Jumat, 28 Oktober 2011

Bukan Lewat Uang

Oktober 28, 2011
Sebelumnya, perkenalkan aku adalah Roni. Seorang remaja usia 17 tahun. Semua orang di sekolahku sangat suka berteman denganku. Apapun yang kuinginkan, bisa kudapatkan langsung dari ayahku. Jangankan hanya sebuah laptop, mobil pun bisa langsung kumiliki. Namun, terlalu dini bagiku untuk memiliki mobil tersebut.
 

Maklum, ayahku adalah salah seorang anggota DPR usungan salah satu parpol ternama. Berbagai tunjangan dari pemerintah sering didapatkannya secara cuma-cuma. Junlahnya pun bisa membelalakkan mata orang-orang di kolong jembatan sana. Masa bodoh bagiku, apakah ia korupsi atau tidak. Terpenting bagiku, aku puas dengan materiku.
 

Tidak lengkap rasanya jika gaji yang luar biasa dari ayahku tidak dicitrakan dengan rumah yang mewah pula. Tiap kamar di rumahku akan ditemui televisi layar datar yang dipasang di dinding rumah. Entah, apalah namanya. Bahkan di kamar Bik Inah, pembantu kami pun disediakan televisi. Jaringan internet tak pernah terputus di rumahku. Tiap kamar, aku dan dua orang adikku, dilengkapi dengan fasilitas internetan unlimited.
 

Sebenarnya, masih banyak hal yang ingin kuceritakan, namun bukanlah hal yang penting untuk saat ini. Kini, aku bukan lagi Roni yang dulu...
*******

Aku sudah biasa mengajak teman-teman segengku untuk jalan-jalan. Itu karena aku menghargai mereka. Sangat penting buatku bisa membuat mereka bahagia. Mereka senang, aku senang.
 

Namun, di antara teman sekelasku, ada satu orang yang sama sekali tidak tertarik dengan kebiasaanku, Irfan. 

Jika diajak, ia menolak dengan halus. Sikapnya agak dingin, mungkin karena ia pendiam. Namun, ia adalah salah satu bintang di kelasku.  Tidak pernah sekalipun dia keluar dari jajaran tiga besar peringkat kelas kami.  Sayangnya, dia begitu dingin padaku. Padahal jikalau ia mau baik padaku, maka akan kuturuti smeua permintaannya.
 

Hingga suatu hari, sepulang sekolah, aku dipaksa ayahku menemani Pak Kus, supir ayahku untuk mencari sesuatu di pasar. Baru kali ini aku harus “terpaksa” menemani Pak Kus mnejelajahi pasar.
 

“Duh, ayah. Kenapa tidak cari di Mall atau Supermarket saja sih?” gerutuku di telepon.
 

“Di tempat seperti itu tidak akan ada. Lagipula, tidak ada salahnya kan kamu sekali-kali rasakan suasana pasar.” ujar ayahku santai dari seberang teleponnya.
 

Tidak ada enaknya bagiku suasana kumuh seperti ini. Sudah panas, biasanya kaki pun harus melangkah berhati-hati untuk menghindari genangan air. Ditambah lagi bau anyir macam-macam dagangan yang berbaur jadi satu. Ampun!
 

Namun, tak disangka-sangka aku melihat sesosok yang sangat kukenal. Irfan. Dia tampak sedang sibuk melayani seseorang. Itu kan Irfan. Kok, dia kayak jualan sesuatu?
 

Aha! Aku punya alasan untuk tidak ikut lebih jauh dengan Pak Kus.
 

“Pak Kus, aku tunggu disana saja, ya? Tuh, aku mau bareng sama temanku,” tunjukku ke arah Irfan.
 

“Ya, sudah. Kalau begitu kamu tunggu disana saja,” ujarnya sesaat mengedarkan pandangan ke arah telunjukku. Ia pun akhirnya seorang diri masuk ke dalam pasar.
 

“Hai, Irfan!” sapaku.
 

Irfan agak terkejut melihatku. Mungkin baru kali ini ia melihatku ada di pasar. Namun tanpa rasa canggung sedikitpun ia tetap melayani pembeli yang sedari tadi menunggu es campur buatannya. Tampak pula wanita tua di sampingnya adalah ibunya.
 

“Tumben, kamu ke pasar, biasanya juga ke Mall,” ucap Irfan usai melayani pembeli. Ia menawarkan segelas minumannya padaku.
 

“Terima kasih,” balasku menerimanya sembari duduk di sebuah bangku bersamanya.
 

Aku pun menceritakan alasanku hingga harus “terpaksa” ke pasar. Ia sempat menertawakanku. Disinilah aku baru merasakan perbedaan pada dirinya. Atmosfernya, tidak sedingin yang selama ini kurasakan. Mungkin saja ia selama ini lebih banyak menutup diri dari kami.
 

Dari sini pula aku tahu bahwa setiap harinya, Irfan harus membantu ibunya berjualan es di pasar. Ia tidak pernah merasa malu dengan pekerjaannya itu, selama masih bisa menghidupi keluarganya yang ditinggal oleh ayahnya.
 

Mulailah aku akrab dengan Irfan. Aku sering mengunjunginya di pasar untuk sekedar ngobrol dengannya, atau bahkan untuk mengerjakan PR bersamanya. Sejak itu, pola pikirku sedikit  demi sedikit berubah. Bahkan mengenai kebanggaanku terhadap uang untuk menyenangkan teman-temanku pun berubah drastis. Ia telah mengubahnya.
 

“Aku ini bukanlah siapa-siapa. Namun dengan ketiadaanku ini, aku ingin berusaha untuk mewujudkan mimpiku. Mimpi tak bisa selamanya dibeli dengan uang. Mimpi yang dibayar dengan kerja keras adalah sebaik-baik impian. Kalau aku punya banyak uang dari hasil kerja kerasku, akan kuhabiskan untuk membahagiakan ibuku dan adik-adikku,” tuturnya seraya tersenyum memandang langit.
 

Di hari itu, aku merasakan hal yang berbeda. Ia sangat berbeda dengan teman-temanku selama ini yang selalu bisa kutawar dengan uang. Melihat sahabatku tersenyum tulus tanpa dinilai oleh uang, rasanya sangat membahagiakan. Membuatku menjadi orang yang sangat berarti dan diterima apa adanya. Aku disadarkan, ternyata selama ini uang yang kuhabiskan hanyalah untuk kesenangan, bukanlah kebahagiaan. Dan senyuman temanku kemarin bukanlah senyuman tulus sebagai seorang sahabat.
 

Darinya, kutemukan arti sahabat yang tak ternilai harganya. Bukan lewat uang berpuluh-puluh ribu. Namun, lewat senyumannya bisa menenteramkan hatiku.[end]

Kamis, 27 Oktober 2011

Bersemangat dengan Menulis

Oktober 27, 2011
Sumber gambar: Google Link

Ketika saya sedang dirundung masalah dan merasa down, saya bingung harus bercerita pada siapa. Karena pada dasarnya, tidak semua orang/ menusia mampu menampung suka-duka orang lain. Apalagi jika hal itu sudah berkenaan dengan duka-duka yang ingin disampaikan. Wah, wah, sangat berat tampungannya.
Akan tetapi, bebearapa waktu lalu, saya baru menyadari. Ternyata untuk kembali membangkitkan semangat dalam diri cukup mudah. Cukup dengan menulis. Ya, menulis.
 

Sebenarnya, saya sudah lama senang menulis. Bisa dibilang, suatu hari nanti saya ingin jadi seorang penulis.  Hanya saja, saya tidak cepat menyadari keuntungan lainnya dari menulis itu sendiri, yakni bisa meningkatkan semangat.
 

Setiap kali saya selesai menulis, ada kepuasan tersendiri bagi pribadi saya. Saya tidak peduli apakah tulisan saya akan dibaca orang atau tidak. Dinilai atau tidak. Selama saya bisa menulis, itu sudah cukup bagi saya. Karena dengan menulis, saya telah berkarya. Melihat hasil karya saya, ada semangat untuk bisa kembali menelurkan karya serupa.
 

Menulislah yang akan menimbulkan inspirasi bagi kita.
 

Ketika kita mampu menuangkan semuanya dalam sebuah tulisan, beban yang kita tanggung akan terasa ringan atau bahkan terlepas begitu saja. Bukan hanya dengan menulis “perasaan saja”, bahkan dengan menulis apa saja, artikel, makalah, cerpen, esai, dan sebagainya, maka hati akan terasa segar kembali.
 

Ada beberapa hal yang bisa membuat kita selalu menulis. Satu diantaranya adalah dengan membuat blog. Akan tetapi, perkembangan internet seperti ini tidak menjangkau semua orang. Beberapa orang saja yang bisa “aktif” berhubungan dengan dunia maya. Media lain, maka kita bisa ciptakan sebuah diary.
 

Hah?! Diary!
 

Sebagian besar orang menganggap diary sebagai salah satu “aksesoris” cewek. Padahal, tanpa kita sadari, diary tak hanya sekedar diary. Umumnya, diary hanya berbicara tentang perasaan, perasaan, dan sedikit rutinitas (yang lagi-lagi bawa-bawa perasaan). Akan tetapi, dengan sedikit perubahan (tidak hanya berkutat pada curahan hati), kita bisa menjadikannya sebagai sumber semangat baru.
 

