Rabu, 04 Agustus 2010

Jejaring Sosial, Sarana Positif atau Negatif?


Siapa yang tidak mengenal facebook? Atau Twitter? Atau pendahulunya, yaitu Friendster? Semua pasti sudah mengenalnya. Minimal pernah mendengarnya. Bahkan anak kecil pun, yang masih duduk di sekolah dasar pun sudah tidak asing lagi mendengar hal seperti itu. Bukan hal yang aneh lagi malah jika anak-anak itu sudah tergabung dalam salah satu jejaring sosial yang bermunculan di internet.

Seiring perkembangan internet yang telah merajalela, jejaring sosial pun ikut menjamur. Dalam waktu yang sekejap saja, dunia maya telah dikuasai oleh sekumpulan jejaring sosial. Pengaruh yang diberikannya pun cukup luas. Tidak terbatas pada usia remaja saja, namun orang dewasa pun sudah semakin mahir pula bercengkerama di situs jejaring sosial.

Teknologi yang berkembang pun, seperti handphone, turut mendukung perkembangan jejaring sosial yang ada. Semakin mudahnya jejaring sosial diakses, membuat orang-orang semakin sibuk dengan “teman-teman” dari dunia maya. Coba kita perhatikan, tak jarang orang-orang di kehidupan nyata mengisi waktu luangnya hanya untuk membuat sebuah status di jejaring sosial. Dimanapun mereka berada, mereka selalu menyempatkan diri untuk “memperbaharui” status di jejaring sosial yang mereka ikuti. Di rumah, di sekolah, di kampus, di pasar, di rumah sakit, di angkot, selalu ada waktu untuk status mereka hanya agar orang lain bisa tahu apa yang sedang dirasakan/dilakukan oleh orang itu. Inilah bukti bahwa jejaring sosial telah membawa pengaruh besar bagi kehidupan masyarakat.

Kendati pengatruhnya cukup besar, jika ditanggapi dengan baik, maka akan membawa pengaruh yang baik pula. Jejaring sosial, seperti facebook, tentunya menjadi tempat untuk mencari dan menambah teman bagi penggunanya. Bahkan dengan facebook, orang-orang bisa kembali berkumpul dengan teman-teman lama. Selain itu, jika dimanfaatkan lebih jauh, sebenarnya jejaring sosial bisa menjadi tempat untuk meraup keuntungan, tidak hanya sekedar tempat “curhat-curhatan.” 

Jejaring sosial sebenarnya merupakan sarana yang baik untuk menjadi tempat kreativitas para remaja, asalkan kreativitas tersebut bernilai positif. Tidak jarang media jejaring sosial disalahgunakan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Seperti yang pernah marak terjadi, penculikan anak gara-gara facebook, pencemaran nama baik melalui jejaring sosial, dsb. Nah disinilah kita juga bisa melihat sisi gelap dari jejaring sosial (segala sesuatu, kan punya sisi terang dan sisi gelap).

Sekarang, dilihat dari sisi pendidikan, sebenarnya efektif nggak sih jejaring sosial itu? Efektif atau tidaknya kembali tergantung pada yang menggunakannya. Digunakan untuk apa. Bagaimana penggunaannya. Coba saja seandainya jejaring sosial itu digunakan untuk diskusi kelompok, membahas suatu topik yang bermanfaat, dan hal-hal lain yang berkaitan dengan pendidikan, tentu akan memberikan manfaat yang cukup besar. Bisa saja akan berpengaruh pada kehidupan pribadi seseorang.

Akan tetapi, dewasa ini fungsi jejaring sosial yang seperti itu semakin berkurang. Orang-orang berkumpul di jejaring sosial hanya untuk kesenangan saja. Waktu dihabiskan hanya untuk “status” dan “komentar”. Ada pula yang hanya sekedar berbagi kabar dengan orang lain. Pada dasarnya tidak salah, tapi bukankah lebih baik jika waktu itu digunakan untuk hal-hal yang lebih berguna?

Orang tua pun harus mulai mengawasi anaknya. Jangan sampai anak mereka yang masih kecil bermain di jejaring sosial dan mendapatkan sesuatu yang seharusnya belum mereka dapatkan di usia mereka. Saat ini sudah banyak anak-anak kecil yang gara-gara jejaring sosial sudah mengalami kedewasaan sebelum waktunya.

Sekali lagi, jejaring sosial sesungguhnya sangat bermanfaat jika digunakan secara bijak. Karena pada dasarnya, penciptanya membuat jejaring sosial tersebut dengan tujuan baik. Namun, meskipun tujuan penciptanya baik, jika disalahgunakan fungsinya tentunya akan merusak juga pada akhirnya. Apalagi pengguna terbanyak dari jejaring sosial itu sendiri adalah kaum generasi muda yang diharapkan untuk membangun bangsa. Jejaring sosial yang ada setidaknya dijadikan media untuk berkreativitas dalam rangka pembangunan ke depannya. Kita bangsa Indonesia, pastinya tidak mau kan jejaring sosial mencemari generasi muda. Sudah seyogyanyalah jejaring sosial menjadi media yang sehat dan aman.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar