "tameng" yang bisa disiapkan adalah sebuah REKAMAN wawancara. Di zaman yang serba digital ini tentu tidaklah sulit untuk merekam sebuah wawancara. Apalagi kini tiap orang sudah dibekali dengan handphone, yang seharusnya bisa untuk recording.

Ketika melakukan proses wawancara, tidak lantas saya hanya sekadar merekam saja. Jika memungkinkan, saya akan merekam sekaligus menulis poin-poin penting wawancara itu. Saya harus merekamnya, namun di sisi lain saya juga tidak ingin lepas dari menuliskannya. Menulis berita melalui sebuah notes jauh lebih cepat ketimbang harus mendengarkan ulang isi wawancara melalui rekaman.

Saya pikir, dengan adanya rekaman maka kita bisa mempertahankan kebenaran berita yang dituliskan. Segala hal yang disebutkan narasumber tidak akan terbantahkan. Jikalaupun harus berurusan hingga pihak kepolisian, rekaman bisa jadi sebuah barang bukti.

Oleh karena itu, sebelum melakukan proses penggalian informasi, ada baiknya untuk mempersiapkan diri terlebih dahulu. Menulis berita pun ternyata tak hanya sebatas 5W + 1H, namun juga harus dipikirkan keamanan beritanya, Secure. Sehingga 5W + 1H + S (Secure) = berita yang baik.*

*berdasarkan ilmu yang didapatkan dari orang lain.

--Imam Rahmanto--



ImamR

Minggu, 29 April 2012

On the Airship

April 29, 2012


Menunggu.

Semua orang setuju jika "menunggu" adalah pekerjaan yang sangat membosankan. "Menunggu" jenis apapun itu, termasuk persoalan cinta.

Dan kini, saya sedang menunggu. Saya tidak sendiri. Bersama dua orang teman saya, Asri dan Anti, kami akan melakukan perjalanan ke Jakarta. Ya, Jakarta....



Hampir sebulan yang lalu, saya juga telah mengalami hal serupa. Namun dengan tujuan yang berbeda. Untuk kali ini, kami mendapatkan kesempatan untuk mengikuti Journalist Days di Universitas Indonesia (UI), Jakarta. Istimewanya, kami sebagai satu tim didaulat sebagai finalis kompetisi esainya. Dan kali ini, saya berangkat atas nama LPPM Profesi, lembaga jurnalistik kampus yang selama ini telah menggembleng saya.

Bermodalkan tiket pesawat (bolak-balik) dari universitas, kami bertiga berangkat menjemput asa masing-masing.

Jika waktu tempuh perjalanan sama dengan sebelumnya, maka kami akan tiba di Jakarta pukul 15.40 WIB. Beruntung, pihak panitia kegiatan berbaik hati untuk menjemput kami. Apalagi kita kan masih awam mengenai Jakarta.

Sensasi menikmati pemandangan dari atas pesawat sungguh menakjubkan. Pesawat yang mengawali lepas landasnya dengan pemanasan mengambil ancang-ancang. Bersiap untuk terbang, gemuruh turbin di kiri-kanan pesawat pun menderu. Menandakan pesawat siap menukik ke atas awan.

Meskipun saya tak mendapatkan kursi di sisi jendela dan justru tepat di sayap pesawat, saya masih bisa menyaksikan sensasi mengecilnya sawah-sawah beserta bangunan-bangunan di sekitarnya. Yang tampak ketika pesawat semakin tinggi hanyalah miniatur-miniatur kehidupan kota. Semakin tinggi. Makin kecil. Tak tampak. Hingga pandangan terbebas oleh awan-awan putih. Biru dan putih. Putih dan biru.

Awan di bawah pesawat tampak hanya seperti gumpalan-gumpalan kapas. Tak bergerak. Serasa pesawat lah bergerak lambat sekali. Tak secepat jika kita memandangnya dari bawah.

Ketika masih kecil, saya selalu menganggap awan itu terbentuk dari kepulan-kepulan asap di bumi. Beranjak remaja, saya pahami asap berasal dari uap-uap air. Namun tak beranjak dari tempat duduk saya kini, saya berandai-andai bisa menyentuh awan itu. Serasa menyentuh asap kah? Atau tangan saya akan basah oleh air? Entahlah..

Jika awan-awan tak lagi menggumpal, kan berganti birunya laut dan langit. Di atas dan di bawah. Terselip melayang diantara keduanya hanya segenggam awan, residu gumpalan sebelumnya. Langit cerah. Begitu juga harapan kami, secerah pertama kalinya kami menginjakkan kaki di kota seribu macet. Menunggu,.. asa itu kan menghampiri kami..



--Imam Rahmanto--

Jakarta, untuk yang kedua kalinya....



ImamR

Jumat, 27 April 2012

Evolusi Handphone ya?

April 27, 2012
Setelah menunggu hampir sebulaan, akhirnya hadiah yang ditunggu-tunggu dari pihak Kompas.com tiba. Sebuah gadget Smartphone Android kini telah menggantikan kedudukan Nokia 5200 saya. Apalagi alat komunikasi saya yang satu itu sudah lama mengalami gangguan signal. Di tempat-tempat tertentu, mendadak signal handphone (lama) tersebut hilang. Jadilah sering terjadi miscommunication dengan teman-teman saya.

Saya masih ingat dengan handphone pertama saya. Nokia, entah tipe apa. Dalam ingatan saya, masih jelas terekam warnanya yang kuning dan bentuknya yang tebal. Saking beratnya, saya tidak pernah mengantonginya. Tidak muat untuk saku celana, apalagi jeans.Oleh karena itu, saya selalu menyimpannya di dalam tas sekolah saya. Sampai-sampai nada monoponiknya luput dari pendengaran saya.

Bahkan, saya terkadang malu-malu menerima telepon atau sms di depan umum, ketika semua teman-teman SMA saya sudah menggunakan handphone polyphonik. Tapi, bagaimanapun juga, handphone saya kala itu tidak pernah terjerumus ke lembah kemaksiatan Ujian Nasional, meski teman-teman memaksa saya untuk membawa handphone saat itu.

Menjelang keberangkatan kuliah ke kota (Makassar), ayah saya dengan sukarela menghadiahi handphone MITO (lupa juga tipenye).

“Biar kamu bisa dihubungi,” tutur ayah saya.

Meskipun bukan barang baru, saya cukup senang dengan kehadiran handphone layar sentuh itu. Namun, tidak berselang lama, si MITO tersebut  beralih fungsi menjadi telepon rumah. Baterai dan beberapa tombolnya yang rusak membuat dayanya tidak mampu bertahan dalam waktu yang lama, sehingga harus selalu charger standby.  Walau begitu, saya tetap memakainya untuk sementara waktu.

Hal itulah yang kemudian menjadi salah satu target saya di tahun kedua kuliah saya.

“Dalam dua bulan, saya harus mendapatkan handphone yang lain dengan uang sendiri,” sehingga saya pun berinisiatif mencari pekerjaan yang tepat (sebagai mahasiswa). Alhasil, melalui honor pertama mengajar privat, saya bisa memiliki Nokia 5200 itu.

Dan kini, Nokia tersebut telah berevolusi menjadi Samsung Galaxy Y. Sebuah “android” yang saya menangkan dari lomba reportase blogshop Kompasiana Negeri 5 Menara kemarin, 31/3. Berbekal coba-coba (untuk belajar), berhasil juga akhirnya. Yah, benar katanya, “Kita tidak akan pernah tahu sebelum mencobanya,” Bahkan dalam bidang Matematika pun dikenal metode trial and error untuk menghasilkan sebuah jawaban. Jika salah, coba lagi! Istilahnya, coba saja, lakukan saja. Jika tidak berhasil, tak usah menyerah, coba lagi!

Secara tak lanngsung, saya merasakan kasta handphone saya akhirnya meningkat. Hehe..Pun saya merasakan buah manis dari hasil mencoba. Terlebih lagi, saya merasa semakin dekat dengan tujuan saya. “Jika kita percaya, pasti terwujud,” Tuhan kan selalu mendengarkan harapan-harapan dari lubuk terdalam hati kita.

“Dimana ada kemauan, disitu ada jalan,”
“Dimana ada jalan, maka disitu HARUS ada kemauan.”



--Imam Rahmanto--

Selasa, 24 April 2012

Nge-blog Untuk Apa

April 24, 2012

Blog Untuk Apa?

Dua hari yang lalu, seorang teman bertanya kepada saya,

“Sebenarnya blog itu untuk apa sih?”

Mendengarnya, saya agak tergelitik. Ternyata masih saja ada orang yang tidak pernah bersentuhan langsung dengan new media, seperti blog. Adalah hal yang wajar, karena tidak semua orang mau menghabiskan waktunya untuk berlama-lama di dunia maya hanya untuk sekadar menulis maupun mengelola halaman pribadinya.

Sumber Gambar: Google Search

Banyak hal yang sebenarnya bisa didapatkan dengan nge-blog (bahasa kerennya). Terhubung ke dunia maya seharusnya tidak hanya berbicara soal facebook saja. Masih ada banyak hal bisa dilakukan melalui dunia maya, apalagi untuk proses aktualisasi diri (eksis). Nah, salah satunya bisa dengan mem-publish tulisan melalui blog.

Lain orang, lain pula motifnya untuk nge-blog. Ada yang membuat blog hanya untuk mencurahkan perasaannya saja (diary).  Ada pula yang membuat blog untuk tujuan komersial, baik itu dalam hal pemasaran maupun hanya sekedar mengumpulkan uang melalui adsense google.

Dulu, saya tertarik membuat blog untuk eksis.

“Saya mau terkenal juga di dunia maya,” pikir saya kala itu.

Jadilah saya membuat blog. Awalnya saya berusaha untuk membuatnya terlihat keren dibandingkan yang lain. Pasang ini-itu biar terlihat keren. Bahkan berbagai macam tulisan pun saya posting di blog saya. Mulai dari hiburan, info-info unik, sampai untuk keperluan download ebook. Biar blog saya banyak dikunjungi. Hingga saya biasa menghabiskan waktu berlama-lama di sebuah warnet hanya untuk mendandani blog saya.

Semakin lama, bukannya blog saya makin terkenal, melainkan semakin mati. Pasalnya, saya sangat jarang mem-posting tulisan-tulisan baru. Jika sudah begitu, apatah gunanya lagi tampilan blog yang keren-keren? Dan ternyata saya menyadari, bukan tampilan blognya yang penting, melainkan seberapa sering kita update tulisan-tulisan baru.

Sedari awal, saya membuat blog untuk bisa mempublikasikan tulisan saya agar bisa dibaca orang lain. Saya suka menulis, dan tentu saya ingin orang lain membacanya. Soalnya kalau dikirim, jarang yang bisa dimuat di surat kabar atau media-media cetak lainnya. Hehe..

Barulah usai mengikuti pelatihan menulis blog (Kompasiana) tempo hari, saya mulai berkomitmen untuk bisa selalu menghasilkan tulisan-tulisan yang baru. Minimal satu tulisan dalam tiga hari. Tidak peduli tulisan apapun. Mau curhat, mau kritik, resensi, dan sebagainya. Yang terpenting, tetap menulis. Alhasil, saya kembali menghidupkan blog saya dengan tampilan yang lebih friendly. Tidak lagi neko-neko. Yang terpenting, tulisannya selalu update.

Oleh karena itu, dunia blogging tidak terlepas dari kegiatan tulis-menulis. Copy-paste hanyalah bumbu-bumbu blogging itu. Jika kita melihat ada banyak blog dengan tulisan-tulisan hasil copy-paste, itu bukan berarti mereka tidak kreatif. Hanya saja, saya yakin, tujuan mereka nge-blog adalah untuk mencari uang, biasanya melalui iklan-iklan di blognya.

Terlepas dari itu, blog merupakan sarana untuk bisa mempublikasikan diri, baik melalui tulisan maupun produk-produknya. Ibarat sebuah kota, blog merupakan salah satu rumah kita di dunia maya. Tempat tinggal kita. Di tempat itulah kita dikunjungi orang lain. Jika dibiarkan terbengkalai, siapa pula yang mau berkunjung ke tempat itu ataupun hanya untuk sekadar mengenal pemilik rumahnya? Jejaring sosial seperti facebook dan twitter, hanyalah tempat-tempat kita bersosialisasi, berteman. Oh ya, ada lho juga blog yang selain bisa sebagai ladang menulis,  bisa pula menjadi jejaring sosial untuk memperkaya teman. Salah satunya, Kompasiana. Bisa dicoba sendiri. Hehe…

“Jadi, tujuannya nge-blog apa?”

Bagi saya, blog sebagai ajang publikasi diri, tempat untuk berbagi ilmu dan pengalaman, serta bisa juga menjadi tempat untuk mencurahkan segala perasaan kita. Namun, kalau dijadikan sebagai diary, terkadang pemiliknya tidak ingin tulisannya dibaca orang lain. Nah loh? Kalau begini, bagaimana caranya untuk berbagi cerita? Hehe..

--Imam Rahmanto--

Notes: Pertanyaannya terinspirasi dari Fadillah Dwi Oktaviani, 
yang sangat berharap sekali namanya saya sebutkan dalam tulisan saya. Hehehe….

Minggu, 22 April 2012

Mengembangkan Minat Menulis di Dunia Maya

April 22, 2012
Berbicara mengenai dunia maya, pasti tidak jauh-jauh dengan browsing, jejaring pertemanan, dan social media. Istilah internet sudah tidak asing lagi di telinga kita. Semua kalangan juga sudah bisa menikmatinya.

Berbeda saat dulu, orang-orang yang memanfaatkan fasilitas internet masih bisa dihitung jari. Bahkan di tempat saya tinggal dulu (Kab. Enrekang), saya mesti menumpang di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) untuk bisa menikmati fasilitas internetnya. Itupun komputer yang bisa dipakai internetan hanya tiga tiga perangkat. Wah, bayangkan, saya harus menempuh perjalanan sekitar 3 km untuk bisa mengakses sambungan internet itu.

Nah, kini nyaris di semua tempat sudah menyediakan fasilitas internet. Tidak heran, orang-orang khususnya kalangan remaja berlomba-lomba untuk membuka akun jejaring sosial mereka, baik melalui handphone maupun connect by desktop.

“Hal yang pertama mereka buka ketika terhubung ke internet ya pasti buka facebook dulu,” celoteh seorang teman saya.

Memang benar, saya melihat kebanyakan orang, terkhusus teman-teman di lingkungan saya tidak pernah lepas dari kehidupan facebooknya. Setidaknya, kata mereka, harus update status dulu baru maknyus rasanya. Kalau bisa, upload foto juga sekalian.

Sebenarnya jejaring sosial seperti facebook maupun twitter itu bisa dikatakan layaknya sebilah mata pisau. Di satu sisi, menimbulkan dampak-dampak negatif. Di sisi lain, bisa memberikan manfaat jika dijalani sesuai dengan aturan-aturan berlaku.

Saya pun sebenarnya sering memanfaatkan situs-situs pertemanan seperti facebook itu. Di kala ada kesempatan, saya menyempatkan diri untuk membukanya. Bukan untuk update status, melainkan hanya sekadar melihat pemberitahuan-pemberitahuan secara berkala. Update status juga dilakukan seperlunya saja. Jika ada kesempatan, saya akan bergabung dengan komunitas-komunitas yang sesuai dengan minat saya, menulis.

Sumber gambar: Google Search

Untuk mengembangkan minat saya itu, saya juga memanfaatkan sarana yang sudah disediakan di jejaring internet, yakni blogging. Dengan memanfaatkan wadah sebuah blog, saya bisa menyalurkan tulisan-tulisan saya yang terbengkalai di dunia nyata. Saya pun lebih enjoy ketika menulis melalui sebuah social media seperti blog. Otomatis, internet memang menyediakan wahana bagi kita untuk mengembangkan minat kita dalam hal apa saja. Baik itu menulis, film, olahraga, desain, tata busana, dan sebagainya.  Internet malah menjadi ladang “tak terbatas” untuk menuai ilmu. Ilmu jahat sekalipun ada.

Saya pun sudah merasakannya. Semisal ketika saya bergabung dengan social media seperti Kompasiana, banyak hal yang saya dapatkan. Orang-orang saling berbagi ilmu di dalamnya. Kita pun bisa terhubung dengan jejaring pertemanan di dalamnya. Sehingga mustahil, tulisan yang kita posting tidak akan ada yang membacanya. Semenjak bergabung di dalamnya pula, saya semakin terlecut untuk bisa tetap berkarya, karena iri melihat karya orang lain. Mereka bisa, kenapa saya tidak? 

Teman-teman saya juga bertambah. Kebetulan jika ada pelatihan-pelatihan yang diadakan oleh pihak social media sendiri, maka para anggotanya lah yang diundang untuk hadir. Teman maya yang kita miliki bisa ditemui juga pada akhirnya.

Tak bisa dipungkiri, dengan berinteraksi di dunia maya melalui tulisan-tulisan saya, ada kepuasan tersendiri yang ditimbulkan. Setiap selesai satu tulisan, maka saya puas. Tak mengapa hasilnya buruk. Selama kita ingin belajar, hal itu sah-sah saja. Apalagi ada para komentator tulisan yang siap memperbaiki dan berbagi pengalaman terkait tulisan kita. Malah saya juga merasa puas ketika ada (meskipun hanya satu) yang berkomentar di tulisan saya. Itu tandanya tulisan kita dibaca. Hehe..

Tak heran jika kebanyakan orang mencari tulisan (lebih mudahnya) melalui googling. Irit waktu dan efisien. Oleh karena itu, dengan menulis di blog maupun social media lainnya, ada kemungkinan tulisan saya bakalan dibaca karena terindeks google.

--Imam Rahmanto--


Sabtu, 21 April 2012

Pilih Layout atau Menulis?

April 21, 2012
Pekerjaan layout yang sedang saya garap minggu ini benar-benar menyita waktu saya. Sudah empat hari-empat malam berturut-turut saya mesti menghabiskan waktu saya di redaksi kampus, hanya untuk menggarap perwajahan tabloid. Otomatis, kegiatan menulis saya harus berhenti untuk sementara waktu.

Kadangkala saya berpikir, tugas saya sebagai seorang layouter sangatlah menyita waktu saya untuk mengasah kemampuan saya dalam menulis. Padahal sedari awal saya tidak begitu berharap untuk bisa mengemban tugas seperti itu. Ya, sebagai bentuk kepatuhan, maka “sambil menyelam, minum air” menjadi pegangan saya.

Sumber gambar: Google Search

Tidak dipungkiri, selama menjalani tugas sebagai layouter, saya banyak mendapat pelajaran, ilmu sekaligus pengalaman. Akan tetapi, menjalani sebuah proses desain tata letak tampaknya sangat bertolak belakang dengan  menjalani aktivitas kepenulisan. Bagaimana tidak, di satu sisi saya harus berhadapan dengan proses desain yang menuntut kreativitas dalam bentuk “gambar”, di sisi lain saya ingin sekali mengasah kemampuan saya dalam sebuah tulisan yang lebih menuntut pada kreativitas mengolah “kata”.

Dibandingkan proses menulis, proses layout ternyata membutuhkan waktu dan tenaga serta pemikiran yang extra. Berpikirnya itu loh. Saya sendiri merasa lebih “stress” ketika mengerjakan sebuah tugas layout dibandingkan harus menulis sebuah artikel. Layout atau desain perwajahan tabloid, kita dituntut untuk banyak berpikir, banyak mencoba, geser sana, geser sini, sampai menemukan model yang tepat. Sangat jarang kita menemukan pelaku desain (desainer) yang bisa langsung tahu konsep dan isi dari desain yang akan dikerjakannya. Mereka pasti selalu butuh waktu untuk mencoba tiap model yang dirasa bagus.

Bagi saya, sebenarnya menulis tidak begitu jauh berbeda dalam hal mencobanya. Saya pun menulis harus selalu “mencoba”. Akan tetapi, ketika saya menulis, saya tidak perlu berpikir persoalan desain-desain (yang akan banyak menyita waktu untuk mencoba). Bayangkan, mendesain atau mengatur tata letak sebuah halaman tabloid saja saya sampai butuh waktu lebih dari sejam. Hal ini berdasarkan kemampuan saya dalam hal mendesain.

Berdasarkan pengalaman saya, melakukan proses desain membutuhkan waktu yang jauh lebih lama dibandingkan proses menulis artikel. Di samping itu, saya juga lebih menikmati ketika menulis. Dengan menulis, maka saya bisa mendapatkan semangat di dalamnya. :D

Saling Mendukung
Lebih jauh, keterampilan desain dan tata letak itu sebenarnya bisa berkorelasi dengan keterampilan menulis yang kita miliki. Saya pun akhirnya berpikir, suatu saat nanti saya tidak perlu lagi membayar orang lain untuk mengatur perwajahan buku saya nantinya. Karena saya punya keinginan untuk bisa menulis sebuah buku atau novel, maka segala isinya dan desain perwajahannya adalah milik saya. Ongkos terbitnya lebih irit, kan? Hehehe…

Jadi, tidak ada penyesalan dalam menguasai sebuah ilmu dan pengalaman. Karena yakin ilmu yang kita dapatkan akan berguna kelak di kemudian hari. Saya pun merasakan hal itu. Semenjak saya terampil sebagai desainer lepas, saya beberapa kali mendapat job untuk mendesain tampilan sebuah produk maupun sebuah buku.

Benar kata ayah Alif dalam film Negeri 5 Menara,

“Jabat dulu!”

Jalani dulu, dan kita rasakan. Barulah kita putuskan setelah kita menjalaninya. Apakah baik atau buruk? Dan ternyata setelah saya menjalani tugas saya sebagai layouter, banyak ilmu yang telah saya dapatkan. Karena saya “menjabat”nya terlebih dulu. Dan kelak, pasti!, ilmu itu akan saya manfaatkan untuk kepentingan menulis saya. Meskipun saya harus menghabiskan waktu yang “benar-benar” ekstra untuk menjalaninya, sembari tetap belajar untuk menulis.

Lalu, saya tidak perlu lagi  bingung memilih antara layout atau menulis, karena kedua-duanya ternyata bisa dijalani berdampingan, lagi-lagi dengan pikiran dan mental yang “benar-benar” ekstra. Hehe…


--Imam Rahmanto--
*Ditulis ketika benar-benar tidak memiliki kesempatan untuk menulis gara-gara layout. :p

Jumat, 20 April 2012

Waterboom ala Bantimurung

April 20, 2012
Saya dan empat orang lainnya dicegat di depan pintu masuk. Mata petugas jaga itu tajam menatap ke arah saya. Selidik. Ada kesan curiga yang dialamatkannya pada kami.
 

“Mana karcisnya?” tanyanya kemudian.
 

Petugas jaga itu tahu, tak satupun diantara kami yang memegang karcis masuk ke lokasi itu. 
******

Taman Nasional Bantimurng tidak hanya terkenal dengan kehidupan satwa kupu-kupunya. Meskipun mata kita tidak lagi disuguhi warna-warni kupu-kupu yang mengudara, namun masih ada pesona lain yang bisa dinikmati disana.
 

“Bantimurung masih tetap menarik, kok,”
 

Tidak salah, karena kita masih bisa menikmati suasana nan asri dan alami dari air terjun dan gua-gua alamnya, gua Batu dan gua Mimpi. Namun untuk saat ini, saya hanya ingin menceritakan mengenai air terjunnya saja. Lagipula saya juga baru sekali menginjakkan kaki di salah satu gua tersebut, sebentar saja.
 

Untuk menikmati sarana-sarana hiburan “alam” yang ada disana, tiap pengunjung akan berhadapan dengan petugas jaga di pintu masuk. No ticket, no entry. Istilah seperti itulah yang mungkin dialamatkan bagi pengunjung yang tidak memiliki karcis masuk untuk berwisata di lokasi air terjun. Oleh karena itu, tiap pengunjung diwajibkan untuk membeli karcis di loket sebelah pintu masuk.
 

Lain halnya dengan kami. Dikarenakan kami adalah rombongan organisasi dan sudah menyewa salah satu tempat di dalam lokasi (milik Dinas Pariwisata) untuk kegiatan kami, maka kami bisa bebas melenggang keluar-masuk. Ya, sebelumnya melapor juga lah.
 

“Coba kita bawa makanan juga,” ujar teman saya ketika berjalan diantara beberapa orang yang menikmati paginya dengan berpiknik. Mereka menggelar tikar (sendiri maupun sewaan) di beberapa lokasi yang rindang, kiri-kanan jalan.
 

“Kita kan bukan mau piknik. Mau mandi-mandi lah,” jawab saya sekenanya.
 

Pengunjung bersiap-siap meluncur dengan ban-ban bekasnya. (Rizki/Profesi)
Wisata air terjun di Bantimurung tidak kalah dengan wahana-wahana Waterboom yang ada di kota-kota besar. Air terjun yang mencapai ketinggian 9 meter sudah bisa membuat kepala terasa sakit ketika dihujaninya. Arusnya sangat deras, apalagi di kala musim hujan. Tidak ada seorang pun yang berani memasang tubuhnya tepat di bawah guyuran air terjun. Yang ada, mereka malah berdiri beberapa meter di depan air terjun.
 

Setahun yang lalu ketika berkunjung, saya masih bisa menikmati mandi di bawah guyuran air terjunnya. Saat itu, air mengalir tidak begitu deras. Rasanya seperti dipijat-pijat. Bahkan, para pengunjung pun bisa masuk ke dalam liang-liang kecil yang tersembunyi di balik air terjun.
 

Semakin deras aliran airnya, semakin menyenangkan pula wahana waterboomnya. Aliran air terjun yang membentuk sungai kecil dimanfaatkan para pengunjung untuk berseluncur ria. Mereka berseluncur dengan mengandalkan ban-ban bekas yang banyak disewakan disana.
 

Bertahan agar tidak terjungkir. (Rizki/Profesi)
Tak jarang, saya dan pengunjung lainnya tertawa menyaksikan para “penantang” arus terjungkir-terbalik oleh riak-riak air sungai. Saya pun mengalaminya ketika baru pertama mencobanya. Sungguh mirip dengan nuansa arung jeram. Bedanya hanya pada perahunya saja. Cukup berbekal ban dalam bekas, kita sudah bisa meluncur jauh. Jauh sekali.
 

Aliran air terjun yang membentuk sungai kecil itu bisa mengantarkan kita hingga jauh ke tempat yang dikhususkan buat anak-anak kecil. Di atas kepala, kita juga bisa menyaksikan orang-orang ber-flying fox. Hanya saja, saya mesti berpikir panjang jika harus mengikuti aliran air sangat jauh. Pasalnya, saya juga harus menempuh perjalanan yang agak melelahkan untuk kembali ke tempat semula (start point).
Wajar, jika saya menikmati ketika meluncur di atas ban saya. Tidak kapok meluncur saat terjungkir berkali-kali. Meskipun saya belum pernah merasakan pengalaman menikmati waterboom, namun waterboom “alam” yang satu ini sangatlah menyenangkan. Melihat anak-anak kecil begitu berani meluncur, kenapa tidak dengan saya?

