Rabu, 21 September 2011

Surat UntukMu, Tuhan

September 21, 2011
Makassar , 21 September 2011


Ya Tuhan,….
Entah mengapa hari ini aku begitu bingung dan gelisah. Aku merasa dikejar-kejar oleh sang waktu. Hanya saja aku bahkan tak kunjung bergerak mengikuti ritmenya.
Di satu sisi, aku harus mengurusi kepanitiaan DJMTD-ku selaku sekretaris yang tersisa 18 hari lagi, di sisi lain aku harus memenuhi tugas kuliahku yang padat menumpuk di alam ruang pikiranku. Ditambah lagi tugas peliputanku sebagai seorang jurnalis kampus yang sama sekali belum aku selesaikan. Cucianku yang juga menumpuk. Motorku yang tak teurus. Semua membuat pkiranku menjadi kalut. Aku bingung harus menyelesaikan yang mana.

Ya Tuhan,…
Aku mesti bagaimana?
Baru kali ini aku merasa benar-benar bingung. Rasanya aku ingin menghilang sejenak dari dunia ini. Lari dari kesulitan-kesulitanku. Melepas semua beban pikiranku. Tapi, apakah itu akan menyelesaikan semua?
Apa yang harus kulakukan? Terkadang aku merasa tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Aku merasa semuanya hancur ketika semua masalah itu menghimpitku. Tak ada ruang bagiku untuk bisa bernafas lega.

Ya Tuhan,…
Apa ya salahku? Tuh, aku baru saja ditagih liputan dari redaktur-ku….

Ya Tuhan,…
Apakah aku harus menggerutu? Apakah aku harus mengeluh? Aku merasa sudah terlalu banyak mengeluh. Aku seharusnya telah belajar akan hal itu. Oleh karena itu, kuputuskan menuangkan semua ini lewat tulisanku tanpa ada orang yang bisa menjadi tempatku untuk mengeluh.
Entah, apakah aku masih bisa kuat. Apakah aku masih bisa berdiri…

Ya Tuhan,…
Aku kemudian teringat akan mimpi-mimpiku. Target-target yang telah kutuliskan di atas kertas. Yang telah kupasang di atap kamarku. Semua, seakan-akan menjauhiku satu-persatu. Mengucapkan selamat tinggal padaku. Mungkinkah sudah waktunya aku berhenti untuk bermimpi? Menanggalkan semua impian yang selama ini kubanggakan. Membiarkan orang-orang tak menganggap keberadaanku?
Memang, hingga kini di antara mimpi-mimpiku itu, belum ada satu pun yang tercapai. Apakah karena aku memang tidak mampu mencapainya? Entahlah. Kian hari pikiranku semakin terpuruk.

Ya Tuhan,…
Apakah aku salah telah bermimpi? Berusaha menjadi orang yang percaya akan mimpi-mimpinya? Berusaha membuktikan “sesuatu” pada mereka yang selalu menertawakan impianku? Apakah sudah waktunya aku menanggalkan impianku? Apakah aku hanya orang gila yang tersugesti oleh novel-novel yang selama ini aku baca?

Ya Tuhan…
Bantu aku. Tolonglah aku. Aku sadar semakin hari, aku semakin jauh dari-Mu. Mengabaikan sedikit yang tidak Engkau suka. Aku sadar, aku yang dulu lebih baik ketimbang aku yang sekarang.
Tapi, apakah aku salah jika meminta pada-Mu.Engkau-lah satu-satunya tempatku meminta pertolongan. Tanpa Engkau, aku tidak mungkin bisa mencapai semua impianku kelak. Dan apakah ini pertanda teguran dari-Mu, Ya Tuhan?
Kini, aku menangisi diriku. Entah mengapa, yang kurasakan kini persis ketika orang tuaku hamper berpisah Hatiku begitu sesak.Lubuknya timbul ke permukaan. Apakah ini pertanda bahwa Engkau mendengarkanku?

Ya, Tuhan…
Aku tidak ingin berhenti bermimpi. Aku tidak ingin menanggalkan impianku. Karena jika itu yang terjadi, maka aku akan menjadi orang yang paling miskin di dunia.
“The things always happens that you really believe in…and the belief in thing make it happens,”

Apakah itu benar? Dengan mempercayai mimpi-mimpiku apakah semuanya akan benar-benar terwujud?

Ya, Tuhan….
Aku tak ingin mempertanyakan semuanya lagi. Aku ingin menjadi orang yang selalu percaya. Aku juga memohon pada-Mu untuk selalu menjadi penuntun langkahku. Kelak, ketika semua terwujud, semua terjadi, kan kutorehkan senyum bangga. Aku tahu, Engkau mendengarkanku. Engkau di atas sana memperhatikanku, mengamatiku. Oleh karena itu, melalui curahan hatiku ini, aku ingin Engkau mengabulkan pintaku.

Ya, Tuhan…
Apakah aku sudah merasa lebih baik?
Aku tahu, ketika menulis ini tidak serta-merta semua permasalahanku hilang dan lenyap begitu saja. Masih banyak hal yang harus aku lalui. Bahkan akan lebih berat dari sebelumnya. Aku tahu, Engkau menanamkan dalam pikiranku untuk selalu menikmati ‘proses’ hidup Bukan memikirkan hasil akhirnya. Aku sadar, proses yang berjalan baik akan membuahkan hasil yang sempurna.

Ya, Tuhan…
Aku tidak ingin lagi menjadi orang yang tidak berguna. Aku berharap semakin lebih dekat dengan-Mu. Dirikulah yang bodoh selama ini telah perlahan menjauh dari-Mu. Padahal kuasa-Mu lah yang mampu membantuku menyelesaikan segala rintanganku.

Ya, Tuhan…
Aku terus ingin bermimpi. Aku ingin terus menjadi “Sang Pemimpi.” Bukan hanya sekedar mimpi. Namun aku juga ingin mewujudkan semuany. Demi ibuku. Demi ayahku. Demi teman-temanku. Demi sahabat-sahabatku. Demi orang-orangyang senantiasa menaruh harapannya padaku. Demi orang-orang yang menyayangiku. Bahkan demi mereka yang telah meragukan mimpiku.
Aku ingin suatu hari nanti bisa berteriak lantang ketika mimpi-mimpiku terwujud pada mereka bahwa, “Aku Bisa!”
Aku tahu, Engkau mendengarkanku. Engkau melihatku. Engkau menggenggam impianku. Engkau menyimpannya. Dan kelak, Engkau akan memperlihatkannya padaku. Buah manis dari kerja-kerasku.

Ya, Tuhan…
Apakah aku harus berhenti bermimpi? Jawabanku, TIDAK!
Aku tetap akan menjadi orang yang “believe that things really will happens. Now, I will make it happens!

Ya, Tuhan…
Telah banyak hal yangtelah terjadi dalam kehidupanku. Aku beruntung masih mempercayai-Mu. Dan kini saatnya aku semakin mendekat pada-Mu.
Terima kasih, telah membuka kembali pikiranku.

Senin, 05 September 2011

MENIKMATI 'PROSES' PERJALANAN HIDUP

September 05, 2011
*Dari Catatan Perjalanan Mudik 14 Jam


 

Mudik sudah menjadi tradisi bagi kebanyakan masyarakat Indonesia. Baik tua maupun muda turut meramaikan “acara” mudik tersebut. Apalagi mereka yang bekerja atau kuliah jauh dari kampung halaman. Tak ketinggalan, saya juga tiap tahun (di luar saat-saat tertentu) melakukan mudik.
Beberapa waktu yang lalu (4/9), saya melakukan perjalanan yang sangat melelahkan, namun sangat mengesankan bagi saya pribadi. Mengapa? Ah, jarang-jarang orang yang melakukan perjalanan jauh menganggap perjalanan mereka menyenangkan. Tapi, kenyataannya, saya malah menganggap perjalanan saya dari kampung halaman (kemarin) sangat seru, dibandingkan perjalanan-perjalanan saya sebelumnya.


Sumber: Google Search

Perjalanan Enrekang-Makassar seyogyanya dapat ditempuh selama 8 jam dengan kecepatan normal. Akan tetapi, tanpa kami diduga sebelumnya, saya bersama ketiga orang rekan saya, harus menempuh perjalanan selama 14 jam, hingga harus tiba di Makassar lewat dini hari (sekitar 00.30 WITA). Kejadian-kejadian seperti ban bocor (sampai 5 kali), hujan deras (selama 2 jam), tontonan tabrakan kendaraan,macet sepanjang 2 km karena kebakaran, mampir untuk menunaikan tugas, dan mampir di rumah salah seorang teman rekan kami (masih suasana lebaran sekalian silaturahmi) mewarnai tiap perjalanan yang kami tempuh. 

Hal ini sungguh berbeda dengan perjalanan –perjalanan saya sebelumnya, yang selalu tiba di tujuan dengan mulus tanpa gangguan yang berarti dan saya anggap ‘monoton’. Meskipun di akhir perjalanan saya bisa tiba dengan lancar dan cenderung tepat waktu, namun saya tidak merasakan kesan apapun. Biasa-biasa saja.