Di dalamnya, kita bisa menuliskan segala keseharian kita, pengetahuan kita, karya kita, bahkan beberapa catatan tips yang kita anggap penting. Bahkan, ada loh orang yang menjadikan diary sebagai tempat menuliskan kumpulan karyanya dalam bentuk fiksi.
 

Yah, ada banyak “evolusi” diary. Yang terpenting, kita bisa terus menulis dan berkarya. Dengan terus menulis saya bisa mendapatkan banyak inspirasi.
 

Bukan inspirasi yang membawa kita pada sebuah tulisan.
 

Apapun yang saya tulis, biasanya akan terbawa-bawa pada kondisi perasaan saya. Hal itu menimbulkan semangat baru. Oh, ya menurut pakar kesehatan, katanya dengan menulis juga bisa berpengaruh pada tingkat kesehatan juga loh.
 

"Bukan inspirasi yang membawa kita pada sebuah tulisan, tapi tulisanlah yang membawa kita pada sebuah inspirasi."

Salam!

Rabu, 19 Oktober 2011

Presentase atau Presentasi??

Oktober 19, 2011
Sumber: Dokumen pribadi

“Minggu depan kita akan presentase, ya. Harap siapkan diri kalian,” ujar salah seorang dosen saya.

Huh, presentase lagi, presentase lagi. Saya agak bosan dengan presentase. Selalu saja tiap mata kuliah berakhir dengan presentase.

Eh, tunggu dulu! Yang benar, "presentase" atau "presentasi"??

Sudah lama saya bertanya-tanya tentang kedua istilah ini. Penulisan maupun pengucapannya  hampir sama.

Akan tetapi makna maupun arti kata yang terkandung di dalamnya jauh berbeda. Sama sekali jauh  berbeda.

Bukannya saya bermaksud menyinggung kalangan tertentu, baik mahasiswa maupun dosen sendiri. Namun pada dasarnya ini sebagai koreksi bagi kita semua yang sudah terlalu sering membudayakan kesalahan berbahasa. Jika kesalahan seperti ini terus berlanjut, apa jadinya bahasa Indonesia (yang merupakan bahasa persatuan).

Ya...meskipun saya bukan orang dari bahasa Indonesia, namun selalu tertarik akan hal-hal yang berbau satra.
Seperti yang sering kita dapati dalam perkuliahan, lumrah adanya perkuliahan hanya sebatas diskusi sepanjang hari dengan beberapa penyajian materi sebelumnya di depan civitas akademik. Penyajian materi inilah yang kemudian disebut sebagian besar orang sebagai "presentase".

"Kapan kamu presentase?"

Istilah yang sebenarnya salah namun dibiasakan oleh sebagian besar orang. Bahkan dosen yang notabene adalah orang-orang yang dipercaya tingkat kredibilitasnya dalam persoalan akademik ikut-ikutan (latah) menyebarkluaskan "istilah salah" itu. Tidakkah mereka sadar bahwa istilah yang benar itu adalah "presentasi"?

Memang, keduanya agak mirip dalam pelafalan katanya, hanya beda akhiran saja, antara "e" dan "i". Akan tetapi, jika saya mendengar kata "presentase", saya cenderung berpikir ke arah "persen dalam matematika", meskipun kata "presentasi" juga masih salah dalam matematika.

Bingung? Ok, mari kita sedikit menganalisis. Ceilah….

Setelah saya mencoba mencari di buku Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), saya tidak menemukan satu pun kata "presentase". Kata yang ada hanyalah "persentase" yang merujuk pada arti; bagian dari keutuhan yang dinyatakan dengan persen, perseratus atau bagian yang diperkirakan. (Cek juga melalui KBBI-online)
Belum puas dengan KBBI, saya mencoba browsing melalui Wikipedia. Dan hasil yang saya temukan, seperti ini;

----Persentase atau peratus adalah suatu cara untuk menyatakan fraksi dari seratus. Persentase sering ditunjukkan dengan simbol "%". Persentase juga digunakan meskipun bukan unsur ratusan. Bilangan itu kemudian diskalakan agar dapat dibandingkan dengan seratus. Sebagai contoh, 4 orang dosen sedang mengawas ujian di kampus, 3 dari mereka tak berkacamata, dan 1 orang berkacamata. Persentase dosen tak berkacamata adalah 3 dari 4 = 3/4 = 75/100 = 75%, sementara dosen berkacamata adalah 1 dari 4 = 1/4 = 25/100.-----
Untuk kata "presentase", lagi-lagi saya tidak menemukannya, bahkan melalui wikipedia.

