Senin, 22 Maret 2010

CERPEN: Kado Buat Ujang

Siang ini matahari tidak bersinar begitu terik. Beberapa awan mencoba untuk menghalangi pancaran sinar matahari. Tidak ada tanda-tanda akan turun hujan. Hanya berawan. Kelihatannya cuaca hari ini begitu bersahabat.

Suasana di SDN 02 Binakarya tampak ramai. Jam sekolah telah usai. Seperti biasa, para murid beramai-ramai untuk pulang ke rumah masing-masing. Mereka berjalan sambil menenteng tas. Sebagian murid yang masih duduk di kelas satu dijemput oleh orang tua mereka. Bagi mereka yang hidupnya mapan, tak segan-segan menjemput anak mereka dengan memamerkan mobil Hyundai mereka. Sedangkan yang lain hanya menjemput dengan berjalan kaki.

Seorang anak berlari kecil menuju ke arah lain. Ia tidak bermaksud untuk pulang ke rumah.

“Eh, kamu, Jang. Baru pulang, ya?” tanya seorang lelaki pada Ujang ketika ia sampai di sebuah kios.

Ujang hanya mengangguk

sambil melepas pakaian sekolahnya dan memasukkan ke dalam tas sekolahnya. Ia menyimpan tasnya di salah satu lemari di dalam kios tersebut.

“Ini, bagianmu.”

Pak Willis, pemilik kios, menyerahkan setumpuk koran kepada Ujang.

“Kamu hati-hati, ya.” pesan Pak Willis sambil tersenyum pada Ujang.

Ujang kembali mengangguk dengan polosnya dan segera pergi dari kios. Ia harus menjajakan koran yang saat ini ada di tangannya.

Setiap hari, sehabis pulang sekolah, Ujang harus bekerja. Ia melakukan pekerjaan ini dengan senang hati. Hal ini dilakukannya untuk membantu ibunya memenuhi kebutuhan keluarga. Ibunya hanya bekerja sebagai penjual gorengan. Hasil yang diperoleh ibuya dari menjual gorengan sebenarnya cukup untuk hidup mereka sekeluarga. Akan tetapi jika hanya mengandalkan dari penghasilan ibunya, Ujang mungkin tidak akan pernah bisa bersekolah. Padahal Ujang mempunyai keinginan yang kuat untuk bersekolah. Bahkan ia berharap bisa melanjutkan sekolah ke tingkat yang lebih tinggi.

Meskipun ia memiliki keinginan yang cukup kuat untuk bersekolah, tetapi ia tidak pernah memaksakan hal itu pada ibunya. Ia sadar mengenai keadaan keluarganya.

Semenjak ayahnya tiada, keadaan ekonomi keluarga Ujang mulai memburuk. Bahkan Ujang yang saat itu duduk di bangku kelas tiga sekolah dasar hampir memutuskan untuk berhenti dari sekolahnya. Akan tetapi beruntung ada salah seorang gurunya yang berbaik hati untuk membantu Ujang, sehingga ia tidak jadi putus sekolah.

“Ujang anak yang baik. Ia punya kemauan yang kuat untuk bersekolah, Bu. Sayang sekali jika anak seperti Ujang harus putus sekolah,” kata Ibu Evi, salah seorang guru sekolah Ujang.

“Jarang sekali ada anak seperti Ujang yang memiliki tekad kuat untuk tetap bersekolah. Karena sebenarnya yang dibutuhkan di sekolah itu bukan kapandaian, tapi kemauan, Bu.” lanjut Ibu Evi. Ia tersenyum sebentar kepada ibu Ujang sambil menatapnya dengan penuh kekaguman.

“Kapandaian bisa dibentuk dan diajarkan di sekolah, Bu. Tapi, kemauan itu datangnya dari diri sendiri. Tidak ada orang yang bisa mengajarkan kemauan di sekolah. karena tekad itu timbulnya dari dalam hati, Bu. Jadi, biarkanlah Ujang tetap bersekolah.”

Ibu Evi mengakhiri percakapannya dengan ibu Ujang. Ternyata perkataan Ibu Evi telah menjadi titik balik bagi Ujang untuk tetap bisa bersekolah.

Ibunya pun berusaha dengan sekuat tenaga untuk bisa tetap menyekolahkan Ujang. Ia tidak ingin melihat anaknya bersedih hati. Akan tetapi di lain sisi, Ujang tidak ingin melihat ibunya bekerja begitu keras. Oleh karena itulah, ia memutuskan untuk bekerja sebagai penjual koran meskipun pernah suatu kali ibunya melarangnya untuk bekerja. Ibunya tidak tega melihat Ujang kehilangan masa kecilnya yang seharusnya menjadi masa yang menyenangkan.

“Nak, kamu tidak perlu memaksakan diri untuk bekerja membantu ibu. Penghasilan ibu masih cukup, kok untuk menghidupi kamu dan adikmu.” ujar ibunya pada suatu malam.

“Tapi Ujang, kan laki-laki, Bu. Ujang sebagai pengganti ayah. Oleh karena itu, sebagai laki-laki Ujang mau bantu ibu untuk cari nafkah. Ujang tidak mau hanya berdiam diri saja. Lalu, kalau nanti uangnya terkumpul banyak, bisa buat sekolah adik.” ujarnya polos.

Mendengar hal itu air mata ibunya berlinang. Ia begitu terharu mendengar semangat anaknya. Ia lantas memeluk Ujang dan adiknya yang masih berumur empat tahun. Ia merasa beruntung memiliki anak seperti Ujang.

“Terima kasih, ya Allah,” lirihnya dalam hati.

* * * * * * *

Usai melaksanakan Shalat Ashar, Ujang beristirahat sebentar. Ia memutuskan untuk uduk-duduk sebentar di teras masjid. Tidak lupa sambil menawarkan koran kepada setiap rang yang lewat di depan masjid.

Sekilas Ujang membaca tulisan yang tertera di koran. Ujang selalu menyempatkan diri ntuk membaca berita di koran jika ia punya waktu luang seperti ini. Namun tiba-tiba ia eringat pada sesuatu. Hari ulang tahunnya.

Mata Ujang berkaca-kaca mengingatnya. Besok, tanggal 15 Juni, adalah hari ulang ahunnya. Kini, ia begitu memimpikan untuk bisa merayakan hari ulang tahunnya.

Selama ini, ia belum pernah merayakan hari ulang tahunnya. ia hanya sempat melihat eman-temannya yang lain merayakan ulang tahunnya. Ditemani dengan kedua orang tua ereka. Dikunjungi oleh banyak teman-teman mereka sambil membawa sebuah kado. Meski jang pernah diundang oleh teman-temannya untuk datang ke sebuah acara ulang tahun. amun ia tidak pernah datang karena tidak punya cukup uang untuk membeli sebuah kado.

Sebagai anak kecil yang polos, ia tentu sangat menginginkan sebuah perayaan untuk lang tahunnya. Ia tidak berharap akan meriah. Namun dengan berkumpul bersama teman-teman yang lain sudah cukup baginya. Ia pun tidak mengharapkan hadiah dari teman-temannya. Ia hanya mengharapkan ucapan selamat dari teman-temannya. Ia juga ingin melihat ibu dan adiknya tertawa riang bersamanya dalam perayaan itu.

“Ibu pernah tidak merayakan ulang tahun?” tanya Ujang pada suatu hari.

“Tidak pernah. Memangnya kenapa?”

Ibunya balik bertanya kepada Ujang karena merasa heran melihat anaknya menanyakan hal seperti itu.

“Ujang pengen banget ngerayain ulang tahun Ujang. Kecil-kecilan aja deh. Bu. Biar Ujang undang teman-teman sekampung. Juga biar Ani bisa makan yang enak-enak.”

Ibunya terkejut mendengar perkataan Ujang. Tapi sebagai seorang ibu, ia sadar Ujang masih kecil dan begitu polosnya sehingga menginginkan hal seperti itu. Ia memandang Ujang dengan tatapan penuh keibuan.

“Nak, kamu boleh saja merayakan ulang tahunmu, tapi kamu harus mengerti keadaan kita. Ibu senang jika kamu merayakan ulang tahunmu, tapi kita tidak punya cukup uang untuk merayakannya.

Ujang sadar dengan ucapan ibunya dan ia tidak ingin membuat ibunya semakin sedih lagi.

“Iya, Bu. Ujang ngerti, kok.”

Ujang menunduk dan air matanya menetes. Melihat itu, ibunya merasa kasihan.

“Ujang, ibu janji. Kalau kita punya uang banyak, ibu akan mengadakan acara ulang tahun buatmu. Kamu boleh mengundang teman-teman sekampung.” ujar ibunya dengan tersenyum. Ia berusaha menguatkan hati anak kesayangannya. Ujang pun tersenyum dengan penuh pengharapan pada apa yang telah dikatakan oleh ibunya.

“Dik, korannya!”

Mendadak sebuah suara membuyarkan lamunan Ujang. Ia mencari asal suara itu. Seorang laki-laki dengan setelan jas kantor yang rapi baru keluar dari dalam masjid. Laki-laki itu keluar sambil menenteng tas kentornya dan mendekati Ujang.

“Eh, iya, Pak.”

Ujang berdiri dan mengangkat korannya. Sebuah koran dari tangannya ia berikan kepada orang itu. laki-laki itu membolak-balikkan halaman koran yang diberikan oleh Ujang. Ia seperti mencari-cari salah satu news di Koran itu..

“Berapa harganya, Dik?’ tanya laki-laki itu kemudian.

“Tiga ribu. Pak.”

Laki-laki itu mengambil dompet dari saku celananya dan menyerahkan selembar uang lima ribuan kepada Ujang.

“Nama kamu siapa?” tanya laki-laki itu.

“Ujang, Pak.” jawabnya sambil memberikan kembalian dua lembar uang seribuan kepada laki-laki itu.

“Ah, tidak usah, Jang. Buat kamu saja. Kapan-kapan saya beli koran kamu lagi, ya?” tolak laki-laki itu secara halus.

“Kalau begitu, terima kasih, Pak!”

Laki-laki itu tersenyum sambil pergi meninggalkan Ujang sendirian di tempat itu. Ujang begitu senang mendapat tambahan uang seperti itu.

“Orang itu baik.” ujarnya polos.

Ujang pun bersiap-siap untuk menjajakan korannya kembali. Tapi matanya menangkap selembar kertas hijau yang tercecer di lantai masjid. Ia pun memungutnya. Ia tidak tahu kertas apa itu.

* * * * * * *

Seorang laki-laki memasuki sebuah bank dengan menenteng tas kantor. Setelan jas kantornya terlihat rapi. Di tangan kanannya ia memegang sebuah koran yang baru dibelinya.

“Selamat sore, Pak Wisnu!” sapa seorang petugas keamanan padanya ketika memasuki bank.

“Selamat sore!” balasnya sambil tersenyum

Petugas keamanan tersebut sudah lama mengenalnya. Ia sudah berulang kali, bahkan tiap bulan, keluar masuk di bank tersebut. Selain untuk menginvestasikan uangnya di bank tersebut, ia juga memiliki kepentingan lain.

Pak Wisnu termasuk salah satu orang penting di tempatnya bekerja. Ia selalu dipercaya oleh atasannya untuk mencairkan sejumlah dana yang akan dibayarkan sebagai gaji kepada karyawan-karyawan di tempatnya bekerja. Oleh karena itu, hari ini ia bermaksud untuk mencairkan cek yang diberikan oleh atasannya tadi pagi.

Ia duduk di ruang tunggu bersama beberapa orang lainnya. Sejenak kemudian ia mengambil dompetnya dan bermaksud mengeluarkan cek yang disimpannya di dalam dompet. Setelah beberapa lama membuka dompetnya, ia tidak menemukan ceknya. Perasaannya mulai gelisah karena mnegetahui bahwa ceknya telah hilang. Itu berarti uang sejumlah lima ratus juta pun ikut hilang.

Ia pun gelagapan mencari ceknya itu. Sudah berkali-kali ia membuka-buka dompetnya, namun tak menemukan selembar cek pun.

Akhirnya, ia memutuskan untuk mencari cek tersebut. Di saku celana, baju, bahkan di lantai ia jelajahi. Sampai-sampai ia tidak sadar telah menjadi pusat perhatian orang yang duduk di sampingnya.

“Siapa tahu tercecer di jalan.” pikirnya dengan perasaan yang penuh ketakutan.

Ia pun keluar dari bank dengan tergesa-gesa sambil menyusuri jalan yang tadi sempat dilaluinya.

* * * * * * *

“Korannya, Pak?” tawar Ujang pada salah seorang supir angkot di perempatan jalan.

Supir itu hanya menggelengkan kepalanya, pertanda tidak tertarik dengan tawaran Ujang.

Koran yang dibawa Ujang tinggal beberapa lembar. Waktu mungkin sudah menunjukkan pukul lima sore. Saat maghrib tiba, Ujang sudah harus pulang ke rumah seperti biasanya.

Ia melanjutkan pekerjaannya. Dalam pikirannya, ia masih mencari-cari seseorang. Sambil menyusuri jalanan, pandangannya tidak lepas pada lalu-lalang orang di jalanan.

Tiba-tiba terlihat oleh matanya sesosok orang yang dia kenal. Orang itu memakai setelan jas. Membawa tas kantor. Kelihatannya ia sedang mencari sesuatu.

“Ah, itu orangnya.” pikirnya.

Ujang pun segera menuju ke orang itu sambil membawa korannya.

“Bapak orang yang di masjid tadi, kan?” tanya Ujang tiba-tiba ketika sampai di orang itu.

Pak Wisnu pun terkejut. Ia sejenak berpikir dan mencoba mengingat-ingat.

“Kamu Ujang, ya?’ ujar Pak Wisnu dengan tatapan yang meyakinkan.

“Iya, Pak.”

Ujang tersenyum sambil mengangguk dengan polosnya.

“Memangnya ada apa, Jang?” tanya Pak Wisnu berusaha menyembunyikan kegelisahannya.

“Ini, Pak. Ujang mau mengembalikan kertas bapak yang tadi terjatuh pas beli Koran Ujang.”

Ujang mengeluarkan selembar kertas hijau itu dari saku celananya. Ia memberikan kertas itu kepada Pak Wisnu.

Melihat kertas itu, Pak Wisnu terkejut bercampur bahagia. Ternyata kertas yang dia cari sedari tadi, ada pada seorang anak yang dia beli korannya tadi sore.

“Kamu dapat dimana, Jang?” tanya Pak Wisnu

“Ujang dapat di depan masjid pas bapak pergi.” jawab Ujang

“Terima kasih, ya, Jang.”

Pak Wisnu kemudian memeluk Ujang dengan senangnya. Ia merasa lega bisa menemukan cek yang bernilai ratusan juta itu. Ia pun sangat berterima kasih kepada Ujang. Mungkin tanpa pertolongannya, ia akan diberikan sanksi oleh atasannya. Sehingga ia bermaksud untuk memberikan Ujang sesuatu sebagai ucapan terima kasih.

Ia mengeluarkan lembaran uang seratus ribuan dari dalam dompetnya.

“Ujang, ini sebagai ucapan terima kasih. Terimalah.”

Pak Wisnu menyodorkannya pada Ujang. Melihat itu, Ujang tentunya merasa gembira. Sebagai anak kecil yang polos, ia pasti merasa senang jika diberikan uang seperti itu. Tapi ia teringat kata ibunya.

“Ujang, kalau suatu hari nanti kamu menolong orang lain, kamu jangan mengaharapkan imbalan, ya. Karena meskipun kita ini orang susah, tapi orang yang kita tolong itu lebih kesulitan daripada kita. Oleh karena itu, kita tidak boleh mengambil keuntungan dari kesulitan orang lain.”

Terdorong oleh perkataan ibunya, Ujang memutuskan untuk menolak pemberian Pak Wisnu.

“Maaf, Pak. Ujang menolong bukan karena mengharapkan imbalan.” tolak Ujang.

“Tapi ini bukan imbalan, nak. Ini sebagai ucapan terima kasih bapak.”

Pak Wisnu bersikeras ingin memberikannya pada Ujang. Ia merasa berhutang budi pada Ujang.

“Tidak usah, Pak. Ujang tidak butuh, kok.” tolak Ujang lagi.

Pak Wisnu hanya bisa mengalah. Ia kagum dengan keteguhan hati seorang anak berumur sepuluh tahun. Namun, ia merasa belum puas jika belum bisa memberikannya sesuatu.

Ia memasukkan kembali uang yang batal diberikan kepada Ujang.

* * * * * * *

Langit senja sudah mulai tampak di langit. Lampu-lampu jalan sudah mulai dinyalakan. Keramaian di jalan tampak mulai berkurang. Waktu maghrib akan tiba.

Ujang kembali ke kios Pak Willis dengan membawa sedikit koran yang tak habis dijual. Namun hari ini ia merasa puas karena telah menolong orang lain. Ia merasa bangga bisa mempraktekkan perkataan ibunya. Tanpa tahu saat yang dekat Allah akan membalasnya dengan berkali lipat.

“Laku korannya, Jang?” tanya Pak Willis yang sedang membereskan beberapa Koran yang ada di depan kiosnya.

“Tidak semuanya, Pak.” jawab Ujang

“Ah, segitu juga tidak apa-apa.”

Pak Willis masuk ke dalm kios dan mengambil sesuatu. Ujang ikut masuk dan bermaksud mengambil tasnya yang sebelumnya ia telah taruh di dalam lemari.

“Ujang, kesini sebentar!” panggil Pak Willis yang telah duduk di belakang mejanya.

Ujang mendekat dan berdiri saja di depan meja.

“Ada apa, Pak?” tanya Ujang penasaran.

“Begini Ujang. Tadi sore, sekitar jam limaan, ada seorang laki-laki. Katanya namanya Wisnu. Beliau menyuruh bapak untuk menyerahkan amplop ini kepada kamu. Katanya kamu tidak boleh menolak yang ini.” jelas Pak Willis sambil menyerahkan amplop itu ke tangan Ujang.

Ujang masih heran dengan perkataan Pak Willis. Tapi secara refleks, tangannya tetap saja menerima amplop tersebut.

“Anggap saja ini sebagai upah kamu disini kalau memang kamu masih tidak mengerti.”

Raut wajah Ujang tiba-tiba berubah. Wajahnya begitu bercahaya setelah menerima amplop itu. Ia merasa beruntung.

“Wah, makasih, Pak. Kalau begitu ,,,Ujang pulang dulu, ya!”

Ujang tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Ia begitu senangnya sambil berlari pulang ke rumah. Pak Willis hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Ujang.

* * * * * * *

Siang ini, Ujang merasa aneh. Pak Willis menyuruhnya pulang lebih awal. Baru jam empat, Pak Willis sudah menyuruh Ujang untuk berhenti bekerja. Ia memaksa Ujang untuk pulang. Tapi sebagai anak kecil, ia menurut saja.

Ujang pulang dengan wajah lemas. Ia memikirkan alasan Pak Willis menyuruhnya pulang lebih awal.

“Apa karena kerjaan Ujang tidak beres, ya?” batinnya dalam hati.

Berbagai alasan-alasan tidak masuk akal bermunculan di pikiran Ujang. Tapi segera ia tepis dengan mengingat kejadian kemarin saat ia pulang ke rumahnya.

“Ini apa Ujang?” tanya ibunya saat ia memberikan selembar amplop kepadanya. Ujang sendiri tidak tahu apa isinya.

“Tadi diberi sama Pak Willis, Bu. Dia baik, ya? Mungkin isinya bisa uang, Bu.” canda

Ujang sambil tertawa.

“Ujang……ini…isinya..m..memang uang..!!”

Ibu Ujang terkejut saat mengeluarkan isi amplop tersebut. Ia menemukan beberapa lembar uang seratus ribuan dari dalam amplop itu. Tangannya gemetar memegang uang sebanyak itu. baru kali ini ia memegang uang yang jumlahnya satu juta. Namun uang sebanyak itu sekarang sudah ada di tangannya.

Ujang yang melihat uang di tangan ibunya, juga ikut merasakan bahagia. Sebagai anak kecil yang masih duduk di bangku sekolah dasar, tentunya ia sangat senang melihat uang sebanyak itu.

“Itu, uang banyak, Bu!” seru Ujang sambil merangkul adiknya.

Ibunya masih terdiam. Ia begitu terharu sampai meneteskan air mata bahagianya. Kedua anaknya ia peluk dengan penuh rasa bahagia.

“Terima kasih, Nak.” lirihnya.

* * * * * * *

Ujang sampai di depan rumahnya. Tapi ia melihat rumahnya sepi.

“Mungkin ibu dan Ani belum pulang.” pikirnya.

Pintu rumah dibukanya. Dan betapa terkejutnya ia saat melihat beberapa orang di dalam rumahnya.

“Selamat Ulang Tahun, Ujang!!” seru mereka bersamaan.

Ujang melihat sekeliling. Ia berusaha mencari ibu dan adiknya.

“Nak, sekarang keinginanmu terkabul. Ini bukan karena ibu, tapi karena kamu sendiri.”

Ibunya mengusap kepala Ujang.

“Iya, kak. Kita punya banyak makanan hari ini.” lanjut adiknya.

“Tapi, Bu, ini…..”

Ujang masih belum percaya.

“Uang yang kemarin masih ada, kok untuk keperluan sekolah kamu nanti.” ujar ibunya menenangkan Ujang.

Semua orang di dalam rumah mengajak Ujang untuk ke dalam. Teman-teman Ujang pun hadir di rumah Ujang. Perayaan ulang tahun Ujang. Meski tanpa hias-hiasan disana-sini. Tanpa balon-balon, tanpa terompet, seperti perayaan pesta pada umumnya, bahkan tanpa hadiah. Tapi bagi Ujang itu sudah cukup. Ia merasa senang bisa makan-makan merayakan ulang tahun bersama teman-temannya.

Di hari ulang tahunnya ini, ia merasakan kebahagiaan yang tiada tara. Suatu hal yang selama ini diinginkannya telah terwujud meskipun tanpa kado dari teman-temannya. Akan tetapi, baginya, ulang tahun ini sudah menjadi kado special di hari ulang tahunnya.

Belajen, 17 juli 2009

Tidak ada komentar:

Posting Komentar