Selasa, 06 April 2010

Man Jadda Wajada


Judul Novel           : Negeri 5 Menara
Pengarang             : Ahmad Fuadi
Penerbit                 : Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2009
Jumlah Halaman : 440 halaman

A. Fuadi lahir di Bayur, tahun 1972, dalam menyajikan ceritanya sangat luwes dan menggunakan kata-kata yang sangat mudah dipahami. Selain itu, latar belakangnya sebagai mantan wartawan, membuat kisah-kisahnya digambarkan dengan lebih deskriptif. Kisah-kisah yang diceritakannya pun sedikit demi sedikit dapat memantik api semangat pembacanya. Pembaca seakan-akan ikut terhanyut oleh arus bertuturnya. Novel yang terinspirasi dari sebuah kisah nyata ini sungguh menarik.

Berbagai pesan moral akan banyak ditemukan dalam novel ini, utamanya dalam meraih suatu impian. Sang tokoh utama, Alif Fikri, yang baru saja menamatkan sekolahnya di MTs (Madrasah Tsanawiyah), harus melanjutkan sekolahnya di pelosok Jawa Timur. Ia harus melintas pulau dari Sumatera menuju ke pulau Jawa. Ibunya sangat menginginkan dia menjadi seorang Buya Hamka meskipun Alif sendiri sangat ingin untuk menjadi seorang Habibie.

Awalnya dengan sebuah keterpaksaan ia menjalani hari-harinya di Pondok Madinah (PM). Akan tetapi, lama-kelamaan ia merasakan hal yang berbeda dari pondok tersebut. Ditemani oleh teman-temannya, Raja dari Medan, Said dari Surabaya, Atang dari Bandung, Baso dari Gowa, dan Dulmajid dari Madura, mereka berani merajut mimpi-mimpi di bawah sebuah menara masjid. Dengan berbekal mantera sakti Man Jadda Wajada - siapa yang bersungguh-sungguh maka akan berhasil - mereka menjalani pendidikan di Pondok Madinah dengan berbagai suka dan duka. Di pondok itu pulalah mereka belajar tentang arti penting dari sebuah keikhlasan dan kerja keras, yang kelak akan dibayar secara tunai oleh Yang Maha Kuasa.

Di saat membaca novel ini, pembaca akan dibawa untuk mengelilingi kehidupan di dalam sebuah pondok pesantren. Berbagai kedisiplinan yang diterapkan oleh sebuah pesantren dapat secara umum digambarkan olehnya. Pengalaman penulis, yang merupakan lulusan Pondok Modern Gontor, benar-benar telah menyatu dengan setiap gambaran dari novel ini, sehingga dengan mudahnya ia mendeskripsikan tiap seluk beluk dari pondok pesantren itu sendiri.

Satu hal lain yang istimewa dari novel ini, adalah bagaimana penulis telah berhasil memunculkan semangat yang pantang menyerah dalam novel ini. Semangat tersebut yang kemudian berimbas pada pembaca, seakan-akan pembaca turut merasakan kejadian yang ada di dalamnya. Kalimat Man Jadda Wajada dengan begitu mudahnya telah berhasil menyusup ke dalam relung hati para pembacanya, meyakinkan agar jangan pernah meremehkan sebuah mimpi.

Oleh karena itu, sangat cocoklah jika kita yang sedang butuh sebuah inspirasi atau motivasi untuk membaca novel ini. Novel ini membangkitkan semangat pembaca. Man Jadda Wajada!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar