Senin, 31 Desember 2012

Kelak Tiba Waktunya

Desember 31, 2012

Sudah lebih tiga tahun lamanya...

Cukup menyenangkan bisa berbincang kembali dengan teman-teman lama. Sekian lama tak berjumpa, tentu menyimpan cerita masing-masing. Mengungkit-ungkit kenangan yang sedikit terlupakan. Yah, meski sekadar bertanya kabar melalui jejaring-jejaring sosial. "Apa kabar?"

Akan tetapi, hal-hal demikian pada kenyataannya kemudian menjadi sebuah "momok" bagi saya. Mengapa? Saya tahu arah pembicaraan yang akan ditujukan pada saya ketika "teman-teman lama" usai menanyakan kabar. Selalu saja saya mendapatkannya. Meski berbeda versi, toh makna yang dikandungnya sama saja.

"Kapan wisuda?"

Degg!! Jantung saya seakan tertohok mendengarnya. Saya bingung harus menjawab seperti apa. Dari sekian pertanyaan yang pernah diajukan pada saya, mungkin ini pertanyaan tersulit bagi saya untuk menemukan jawabannya. Inginnya berbohong, sudah terlalu banyak saya mengumbarnya. Berkata seadanya, malah pada akhirnya akan memicu kebohongan-kebohongan baru. Hm...seperti apapun itu, saya sangsi bisa menjawabnya dengan benar.

Sebenarnya, secara umum, adalah hal yang wajar teman-teman saya menanyakan hal itu. Idealnya, memang sudah seharusnya di tahun ketiga ini saya sudah mulai mengurus segala persiapan untuk "meninggalkan" kampus. Hanya saja, tahu tidak, tingkat sensitivita saya seakan-akan meningkat ketika mendengar pertanyaan serupa. Akhir-akhir ini saya seringkali diberondong pertanyaan seperti itu. Membuat saya malas untuk melanjutkan percakapan.

Saya masih ingat ketika dulu ingin membuktikan "sesuatu" pada semua orang. "Tidak semua mereka yang aktif di organisasi akan mengalami nasib buruk di kuliahnya," Mencoba bergabung dengan beberapa komunitas maupun organisasi untuk menambah pengalaman saya. Dikarenakan saya orang yang menyukai tantangan, maka saya begitu "latah" untuk mengikuti banyak kemauan saya. Jadilah waktu saya banyak terbagi ke dalam organisasi bahkan juga ke pekerjaan sampingan.

Menjalani kesemuanya itu barulah membuat saya sadar betapa pentingnya memilih. Waktu kita yang hanya dihadiahi 24 jam oleh Yang Maha Kuasa tidak serta-merta bisa diujikan ke banyak hal dalam hidup ini. Terkadang ada waktu yang wajib kita miliki, ada pula waktu yang bisa kita alokasikan. Waktu-waktu seperti berkumpul bersama teman, keluarga, sekadar berbincang adalah waktu yang sebenarnya penting untuk diperhitungkan. Tak berbeda dengan waktu ibadah kepada Tuhan. Yah, sebagai manusia kita selalu luput dari-Nya. Padahal, tanpa kita sadari, waktu yang kita luangkan untuk hal lain akan berpengaruh pada unsur waktu yang lain.

Sudahlah, di beberapa keping waktu itu, sebagai manusia bijak, kita mesti memilih yang memang terbaik untuk kita. Kita harus memilih ingin mengalokasikan waktu kita untuk siapa dan apa saja. Apa dan siapa yang benar-benar penting bagi kehidupan kita.

Dan akhirnya, ketika menemukan kembali mereka yang selalu merongrong saya, mengapa tidak, cukup saya sampaikan, "Kelak akan tiba masanya, hanya menanti waktu yang benar-benar tepat," di saat saya menemukan pertanyaan yang menjengkelkan itu lagi...


--Imam Rahmanto--

Sabtu, 29 Desember 2012

DC_02

Desember 29, 2012
Pagi! Potongan waktu 24 jam selalu dimulai saat ini. Di waktu ketika ayam-ayam di luar sana berkokok dengan lantangnya. Di waktu ketika sebagian besar manusia masih tertidur dengan memeluk bantalnya. Ah ya, aku sendiri tak pernah tidur dengan bantal guling, apalagi jika harus memeluk bantal guling. Saat-saat ketika matahari masih mencari celah-celah untuk meloloskan sinarnya. Sedikit memberikan kehangatan pagi bagi mereka yang terjaga di awal waktu. Dan waktu ketika setiap manusia selalu berharap untuk kehidupannya yang lebih baik dari hari kemarin.

Pagi selalu saja sama. Sama seperti hari-hari sebelumnya. Udaranya selalu nampak sama. Sejuk dan menenangkan. Apa kalian pernah sekadar menyentuh atau merasakan udara itu? Hanya saja, udara-udara di kota besar seperti ini sudah banyak tercemar oleh asap-asap knalpot kendaraan. Laju pertumbuhan kendaraan bermotor nampaknya tidak berimbang dengan laju kelahiran penduduknya. Aku hanya beruntung ketika akhirnya bisa menemukan tempat tinggal cukup jauh dari keramaian jalan-jalan kota. Sedikit bersahabat dengan waktu pagi seperti sekarang. Sekadar memandangi lorong-lorong kecil yang bakal terendam banjir ketika musim penghujan tiba.

Sesekali, aku melihat mahasiswa-mahasiswa penghuni rumah kost lainnya melintas di depan pondokanku.

“Rama…” Salam ikut duduk di sampingku. Ia kemudian menyodorkan segelas teh hangat di depanku.

“Apa kau hari ini tidak ada kulliah?” lanjutnya lagi.

Aku menggeleng. Entah bagaimana caranya Salam memaknai hari-hari libur seperti ini. Kuliah di perguruan tinggi swasta nampaknya telah mengubah pola hari libur dalam jadwalnya. Aku hanya berharap, semoga pola pikirnya pun tidak ikut berubah.

Aku meraih segelas teh yang disodorkan Salam. Menyeruputnya perlahan. Masih panas benar. Asapnya yang masih mengepul semakin nampak jelas di tengah-tengah suhu dingin pagi ini.

“Kau sendiri? Aku kira hari ini bukan hari liburmu, kan?”

“Memang. Tapi hari ini jadwal kuliahku diundur beberapa jam. Seperti biasa, dosennya ada kepentingan dan menelantarkan kami pagi ini. Kuliah jam sepuluh malah kuliah sore hari,” Salam menekankan intonasinya pada kata “kepentingan”. Wajar, hampir seperdua dosen di kampusnya seringkali melakukan hal serupa. Ia hanya tak habis pikir, mengapa mahasiswa-mahasiswa seperti dirinya yang selalu menjadi korban.
Seperti biasa, aku tentunya hanya bisa menjawab dengan jawaban yang nyaris sama pula.

“Ya, dosen-dosen kalian kan sebagian besar dosen-dosen terbang. Malah, setengahnya mungkin berasal dari kampus kami,” Aku melirik ke samping. Sedikit penasaran dengan reaksinya. Ia hanya pasrah dengan pernyataanku.

Pada kenyataannya, ia tidak mungkin menampik kebenarannya. Sudah sekian lama ia “terdampar” di kampus swasta itu. Meski pembayarannya tidak kalah murah dengan kuliah di perguruan tinggi negeri manapun, tapi bukan keinginannya pula untuk bisa melanjutkan studi disana.

“Setidaknya aku bisa kuliah,” Aku mendengar ucapannya itu lebih dari setahun yang lalu. Agak pasrah. Akan tetapi, keinginannya untuk kuliah itulah yang kemudian membuatnya rela bertahan cukup lama. Cukup lama untuk bisa menumbuhkan rasa kepemilikannya pada kampusnya itu.

Aku mengenalnya sejak lama. Jauh ketika kami hadir di sekolah yang sama, kelas yang berbeda. Akrab dengannya di waktu yang lalu. Menghabiskan waktu sebulan lamanya di sebuah asrama yang menyediakan beasiswa untuk kami, anak-anak berprestasi namun kurang mampu. Saat-saat ketika kami menanti waktu kelulusan di perguruan tinggi yang sama. Dan kenyataannya, kami masing-masing kuliah di kampus yang bukan menjadi destinasi awal kami.

Berulang-ulang aku menyeruput segelas teh yang ada di tanganku. Panasnya sudah berkurang sejak tadi. Aku melihat Salam sejak beberapa menit yang lalu mulai sibuk memenceti tombol hapenya.

Aku melihat seorang mahasiswi melintas di depan lorong kami. Tangannya menenteng tas plastik besar. Mungkin bahan-bahan untuk membuat sarapan pagi, pikirku. Aku membiarkannya. Tidak menyapa atau semacamnya. Toh, tidak semua orang di kompleks lorong ini aku mengenalinya. Terlalu rumit bagiku untuk mendikte satu persatu pendatang-pendatang itu di dalam otakku.

Sebuah pesan singkat kemudian menyela aktivitas “nge-teh”ku pagi ini.

“jangan lupa, hari ini rapat redaksi. Dimohon untuk tidak telat.” Ah ya, rutiitasku kemudian selalu berlaku untuk hari libur ini…


bersambung...

--Imam Rahmanto--

Jumat, 28 Desember 2012

DC_01

Desember 28, 2012
Suara gemuruh di luar baru saja menyadarkanku. Pikiranku terlalu banyak bergelayut pada peristiwa semalam. Sedetik saja, aku ingin dia tak terpikirkan lagi. Ada teman-temanku disini. Aku dan mereka. Kami akan pergi jauh. Jauh sekali, hingga tak seorang pun dapat melepaskan kami. Ah, pada dasarnya aku hanya pergi untuk sementara. Mungkin, untuk menyelesaikan hatiku yang tak kunjung berdamai dengan kejadian semalam.

Aku berpegangan agak kuat pada bahu kursi milikku. Aku melihat di sebelahku, Irfan bersikap agak tenang dari biasanya. Hanya pandangannya yang ia lemparkan keluar jendela. Sekilas dari sana, aku bisa ikut menyaksikan bangunan-bangunan lainnya yang baru saja kami lewati. Mengapa bukan aku yang berada di kursinya. Pikirku menggerutu dalam hati. Seandainya aku berada di posisinya, mungkin lukaku bisa sedikit terobati. Hanya saja, segala tipu daya-bujuk rayu-akal bulusku padanya tadi pagi tak kunjung meluluhkannya.

“Tidak mau,” ujarnya kekeuh sambil menunjukkan wajah kemenangannya. Aku terlalu sial mendapatkan nomor kursi tengah yang diapit oleh dua kursi lainnya. Irfan, di sebelah kananku, tepat di sisi jendela. Di sebelah kiriku, lelaki yang sama sekali aku tak mengenalnya. Sementara teman-teman yang lain memperoleh kursi yang tidak terpisah jauh satu sama lainnya.

Aku menghela napas sebentar. Aku berusaha mengatur napasku yang turun naik sejak tadi. Bukannya aku punya penyakit asma, namun perasaanku yang bercampur aduk meluap-luap dengan kegembiraan seperti ini sedikit memporsir degup jantungku. Mendapatkan kesempatan berpergian dengan mereka pun sudah cukup membuatku bersyukur. Aku baru mengenal mereka lebih dari tiga bulan yang lalu, dan akhirnya diberi kesempatan untuk mencicipi perjalanan sejauh ini. Perjalanan yang akan menjadi kisah pertamaku di ibukota tanah air nanti.

Psst….Rama,” Irfan menggoyang bahuku.

“Kenakan sabuk pengamanmu,” lanjutnya lagi.

Aku baru ingat. Sejak tadi aku belum mengenakan sabuk pengaman yang terurai di kedua sisi kursiku. Aku memandang sekilas pada sabuk pengaman yang dikenakan Irfan. Berganti pada teman-temanku yang lainnya. Tak luput, aku juga mengamati orang di sebelahku. Ooo… begitu ya caranya. Aku berujar dalam hati. Karena ini adalah pengalaman pertama kalinya, aku masih belum begitu paham cara memasang sabuk pengaman ini.

Aku kemudian melingkarkan sabuk itu di kedua pahaku. Erat. Aku memastikannya cukup erat untuk menahanku dari sedikit goncangan, seperti yang dilakukan Irfan di sebelahku. Sementara Ajiz, di baris kursi lainnya, masih saja bermain dengan kamera DSLR Nikon miliknya. Ia tahu kapan waktunya berangkat. Aku mencoba tetap tenang di tempatku.

Dari kursiku, aku bisa merasakannya mulai bergetar. Kecepatannya bertambah. Semakin cepat. Beradu dengan gemuruh turbin di kedua sayapnya. Bangunan-bangunan di luar jendela tampak semakin menjauh ke belakang. Hanya saja, pandanganku sedikit terhalang oleh kepala Irfan yang berusaha memonopoli jendela. Kepalanya yang sebesar lubang jendela tak banyak memberiku ruang untuk melihat, apalagi dalam jarak satu kursi darinya.

“Hei, kasih kesempatan juga dong buat lihat pemandangannya,” gerutuku sendiri dalam hati. Ah, aku cukup gembira saat ini untuk bisa sekadar memakinya. Aku hanya menjitak kepalanya yang dibalas dengan gerutuan “aduh” darinya.

Aku bersiap. Sebentar lagi, aku akan pergi nun jauh disana. Jantungku berdegup tak beraturan. Pertanda bahagia tak menentu. Meskipun, seperti kataku, aku ingin menjauh untuk sementara waktu menenangkan pikiran yang masih terbayang-bayang kejadian semalam. Aduhai, urusan perasaan ini sungguh merepotkan dan menyesakkan hati. Bahagia sebentar saja, selalu meninggalkan jejak kekecewaan itu. Tentu, untuk sesuatu yang pertama kalinya, selalu menjadi hal-hal yang takkan terlupakan pada akhirnya.

* * *

bersambung...

--Imam Rahmanto--

Sabtu, 22 Desember 2012

"Sepotong" Hari Ibu

Desember 22, 2012

Makassar, 22 Desember 2012

Hari Ibu....

Dan Selamat Hari Ibu...

Tepat di tanggal ini, sehari setelah "isu kiamat" ditelan bumi, seluruh dunia memperingatinya sebagai Hari Ibu. Lazimnya, hari dimana semua orang mengucapkan "kasih sayang" kepada ibunya. Tak jarang, kasih sayang itu bisa diwujudkan dalam bentuk hadiah atau hanya sekadar memberikan sekuntum bunga.

Dan saya? Saya tidak tahu bagaimana mengungkapkan perasaan itu. Perasaan yang sebagian banyak orang mengungkapkannya tepat di hari ini. Jikalau hidup saya layaknya kisah di sinetron-sinetron layar kaca, anak dan ibu yang begitu akrab dan romantisnya, membuat saya selalu menginginkan kehidupan keluarga seperti itu, harmonis, tentu saya tidak perlu lagi malu-malu untuk mengungkapkannya untuk ibu saya. Akan tetapi, realitasnya, kehidupan saya berbeda. Sama sekali berbeda dari film-film itu maupun kisah-kisah harmonis keluarga teman-teman saya yang lainnya.

Ibu saya, bukanlah seorang lulusan sarjana ataupun sekolah tinggi. Ia hanya tamatan Sekolah Dasar (entah pada zamannya apakah masih disebut Sekolah Rakyat). Menikah dan kemudian ikut mendampingi ayah saya merantau hingga ke tanah Sulawesi. Dan mereka memutuskan untuk menetap ketika anak pertamanya lahir, saya.

Adalah ibu saya yang mulai mengajarkan saya cara bersikap dan bertingkah laku. Malah, terkadang membumbui nasehatnya dengan hal-hal yang tabu. Ketika dewasa, saya banyak tahu kebenarannya secara logis.

"Imam, jangan makan di depan pintu,"

"Tidak boleh tidur pagi,"

"Jangan makan sambil jongkok,"

"Jangan pulang kemalaman,"

"Tidak boleh berkelahi,"

"Bagi uangnya dengan adikmu,"

Atau mengingatkan untuk tidak melalaikan shalat 5 waktu.

Ibu sayalah yang selalu membangunkan saya di waktu Subuh, untuk menunaikan Shalat Subuh. Sedikit memaksa, yang tak jarang membuat saya agak kesal. Tapi, toh saya tetap bangun pagi. Saya yang kala itu masih kecil (dan cengeng) malah menangis sekaligus ngambek jikalau ibu tidak membangunkan saya. Tentu, ibu ikut kesal mendengar saya bersungut-sungut tentang bangun pagi.

Ibu senantiasa menegur dengan suara keras ketika saya melakukan kesalahan. Namun, berusaha menenangkan dan membela ketika ayah membentak saya.

Saya sendiri merasa heran ketika ada yang mengatakan, saya dibina, saya diajarkan hidup dalam keluarga yang "bahagia". Jikalau bisa, saya ingin membayangkannya. Ibu saya tidak tahu bagaimana berbicara "dari hati ke hati" dengan anaknya. Kata-kata yang disampaikannya hanyalah ucapan-ucapan klise pada umumnya. Ia tak pernah tahu apa itu "Hari Ibu" dan untuk apa.

Oleh karena itu, saya pun tak tahu harus bagaimana menanggapi peringatan universal itu.

Ibu saya tidak tahu dan bukanlah seorang yang ingin "banget" merayakan Hari Ibu. Ia hanya ingin anaknya bisa mengenyam pendidikan setinggi mungkin. Ibu saya bukan orang yang mudah terharu. Saya tidak pernah melihat ibu menangis gara-gara saya, kecuali sewaktu keluarga saya nyaris tak utuh lagi. Hanya saat itu, ketika ia berpesan untuk sekolah yang tinggi dan bisa mengayomi adik saya. Di waktu ketika langit nampaknya ikut menangis bersamanya.

Sumber: rri.co.id
Kata-kata bijak tak pernah saya pelajari dari mulut ibu saya. Pendidikannya tak cukup untuk merangkai kata-kata indah. Meskipun begitu, saya bisa tahu hal yang diajarkannya, cukup dengan melihat senyumannya. Nah, di hari ibu ini, saya tidak perlu menghadiahkan apa-apa. Saya cukup tersenyum seraya membayangkan waktu-waktu yang telah saya lalui bersama ibu saya...


Note: Sebenarnya bukan style saya juga untuk menuliskan sesuatu berdasar pada tren hari ini (baik tanggal maupun hal-hal yang sementara booming). Tapi, ya, karena seorang teman memaksa saya (dan membuat saya risih ingin menulis juga), maka saya mencoba untuk kembali mengisi waktu-waktu saya yang seminggu lalai dari menulis.



--Imam Rahmanto--

Kasmaran itu...

Desember 22, 2012

Aku suka dia

Tapi ku tak tahu untuk

Bilang kepadanya, kalau aku

Dan jatuh cinta padanya

Saya terkadang senyum sendiri, menertawakan tingkah polah salah seorang teman saya yang beberapa hari ini sedang merasakan jatuh cinta. Akh, rasanya saya kembali teringat masa-masa silam saya juga merasakannya. Tingkah setiap orang yang sedang jatuh cinta nampaknya memiliki dasar yang sama.

Jatuh cinta, mungkin terjadi dalam dua versi saja. Ada jatuh cinta pada pandangan pertama, ada pula jatuh cinta pada pertemuan kesekian kalinya. Dan apapun pangkal orang yag sedang kasmaran itu, imbasnya biasanya bakalan sama. Terkadang, tanpa disadari, orang sepandai apapun akan kelihatan "bodoh" ketika sedang kasmaran. Yah, selama ia masih belum menyatakan perasaannya. Haha....

Masih jelas dalam ingatan saya, ketika pertama kali menemukan orang yang benar-benar saya sukai. Meski bukan pada pandangan pertama juga, karena nyatanya asmara itu terjalin setelah beberapa kali pertemuan dengannya.

Ingat, betapa bodohnya ketika denyut jantung saya harus berubah sepersejuta detik hanya gara-gara mendengarkan namanya disebut. Jikalau saya bisa melihat wajahnya, denyut itu berubah lebih cepat menjadi sepersemiliar detik. Dan menjadi tak menentu jika bisa sekadar berinteraksi dengannya. Bayangkan! Tapi, bagaimanapun, seperti itulah kenyataannya. Saya merasa menjadi "orang bodoh" ketika harus berhadapan dengan "kasmaran" itu.

Saya harus lebih banyak belajar mengorbankan waktu (bahkan kuliah atau aktivitas lainnya) hanya untuk bisa meluangkan waktu dengannya. Pada kenyataannya, beberapa aktivitas dan tugas saya terbengkalai gara-gara hal itu. Sikap rela berkorban ketika "kasmaran" itu terkadang sangat berlebihan, sementara kita belum tahu hasil akhir yang akan kita dapatkan seperti apa.

Dengannya, terkadang kita selalu berandai-andai. Mengharapkan hal-hal indah ataupun tak terduga padanya. Ada sensasi-sensasi yang tak terucapkan ketika kita menjalani proses "kasmaran" itu. Malah, kata sebagian besar orang, menguber-uber orang yang disukai itu jauh lebih seru ketimbang setelah mendapatkannya.

Dan kini saya melihat sedikit refleksi itu terulang kembali. Melihatnya, saya hanya bisa tertawa mengingat kenangan yang entah manis atau pahut di waktu silam. :)

Bulan tolong katakan

Bintang bantu bisikkan

Kepada dirinya kalau aku mau

Jadi kekasihnya *




*Lagu The Junas Monkey - Jadian 

--Imam Rahmanto--

Sabtu, 15 Desember 2012

Coto...

Desember 15, 2012
info-makassar-info.blogspot.com
Pernah dengar makanan satu ini? Saya yakin semua penghuni kota Makassar pernah mendengarnya atau sekadar mencicipinya. Makanan berupa sup daging khas dari kota Makassar. Makanan yang katanya selalu menjadi incaran para pengunjung kota Makassar, tak peduli itu artis maupun tourist. Makanan yang dulu begitu saya idam-idamkan. Akh, tapi itu dulu. Sekarang, saya malah sudah bosan menyantap makanan itu.

Sekali-kali mencari bahan tulisan lain lah, sekalipun kuliner.

Namanya Coto. Meskipun namanya mirip dengan Soto (hanya berbeda satu huruf), namun pengolahan maupun penyajiannya sangatlah berbeda. Soto sebagian besar berasal dari pulau Jawa, entah tepatnya dimana. Ada beragam jenis soto yang kemudian berkembang tanpa jelas asal-usulnya. Hanya saja, saya merasa, mungkin saja antara Soto dengan Coto punya hubungan kekerabatan yang cukup dekat. Yeah, who knows?

Saya teringat ketika dulu pertama kali menginjakkan kaki di kota seribu lampu ini. Salah satu makanan yang paling saya ingin untuk cicipi adalah Coto. Hanya saja, kala itu saya masih memiliki permasalahan “klasik” anak rantauan. Saya tidak begitu tertarik menghabiskan uang hanya untuk persoalan makanan yang tidak penting. Yah, meskipun saya terkadang dibuat iri dengan teman-teman yang sudah sekian kali menyantap makanan berlemak itu. Dan pada akhirnya, saya bisa menikmatinya pertama kali atas traktiran teman saya. Hehehe…  sampai saat ini juga saya malah selalu "free" menikmatinya di tempat-tempat yang berbeda.

Coto biasanya disantap dengan perpaduan ketupat (khas lebaran). Meskipun ia berupa kuah atau sup yang diisi daging sapi, tidak sreg  rasanya jika menyantapnya dengan nasi atau makanan lainnya. Kata teman saya, “Mungkin karena tekstur ketupat lebih padat, tidak terpisah seperti nasi,” lebih enak untuk disendok atau dipotong sambil dicelupkan ke mangkuk kuahnya. Aduh, mangkuknya diporsikan kecil.

Selain itu, saya juga belum pernah menemukan coto yang diolah dengan bahan dasar daging ayam.

“Kenapa?”

“Daging sapi itu lebih keras dibaningkan daging ayam. Selain itu kandungan lemaknya juga lebih banyak,” jawab salah seorang teman saya.

Pun, daging ayam selayaknya diolah menjadi Soto. Seingat saya seperti itu. Sebaliknya, saya tidak pernah menemukan Soto yang diolah dengan bahan dasar daging sapi itu. Nah, mungkin, itulah yang menjadi perbedaan unik diantara keduanya.

Bagaimanapun juga, di Makassar ini sebenarnya masih ada banyak makanan khas lainnya yang patut dicoba. Mulai dari Konro maupun Pallubasa. Menghabiskan waktu lebih dari tiga tahun disini seharusnya memberikan waktu yang cukup bagi saya untuk mencoba kesemuanya itu. Hmm, hanya saja,… it just about time…


--Imam Rahmanto--.

Jumat, 14 Desember 2012

Manajemen Waktu?

Desember 14, 2012
suaramerddeka.com
“Berarti kamu orang yang tidak suka membuang-buang waktu ya?”

Saya ingin tertawa mendengarnya, meskipun saya hanya bisa melepaskan senyum getir karenanya.

Ya, seandainya waktu 24 jam itu bisa ditambah….

Saya bukan jenis orang yang mampu memanajemen waktu secara luar biasa. Waktu-waktu yang saya miliki juga seringkali terbengkalai oleh kelalaian saya sendiri. Tak jarang waktu yang semestinya dimanfaatkan dengan baik harus terbuang percuma hanya gara-gara perhatian saya teralih ke hal-hal tak penting lainnya. Barulah ketika saya selesai dengan “kesibukan tak penting” itu, saya baru menyesalinya. Memang benar, penyesalan selalu datang belakangan.

Sebagaimana menjadikan pengalaman sebagai guru yang paling hebat dalam hidup saya, maka saya hanya berusaha belajar dari waktu-waktu yang telah lalu itu. Saya menyadari, kegagalan saya di hari-hari sebelumnya, minggu-minggu sebelumnya, bulan-bulan sebelumnya, maupun tahun-tahun sebelumnya harus segera diperbaiki. Jika tidak, layaknya seekor keledai, saya hanya akan menjadi orang-orang “berangan-angan” sepanjang hidup saya. Sudah cukup keterpurukan saya di tahun sebelumnya yang membuat saya harus menanggung begitu banyak beban.

Sebagai orang biasa (yang berusaha menjadi luar biasa), saya harap perputaran waktu 24 jam itu cukup bagi keperluan-keperluan saya. Terkadang, sayalah yang (sengaja atau tidak) membuat waktu itu tak cukup bagi saya.

Saya bukanlah orang yang pandai memanajemen waktu. Malah, kegiatan-kegiatan saya banyak menghancurkan saya melalui waktu-waktu yang saya miliki. Saya pun tak hebat untuk bisa mengatur waktu saya sedemikian rupa sehingga bisa terjadwal dengan baik. Sementara waktu tidur saya mulai bergeser ke pagi hari. Hanya saja, saya berusaha belajar dari kesalahan-kesalahan saya kemarin. Yah, meskipun agak tertatih. Namanya juga orang belajar. Setidaknya saya sudah mencoba untuk jauh lebih baik.

Potongan waktu 24 jam yang saya miliki sekarang, tidak melalui manajemen yang valid dari saya. Saya hanya mencoba menikmatinya, mempelajari sesuatu yang salah, dan memanfaatkannya untuk melipatgandakan kualitas waktu yang saya miliki. Jadi…jangan pernah menganggap saya sebagai orang yang pandai memanajemen waktu. Buktinya mana??


--Imam Rahmanto--

Minggu, 09 Desember 2012

Insomnia atau Kebiasaan?

Desember 09, 2012

Malam ini, saya (lagi-lagi) terduduk di depan layar komputer (bukan laptop) ditemani segelas Cappuccino...

"Selalu ada cappuccinonya," ujar salah seorang teman saya.

Entahlah. Sudah lama sekali saya memang selalu suka dengan minuman itu. Jauh, jauh sebelum saya mampu terjaga hingga larut malam seperti ini. Yang kata orang selalu dinamai dengan insomnia. Jam tidur saya drastis berubah.

Bagi saya, terjaga hingga larut malam, berjam-jam seperti ini tidak lantas dikategorikan sebagai "penyakit" insomnia. Keadaan tidak dapat tidur karena gangguan jiwa (mengacu pada KBBI) entah seperti apa yang sampai bisa membuat saya terjaga sampai pagi. Saya bukan penggalau. Apalagi kalong. Namun, pada kenyataannya ada banyak orang-orang di luar sana yang dengan bangganya menyerukan insomnia ketika ia tidak bisa terlelap di malam hari. Entah, apakah kata-kata insomnia  dianggap keren atau semacamnya.

Saya sendiri justru tidak menganggap apa yang terjdi pada diri saya adalah insomnia. Hah, saya tidak punya "penyakit" seperti itu. Karena pada dasarnya, kapanpun saya inginkan, saya bisa tidur saat itu juga. Dan percaya atau tidak, minuman dingin di malam hari bisa membuat saya terkantuk-kantuk begitu saja. Makanya, saya agak menghindari minuman "begituan" malam hari. 

Justru hanya sebuah kebetulan saya senang dan terbiasa untuk menghabiskan waktu di malam hari. Apalagi jika suasananya mendukung, saya bakal senang bermain dengan waktu di malam hari. Selain itu, ada banyak hal (tugas dan semacamnya) yang memaksa saya untuk menyita sebagian waktu tidur saya. Huh, andai waktu tidak hanya 24 jam ya? Alhasil, cucian saya terkadang terbengkalai. Lah, apa hubungannya? Lha, saya kan tidak sempat lagi mencuci pakaian di pagi hari.... Hehehe... (_ _")?

"Kenapa selalu cappuccino?"

Mungkin, kelak saya akan mengumpulkan tulisan-tulisan itu, about cappuccino. Lagipula, saya senang dengannya. Bukan minumannya yang membuat saya selalu membuka mata. Akan tetapi, ada sebuah mimpi yang tidak bisa saya interpretasikan lewat tidur yang mesti saya raih. Jauh lebih nyata. Ah iya, saya tiba-tiba teringat tentang awal perjumpaan saya dengan Cappie...


--Imam Rahmanto--

Kamis, 06 Desember 2012

Tentang Waktu dan Menulis

Desember 06, 2012
Sumber: Google Search
"Saya mau menulis, tapi..."

Basi. Keinginan atau mood seseorang menulis, bagi saya, tidak lantaran ia memiliki waktu luang atau tidak. Persoalannya hanyalah pada tekadnya menulis. Mau atau tidak! Tidak berputar pada kata "tapi" yang diikuti oleh beberapa alasan. Jikalau benar-benar "mau", tak perlu lagi banyak beralasan. Kenapa tidak lakukan sekarang juga?

"Saya sudah tidak pernah menulis lagi karena sibuk..."

Seakan-akan waktu 24 jam yang diberikan untuk kita itu tidaklah pernah cukup. Diantara potongan waktu 24 jam, ada banyak kok waktu-waktu yang bisa dimanfaatkan untuk melakukan aktivitas itu. Bagi saya, menulis itu bukan ketika ada waktu luang. Akan tetapi, saya mencoba menciptakan waktu luang itu dengan menulis.

Saya selalu punya waktu. Ada 24 jam yang saya miliki. Dan saya berusaha untuk menggunakan waktu itu sesuai dengan keinginan dan kemampuan saya.

So, mengapa tidak memanfaatkan waktu barang sejam-dua jam sebelum tidur untuk menuliskan sembarang hal yang kita anggap menarik versi diri sendiri? Apapun itu, tidak perlu diperhitungkan selama kita mau menjalani prosesnya saja untuk belajar. Toh, kelak kita bakal bisa membedakan perkembangan tulisan kita sendiri. Atau mungkin malah menertawakannya. Ha-ha-ha-ha....

Membiasakan diri menulis nyatanya akan semakin mengasah kemampuan seseorang dalam menulis (dan memanfaatkan waktu). Saya menulis, tidak bergantung pada kelengkapan yang saya miliki. Tahu tidak, semenjak laptop saya "koma", saya malah tidak pernah lagi menulis lewat perangkat itu. Saya lebih banyak menggunakan handphone untuk menulis di blog saya. Ehem...halo!, handphonenya tipe apa dulu? #teriak.

Selain itu, menulis pun tak perlu mengenal waktu dan tempat. Saya kini sudah mulai terbiasa menulis dimana saja dan kapan saja. Meskipun, tak bisa dipungkiri, terkadang untuk menghasilkan tulisan yang bagus harus bermeditasi - bertapa - merenung - menyendiri - minum cappuccino - memandang langit-langit kamar -  memutar musik instrumental di waktu menjelang tengah malam. Akan tetapi, menulis seperti itu tidak berlaku absolut. Relative. Saya pernah mendengar seorang penulis berkata, "Bedanya penulis amatir dan penulis profesional ada pada cara mereka menentukan waktu, tempat, ataupun mood yang tepat untuk menulis. Jika terbiasa menulis, tak perlu lagi ada alasan seperti itu untuk menunda kegiatan menulis." Like it!

Nah, ungkapan-ungkapan seperti "sibuk" atau "tak punya waktu" sejatinya hanyalah alasan yang dibuat-buat untuk diri sendiri. Ayolah, membangun motivasi untuk tetap menulis itu memang sulit. Tak ada rumus pasti yang bisa membendung rasa malas itu sendiri. Yang dibutuhkan kemudian adalah proses "pemaksaan" sedikit demi sedikit. Selain itu, berharap saja, kelak di masa depan ada seorang ilmuwan ternama yang bakal menemukan obat "anti-malas". Hmm...khayalan tingkat tinggi...


--Imam Rahmanto--

Rabu, 05 Desember 2012

Akrabkan Hati? Mari Bicara

Desember 05, 2012
Ada benarnya juga kampanye iklan yang sering digembar-gemborkan oleh salah satu produk minuman komersil di televisi. Saran mereka atas metode komunikasi "Mari Bicara" benar-benar sangat membantu dalam mengatasi komunikasi yang sedikit renggang.

Maksudnya??

Sumber: Google Search
Yah, tidak bisa dipungkiri, terkadang kita memiliki keinginan yang bertentangan dengan apa yang diharapkan orang tua. Orang tua mengiginkan anaknya menjadi A atau B, malah anaknya lebih memilih jadi C, yang menurut orang tuanya tidak lebih baik dari A atau B sendiri. Nah, tentu sebagian besar dari kita (terpaksa) - apalagi bagi yang tidak begitu akrab dengan orang tuanya - memilih memenuhi keinginan orang tua tersebut meskipun tidak sesuai dengan apa yang diinginkannya. Aduhai, urusan suka atau tidak menjadi persoalan belakang. "Selama ayah atau ibu bahagia, saya juga bahagia," Ah, sungguh prinsip yang benar-benar menyiksa diri sendiri. Come on! Siti Nurbaya sudah tak ada lagi di dunia nyata!

Apa benar seorang anak harus selalu mengikuti kemauan orang tua? Patuh dan nurut? Padahal orang yang akan menjalani kehidupan kita itu adalah diri sendiri, bukan orang tua. Tidak selalu loh orang tua tahu segala hal tentang anaknya. Ada beberapa hal yang biasanya malah luput dari pengamatannya. Hm, saya kira masih ada banyak jalan lain untuk tetap memperjuangkan kemauan kita sebagai seorang anak. Salah satunya ya dengan "Mari Bicara".

Saya sementara menikmati pemandangan dari atas rumah saya dengan secangkir Cappuccino ketika ayah saya ikut duduk di samping saya. Sigh, keadaan seperti ini biasanya ingin membuat saya menjauh. Entah kenapa, saya selalu merasa "terhakimi" jika sudah berbincang dengan ayah saya. Segalanya berubah buruk tatkala saya sudah mulai diinterogasi. Akan tetapi, saya mencoba memaksakan diri untuk tidak beranjak kemana-mana. "Ayolah, sekali ini saja, cobalah berbicara lepas layaknya seorang teman," ujar saya dalam hati menegaskan diri.

"Bagaimana kondisi kuliahmu?" Sungguh pertanyaan yang sudah saya duga jauh hari sebelumnya.

Saya menjawab seadanya. Selang diantaranya ada hening yang melingkupi. Saya diam. Ayah saya diam. Saya sempat sedikit mengalihkan pembicaraan pada beberapa topik-topik tidak penting. Tentang pasar yang sudah banyak berubah. Tentang jualan ayah saya. Tentang anak si "A" yang nakal sekali. Tentang anak si "B" yang cantik sekali. Tentang air yang tidak mengalir sama sekali. Tentang hal-hal yang sepele layaknya seorang teman. Meskipun pada akhirnya ayah saya tetap saja bertanya tentang "hidup" saya.

Akan tetapi, it's about miracle, saya kemudian tahu bagaimana rasanya akrab dengan keluarga sendiri. Betapa menyenangkannya bisa berbicara lepas tanpa ada tekanan dari orang tua. Tertawa menertawakan yang lainnya. Dan intinya, saya bisa sekadar mengungkapkan rencana-rencana masa depan saya berdasarkan versi saya. Semuanya berjalan begitu saja. Pembicaraan yang mengalir lepas layaknya seorang teman yang memberikan pengertian untuk temannya.

Yah, ini tentang "Mari Bicara". Meluangkan waktu untuk berbincang banyak hal dengan keluarga bukanlah hal yang sia-sia. Meski hanya sebatas tatap muka. Atau duduk menonton tivi berdua. Ada banyak hal yang bisa disampaikan. Untuk menjalin keakraban dengan keluarga, tidak selalu harus berbicara tentang hal-hal serius. Bukannya seorang teman itu berbicara apa saja kepada teman lainnya? Tanpa ada yang perlu ditutup-tutupi.

"Mari membicarakan kabarmu. Mari membicarakan hal-hal tidak penting. Mari membicarakan hal-hal tak masuk akal. Mari membicarakan hal-hal lucu. Mari menertawakannya. Mari membicarakan hal-hal penting dan serius. Mari memperdebatkannya. Mari membicarakan kehidupan orang lain. Dan pada akhirnya, mari memahami tentang hidup dan mimpi saya..."


--Imam Rahmanto--

Selasa, 04 Desember 2012

Terlewat Begitu Saja

Desember 04, 2012
"Sangat penasaran apakah seorang Imam pernah menyukai ..........."

Sebuah pernyataan yang sudah sering kuterima. Bahkan, tahukah engkau, teman-temanku disini sering menjadikannya bahan candaan. Engkau, melontarkannya begitu saja malam ini. Setelah aku mencoba mengingat-ingat masa-masa SMA-ku dulu. Hanya karena kita baru saja bersua setelah sekian lama tak jumpa, meski hanya sebatas berkomunikasi beberapa menit via jejaring sosial. Aku juga sebenarnya penasaran dengan mereka yang pernah kutitipi perasaan tak nampak itu. Tapi, apakah mereka atau engkau tahu jika aku sendiri tak pernah menyampaikannya? Sungguh bodoh ya. Ah ya, urusan seperti itu memang bukanlah hal sepele. Tak pantas rasanya jika kita bermain tebak-tebakan di dalamnya. Tak perlu heran aku pernah merasakan statistik peluang tebak-tebakan masalah hati itu. Dan hasilnya? Terlalu menyedihkan untuk dipahami...

Ada banyak hal yang telah berubah. Aku, keadaanku, dia, mereka, atau juga mungkin engkau.

Semenjak aku menghindari coretan-coretan sprayer di baju seragam sebagai tanda kelulusan kita sebagai siswa Sekolah Menengah Atas (SMA). Aku yang saat itu berpikir bahwa seragamku masih bisa dimanfaatkan untuk adikku kelak. Wajar. Adalah hal biasa bagiku untuk selalu berbagi dengan adikku. Orang tua kami tentunya bukanlah orang yang leluasa mencairkan uangnya untuk kebutuhan sehari-hari. Tak ayal, seragamku (mungkin) menjadi satu-satunya seragam terbersih yang pernah engkau lihat.

Sebelumnya, aku tidak pernah menginginkan diriku menjadi orang yang dikenal di seantero sekolah. Itu hanya kesalahan. Seandainya saja nilai kawanku sedikit lebih mencukupi, mungkin aku hanya akan menjadi wakilnya. Dan tidak perlu memerintah langsung pada kalian. Aku hanya berusaha menjadi orang terbaik sesuai dengan harapan ayahku. Sejak kecil, aku sudah diajarkan untuk tidak menyerah pada keadaan. Bahkan, akulah yang mesti memutarbalikkan keadaan itu. Seperti yang terjadi sekarang, bukan? Jikalau mereka tahu, aku telah memutarbalikkan persepsi yang mereka bangun semasa SMA dulu. Mereka mungkin akan mengernyitkan kening ketika melihatku. Tapi, aku kan tersenyum bangga menikmatinya. Aku punya mimpi dan banyak hal yang telah berubah.

Apa kau tahu, di masa-masa sebelum seragammu tercoret, aku terkadang benci melihat orang-orang yang selalu berboncengan mesra dengan lawan jenisnya. Bukannya karena aku terlalu banyak menyerap pelajaran agama yang diajarkan oleh guru agama sekolah kita. Tidak. Aku malah ketika SMA menjadi orang yang paling sering dicurigai tidak menjalankan shalat berjamaah di Masjid sekolah oleh Pak Guru (entah apa alasannya). Aku iri hanya karena tak pernah berkesempatan merasakan hal serupa. Ah ya, memboncengmu pun pernah tapi hanya sebatas solidaritas teman. Dengan yang lainnya aku pun pernah menawarkan hal serupa. Aku tak tega melihat teman-teman perempuanku harus bermalam di kampus hanya gara-gara pekerjaan yang kuberikan.

Aku heran dengan teman-teman lelakiku dengan begitu mudahnya mengatakan, "Dia pacarku," tanpa pernah bercerita muasal kisah kasih mereka dimulai. Padahal dia tak tak pernah kuberitahu, sebegitu penasarannya diriku tentang kisah itu. Aku ingin belajar dari siapa saja. Meskipun percuma.

Sebesar apapun ilmu yang kupelajari di masa-masa sekolah dulu takkan bisa mengalahkan sifat pemalu dalam diriku. Tidak. Aku sebenarnya tidak pemalu. Disini, aku dikenal teman-temanku sebagai anak "cerewet". Tidak hanya di dunia nyata, di facebook pun berlaku hal serupa. Aku bahkan biasanya menjadi penganggu yang unik diantara mereka. Heh, Maka tak pantas rasanya aku mengatakan diriku pemalu.

Aku hanya terlalu takut jika seseorang menolak perasaanku. Pertemanan itu berubah renggang. Aku mungkin takkan berani lagi sekadar menyapa. Tak ada banyak hal yang bisa dibanggakan dariku.

Engkau berkata jenius, tapi aku seringkali melihat teman-teman lelakiku tidak butuh kepandaian sesuper Albert Einstein untuk menggaet teman-teman perempuan di sekolah kita.

Kau berkata gagah, akh, sungguh ceroboh rasanya engkau mau menyandingkanku dulu dengan teman-teman yang lebih tinggi dariku. Ingat tidak? Aku sejak dulu dikenal sebagai "siswa kecil" di sekolah. Sampai-sampai, kini teman-teman sekolah kita ataupun guru disana harus terkejut (seakan tak percaya) tatkala melihatku dengan sedikit perubahan yang berbeda. "Wah, kamu ternyata sudah lebih tinggi ya," kalimat pertama yang selalu ditujukan buatku.

Oh ya, engkau juga berkata tentang ketampanan dari dalam, semacam inner beauty. Akan tetapi, apakah kau tahu, seseorang lebih suka membeli buku karena melihat sampulnya saja? Engkau tahu dan engkau mengerti akan hal itu..

Ada banyak hal yang selalu terbalik di dunia ini.

SMAN 1 Alla
Memory.
Aku pernah menyukaimu? Sebut saja, ya. Aku sudah lupa kapan tepatnya ketika aku mulai menyimpan perasaan itu untuk diriku sendiri. Perasaan yang membuatku senang harus mengantarkanmu pulang ke rumah. Meski harus melewati sungai, yang kata orang, penuh makhluk penunggunya. Ya, hal itu berlangsung cukup lama. Agak lama semenjak aku menjalankan tugas dan kewajibanku di intra sekolah. Kau baru mengenalku mungkin ketika bergabung dengan kami. Begitu pula denganku. Kelas yang berbeda namun pekerjaan yang harus dilakukan bersama. Kata ibu guru Biologi, semacam otot-otot yang harus sinergis melakukan pekerjaannya bersama.

Akan tetapi, aku mulai melupakannya. Aku membuangnya jauh-jauh. Tak mungkin aku bersaing dengan seseorang yang berbeda sekolah namun setiap hari setia  menjemputmu. Jika engkau menyandingkanku dengannya, aku akan mengalah. Aku sama sekali selalu kalah jika harus bersaing soal perasaan. Sekolah, tak pernah mengajarkanku bagaimana cara mengungkapkannya.

Dan tahukah engkau, sungguh pengalaman yang lucu ketika pertama kali menginjakkan kaki di kota Makassar, aku bertemu dan berteman dengan lelaki itu. Aku yang tidak pernah bertemu dengannya diperkenalkan teman sekelasku di sekolah dulu melalui bisikan-bisikan singkat.

"Dia itu pacarnya," bisiknya padaku.

Yah, sungguh suatu kebetulan bisa mengenal dan akrab dengannya, meskipun hanya beberapa bulan. Selepas itu, aku tak pernah mendengar kabarnya lagi. Mungkin, engkau lebih tahu kabarnya dibandingkan aku.

Siapa yang mengira, perasaanku kemudian tumbuh pada orang yang berbeda di sekolah kita. Bahkan engkau tidak tahu hal itu. Bukankah sudah kukatakan, aku adalah orang paling "jenius" menyembunyikan perasaan. Terlebih kepada orang yang kutujukan perasaan itu. Dikebiri sekalipun, aku takkan bakal mengungkapkannya. Bahkan sekadar membagi curahan hatiku itu dengan orang yang kupercayai. Hingga beranjak lepas SMA pun, masih tertanam perasaan itu. Tapi, sudahlah. Aku berusaha melupakannya.

Jika engkau ingin tahu diriku yang sekarang, aku berbeda. Jauh berubah soal rasa. Tentu saja, kelak ketika kita bertemu engkau akan menemukan pribadi yang berbeda dengan yang kau kenal di SMA dulu. Aku tak lagi senang dengan perihal menyembunyikan "rasa". Tak berguna, kata orang. Tak perlu heran ketika aku menceritakan banyak hal padamu malam ini. Terbuka. Jujur. Dan mungkin... lebih tenang.

Aku banyak belajar soal betapa bodohnya menyimpan perasaan untuk diri sendiri. Mengatasinya dan membaliknya menjadi sebuah keberanian adalah hal yang patut kupelajari. Kau tahu darimana aku belajar? Akh, aku belajar dari seseorang yang menjadi "virus" kesekian kalinya bagiku. Akan tetapi, mungkin, ia takkan pernah tahu bahwa ia adalah satu-satunya yang pertama bagi keberanianku. Oleh karena itu, seandainya waktu bisa dikembalikan, aku ingin memperbaiki kebodohan-kebodohan yang lalu di masa sekolah kita. Memperbaikinya, bisa jadi mengajarkanku cara yang benar untuk berkata benar padanya.

Manusia tak bisa menciptakan mesin waktu untuk kembali ke masa silam. Namun, manusia tak pernah menyadari telah dianugerahkan Tuhan untuk memiliki sendiri mesin waktunya, yakni memory.

Dan kini, aku masih saja menyendiri. Entah karena aku ingin berlari mengejar mimpiku atau karena aku yang terlalu takut mengulang perasaan yang salah.... Apakah kau tahu itu?



Makassar, 3 Desember 2012
--Imam Rahmanto--

Senin, 03 Desember 2012

Arah

Desember 03, 2012
(int)
Malam ini, ditemani secangkir cappuccino, aku terpaku di depan laptop kesayanganku. Tak ada binar-binar bintang di langit. Tak ada suara-suara binatang malam yang memecah kesunyian. Musik instrumental dari perangkat kesayanganku mengalun dengan begitu lembutnya. Seharusnya musik itu membawaku ke alam mimpi. Tapi nyatanya aku masih saja betah memandangi langit dari luar kamarku. Berharap setitik bintang saja muncul di ujung sana. Atau kalau tidak, jatuhkan saja bintang itu. Pikirku.

Aku menyudahi acara duduk-duduk di depan kamarku. Tulisan yang sedari siang tadi kutuliskan kini telah menjelma menjadi ribuan kata. Nyaris sudah sepuluh tahun lamanya aku menggeluti pekerjaan ini, namun masih saja terasa sulit bagiku membangun sebuah jalan cerita.

“Apanya yang sulit?”

“Entahlah. Saya, hm, hanya saja mungkin agak kesulitan menemukan sebuah persoalan yang menarik untuk dituliskan,”  ujarku pada editor yang selalu menerima langsung tulisanku.

“Aku kira itu hanya perasaanmu saja. Selama ini aku membaca karya-karyamu, semua hasilnya bagus kok. Tulisan-tulisan yang kau katakan jelek malah diacungi jempol oleh pimpinanku,”

Aku ingin saja seketika itu mendengarnya lantas terkejut dan berujar, “Benarkah?”. Akan tetapi, ada sesuatu yang selalu saja membuatku minder, seakan-akan bagian tulisanku masih ada yang kurang.

Aku hanya tersenyum menanggapinya.

Keadaannya sekarang telah jauh berbeda. Sama sekali berbeda ketika pertama kali tulisanku dimuat di sebuah surat kabar. Tulisan sepanjang dua kolom yang membuatku melonjak kegirangan. Tulisan yang terpaut namaku dan membuatku dikenal oleh seluruh teman-teman seprofesiku. Tulisan pertama yang akhirnya membuatku berani untuk meninggalkan pekerjaan yang selama ini kugeluti bersama teman-temanku.

“Apa? Bodoh! Apa kau bodoh? Masa gara-gara tulisanmu itu kau mau berhenti ngamen?” ujar Codet tak percaya. Kawanku yang satu ini, yang selalu baik denganku, mencoba beradu argumen denganku. Ia menganggapku telah “murtad” dari ajarannya.
Iyo. Memangnya tahu ko menulis? Membaca saja na kau masih patah-patah. Lebih pintar ka saya,” Adi menimpali.  Aku hanya terdiam usai melontarkan keinginanku itu. Sambil menunduk, aku memegang erat-erat ukulele di tanganku.

“Kalau misalnya menulis ko, apa bisa kau dapat? Uang? Mana mungkin! Nanti malah putus sekolah ki  kalau tidak adami uang ta,” Codet masih saja berusaha meyakinkanku. Adi menambahinya dengan tertawa terbahak-bahak.

Padahal biaya sekolahnya selama ini ditanggung oleh orang tuanya sendiri. Pekerjaan yang digelutinya hanya untuk senang-senang dan sekadar menambah uang jajan. Orang tuanya masih cukup untuk membiayainya hingga tamat SMA. Penghasilan mereka sebagai penjaja makanan dan minuman di depan Benteng Rotterdam masih biasa membiayainya hingga tujuh tahun mendatang.

Tidak jauh berbeda denganku. Aku bekerja sebatas menikmati masa kecilku. Jika orang-orang kaya menikmati masa kecilnya dengan bermain Play Station 2, facebook, twitter, liburan, dan segala tetek-bengek menyenangkan lainnya, aku bersama kawan-kawanku berkeliaran dari satu tempat ke tempat lain di seputaran Benteng Rotterdam menjelang tengah malam. Tengah malam, bukanlah waktu kami untuk tidur, melainkan waktu kami untuk bermain. Kami baru tidur ketika duduk di bangku paling belakang kelas.

Dari uang hasil ngamen itu, kami bisa gunakan untuk membeli minuman-minuman “menyesatkan” yang membuat kami serasa lebih gentle. Kalau tidak, kami menghabiskan waktu semalaman begadang di warung internet (Warnet) bermain facebook untuk bertaruh di meja poker virtual. Bosan pun, kami beralih ke permainan tembak-menembak di internet.

Oleh karena itu, meninggalkan pekerjaan ini pun tidak akan membuatku putus sekolah. Aku masih bisa sekolah, sambil terus belajar menulis. Kemarin, aku baru saja mendengar dari “mereka” bahwa menulis itu menyenangkan, menulis itu menghasilkan, menulis itu mudah, dan Tulis saja! Aku menyaksikannya langsung, penampilan para penulis-penulis yang urakan namun memancarkan wajah kebahagiaan di setiap kata-katanya. Aku merasakannya. Aku merasakan sebuah mimpi menyeruak dari batinku. Pertunjukan itu benar-benar mengubah arah hidupku.

“Menulis, katanya tidak butuh bakat. Yang penting mau ka belajar. Terus dan terus. Karena nabilang kemarin itu orang-orang, menulis itu adalah proses. Siapa saja bisa nulis, termasuk saya,” ujarku getir dalam hati. Aku tak berani menyampaikannya.

Air mataku menetes. Ada perasaan tak terbendung yang ingin kusampaikan pada mereka.

Aku menyorongkan bungkusan plastikku pada Codet. Menyerahkannya. Aku tak membutuhkannya lagi. Semenjak menyaksikan keramaian kemarin, aku sudah bertekad untuk menggantungkan mimpi-mimpiku lebih nyata. Tidak sekadar membayang-bayangkannya lewat menghisap-hisap bungkusan lem fox itu. Aku lantas pergi, meninggalkan mereka dalam keremangan cahaya lampu pinggir jalan. Aku diam, tak mempedulikan teriakan mereka yang memanggil-manggil namaku dan menyumpahiku.

Aku biarkan udara malam menembus celah-celah jendela kamarku. Aku tak peduli jika hujan kan turun malam ini. Atau nyamuk-nyamuk kecil akan menyapu bersih kamarku malam ini. Toh, aku sudah terbiasa bersahabat dengan udara malam ketika kecil dulu. Tidur pun tak tentu tempat. Ibu tak pernah menegurku ataupun mencariku. Ia membiarkanku. Mungkin seperti itulah kenyataan bagi anak-anak yang banyak menghabiskan hidupnya di jalanan. Ukuran kehidupannya menjadi lebih cepat dewasa. Pengaruh lingkungan.

Kenyataannya, aku kini benar-benar bisa merasakan perbedaannya. Kehidupanku sekarang jauh lebih baik dibandingkan dulu. Aku beruntung, menyaksikan orang-orang nyentrik itu di atas panggung.

***

Suara itu membahana. Apalagi dengan bantuan pengeras suara yang dipasang di sekeliling halaman Benteng Rotterdam ini. Sekilas, aku bisa mendengarkan suara beberapa orang silih berganti membacakan puisi.
Puisi? Ya, aku tahu itu adalah puisi, karena aku beberapa kali sempat membawakannya di depan kelasku. Hanya saja, bagiku, puisi-pusi itu berbeda. Sama sekali berbeda. Jika puisi-puisi di sekolahku selalu berakhiran dengan suku kata yang sama, maka puisi-puisi yang kudengarkan itu malah mirip sebentuk cerita. Sebuah kisah. Akhirannya pun bebas.

Rasa penasaran kemudian membawaku untuk melihat-lihat di sekumpulan orang di bawah tenda itu. Aku meninggalkan teman-temanku yang masih sibuk menghisap-hisap aroma aibon-nya. Salah satu bungkusannya juga aku bawa untuk berjaga-jaga.

Aku memilih duduk selonjoran di atas hamparan rumput hijau di luar naungan tenda. Sambil menghisap-hisap bungkusan aibon-ku, aku lamat-lamat menyaksikan pertunjukan para pengarang Indonesia itu. Jelas sekali nama pertunjukan itu terpampang di spanduk besar di atas panggung itu.

Aku ingat pernah menemukan acara serupa, di tempat ini pula. Namun, nampaknya nama yang mengusungnya sedikit berbeda. Aku tidak ingat betul nama acaranya. Yang masih jelas dalam ingatanku hanya label “Makassar”nya yang diikuti oleh tulisan-tulisan bahasa Inggris lainnya. Orang-orang juga bergantian naik ke atas panggung untuk membacakan puisi dan bernyanyi. Dan lagi, kata orang-orang yang menyaksikannya, banyak penulis-penulis terkenal tanah air maupun mancanegara yang hadir di acara itu. Sayangnya, tak satupun dari nama-nama penulis itu aku kenali. Di telingaku lebih akrab nama-nama para penyanyi dan aktris seperti Trio Macan, Julia Perez, Noah, ataupun Cowboy Junior.

Layaknya orang yang tersihir, tiba-tiba saja aku menghentikan aktivitas ngaibonku. Menyadari ada sesuatu yang baru dalam perasaanku. Aku mengagumi beberapa orang yang bergantian naik ke atas panggung itu. Pandanganku tak bisa lepas dari memperhatikan mereka. Aku, juga ingin seperti mereka. Karena sejak dulu aku sudah suka dengan menulis. Apapun itu.

Keadaan keluargakulah yang kemudian menguburkan impianku itu. Keluargaku yang hanya bisa hidup dari berjualan kaki lima tentunya tidak bisa membiayaiku untuk sekolah lebih tinggi. Kelak, lulus SMA saja aku sudah bersyukur. Jika aku harus mengisi hari-hariku dengan menulis, aku bakal tak punya kesempatan lagi sekadar menambah penghasilan orang tuaku. Terlalu sulit bagi anak-anak sepertiku bermimpi menjadi seorang penulis.

Nyatanya, aku menyaksikan masa depanku di atas panggung itu malam ini.

“Gara-gara menulis saya bisa ada disini setelah berkeliling kemana saja,” canda salah seorang yang naik ke atas panggung. Dari tawanya, aku bisa merasakan ucapannyaitu bukanlah sekadar bualan kosong. Wajah orang-orang di atas panggung itu sudah membahasakan banyak hal buatku. Kebahagiaan. Kedamaian. Seni.

“Mau ka juga seperti mereka,” pikirku. Tiba-tiba keinginan yang telah lama kupendam muncul begitu saja. Aku lantas membuang bungkusan di tanganku. Berharap tak ada lagi kecanduan-kecanduan yang akan menghampiriku.

***

“Bagaimana? Besok jadi kan balik ke Makassar?” Dina, editorku, berbasa-basi menanyakan kepulanganku ke Makassar esok hari. Ia baru saja menerima tulisanku yang akan jadi pekerjaannya lagi.

“Jadi lah, Mbak. Apalagi disana juga kan bakalan ada pertemuan dengan teman-teman penulis lainnya,” Aku tersenyum sumringah.

“Oh ya, Ar. Kalau bisa kamu disana tetap standby ya. Soalnya kami masih butuh beberapa tulisanmu,”

“Siip, Mbak!”

***

Namaku Arah. Hanya itu saja. Tidak ada embel-embel nama lain di belakangnya. Cukup singkat, bukan? Karena seperti itulah kehidupan seorang anak yang dilahirkan di keluarga kumuh. Keadaan yang memuakkan terkadang membuat sempit jalan pikiran para orang tua. Tidak jarang malah mereka melakukan jalan-jalan pintas.

Lalu, mengapa aku bisa seperti sekarang ini? Menjadi salah satu orang yang kalian kenal melalui buku-buku maupun tulisannya. Menjadi salah seorang yang duduk di depan kalian sekarang. Menjadi salah seorang yang bercerita pada kalian.

Hanya satu, hanya karena aku  berani mengubah arah hidupku. Dan nyatanya, aku bangga menyandang nama yang sangat singkat itu. Arah.

Serempak, ruangan ini kemudian diwarnai dengan koor tepukan tangan dari para pengunjung. Aku hanya bisa membalasnya dengan tersenyum ramah. Baru saja aku menyelesaikan kesempatanku untuk bercerita pada mereka.

Suara tepukan itu kemudian berganti dengan suara lantang dari pemandu acara. Ia masih harus mempersilahkan dua orang penulis lainnya untuk bercerita.

Aku memperhatikan para pengunjung yang memadati ruangan ini. Diantara mereka, mataku menangkap sesosok yang kukenal. Lama.Llama sekali. Tidak butuh waktu yang lama untuk membuka ingatanku satu-persatu.

“Kau ternyata disini,” gumamku. Aku tersenyum ke arahnya dan dibalas Codet dengan sedikit anggukan kecil seraya tersenyum yang mengisyaratkan, “Sudah kau buktikan.”


Makassar, 1 Desember 2012
--Imam Rahmanto--

Ket:
*ngaibon = menghisap-hisap sejenis lem aibon atau lem fox yang memiliki aroma yang membuat seseorang bisa kecanduan. (inhalen)

Sabtu, 01 Desember 2012

Radio

Desember 01, 2012
“Lewat radio aku sampaikan”
“Kerinduan yang lama terpendam”



Sumber: Google Search
Saya senang mendengarkan radio. Entah mengapa, dibandingkan menonton televisi, saya lebih senang untuk mendengarkan suara-suara para broadcaster itu mengudara. Meskipun tidak bisa menyaksikan wajahnya secara langsung, namun acara-acara di radio cenderung terjaga dari acara-acara “tak berkualitas” seperti yang sering disiarkan di layar kaca.

Apalagi semenjak menginjakkan kaki di kota ini, saya mulai lebih sering mendengarkan siaran-siaran radio (FM) yang bertebaran di seluruh penjuru kota ini. Lagipula saya juga tidak punya televisi untuk ditonton.  Mungkin kesenangan saya menikmati siaran-siaran radio juga berasal dari sana. Hehe…Maka jangan salah, saya bisa tahu dan mengenal beberapa channel radio dengan baik disini. Tidak perlu disebutkan satu persatu deh, nanti malah jadi promosi, dong.

Di daerah domisili saya, sangat jarang bisa ditemukan siaran-siaran radio, apalagi yang mengusung frekuensi FM. Wilayah yang tidak strategis untuk jejaring gelombang radio sangat tidak memungkinkan untuk memasang banyak pemancar. Mungkin, persoalan biaya membangun pemancar juga menjadi salah satu kendala.

Siaran yang bisa ditangkap radio usang ayah saya hanyalah gelombang siaran Radio Republik Indonesia (RRI). Setiap hari, ketika kecil dulu, saya sering mendengarkannya, meskipun pembawa-pembawa acaranya bukan anak-anak muda lagi. Hehe… Melalui siaran nasional itu, saya juga banyak belajar kok, apalagi soal nasionalisme. Nyatanya, lagu-lagu yang sering diputar adalah lagu-lagu dangdut. ckck...

Beranjak SMA, saya baru bisa menikmati satu siaran frekuensi FM dari kota tetangga. Lumayan, siaran-siarannya memang khusus anak muda. Hanya saja, untuk mencapai frekuensinya, antena radio milik ayah saya harus disambung dengan kabel yang panjangnya nyaris dua meter dan membumbung di langit-langit kamar saya. Jika masih tidak memungkinkan, radionya pun harus bergelantungan di dinding kamar. Hahaha…. Meskipun begitu, tak jarang saya ikut mengirimkan atensi  ke radio bersangkutan, baik hanya sekadar request lagu maupun berkirim salam untuk seseorang. Saya malah selalu setia mendengarkan siaran radio itu di malam hari untuk menemani saya belajar.

Lama berselang, kini, berjarak kurang dari 2 km dari rumah saya disana, telah dibangun sebuah frekuensi FM. Para penyiar-penyiarnya pun direkrut langsung dari sekitar wilayah sana. Jika dibandingkan dengan siaran-siaran di perkotaan, memang masih kalah jauh. Bahasa-bahasa yang mereka gunakan belum fasih Indonesia. Kebanyakan acara yang diputar pun masih seputar musik (dan musik). Meskipun demikian, hal tersebut sudah menunjukkan sedikit geliat perkembangan disana.

Kala sedang menyendiri (menulis) di tengah malam pun, disini suara-suara broadcaster begadang sering menemani saya. Ada loh channel radio yang mengudara 24 jam non-stop, meskipun penyiar-penyiarnya mengakhiri acara di jam dua malam. Bagi yang sering mendengarkan radio, tentu tahu siaran apa itu.

Yah, pada akhirnya saya senang mendengarkan radio bukan karena tidak memiliki televisi. Tidak. Tidak sama sekali. Melainkan darinya, mendengarkan radio, saya tidak perlu menilai atau menyukai seseorang lewat wajah dan penampilannya. Karena karakter tidak selalu berbanding lurus dengan penampilan make-up seseorang.

Selamat datang 1 Desember!

*Sambil mendengarkan radio, saya menuliskannya.


--Imam Rahmanto--

Tentang Kita

Desember 01, 2012
Bodoh. Bodoh.

Ia diam. Langkahnya dipercepat. Kakaknya yang mengantarkannya ditinggalkannya di belakang begitu saja. Tak dipedulikannya teriakan-teriakan kakaknya yang meminta untuk menunggunya. Sedari tadi ia hanya mengatupkan bibirnya. Tak sepatah kata pun mampu dilontarkannya. Giginya mengeras menekan satu sama lain.

Dari pelupuk matanya, bulir-bulir air tinggal sepersekian detik lagi akan tumpah membentuk aliran garis lurus di permukaan pipinya. Namun, ia menahannya. Ia tak ingin kelihatan cengeng di saat-saat seperti ini. Raka pernah bilang kepadanya, “Meskipun perempuan dikatakan makhluk Tuhan yang paling sensitif dan mudah mengeluarkan air mata, tapi hal itu tidak berlaku bagimu,”

“Lha, kenapa? Aku kan juga perempuan,” Lara menyela, merasa terusik dengan pernyataan sahabatnya itu. Seraya tersenyum, Raka menjelaskan.

“Bukannya tidak boleh. Tapi sebaiknya kamu menyimpan air matamu untuk sesuatu yang benar-benar pantas untuk kamu tangisi, mungkin untuk orang-orang yang kamu sayang misalnya,” jelas Raka.

“Air matamu terlalu berharga untuk menangisi hal-hal yang tidak berguna, apalagi masalah-masalah hidupmu. Kalau kamu punya masalah, jangan dibawa nangis. Menangisinya tidak akan mengubahnya menjadi lebih baik bukan? Lebih enak kalau kamu tersenyum. Selain kamu tambah cantik, dunia juga bakal membantu mengatasi masalahmu. Dunia ini senang dengan orang-orang yang suka tersenyum, apalagi ketika sedang menghadapi masalah,”

Buat apa aku menangis? Ayolah Lara, tersenyumlah.

Lara memaksakan diri untuk membentuk lengkungan di bibirnya, namun sia-sia. Usahanya untuk menahan tangisnya sia-sia belaka, karena kini air mata deras membasahi pelupuk matanya.

Segala memori tentang sahabatnya itu tiba-tiba saja terputar dengan sendirinya di dalam kepalanya. Bak piringan disc player, otaknya memainkan segala ingatan tentang sahabatnya itu. Satu-persatu. Flashback.

Sumber: Google Search
Tentang rumahnya yang berdekatan. Tentang sekolahnya yang selalu sama. Tentang permainan masa kecilnya. Tentang ikan-ikan yang selalu mereka perdebatkan. Tentang belajar bersama di rumahnya. Tentang Raka yang selalu mengolok-oloknya tak pintar memasak. Tentang Raka yang tak pernah peduli dengan penampilannya, terlalu biasa. Tentang Raka yang selalu menyanyikan lagu. Tentang lagu yang selalu menjadi kesukaan keduanya hingga kini. Bahkan, di kepalanya kini, Lara bisa mendengar dengan jelas lagu itu mengalun mengiringi langkahnya di lorong-lorong rumah sakit.

"Waktu terasa semakin berlalu, tinggalkan cerita tentang kita.
Akan tiada lagi kini tawamu tuk hapuskan semua sepi di hati."

Air matanya terus mengalir. Entah mengapa ia tak ingin menghapusnya. Dibiarkannya saja matanya yang basah itu mencari-cari sahabatnya.

“Kamu suka lagu itu juga?”

“Iya, dong! Aku malah pandai memainkannya,” ujar Raka bermaksud memamerkan keahliannya bermain gitar.

“Masa sih? Sombong deh,” ucapnya tak percaya.

“Gak percaya? Coba nih tak mainkan,” Raka memetik dawai gitarnya, membentuk alunan melodi lagu Semua Tentang Kita. Merdu. Ia menyanyikan lagu tersebut yang kemudian langsung saja diikuti oleh Lara. Berpasangan, mereka menyanyikan lagu itu. Jikalau salah satu dari mereka dirundung masalah, maka lagu itulah yang menjadi pelampiasan mereka.

"Ada cerita tentang aku dan dia, dan kita bersama saat dulu kala.
Ada cerita tentang masa yang indah, saat kita berduka, saat kita tertawa."

Lagu itu terus saja terngiang di kepalanya. Baru tadi siang ia menerima kabar tentang sahabatnya, ketika ia masih menghabiskan waktu bersama pacarnya. Sebuah panggilan menyela, menyatakan Raka mengalami kecelakaan. Motor yang ditumpanginya menabrak truk dari arah berlawanan.

Ini salahku. Aku yang bodoh. Aku menolak ajakannya tadi pagi. Seandainya saja aku memilih pergi bersamanya ke Pantai Losari… Seandainya saja aku lebih memilih bersama dia daripada Dika. Seandainya saja… Ia merutuk dalam hatinya.

Di depan pintu kamar dimana Raka terbaring dengan dokter-dokter yang menanganinya, Lara tiba. Dari balik jendela Ruang Operasi, ia mendorong tubuhnya ke depan pintu. Ia memaksakan jendela untuk bisa mengabarkan segala keadaan Raka sekarang. Namun tetap saja, ia menangis.

Aku menangis, Raka. Aku menangis. Maaf, untuk kali ini aku tak bisa menahannya. Seperti katamu, tangisku hanya untuk orang yang benar-benar kusayangi. Batinnya. Ia terduduk lemas di depan pintu. Membenamkan wajahnya di antara dua lututnya. Membiarkan tangisnya pecah sebanyak-banyaknya.

"Teringat di saat kita tertawa bersama
Ceritakan semua tentang kita"



--Imam Rahmanto-- 

*Ps: just a little story. Masih bingung mau nulis apa di waktu-waktu kosong seperti ini.
 

Rabu, 28 November 2012

Pagi!

November 28, 2012
Yupp, it's morning (again).(ImamR)
Pagi!

Akh, senang juga rasanya bisa (lagi) menikmati pagi seperti ini. Bagi saya, pagi selalu indah. Ada sesuatu yang tak terperikan ketika menikmatinya. Apalagi dengan secangkir minuman hangat. Wuihh!! Semakin menambah suasana-suasana yang merindukan. Tapi entah mau merindukan siapa... #menghela napas.

Ya, saya selalu senang menikmati pagi. Entah atas dasar apa. Atau karena bangun pagi merupakan sesuatu yang langka bagi saya? Sebulan terakhir saya terbiasa (dan dibiasakan) begadang hingga menjelang pagi. Hal tersebut memberikan saya dua pilihan, untuk tetap terjaga atau tidur hingga tak tentu pastinya. Persoalannya, saya tidak pernah tahu caranya bangun sesuai dengan waktu yang diinginkan. Saya selalu tak mampu untuk membiarkan tubuh dan pikiran saya berjalan 24 jam nonstop. Ada saat-saat dimana saya harus beristirahat, meski hanya sejam-dua jam.

Pagi!

Keluarlah sejenak, nikmati hawanya. Diantara potongan waktu 24 jam, hanya sekian jam itu yang menyediakan kedamaian, layaknya menyambut awal kehidupan. Beginning of life.

Pagi!

Ketika saya diberi kesempatan memilih waktu untuk saya miliki, maka saya memilih pagi. Waktu ketika matahari sedang bersiap-siap menyinari seluruh alam. That's it!

Dan selamat pagi!


--Imam Rahmanto--

Kamis, 22 November 2012

Belajar Mempercayai Orang Lain

November 22, 2012

Seyogyanya kepercayaan itu adalah barang paling mudah dan murah untuk didapatkan, siapapun mampu memberikannya. Terlepas dari benar atau tidak hasilnya, tak perlu ada tatapan-tatapan tak percaya yang memborbardir perasaan. Tak perlu susah-susah pula membangun sebuah tim.

Sejak dulu, saya terbiasa mengerjakan sesuatu sendiri. Makan sendiri (lha iyalah!), mandi sendiri (lha iyalah!), cebok pun sendiri (hemm....makin gak nyambung). Saya sangat jarang melibatkan orang lain dalam setiap pekerjaan yang mampu saya selesaikan sendiri. Toh, saya mampu, buat apa juga menyusahkan orang lain? Hingga perkara pekerjaan-pekerjaan kelompok dari sekolah alamat saya yang mengerjakannya sendiri. Meskipun demikian, saya tak mengeluh, saya senang, saya puas, dan saya bangga. Sombong....

Ketika saya diserahi sebuah tugas kelompok, saya cenderung mengerjakannya sesuai dengan apa yang saya inginkan. Segalanya harus sesuai persepsi saya. Saya tak ingin pekerjaan itu berantakan hanya karena sedikit kesalahan yang (mungkin) teman-teman saya bakal lakukan. "Nanti nilai yang didapatkan jadi rendah," pikir saya selalu. Dasar orang perfeksionis. Makanya, tidak mengherankan, dulu teman-teman kelas berlomba-lomba menjadi teman kelompok saya. Kalau sekarang, keadaannya jadi terbalik. Hehe...

Ada saja hal-hal yang membuat saya ingin melakukannya sendiri. Kepuasan bereksplorasi, kepuasan mencoba, menuangkan ide, hingga buahnya sendiri dinikmati sebagai mahakarya sendiri.

Karena sikap perfeksionis itu, saya terkesan menjadi orang yang sangat sulit bekerjasama dengan orang lain. Saya cenderung egois. Saya tidak tahu menempatkan sebuah kepercayaan pada orang lain, karena terbiasa selalu menjadi orang yang dipercayakan. Beruntung, kala itu, saya masih belum bertemu dengan lingkup masalah-masalah berat seperti keadaan sekarang ini.

Semakin panjang kisah perjalanan hidup, tentu semakin banyak hal yang akan dilalui. Hal-hal itu yang kemudian yang juga mengajarkan saya tentang pentingnya sebuah kerja sama. Dalam organisasi tempat saya sekarang, saya banyak belajar untuk tidak melakukan segalanya sendirian. Terlepas kita mampu menyelesaikannya, masih ada orang lain yang mungkin bisa jadi prioritas untuk menyelesaikannya. Saya belajar, mempercayai orang lain itu adalah harga yang cukup mahal, apalagi ketika kita tidak tahu kebenarannya.

Tahu tidak, di balik beragamnya judul-judul animasi (anime) atau kartun yang diproduksi oleh orang-orang Jepang, ada beberapa hal yang selalu menjadi inti ceritanya. Coba diperiksa baik-baik tiap ceritanya. Kepercayaan. Teman. Semangat. Anime tidak akan terlepas dari hal-hal tersebut, yang menandakan orang-orang Jepang begitu menghargai pertemanan, begitu juga kepercayaan. Mereka selalu peecaya dengan teman-teman mereka. Mungkin, Jepang bisa berjaya karena pekerjaan-pekerjaannya selalu dikerjakan dengan dilandasi rasa percaya. Cayoo! Ganbatte!!

Saya belajar, menyerahkan sebuah pekerjaan kepada orang lain meski hasilnya tidak akan seperti yang saya inginkan adalah lebih sulit jika dikerjakan sendiri namun itu meeupakan bagian dari sebuah proses. Saya belajar percaya, melalui proses itulah yang akan membelajarkan orang lain dan mengikis sikap egois yang melekat pada diri saya. Saya belajar untuk bekerjasama menyelesaikan suatu pekerjaan. Saya belajar melepaskan beban yang selalu saya pikul sendiri. Dengan belajar percaya, saya bisa belajar lebih banyak hal yang lainnya lagi. Oleh karena itu, saya ingin lebih banyak percaya pada orang lain...


--Imam Rahmanto--

Jumat, 16 November 2012

Sulit Meninggalkan Kebiasaan

November 16, 2012

Ketika saya dianjurkan untuk meninggalkan kebiasaan mengonsumsi Cappuccino, rasanya bakal sangat sulit. Pernah, suatu ketika salah seorang guru saya menganjurkan untuk tidak terbiasa mengonsumsi minuman-minuman berkafein, termasuk jenis kopi.

"Kalau kopi, Bunda, saya memang ndak suka. Saya lebih suka sama Cappuccino. Beda dengan kopi yang pekat itu,"

"Sama saja, Mam. Cappuccino itu cuman beda campuran saja. Kafeinnya malah disamarkan oleh cokelatnya ataupun susunya," jelasnya.

"Hati-hati loh. Memang kalau masih muda begini kamu belum rasakan. Tapi kalau nanti sudah seperti saya, ya malah bisa kena hipertensi permanen loh. Seperti saya ini, dulu suka minum kopi,"

"Yaaah Bunda.... Tapi saya kan tidak minum setiap hari juga," ujar saya kekeuh.

"Mending kamu minum teh saja. Pantesan kamu kuat begadang. Kafein itu memicu adrenalinmu,"

Jlegg!! Saya tiba-tiba merasa ngeri mendengar cerita Bunda. Akan tetapi, ada perasaan menolak ketika harus menghentikan kegemaran saya pada Cappuccino. Sekian lama, minuman satu inilah yang selalu menemani kesendirian saya. Membuat saya selalu terjaga di tengah-tengah kesunyian malam. Dibandingkan harus berjibaku dengan rokok, saya lebih memilih minuman itu. Lha saya memang bukan perokok.

Tidak jauh berbeda dengan kebiasaan begadang yang mulai merongrong saya. Saya kini mulai terbiasa menghabiskan waktu hingga menjelang pagi hari. Segelas Cappuccino menemani saya setiap malam di warkop sambil menatap layar laptop milik redaksi saya.

Semenjak "Evo" saya mengalami "koma", akibat layarnya retak, saya harus mengerjakan pengelolaan website redaksi di laptop lain. Padahal data-data penting saya mengenai hal itu ada di dalam "Evo". Karena deadline-nya menjelang limit, maka saya harus menyelesaikannya. Dari sanalah bermula saya seringkali menghabiskan waktu di warkop-warnet-redaksi-warkop-redaksi. Wajarlah, saya butuh akses internet yang wusshhh,... Wusshh!!

"Pesan apa?" sapa salah seorang pelayan warkop seperti biasa.

"Biasa..." ujar saya ringan. Saya hanya tersenyum. Saking seringnya saya berkunjung ke warkop itu sebulan belakangan membuat wajah saya dikenali olehnya. Lagipula wajah saya kan sangat sulit untuk dilupakan. Alhasil, baik seorang diri maupun bersama teman, saya telah terbiasa terjaga hingga jam tiga dinihari.

Tindakan yang sudah menjadi kebiasaan. Saya tidak menyadari, jika ternyata kebiasaan itu bisa dibangun dari sesuatu yang sederhana. Meskipun pada awalnya saya tidak pernah (terpikirkan) melakukannya, namun karena ada sesuatu yang (menarik) untuk melakukannya, saya menikmatinya, dan berubah menjadi sebuah kebiasaan. Kebiasaan yang buruk.

Ckck...jika hal ini terus berlanjut, tentu akan berdampak pada rutinitas saya yang lainnya. Yah, bagaimanapun saya mesti rehat dulu dari kebiasaan ini.

Pelayan tadi datang dengan pesanan saya. Saya kemudian meraih cappuccino yang diantarkannya.


--Imam Rahmanto--

Kamis, 15 November 2012

Hujan Siang Ini

November 15, 2012

(Google Search)
Saya berjalan sendirian siang ini. Rinai-rinai hujan menerpa tubuh saya yang dibalut jaket. Saya tak peduli hujan yang sebentar lagi beralih lebih deras. Atau malah membanjiri daerah sekitar sini. Ketika beberapa orang berteduh menghindari hujan, saya malah melangkah santai di lorong-lorong sekitar kontrakan saya. Saya membiarkan rinai-rinainya menusuk-nusuk wajah saya. Apalagi ketika kota Makassar sangat jarang diguyur hujan memasuki musim penghujan ini. Saya merindukannya...

"Biarkan hujan itu meresap ke dalam kulit untuk sampai ke hatimu. Rasakan dengan perasaan apa yang ingin disampaikan hujan untukmu."

Saya lahir dan dibesarkan di tempat yang sama sekali berbeda dengan kampung halaman ayah dan ibu saya. Hawanya sejuk, dan terkadang selalu mengundang hujan. Jika musim seperti ini datang, hujan tak henti-hentinya mengguyur dalam selang waktu sehari.

Menyenangkan rasanya ketika masih anak-anak dulu berlari-larian di bawah hujan sambil menendang-nendang bola. Tak peduli cipratan lumpur mengenai wajah saya dan teman-teman. Teriakan-teriakan riuh dari teman-teman sepermainan memacu untuk tak mempedulikannya. "Tendang, tendang!!" teriak yang lainnya.

Terkadang, ketika hujan turun saking derasnya, saya suka berlari-larian di bawahnya. Tak jarang pula, sembari memegang sabun atau shampoo, saya mandi di bawah guyuran hujan itu. Tak peduli jika besok atau lusa ibu menyalahkan kebiasaan saya itu karena terserang sakit, flu maupun demam.

Saya tak selalu menyukai hujan, layaknya hujan yang turun di hari Selasa atau Jumat, selalu saja membuat hati saya dongkol.

"Kenapa bapak tidak berangkat jualan?"

"Di luar mendung. Takutnya nanti hujan. Kalau hujan atau cuacanya begini, jualan bapak nanti kan tidak laku," jawab ayah saya yang memantau perkembangan cuaca di luar rumah. Ayah lantas hanya bisa mendengar teriakan Yaaaah saya yang kecewa.

Saya jengkel ketika hujan itu menghalangi ayah saya untuk berjualan Es Teler di pasar. Kesempatan emas saya untuk bisa membantu dan sekadar mendapatkan upah Rp 3ribu melayang begitu saja dihempaskan air hujan. Kesempatan saya untuk membeli majalah kesayangan saya pun sirna olehnya. Yaaaah..!!

Apalagi ketika hujan deras sudah mengguyur jalan setapak ke sekolah saya. Jalanan yang berlumpur itu sangat becek untuk dilalui bahkan sekadar jalan kaki. Masih jelas dalam ingatan saya ketika hujan mengguyur, kami lebih memilih berjalan kaki menuju sekolah tanpa menggunakan alas sepatu. Kami menenteng sepatu masing-masing dan mengenakannya selepas tiba di sekolah. Akh, saya masih ingat di sekolah saya itu ada sebuah kolam besar yang direplika layaknya peta Indonesia. Airnya baru terisi penuh jika hujan mengguyur sekolah kami. Tak jarang kami memanfaatkan kolam itu untuk bermain-main, melompat kesana kemari, ataupun hanya sekadar cuci kaki selepas melalui jalan becek tadi.

Saya kemudian senang hanya memandangi hujan, menghitung tiap titik air yang jatuh, jikalau ibu melarang saya bermain di luar rumah karena hujan. "Kamu sering sakit kalau kena hujan," tegas ibu saya. Kini, saya tak pernah sakit jika berhadapan dengan hujan, Bu.

Pada akhirnya, saya mesti dan benar-benar menyukai hujan. Hujan telah menolong saya. Tuhan menghadirkannya di sela-sela doa saya. Doa seorang anak kecil yang dulu nyaris putus asa dengan keadaan keluarganya. Anak kecil yang menangis bukan berdoa karena meminta hujan...

Saya terus melangkah menembus rinai-rinai hujan siang ini. Semakin lama, hujan semakin meningkatkan kecepatannya. Saya bergegas menuju salah satu warung yang tidak jauh dari pondokan saya. Dalam hati, saya berharap persediaan makanannya masih ada, meskipun saya terlambat. Pagi ini, saya terlambat bangun karena baru terlelap menjelang pukul 5 pagi. Di sela-sela hujan itu, saya lantas memesan tiga bungkus nasi kuning yang tersisa.


--Imam Rahmanto--

Senin, 12 November 2012

Impian Tak Sejalan, Go Ahead!

November 12, 2012

Saya senang ketika berbicara tentang impian. Karena itu menandakan saya masih hidup, saya masih bernapas, dan saya adalah manusia. Dari impian itu, saya memiliki semangat untuk terus berusaha, melangkah.

Lebaran yang lalu, saya pulang ke rumah orang tua saya di kampung. Sebenci apapun saya dengan hidup saya, tidak semestinya menjauhi keluarga saya. Se"rutin" apapun tugas maupun pekerjaan saya disini, berkumpul bersama keluarga masih merupakan momen-momen yang patut dirasakan. Yeah, adakalanya perasaan kalut bisa terobati cukup dengan menginjakkan kaki di rumah atau sekadar mencicipi masakan olahan ibu.

Suatu waktu, di pagi yang masih dingin-dinginnya, sambil menyeruput kopinya, ayah saya lantas bertanya,

"Bagaimana dengan pekerjaanmu sebagai guru privat?"

Ayah saya tidak tahu, saya telah beberapa bulan lamanya tidak lagi menggeluti pekerjaan itu. Saya agak direpotkan dengan minat dan pekerjaan saya di bidang jurnalistik kampus. Apalagi, keinginan saya yang begitu besar di bidang kepenulisan itu sendiri nantinya.

"Ehm...saya sudah tidak mengajar lagi," jawab saya singkat, agak ragu. Saya menyangka ayah saya bakal kecewa atau bahkan marah mendengar jawaban saya.

Dulu, ia begitu bangga ketika saya bisa mengatasi masalah keuangan saya sendiri dengan pekerjaan itu. Apalagi pekerjaan itu searah dengan jurusan kuliah saya di kampus. Ia selalu mewanti-wanti untuk tetap "baik-baik" dalam pekerjaan itu. Akan tetapi, tiba-tiba saja saya berhenti dan berbalik arah darinya.

Saya lantas menjelaskan semua padanya. Tentang dimana saya kini, seperti apa saya sekarang, bidang apa yang saya geluti sekarang, bagaimana proses yang saya jalani, dan segalanya... Saya tidak ingin impian yang saya miliki harus berhenti karena menuruti kemauan orang tua saya (yang bukan impian saya).

"Ooh...ya...tidak apa-apalah," Saya benar-benar tertegun mendengar jawaban ayah saya.

"Yang terpenting, apa yang kamu jalani sekarang, kamu betul-betul yakin bisa menjalaninya. Selama itu baik dan jelas menurutmu, kita sebagai orang tua ya hanya bisa memberikan kesempatan buatmu. Bukan lagi zamannya orang tua untuk melarang-larang anaknya menjadi sesuatu yang dikehendaki anaknya. Kita ya hanya berharap itu memang yang terbaik," ujar ayah saya ringan. "Selain itu, yang penting, jaga juga kuliahmu ya," lanjutnya mewanti-wanti saya.

Ada perasaan lega ketika mendengar ayah membiarkan saya menjadi diri saya sendiri. Meraih apa yang memang saya kehendaki. Tidak mengikat saya dalam peraturan yang dibuatnya sendiri. Mungkin, ia tahu kalau anaknya sudah dewasa. Bukan lagi anak kecil yang mesti diarahkan kesana kemari. Kedewasaan itu yang mengajarkan kita untuk berani mengambil langkah dan berani menanggung resiko dari langkah itu.

Terkadang, impian yang dimiliki memang tak sejalan dengan keinginan orang tua. Macam kisah Siti Nurbaya, yang dipaksa menikah dengan pilihan orang tuanya. Padahal ia memiliki pilihan sendiri. Kita punya impian, namun mungkin saja orang tua tidak tahu atau tidak mengerti akan hal itu. Ketika kita jarang mengomunikasikannya, maka orang tua cenderung memilihkan kita untuk "jadi apa" kita nantinya. Ada pula orang tua yang menganggap pilihannya itu terbaik dibanding apa yang dikehendaki anaknya. Ayolah, ini bukan zaman Siti Nurbaya lagi.

Lihatlah, jalan menuju impian itu terbentang begitu luasnya.
(Gambar: Google Search)


Memperjuangkan impian kita, posisinya di mata orang tua, memang adalah hal yang sangat sulit. Namun, melakukannya adalah satu langkah awal kita untuk melaju. Kita tidak akan berlari sebelum memulai satu langkah, bukan? Untuk meyakinkan orang tua tentang keinginan kita, seyogyanya kita mampu memperlihatkan "kelebihan-kelebihan" yang dimiliki oleh pilihan kita. Atau malah, lebih baik lagi, kita bisa memperlihatkan "prestasi-prestasi" yang diperoleh melalui keinginan itu. Meyakinkan orang tua bahwa jalan yang kita pilih memang benar adalah yang terbaik untuk diri sendiri. Dan yakinlah, buah manis dari keterbukaan orang tua ketika memahami apa yang kita inginkan itu benar-benar menyemangati. Restu orang tua selalu menjadi pokoknya.

"Oh ya, memangnya jurusan Matematika bisa masuk jadi wartawan ya?" Saya tersenyum dalam hati, lantas menjawab,

"Bisa kok, Pa',"

Yah, terkadang "kita harus berputar menjadi diri orang lain dulu sebelum menjadi diri sendiri".
(Perahu Kertas).


--Imam Rahmanto--

Sabtu, 10 November 2012

Listrik dan Malam

November 10, 2012

"Apa kau pernah melihat bulan seperti ini?" tanyanya padaku.

Pertanyaan yang sederhana, namun cukup untuk membuatku terdiam agak lama. Aku sendiri bingung, kapan terakhir kalinya bisa melihat bulan seterang dan secemerlang ini. Cahayanya yang lembut, menyebar di seantero kegelapan malam. Ruang-ruang sunyi di sekitar kompleks ini terasa hangat oleh temaram sinar yang menembus celah-celah jendelanya.

Akh, perasaan ini sungguh damai. Aku masih bingung, kapan terakhir kalinya aku menikmati malam yang sunyi seperti ini. Aku mengingat-ingatnya...

Lama, nyaris sepuluh tahun yang lalu aku pernah seperti ini. Duduk di depan beranda rumah. Bergantian, antara menghirup udara malam dan meneguk minuman hangat. Duduk bersama, bercerita, menerawang di langit-langit malam.

Aku mengangguk menjawab pertanyaannya.

Kakak perempuanku dulu sering membawaku ke kaki bukit di belakang rumah. Menjelang tengah malam, kami akan dijemput oleh ayah dan ibu sambil bersungut-sungut. "Apa kalian tidak ada kerjaan lain, selain tiap malam hanya nongkrong disini?" keluh Ibu. "Apalagi kamu Sinta. Kamu kan masih harus sekolah," Kakak yang mendapat omelan ibu hanya tersenyum-senyum kecil. Aku sedari tadi hanya memandanginya tak percaya.

"Sudahlah, Bu. Namanya juga anak-anak. Biarkan saja mereka meresapi alam yang Maha Indah ciptaan Tuhan," potong Ayahku bak sang penyair. Ibu membalasnya dengan tatapan tajam. Ayah hanya bisa berkelit sambil tertawa lepas.

Aku, selalu saja, tersenyum kala mengingat-ingatnya. Kakakku yang tak pernah sekalipun mau menjelaskan padaku alasannya selalu memandangi bulan di belakang rumah. Kakakku yang selalu menarik-narikku untuk ikut dengannya. Membawa seluruh perlengkapan belajarnya dan menyuruh ayah membangunkan kemah-kemah kecil di sana.

"Dimana?" tanya perempuan itu lagi.

Apa aku mesti bercerita padanya. Apa aku harus mengulang kembali memoriku yang telah kuputar itu?

"Di desa tempat tinggalku." Tidak, aku tidak perlu menceritakan semuanya. Biarkan di malam yang gelap ini aku menikmatinya sembari duduk bersamanya di depan teras rumah.

"Apa kau rindu keluargamu?" tanyanya lagi.

Akh, kenapa sedari tadi ia selalu saja bertanya. Apakah karena hanya aku dan dia yang sedang duduk disini? Tidakkah ia lihat aku sementara memandangi lekat-lekat bulan yang nyaris bulat sempurna itu? Tapi, nyatanya ia lekat-lekat memandangi wajahku yang diterpa sedikit cahaya bulan.

Aku mengangguk lagi. Aku menganggap jawaban itulah yang paling memuaskan baginya.

Aku menarik napas dalam-dalam. Menghembuskannya perlahan.

"Maaf, tapi seperti inilah aku," Aku tersenyum memandangi wajahnya.

"Aku tidak ingin terlalu jauh mengingat-ingat keluargaku. Melakukannya hanya akan membuat perasaanku sakit. Lebih sakit dari biasanya," tekanku sambil memaksakan tersenyum. Getir.

"Kenapa kau tidak mau --,"

Aku menggeleng memotong ucapannya. Ia tahu, akan tiba saatnya aku akan menceritakan semuanya, sejelas-jelasnya padanya. Ia memilih untuk ikut larut meresapi malam ini.

Seperti ketika aku akhirnya tahu alasan kakakku selalu memandangi langit malam di kaki bukit belakang rumah.

"Kakakmu suka memandangi langit di malam hari, apalagi ketika bulan muncul. Semenjak kamu lahir, ia melakukan hal itu setiap. Ia takut kehilangan adiknya," Ayahku bercerita.

Aku seharusnya lahir di sore itu, tepat ketika ibuku mengaduh kesakitan. Mengeluh anaknya akan lahir. Namun, kenyataannya, dukun beranak sudah bersiaga dan aku belum juga dilahirkan. Menjelang tengah malam, ibu kelelahan dan tak sadarkan diri. Kakakku menangis sesenggukan dalam pelukan ayah.

Nyaris ketika ayahku kehilangan harapan, suara tangisku memecah kesunyian malam itu. Cahaya bulan membias menerangi tubuh mungilku. Dan kakakku lah yang pertama kali memutuskan untuk menggendongku.

*****

"Sampai kapan ya pemadaman listrik ini? Kabarnya PLN di Tello terbakar dan pemadam masih  berusaha memadamkannya," ujar salah seorang kawanku. Ia muncul dari dalam rumah dengan membawa nampan berisi minuman hangat.

Aku menggeleng, "Entahlah," seraya meraih gelas berisi Cappuccino-ku. Menyeruputnya perlahan.

Yah, bagaimanapun aku sudah terbiasa dengan kegelapan seperti ini. Keluargaku dulu tak pernah menikmati listrik. Di desa tempat tinggalku, kami hanya memanfaatkan pelita sebagai penerangan. Dan kenyataannya, pelita itu yang kemudian menyebabkan bencana besar di desaku. Di keluargaku. Pada ayahku, ibuku,dan kakakku....  (*)


--Imam Rahmanto--
Makassar, 9 November 2012

Jumat, 09 November 2012

Mengajar yang Lebih "Ramah"

November 09, 2012
Saya masih terpaku dengan penjelasan salah seorang dosen saya ketika mata kuliah itu sementara berlangsung. Penjelasannya begitu enak dan gamblang untuk dimengerti. Matematika dan seluk-beluknya dipahami luar-dalam olehnya. Kesalahan sedetail apapun masih bisa tereteksi olehnya. Derita  pelaku jurusan Matematika. Bagi saya (maupun mahasiswa kebanyakan), sudah seyogyanya beliau mampu meraih gelar doktor atau Profesor sekalipun.

"Itulah kesalahan para guru yang selama ini jika mengajar di sekolah. Mereka sangat jarang mengajarkan konsep-konsep Matematika yang sesungguhnya,"

Pikiran saya yang menerawang menjadi terpecah. Apa yang diucapkannya kemudian menarik minat saya.

"Guru-guru hanya mengajarkan bahwa 'seperti ini', 'seperti itu', tanpa pemahaman konsep pada siswanya," lanjut beliau.

Matematika, memang salah satu bidang studi yang rumit. Semuanya harua benar. Satu tambah satu ya harus dua! Mengapa? Karena masing-masing rumus, penyelesaian memiliki konsep ideal masing-masing. Tidak perlu heran, ketika bertanya perihal "definisi" kepada seorang Matematikawan, kita akan memperoleh jawaban yang paling panjang sedunia. Alamak!

Namun, serumit-rumitnya Matematika tetap masih bisa diajarkan kepada siapa saja. Toh, sedari kecil, kita telah belajar berhitung Matematika. Mencacah dengan mimik lucu; catuu, dua, tiga.... sambil tangan dimain-mainkan. Dan itu, kenyataannya tidak memperturutkan KONSEP.

Memang sih, konsep itu sangat penting untuk memahami luar-dalam Matematika. Tapi apakah pantas, jika kita sudah menjejalkan sebuah konsep kepada otak-otak yang tahunya hanya ingin sekadar belajar? Kepada anak-anak sekolah yang murni ingin mempelajari bidang studinya.

Saya pernah merasakan bagaimana mengajar anak-anak usia Sekolah Dasar. Mungkin, di pikiran semua orang terlintas, "Ah, pelajarannya gampang sekali!". Memang benar, hal itu tidaklah salah. Akan tetapi, sadarkah kita, bukan menjelaskan pelajarannya yang sulit, melainkan bagaimana membuat anak itu mengerti dengan penjelasan kita lah yang sangat sulit. Setengah mati kesulitan. Nah, posisi sebagai guru yang seperti ini masih bisakah memaksakan diri menjelaskan konsep sebenarnya? Sangat sulit untuk membuatnya memahami sesuatu yang kita ajarkan jika selalu berdasarkan konsep.

Guru, sebagai pengajar memang dituntut untuk mampu mentransfer ilmunya kepada murid-muridnya. Setidaknya, murid benar-benar telah tahu sesuatu yang sebelumnya mereka tidak tahu. Saya tidak akan menyalahkan guru ketika mengajar tanpa benar- benar memperhatikan konsep yang sesungguhnya. Mereka mengusung keluasan sesuai dengan visi yang dilihatnya pada anak-anak didiknya. Tak ada rotan, akar pun jadi. Konsep tak dimengerti, maka pengajaran terbuka pun bakal mampu memenuhi hasrat belajar murid-murid.

Makanya, saya agak kontra ketika dinyatakan, cara mengajar guru tidak menyampaikan konsep yang sesungguhnya. Mungkin, mereka tahu konsepnya, namun mereka butuh cara atau bahasa yang lebih ramah dan mudah dimengerti oleh anak-anak yang  bersekolah itu.

Pada dasarnya, kita mengajar bukanlah karena kita pandai atau pintar, lalu membaginya kepada orang lain apa yang kita ketahui itu. Akan tetapi, kita mengajar karena orang lain tidak tahu. Maka kita membagi apa yang kita ketahui berdasarkan ketidaktahuan mereka, tidak berdasarkan apa yang kita tahu. Oleh karena itu, kita wajib menyamakan persepsi dengan murid atau orang yang diajar. Anak SD, maka harus mengandaikan diri sebagai anak SD. Anak SMA, maka harus mengandaikan diri selaku anak SMA. Jika tidak, maka kita tidak akan pernah memberikan makna sebenarnya dari belajar itu kepada anak-anak. Dari tidak tahu menjadi tahu. From nothing to something....

*NB: Ada yang pernah menonton film ini? Like that!


Mengajar yang benar-benar sampai pada visi anak-anaknya. (Google Search)



--Imam Rahmanto--