[RESENSI][carousel][6]

Kamis, 01 Desember 2016

Titipan Hujan

Desember 01, 2016
Makassar sedang diguyur hujan. Gas terus menderu agar saya bisa sampai ke kantor. Tak perlu tepat waktu. Saya masih punya banyak waktu bersantai diantara adzan maghrib karena naskah sudah rampung. Lagipula tak ada panggilan darurat dari redaktur.

Ah, hujan? Entah keberapa kalinya saya harus berkendara di tengah hujan. Menikmatinya diantara temaram lampu kota. Di balik telinga saya yang selalu digantungi earphone.

"Tidak punya mantel?" pertanyaan yang juga kesekian kalinya.

Sejak motor saya lahir diantara kesibukan mengejar berita, saya tak pernah punya waktu melengkapinya dengan mantel hujan. Kalau hujan telanjur jatuh tak terkendali, saya cukup menepikan motor. Melindungi kepala di bawah atap warung yang menjorok ke jalanan.

Beruntung, air hujan juga tak pernah berkorelasi dengan penyakit-penyakit kambuhan saya. Kekuatan saya, barangkali, ada pada doa mamak dan tingkah-kebanyakan-polah-hiperaktif saya. Namun sialnya, di kala teman-teman berjatuhan di musim penghujan, saya tetap berdiri sebagai penunjang kekurangan pekerjaan mereka. Menambahi beban di kepala.

Jika sudah begitu, saya agak kesal dengan beberapa waktu yang hilang. Tak ada lagi kesempatan mengelabui waktu.

Air hujan juga masih menjadi penyempurna playlist lagu indie saya. Dan nyatanya, basuhan hujan ikut memutar kembali ingatan saya, beberapa hari lalu...

Alun-alun selatan keraton Jogja dengan mitos diantaranya. (Imam Rahmanto)

***

"Hei, hujan loh?" ujar saya agak cemas. Tak enak hati melihat teman saya, Aan, memaksakan diri mengantarkan ke bandara internasional Adi Sucipto. Saya sudah terlalu banyak merepotkannya di kota ini.

"Tak apalah. Daripada kau ketinggalan pesawat," balasnya diantara deraian hujan.

Saya sebenarnya menawarkan diri untuk memboncengnya. Hanya saja, ia kekeuh membawa motornya sendiri. Katanya, tak elok jika harus masuk pesawat dalam keadaan kuyup. Meski sempat berteduh, kami melanjutkan perjalanan menembus hujan.

Entah bagaimana cara saya harus berterima kasih. Saya jadi terenyuh dengan kebaikan orang-orang di sekitar saya. Seberapa riuhnya saya hadir di kota tempat mereka menjalani pendidikan magister, saya selalu punya tempat untuk merepotkan hari-hari mereka.

***

.: 6 jam sebelumnya...

"Saya kenal wartawan yang pernah tugas di pengadilan itu. Duh, siapa namanya ya? Saya kok agak lupa..." ujar Pak Barmudin, lelaki yang menjadi penutup perjalanan sejarah saya di Yogyakarta. Ia mencoba mengingat-ingat nama wartawan media saya di zaman 90-an yang bertugas di salah satu kantornya.

Saya nyaris pulang ke Makassar dengan tangan hampa. Pasalnya, seluruh penelusuran di Jogja tak memberikan petunjuk terkait keturunan terakhir pejuang Makassar - disebut Prajuri Daeng - di zaman Kerajaan Mataram itu. Pun, usaha saya bolak-balik keraton tak membuahkan hasil dimana ia tinggal. Saya hanya menjumpai namanya dari penuturan beberapa orang (narasumber) yang bergantian saya sambangi.

Nyatanya, lelaki tua pensiunan hakim itu begitu hangat menyambut saya. Di depan pintu, ia sudah kadung antusias melihat gantungan ID pers yang menunjukkan asal saya. Kehangatan itu seolah menjadi penutup yang cukup manis bagi segala perjuangan saya menjelajah kota Jogja selama empat hari.

"Yah, dulu saya pernah di Makassar jadi hakim. Meskipun lahir dan sekolah disana, saya kuliahnya di Jogja," kisah lelaki yang kini menjadi salah satu petinggi pasukan di keraton Jogja itu. Namanya saja sudah bergelar Kanjeng Raden Tumenggung (KRT).

Lelaki berusia 73 tahun itu begitu akrab di atas meja makan. Meski sedikit sungkan, saya menjajal saja hidangan sate yang disajikan istrinya. Katanya, sang istri merupakan keturunan asli Jogja. Keduanya bertemu saat masa kuliah dulu, lantaran tempat tinggal sang istri tepat berada di sebelah dinding tembok keraton.

"Lha kok, tidak dimakan gado-gadonya tah?" ujar istrinya, melihat sepiring besar gado-gado masih lengkap dengan ulekan pecelnya.

"Inggih (iya, red), Bu. Aku sudah kenyang, kok," balas saya agak sungkan. Sepiring sate dan kupatnya sudah tak bersisa di hadapan saya.

Cerita yang bermula dari depan pintu, ruang tamu, meja makan, hingga ruang tamu itu sungguh melegakan. Saya tak pernah menyangka, kerinduannya dengan kampung halaman membuat Pak Barmudin begitu hangat menyambut saya. Ia yang paham banyak sejarah dan budaya Makassar - Jogja ikut membuka cakrawala berpikir saya. Bahkan, saya yang bukan asli Makassar, harus mengikuti alur sejarah yang menjadi penugasan kantor saya.

"Seandainya waktumu lebih banyak, saya akan ceritakan lebih banyak lagi. Ada banyak referensi juga yang mau saya tunjukkan," ujarnya lagi, masih antusias.

Ia sempat menanyai jadwal keberangkatan pesawat saya. Dengan sedikit menggeser waktunya lebih cepat, saya menjawabnya. Apalagi, redaktur juga sudah mewanti-wanti untuk menyetorkan naskahnya sebelum take off dari Jogja. Jika percakapan berlanjut lebih lama (dan sangat hangat), saya tentu tak punya banyak waktu mengejar deadline tersebut. Tak tahu lagi bagaimana cara mengakhiri obrolan tadi...

Langit juga sudah tak setenang biasanya. Di ujung sana, awan hitam sudah bergerombol menyuarakan isyarat rindunya pada bumi.

***

.: 8,5 jam sebelumnya

"Coba hubungi nomor ini......"

Saya menghentikan laju motor pinjaman dari Aan. Sebuah pesan singkat masuk di saat saya sedang memutar gas dan haluan kembali ke arah pusat kota. Saya menyangka tak ada lagi harapan di kota ini.

Tuhan masih berbaik hati. Dari ujung nomor telepon itu, seorang lelaki tua memberikan saya alamat rumahnya secara detail. Dari nada suaranya, ia bahkan cukup ramah jika seandainya harus menjemput pengembaraan saya di kota kediamannya.

"You sekarang ada dimana?" potongan suaranya yang mengingatkan saya pada para inetelek di masa penjajahan kompeni Belanda.

***

.: 9 jam sebelumnya...

Saya kebingungan mencari alamat rumah narasumber penutup ini. Jalan poros sepanjang Jogja - Wonosari telah saya lalui, sembari melirik kiri-kanan jalan. Kali aja ada nama-nama firma hukum yang mengindikasikan pekerjaan pensiunan hakim itu.

Lelaki bernama lengkap Barmudiningrat itu menjadi satu-satunya harapan saya untuk bernapas lega. Sebagai keturunan terakhir Daeng Naba di keraton, ia punya nilai historis yang cukup dalam. Diantara naskah lain yang telah saya tuangkan di kafe langganan setiap malam, ceritanya tentu punya sisi lain. Di samping itu, redaktur saya juga telah berpesan untuk menemukan nama lelaki yang didapatinya disebutkan dalam skripsi seorang mahasiswa asal Jogja.

Google Map memang telah berhasil mengarahkan saya ke jalan lintas kabupaten ini. Sayangnya, petunjuk saya di jalan poros ini tak begitu jelas. Tak ada nama desa yang bisa menjadi pedoman. Nama jalan ini hanya jadi acuan dari ujung telepon Pak Kusumanegara.

Saya kembali patah arang. Ingin rasanya menghubungi lagi Pak Kusumanegara untuk memperjelas nama desa tempat bermukimnya Pak Barmudin. Hanya saja, suaranya bernada enggan di sambungan telepon sebelumnya. Apalagi, ia sudah menyebutkan kesibukannya yang sementara menjalani rapat.

Alhasil, saya hanya bisa bertaruh dengan mengirimkan pesan singkat (sms) padanya. Dijawab atau tidak, hanya soal waktu. Lagi-lagi, karena ini hari terakhir saya di Jogja.

***

.: 10 jam sebelumnya...

"Maaf, Pak. Apa saya tidak bisa minta nomornya? Mungkin bisa saya hubungi saja untuk ditemui dimana gitu..."

Saya sebenarnya sudah dibuat jengkel dengan pegawai (entahlah bagaimana menyebutnya) Tepas Keprajuritan Keraton. Kepala Tepas, Kusumanegara teramat sulit untuk ditemui. Beberapa petunjuk memang mengarahkan saya padanya untuk mengulik tentang sejarah yang dibutuhkan. Akan tetapi, lelaki itu tak pernah berpapasan waktu dengan saya yang sudah bolak-balik menyambangi kantornya (di keraton) sampai empat kali.

Mungkin karena agak segan, pegawainya itu enggan membagikan nomor tersebut. Biasalah, di kultur Kejawaan, adab dan etika memang masih begitu tegas. Apalagi untuk lingkungan keraton yang memang tergolong istimewa daei akar sejarahnya.

Saya nyaris mengubur petunjuk terakhir itu. Tak mau lagi berurusan dengan salah satu petinggi keraton itu.

Akan tetapi, hari terakhir saya di Jogja bakal berakhir beberapa jam lagi. Tentu saja, saya masih butuh beberapa bahan untuk melengkapi naskah saya, yang terasa agak janggal dan menggantung. Jika saya menyerah sekarang, artinya penelusuran saya bakal sia-sia.

Saya memutuskan untuk duduk saja lebih lama di ruang tunggu kantor Tepas Keprajuritan itu. Hampir sejam lamanya memainkan gadget sembari mencari informasi di dunia maya.

Seorang pegawai perempuan mendekati saya. Ia menyerahkan potongan kertas kecil. "Coba saja hubungi beliau di nomor ini. Soalnya dia orangnya sibuk," lanjutnya.

Seperti mendapatkan oase di padang pasir, saya langsung saja menyambungkan telepon ke dua nomor miliknya itu. Langit masih nampak terang, secerah harapan saya.

KRT Nitibarmudiningrat. (Foto: Imam Rahmanto)

***

Hujan masih terus berlarian di luar sana. Akhir tahun memang sedang berjabat erat dengan cuaca nan sendu. Genangan dan tempias jadi sahabat paling dekat diantara kebisingan kota. Air hujan hanya jadi penumpang bagi selokan beton yang berujung ke sungai.

Keramaian lain tercipta dari atas kafe ini.  Argumen mahasiswa beradu dengan dentingan sendok dan piring di atas meja. Tentu, seruput minuman hangat tak bisa memecah suasananya. Akan tetapi, aromanya, sungguh, selalu menjaga saya tetap terjaga. Biasanya, jika sudah berhadapan dengan notebook begini, dua cappuccino tandas begitu saja.

Saya hanya bisa memandangi lalu-lalang kendaraan dari atas teras. Sesekali tempias hujan mengenai wajah.  Tak begitu mengesalkan. Sepanjang mata saya menjelajah, ada banyak mahasiswa lainnya di meja yang berbeda. Mereka juga nampak sibuk menuntaskan tugas (atau bahkan rindu) yang tengah menumpuk.

Saya senang menyaksikan keriuhan mereka dari ujung kursi. Meski hanya berbekal satu buku catatan kecil, cappuccino hangat, notebook, dan seorang lelaki yang tak saya kenal di hadapan (yang juga sibuk dengan laptopnya). Barangkali, karena kafe ini sedang ramai, ia tak dapat tempat untuk menyelesaikan tugas kuliahnya. Kesibukan mereka mengingatkan banyak hal di masa kuliah dahulu. Sebagian hal, yang mungkin takkan pernah kembali lagi. Sedikit hal, yang selalu saya rindukan.

Bayangan itu pun sebenarnya adalah kelebatan deadline saya di Jogja, empat jam sebelum menyusun perjalanan ke bandara...


--Imam Rahmanto--

Minggu, 27 November 2016

Telusur

November 27, 2016
(Imam Rahmanto)

Maaf, ini bukan kelanjutan perjalanan #OnedaytripJogja saya tempo hari. Saya justru belum punya kesempatan lagi melanjutkan cerita itu. Sementara, tangan Tuhan kembali mendorong saya untuk menyambangi kota cagar budaya itu, beberapa hari lalu. Tepat ketika petualangan offroad saya baru saja berakhir. Akh, entahlah, Tuhan selalu punya cara untuk membuat hati saya takjub dan terkejut secara bersamaan.

Itu semacam kejutan bagi saya. Saat menutup perjalanan di Jogja, dua bulan lalu, saya pernah bertekad bakal menghirup udara di kota tersebut. Bahkan, itu bukan sekadar tekad. Melainkan keyakinan bahwa saya tidak hanya sekali menginjakkan kaki di kota istimewa tersebut. Dan…. Lumos! Hal itu terwujud tanpa terduga.

“Kamu kan orang Jawa,” tutur salah seorang redaktur dari desk bersangkutan. Hal tersebut menjadi salah satu alasan penugasan "menjelajah". Padahal saya sebenarnya lebih mendalami peliputan olahraga, sebagaimana keseharian tugas saya di Makassar.

Sayangnya, kali ini, saya tak bisa menikmati keindahan Jogja secara mendetail. Nuansa Jogja hanya lamat-lamat saya rasakan lewat perjalanan “asal lewat”. Tak ada acara duduk-duduk, santai, jepret-jepret demi memenuhi memory di dalam kamera DSLR.

Satu-satunya hal yang membuat saya mendalami Jogja adalah perihal sejarah masa lalunya. Saya dipaksa belajar sejarah untuk mengungkap salah satu puzzle yang seharusnya saya temukan dalam rentang empat hari tersebut. Satu kepingan sejarah, menyebar menjadi sejarah lainnya. Cerita yang bercabang-cabang itu saya jumpai dari beberapa orang yang saya temui. Ck…padahal masa lalu untuk diikhlaskan ya? Tidak untuk dirangkai-rangkai kembali. Seharusnya kan kita move on. #ehh

Bagi saya, ini seperti skripsi dengan penelitian yang teramat mendalam. Apa yang saya lakukan selama rentang empat hari demi menguak sejarah masa lalu itu seperti seorang mahasiswa yang memecahkan hipotesis. Saya ingat, pernah juga menjadi mahasiswa berbekal penelitian untuk skripsi. Hanya saja, tidak sesulit mencari jarum di atas tumpukan jerami (milik orang lain) seperti ini.

Di kota orang, segalanya teramat terbatas. Pengetahuan terbatas. Kenalan dan jaringan yang terbatas. Pergerakan yang terbatas. Dana yang terbatas. Bahasa Jawa yang juga ikut terbata-bata. Ehem

Kesemuanya itu jadi berbeda jika saya mengunjungi Jogja semata-mata untuk liburan. Tak ada yang mesti dikhawatirkan dari segala keterbatasan itu. Kata teman saya, "Let’s get lost!" Keterbatasan justru membuat saya semakin bersemangat menjelajahi banyak tempat.

Sayangnya, dari sisi liputan, saya dipaksa menerapkan deadline. Yah, sebut saja efisiensi waktu. Beberapa keterbatasan itu memaksa saya untuk berpikir keras dan membuatnya lebih terang. Di balik semua tuntutan wajib dari kawalan redaktur.

Jogja itu termasuk tempat yang istimewa. Dibanding kampung kami, nun jauh di seberang Bengawan Solo, mereka punya adat yang agak berbeda. Hal semacam itu pula yang membuat saya agak kikuk berinteraksi dengan para petinggi keraton. Ada kromo (tata krama) khusus dalam menghadapi orang-orang yang masih lekat dengan keturunan pemerintahan monarki atau kerajaan. Untuk bisa menembus sisi istana, tak bisa asal njeplak sebagaimana penugasan umumnya. *garuk-garuk kepala

Terlepas dari semua itu, saya masih tetap menikmati segala pengalaman baru. Perjalanan kali ini membuat saya menyadari, menyusun kepingan sejarah tidaklah semudah satu halaman di buku-buku pelajaran sekolah menengah. Bahkan, semakin saya tenggelam dan memahami kenangan-sejarah, kesimpulan dari arahan guru sekolah kian berujung bias.

Saya semakin kagum dengan beberapa penulis novel, yang memperkaya ceritanya dengan nuansa alur sejarah dan budaya. Meski fiktif, sebagian alur cerita hingga backgroundnya dibuat menyerupai hasil observasinya terhadap kebudayaan atau kepingan sejarah tertentu. Setidaknya, mereka membaca banyak referensi sebelum menentukan kisah tokoh-tokoh di dalam novel panjangnya.

Jangankan novel, para komikus Jepang pun sering kali melakukan observasi terhadap cerita-cerita yang akan dituangkannya. Mulai dari tokoh, nama, tempat, hingga jalan cerita.

Tentu saja, usaha itu bakal berbeda dengan para penulis yang sekadar menuangkan kisah fiksi berdasarkan pengalaman semata. Tak jarang, lebih mudah membuat cerita yang termehek-mehek dari hasil curhatan pribadi atau orang lain. Pun saya, sebenarnya punya ketertarikan dengan segala jenis cerita orang lain. Kepingan sejarah (berupa fakta) punya garis yang lebih tegas.

Duh. Saya harus berhenti sebentar.

Saya masih harus mengumpulkan kepingan “kenangan” Jogja yang terserak. Dua cappuccino di depan saya sudah ludes mala mini. Tak bersisa hanya untuk menemani mata saya tetap terjaga di antara keramaian mahasiswa di kafe pinggir jalan ini. Angka digital di pergelangan tangan menampilkan angka 22: 15. Dan sebenarnya masih ingin memesan segelas lagi, sayangnya….. ini masih tanggal tua.

Wajar saya semakin sulit untuk menggemukkan diri. (Imam Rahmanto)


--Imam Rahmanto--

Senin, 21 November 2016

Berteman dengan Tantangan

November 21, 2016
(Foto: Imam Rahmanto)

Sumpek dengan suasana perkotaan, saya akhirnya bisa menemukan hiburan baru. Sedikit liburan meski kenyataannya masih dalam lingkaran pekerjaan sebagai wartawan. Saya mendapatkan tugas untuk mengikuti agenda kegiatan Indonesia Offroad Expedition (IOX). Rutenya tak begitu jauh, lantaran hanya menyusuri kawasan Makassar, Gowa, hingga Maros.

Setidaknya, saya tetap menikmatinya sebagai liburan karena menjauh dari perkotaan selama tiga hari. Dari hutan beton ke hutan yang sesungguhnya. Lagipula, yang namanya offroad selalu memberikan debar kesenangan tersendiri. Meski sudah sering membuat naskah terkait salah satu olahraga hobi ratusan juta itu, saya baru pertama berjibaku dengan lumpur, pedalaman hutan, dan suasana nge-trek asli ala-ala para offroader profesional. #aseek.

"Jangan telat bangun lagi ya," pesan redaktur. Saya menyisakan "dosa" karena lalai dari penugasan keluar kota lainnya, seminggusebelumya.

Saya terpaksa masih menahan kantuk di pagi hari. Demi tak telat lagi, saya memaksa diri untuk tetap terjaga hingga pagi. Tak ada cara lain. Selain itu, saya juga kadung bersemangat ingin menjajal perjalanan menembus hutan itu dengan bayang-bayang berkemah diantara gelapnya rimba. Ingin menjajal perjalanan ekstrem. Saya juga kan orangnya anti-mainstream.

Ada 33 kendaraan peserta offroader dalam ajang IOX tersebut. Mereka terbagi dalam tujuh tim, yang diberi nama binatang. Ada Anoa, Kancil, Anaconda, Belibis, Kijang, Lebah, dan sebagainya. Sementara, beberapa kendaraan milik panitia atau official yang jumlahnya tak sampai 10 jip menjadi tumpangan saya (bersama media lain) untuk menuntaskan misi liputan.

Percaya atau tidak, saya seperti kembali ke masa kanak-kanak dengan susuran jalan offroad tersebut.

Sesuai agenda, kami dibawa untuk meliput berbagai rintangan dan tantangan buat peserta. Selama perjalanan, kami hanya melewati jalan-jalan kecil, yang kelihatan hanya bisa dilalui jalan setapak. Jalan beraspal hanya sebagai pembuka perjalanan ekstrem sebenarnya. Bentangan itu mengingatkan saya dengan nuansa perkampungan saat masih kecil.

Hijau persawahan dan ladang di kiri kanan menyambut proses penaklukkan kecil-kecilan kami. Yah, tentu saja tak se-ekstrem trek para peserta sesungguhnya.

"Kalau kita ikut 'main' juga, bisa-bisa kita yang diurus. Bukan kita (panitia) yang mengurus mereka," ujar Rio, panitia yang mengemudikan Land Cruiser dan mengantarkan kami ke setiap titik atau trek peserta.

Akan tetapi, perjalanan mendaki gunung bukan hal yang mudah. Di atas mobil, kami tak pernah bisa tenang. Goncangan seolah jadi teman yang mesti kami rangkul selama perjalanan. Tetapi, justru hal semacam itu yang membuat kami tertawa-tawa sepanjang perjalanan. Apalagi saat kami baru saja menyeduh cappuccino sachet, yang tumpah-tumpah dari dalam bekas gelas aqua sepanjang perjalanan.

Hal begini sudah biasa. (Foto: Imam Rahmanto)
Menyenangkan pula merasakan kendaraan "monster" itu menembus medan berat. Saya sampai harus bermandikan lumpur karena nekat ikut bersama panitia yang ingin melintasi jalur berlumpur. Tetapi, tetap seru. Mana pernah lagi kita yang sudah se-gede begini pernah bermain lumpur di tengah sawah? #alibi

Saya harus akui, para penunggang mobil monster ini merupakan orang-orang yang nekat dan punya nyali. Bayangkan saja, permukaan tanah becek, berlumpur, pasir, berbatu cadas, hingga landai mampu diterobos tanpa pandang bulu.

Bagi orang awam, kondisi medan itu teramat mustahil bisa dilalui. Akan tetapi, para pengemudi offroad ini membuktikan bahwa batu-batu cadas di hadapan mobil tak mampu menghentikan kekuatan empat rodanya terus berputar. Mesin tak henti bergerung. Berbekal kerja sama para navigator maupun kru, kendaraan tetap melaju perlahan.

Mobil-mobil ban besar itu dipaksa menembus medan berat. Bahkan lintasan berlumpur juga dengan mudah diterobos. Tak jarang mobil dibuat kehilangan keseimbangan dan harus bertumpu pada salah satu sisinya. Kami, sebenarnya malah menyukai momen seperti itu. Pun, jika terbalik karena mendaki bukit terjal dengan kemiringan yang hampir mencapai 80 derajat, ada harapan di hati kecil kami agar melihatnya secara langsung. #ehh

"Kalau terbalik begitu, sudah biasa. Karena setiap mobil kan sudah dilengkapi safety memadai. Orangnya malah ketawa-ketawa dan tidak kapok mencoba lagi," cerita Rio, salah satu panitia yang selalu mengantarkan kami dengan Land Cruiser cokelatnya.

Oh ya, ada yang khas dari mobil semacam ini. Pernah dengar whinch? Semacam tali penarik bermotor yang dipasang pada setiap mobil offroad. Gunanya memang untuk menarik mobil dari jalur-jalur ekstrem. Kalau pernah menonton film Batman atau superhero lainnya, tali baja itu mirip dengan senjata yang kerap dipasang pada bumper depan kendaraan mereka. Ditembakkan, lalu mengait pada landasan atau tiang target. Sayangnya, khusus mobil offroad di dunia nyata tak punya kekuatan menembakkan semacam itu. Whinch aktif hanya bisa dikaitkan manual ke arah target yang biasanya berupa pohon besar.

Berapa harganya? Sudah saya katakan, olahraga hobi ini memakan total pengeluaran hingga ratusan juta rupiah. Untuk whinch standar saja, para offroader mesti merogoh kocek yang setara dengan harga satu motor ninja.

Mobil yang mendaki seperti itu butuh whinch untuk membantu tarikan. (Foto: Imam Rahmanto)
Di beberapa trek, saya menjumpai para offroader yang terjun langsung menghadapi tantangan lintasannya. Paling menyeramkan, menurut saya, jalur berbentuk huruf abjad "V". Jangan bayangkan lintasannya turun mulus dan kemudian menukik mulus lagi. Permukaannya justru bergelombang dan cenderung tak teratur. Permukaannya itu dipengaruhi akar-akar pepohonan di sekitarnya. Belum lagi dengan sungai kecil yang berada di bawahnya, memisahkan dua ketinggian tersebut. Dibutuhkan bantuan whinch untuk mempertahankan agar mobil tak kebablasan terjun.

Di hari berikutnya, kami pun dibawa ke jalur yang lebih ekstrem. Lokasinya di tengah hutan. Tanah landai dengan batu-batu cadas yang mencuat dari permukaan. Kemiringan pun sampai 80 derajat. Di lokasi lain, kami diperlihatkan usaha mobil yang hendak melintasi sungai yang lebarnya tak sampai 10 meter. Hanya saja, mobil harus menukik beberapa meter untuk bisa masuk ke dalam air. Jika tak beruntung, sisi depan mobil bisa menghantam dasar sungai dan membawa drivernya terbalik sama-sama.

***

Saya benar-benar menikmati damainya pegunungan tanpa beton menjulang. Semak belukar. Rumput. Sungai. Pohon. Tanah lapang. Becek. Lumpur. Seandainya langit tak mendung, ada banyak cahaya bintang yang bisa menemani perjalanan malam hari. Padahal, itu hal utama yang saya harapkan. Kota sedang tak ramah dengan sajian polusi cahayanya.

Kami juga dibawa menerobos belukar hutan dengan kendaraan 4WD. Tak ada jalur lain yang bisa dilalui untuk sampai ke tujuan. Sebagaimana jalanan itu hanya muat untuk kaki-kaki setapak.

Saat menghadapi berbagai macam rintangan pun, saya cukup dibuat kagum dengan para offroader. Mereka masih punya banyak hal untuk ditertawakan. Sekali-kali, teriakan para navigator diantara derasnya sungai mengundang tawa. Pun, di tengah keterbatasan hutan, mereka mampu bekerja sama tanpa ada prasangka satu sama lain.

Sayangnya, yang paling mengesalkan adalah terbatasnya sambungan jaringan data. Saya jadi tak berdaya tanpa GPS yang bisa dioptimalkan menjelajah kemana-mana. Sesuatu yang ingin saya tanyakan ke "mesin pencari" akhirnya menumpuk satu per satu di kepala.

"Kalau ada agenda seperti ini lagi, saya mau ikut lagi," ungkap fotografer saya.

Yah, segala hal yang mendebarkan, ternyata justru bisa menjadi candu yang menguatkan.



--Imam Rahmanto--

IG: @cappuccino_time