Rabu, 14 Desember 2011

Andai Waktu Bisa Dibeli...

Desember 14, 2011
Sumber Gambar: Om Google

Setiap dari kita memiliki beragam aktivitas. Mulai dari aktivitas dalam skala kecil hingga skala besar. Bergantung pada apa kesibukan apa yang kita lakukan sehari hari. Yah, kesibukan...

Entahlah, bagaimana kita mengartikan sebuah kesibukan. Saya pun seringkali dibuat bingung olehnya. Adakalanya, saya merasa bangga dianggap sibuk oleh teman-teman saya. Namun, ada pula suatu waktu saya merasa bodoh jika terus-terusan dianggap sibuk. Kenyataannya, saya sendiri tidak senang selalu dianggap “orang sibuk” oleh teman-teman saya.

Kesibukan, ada dua sisi yang berbeda. Apakah kesibukan terbentuk karena kita memiliki jadwal pekerjaan atau aktivitas yang super padat? Ataukah malah kita hanya memiliki waktu yang sangat sedikit sehingga pekerjaan yang kita miliki tidak bisa diselesaikan dalam satu kali kesempatan, terlepas dari kita yang menganggap pekerjaan yang ada sangat banyak.

Sebanyak apapun pekerjaan yang kita miliki, tampaknya bisa diatasi jika waktu yang kita miliki lebih dari 24 jam sehari. Lah? Bagaimana caranya, sehari bisa lebih dari 24 jam? Nah, itu dia.. Andai saja waktu bisa dibeli.
Saya seringkali mendengarkan cerita (dalam versi berbeda-beda) mengenai seorang anak kecil yang mengumpulkan uang demi bisa membeli waktu ayahnya. Sehari-hari, ayahnya menghabiskan waktunya untuk bekerja, sehingga tidak punya waktu untuk anaknya di rumah. Mungkin, karena rasa sayangnya si anak pada ayahnya, maka ia ingin membeli waktu ayahnya barang sebentar saja, meski hanya satu-dua jam saja.

Tanpa disadari, langsung atau tidak langsung, pekerjaan yang kita jalani adalah demi membeli waktu kita. Orang bekerja digaji, atas waktu yang mereka luangkan untuk pekerjaan tersebut. Waktu tersebut sudah satu paket dengan keterampilan kita. Dibayar dengan uang.

Saya sempat tergelitik ketika teman saya berceloteh, andai waktu bisa dibeli, ya... karena sebenarnya, waktu setiap orang itu sudah dibeli. Akan tetapi, terkadang, kita tidak menyadarinya.

Jika yang dimaksud adalah realitasnya bahwa waktu benar-benar bisa dibeli dan ditambahkan pada waktu yang kita miliki, semisal kita punya waktu 24 jam dan membeli waktu sebanyak 2 jam, sehingga waktu yang kita miliki menjadi 26 jam. Maka adalah sebuah hal yang “ajaib”.

Tuhan sengaja sudah menciptakan waktu yang beragam buat kita semua. Seandainya seperti itu, maka di dunia ini, orang kaya dengan mudahnya akan membeli waktu dan kemungkinan akan menambahkannya pada usia mereka. Semakin banyak waktu yang akan terbuang sia-sia, hanya untuk memperpanjang umur. Siapa sih yang tidak ingin memperpanjang umur? Selain itu, waktu setiap orang akan beragam, sehingga kehidupan tidak akan berjalan dengan normal. Coba bayangkan. Saya sendiri tidak begitu kuat membayangkannya.

Bukanlah menjadi sebuah alasan untuk membeli waktu ketika kesibukan melanda kita. Jika ingin membeli waktu, sebenarnya sebagai makhluk sosial kita sudah disediakan manusia lain untuk dibeli waktunya (secara tidak langsung), tidak dalam arti yang sebenarnya. Timbal balik terjadi. Selalu ada cara untuk bisa menghindarkan diri kita dari kesibukan yang ada. Dan mengeluh bukan jalan satu-satunya.

Kesibukan terkadang adalah bagaimana cara kita dalam memprioritaskan sesuatu. Penting atau tidak penting. Butuh atau tidak butuh.

Akan tetapi, satu hal yang telah saya pelajari dalam hidup ini, bahwa untuk bisa hidup bahagia kita dituntut untuk bisa mengurangi kuantitas pekerjaan kita dan meningkatkan kualitas waktu yang kita miliki. Dengan begitu, kita tidak akan menjadi orang yang “sok sibuk”.

Karena saya pun tidak suka dianggap sibuk.


Rabu, 07 Desember 2011

Bangun Cintamu

Desember 07, 2011
Sumber: Google Link


Cinta datang dengan sendirinya. Dari mata turun ke hati. Begitu kata pepatah yang tak pernah jelas pengarangnya. Dan semua orang pasti pernah mendengarnya, atau bahkan mengalaminya.

Lho, siapa bilang cinta itu datang dengan sendirinya? Tidak benar. Tapi, tidak juga sepenuhnya salah. Bagi saya, cinta yang muncul dengan sendirinya, tanpa disadari itu adalah muasal cinta jika dipandang dari sudut pandang subjektif. Akan tetapi, ternyata jika dipandang secara objektif, maka cinta harus dibangun atau diciptakan.

Saya terinspirasi dari sebuah film Bollywood. Sebenarnya sudah lama saya menontonnya, bahkan sudah berulang menikmati filmnya. Alhasil, setiap saya mendengar soundtrack film ini, pikiran saya kemudian terbayang-bayang kepada, “Cinta itu bisa dibangun” sebagaimana alur cerita film tersebut. Rab Ne Bana Rab Di Jodi.


Saya sebenarnya bukan penggemar fanatik film-film Bollywood (sebagaimana teman-teman saya yang fanatik dengan serba Korea). Akan tetapi, cerita di dalamnya sungguh menggugah minat saya.

Jika sebagian besar orang berpendapat, Itu kan hanya film. Ceritanya cenderung dibuat-buat dan tidak nyata, maka sebuah pernyataan yang sedikit perlu pembenaran. Saya yakin, di setiap cerita sebuah film selalu terselip (atau diselipkan) pesan-pesan (moral) bagi penontonnya. Yah, asalkan kita tidak sekadar menonton saja. Ceritanya pun cenderung diolah mendekati kisah kehidupan kita di dunia nyata.

Menilik isi cerita di film ini, bagi saya, cukup masuk akal. Kisah layaknya di film tersebut sangat mungkin terjadi. Karena kita kan tidak boleh menutup kemungkinan terhadap segala hal yang logis.

Secara subjektif, memang cinta datang dengan sendirinya. Disadari atau tidak, kita bisa mencintai orang lain bahkan pada pandangan pertama. Tapi, yakinkah kita bahwa orang itu juga punya perasaaan yang sama terhadap kita? Nah, belum tentu.

Sekali lagi, secara subjektif, cinta datang secara tiba-tiba. Maka untuk melengkapinya, tidak perlu menunggu orang yang bersangkutan menyukai kita, cukup dengan berusaha menciptakan cinta pada orang itu. Inilah yang saya maksudkan secara objektif, membangun cinta (agar orang tersebut juga punya perasaan yang sama) dengan menanamkan benih-benihnya. Yap, bagaimana caranya, itu menjadi usaha masing-masing. Jelasnya, dimana ada kemauan disitu ada jalan.

Intinya, jika seseorang yang disukai sama sekali no respect, tidak perlu patah semangat. Ingat selalu, cinta itu bisa ditanam dan ditumbuhkan. Makanya perlu dijaga setiap hari (seperti menanam bunga).

Batu cadas sekalipun, jika disiram air secara terus menerus akan pecah juga. So, bagi yang punya masalah cinta, bangun cintamu dari sekarang. Genggam erat-erat, jangan lepaskan.

Cowok    : Kamu punya air gak?
Cewek    : Ada… Haus ya?
Cowok    :Nggak. Aku cuman mau siram bunga-bunga cinta di hatiku.. (jiaahh…)


*Dibagi bukan atas pengalaman pribadi, tapi sharing berdasarkan analisa penulis sendiri. Hehe…


Sabtu, 19 November 2011

Inspirasi Segelas Cappucino

November 19, 2011
Saya bingung ketika dihadapkan pada laptop (teman) di hadapan saya meski dalam pikiran selalu saja ada dorongan untuk “menulis” sesuatu. Padahal, ketika saya tidak sedang dalam posisi ready to write, banyak hal yang ingin saya tuliskan. Akan tetapi, ketika sudah tiba waktunya saya akan menulis, maka segala ide tersebut memudar satu-persatu. Mungkin inilah akibatnya meninggalkan kebiasaan mencatat ide-ide penting dalam kehidupan sehari-hari.

Terlepas dari itu, saya tetap berpegangan pada prinsip saya;

“Bukan inspirasi yang membawa kita untuk menulis, namun menulis itu sendirilah yang akan membawa kita pada banyak inspirasi,”

Yes! It’s right! Dan kini, dengan segelas cappucino saya berusaha untuk menjemput inspirasi itu.
Sudah lama saya telah cuti dari kegiatan menulis seperti ini. Tidak hanya itu, bahkan mencatat di waktu kuliah saja, sudah mulai menjadi hal yang langka bagi saya. Bukan merasa sebagai orang pandai, hanya saja menulis diktat mata kuliah membuat saya rada-rada tegang. hehehe..

Saya rindu dengan menulis. Saya merasa menjadi orang yang miskin ketika berhenti dari menulis. Mengapa? Karena saya pun memiliki impian untuk bisa menjadi seorang penulis. Karena orang yang paling miskin bukanlah mereka yang tidak memiliki kecukupan harta sama sekali. Akan tetapi, mereka yang tidak berani bermimpilah yang pantas disebut sebagai orang miskin. (terngiang-ngiang dari sebuah novel)

Entah kenapa, ketika saya mendapati sebuah ide, saya selalu berharap bisa menuliskannya. Akan tetapi, karena kendala waktu dan tempat yang tidak tepat (dan tentunya fasilitas yang tidak memadai), maka saya selalu mengurungkan niat itu. Ah, sebuah alasan yang tepat bagi mereka yang tidak ingin berkembang, sebenarnya.

Sekali lagi, bukan inspirasi yang membuat saya menulis. Maka dari itu, dengan menulis akan membangun gairah menulis saya. Mood saya muncul. Dan akhirnya beragam inspirasi mendadak nongol di kepala.

Oh, ya, beberapa pembaca mungkin heran dengan judul yang saya tuliskan itu. Apa hubungannya dengan tulisan di dalamnya? Haha.., judul itu hanya terlintas di kepala saya. Makanya saya segera menuliskannya demikian, sebagai pemancing buat pikiran saya. Lagipula, saya menulis memang sudah terbiasa di waktu tengah malam dan ditemani dengan segelas (atau dua gelas) Cappucino hangat. Sebagai teman begadang. Memang keluarga kopi susu itulah yang selalu menjadi andalan saya. Tidak bermaksud promosi.

Menulis itu memang bisa dimisalkan dengan menyeruput segelas cappucino. Nikmatnya terasa ketika minuman masih dalam keadaan hangat. Dan terasa lebih nikmat lagi jika tidak diminum sekaligus. Demikian halnya dengan menulis.

Ketika dalam kepala kita terlintas sebuah ide, maka sangat mubazir ketika kita tidak menuliskannya. Ide yang masih “hangat-hangat”nya akan lebih baik jika dituangkan dalam sebuah tulisan. Menulisnya pun tidak perlu terburu-buru (karena takut kehilangan ide). Cukup nikmati saja proses menulis itu. Enjoy it! Buat apa terburu-buru? Semakin kita menikmati menulis sebuah ide, akan semakin banyak ide yang nantinya akan bermunculan. Menulis akan menimbulkan banyak inspirasi.

Dan ketika kita terus menulis dan menikmatinya, terkadang kita lupa waktu. Malahan saya sudah terbiasa begadang hanya untuk menulis.  Seperti cappucino bagi saya. Saya pun sering memanfaatkan waktu malam hari untuk menulis. Meskipun mungkin saja tulisan yang saya hasilkan jauh dari sebuah tulisan yang berkualitas. Yang terpenting, saya belajar....

Segelas cappucino. Membawa saya pada sebuah ide, bahwa menulis itu senikmat meneguk cappucino itu sendiri. Delicious...

Segelas Cappucino
Coklat dan berasa nikmat.
Tegukannya begitu hangat.
Di malam yang pekat.
Seakan ku teringat,
Lekat-lekat dan dekat di kepalaku.
Sebuah ide yang begitu hangat.
Singkat dan begitu padat.
Namun sarat hikmah untuk belajar.
Mari menulis.
Layaknya cappucino.
Membuat mata tetap terjaga.
Membuat batin berbangga diri.
Demi level satu tingkat
Lebih pesat dari hari kemarin.
 
Makassar, 19 November 2011, pukul01.57 WITA

Kamis, 10 November 2011

Perkenalkan, Motivator dan Inspiratorku!

November 10, 2011
Sumber gambar: Google



Hai sobat. Bagaimana keadaanmu kini? Semoga lebih baik dari sebelumnya. Aku yakin, luka akibat tertabrak mobil tempo hari tidak akan pernah  menyurutkan niatmu untuk tetap memperjuangkan hak-hak rakyat yang tertindas.

Engkau pasti kuat. Biarlah, rumah sakit menahanmu selama beberapa hari, memastikan lukamu sembuh seperti sedia kala.

Oh, ya. Bersama surat ini, aku titipkan dua buah buku bacaan untuk menemanimu. Aku tahu, aktivis sepertimu tidak akan betah berlama-lama di rumah sakit.

Mengapa buku?
Ya, karena buku adalah temanku. Aku mau buku itu juga menjadi temanmu.


Tahu tidak, melalui buku, aku banyak belajar. Buku pula yang menjadi sumber inspirasiku selama ini  Melaluinya, bisa kubangun semangatku. Bahkan ia telah menjadi motivator keduaku setelah Bunda.
Selain itu, lembaga jurnalistik yang menggemblengku kini, mengajariku bahwa penulis yang baik adalah pembaca yang baik. Tahukah sobat, aku ingin jadi penulis. Melalui buku, dahulu kubangun impian itu. Ingin kuceritakan padamu bagaimana sebuah bacaan telah membangun impianku.

* * * * * * *


Sebelum meginjakkan kaki di kota ini, kita berdua sudah berteman sejak kecil. Rumahku hanya dipisahkan dua rumah dari rumahmu. Meskipun kelas sosial keluargamu jauh di atas keluargaku, namun hal itu tak membatasi kita untuk tetap bersahabat hingga kini.

Semenjak kecil, engkau punya banyak mainan untuk mengisi hari-harimu. Berbeda denganku yang hanya bisa ikut bermain bersamamu. Namun, hal itu pula yang senantiasa mempererat persahabatan kita.

Seperti biasa, dulu ketika pulang sekolah, aku harus selalu membantu ayahku berjualan es teler di pasar sentral. Pasar yang hanya buka tiap hari Selasa dan Jumat itu merupakan pasar yang paling ramai diantara beberapa kecamatan se-kabupaten. Segala macam dagangan bisa kita temukan di pasar itu.

Berjalan-jalan di pasar usai membantu ayahku adalah hal yang biasa bagiku. Hampir seluruh bagian pasar waktu itu pernah kusinggahi. Sehingga jikalau engkau ingin membeli sesuatu, engkau tak lupa selalu mengajakku. Seperti saat engkau mengajakku membeli buku pelajaran sekolah waktu itu.

Kuantarkan engkau pada sebuah toko buku di pasar itu. Toko buku yang kala itu merupakan toko buku satu-satunya. Karena, selain di tempat itu, dimana lagi kita bisa mencari buku? Disana kan tidak ada Gramedia layaknya kota-kota besar tempat kita menimba ilmu saat ini.

Saat itu, belum ada satu pun toko yang menjual buku-buku sekolah. Jikalaupun ada, jaraknya menghabiskan waktu satu jam perjalanan dari tempat tinggal kita, yakni di ibukota kabupaten. Mau tidak mau, toko buku itulah yang menjadi “primadona” saat itu.

Entah kenapa, perhatianku tertumbuk pada sebuah majalah di toko buku itu. Majalah yang covernya bergambar kelinci. Berwarna-warni, dengan tulisan besar di atasnya “Bobo”. Apalagi ketika mulai kubuka tiap halamannya, ada rasa “suka” yang tiba-tiba terbersit dalam benakku.

Hari pasar berikutnya, aku iseng-iseng membeli majalah itu. Meskipun waktu itu harganya Rp 6.000,/ eksemplar, aku tetap membelinya.

Aku langsung jatuh hati pada majalah itu.

Aku suka semua isinya. Mulai dari cerita-cerita pendeknya, cerita bergambarnya, sampai info-info menarik yang disajikannya. Terlebih lagi, isinya yang memang khusus buat anak-anak seusiaku pada saat itu. Masih terekam jelas dalam memoriku, tokoh-tokoh dalam cerita-ceritanya. Ada Oki, Nirmala, Paman Gembul, juga keluarga Bobo yang senantiasa mengisi halaman pertamanya.

Maka, dimulailah kebiasaan baruku, mengoleksi majalah Bobo.

Setiap Jumat, usai membantu ayahku, aku selalu menyempatkan diri untuk membeli Bobo. Aku bahkan rela menyisihkan seluruh uang jajanku selama enam hari hanya untuk membeli majalah Bobo tiap minggunya. Sampai-sampai ibuku heran, tidak pernah sekalipun aku jajan di sekolah sekadar untuk mengisi perutku yang kosong.

“Apa kamu ndak lapar kalau di sekolah?” tanya ibuku.

Toh, aku sudah terbiasa akan hal itu. Lagipula sebelum berangkat ke sekolah, aku selalu sarapan. Dan lagi, jarak sekolah kita kan tidak begitu jauh. Kita berdua setiap harinya melaluinya hanya dengan berjalan kaki.

Akibat keranjingan membaca Bobo, aku menemukan majalah serupa di perpustakaan sekolah kita. Asyik namanya. Asyik adalah nama tokoh utama majalah itu yang menyerupai kucing. Halamannya lebih tebal dibandingkan majalah Bobo. Isinya juga hampir sama, namun Asyik lebih dominan mengenai ilmu pengetahuan.
Ingat tidak? Engkau dulu sering kuajak ke perpustakaan sekolah hanya untuk membaca majalah itu. Karena itu pula, engkau mau tidak mau ikut-ikutan membacanya.

Sayangnya, hanya selang beberapa hari, semua edisi majalah itu habis kulahap. Tidak ada lagi edisi-edisi yang baru. Maklum, majalah-majalah itu tidak diperjualbelikan secara bebas di pasaran dan hanya diperuntukkan bagi perpustakaan-perpustakaan di sekolah dasar.

Hingga SMP, aku terus mengoleksi majalah Bobo. Bahkan, aku tidak perlu lagi bersusah payah menyisihkan seluruh jatah uang jajanku. Uang jajan Rp 3.000,-/ harinya kala itu, lebih dari cukup untuk bisa membeli majalah tiap minggunya.

Kebiasaan itu baru terhenti ketika musibah kebakaran menimpa pasar sentral. Ingat, kan? Kejadian yang berlangsung dini hari itu, menghanguskan sekian banyak lapak, tidak terkecuali toko buku itu.

Meskipun pasar sentral secepatnya dibangun kembali oleh pemerintah daerah, akan tetapi pemilik toko buku yang setiap minggunya menjadi langgananku tidak pernah kembali. Ia tidak lagi membuka toko buku di pasar sentral kita. Kabar terakhir yang kudengar saat itu, ia punya toko buku lainnya di ibukota kabupaten.

Beranjak remaja, kita mendaftar di SMA yang berbeda. Aku mulai melupakan Bobo meskipun majalah-majalah itu masih tersimpan rapi di kamarku. Akan tetapi, kebiasaanku membaca masih terpatri dalam benakku. Apalagi ketika salah seorang guruku mengatakan,

“Buku adalah gudang ilmu. Untuk membukanya, perlu sebuah kunci. Dan kuncinya adalah membaca.Membacalah, maka kau akan tahu seberapa luas dunia itu.” Oleh karena itu, aku selalu mengunjungi perpustakaan sekolahku.

Benar saja. Kutemukan lagi bahan bacaan baru. Horizon. Sebuah majalah sastra. Isinya mengupas seputar sastra dan menampilkan lebih banyak puisi dan cerpen. Saat itu aku baru tahu bentuk sesungguhnya dari sebuah cerpen. Bacaanku pun beranjak, dari majalah anak-anak ke majalah sastra.

Aku senang membaca majalah itu. Membacanya, menambah pengetahuan kosakataku. Tulisan-tulisannya yang berbau sastrawi begitu enak dibaca. Hingga terlintas di benakku, suatu saat aku ingin jadi penulis layaknya para penulis di majalah itu.

Tapi kemudian kuurungkan. Aku harus belajar. Aku masih tetap ingin menjadi rivalmu saat itu meski kita berbeda sekolah.

Hingga kemudian seorang kawanku meminjamkan salah satu buku novelnya padaku. Aku sebenarnya tidak begitu tertarik membacanya. Novel setebal itu? Namun, mau tidak mau aku harus menyelesaikannya.

Tahu tidak, novel yang kubaca itu? Novel yang bercerita tentang pendidikan di sebuah pulau kecil, Belitong. Novel itu dianggap begitu inspiratif, sehingga mampu memotivasi banyak orang, khususnya para akademisi pendidikan. Engkau pasti pernah mendengarnya.

Ya, tidak salah lagi. Laskar Pelangi.

Novel karya Andrea Hirata inilah yang kemudian membawaku pada novel-novel lainnya. Pula, menjadi titik awal aku berani bermimpi. Mimpi adalah kunci untuk menaklukkan dunia.

Kecintaanku membaca kemudian berkembang pada buku novel yang tebalnya beratus-ratus halaman. Seperti yang engkau pegang sekarang. Berbagai novel yang dimiliki teman-teman sekolahku kulahap habis. Bahkan nama-nama penulisnya pun kuhafal satu persatu.

Kini, aku masih suka membaca buku.

Hal ini pula yang mendorongku untuk sering mengunjungi perpustakaan kota. Banyak buku-buku baru yang sering aku temukan disana. Jikalau aku sudah bosan, barulah aku menghabiskan waktuku di Gramedia sekadar melihat-lihat buku baru.

Sejak bulan April, aku mulai berkomitmen. Sebagian dari honor les privatku akan kuinvestasikan tiap bulan untuk membeli setidaknya satu buku baru. Hingga akhirnya, sampai hari ini aku punya sembilan koleksi buku pribadi, termasuk yang sekarang ada padamu. Aku punya cita-cita, kelak bisa memiliki perpustakaan pribadi.
* * * * * * *


Aku cinta membaca buku. Karena darinya, aku bisa banyak belajar. Aku bisa memetik pengalaman. Aku bisa mencontoh. Aku pun bisa menonton lewat membaca buku. Melalui buku, aku bisa berimajinasi, karena segala yang kubaca begitu nyata.

Engkau sendiri juga membuktikannya, kan? Dengan membaca, engkau tidak perlu belajar. Engkau selalu suka membaca buku-buku “berat” tentang filsafat. Cukup dengan membaca, engkau bisa melampaui siapa saja. Einstein pun belajar dari membaca buku. Bukankah agama kita sangat menganjurkan untuk membaca? Iqra’ (Bacalah!) Karena, pada dasarnya, kunci segala pengetahuan adalah dengan membaca.

Jika selama ini engkau melihatku begitu semangat untuk meraih apa yang aku inginkan. Semua karena membaca. Begitu banyak novel-novel inspiratif yang kubaca. Berbicara mimpi. Berbicara persahabatan. Penuh tantangan. Penuh perjuangan hidup. Penuh haru. Hingga, mereka (para tokoh) bisa meraih impian masing-masing. Bagiku, hal seperti itu sungguh nyata dan aku ingin seperti mereka.

Membaca sebuah buku selalu memberikan cara berpikir baru bagiku, juga bagimu. Segala hal tentang kehidupan bisa dipelajari melalui buku. Maka dari itu, jangan pernah berhenti membaca, sobat.

Aku sering memetik pelajaran dari setiap buku yang kubaca. Setiap kisah yang diceritakan mampu memotivasiku untuk terus membaca. Dan setiap kisah yang dituliskan memberiku inspirasi untuk berbuat lebih baik. Mungkin, inilah yang disebut ‘tulisan bernyawa’. Tulisan yang mampu menginspirasi dan memotivasi banyak orang untuk meraih mimpi-mimpinya.

Sobat, aku berharap suatu hari aku pun bisa menghasilkan karya serupa.
Olehnya itu, aku kemudian tidak takut untuk bermimpi. Segala kisah yang kubaca telah mengajarkan hal itu. Banyaklah belajar dari membaca.


Akhirnya, ingin kuperkenalkan pada engkau wahai sahabatku. Buku-buku itu telah menjadi inspirator sekaligus motivator dalam kehidupanku. Jadilah temannya. Lalu, temukan pula inspirasimu dengan membaca. Maka engkau akan tahu siapa motivatormu.

“Dengan membaca, maka engkau mengenal dunia.
Dengan menulis, maka dunia mengenalmu.”


Makassar, 29 Oktober 2011


Jumat, 28 Oktober 2011

Bukan Lewat Uang

Oktober 28, 2011
Sebelumnya, perkenalkan aku adalah Roni. Seorang remaja usia 17 tahun. Semua orang di sekolahku sangat suka berteman denganku. Apapun yang kuinginkan, bisa kudapatkan langsung dari ayahku. Jangankan hanya sebuah laptop, mobil pun bisa langsung kumiliki. Namun, terlalu dini bagiku untuk memiliki mobil tersebut.
 

Maklum, ayahku adalah salah seorang anggota DPR usungan salah satu parpol ternama. Berbagai tunjangan dari pemerintah sering didapatkannya secara cuma-cuma. Junlahnya pun bisa membelalakkan mata orang-orang di kolong jembatan sana. Masa bodoh bagiku, apakah ia korupsi atau tidak. Terpenting bagiku, aku puas dengan materiku.
 

Tidak lengkap rasanya jika gaji yang luar biasa dari ayahku tidak dicitrakan dengan rumah yang mewah pula. Tiap kamar di rumahku akan ditemui televisi layar datar yang dipasang di dinding rumah. Entah, apalah namanya. Bahkan di kamar Bik Inah, pembantu kami pun disediakan televisi. Jaringan internet tak pernah terputus di rumahku. Tiap kamar, aku dan dua orang adikku, dilengkapi dengan fasilitas internetan unlimited.
 

Sebenarnya, masih banyak hal yang ingin kuceritakan, namun bukanlah hal yang penting untuk saat ini. Kini, aku bukan lagi Roni yang dulu...
*******

Aku sudah biasa mengajak teman-teman segengku untuk jalan-jalan. Itu karena aku menghargai mereka. Sangat penting buatku bisa membuat mereka bahagia. Mereka senang, aku senang.
 

Namun, di antara teman sekelasku, ada satu orang yang sama sekali tidak tertarik dengan kebiasaanku, Irfan. 

Jika diajak, ia menolak dengan halus. Sikapnya agak dingin, mungkin karena ia pendiam. Namun, ia adalah salah satu bintang di kelasku.  Tidak pernah sekalipun dia keluar dari jajaran tiga besar peringkat kelas kami.  Sayangnya, dia begitu dingin padaku. Padahal jikalau ia mau baik padaku, maka akan kuturuti smeua permintaannya.
 

Hingga suatu hari, sepulang sekolah, aku dipaksa ayahku menemani Pak Kus, supir ayahku untuk mencari sesuatu di pasar. Baru kali ini aku harus “terpaksa” menemani Pak Kus mnejelajahi pasar.
 

“Duh, ayah. Kenapa tidak cari di Mall atau Supermarket saja sih?” gerutuku di telepon.
 

“Di tempat seperti itu tidak akan ada. Lagipula, tidak ada salahnya kan kamu sekali-kali rasakan suasana pasar.” ujar ayahku santai dari seberang teleponnya.
 

Tidak ada enaknya bagiku suasana kumuh seperti ini. Sudah panas, biasanya kaki pun harus melangkah berhati-hati untuk menghindari genangan air. Ditambah lagi bau anyir macam-macam dagangan yang berbaur jadi satu. Ampun!
 

Namun, tak disangka-sangka aku melihat sesosok yang sangat kukenal. Irfan. Dia tampak sedang sibuk melayani seseorang. Itu kan Irfan. Kok, dia kayak jualan sesuatu?
 

Aha! Aku punya alasan untuk tidak ikut lebih jauh dengan Pak Kus.
 

“Pak Kus, aku tunggu disana saja, ya? Tuh, aku mau bareng sama temanku,” tunjukku ke arah Irfan.
 

“Ya, sudah. Kalau begitu kamu tunggu disana saja,” ujarnya sesaat mengedarkan pandangan ke arah telunjukku. Ia pun akhirnya seorang diri masuk ke dalam pasar.
 

“Hai, Irfan!” sapaku.
 

Irfan agak terkejut melihatku. Mungkin baru kali ini ia melihatku ada di pasar. Namun tanpa rasa canggung sedikitpun ia tetap melayani pembeli yang sedari tadi menunggu es campur buatannya. Tampak pula wanita tua di sampingnya adalah ibunya.
 

“Tumben, kamu ke pasar, biasanya juga ke Mall,” ucap Irfan usai melayani pembeli. Ia menawarkan segelas minumannya padaku.
 

“Terima kasih,” balasku menerimanya sembari duduk di sebuah bangku bersamanya.
 

Aku pun menceritakan alasanku hingga harus “terpaksa” ke pasar. Ia sempat menertawakanku. Disinilah aku baru merasakan perbedaan pada dirinya. Atmosfernya, tidak sedingin yang selama ini kurasakan. Mungkin saja ia selama ini lebih banyak menutup diri dari kami.
 

Dari sini pula aku tahu bahwa setiap harinya, Irfan harus membantu ibunya berjualan es di pasar. Ia tidak pernah merasa malu dengan pekerjaannya itu, selama masih bisa menghidupi keluarganya yang ditinggal oleh ayahnya.
 

Mulailah aku akrab dengan Irfan. Aku sering mengunjunginya di pasar untuk sekedar ngobrol dengannya, atau bahkan untuk mengerjakan PR bersamanya. Sejak itu, pola pikirku sedikit  demi sedikit berubah. Bahkan mengenai kebanggaanku terhadap uang untuk menyenangkan teman-temanku pun berubah drastis. Ia telah mengubahnya.
 

“Aku ini bukanlah siapa-siapa. Namun dengan ketiadaanku ini, aku ingin berusaha untuk mewujudkan mimpiku. Mimpi tak bisa selamanya dibeli dengan uang. Mimpi yang dibayar dengan kerja keras adalah sebaik-baik impian. Kalau aku punya banyak uang dari hasil kerja kerasku, akan kuhabiskan untuk membahagiakan ibuku dan adik-adikku,” tuturnya seraya tersenyum memandang langit.
 

Di hari itu, aku merasakan hal yang berbeda. Ia sangat berbeda dengan teman-temanku selama ini yang selalu bisa kutawar dengan uang. Melihat sahabatku tersenyum tulus tanpa dinilai oleh uang, rasanya sangat membahagiakan. Membuatku menjadi orang yang sangat berarti dan diterima apa adanya. Aku disadarkan, ternyata selama ini uang yang kuhabiskan hanyalah untuk kesenangan, bukanlah kebahagiaan. Dan senyuman temanku kemarin bukanlah senyuman tulus sebagai seorang sahabat.
 

Darinya, kutemukan arti sahabat yang tak ternilai harganya. Bukan lewat uang berpuluh-puluh ribu. Namun, lewat senyumannya bisa menenteramkan hatiku.[end]

Kamis, 27 Oktober 2011

Bersemangat dengan Menulis

Oktober 27, 2011
Sumber gambar: Google Link

Ketika saya sedang dirundung masalah dan merasa down, saya bingung harus bercerita pada siapa. Karena pada dasarnya, tidak semua orang/ menusia mampu menampung suka-duka orang lain. Apalagi jika hal itu sudah berkenaan dengan duka-duka yang ingin disampaikan. Wah, wah, sangat berat tampungannya.
Akan tetapi, bebearapa waktu lalu, saya baru menyadari. Ternyata untuk kembali membangkitkan semangat dalam diri cukup mudah. Cukup dengan menulis. Ya, menulis.
 

Sebenarnya, saya sudah lama senang menulis. Bisa dibilang, suatu hari nanti saya ingin jadi seorang penulis.  Hanya saja, saya tidak cepat menyadari keuntungan lainnya dari menulis itu sendiri, yakni bisa meningkatkan semangat.
 

Setiap kali saya selesai menulis, ada kepuasan tersendiri bagi pribadi saya. Saya tidak peduli apakah tulisan saya akan dibaca orang atau tidak. Dinilai atau tidak. Selama saya bisa menulis, itu sudah cukup bagi saya. Karena dengan menulis, saya telah berkarya. Melihat hasil karya saya, ada semangat untuk bisa kembali menelurkan karya serupa.
 

Menulislah yang akan menimbulkan inspirasi bagi kita.
 

Ketika kita mampu menuangkan semuanya dalam sebuah tulisan, beban yang kita tanggung akan terasa ringan atau bahkan terlepas begitu saja. Bukan hanya dengan menulis “perasaan saja”, bahkan dengan menulis apa saja, artikel, makalah, cerpen, esai, dan sebagainya, maka hati akan terasa segar kembali.
 

Ada beberapa hal yang bisa membuat kita selalu menulis. Satu diantaranya adalah dengan membuat blog. Akan tetapi, perkembangan internet seperti ini tidak menjangkau semua orang. Beberapa orang saja yang bisa “aktif” berhubungan dengan dunia maya. Media lain, maka kita bisa ciptakan sebuah diary.
 

Hah?! Diary!
 

Sebagian besar orang menganggap diary sebagai salah satu “aksesoris” cewek. Padahal, tanpa kita sadari, diary tak hanya sekedar diary. Umumnya, diary hanya berbicara tentang perasaan, perasaan, dan sedikit rutinitas (yang lagi-lagi bawa-bawa perasaan). Akan tetapi, dengan sedikit perubahan (tidak hanya berkutat pada curahan hati), kita bisa menjadikannya sebagai sumber semangat baru.
 

Di dalamnya, kita bisa menuliskan segala keseharian kita, pengetahuan kita, karya kita, bahkan beberapa catatan tips yang kita anggap penting. Bahkan, ada loh orang yang menjadikan diary sebagai tempat menuliskan kumpulan karyanya dalam bentuk fiksi.
 

Yah, ada banyak “evolusi” diary. Yang terpenting, kita bisa terus menulis dan berkarya. Dengan terus menulis saya bisa mendapatkan banyak inspirasi.
 

Bukan inspirasi yang membawa kita pada sebuah tulisan.
 

Apapun yang saya tulis, biasanya akan terbawa-bawa pada kondisi perasaan saya. Hal itu menimbulkan semangat baru. Oh, ya menurut pakar kesehatan, katanya dengan menulis juga bisa berpengaruh pada tingkat kesehatan juga loh.
 

"Bukan inspirasi yang membawa kita pada sebuah tulisan, tapi tulisanlah yang membawa kita pada sebuah inspirasi."

Salam!

Rabu, 19 Oktober 2011

Presentase atau Presentasi??

Oktober 19, 2011
Sumber: Dokumen pribadi

“Minggu depan kita akan presentase, ya. Harap siapkan diri kalian,” ujar salah seorang dosen saya.

Huh, presentase lagi, presentase lagi. Saya agak bosan dengan presentase. Selalu saja tiap mata kuliah berakhir dengan presentase.

Eh, tunggu dulu! Yang benar, "presentase" atau "presentasi"??

Sudah lama saya bertanya-tanya tentang kedua istilah ini. Penulisan maupun pengucapannya  hampir sama.

Akan tetapi makna maupun arti kata yang terkandung di dalamnya jauh berbeda. Sama sekali jauh  berbeda.

Bukannya saya bermaksud menyinggung kalangan tertentu, baik mahasiswa maupun dosen sendiri. Namun pada dasarnya ini sebagai koreksi bagi kita semua yang sudah terlalu sering membudayakan kesalahan berbahasa. Jika kesalahan seperti ini terus berlanjut, apa jadinya bahasa Indonesia (yang merupakan bahasa persatuan).

Ya...meskipun saya bukan orang dari bahasa Indonesia, namun selalu tertarik akan hal-hal yang berbau satra.
Seperti yang sering kita dapati dalam perkuliahan, lumrah adanya perkuliahan hanya sebatas diskusi sepanjang hari dengan beberapa penyajian materi sebelumnya di depan civitas akademik. Penyajian materi inilah yang kemudian disebut sebagian besar orang sebagai "presentase".

"Kapan kamu presentase?"

Istilah yang sebenarnya salah namun dibiasakan oleh sebagian besar orang. Bahkan dosen yang notabene adalah orang-orang yang dipercaya tingkat kredibilitasnya dalam persoalan akademik ikut-ikutan (latah) menyebarkluaskan "istilah salah" itu. Tidakkah mereka sadar bahwa istilah yang benar itu adalah "presentasi"?

Memang, keduanya agak mirip dalam pelafalan katanya, hanya beda akhiran saja, antara "e" dan "i". Akan tetapi, jika saya mendengar kata "presentase", saya cenderung berpikir ke arah "persen dalam matematika", meskipun kata "presentasi" juga masih salah dalam matematika.

Bingung? Ok, mari kita sedikit menganalisis. Ceilah….

Setelah saya mencoba mencari di buku Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), saya tidak menemukan satu pun kata "presentase". Kata yang ada hanyalah "persentase" yang merujuk pada arti; bagian dari keutuhan yang dinyatakan dengan persen, perseratus atau bagian yang diperkirakan. (Cek juga melalui KBBI-online)
Belum puas dengan KBBI, saya mencoba browsing melalui Wikipedia. Dan hasil yang saya temukan, seperti ini;

----Persentase atau peratus adalah suatu cara untuk menyatakan fraksi dari seratus. Persentase sering ditunjukkan dengan simbol "%". Persentase juga digunakan meskipun bukan unsur ratusan. Bilangan itu kemudian diskalakan agar dapat dibandingkan dengan seratus. Sebagai contoh, 4 orang dosen sedang mengawas ujian di kampus, 3 dari mereka tak berkacamata, dan 1 orang berkacamata. Persentase dosen tak berkacamata adalah 3 dari 4 = 3/4 = 75/100 = 75%, sementara dosen berkacamata adalah 1 dari 4 = 1/4 = 25/100.-----
Untuk kata "presentase", lagi-lagi saya tidak menemukannya, bahkan melalui wikipedia.

Sudah jelas bahwa, istilah yang selama ini diucapkan telah mengalami pergeseran makna. Jika kita bandingkan dengan kegiatan yang seharusnya, menyajikan materi kuliah di depan peserta diskusi yang lain, yang seharusnya adalah "presentasi". Karena menurut KBBI (setelah saya buka kembali), presentasi artinya penyajian pertunjukan (tentang sandiwara, film, diskusi, dsb). Istilah inilah yang lebih tepat digunakan dalam proses perkuliahan.
"Presentasi adalah suatu kegiatan berbicara di hadapan banyak hadirin. Berbeda dengan pidato yang lebih sering dibawakan dalam acara resmi dan acara politik, presentasi lebih sering dibawakan dalam acara bisnis.
Tujuan dari presentasi bermacam-macam, misalnya untuk membujuk (biasanya dibawakan oleh wiraniaga), untuk memberi informasi (biasanya oleh seorang pakar), atau untuk meyakinkan (biasanya dibawakan oleh seseorang yang ingin membantah pendapat tertentu)."
isi dari Wikipedia.

Tujuan dari presentasi bermacam-macam, misalnya untuk membujuk (biasanya dibawakan oleh wiraniaga), untuk memberi informasi (biasanya oleh seorang pakar), atau untuk meyakinkan (biasanya dibawakan oleh seseorang yang ingin membantah pendapat tertentu).

Berdasarkan data di atas, maka bukanlah “presentase” yang seharusnya dijadikan istilah di kalangan akademisi, melainkan “presentasi”. Lebih jauh, presentasi sesungguhnya berasal dari kata dalam bahasa Inggris, presentation yang artinya penyajian. Hanya saja, oleh lidah kita digeser penyebutannya menjadi presentase. Dan hal itu sampai terbawa-bawa ke ruang formal.

Kesalahan yang Membudaya.
Sungguh sangat disayangkan. Hal seperti itu hanya dianggap angin lalu oleh sebagian orang. Mereka menganggap hal remeh-temeh semacam itu tidak perlu dipermasalahkan.

Inilah akibat kebiasaan masyarakat yang selalu meniru sesuatu yang dilakukan oleh kebanyakan orang. Yang menjadi patokan bagi mereka adalah kuantitas, bukan pada kualitas. Jika mayoritas orang berkata A, maka seseorang yang sebelumnya tidak tahu apa-apa ikut-ikutan berkata A, tanpa memeriksa kebenaran dari pernyataan mayoritas itu. Hingga jika dia dibberikan pada kebenaran yang sesungguhnya, ia akan ragu menerimanya, sebelum ditunjukkan bukti-bukti yang kuat. Malah, meskipun sudah ditunjukkan, mereka tetep ngotot tak ingin menerima.

Seperti itu. Mungkin atas dasar itulah saya ingin memperbaiki istilah yang membudaya di kalangan kami, mahasiswa disini. Mayoritas menggunakan istilah “presentase”. Bahkan dosen pun ikut-ikutan menggunakan istilah tersebut. Saya biasanya tertawa sendiri ketika mendengarnya dari dosen.

Sebagai seorang akademisi, saya ingin terus belajar. Menemukan sedikit kesalahan, saya harus memperbaiki. Jika tidak mampu diungkapkan melalui lisan, maka cara lain bisa disampaikan melalui tulisan.

Jadi, sekali lagi, saya tegaskan disini, “PRESENTASI” bukan presentase. Bagi yang telah membaca ini, semoga bisa tercerahkan. hehehe...

Kalau di lingkungan kampus saya seperti itu, nah bagaimana dengan lingkungan Anda?


Minggu, 09 Oktober 2011

Sebuah Langkah Awal

Oktober 09, 2011
Kejutan besar (bagi saya)! Lihat saja, di halaman sebuah media harian (FAJAR) di kota Makassar, secuil tanggapan yang kukirimkan dua hari sebelumnya bisa diapresiasi oleh pihak media. Memang sih, orang-orang sekitar saya menganggap itu adalah hal yang biasa dan tidak patut untuk dibesar-besarkan. Apalagi hanya sedikit. Namun, bagi saya yang notabene sangat awam mengenai media dan sangat (bermimpi) untuk menghasilkan sebuah karya, hal ini saya anggap sebagai suatu langkah awal.
Salah satu rubrik yang memuat tanggapan saya


Selama ini, saya hanya bisa melihat orang lain berkarya. Usaha saya untuk menghasilkan sebuah karya juga selalu terbata-bata. Ada banyak hal yang menghambat saya untuk menulis. Akan tetapi, yang paling utama sebenarnya adalah kemauan saya yang dulu masih sedangkal parit.


Barulah ketika beberapa waktu lalu saya menjumpai orang dengan minat yang sama ternyata telah menelurkan beberapa karyanya, dan bahkan beberapa kali menembus media umum di Makassar, saya merasa iri. Namun iri dalam artian positif.. Saya pun ikut terdorong untuk bisa lebih baik dari mereka. Dan akhirnya saya mulai membangun kembali jalur awal saya sepenuhnya.


Komitmen. Ternyata itulah yang dibutuhkan. Hanya terkadang kita sebagai manusia mengalami pasang-surut semangat untuk mencapai tujuan. Akan tetapi, layaknya bensin, sedikit percikan “api”, maka semangat kita bisa kembali berapi-api.


Nah, hal seperti itulah yang perlu kita lakukan. Jangan membiarkan semangat terus menyala tanpa melakukan perubahan. Pada dasarnya, api tidak akan berguna jika didiamkan terus menerus. Yang ada, hanya akan padam tanpa membakar apapun. Maka, jika berkobar, lakukanlah sesuatu.


Semangat yang saya miliki sekarang pun ingin saya tularkan kepada orang lain. Saya juga ingin “membakar” semangat menulis pada diri teman-teman saya. Oleh karena itulah, saya selalu berusaha untuk “mengompori” mereka. Hehehehe….. dan ternyata saya (bangga) bisa “memanas-manasi” salah seorang teman saya. Ia pun akhirnya “terbakar” untuk selalu menulis. (Salah satu hasilnya, ia mencoba usaha yang sama dan juga mulai aktif dalam forum kepenulisan yang sama di dunia maya). Siiiip!!


Mereka nantinya akan jadi saingan kita dong! 

Ah, tak perlu khawatir, lah. Toh, kita hidup memang untuk berkompetisi. Kenapa mesti takut (kalah)? Malahan, semakin banyak saingan, akan semakin membakar semangat kita untuk terus menelurkan karya yang lebih baik.  Dan saya pikir itu adalah hal yang sangat membangun.

Ah,..ternyata semua kembali pada diri kita, ya. Ini permasalahan komitmen. Jalur yang kita buat sedari awal menetapkan tujuan (impian) kita, sudah seharusnya kita jalani dengan bijaksana. Hanya saja, terkadang kita mengalami “down of spirit” yang menyebabkan kita keluar dari jalur awal. Oleh karena itu, dibutuhkan sedikit percikan untuk “membakar” kembali mesin semangat kita. Kalau perlu, kita usahakan agar apinya menjalar “membakar” orang lain (Halah..). Hehehe


Namun, saya merasa ini menjadi langkah awal untuk saya bisa berlari. Karena seseorang tidak akan bisa berlari tanpa memulai satu langkah awal.


Just Do it! 

 


Sabtu, 08 Oktober 2011

"Suka" Bukanlah Yang Terbaik

Oktober 08, 2011
Pernah tidak merasa sesuatu yang kita benci tiba-tiba menjadi sesuatu yang kita miliki? Atau bahkan menjadi sesuatu yang kita paling suka. Saya sering mengalaminya, loh

Saya dulu tidak pernah menyangka bahwa akan melanjutkan studi di Universitas Negeri Makassar. Saya malah sangat berharap dan merasa akan kuliah di Universitas Hasanuddin, salah satu Perguruan Tinggi ternama di kota Makassar. Segala hal yang berhubungan dengan Unhas begitu saya minati. Saya malah agak sedikit sinis dengan Universitas Negeri Makassar.


Akan tetapi, kini, kenyataannya saya kuliah di Universitas Negeri Makassar. Dan ternyata setelah menjalaninya, saya merasa baik-baik saja. Tidak ada yang salah dengan kuliah di sana. Bahkan, saya merasa beruntung bisa menjalani kehidupan saya di kampus saya yang sekarang. (Serius)


Salah satu ayat dalam Al-Qur’an menyiratkan bahwa terkadang manusia menyukai sesuatu namun sesuatu itu tidak baik baginya. Sebaliknya, ia membenci sesuatu namun ternyata sesuatu itulah yang terbaik baginya. (Bahkan dalam kitab suci, Tuhan telah menjelaskan semuanya)


Kehidupan yang kita jalani memang berlaku demikian. Terkadang, ada hal-hal yang sangat kita suka (pada awalnya). Namun di kemudian hari, ternyata hal tersebut menjadi sesuatu yang tidak baik bagi kita.  Atau berlaku sebaliknya. Sesuatu yang pada awalnya kita benci, namun berubah menjadi sesuatu yang kita suka dan butuhkan di kemudian hari.


