Rabu, 14 Desember 2011

Andai Waktu Bisa Dibeli...

Desember 14, 2011
Sumber Gambar: Om Google

Setiap dari kita memiliki beragam aktivitas. Mulai dari aktivitas dalam skala kecil hingga skala besar. Bergantung pada apa kesibukan apa yang kita lakukan sehari hari. Yah, kesibukan...

Entahlah, bagaimana kita mengartikan sebuah kesibukan. Saya pun seringkali dibuat bingung olehnya. Adakalanya, saya merasa bangga dianggap sibuk oleh teman-teman saya. Namun, ada pula suatu waktu saya merasa bodoh jika terus-terusan dianggap sibuk. Kenyataannya, saya sendiri tidak senang selalu dianggap “orang sibuk” oleh teman-teman saya.

Kesibukan, ada dua sisi yang berbeda. Apakah kesibukan terbentuk karena kita memiliki jadwal pekerjaan atau aktivitas yang super padat? Ataukah malah kita hanya memiliki waktu yang sangat sedikit sehingga pekerjaan yang kita miliki tidak bisa diselesaikan dalam satu kali kesempatan, terlepas dari kita yang menganggap pekerjaan yang ada sangat banyak.

Sebanyak apapun pekerjaan yang kita miliki, tampaknya bisa diatasi jika waktu yang kita miliki lebih dari 24 jam sehari. Lah? Bagaimana caranya, sehari bisa lebih dari 24 jam? Nah, itu dia.. Andai saja waktu bisa dibeli.
Saya seringkali mendengarkan cerita (dalam versi berbeda-beda) mengenai seorang anak kecil yang mengumpulkan uang demi bisa membeli waktu ayahnya. Sehari-hari, ayahnya menghabiskan waktunya untuk bekerja, sehingga tidak punya waktu untuk anaknya di rumah. Mungkin, karena rasa sayangnya si anak pada ayahnya, maka ia ingin membeli waktu ayahnya barang sebentar saja, meski hanya satu-dua jam saja.

Tanpa disadari, langsung atau tidak langsung, pekerjaan yang kita jalani adalah demi membeli waktu kita. Orang bekerja digaji, atas waktu yang mereka luangkan untuk pekerjaan tersebut. Waktu tersebut sudah satu paket dengan keterampilan kita. Dibayar dengan uang.

Saya sempat tergelitik ketika teman saya berceloteh, andai waktu bisa dibeli, ya... karena sebenarnya, waktu setiap orang itu sudah dibeli. Akan tetapi, terkadang, kita tidak menyadarinya.

Jika yang dimaksud adalah realitasnya bahwa waktu benar-benar bisa dibeli dan ditambahkan pada waktu yang kita miliki, semisal kita punya waktu 24 jam dan membeli waktu sebanyak 2 jam, sehingga waktu yang kita miliki menjadi 26 jam. Maka adalah sebuah hal yang “ajaib”.

Tuhan sengaja sudah menciptakan waktu yang beragam buat kita semua. Seandainya seperti itu, maka di dunia ini, orang kaya dengan mudahnya akan membeli waktu dan kemungkinan akan menambahkannya pada usia mereka. Semakin banyak waktu yang akan terbuang sia-sia, hanya untuk memperpanjang umur. Siapa sih yang tidak ingin memperpanjang umur? Selain itu, waktu setiap orang akan beragam, sehingga kehidupan tidak akan berjalan dengan normal. Coba bayangkan. Saya sendiri tidak begitu kuat membayangkannya.

Bukanlah menjadi sebuah alasan untuk membeli waktu ketika kesibukan melanda kita. Jika ingin membeli waktu, sebenarnya sebagai makhluk sosial kita sudah disediakan manusia lain untuk dibeli waktunya (secara tidak langsung), tidak dalam arti yang sebenarnya. Timbal balik terjadi. Selalu ada cara untuk bisa menghindarkan diri kita dari kesibukan yang ada. Dan mengeluh bukan jalan satu-satunya.

Kesibukan terkadang adalah bagaimana cara kita dalam memprioritaskan sesuatu. Penting atau tidak penting. Butuh atau tidak butuh.

Akan tetapi, satu hal yang telah saya pelajari dalam hidup ini, bahwa untuk bisa hidup bahagia kita dituntut untuk bisa mengurangi kuantitas pekerjaan kita dan meningkatkan kualitas waktu yang kita miliki. Dengan begitu, kita tidak akan menjadi orang yang “sok sibuk”.

Karena saya pun tidak suka dianggap sibuk.


Rabu, 07 Desember 2011

Bangun Cintamu

Desember 07, 2011
Sumber: Google Link


Cinta datang dengan sendirinya. Dari mata turun ke hati. Begitu kata pepatah yang tak pernah jelas pengarangnya. Dan semua orang pasti pernah mendengarnya, atau bahkan mengalaminya.

Lho, siapa bilang cinta itu datang dengan sendirinya? Tidak benar. Tapi, tidak juga sepenuhnya salah. Bagi saya, cinta yang muncul dengan sendirinya, tanpa disadari itu adalah muasal cinta jika dipandang dari sudut pandang subjektif. Akan tetapi, ternyata jika dipandang secara objektif, maka cinta harus dibangun atau diciptakan.

Saya terinspirasi dari sebuah film Bollywood. Sebenarnya sudah lama saya menontonnya, bahkan sudah berulang menikmati filmnya. Alhasil, setiap saya mendengar soundtrack film ini, pikiran saya kemudian terbayang-bayang kepada, “Cinta itu bisa dibangun” sebagaimana alur cerita film tersebut. Rab Ne Bana Rab Di Jodi.


Saya sebenarnya bukan penggemar fanatik film-film Bollywood (sebagaimana teman-teman saya yang fanatik dengan serba Korea). Akan tetapi, cerita di dalamnya sungguh menggugah minat saya.

Jika sebagian besar orang berpendapat, Itu kan hanya film. Ceritanya cenderung dibuat-buat dan tidak nyata, maka sebuah pernyataan yang sedikit perlu pembenaran. Saya yakin, di setiap cerita sebuah film selalu terselip (atau diselipkan) pesan-pesan (moral) bagi penontonnya. Yah, asalkan kita tidak sekadar menonton saja. Ceritanya pun cenderung diolah mendekati kisah kehidupan kita di dunia nyata.

Menilik isi cerita di film ini, bagi saya, cukup masuk akal. Kisah layaknya di film tersebut sangat mungkin terjadi. Karena kita kan tidak boleh menutup kemungkinan terhadap segala hal yang logis.

Secara subjektif, memang cinta datang dengan sendirinya. Disadari atau tidak, kita bisa mencintai orang lain bahkan pada pandangan pertama. Tapi, yakinkah kita bahwa orang itu juga punya perasaaan yang sama terhadap kita? Nah, belum tentu.

Sekali lagi, secara subjektif, cinta datang secara tiba-tiba. Maka untuk melengkapinya, tidak perlu menunggu orang yang bersangkutan menyukai kita, cukup dengan berusaha menciptakan cinta pada orang itu. Inilah yang saya maksudkan secara objektif, membangun cinta (agar orang tersebut juga punya perasaan yang sama) dengan menanamkan benih-benihnya. Yap, bagaimana caranya, itu menjadi usaha masing-masing. Jelasnya, dimana ada kemauan disitu ada jalan.

Intinya, jika seseorang yang disukai sama sekali no respect, tidak perlu patah semangat. Ingat selalu, cinta itu bisa ditanam dan ditumbuhkan. Makanya perlu dijaga setiap hari (seperti menanam bunga).

Batu cadas sekalipun, jika disiram air secara terus menerus akan pecah juga. So, bagi yang punya masalah cinta, bangun cintamu dari sekarang. Genggam erat-erat, jangan lepaskan.

Cowok    : Kamu punya air gak?
Cewek    : Ada… Haus ya?
Cowok    :Nggak. Aku cuman mau siram bunga-bunga cinta di hatiku.. (jiaahh…)


*Dibagi bukan atas pengalaman pribadi, tapi sharing berdasarkan analisa penulis sendiri. Hehe…