Kamis, 19 April 2012

Ajian Nasional Mengenaskan

April 19, 2012
Pendidikan merupakan salah satu pondasi yang menentukan kemajuan suatu negara. Jika suatu negara mampu memajukan pendidikannya, maka bisa dipastikan negara itu akan menjadi terpandang di kancah internasional.
Kemajuan suatu negara sangat ditunjang oleh kemajuan pendidikannya. Bak sebuah akar, pendidikan menjadi penopang segala aspek kehidupan dalam suatu Negara. Politik, ekonomi, kebudayaan, bahkan moral pun dibangun dari dasar-dasar pendidikan. Negara-negara maju senantiasa selalu memprioritaskan penanganan pendidikan bagi masyarakatnya.

Sumber gambar: Goodle Search
Tolok ukur tinggi-rendahnya pendidikan di Indonesia cenderung dikaitkan dengan pelaksanaan ujian nasional. Padahal, jika kita tinjau lebih jauh, sebenarnya pelaksanaan ujian nasional tidak lagi mencerminkan sikap kejujuran sebagaimana yang sering dijunjung tinggi oleh bangsa Indonesia. Kejujuran itu menjadi harga yang sangat mahal bagi individu-individu yang ingin lepas dari pendidikannya.
 
Bekerja Setengah Hati
Lain padang, lain pula ilalangnya. Berbeda jauh dengan Indonesia, yang hingga kini masih tertatih-tatih melaksanakan pendidikannya. Berbagai cara telah diupayakan pemerintah pusat maupun pemerintah daerah untuk meningkatkan pendidikan di Indonesia. Mulai dari pembebasan biaya sekolah, pengadaan buku-buku gratis, peningkatan kesejahteraan guru, hingga mengubah sistem dan standar kelulusan Ujian Nasional. Namun, upaya pemerintah tersebut terkesan dilaksanakan “setengah-setengah”.

Misalnya saja penetapan kurikulum yang dahulu diberlakukan oleh pemerintah. Belum selesai kurikulum yang satu dijalankan, datang lagi kurikulum yang baru menghantam. Belum sepenuhnya hasil dari kurikulum lama dinilai, langsung diganti lagi dengan yang baru. Kesannya, orang-orang yang menjalankan pendidikan di Indonesia tampak seperti “kelinci percobaan”. Korbannya, tentu saja bukan mereka yang merancang kurikulum tersebut, melainkan mereka yang menjalani proses pendidikan.

Seiring penetapan kurikulum tersebut, tiap tahun sistem Ujian Nasional pun selalu berubah. Sistem yang diterapkan cenderung berbeda-beda tiap tahun. Sistemnya terkesan dicoba-coba, dengan alasan mencari yang terbaik untuk kemaslahatan bersama. Padahal di balik semua itu, ada saja pihak-pihak yang berlomba-lomba mencari udang di balik batu, tanpa sadar mereka mengorbankan pendidikan yang dijalani oleh generasi muda.
 
Lenyapnya Kejujuran
Pelaksanaan ujian nasional yang selalu berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya mendorong tumbuh kembangnya bibit-bibit amoral pada seluruh kalangan pendidikan. Sudah menjadi hal yang “lumrah” sekaligus “wajar”, Ujian Nasional seringkali diwarnai dengan kecurangan-kecurangan oleh pihak-pihak terkait. Bahkan, kecurangan-kecurangan itu cenderung ditutup-tutupi oleh mereka. Satu sama lain mengaplikasikan prinsip “tahu sama tahulah”, dengan mengedepankan prinsip perasaan dibandingkan rasionalitas demi pengembangan budi pekerti yang luhur. Masing-masing institusi pendidikan pun berlomba-lomba dalam kecurangan tersebut demi mengangkat reputasi institusi mereka.

Yang perlu dipertanyakan, kemanakah kejujuran yang selama ini diajarkan dan ditanamkan oleh tiap pendidik pada peserta didiknya? Bukan hanya pendidik, bahkan orang tua pun selalu memberikan petuah yang sama, “Bohong itu dosa,”. Namun kenyataan yang terjadi selalu bertolak belakang.

Menilik peristiwa yang beberapa waktu silam sempat mewarnai layar televisi kita, mengenai seorang ibu dan keluarganya yang diusir paksa oleh warga di desanya. Hanya karena ia melaporkan kecurangan yang dilakukan oleh sekolah tempat anaknya menimba ilmu, ia harus menanggung caci maki dari warga desanya. Hanya karena ia menjunjung tinggi kejujuran, ia harus terusir dari desanya oleh warga-warga yang kejujurannya telah tergerus oleh Ujian Nasional demi kelulusan anak mereka.

Ini menunjukkan betapa besarnya ketidakjujuran yang berkembang dalam pendidikan Indonesia. Hal-hal tidak benar sengaja selalu ditutup-tutupi oleh masyarakat, baik itu praktisi pendidikan maupun warga biasa. Wajar jika wakil-wakil rakyat di Indonesia sebagian besar terjerat kasus korupsi. Mereka telah dididik untuk cerdik (baca: cerdas dan licik).

Kini UN cenderung hanya menjadi menjadi ajang perusakan moral bagi tiap elemen yang terlibat di dalamnya. Bagaikan kura-kura dalam perahu, semua elemen beramai-ramai menutup mata terhadap perusakan moral tersebut. Hanya segelintir orang saja yang membuka mata dan telinga mereka demi perbaikan pendidikan di Indonesia.

Seyogyanya Ujian Nasional benar-benar dimanfaatkan untuk kepentingan pendidikan, maka pendidikan di Indonesia tentunya bisa diperhitungkan. Toh, percuma jika otaknya pintar tapi moralnya rusak. Kita justru seperti menabung bibit koruptor yang cerdik di Indonesia.

Pemerintah diharapkan lebih banyak memantau perancangan kurikulum pendidikan yang diberlakukan di Indonesia, khususnya untuk sistem Ujian Nasional. Jangan lagi ada “penyusupan” unsur-unsur politis di dalamnya. Dengan begitu, pengubahan sistem yang diberlakukan tiap tahun pun bisa dihindari. Secara berkala, bisa menghasilkan output yang bisa bersaing di kancah Internasional, baik dari kualitas ilmu maupun kualitas moral.

Bagi elemen-elemen pendidikan pun harus mengedepankan nilai-nilai kejujuran yang selama ini dijunjung. Tidak perlu menjadikan Ujian Nasional sebagai momok yang menakutkan, seakan-akan Ujian Nasional adalah satu-satunya pintu menuju sebuah kesuksesan mutlak. Padahal kesuksesan tidak selalu mengutamakan pengetahuan, namun lebih mengutamakan budi pekerti yang luhur. Mari bangun intelektual, fisik, dan moral yang sehat.



--Imam Rahmanto--

Selasa, 17 April 2012

Kupu-kupu Bantimurung di Ambang Kepunahan

April 17, 2012
Beberapa waktu lalu, saya sempat berkunjung ke Taman Nasional Bantimurung. Kunjungan saya ini bukanlah yang pertama kalinya. Setahun yang lalu, saya juga pernah menginjakkan kaki disini dalam rangka mengikuti Musyawarah Kerja (Musker) lembaga jurnalistik kampus saya. Namun, dengan suasana yang berbeda.

Kali ini, masih melalui lembaga jurnalistik yang sama, saya bersama teman-teman melakukan fieldtrip ke Bantimurng. Kami tidak sendiri, karena ada sekitar 20 orang mahasiswa dari universitas lain di Indonesia yang ikut bersama kami menikmati keindahan alam disini.


Taman Nasional Bantimurung terkenal dengan ciri khas fauna kupu-kupunya. Dari memasuki gerbang saja, pengunjung sudah disambut oleh gapura yang berbentuk kupu-kupu. Di belakang gapura juga berdiri patung kera menyambut para pengunjung. Namun, saya agak bingung ketika melihat patung itu.

“Apa hubungannya Bantimurung dengan monyet?” tanya saya bingung.

Namun seorang teman saya yang berasal dari Maros mengungkapkan, dahulu Taman Nasional Bantimurung merupakan habitat asli dari ekosistem kera. Namun, semenjak orang-orang ramai berwisata ke Bantimurung, habitat asli kera itu mulai tergusur. Mereka mulai menyembunyikan diri dari kawanan manusia di Bantimurung. Yah, saya membuktikan hal itu ketika sempat menyaksikan seekor kera bergelantungan di salah satu pohon dekat penginapan kami.

Realitasnya, tidak hanya habitat kera yang sudah mulai langka ditemukan disana. Kawanan kupu-kupu yang menjadi ikon khas di Bantimurung juga sudah mulai mendekati kepunahannya. Dua kali saya berkunjung disana, tidak pernah saya temukan kupu-kupu beterbangan di sekitar taman nasional itu. Padahal menurut teman saya, seharusnya Bantimurung menjadi habitat asli dari kupu-kupu di Kab. Maros. Semasa kecil teman saya, ia mengaku selalu mendapati kupu-kupu beterbangan di sekitar taman nasional. “Baru memasuki kawasan Bantimurung, sudah ada banyak kupu-kupu yang terlihat di sekitar saya. Berbeda jauh dengan kondisi sekarang,” paparnya.

Memang benar, seharusnya di Bantimurung banyak berterbangan kupu-kupu. Toh, sejak dulu saya selalu diperdengarkan cerita mengenai keindahan Bantimurung, terutama kehidupan kupu-kupunya. Dalam benak saya, pasti beraneka ragam kupu-kupu berkeliaran membentuk kawanan-kawanan tersendiri. Dan nyatanya, setelah saya berkunjung ke sana, yang saya temukan hanya wisata air terjun (pemandian) dan gua-gua alaminya. Yang mencirikan “kupu-kupu” hanya souvenir-souvenir yang dijajakan oleh pedagang-pedagang di sekitar taman nasional itu.

“Tak ada lagi kupu-kupu seperti saat saya kecil dulu,” tutur teman saya yang juga sesama mahasiswa.

Eksploitasi Kupu-kupu


Saat berjalan-jalan di sepanjang pedagang-pedagang souvenir-souvenir, teman saya sempat bertanya,

“Kupu-kupu yang diawetkan seperti itu, bukankah merupakan salah satu bentuk eksploitasi terhadap kehidupan kupu-kupu?”

Beragam jenis kupu-kupu diawetkan demi meraup keuntungan semata. Malah, kebanyakan dari kupu-kupu yang diawetkan itu merupakan jenis-jenis langka.

“Silahkan dilihat-lihat. Ini kupu-kupu langka,” seru seorang pedagang menawarkan dagangannya sambil menunjuk-nunjuk salah satu bingkai kupu-kupu.


Bahkan, jika dipikir-pikir para pedagang bisa memperoleh keuntungan yang sangat besar dengan usaha souvenir itu karena menangkap kupu-kupu hanya dengan modal dengkul. Dan mungkin inilah penyebab punahnya ekosistem kupu-kupu di Bantimurung. Mereka yang hanya berpikir soal untung-rugi terus-menerus menangkapi kupu-kupu di alam Bantimurung.

Menurut kabar yang saya dengar, ada penangkaran kupu-kupu di Taman Nasional Bantimurung. Namun kenyataannya, proses penangkaran itu tidak sebanding dengan jumlah masyarakat yang menjadikan usaha “mengawetkan kupu-kupu” sebagai mata pencahariannya. Semakin banyak saja orang-orang di sekitar Bantimurung yang tergiur dengan usaha souvenir mengawetkan kupu-kupu itu.

--Imam Rahmanto--

Sabtu, 14 April 2012

Semangat dari Pepih Nugraha

April 14, 2012
Ketika membuka-buka akun Kompasiana saya semalam, saya agak terkejut ketika melihat sebuah judul postingan di dashboard akun saya. Ada judul yang begitu menarik minat saya,

---by Pepih Nugraha---

Pasalnya, judul tersebut pernah saya ungkapkan melalui salah satu reportase saya di Kompasiana. Bahkan, saya pun sering berpegang teguh melalui ungkapan tersebut, tentunya dalam hal positif. Ternyata, tidak salah lagi, artikel yang dituliskan oleh Redaktur Kompas.com itu sedikit membahas mengenai diri saya ketika mengikuti pelaksanaan blogshop kemarin (31 Maret 2012). Dan Pepih Nugraha lah yang menjadi salah satu pemateri dalam pelatihan menulis tersebut.

Pepih Nugraha blogshop

Tak bisa dipungkiri, ketika membacanya ada sedikit perasaan bangga bisa menjadi salah satu inspirasi dari seorang pendiri Kompasiana. "Kenekatan" saya ketika mengikuti blogshop Kompasiana Negeri 5 Menara yang lalu ternyata membuahkan hasil. Saya pun sempat berkenalan dengan Pepih Nugraha dan mewawancarainya usai kegiatan. Yang saya lakukan hanya berusaha untuk jadi orang berani. Berani tampil di depan umum. Berani berbuat baik.

Melalui tulisan itu pula, saya menemukan dorongan untuk terus menulis. Tidak ada lagi alasan buat saya untuk enggan menulis. Bukankah sedikit cerita yang dialamatkan pada saya sudah cukup menunjukkan bahwa saya harus tetap menulis? Belajar sedikit demi sedikit untuk mengasah kemampuan menulis saya. Semakin sering saya menulis, semakin mahir saya menulis. Layaknya besi yang setiap hari diasah akan tajam setajam-tajamnya.

Bagian yang paling saya suka, di paragraf akhir ia menulis;
Saya merasa, kemampuan Imam jika terus diasah akan berbuah keterampilan menulis, baik sebagai novelis maupun jurnalis. Mengapa? Karena ia kuat dalam deskripsi dan baik dalam narasi yang disampaikannya. Dan yang lebih penting, Imam juga berani, setidak-tidaknya berani tampil di depan peserta!

Wow! Benar-benar semakin melecut saya untuk berlatih menulis, baik dalam bidang kejurnalistikan maupun tulisan-tulisan lepas lainnya. Terima kasih atas dukungannya.

Jumat, 13 April 2012

Dengarkan Tulisanmu Berbicara

April 13, 2012
Menulis untuk mendengarkan kata hati.

Masalah? Problem?

Mungkin bagi sebagian orang, istilah itu adalah sebuah momok yang patut untuk dihindari. Tidak semua orang berani untuk berhadapan dengan masalah. Apalagi masalah yang bisa membuat pikiran kalut alias depresi sampai pada kondisi stres.

Saya pikir hal itu wajar.  Semua orang menginginkan hidup yang tenang. Damai. Tanpa ada gangguan-gangguan. Namun, apakah mungkin hidup yang dijalani ini bisa mulus tanpa ada aral melintang? Tentu, jawabannya TIDAK. Oleh karena itu, kita butuh obat/ terapi yang menyenangkan untuk bisa terlepas dari tiap beban-beban hidup yang kadangkala menemui kita.

Sebenarnya, menurut saya, semua masalah yang terjadi pada diri kita memiiki solusi. Pikiran kita sebenarnya telah menyediakan solusi sendiri. Istilahnya, “dengarkan kata hati”. Karena kata orang, kata hati tak akan pernah bohong. Kata hati senantiasa akan selalu menjadi motivator kita. Benar.

Nah, untuk itu, saya pribadi mempunyai cara sendiri dalam menggali “kata hati” saya di kala saya sedang bingung, gelisah, atau bahkan depresi.

Menulis. Yah, saya menulis.

“Menulis Saja”

Selama dua tahun belakangan, saya punya sebuah jurnal (semacam buku harian) yang berisi tulisan mengenai riwayat saya. Saya sengaja menyiapkan buku itu, berharap suatu hari nanti saya bisa menulis sebuah novel berdasarkan kisah saya sendiri. Hingga kini, saya masih aktif menulis di buku tersebut. Sudah dua buku tulis – setebal seratusan halaman – yang saya habiskan untuk menulis sedikit kisah saya.

Terkadang, saat saya sedang bingung karena suatu hal, maka saya tuliskan kebingungan saya – Tulis Saja – di dalam buku itu. Layaknya orang bercerita, pena saya mengalir begitu saja. Tidak peduli seberapa jelek tulisan saya. Toh, buku itu akan menjadi konsumsi saya sendiri.

Nah, di saat saya sementara menulis “kegundahan hati” itu, entah darimana asalnya, mendadak di kepala saya muncul dorongan/ semangat untuk mengatasi masalah saya. Awalnya, saya “mengeluh” melalui tulisan saya, namun pada akhirnya saya juga yang memberikan solusi. Saya menguatkan diri sendiri melalui tulisan saya. Dari tulisan itulah kemudian terlahir gejolak semangat yang baru. Usai menulis, saya merasa lega, puas, sekaligus bangga. Saya bangga bisa menjadi motivator bagi diri sendiri melalui tulisan.

Setiap manusia selalu dibekali dengan “kata hati”, namun terkadang kita tidak tahu bagaimana cara mendengarkannya. Untuk itu, tulisan bisa berbicara. Dengarkan hatimu, dengarkan tulisanmu.

"Saya terkadang tidak menemukan alasan yang tepat untuk menulis," ujar teman saya.

Memang sulit untuk memulai sebuah tulisan. Namun, jika kita membiasakan diri, yakin, semua akan mengalir apa adanya. Bahkan, layaknya seorang perokok, seorang penulis pun tak akan merasa puas jika tidak menulis apapun dalam sehari atau seminggu. Yakin pula, menulis itu menyehatkan! :D

Salam kompasiana!

--Imam Rahmanto--

Senin, 09 April 2012

Perasaan Sayang Menumbuhkan Kegigihan

April 09, 2012
Di benak saya pernah terbersit secuil pertanyaan,

"Kenapa ya mereka (termasuk saya) masih kerasan untuk me-manage acara yang membuat pusing kepala ini? Daripada bikin pusing, kan mending berhenti aja dari acara ini,"

Yah, semacam itu pertanyaan yang sering muncul di kepala orang-orang awam. Saya pun sebagai orang yang sudah banyak nimbrung dalam proses kepanitiaan sebuah event tidak bisa lepas dari pertanyaan itu. Bagaimana tidak, acara-acara/ kegiatan yang selama ini saya bangun bersama teman-teman lain tak ayal memecah pikiran kami. Bahkan, tak jarang konflik-konflik selama menjalani proses kreatifnya bisa menimbulkan perang dingin sesama tim kerja.

Seiring berjalannya waktu dan semakin banyaknya kerja-kerja kepanitiaan yang dijalani, saya kemudian tersadar bahwa, pertanyaan saya itu telah bertransformasi menjadi sebuah pernyataan. Pernyataan itu pula yang bisa menjelaskan mengapa saya (dan teman-teman lainnya) masih betah berkutat dengan kesibukan-kesibukan kepanitiaan hingga rela meninggalkan "yang lain". Semua tidak lain, (ternyata) karena rasa sayang.
Rasa sayang kami... Ketika rasa sayang itu sudah hinggap di sesuatu, sulit rasanya untuk melepasnya. Sama halnya, jika saya memaknai "kekeuh"nya kami (para tim panitia) tetap bertahan menjalani proses kreatif sebuah acara hingga acara itu berakhir. Karena kami sayang dengan "tempat" kami bernaung. Karena kami peduli dengan lembaga kami.

Meskipun sebuah event terkadang menimbulkan konflik sesama tim kreatif, menciptakan gurat-gurat amarah, membangun kondisi psikologis sensitif, sampai menitikkan air mata, namun kenyataannya tidak satupun dari pelaku tim kreatif mundur dari pelaksanaan kegiatan. Kami tetap maju bersama. Mengesampingkan ego masing-masing. Selalu ada maaf buat kesalahan masing-masing.

Rasa sayang yang sudah menancap pada sesuatu itu, baik materi maupun abstrak, selamanya sulit untuk dilepaskan. Meski setiap hari kita dihujani dengan kesalahan-kesalahan, namun besarnya rasa sayang itu layaknya air yang mengikis karang. Kita selalu saja bisa memaafkan. Kita memaafkan segala kesulitan dan rasa pusing yang dibebankan pada kita, dan selanjutnya tetap menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab.

Konflik-konflik yang sebelumnya tercipta dalam proses menghelat sebuah acara pada akhirnya akan luluh dengan tawa usai melaksanakan tugas masing-masing. Yang ada, hanya cerita-cerita (yang ditertawakan), seraya mengenang masa-masa sulit menjalani proses kreatif itu. Saya, tidak lagi mengingatnya sebagai sebuah konflik. Namun mengingatnya sebagai cerita-cerita unik yang akan ditertawakan dan dijadikan sebuah pelajaran.

"Begitu ya rasa sayang itu?"

Tidak kurang semacam itu. Lihat saja, ketika kita sayang pada seseorang, maka bagaimanapun orang itu melakukan kesalahan pada kita, selalu saja ada ruang kosong untuk memaafkan. Bagaimanapun ia membuat pusing kita, memberi pekerjaan buat kita, toh dengan senang hati (meski awalnya mengeluh) kita tetap menjalaninya.

Nah, rasa sayang pada sebuah lembaga/organisasi juga bisa diibaratkan rasa sayang pada "orang". Tidak jauh beda. Hanya masalah apa atau siapa yang disayangi. Semua sama saja, kok.

Marah. Benci. Kecewa. Dendam. Caci maki. Lelah. Semuanya adalah warna-warni sebuah kerja sama. Selama rasa sayang itu hadir dalam diri, baik sesama tim kreatif maupun kepada lembaga, sebesar apapun event yang digelar niscaya akan terlaksana dengan baik. Semakin berat prosesnya, memupuk rasa sayang dalam kebersamaan itu juga semakin kuat.

Hasilnya?? "Ikatan" diantara "pemilik rasa sayang" itu semakin kuat...

--Imam Rahmanto, 9/4--

Senin, 02 April 2012

Jawaban (Tak HArus) Melalui Buku

April 02, 2012


Saya terkadang heran sendiri dengan murid saya. Suatu waktu dia mengajukan tugasnya pada saya, tugas non-hitungan, yang berupa penjelasan-penjelasan. Ia mengaku tidak tahu jawabannya, apalagi setelah dia mencari jawabannya di buku. Ia tidak menemukannya.

Setelah saya baca tugasnya, saya merasa pertanyaan-pertanyaannya tidak sesulit yang dia utarakan. Saya pun mencari-cari dalam bukunya dan menemukan jawabannya meskipun tersirat. Ia tidak tahu itu, karena terbiasa membaca jawaban langsung. Mungkin memang karena perbedaan usia dan tingkat pemahaman kami. Saya yang sudah terbiasa berpikir “lepas dari buku” tentu merasa mudah dengan tugasnya.

Pikiran saya tiba-tiba tersentak. Hal yang sebelumnya tidak saya sadari ternyata sudah lama meracuni pemikiran anak-anak seusia murid saya, malah mungkin se-Indonesia. Ya, benar.

“Ini jawabannya apa? Tidak ada di dalam buku,” kata murid saya jika tidak menemukan jawaban tugasnya di dalam buku. Atau jika dia menemukan jawabannya di dalam buku, maka ia akan berkata, “Jawabannya dari mana? Dari sini ya?” tanyanya sambil menunjuk-nunjuk beberapa baris kalimat dalam buku di hadapannya.

Saya tersadar, ternyata anak-anak usia sekolah dasar, maupun sekolah menengah masih terbiasa dengan pedoman buku. Di pikiran mereka terpatri, buku selalu benar. Sehingga segala jawaban atas pertanyaan yang diberikan pada mereka dicari di dalam buku.

Hampir semua mata pelajaran seperti itu, tidak terkecuali Matematika, meskipun hanya dalam taraf hitung-hitungan selalu berpatokan pada buku. Bagi saya, itu tidaklah salah. Wajar, karena buku adalah gudangnya ilmu. Tapi yang menjadi permasalahan disini ketika apa yang mereka tulis, ucapkan, sama persis dengan isi buku, mulai dari bahasanya, kata-katanya, sampai pada titik-komanya. Jika pertanyaannya “ini”, maka jawaban yang mereka tuliskan selalu saja sama persis dengan yang ada di buku. Tidak heran jika kemampuan anak-anak menemukan sendiri jawaban sangatlah kurang. Lha wong kita selalu “nyontek” buku. Ini menunjukkan kemampuan untuk menyusun atau merangkai kata-kata sangatlah kurang. Orang Indonesia kok lemah dalam Bahasa Indonesia?

Saya pun tidak menyangkal, saat menginjak sekolah dasar hingga sekolah menengah dulu saya juga melakukan hal serupa. Mengerjakan tugas atau PR dengan mencari jawabannya di buku. Kalau jawabannya tidak sama persis dengan buku, saya (atau bahkan guru sekalipun) menganggap jawaban itu salah. Jadilah saya dulu mencari banyak-banyak buku untuk persiapan jawaban saya.

Sumber Plagiat

Saya kemudian berpikir, mungkin inilah yang menjadikan kita sebagai seorang plagiator. Kita terbiasa “mengutip” isi buku sama persis. Kita sangat kekurangan kosa kata pribadi dan bahkan tidak mampu merangkai kata-kata sendiri. Kita takut salah, ketika menyusun kata-kata sendiri.

Dari google hingga yahoo, referensi yang kita miliki hanya sebatas dicopy-paste. Memang, dengan mencantumkan sumbernya pada tulisan kita maka sudah dianggap sesuai dengan prosedur pengutipan. Namun, apakah kemudian kita puas dengan sekadar menjadikan tulisan kita sebagai “kliping” dari beberapa tulisan orang lain?

Sejak usia dini, anak-anak memang jarang diberikan pemahaman mengenai mencari jawaban. Guru-guru pun terbiasa memupuk “kemunduran” itu dengan mengharuskan jawaban yang mereka terima sama persis dengan isi buku. Berbeda sedikit saja, nilai yang diberikan pun agak berbeda, meskipun isi yang terkandung dalam jawabannya sama. Hal inilah yang kemudian menggerus sikap analitis pada saat mereka dewasa. Mungkin ini jugalah yang menyebabkan banyak orang mengalami kesulitan dalam menuangkan ide ke dalam sebuah tulisan.

Seyogyanya, anak-anak sedari awal sudah diajari untuk memahami sebuah tulisan bukan berdasar pada apa yang dibacanya, namun pada apa yang dipahaminya. Lebih dari sekadar membaca “lurus-lurus” saja. Mencari jawaban, esensinya tidak “nyontek” pada buku, namun sekadar dijadikan pedoman. Jawaban yang dituliskan harus disusun dengan menggunakan kalimat sendiri. Dengan begitu, anak-anak akan terbiasa merangkai kata-kata sendiri dan secara tidak langsung semakin memperkaya pemahaman kosakata mereka sendiri. Alhasil, tindak plagiat di usia dewasa bisa dihindari, kan?

--Imam Rahmanto--