Sudah jelas bahwa, istilah yang selama ini diucapkan telah mengalami pergeseran makna. Jika kita bandingkan dengan kegiatan yang seharusnya, menyajikan materi kuliah di depan peserta diskusi yang lain, yang seharusnya adalah "presentasi". Karena menurut KBBI (setelah saya buka kembali), presentasi artinya penyajian pertunjukan (tentang sandiwara, film, diskusi, dsb). Istilah inilah yang lebih tepat digunakan dalam proses perkuliahan.
"Presentasi adalah suatu kegiatan berbicara di hadapan banyak hadirin. Berbeda dengan pidato yang lebih sering dibawakan dalam acara resmi dan acara politik, presentasi lebih sering dibawakan dalam acara bisnis.
Tujuan dari presentasi bermacam-macam, misalnya untuk membujuk (biasanya dibawakan oleh wiraniaga), untuk memberi informasi (biasanya oleh seorang pakar), atau untuk meyakinkan (biasanya dibawakan oleh seseorang yang ingin membantah pendapat tertentu)."
isi dari Wikipedia.

Tujuan dari presentasi bermacam-macam, misalnya untuk membujuk (biasanya dibawakan oleh wiraniaga), untuk memberi informasi (biasanya oleh seorang pakar), atau untuk meyakinkan (biasanya dibawakan oleh seseorang yang ingin membantah pendapat tertentu).

Berdasarkan data di atas, maka bukanlah “presentase” yang seharusnya dijadikan istilah di kalangan akademisi, melainkan “presentasi”. Lebih jauh, presentasi sesungguhnya berasal dari kata dalam bahasa Inggris, presentation yang artinya penyajian. Hanya saja, oleh lidah kita digeser penyebutannya menjadi presentase. Dan hal itu sampai terbawa-bawa ke ruang formal.

Kesalahan yang Membudaya.
Sungguh sangat disayangkan. Hal seperti itu hanya dianggap angin lalu oleh sebagian orang. Mereka menganggap hal remeh-temeh semacam itu tidak perlu dipermasalahkan.

Inilah akibat kebiasaan masyarakat yang selalu meniru sesuatu yang dilakukan oleh kebanyakan orang. Yang menjadi patokan bagi mereka adalah kuantitas, bukan pada kualitas. Jika mayoritas orang berkata A, maka seseorang yang sebelumnya tidak tahu apa-apa ikut-ikutan berkata A, tanpa memeriksa kebenaran dari pernyataan mayoritas itu. Hingga jika dia dibberikan pada kebenaran yang sesungguhnya, ia akan ragu menerimanya, sebelum ditunjukkan bukti-bukti yang kuat. Malah, meskipun sudah ditunjukkan, mereka tetep ngotot tak ingin menerima.

Seperti itu. Mungkin atas dasar itulah saya ingin memperbaiki istilah yang membudaya di kalangan kami, mahasiswa disini. Mayoritas menggunakan istilah “presentase”. Bahkan dosen pun ikut-ikutan menggunakan istilah tersebut. Saya biasanya tertawa sendiri ketika mendengarnya dari dosen.

Sebagai seorang akademisi, saya ingin terus belajar. Menemukan sedikit kesalahan, saya harus memperbaiki. Jika tidak mampu diungkapkan melalui lisan, maka cara lain bisa disampaikan melalui tulisan.

Jadi, sekali lagi, saya tegaskan disini, “PRESENTASI” bukan presentase. Bagi yang telah membaca ini, semoga bisa tercerahkan. hehehe...

Kalau di lingkungan kampus saya seperti itu, nah bagaimana dengan lingkungan Anda?


Minggu, 09 Oktober 2011

Sebuah Langkah Awal

Oktober 09, 2011
Kejutan besar (bagi saya)! Lihat saja, di halaman sebuah media harian (FAJAR) di kota Makassar, secuil tanggapan yang kukirimkan dua hari sebelumnya bisa diapresiasi oleh pihak media. Memang sih, orang-orang sekitar saya menganggap itu adalah hal yang biasa dan tidak patut untuk dibesar-besarkan. Apalagi hanya sedikit. Namun, bagi saya yang notabene sangat awam mengenai media dan sangat (bermimpi) untuk menghasilkan sebuah karya, hal ini saya anggap sebagai suatu langkah awal.
Salah satu rubrik yang memuat tanggapan saya


Selama ini, saya hanya bisa melihat orang lain berkarya. Usaha saya untuk menghasilkan sebuah karya juga selalu terbata-bata. Ada banyak hal yang menghambat saya untuk menulis. Akan tetapi, yang paling utama sebenarnya adalah kemauan saya yang dulu masih sedangkal parit.


Barulah ketika beberapa waktu lalu saya menjumpai orang dengan minat yang sama ternyata telah menelurkan beberapa karyanya, dan bahkan beberapa kali menembus media umum di Makassar, saya merasa iri. Namun iri dalam artian positif.. Saya pun ikut terdorong untuk bisa lebih baik dari mereka. Dan akhirnya saya mulai membangun kembali jalur awal saya sepenuhnya.


Komitmen. Ternyata itulah yang dibutuhkan. Hanya terkadang kita sebagai manusia mengalami pasang-surut semangat untuk mencapai tujuan. Akan tetapi, layaknya bensin, sedikit percikan “api”, maka semangat kita bisa kembali berapi-api.


Nah, hal seperti itulah yang perlu kita lakukan. Jangan membiarkan semangat terus menyala tanpa melakukan perubahan. Pada dasarnya, api tidak akan berguna jika didiamkan terus menerus. Yang ada, hanya akan padam tanpa membakar apapun. Maka, jika berkobar, lakukanlah sesuatu.


Semangat yang saya miliki sekarang pun ingin saya tularkan kepada orang lain. Saya juga ingin “membakar” semangat menulis pada diri teman-teman saya. Oleh karena itulah, saya selalu berusaha untuk “mengompori” mereka. Hehehehe….. dan ternyata saya (bangga) bisa “memanas-manasi” salah seorang teman saya. Ia pun akhirnya “terbakar” untuk selalu menulis. (Salah satu hasilnya, ia mencoba usaha yang sama dan juga mulai aktif dalam forum kepenulisan yang sama di dunia maya). Siiiip!!


Mereka nantinya akan jadi saingan kita dong! 

Ah, tak perlu khawatir, lah. Toh, kita hidup memang untuk berkompetisi. Kenapa mesti takut (kalah)? Malahan, semakin banyak saingan, akan semakin membakar semangat kita untuk terus menelurkan karya yang lebih baik.  Dan saya pikir itu adalah hal yang sangat membangun.

Ah,..ternyata semua kembali pada diri kita, ya. Ini permasalahan komitmen. Jalur yang kita buat sedari awal menetapkan tujuan (impian) kita, sudah seharusnya kita jalani dengan bijaksana. Hanya saja, terkadang kita mengalami “down of spirit” yang menyebabkan kita keluar dari jalur awal. Oleh karena itu, dibutuhkan sedikit percikan untuk “membakar” kembali mesin semangat kita. Kalau perlu, kita usahakan agar apinya menjalar “membakar” orang lain (Halah..). Hehehe


Namun, saya merasa ini menjadi langkah awal untuk saya bisa berlari. Karena seseorang tidak akan bisa berlari tanpa memulai satu langkah awal.


Just Do it! 

 


Sabtu, 08 Oktober 2011

"Suka" Bukanlah Yang Terbaik

Oktober 08, 2011
Pernah tidak merasa sesuatu yang kita benci tiba-tiba menjadi sesuatu yang kita miliki? Atau bahkan menjadi sesuatu yang kita paling suka. Saya sering mengalaminya, loh

Saya dulu tidak pernah menyangka bahwa akan melanjutkan studi di Universitas Negeri Makassar. Saya malah sangat berharap dan merasa akan kuliah di Universitas Hasanuddin, salah satu Perguruan Tinggi ternama di kota Makassar. Segala hal yang berhubungan dengan Unhas begitu saya minati. Saya malah agak sedikit sinis dengan Universitas Negeri Makassar.


Akan tetapi, kini, kenyataannya saya kuliah di Universitas Negeri Makassar. Dan ternyata setelah menjalaninya, saya merasa baik-baik saja. Tidak ada yang salah dengan kuliah di sana. Bahkan, saya merasa beruntung bisa menjalani kehidupan saya di kampus saya yang sekarang. (Serius)


Salah satu ayat dalam Al-Qur’an menyiratkan bahwa terkadang manusia menyukai sesuatu namun sesuatu itu tidak baik baginya. Sebaliknya, ia membenci sesuatu namun ternyata sesuatu itulah yang terbaik baginya. (Bahkan dalam kitab suci, Tuhan telah menjelaskan semuanya)


Kehidupan yang kita jalani memang berlaku demikian. Terkadang, ada hal-hal yang sangat kita suka (pada awalnya). Namun di kemudian hari, ternyata hal tersebut menjadi sesuatu yang tidak baik bagi kita.  Atau berlaku sebaliknya. Sesuatu yang pada awalnya kita benci, namun berubah menjadi sesuatu yang kita suka dan butuhkan di kemudian hari.


Ya, segala hal yang kita sukai dalam hidup ini belum tentu adalah hal yang kita butuhkan. Tuhan hanya akan menjawab kata hati kita yang paling dalam. Meskipun mulut kita dan perasaan kita menolak sesuatu, namun jika hal tersebut adalah sebuah kebutuhan yang “terbaik” bagi kita, maka Tuhan akan mewujudkannya. Tidak peduli apakah kita suka atau tidak. Pastinya, setelah kita memiliki dan menjalani sesuatu itu, yakin, kita baru akan menyadari “Ternyata tidak ada yang salah dengan hal itu,”


Hal yang kita suka, belum tentu menjadi hal yang paling baik bagi kita. Keadaanlah nantinya yang akan menentukan. Bisa jadi, sesuatu yang kita suka itu menjadi boomerang bagi kita sendiri, tatkala kita tidak bisa melepaskannya dari kehidupan kita. Padahal untuk menjalani “samudera” kehidupan ini, kita mesti memperbanyak “kebutuhan”, bukan “kesukaan”. 


Oleh karena,kini, saya mulai belajar untuk tidak menganggap remeh segalanya. Bahkan hal-hal yang remeh-temeh sekalipun. Karena, bisa saja sesuatu yang kita anggap remeh itu menjadi sesuatu yang kita butuhkan kemudian hari. 


Tomorrow is a mistery

 
Tidak ada yang mampu menebak, apa yang akan terjadi di waktu mendatang. Masa depan adalah kuasa Tuhan, dan Tuhan jua lah yang tahu hal-hal terbaik bagi kita. Satu quote yang akan selalu saya ingat dan tanamkan dalam diri saya,


Tuhan tidak pernah mengabulkan doa kita dengan ‘YA’, namun Dia senantiasa menjawab doa kita dengan ‘YANG TERBAIK’.


Hanya saja, terkadang manusia selalu ngotot untuk dipenuhi keinginannya, tanpa melihat kebutuhannya. Itulah yang kelak menjadi “pembalik” antara suka-benci. 


Yang paling penting sekarang, adalah bagaimana kita tidak menutup diri dari segala kemungkinan yang akan terjadi pada kita. Dan juga, jangan pernah mengganggap remeh hal sekecil apapun. Oh, ya fanatik terhadap suatu hal juga tidak baik, loh..


Salam!

Rabu, 05 Oktober 2011

Berbagi Kisah Seorang Guru

Oktober 05, 2011
Judul Buku       : Catatan Kecil Tentang Dia - 25 Kisah Haru dan  Inspiratif dari Para Murid Tentang Sosok Sang Guru
Penulis               : 25 Pemenang "Sayembara Menulis Tentang Guru"
Editor                : Nurul Hikmah, Resita Wahyu Febiratri
Penerbit             : GagasMedia
Tahun terbit       : 2009
Halaman            : 240


"... Aku tidak bisa menghafal. Kemudian, beliau bertanya padaku, "Riris, mengapa nilai kamu merosot? Kamu telah berubah. Kamu bukan seperti Riris yang saya kenal dulu. Apakah kamu belajar di rumah?"
Aku tak dapat menjawab. Aku menangis. Entah air mata dari mana itu. Aku pikir air mataku sudah hais saat ayahku pergi. Lalu, beliau menulis kata don’t cry di lembaran hafalanku. Namun, air mataku tak dapat berhenti. Aku langsung menuju ke mejaku. Aku berusaha untuk berhenti menangis…”

 
Kisah yang diceritakan dalam buku ini tidak hanya berkisar pada satu orang. Beragam cerita, dari penulis yang berbeda-beda, memberikan nilai lebih pada buku ini. Terlebih lagi para penulisnya berasal dari jenjang pendidikan yang berbeda-beda. Tentunya, cerita masing-masing dibangun dengan bahasa yang beragam, khas pelajar. 


Meskipun cerita-cerita yang disuguhkan buku ini sedikit membawa pembacanya ke kenangan masa lalu, akan tetapi, gaya bercerita yang ditawarkan lebih cocok untuk kalangan pembaca remaja. Pembaca dewasa, khususnya yang sudah berulangkali membaca novel dan sejenisnya, akan merasakan perbedaan yang mencolok ketika membaca buku ini. Cerita-cerita dalam buku ini layaknya membaca narasi  pengalaman pelajar ketika bersekolah. Jarang dijumpai klimaks maupun antiklimaks dalam buku ini.


Cerita-cerita yang berbeda satu sama lain juga memaksa para pembaca untuk melompat-lompat dari satu deskripsi ke deskripsi lain. Sehingga, pendalaman cerita yang terjadi hanya berlangsung sementara. Meskipun begitu, adalah hal yang wajar jika pembaca tidak betul-betul merasakan klimaks ceritanya. Toh, cerita-ceritanya berbeda dan merupakan hasil kreasi dari penulis-penulis yang notabene adalah pelajar SMA dan SMP.


Terlepas dari itu, buku ini lebih tepat dijadikan bahan bacaan buat para remaja. Tapi, tidak menutup kemungkinan bisa dijadikan referensi bagi guru ataupun calon guru sebelum mereka menghadapi murid-murid mereka. Karena pada dasarnya, seorang guru selain dituntut mengajar juga harus bisa mendidik. Saya pun ketika membacanya, banyak mengambil pelajaran di dalamnya. Apalagi cerita-cerita yang disuguhkannya bisa dibilang sekali lahap. Selamat Membaca!

PS: Bukunya hasil minjam di Perpustakaan Wilayah Makassar. Hehehe…..

Selasa, 04 Oktober 2011

Menyadari Keagungan Sang Ayah

Oktober 04, 2011
Sumber gambar: google link
Judul Novel              : Ayahku (Bukan) Pembohong

Pengarang                : Tere-Liye


Penerbit                   : Gramedia Pustaka Utama


Jumlah halaman      : 304



Kapan terakhir kali kita memeluk ayah kita? Menatap wajahnya, lantas bilang kita sungguh sayang padanya? Kapan terakhir kali kita bercakap ringan, tertawa gelak, bercengkerama,lantas menyentuh lembut tangannya, bilang kita sungguh banggga padanya?

 

Adalah tanpa kita sadari bahwa peran seorang ayah begitu besar dalam hidup kita. Meski kita diajarkan untuk menyayangi kedua orang tua kita, terkadang kasih sayang yang diberikan untuk ibu jauh lebih besar. Kepercayaan menganjurkan seperti itu.
 Namun di balik semua kehidupan kita, ternyata ada tangan yang lebih berperan, ayah.
 

“Ayahku Bukan Pembohong” menceritakan tentang kehidupan seorang anak yang dibesarkan dengan dongeng-dongeng masa kecilnya. Sikap dan perilakunya terbentuk melalui dongeng-dongeng yang diceritakan ayahnya. Ia menjadi anak yang bersahaja dan disukai banyak orang.
 

Akan tetapi, menginjak kedewasaannya, ia mulai menyadari keanehan dalam setiap cerita ayahnya. Ia mulai menganggap cerita ayahnya itu sebagai kebohongan belaka yang diceritakan kepada anak kecil sebagai pengantar tidur.
 

Perlahan, ia mulai membenci ayahnya. Ia menganggap dongeng-dongeng yang telah diceritakan padanya adalah kebohongan belaka. Bahkan, ia menyalahkan ayahnya atas ibunya yang telah lama meninggal. Ia membenci ayahnya, yang dulu selalu dibanggakannya. Hingga suatu hari, ia harus menyesal karena ayahnya bukanlah pembohong.
 

Usai membaca buku ini, saya sempat browsing mengenainya. Dan saya cukup terkejut, karena ada komentar yang mengatakan bahwa cerita dalam buku ini sangat mirip dengan sebuah kisah film luar negeri, “Big Fish”. Detail-detail ceritanya pun sangat mirip. Sehingga buku ini dianggap menjiplak cerita dari film tersebut.
 

Saya sendiri belum sempat menonton film itu (saya tertarik menontonnya sebagai perbandingan). Namun, terlepas dari menjiplak atau tidak, saya tetap memberi dua jempol buat Darwis Tere Liye yang selalu menghadirkan novel-novel penuh keharuan. Ia selalu berhasil menguras air mata pembacanya, baik itu laki-laki maupun perempuan. Gaya bertuturnya sungguh dalam membawa kita terperosok jauh ke relung jiwa ceritanya. Tidaklah salah jika saya menganggap cerita yang dituliskan olehnya memiliki nyawa.
 

Tidak selamanya sebuah dongeng membosankan untuk diceritakan. Tere-Liye sendiri berhasil menggabungkannya dengan kehidupan sekarang dan menghasilkan kisah yang menarik untuk dipetik hikmahnya. Di dalam setiap ceritanya, terkandung kebijaksanaan hidup dan kearifan hidup. Novel ini sangatlah tepat dibaca bagi mereka yang ingin merasakan kasih sayang seorang ayah. Dengan membaca novel ini, maka kita akan tahu seberapa besar kecintaan kita pada ayah kita.
 

Akan tetapi, saya sedikit bingung dengan latar penceritaannya. Saya tidak tahu, dimana Akademi Gajah itu. Saya pun tidak tahu dimana berlangsungnya cerita di dalam novel ini. Apakah di Indonesia atau di luar Indonesia? Tidak ada penjelasan tambahan terkait hal itu. Mungkin ini sebagai hasil dari imajinasi sang penulis sendiri.
 

Ternyata, inspirasi ada dimana saja, ya. Nah, saya menyarankan untuk membaca novel ini. Dua jempol buat Mas Tere Liye…! Salam kenal!



 

Mengenai Tere-Liye:
Tere-Liye adalah pengarang beberapa novel dengan rating tinggi di website para pecinta buku www.goodreads.com. Ia banyak menghabiskan waktu untuk melakukan perjalanan, mencoba memahami banyak hal dengan melihat banyak tempat.
Tere-Liye telah banyak menghasilkan novel-novel yang berkualitas. Novelnya dominan bercerita tentang dunia anak-anak dan kasih sayang keluarga. Ia selalu menyelipkan kearifan hidup dalam tiap novelnya. Daftar novelnya bisa dilihat goodreads.
Email                        : darwisdarwis@yahoo.com
Web                         : darwisdarwis.multiply.com, tbodelisa.blogspot.com
Facebook                : darwis tere-liye


Senin, 03 Oktober 2011

Daun pun Bersemi Kembali

Oktober 03, 2011

Kini, musim hujan..
Ataukah kini musim kemarau..
Daun yang jatuh, kembali ke atas tangkainya.
Daun yang kering , kembali menghijau

Kini musim hujan,
Ataukah kini musim kemarau,
Bunga kemarin bersemi, semakin mewangi
bunga kemarin mengatup, terlihat mekar kembali

Kini musim hujan,
Ataukah kini musim kemarau,
Kupu-kupu terbang, kupu-kupu hinggap
Oh, bukan pada bunganya

Bukan musim hujan,
Ataukah bukan musim kemarau,
Kini musim gugur,
Ternyata kini musim semi

Tak ada bunga yang bersemi,
Hanya bunga yang merekah
Merah merona, tak dihinggapi sang kupu-kupu
Berpaling, daun yang kembali ke tangkainya

Mengapa?

Karena daun pun bersemi kembali………


Kekuatan Mencoba

Oktober 03, 2011

“Ini bagaimana caranya?” tanyanya.
“Lalu, ini bagaimana?” tanyanya lagi.

Saya sering mendapati pertanyaan seperti itu. Orang-orang bertanya terus hingga berulang-ulang, hanya karena mereka tidak ingin “salah”. Padahal, menurut saya, “salah” itu sendiri adalah sesuatu yang baik.

Guru SMA saya pernah berkata, “Jangan takut salah, karena melalui salah kita bisa belajar,” Dan hal itu memang benar apa adanya.

Terkadang, ketika orang takut menghadapi sebuah kesalahan, maka ia tidak sekali-kali berani untuk “mencoba”. Mereka lebih memilih untuk bertanya pada orang lain. Padahal, jika saja mereka berani “mencoba”, maka mereka pun otomatis belajar dari kesalahannya.

Bukannya dengan mencoba sendiri maka kita akan dicap sebagai “sok tahu”?
Hal seperti itu memang terkadang terjadi. Akan tetapi hanya bagi orang-orang yang dangkal pikirannya lah yang akan mencap kita dengan sebutan seperti itu. Sebaliknya, bagi mereka yang bijak, tidak akan pernah meremehkan kita yang terus mencoba, menghadapi sebuah kesalahan.

Pengalaman saya, banyak hal yang awalnya tidak saya ketahui, namun dengan mencoba sendiri secara terus menerus, pada akhirnya saya bisa menguasai hal-hal yang awam bagi saya. Blog ini salah satunya.

Saya tidak pernah membayangkan, jika suatu hari nanti saya bisa berkenalan dengan blog seperti ini. Apalagi, sebelum menginjak bangku kuliah, saya sama sekali tidak pernah berkenalan dengan dunia maya. Maklum, daerah tempat saya tinggal tidak tersedia fasilitas internet. Bahkan fasilitas telepon pun hanya segelintir.

Minat saya dengan menulis lah yang telah membawa saya untuk berani mencoba mengenai blog. Saya mencoba membuatnya sendiri, berbekal bacaan dari blog lain. Saya mencoba mem-permaknya sendiri. Berani mecoba mengubah isinya. Bahkan karena saya sering mencoba, persoalan kodenya, akhirnya saya belajar mengenai perwajahan blog.

“Mencoba” tidak menutup kemungkinan membawa kita pada referensi lain. Referensi yang kita pelajari sendiri biasanya akan lebih lama “menetap” dalam otak kita, dibandingkan ajaran orang lain.  Oleh karena itu, saya senang mencoba sesuatu yang baru. Bagi saya, “mencoba” memiliki kekuatan tersendiri. Kekuatan di dalamnya mampu mengubah orang menjadi lebih baik. Kekuatan di dalamnya tidak lepas dari resiko kesalahan. Akan tetapi, kesalahan itulah yang kemudian membangun sebuah pelajaran dengan daya lekat yang sangat kuat.

Takut mencoba pun, seringkali membuat kita hanya bisa berdiam diri. Tidak ada sesuatu yang bisa diperbuat hanya karena takut salah. Kita tidak sadar bahwa mencoba, bukan berarti akan “salah”. Tetapi, “salah” dan “benar” ketika “mencoba” selalu berbanding 50:50. Oleh karena itu, jika selalu mencoba berulang-ulang, maka perbandingan itu akan semakin bergeser pada kebenaran.

Sungguh, kekuatan “mencoba” adalah sebuah pelajaran yang sangat berarti.







#Lagi-lagi postingan ini ditulis di waktu inspiratif, tengah malam...