Ternyata, saya menyadari…. Perjalanan saya (kemarin) secara tidak langsung merefleksikan kehidupan kita. Setiap dari kita (manusia) yang hidup pasti memiliki tujuan yang ingin dicapai. Waktu yang dibutuhkan untuk mencapainya pun berbeda-beda. Ada yang lama, ada pula yang express


Orang yang hanya terpaku (dan cenderung terobsesi) pada tujuan yang ingin dicapai, terkadang bisa dengan cepat mewujudkan tujuannya. Mereka bisa mewujudkannya sesuai dengan perkiraan waktu yang mereka alokasikan. Dan akhirnya, simsalabim! Label “hebat” tersemat pada mereka.


Akan tetapi, tanpa kita sadari, kita seringkali melupakan “proses” mencapai tujuan itu sendiri. Kita terlena untuk segera mewujudkan tujuan yang diinginkan, sehingga hanya terpaku pada hasil akhirnya saja. Kita hanya ingin agar segera tiba di Makassar secepatnya, tanpa pernah berpikir setibanya disana apa selanjutnya yang akan diperbuat. “Pokoknya sampai secepatnya,” begitu pikir kita.


Terkadang kita berpendapat, “Toh, untuk mencapai tujuan itu kita selalu menjalani prosesnya. Tanpa proses, tidak mungkin kita bisa sampai.” Memang benar, tanpa ‘proses’ tujuan tidak mungkin tercapai. Segala sesuatu selalu berproses. Namun, kita lupa untuk mengecap proses itu sendiri. Kita hanya melaluinya tanpa benar-benar merasakan kehadirannya, karena kita ingin cepat-cepat sampai di tujuan. 


Padahal menjalani dan menikmati sebuah “proses” jauh lebih penting. Layaknya perjalanan saya, baru berkesan ketika saya mengalami beberapa kejadian lucu atau mengesalkan di tengah perjalanan. Apalagi ditemani dengan teman-teman yang saling support untuk sampai pada tujuan yang sama. Dengan begitu, rintangan apapun di jalan bisa diatasi dengan mudah tanpa harus mengabaikan pelajaran di dalamnya.


Ketika orang lebih terpaku pada “proses” dibandingkan “hasil akhir”, maka cenderung membutuhkan waktu yang lama untuk mencapai tujuan atau hasil akhir yang ingin dicapai. Bagi saya, itu bukan masalah. No problem! Don’t worry, karena dengan menikmati “proses” yang kita jalani, maka kita “dipaksa” untuk bisa menyelesaikan setiap halangan yang merintangi perjalanan kita. Darinya, kita bisa memetik pelajaran. Darinya, kita menemukan cara untuk mengatasi masalah. Dan, jika kita berhasil mengatasinya, maka bisa dipastikan tujuan kita akan tercapai. Hasilnya pun lebih berkesan dan bermakna meskipun waktu “kesana” sedikit lebih lama. Pun dibayar lunas dengan perasaan bangga dan bahagia.


Bahkan, tak jarang kita bisa menemukan “jalan pintas” ketika kita menjalani proses tersebut. Seperti ketika kami mengalami kemacetan panjang di sebuah kabupaten akibat kebakaran. Dengan berbekal petunjuk dari warga sekitar, akhirnya kami mencoba melalui jalan pintas yang sama sekali belum pernah kami lalui. Alhasil, kami bisa keluar dari kemacetan.


Antara “proses” dan “hasil akhir” inilah yang bisa membedakan antara orang bahagia dan orang sukses. Bagi mereka yang terobsesi dengan hasil akhir yang akan mereka capai, cenderung menjadi orang sukses. Dan, mereka yang memahami prosesnya, akan merasakan kebahagiaan dan ujung-ujungnya merasakan buah kesuksesannya. Hal ini berdasarkan yang saya baca di  buku karya Arvan Pradiansyah “7 Laws of Happiness”.


Nah, begitu pentingnya menikmati sebuah “proses” yang kita lalui dalam hidup. Hal itu banyak memberikan pengalaman bagi kita. Jikalau perjalanan mudik saya ke tempat tujuan lancar bebas hambatan, pastinya saya tidak bisa bercerita seperti sekarang. Dengan menikmati setiap proses yang kita lalui sembari belajar dari sana, maka banyak hal yang bisa diceritakan dan dibagi dengan orang lain….. 





It’s about experience, because it’s the best teacher. Keep Writing!



 Kompasiana LINK