Ya, segala hal yang kita sukai dalam hidup ini belum tentu adalah hal yang kita butuhkan. Tuhan hanya akan menjawab kata hati kita yang paling dalam. Meskipun mulut kita dan perasaan kita menolak sesuatu, namun jika hal tersebut adalah sebuah kebutuhan yang “terbaik” bagi kita, maka Tuhan akan mewujudkannya. Tidak peduli apakah kita suka atau tidak. Pastinya, setelah kita memiliki dan menjalani sesuatu itu, yakin, kita baru akan menyadari “Ternyata tidak ada yang salah dengan hal itu,”


Hal yang kita suka, belum tentu menjadi hal yang paling baik bagi kita. Keadaanlah nantinya yang akan menentukan. Bisa jadi, sesuatu yang kita suka itu menjadi boomerang bagi kita sendiri, tatkala kita tidak bisa melepaskannya dari kehidupan kita. Padahal untuk menjalani “samudera” kehidupan ini, kita mesti memperbanyak “kebutuhan”, bukan “kesukaan”. 


Oleh karena,kini, saya mulai belajar untuk tidak menganggap remeh segalanya. Bahkan hal-hal yang remeh-temeh sekalipun. Karena, bisa saja sesuatu yang kita anggap remeh itu menjadi sesuatu yang kita butuhkan kemudian hari. 


Tomorrow is a mistery

 
Tidak ada yang mampu menebak, apa yang akan terjadi di waktu mendatang. Masa depan adalah kuasa Tuhan, dan Tuhan jua lah yang tahu hal-hal terbaik bagi kita. Satu quote yang akan selalu saya ingat dan tanamkan dalam diri saya,


Tuhan tidak pernah mengabulkan doa kita dengan ‘YA’, namun Dia senantiasa menjawab doa kita dengan ‘YANG TERBAIK’.


Hanya saja, terkadang manusia selalu ngotot untuk dipenuhi keinginannya, tanpa melihat kebutuhannya. Itulah yang kelak menjadi “pembalik” antara suka-benci. 


Yang paling penting sekarang, adalah bagaimana kita tidak menutup diri dari segala kemungkinan yang akan terjadi pada kita. Dan juga, jangan pernah mengganggap remeh hal sekecil apapun. Oh, ya fanatik terhadap suatu hal juga tidak baik, loh..


Salam!

Rabu, 05 Oktober 2011

Berbagi Kisah Seorang Guru

Oktober 05, 2011
Judul Buku       : Catatan Kecil Tentang Dia - 25 Kisah Haru dan  Inspiratif dari Para Murid Tentang Sosok Sang Guru
Penulis               : 25 Pemenang "Sayembara Menulis Tentang Guru"
Editor                : Nurul Hikmah, Resita Wahyu Febiratri
Penerbit             : GagasMedia
Tahun terbit       : 2009
Halaman            : 240


"... Aku tidak bisa menghafal. Kemudian, beliau bertanya padaku, "Riris, mengapa nilai kamu merosot? Kamu telah berubah. Kamu bukan seperti Riris yang saya kenal dulu. Apakah kamu belajar di rumah?"
Aku tak dapat menjawab. Aku menangis. Entah air mata dari mana itu. Aku pikir air mataku sudah hais saat ayahku pergi. Lalu, beliau menulis kata don’t cry di lembaran hafalanku. Namun, air mataku tak dapat berhenti. Aku langsung menuju ke mejaku. Aku berusaha untuk berhenti menangis…”

 
Kisah yang diceritakan dalam buku ini tidak hanya berkisar pada satu orang. Beragam cerita, dari penulis yang berbeda-beda, memberikan nilai lebih pada buku ini. Terlebih lagi para penulisnya berasal dari jenjang pendidikan yang berbeda-beda. Tentunya, cerita masing-masing dibangun dengan bahasa yang beragam, khas pelajar. 


Meskipun cerita-cerita yang disuguhkan buku ini sedikit membawa pembacanya ke kenangan masa lalu, akan tetapi, gaya bercerita yang ditawarkan lebih cocok untuk kalangan pembaca remaja. Pembaca dewasa, khususnya yang sudah berulangkali membaca novel dan sejenisnya, akan merasakan perbedaan yang mencolok ketika membaca buku ini. Cerita-cerita dalam buku ini layaknya membaca narasi  pengalaman pelajar ketika bersekolah. Jarang dijumpai klimaks maupun antiklimaks dalam buku ini.


Cerita-cerita yang berbeda satu sama lain juga memaksa para pembaca untuk melompat-lompat dari satu deskripsi ke deskripsi lain. Sehingga, pendalaman cerita yang terjadi hanya berlangsung sementara. Meskipun begitu, adalah hal yang wajar jika pembaca tidak betul-betul merasakan klimaks ceritanya. Toh, cerita-ceritanya berbeda dan merupakan hasil kreasi dari penulis-penulis yang notabene adalah pelajar SMA dan SMP.


Terlepas dari itu, buku ini lebih tepat dijadikan bahan bacaan buat para remaja. Tapi, tidak menutup kemungkinan bisa dijadikan referensi bagi guru ataupun calon guru sebelum mereka menghadapi murid-murid mereka. Karena pada dasarnya, seorang guru selain dituntut mengajar juga harus bisa mendidik. Saya pun ketika membacanya, banyak mengambil pelajaran di dalamnya. Apalagi cerita-cerita yang disuguhkannya bisa dibilang sekali lahap. Selamat Membaca!

PS: Bukunya hasil minjam di Perpustakaan Wilayah Makassar. Hehehe…..

Selasa, 04 Oktober 2011

Menyadari Keagungan Sang Ayah

Oktober 04, 2011
Sumber gambar: google link
Judul Novel              : Ayahku (Bukan) Pembohong

Pengarang                : Tere-Liye


Penerbit                   : Gramedia Pustaka Utama


Jumlah halaman      : 304



Kapan terakhir kali kita memeluk ayah kita? Menatap wajahnya, lantas bilang kita sungguh sayang padanya? Kapan terakhir kali kita bercakap ringan, tertawa gelak, bercengkerama,lantas menyentuh lembut tangannya, bilang kita sungguh banggga padanya?

 

Adalah tanpa kita sadari bahwa peran seorang ayah begitu besar dalam hidup kita. Meski kita diajarkan untuk menyayangi kedua orang tua kita, terkadang kasih sayang yang diberikan untuk ibu jauh lebih besar. Kepercayaan menganjurkan seperti itu.
 Namun di balik semua kehidupan kita, ternyata ada tangan yang lebih berperan, ayah.
 

“Ayahku Bukan Pembohong” menceritakan tentang kehidupan seorang anak yang dibesarkan dengan dongeng-dongeng masa kecilnya. Sikap dan perilakunya terbentuk melalui dongeng-dongeng yang diceritakan ayahnya. Ia menjadi anak yang bersahaja dan disukai banyak orang.
 

Akan tetapi, menginjak kedewasaannya, ia mulai menyadari keanehan dalam setiap cerita ayahnya. Ia mulai menganggap cerita ayahnya itu sebagai kebohongan belaka yang diceritakan kepada anak kecil sebagai pengantar tidur.
 

Perlahan, ia mulai membenci ayahnya. Ia menganggap dongeng-dongeng yang telah diceritakan padanya adalah kebohongan belaka. Bahkan, ia menyalahkan ayahnya atas ibunya yang telah lama meninggal. Ia membenci ayahnya, yang dulu selalu dibanggakannya. Hingga suatu hari, ia harus menyesal karena ayahnya bukanlah pembohong.
 

Usai membaca buku ini, saya sempat browsing mengenainya. Dan saya cukup terkejut, karena ada komentar yang mengatakan bahwa cerita dalam buku ini sangat mirip dengan sebuah kisah film luar negeri, “Big Fish”. Detail-detail ceritanya pun sangat mirip. Sehingga buku ini dianggap menjiplak cerita dari film tersebut.
 

Saya sendiri belum sempat menonton film itu (saya tertarik menontonnya sebagai perbandingan). Namun, terlepas dari menjiplak atau tidak, saya tetap memberi dua jempol buat Darwis Tere Liye yang selalu menghadirkan novel-novel penuh keharuan. Ia selalu berhasil menguras air mata pembacanya, baik itu laki-laki maupun perempuan. Gaya bertuturnya sungguh dalam membawa kita terperosok jauh ke relung jiwa ceritanya. Tidaklah salah jika saya menganggap cerita yang dituliskan olehnya memiliki nyawa.
 

Tidak selamanya sebuah dongeng membosankan untuk diceritakan. Tere-Liye sendiri berhasil menggabungkannya dengan kehidupan sekarang dan menghasilkan kisah yang menarik untuk dipetik hikmahnya. Di dalam setiap ceritanya, terkandung kebijaksanaan hidup dan kearifan hidup. Novel ini sangatlah tepat dibaca bagi mereka yang ingin merasakan kasih sayang seorang ayah. Dengan membaca novel ini, maka kita akan tahu seberapa besar kecintaan kita pada ayah kita.
 

Akan tetapi, saya sedikit bingung dengan latar penceritaannya. Saya tidak tahu, dimana Akademi Gajah itu. Saya pun tidak tahu dimana berlangsungnya cerita di dalam novel ini. Apakah di Indonesia atau di luar Indonesia? Tidak ada penjelasan tambahan terkait hal itu. Mungkin ini sebagai hasil dari imajinasi sang penulis sendiri.
 

Ternyata, inspirasi ada dimana saja, ya. Nah, saya menyarankan untuk membaca novel ini. Dua jempol buat Mas Tere Liye…! Salam kenal!



 

Mengenai Tere-Liye:
Tere-Liye adalah pengarang beberapa novel dengan rating tinggi di website para pecinta buku www.goodreads.com. Ia banyak menghabiskan waktu untuk melakukan perjalanan, mencoba memahami banyak hal dengan melihat banyak tempat.
Tere-Liye telah banyak menghasilkan novel-novel yang berkualitas. Novelnya dominan bercerita tentang dunia anak-anak dan kasih sayang keluarga. Ia selalu menyelipkan kearifan hidup dalam tiap novelnya. Daftar novelnya bisa dilihat goodreads.
Email                        : darwisdarwis@yahoo.com
Web                         : darwisdarwis.multiply.com, tbodelisa.blogspot.com
Facebook                : darwis tere-liye


Senin, 03 Oktober 2011

Daun pun Bersemi Kembali

Oktober 03, 2011

Kini, musim hujan..
Ataukah kini musim kemarau..
Daun yang jatuh, kembali ke atas tangkainya.
Daun yang kering , kembali menghijau

Kini musim hujan,
Ataukah kini musim kemarau,
Bunga kemarin bersemi, semakin mewangi
bunga kemarin mengatup, terlihat mekar kembali

Kini musim hujan,
Ataukah kini musim kemarau,
Kupu-kupu terbang, kupu-kupu hinggap
Oh, bukan pada bunganya

Bukan musim hujan,
Ataukah bukan musim kemarau,
Kini musim gugur,
Ternyata kini musim semi

Tak ada bunga yang bersemi,
Hanya bunga yang merekah
Merah merona, tak dihinggapi sang kupu-kupu
Berpaling, daun yang kembali ke tangkainya

Mengapa?

Karena daun pun bersemi kembali………


Kekuatan Mencoba

Oktober 03, 2011

“Ini bagaimana caranya?” tanyanya.
“Lalu, ini bagaimana?” tanyanya lagi.

Saya sering mendapati pertanyaan seperti itu. Orang-orang bertanya terus hingga berulang-ulang, hanya karena mereka tidak ingin “salah”. Padahal, menurut saya, “salah” itu sendiri adalah sesuatu yang baik.

Guru SMA saya pernah berkata, “Jangan takut salah, karena melalui salah kita bisa belajar,” Dan hal itu memang benar apa adanya.

Terkadang, ketika orang takut menghadapi sebuah kesalahan, maka ia tidak sekali-kali berani untuk “mencoba”. Mereka lebih memilih untuk bertanya pada orang lain. Padahal, jika saja mereka berani “mencoba”, maka mereka pun otomatis belajar dari kesalahannya.

Bukannya dengan mencoba sendiri maka kita akan dicap sebagai “sok tahu”?
Hal seperti itu memang terkadang terjadi. Akan tetapi hanya bagi orang-orang yang dangkal pikirannya lah yang akan mencap kita dengan sebutan seperti itu. Sebaliknya, bagi mereka yang bijak, tidak akan pernah meremehkan kita yang terus mencoba, menghadapi sebuah kesalahan.

Pengalaman saya, banyak hal yang awalnya tidak saya ketahui, namun dengan mencoba sendiri secara terus menerus, pada akhirnya saya bisa menguasai hal-hal yang awam bagi saya. Blog ini salah satunya.

Saya tidak pernah membayangkan, jika suatu hari nanti saya bisa berkenalan dengan blog seperti ini. Apalagi, sebelum menginjak bangku kuliah, saya sama sekali tidak pernah berkenalan dengan dunia maya. Maklum, daerah tempat saya tinggal tidak tersedia fasilitas internet. Bahkan fasilitas telepon pun hanya segelintir.

Minat saya dengan menulis lah yang telah membawa saya untuk berani mencoba mengenai blog. Saya mencoba membuatnya sendiri, berbekal bacaan dari blog lain. Saya mencoba mem-permaknya sendiri. Berani mecoba mengubah isinya. Bahkan karena saya sering mencoba, persoalan kodenya, akhirnya saya belajar mengenai perwajahan blog.

“Mencoba” tidak menutup kemungkinan membawa kita pada referensi lain. Referensi yang kita pelajari sendiri biasanya akan lebih lama “menetap” dalam otak kita, dibandingkan ajaran orang lain.  Oleh karena itu, saya senang mencoba sesuatu yang baru. Bagi saya, “mencoba” memiliki kekuatan tersendiri. Kekuatan di dalamnya mampu mengubah orang menjadi lebih baik. Kekuatan di dalamnya tidak lepas dari resiko kesalahan. Akan tetapi, kesalahan itulah yang kemudian membangun sebuah pelajaran dengan daya lekat yang sangat kuat.

Takut mencoba pun, seringkali membuat kita hanya bisa berdiam diri. Tidak ada sesuatu yang bisa diperbuat hanya karena takut salah. Kita tidak sadar bahwa mencoba, bukan berarti akan “salah”. Tetapi, “salah” dan “benar” ketika “mencoba” selalu berbanding 50:50. Oleh karena itu, jika selalu mencoba berulang-ulang, maka perbandingan itu akan semakin bergeser pada kebenaran.

Sungguh, kekuatan “mencoba” adalah sebuah pelajaran yang sangat berarti.







#Lagi-lagi postingan ini ditulis di waktu inspiratif, tengah malam...

Rabu, 21 September 2011

Surat UntukMu, Tuhan

September 21, 2011
Makassar , 21 September 2011


Ya Tuhan,….
Entah mengapa hari ini aku begitu bingung dan gelisah. Aku merasa dikejar-kejar oleh sang waktu. Hanya saja aku bahkan tak kunjung bergerak mengikuti ritmenya.
Di satu sisi, aku harus mengurusi kepanitiaan DJMTD-ku selaku sekretaris yang tersisa 18 hari lagi, di sisi lain aku harus memenuhi tugas kuliahku yang padat menumpuk di alam ruang pikiranku. Ditambah lagi tugas peliputanku sebagai seorang jurnalis kampus yang sama sekali belum aku selesaikan. Cucianku yang juga menumpuk. Motorku yang tak teurus. Semua membuat pkiranku menjadi kalut. Aku bingung harus menyelesaikan yang mana.

Ya Tuhan,…
Aku mesti bagaimana?
Baru kali ini aku merasa benar-benar bingung. Rasanya aku ingin menghilang sejenak dari dunia ini. Lari dari kesulitan-kesulitanku. Melepas semua beban pikiranku. Tapi, apakah itu akan menyelesaikan semua?
Apa yang harus kulakukan? Terkadang aku merasa tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Aku merasa semuanya hancur ketika semua masalah itu menghimpitku. Tak ada ruang bagiku untuk bisa bernafas lega.

Ya Tuhan,…
Apa ya salahku? Tuh, aku baru saja ditagih liputan dari redaktur-ku….

Ya Tuhan,…
Apakah aku harus menggerutu? Apakah aku harus mengeluh? Aku merasa sudah terlalu banyak mengeluh. Aku seharusnya telah belajar akan hal itu. Oleh karena itu, kuputuskan menuangkan semua ini lewat tulisanku tanpa ada orang yang bisa menjadi tempatku untuk mengeluh.
Entah, apakah aku masih bisa kuat. Apakah aku masih bisa berdiri…

Ya Tuhan,…
Aku kemudian teringat akan mimpi-mimpiku. Target-target yang telah kutuliskan di atas kertas. Yang telah kupasang di atap kamarku. Semua, seakan-akan menjauhiku satu-persatu. Mengucapkan selamat tinggal padaku. Mungkinkah sudah waktunya aku berhenti untuk bermimpi? Menanggalkan semua impian yang selama ini kubanggakan. Membiarkan orang-orang tak menganggap keberadaanku?
Memang, hingga kini di antara mimpi-mimpiku itu, belum ada satu pun yang tercapai. Apakah karena aku memang tidak mampu mencapainya? Entahlah. Kian hari pikiranku semakin terpuruk.

Ya Tuhan,…
Apakah aku salah telah bermimpi? Berusaha menjadi orang yang percaya akan mimpi-mimpinya? Berusaha membuktikan “sesuatu” pada mereka yang selalu menertawakan impianku? Apakah sudah waktunya aku menanggalkan impianku? Apakah aku hanya orang gila yang tersugesti oleh novel-novel yang selama ini aku baca?

Ya Tuhan…
Bantu aku. Tolonglah aku. Aku sadar semakin hari, aku semakin jauh dari-Mu. Mengabaikan sedikit yang tidak Engkau suka. Aku sadar, aku yang dulu lebih baik ketimbang aku yang sekarang.
Tapi, apakah aku salah jika meminta pada-Mu.Engkau-lah satu-satunya tempatku meminta pertolongan. Tanpa Engkau, aku tidak mungkin bisa mencapai semua impianku kelak. Dan apakah ini pertanda teguran dari-Mu, Ya Tuhan?
Kini, aku menangisi diriku. Entah mengapa, yang kurasakan kini persis ketika orang tuaku hamper berpisah Hatiku begitu sesak.Lubuknya timbul ke permukaan. Apakah ini pertanda bahwa Engkau mendengarkanku?

Ya, Tuhan…
Aku tidak ingin berhenti bermimpi. Aku tidak ingin menanggalkan impianku. Karena jika itu yang terjadi, maka aku akan menjadi orang yang paling miskin di dunia.
“The things always happens that you really believe in…and the belief in thing make it happens,”

Apakah itu benar? Dengan mempercayai mimpi-mimpiku apakah semuanya akan benar-benar terwujud?

Ya, Tuhan….
Aku tak ingin mempertanyakan semuanya lagi. Aku ingin menjadi orang yang selalu percaya. Aku juga memohon pada-Mu untuk selalu menjadi penuntun langkahku. Kelak, ketika semua terwujud, semua terjadi, kan kutorehkan senyum bangga. Aku tahu, Engkau mendengarkanku. Engkau di atas sana memperhatikanku, mengamatiku. Oleh karena itu, melalui curahan hatiku ini, aku ingin Engkau mengabulkan pintaku.

Ya, Tuhan…
Apakah aku sudah merasa lebih baik?
Aku tahu, ketika menulis ini tidak serta-merta semua permasalahanku hilang dan lenyap begitu saja. Masih banyak hal yang harus aku lalui. Bahkan akan lebih berat dari sebelumnya. Aku tahu, Engkau menanamkan dalam pikiranku untuk selalu menikmati ‘proses’ hidup Bukan memikirkan hasil akhirnya. Aku sadar, proses yang berjalan baik akan membuahkan hasil yang sempurna.

Ya, Tuhan…
Aku tidak ingin lagi menjadi orang yang tidak berguna. Aku berharap semakin lebih dekat dengan-Mu. Dirikulah yang bodoh selama ini telah perlahan menjauh dari-Mu. Padahal kuasa-Mu lah yang mampu membantuku menyelesaikan segala rintanganku.

Ya, Tuhan…
Aku terus ingin bermimpi. Aku ingin terus menjadi “Sang Pemimpi.” Bukan hanya sekedar mimpi. Namun aku juga ingin mewujudkan semuany. Demi ibuku. Demi ayahku. Demi teman-temanku. Demi sahabat-sahabatku. Demi orang-orangyang senantiasa menaruh harapannya padaku. Demi orang-orang yang menyayangiku. Bahkan demi mereka yang telah meragukan mimpiku.
Aku ingin suatu hari nanti bisa berteriak lantang ketika mimpi-mimpiku terwujud pada mereka bahwa, “Aku Bisa!”
Aku tahu, Engkau mendengarkanku. Engkau melihatku. Engkau menggenggam impianku. Engkau menyimpannya. Dan kelak, Engkau akan memperlihatkannya padaku. Buah manis dari kerja-kerasku.

Ya, Tuhan…
Apakah aku harus berhenti bermimpi? Jawabanku, TIDAK!
Aku tetap akan menjadi orang yang “believe that things really will happens. Now, I will make it happens!

Ya, Tuhan…
Telah banyak hal yangtelah terjadi dalam kehidupanku. Aku beruntung masih mempercayai-Mu. Dan kini saatnya aku semakin mendekat pada-Mu.
Terima kasih, telah membuka kembali pikiranku.

Senin, 05 September 2011

MENIKMATI 'PROSES' PERJALANAN HIDUP

September 05, 2011
*Dari Catatan Perjalanan Mudik 14 Jam


 

Mudik sudah menjadi tradisi bagi kebanyakan masyarakat Indonesia. Baik tua maupun muda turut meramaikan “acara” mudik tersebut. Apalagi mereka yang bekerja atau kuliah jauh dari kampung halaman. Tak ketinggalan, saya juga tiap tahun (di luar saat-saat tertentu) melakukan mudik.
Beberapa waktu yang lalu (4/9), saya melakukan perjalanan yang sangat melelahkan, namun sangat mengesankan bagi saya pribadi. Mengapa? Ah, jarang-jarang orang yang melakukan perjalanan jauh menganggap perjalanan mereka menyenangkan. Tapi, kenyataannya, saya malah menganggap perjalanan saya dari kampung halaman (kemarin) sangat seru, dibandingkan perjalanan-perjalanan saya sebelumnya.


Sumber: Google Search

Perjalanan Enrekang-Makassar seyogyanya dapat ditempuh selama 8 jam dengan kecepatan normal. Akan tetapi, tanpa kami diduga sebelumnya, saya bersama ketiga orang rekan saya, harus menempuh perjalanan selama 14 jam, hingga harus tiba di Makassar lewat dini hari (sekitar 00.30 WITA). Kejadian-kejadian seperti ban bocor (sampai 5 kali), hujan deras (selama 2 jam), tontonan tabrakan kendaraan,macet sepanjang 2 km karena kebakaran, mampir untuk menunaikan tugas, dan mampir di rumah salah seorang teman rekan kami (masih suasana lebaran sekalian silaturahmi) mewarnai tiap perjalanan yang kami tempuh. 

Hal ini sungguh berbeda dengan perjalanan –perjalanan saya sebelumnya, yang selalu tiba di tujuan dengan mulus tanpa gangguan yang berarti dan saya anggap ‘monoton’. Meskipun di akhir perjalanan saya bisa tiba dengan lancar dan cenderung tepat waktu, namun saya tidak merasakan kesan apapun. Biasa-biasa saja.


