Jumat, 27 Januari 2012

Belajar dari Siapa Saja

Ketika ide muncul di kepala, maka jangan membiasakan diri untuk menyimpannya lama-lama. Tuangkan segera sebelum kita melupakannya. Karena itu, sedikit tulisan berdasarkan ide dari kepala saya.
 

Belajar tidak hanya dilakukan di sekolah. Secara umum, belajar bisa berlangsung kapan saja, dan dimana saja. Lingkungan tempat kita menjalani hidup bahkan bisa menjadi sebuah pelajaran bagi kita. Saya teringat sebuah kutipan,  
“Pengalaman adalah bukan apa yang terjadi pada kita, namun pengalaman adalah apa yang kita lakukan terhadap sesuatu yang terjadi pada kita,”

Dan benar, ketika orang menganggap bahwa guru terbaik adalah pengalaman. Olehnya itu, waktu bisa menjadi pola pembelajaran sepanjang hidup bagi kita.
 

Sebagai seorang pengajar privat, saya sudah menemui beberapa karakter anak-anak kecil, berhubung saya juga selalu mendapatkan murid antara usia 7 – 13 tahun. Bagi sebagian orang, mengajar seorang anak kecil itu mudah. Pelajaran untuk anak kecil (dalam lingkup sekolah dasar) dikuasai oleh siapa saja. Tapi, kenyataannya tidak semua orang bisa mengajarkan ilmunya pada seorang anak kecil. Bukan pelajarannya yang sulit, namun bagaimana cara membuat ia mengerti tentang apa yang kita ajarkan itu yang tersulit. Dan saya yakin, semua orang sadar akan hal itu.
 

Selama ini, saya beruntung bisa menjajal pengalaman saya untuk menghadapi anak-anak yang masih polosnya. Terkadang,saya tidak hanya mengajar mereka. Bahkan, saya pun banyak belajar dari mereka. Beberapa ilmu “modern” yang baru dipelajari anak-anak zaman sekarang bisa saya sedikit gali dari mereka.
Tak perlu malu dalam meminta ilmu dari mereka. Toh, kita sama-sama belajar. Seperti ketika saya baru tahu bagaimana cara menghitung dengan sempoa. Atau ketika saya baru tahu cara menghitung dengan metode jarimatika (yang ternyata mereka pelajari dari kursus-kursus). Dan baru-baru ini, saya baru tahu mengenai metode hitung lainnya, yakni Mindah. Katanya begitu.
 

Jujur, jauh sebelumnya, saya sama sekali tidak tahu cara menghitung menggunakan sempoa. Namun,  ketika kita memutuskan untuk mengajar anak-anak usia sekolah dasar, setidaknya kita harus sabar karena dituntut mesti tahu “segalanya”. Nah, karena saya dianggap tahu “segalanya”, tidak tanggung-tanggung salah seorang murid saya mengajukan tugas sempoanya pada saya.
 

Karena pada dasarnya saya tidak tahu apa-apa mengenai perhitungan sempoa, maka secara jujur saya mengatakan tidak tahu akan hal itu. Sama seperti ketika saya tidak tahu mengajarkan mereka pelajaran Bahasa Daerah (Lontara), karena memang saya bukan asli Makassar. Namun, tidak lantas saya lepas tangan dari mereka. Saya tetap (menuntun) mengajarkannya sambil belajar darinya. Dan ternyata, berhitung menggunakan sempoa lumayan ribet juga. Alhasil, saya belajar.
 

Dari anak kecil, ternyata saya telah belajar banyak hal. Tidak hanya pelajaran, namun mereka juga secara tidak langsung telah mengajarkan saya cara untuk menghadapi hidup. Wajah polos mereka cenderung menyiratkan ketulusan dan kejujuran yang sebenarnya. Makanya, amat jarang seorang anak kecil itu berbohong.
 

Saya secara tidak langsung ternyata telah banyak belajar dari mereka. Usia mereka yang jauh terpaut di bawah saya tidak menjadikan mereka “wajib” untuk diajar. Kita pun bisa belajar dari mereka. Karena pada dasarnya, belajar tak mengenal usia. Belajar adalah belajar, dari murid ke guru. Guru, bukan siapa yang lebih tua. Namun guru adalah siapapun yang telah mengajarkan apa yang tidak kita ketahui sebelumnya. Murid adalah mereka yang tidak tahu dan berharap untuk tahu.
 

Oleh karena itu, mari belajar. Belajar kepada siapa saja. Belajar dari apa saja. Karena, saya pun telah mencoba belajar dari siapa saja.
 

Sebuah ide yang berusaha untuk segera dituangkan.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar