[RESENSI][carousel][6]

Kamis, 14 Desember 2017

Auto Pilot

Desember 14, 2017
"Eh, seharusnya kan tidak lewat sini?" tanya seorang kawan.

Kami berboncengan mengendarai motor diantara padatnya jalanan kota Makassar. Sebenarnya, malam sudah nyaris larut dan mengantarkan orang-orang terlelap dan lepas dari kesibukannya. Hanya saja, saya punya satu janji temu yang mesti dituntaskan dengannya malam itu.

Saya hampir saja lupa dengan lekuk dan kelok jalan kota. Sudah genap sebelas bulan saya menghabiskan waktu liputan di kampung halaman. Kesempatan berbaur dengan aroma kota hanya sesekali mampir dan dituntaskan. Saya masih terlalu bahagia dengan kehidupan ala "anak kampung". Selebar-lebarnya jalanan di kota, masih lebih lapang lintasan jalan di kampung. Bagaimana tidak, lebar jalanan di kota berbanding lurus dengan membeludaknya kendaraan bermesin para pekerja kantoran.

Jalan yang saya tempuh sebenarnya tak sepenuhnya salah. Ingatan-ingatan yang tersisa di kepala mengambil alih kendali. Seolah sudah terprogram otomatis di kepala. Barangkali karena sudah terbiasa melalui jalan yang sama, selama berminggu-minggu, atau bertahun-tahun silam. 

"Eh, alamatnya lewat!"

"Waduh, kejauhan. Harusnya bisa lebih dekat lewat sana,"

Tak jarang, hal yang sama juga berlaku dalam perjalanan-perjalanan menuju tempat lain. Sistem "auto pilot" biasanya menjadi panduan. Pokoknya, jika sudah terbiasa melalui jalan yang sama, berulang-ulang, berkali-kali, kita bisa mengendalikan motor tanpa kesadaran penuh. Biasanya ya, karena kita memang sedang memikirkan hal lainnya di waktu mengendarai motor. Jadinya, kesadaranlain mengambil alih.

Itu loh, biasanya dalam dunia penerbangan, sistem kendali otomatis semacam itu menjadi urusan komputer tanpa campur tangan manusia. Padahal, tanpa kita sadari, sebenarnya sistem itu juga berlaku dalam kepala kita dalam mengendalikan apa pun. 

(Foto: Imam Rahmanto)

Dalam kehidupan sehari-hari, sistem mengendarai motor pun hampir sama. Bagi saya, autopilot tetap bisa berlaku dalam kehidupan dan semesta. Semesta masing-masing juga punya sistem auto pilot-nya. Semesta manusia, bukan sekadar semesta antariksa, yang memang sudah berputar dan berjalan otomatis pada porosnya masing-masing. 

Ini hanya soal kebiasaan saja. Kebiasaan kita dalam menjalani kehidupan seharusnya sudah dipancang jauh-jauh hari. Tak sekadar "biarkan hidup mengalir seperti air." Sistem manual seperti ini sama sekali tak menunjukkan "kecanggihan" hidup. *tsahh.

Asalkan kita sudah menanamkan tujuan-tujuan itu dari awal, sistem auto pilot akan terbentuk seiring hal-hal yang diperbuat untuk meraih tujuan itu. Kadang-kadang ia bekerja tanpa disadari. 

Semisal mencanangkan tujuan hidup, cita-cita, impian-impian yang ingin diraih, barang-barang yang ingin dikoleksi, dicanangkan dengan cukup ketat. Tetapi bukan sekadar berimajinasi terhadap hal-hal itu. Seperti kata para pakar motivasi dan inspirasi, tak ada salahnya menuliskan di secarik kertas atau buku yang menjadi jurnal. Menuliskannya, pertanda kita benar-benar serius menginginkannya. Seperti kata gombalan, "kuukir namamu dalam hati agar benar-benar abadi dan tak terlupa oleh ingatan." 

Ketika benih "tujuan" itu sudah tertanam, apa pun yang dilakukan arahnya akan menuju kesana. 

Kendali otomatis itu juga sangat dibutuhkan loh. Semangat yang fluktuatif menunjukkan bahwa kita hanya manusia biasa. Di kala semangat sedang turun-turunnya atau jeblok sekaligus, mekanisme auto pilot bisa saja mengambil alih. Ia akan bekerja sampai kita kembali siap memegang kendali. 

Setidaknya, saya mengalami banyak hal dengan kendali otomatis itu. Betapa Tuhan punya kendali dalam mewujudkan apa yang bergaung dari alam bawah sadar... :) []


--Imam Rahmanto--

Minggu, 03 Desember 2017

Pelukan

Desember 03, 2017
Puncak Rante Mario begini, kapan lagi ya? (Imam Rahmanto)
"Kalau saya di Enrekang, ajak ke Latimojong nah," komentar seorang teman, yang berlanjut dalam pesan pribadi.

Teman lelaki saya itu baru saja mengomentari sebuah unggahan di Instagram, yang sebenarnya tak berkaitan dengan sesuatu yang dikomentarinya itu. Barangkali, hanya karena merasa momennya, setidaknya mengingatkan saya yang tidak begitu aktif dijumpai di dunia maya. 

Saya menganggap ajakan itu sebagai isyarat, bahwa sudah saatnya saya harus kembali mengepak ransel, menikmati alam. Meskipun saya ragu bisa menjadi penunjuk jalan baginya, setidaknya ada kenalan di sekitar pendakian itu kok. Momen dadakan semacam itu kerap kali lebih bernilai pahala dibanding hal-hal terencana dan sistematis.