Ternyata, saya menyadari…. Perjalanan saya (kemarin) secara tidak langsung merefleksikan kehidupan kita. Setiap dari kita (manusia) yang hidup pasti memiliki tujuan yang ingin dicapai. Waktu yang dibutuhkan untuk mencapainya pun berbeda-beda. Ada yang lama, ada pula yang express


Orang yang hanya terpaku (dan cenderung terobsesi) pada tujuan yang ingin dicapai, terkadang bisa dengan cepat mewujudkan tujuannya. Mereka bisa mewujudkannya sesuai dengan perkiraan waktu yang mereka alokasikan. Dan akhirnya, simsalabim! Label “hebat” tersemat pada mereka.


Akan tetapi, tanpa kita sadari, kita seringkali melupakan “proses” mencapai tujuan itu sendiri. Kita terlena untuk segera mewujudkan tujuan yang diinginkan, sehingga hanya terpaku pada hasil akhirnya saja. Kita hanya ingin agar segera tiba di Makassar secepatnya, tanpa pernah berpikir setibanya disana apa selanjutnya yang akan diperbuat. “Pokoknya sampai secepatnya,” begitu pikir kita.


Terkadang kita berpendapat, “Toh, untuk mencapai tujuan itu kita selalu menjalani prosesnya. Tanpa proses, tidak mungkin kita bisa sampai.” Memang benar, tanpa ‘proses’ tujuan tidak mungkin tercapai. Segala sesuatu selalu berproses. Namun, kita lupa untuk mengecap proses itu sendiri. Kita hanya melaluinya tanpa benar-benar merasakan kehadirannya, karena kita ingin cepat-cepat sampai di tujuan. 


Padahal menjalani dan menikmati sebuah “proses” jauh lebih penting. Layaknya perjalanan saya, baru berkesan ketika saya mengalami beberapa kejadian lucu atau mengesalkan di tengah perjalanan. Apalagi ditemani dengan teman-teman yang saling support untuk sampai pada tujuan yang sama. Dengan begitu, rintangan apapun di jalan bisa diatasi dengan mudah tanpa harus mengabaikan pelajaran di dalamnya.


Ketika orang lebih terpaku pada “proses” dibandingkan “hasil akhir”, maka cenderung membutuhkan waktu yang lama untuk mencapai tujuan atau hasil akhir yang ingin dicapai. Bagi saya, itu bukan masalah. No problem! Don’t worry, karena dengan menikmati “proses” yang kita jalani, maka kita “dipaksa” untuk bisa menyelesaikan setiap halangan yang merintangi perjalanan kita. Darinya, kita bisa memetik pelajaran. Darinya, kita menemukan cara untuk mengatasi masalah. Dan, jika kita berhasil mengatasinya, maka bisa dipastikan tujuan kita akan tercapai. Hasilnya pun lebih berkesan dan bermakna meskipun waktu “kesana” sedikit lebih lama. Pun dibayar lunas dengan perasaan bangga dan bahagia.


Bahkan, tak jarang kita bisa menemukan “jalan pintas” ketika kita menjalani proses tersebut. Seperti ketika kami mengalami kemacetan panjang di sebuah kabupaten akibat kebakaran. Dengan berbekal petunjuk dari warga sekitar, akhirnya kami mencoba melalui jalan pintas yang sama sekali belum pernah kami lalui. Alhasil, kami bisa keluar dari kemacetan.


Antara “proses” dan “hasil akhir” inilah yang bisa membedakan antara orang bahagia dan orang sukses. Bagi mereka yang terobsesi dengan hasil akhir yang akan mereka capai, cenderung menjadi orang sukses. Dan, mereka yang memahami prosesnya, akan merasakan kebahagiaan dan ujung-ujungnya merasakan buah kesuksesannya. Hal ini berdasarkan yang saya baca di  buku karya Arvan Pradiansyah “7 Laws of Happiness”.


Nah, begitu pentingnya menikmati sebuah “proses” yang kita lalui dalam hidup. Hal itu banyak memberikan pengalaman bagi kita. Jikalau perjalanan mudik saya ke tempat tujuan lancar bebas hambatan, pastinya saya tidak bisa bercerita seperti sekarang. Dengan menikmati setiap proses yang kita lalui sembari belajar dari sana, maka banyak hal yang bisa diceritakan dan dibagi dengan orang lain….. 





It’s about experience, because it’s the best teacher. Keep Writing!



 Kompasiana LINK





Selasa, 23 Agustus 2011

Waktu Inspiratif Buat Menulis

Agustus 23, 2011
Menulis adalah pekerjaan yang menyenangkan. Melalui sebuah tulisan, kita bisa menuangkan segala macam cerita, ide, kritik, maupun curahan hati. Tulisan pulalah yang senantiasa merekam sejarah manusia.

“Ketika Kamu bicara, kata-katamu hanya bergaung ke seberang ruangan atau koridor. Tapi ketika kamu menulis, kata-katamu akan bergaung sepanjang zaman.” (Bud Gardner)
Sumber Gambar: Google Search

Untuk itulah manusia mengenal tulisan. Dituturkan pula oleh Ali bin Abi Thalib, ”Ikatlah ilmu dengan menuliskannya,” makanya kitab apapun di dunia ini dituangkan dalam bentuk tulisan.

Mengenai keutamaan menulis, sebenarnya banyak dijabarkan secara teori oleh buku maupun artikel-artikel lepas manapun. Oleh karena itu, tidak akan dibahas lebih jauh mengenai hal tersebut disini. Toh, judulnya juga bukan itu. Hehehe..

Sebagian dari kita biasanya mengalami kesulitan dalam hal menulis. Apalagi untuk sekedar menuangkan ide ke dalam tulisan yang ingin dibuat. Rasa-rasanya, pikiran tiba-tiba mampet. Pikiran-pikiran lainnya yang tak ada hubungannya dengan ide itu kemudian berseliweran kesana-kemari. Buyarlah keinginan kita untuk menulis.

Sebenarnya, ada banyak hal yang mempengaruhi mood kita dalam menulis. Bisa jadi, suasana sekitar kita saat menulis salah satu faktor utamanya. Meskipun inspirasi dalam menulis bisa didapat dimana saja dan kapan saja (anywhere and anytime), namun suasana saat kita menulis juga bisa mempengaruhi “alam” tulisan kita. Oleh karena itu, diperlukan waktu dan tempat yang tepat untuk menghasilkan tulisan yang baik.

Waktu yang tepat untuk menulis, mendapatkan inspirasi adalah ketika alam sendiri sudah mulai terlelap. Maksudnya disini, ketenangan (mood) dalam menulis tergantung pada ketenangan sekitar kita. Nah, malam hari, adalah waktu yang paling tepat untuk menulis.

Saya pribadi, meluangkan waktu di malam hari untuk menulis dan mengolahnya ketika semua orang sudah terlelap. Biasanya orang rata-rata tertidur pada pukul sebelas malam. Di saat itulah saya merasa leluasa mengerjakan segala hal yang berhubungan dengan dunia menulis saya. Baik itu urusan kuliah maupun sekedar menyalurkan hobi. Saya percaya bahwa inspirasi akan mengalir begitu saja ketika perasaan dan suasana sekitarnya tenang.

Suasana malam hari membuat saya nyaman untuk menulis apa saja. Berbekal segelas kopi susu dan ditemani dengan musik, inspirasi mengalir begitu saja dalam kepala saya. Perhitungan waktu pun di malam hari terasa begitu lambat. Entah apakah ini sekedar perasaan saya ataupun memang begitu adanya. Hal ini pula yang akan mengondisikan kita tidak tergesa-gesa dalam menulis. Namun, saya betul-betul menikmati “goresan pena” saya ketika malam hari.

Di malam hari, sebenarnya pikiran cenderung terbebas dari segala beban masalah. Kondisi alam yang sunyi dan tenang mendukung mood untuk menulis, sekedar menyalurkan inspirasi di kepala kita terasa lebih mudah. Pikiran yang tenang di kala mengerjakan sesuatu akan berujung pada hasil yang baik. Tidak salah jika umat Islam dianjurkan beribadah di sepertiga malam terakhir.  Pikiran tenang, ibadah pun tentunya lebih khusyuk.

Oleh karena itulah, ketika saya mulai memasuki dunia kuliah, saya mulai membiasakan diri untuk bisa terjaga di malam hari. Lebih khusus, tergantung orangnya, apakah orang itu mudah terbangun atau malah sulit untuk bangun di malam hari. Karena saya orang yang sulit untuk bangun di waktu yang sudah ditentukan (alarm atau secara sadar), makanya saya mengubah polanya dengan tidak tidur sampai pekerjaan rampung. Jika memang dibutuhkan, begadang pun saya jalani, tidak peduli lagunya bang Rhoma Irama (^_^). Karena ketika pekerjaan selesai, ada “rasa” tersendiri yang memuaskan hati.

Bagi yang tidak bisa bertahan di malam hari, tidak perlu dipaksakan. Cukup bangun di waktu tengah malam dan mulailah menulis ketika mata dan perasaaan sudah stabil. Buatlah diri senyaman mungkin di waktu itu. Lakukan apa saja yang menurut kita bisa membuat diri nyaman dan tidak mengantuk. Misalkan saya, biasanya ngopi-susu sambil menulis. Tergantung selera.

Suasana malam hari tampaknya merupakan kejaiban tersendiri yang dianugerahkan pada kita, manusia. Di saat alam lelap dalam tidurnya, ketenangan hadir dalam tiap jiwa manusia. Tampaknya, malam hari memang diperuntukkan bagi mereka yang ingin mencari ketenangan. Sehingga, bagi yang ingin mencari tempat yang tenang, sedari dulu sudah diciptakan oleh Yang Maha Kuasa. Bagi saya, malam hari adalah sebuah tempat tak terbatas dengan perjalanan waktu yang menyatu dengan persaaan.

Kita pun akan tersadar, malam hari adalah tempat (sekaligus waktu) untuk mencari inspirasi. Wah, ternyata alam sudah menyediakan menyediakan segalanya, ya.

Dipublikasikan di Kompasiana

Belajar Dari Mengumpulkan Uang Receh

Agustus 23, 2011
Uang koin bisa terkumpul dengan usahanya
“Saya menyerah, deh. Toh, hanya itu yang bisa saya lakukan,”

Pernah tidak kita mendapati kata-kata itu dilontarkan oleh seseorang? Atau bahkan kita sendiri yang berkata demikian? Kata-kata seperti itu hanyalah salah satu bentuk penghiburan diri bahwa kita memang “tidak bisa”, bukannya “tidak bisa lagi.”

Beberapa waktu yang lalu, salah seorang teman saya memintai saya uang recehan (bukan memalak, loh…). Saya sendiri sempat agak heran, mau ngapain dengan uang receh? Belum sempat saya menanyakannya, ia pun menjawab seraya tersenyum simpul, “Mau saya jadikan koleksi uang receh. Hehe…lumayan buat celengan,” selorohnya.

Ia pun sempat memperlihatkan uang recehan yang berhasil ia dapatkan dari kerelaan teman-teman lain (Soalnya, uang receh buat orang-orang kota kayaknya gak ada artinya). Ada uang koin seratusan, dua ratusan, bahkan uang lima ratusan pun ada (padahal uang lima ratus, kan masih bisa berguna). Entah, apakah keunikannya itu (dalam hal mengumpulkan uang koin) sudah lama ia lakukan atau memang baru saat itu ia memulainya. Tapi, patut diacungi jempol, karena ternyata dia selangkah jauh lebih berusaha dibanding saya.

Sebenarnya, mengumpulkan uang receh seperti itu juga bukan hal-hal yang unik-unik, gimana gitu. Karena saya pun suka mengumpulkan uang receh. Hanya saja uang receh yang saya kumpulkan bisa dikatakan pasif. Maksudnya, hanya uang receh hasil kembalian belanjaan yang saya kumpulkan. Adapun yang lainnya, uang-uang koin yang saya temukan tercecer. Tidak pernah saya terpikir untuk memintai teman-teman saya sekedar uang koinnya.

Akan tetapi, bukan permasalahan uang koinnya yang ingin saya tonjolkan disini, melainkan usaha untuk mendapatkannya lah yang penting kita refleksikan ke dalam kehidupan kita.

Dibandingkan dengan saya, teman saya ternyata jauh berusaha lebih banyak dari saya. Saya yang sudah lama (juga) melakukan hal serupa hanya berharap dari uang kembalian dan hasil temuan. Anggapan saya, hanya segitulah memang yang bisa saya lakukan. Padahal, kenyataannya saya belum melakukan usaha yang maksimal. Bisa saja kan seandainya saya melakukan usaha serupa dengan teman saya tadi. Malahan, koin saya dalam waktu singkat bisa bertambah lebih banyak. Ini membuktikan bahwa beberapa usaha yang saya lakukan cenderung belum maksimal.

Kebanyakan orang acapkali menganggap usahanya selama ini sudah maksimal. Usaha semampunya. Padahal, jika ditelusuri lebih jauh, sesungguhnya masih banyak hal yang mampu diperbuat. Hanya saja, cenderung sikap malas atau apatis mendominasi perasaan. Toh, saya sudah melakukan semampu saya.

Kita cenderung malas untuk berusaha, inginnya selalu disuap. Disodorkan. Dibawa, ataupun ditarik-tarik. Memang menyenangkan bisa mendapatkan apa yang kita inginkan tanpa melakukan apa-apa. Bahkan tidak jarang kita terlalu membanggakan sesuatu yang kita dapatkan tanpa melakukan apa-apa. Akan tetapi, bukankah lebih nikmat ketika kita mendapatkan sesuatu sebagai hasil jerih payah kita. Apalagi usahanya mati-matian.  Coba deh bayangkan, mana lebih enak; tidur sehabis kerja atau tidur tanpa ada apa-apa sebelumnya. Pastinya lebih lelap orang yang tertidur karena kelelahan.

Jika hasil yang didapatkan sedikit, tidak perlu langsung menyerah. Apalagi menjustice diri sudah tak sanggup lagi. Jangan! Cobalah belajar dari mengumpulkan uang koin. Tanpa berusaha pun kita bisa dapatkan uang receh (hasil belanja). Tapi dengan berusaha ‘lebih’, maka kita akan dapatkan lebih banyak. Yah, meskipun nominalnya kecil. Tapi, coba bayangkan, berapa jumlah nominal uang koin dalam satu celengan? Bisa banyak, kan. Sedikit demi sedikit, lama-lama jadi bukit. Begitu pun jika kita mau berusaha dalam hidup. Pokoknya, jangan ada kata menyerah, deh. Jika merasa usaha sudah maksimal, yakinkan diri, masih ada usaha maksimal lainnya.

Nah, mulai sekarang coba berusaha semaksimal mungkin. Jika usaha yang satu gagal, coba usaha lainnya. Jalanan ke Makassar gak Cuma satu, kan? Jika tak punya ide, coba berbagi dengan orang lain.

Satu hal yang patut dicamkan adalah jangan sekali-kali mengatakan kata “tidak bisa” di saat kita menemukan usaha lain. Coba dulu, baru komentar.

Gimana? Usaha kita sudah maksimal, belum? 


Dipublikasikan pada Kompasiana


Minggu, 21 Agustus 2011

Berbagi Ilmu Mesti Sabar

Agustus 21, 2011
Sumber gambar: Google search
Ilmu takkan pernah habis jika dibagi. Anehnya, ilmu akan habis jika disimpan sendiri. Berbeda dengan materi/ harta. Disimpan, jumlahnya statis. Bahkan jika disimpan di bank, harta mestinya bisa bertambah. Dibagi-bagi, jumlahnya berkurang.

Inilah salah satu keutamaan ilmu. Disebutkan pula bahwa kewajiban umat Islam adalah menuntut ilmu. Oleh karena itu, Tuhan tak henti-hentinya menganugerahkan segala keajaiban pada ilmu.

Ilmu sudah seharusnya untuk dibagi agar jumlahnya bisa bertambah. Akan tetapi, membaginya pun tidak boleh sembarangan, asal-asalan. Membaginya harus dengan penuh kesabaran.

Beberapa minggu yang lalu, dari kamar kontrakan saya, saya lepas mendengar cercaan ibu kost pada anaknya. Pasalnya, anaknya yang masih duduk di sekolah dasar tak kunjung-kunjung paham dengan bacaan Al-Qur’an yang sementara diajarkannya. Mendengarnya, saya agak iba dengan anaknya.

Dulu, sebagai orang yang tergolong berprestasi (secara akademik) di sekolah, saya sering dijadikan tempat untuk bertanya oleh teman-teman seangkatan saya. Namun, kebiasaan buruk saya, secara sadar maupun tak sadar terbiasa jengkel pada teman-teman yang tak kunjung mengerti dengan penjelasan saya. Tak jarang, volume suara saya sedikit meninggi ketika menghadapi hal demikian.

Akibatnya, beberapa kawan-kawan saya mulai merasa sungkan (atau takut) jika ingin menanyakan pelajaran pada saya. Ada sedikit kecemasan (mungkin juga kejengkelan) mereka untuk bertanya pada saya. Bahkan, tak jarang sudah ada yang ingin melontarkan pertanyaan pada saya, namun ditariknya kembali. Dia galak. Begitu mungkin pikir mereka.

Nah, kesabaran memang sangat diperlukan dalam membagi ilmu dengan siapapun. Jika menyimpan uang di bank, kita perlu bersabar agar uangnya berbunga dan bertambah nominalnya, maka untuk menambah “bunga ilmu” kita perlu bersabar dalam membaginya.

Bukanlah dinamakan sabar, jika membagi ilmu diwarnai dengan cercaan, cemoohan, ataupun bahkan pikiran mengejek. Tidak sepantasnya lah seorang cendekia “marah-marah” kepada muridnya. Bukankah dengan “marah-marah” itu salah satu tanda bahwa ia tidak ikhlas dalam membagi ilmunya?

Selain itu, orang yang sabar dalam membagi ilmunya besar kemungkinan awet muda. Lha, kok bisa? Ini sekedar hipotesis saya. Tanpa mengerutkan kening (dan muka ditekuk), dan berbekal senyuman pada siapa saja maka bisa memberikan efek awet muda. Senyum, kan bisa membuat orang awet muda. Pantas saja saya selama ini merasa sudah agak tua. Hehehe….

Memang, sabar sebuah kata yang mudah dilafalkan namun sangat sulit untuk diterapkan. Saya pun belum yakin mampu menerapkannya.

Akan tetapi, ingat pula bahwa mengajarkan ilmu pada orang lain sebenarnya adalah sebuah kewajiban. Jika kita punya sesuatu yang lebih, maka dianjurkan berbagi, kan? Jika tidak dibagi, maka ilmu yang dimiliki hanya akan using dimakan waktu.

Sebuah contoh yang tiap orang sudah tentu pernah mendapatkannya. Mengapa seorang guru (pengajar) bisa semakin pandai dengan pelajarannya dari tahun ke tahun? Jawabannya mudah. Karena rela berbagi. Ia rela membagi ilmunya kepada siapa saja, termasuk anak didiknya. Dengan sabar, seorang guru tiap hari mengajarkan segala hal yang ia ketahui, meskipun sekali-dua kali terkadang masih bisa diwarnai oleh omelan.

Oleh karena itu, sangatlah penting bagi pencari ilmu untuk bersabar dalam menuntut ilmu. Jika ingin bertambah pengetahuannya, maka bersabarlah dengan membaginya. Karena orang sabar, akan beruntung. Man Shabara Zhafira. Maka beruntunglah teman-teman yang mampu menjaga kesabarannya dalam membagikan ilmu (apalagi ditambah dengan senyuman). Dengan begitu, akan mendapatkan “bunga ilmu” dari “bank ilmu” + Bonus: Awet Muda.

Harta:

Bertambah jika disimpan, berkurang jika dibagi (secara nyata).

Ilmu:

Bertambah jika dibagi, berkurang jika disimpan.

Saya pun akan berusaha, apalagi ditambah dengan awet muda. Hahaha….. Membagi ilmu sebenarnya sangat menyenangkan. Nah, salah satu cara saya untuk berbagi ilmu adalah menuliskannya. Sebagiamana petuah, Ikatlah ilmu dengan menuliskannya. 

BLOGSPOT VS WORDPRESS

Agustus 21, 2011
Di dunia maya saat ini sudah banyak bertebaran web-blog (penyedia layanan pembuat blog gratis). Diantaranya adalah blogspot (blogger.com), wordpress, multiply, blogdetik, blogsome, blog (blog.com), dan livejournal. Seperti yang telah kita ketahui (bagi yang telah lama eksis dalam dunia blogging), diantara beberapa jenis webblog tersebut, wordpress dan blogspot (blogger) lah yang paling banyak digunakan oleh para pengguna dunia maya. Mengapa?

Ada beberapa hal yang menyebabkan terkenalnya webblog blogspot dan wordpress (mungkin karena kemudahan dalam pengoperasiannya), namun untuk kali ini saya hanya akan membahas mengenai perbedaan antara blogspot dan wordpress.

Blogspot maupun wordpress memiliki keunikan tersendiri
Nah, menurut saya (berdasarkan pengalaman saya dalam menggunakan keduanya), blogspot dan wordpress masing-masing memiliki keunikan tersendiri. Mungkin akan lebih mudah jika saya menjabarkannya sebagai berikut.

BLOGSPOT
- Kelebihan:

  • Template (tema) blog dapat diubah-ubah tanpa mengikuti default (dapat browsing pada internet dan tiggal copy paste) atau unggah templatenya. Bahkan kode-kodenya bisa diubah untuk keperluan modifikasi tema dan postingan secara free.
  • Memiliki banyak gadget (widget) yang dapat dengan mudah digunakan.
  • Beberapa format tambahan pada penulisan posting (warna, jenis font, dsb)
  • Template yang telah diset dapat diatur kembali melalui pengaturan warna background, warna judul, dsb.
  • Akses dalam setiap pengaturannya lebih cepat. 
  • Bisa follow blog lain.
  • Tersambung lagsung dengan google adsense.


- Kekurangan:


  • Tidak ada pustaka default untuk penyimpanan media, harus melalui web picassa.
  • Fitur polling hanya bisa dipasang pada gadgetnya. 
  • Tidak bisa langsung copy-paste dari Ms Word


WORDPRESS
- Kelebihan:

  • Dapat menyimpan media (gambar, dokumen) dalam sebuah pustaka media.
  • Pengaturan posting/ tulisan lebih easy dan friendly bagi pengguna pemula. 
  • Fitur polling bisa ditampilkan di setiap artikel (sesuai kebutuhan).
  • Tema (template) memiliki kelebihan masing-masing. Setiap tema menawarkan berbagai fitur yang berbeda-beda, dengan jumlah tema default yang lebih banyak.
  • Pengaturan kategori lebih tersusun rapi (Terdiri dari halaman yang bisa menjadi sub-sub, ada juga kategori dan tag)
  • Tampilan administratornya lebih mudah digunakan dan tidak membingungkan pengguna.
  • Protect data lebih terjamin. 
  • Bisa copy-paste dari Ms Word secara langsung. 

- Kekurangan:

  • Tema dari luar tidak dapat diaplikasikan pada blog secara langsung (tidak seperti pada blogspot), kecuali jika menggunakan wordpress yang telah di-upgrade (harus berbayar). Sehingga baru bisa dilakukan modifikasi kode html-nya.
  • Widget (gadget) default untuk tema sangat terbatas.
  • Tema hanya dapat diset jika tema tersebut memang menyediakan pengaturan ekstra (terdapat dalam fiturnya).
  • Akses ke setiap pengaturannya agak lambat.
 

Untuk sementara, penjelasan itulah yang saya bisa berikan. Blog mana yang paling menarik? Andalah sendiri yang menentukan, tergantung dari cara menilai Anda, atau bahkan kebutuhan Anda.

Jika saja ada hal-hal yang menurut Anda tidak sesuai dengan pemikiran (sesuai pengalaman) Anda, maka ada baiknya menjadi sebuah masukan bagi saya. Itulah yang saya harapkan. Ada hubungan timbal balik antara pembaca dan penulis. Oleh karena itu, silahkan anda menanggapinya....