Senin, 05 September 2011

MENIKMATI 'PROSES' PERJALANAN HIDUP

*Dari Catatan Perjalanan Mudik 14 Jam


 

Mudik sudah menjadi tradisi bagi kebanyakan masyarakat Indonesia. Baik tua maupun muda turut meramaikan “acara” mudik tersebut. Apalagi mereka yang bekerja atau kuliah jauh dari kampung halaman. Tak ketinggalan, saya juga tiap tahun (di luar saat-saat tertentu) melakukan mudik.
Beberapa waktu yang lalu (4/9), saya melakukan perjalanan yang sangat melelahkan, namun sangat mengesankan bagi saya pribadi. Mengapa? Ah, jarang-jarang orang yang melakukan perjalanan jauh menganggap perjalanan mereka menyenangkan. Tapi, kenyataannya, saya malah menganggap perjalanan saya dari kampung halaman (kemarin) sangat seru, dibandingkan perjalanan-perjalanan saya sebelumnya.


Sumber: Google Search

Perjalanan Enrekang-Makassar seyogyanya dapat ditempuh selama 8 jam dengan kecepatan normal. Akan tetapi, tanpa kami diduga sebelumnya, saya bersama ketiga orang rekan saya, harus menempuh perjalanan selama 14 jam, hingga harus tiba di Makassar lewat dini hari (sekitar 00.30 WITA). Kejadian-kejadian seperti ban bocor (sampai 5 kali), hujan deras (selama 2 jam), tontonan tabrakan kendaraan,macet sepanjang 2 km karena kebakaran, mampir untuk menunaikan tugas, dan mampir di rumah salah seorang teman rekan kami (masih suasana lebaran sekalian silaturahmi) mewarnai tiap perjalanan yang kami tempuh. 

Hal ini sungguh berbeda dengan perjalanan –perjalanan saya sebelumnya, yang selalu tiba di tujuan dengan mulus tanpa gangguan yang berarti dan saya anggap ‘monoton’. Meskipun di akhir perjalanan saya bisa tiba dengan lancar dan cenderung tepat waktu, namun saya tidak merasakan kesan apapun. Biasa-biasa saja.


Ternyata, saya menyadari…. Perjalanan saya (kemarin) secara tidak langsung merefleksikan kehidupan kita. Setiap dari kita (manusia) yang hidup pasti memiliki tujuan yang ingin dicapai. Waktu yang dibutuhkan untuk mencapainya pun berbeda-beda. Ada yang lama, ada pula yang express


Orang yang hanya terpaku (dan cenderung terobsesi) pada tujuan yang ingin dicapai, terkadang bisa dengan cepat mewujudkan tujuannya. Mereka bisa mewujudkannya sesuai dengan perkiraan waktu yang mereka alokasikan. Dan akhirnya, simsalabim! Label “hebat” tersemat pada mereka.


Akan tetapi, tanpa kita sadari, kita seringkali melupakan “proses” mencapai tujuan itu sendiri. Kita terlena untuk segera mewujudkan tujuan yang diinginkan, sehingga hanya terpaku pada hasil akhirnya saja. Kita hanya ingin agar segera tiba di Makassar secepatnya, tanpa pernah berpikir setibanya disana apa selanjutnya yang akan diperbuat. “Pokoknya sampai secepatnya,” begitu pikir kita.


Terkadang kita berpendapat, “Toh, untuk mencapai tujuan itu kita selalu menjalani prosesnya. Tanpa proses, tidak mungkin kita bisa sampai.” Memang benar, tanpa ‘proses’ tujuan tidak mungkin tercapai. Segala sesuatu selalu berproses. Namun, kita lupa untuk mengecap proses itu sendiri. Kita hanya melaluinya tanpa benar-benar merasakan kehadirannya, karena kita ingin cepat-cepat sampai di tujuan. 


Padahal menjalani dan menikmati sebuah “proses” jauh lebih penting. Layaknya perjalanan saya, baru berkesan ketika saya mengalami beberapa kejadian lucu atau mengesalkan di tengah perjalanan. Apalagi ditemani dengan teman-teman yang saling support untuk sampai pada tujuan yang sama. Dengan begitu, rintangan apapun di jalan bisa diatasi dengan mudah tanpa harus mengabaikan pelajaran di dalamnya.


Ketika orang lebih terpaku pada “proses” dibandingkan “hasil akhir”, maka cenderung membutuhkan waktu yang lama untuk mencapai tujuan atau hasil akhir yang ingin dicapai. Bagi saya, itu bukan masalah. No problem! Don’t worry, karena dengan menikmati “proses” yang kita jalani, maka kita “dipaksa” untuk bisa menyelesaikan setiap halangan yang merintangi perjalanan kita. Darinya, kita bisa memetik pelajaran. Darinya, kita menemukan cara untuk mengatasi masalah. Dan, jika kita berhasil mengatasinya, maka bisa dipastikan tujuan kita akan tercapai. Hasilnya pun lebih berkesan dan bermakna meskipun waktu “kesana” sedikit lebih lama. Pun dibayar lunas dengan perasaan bangga dan bahagia.


Bahkan, tak jarang kita bisa menemukan “jalan pintas” ketika kita menjalani proses tersebut. Seperti ketika kami mengalami kemacetan panjang di sebuah kabupaten akibat kebakaran. Dengan berbekal petunjuk dari warga sekitar, akhirnya kami mencoba melalui jalan pintas yang sama sekali belum pernah kami lalui. Alhasil, kami bisa keluar dari kemacetan.


Antara “proses” dan “hasil akhir” inilah yang bisa membedakan antara orang bahagia dan orang sukses. Bagi mereka yang terobsesi dengan hasil akhir yang akan mereka capai, cenderung menjadi orang sukses. Dan, mereka yang memahami prosesnya, akan merasakan kebahagiaan dan ujung-ujungnya merasakan buah kesuksesannya. Hal ini berdasarkan yang saya baca di  buku karya Arvan Pradiansyah “7 Laws of Happiness”.


Nah, begitu pentingnya menikmati sebuah “proses” yang kita lalui dalam hidup. Hal itu banyak memberikan pengalaman bagi kita. Jikalau perjalanan mudik saya ke tempat tujuan lancar bebas hambatan, pastinya saya tidak bisa bercerita seperti sekarang. Dengan menikmati setiap proses yang kita lalui sembari belajar dari sana, maka banyak hal yang bisa diceritakan dan dibagi dengan orang lain….. 





It’s about experience, because it’s the best teacher. Keep Writing!



 Kompasiana LINK





Tidak ada komentar:

Posting Komentar