Banyak hal yang kemudian saya pelajari sepulang dari proses pendakian itu. Saya dipaksa untuk melengkapi atribut travelling atau perjalanan yang bersifat pribadi atau individual. Sepulang dari gunung, langsung mengencangkan tekad untuk melengkapinya satu demi satu. Kalau sebelumnya saya menginvestasikan gaji bulanan dengan aroma buku, maka berbelok sedikit dengan investasi perlengkapan travelling. Lagipula, nyari toko buku di Enrekang teramat-sangat-amat-susah-sekali-banget.

"Jadi, ceritanya ini ketagihanko mau naik gunung terus?"

Meski bukan pecinta kegiatan mendaki, saya tetap menganggapnya hal yang perlu. Terkadang, kita butuh tempat-tempat maha luas untuk menghilangkan kejenuhan. Sementara alam sudah menyediakan banyak tempat untuk bisa merenung atau berkontemplasi. Siapa yang bisa menyangka saya akan lebih sering menjelajahi tempat-tempat serupa, meski di daerah yang berbeda?

Bukan naik gunungnya yang membuat saya begitu tertarik. Sebaliknya, saya justru menikmati alam yang begitu memukau dalam proses perjalanannya. Pemandangan baru selalu menawarkan sensasi baru. 

Barangkali, kehidupan saya akan diwarnai dengan banyak perjalanan. Entah bagaimana caranya, seolah ada yang membisiki untuk terus bergerak. Ayo, ayo, berjalanlah. Kuy! Bisikan-bisikan itu menjelma dalam bentuk paling dramatis yang bisa saya bayangkan. Bagi manusia, itu sudah terencana. Namun jauh di balik sepengetahuan akal kita, hal semacam itu semata-mata merupakan skenario yang dijalankan semesta.

Serius. Beberapa ajakan berpetualang sempat mendarat dalam lini harian saya. Beberapa hari yang lalu, ada tim pendakian difabel yang hendak menapaki puncak Gunung Sesean, di kabupaten tetangga. Saya cukup familiar dengan puncak itu. Beberapa anggota tim juga merupakan kenalan saya. Sayangnya, saya mengabaikan karena berada di luar wilayah "hukum" tugas peliputan sehari-hari.

"Imam, kau buatkan naskahnya ya," pesan redaktur keesokan harinya. 

Lantaran teman (senior) yang berada di daerah bersangkutan sedang keluar daerah. Lah, kalau tahu begitu, saya lebih baik ikut bersama rombongan itu sejak awal. Penyesalan yang mendalam. #jlebb

Kepolosan seperti ini masih cukup meneduhkan kepala diantara terik tugas-tugas menembus jarak. (Imam Rahmanto)

Kukuhnya pertahanan saya untuk tetap berada di Enrekang juga dilatari oleh keinginan untuk menjelajahi lebih banyak tempat keren. Saya sudah terlalu blenger dengan suasana perkotaan yang hanya bisa memamerkan kebahagiaan-kebahagiaan semu. 

"Yah, teman-teman saya juga lebih banyak bertanya dengan kehidupan saya disini. Mereka kabanyakan iri dengan aktivitas saya, yang kelihatan seolah banyak jalan," cerita seorang teman, yang pernah 18 tahun menghabiskan hidupnya di Jakarta.

Baginya, hidup di perkampungan jauh menawarkan kedamaian. Tak ada kepura-puraan. Meski tak dilumuri banyak kemewahan, ia masih bisa hidup dengan kepuasan. Masih bisa mengangkat tripod dan lensa kameranya ke tempat-tempat tinggi. Masih bisa tertawa-tawa menyiasati masalah percetakan sablonnya yang biasa ketiban listrik padam dadakan. Pun, kemewahan masih bisa dipesan sekali-dua kali melalui jaringan belanja online. Saya juga sudah terpapar "virus" belanja modern semacam itu.

Saya beruntung berkenalan dengan teman-teman yang suka-jalan dan photography enthusiast. Kadangkala, ajakan juga mendarat di pesan-pesan gawai. Tak jarang pula, mereka berpetualang hanya dengan mengajak anggota komunitasnya. 

Saya sendiri berpikir, ada masanya kejenuhan bakal menghampiri kehidupan disini. Sekuat-kuatnya saya bertahan agar tidak beranjak, perasaan itu akan tiba. Kejenuhan bukan hal yang bisa ditolak mentah-mentah. Setiap orang punya titik jenuhnya. Bahkan untuk ukuran orang-orang yang selalu punya waktu luang, tak melakukan apa-apa, bisa juga dihinggapi rasa bosan-tak-melakukan-apa-apa.  

Akan tetapi, sejenuh-jenuhnya kehidupan manusia, alam selalu punya cara terbaik untuk menghadiahkan pelukan. Kehidupan terakhir manusia, juga, semata-mata jatuh ke haribaan alam.

Setidaknya, saya mesti bersiap-siap saja dengan segala kemungkinan (kejenuhan) itu. Tak perlu kecewa dengan risiko terburuk. "Jangan karena takut gelombang, maka kamu takut berlayar. Jangan karena takut patah hati, kamu takut jatuh hati. Dan jangan karena takut hujan, maka kamu takut cuci motor." #ladalah

***

Beberapa hari ini, saya sedang  merancang perjalanan ke Makassar. Banyak janji temu yang mesti ditunaikan. Sayangnya, cuaca kota yang sedang tak bersahabat membuat saya tak ingin begitu tergesa-gesa. Hujan kian menyiratkan lebih banyak genangan di kota ribuan beton itu. Frasa genangan selalu karib dengan kenangan.

Sebenarnya beberapa kenangan memang patut disambangi. Mengutip status teman dari jauh, Apa persamaan mangga dan rindu? Bila sudah matang, segeralah dipanen. 

Jangan biarkan perasaan rindu terlalu lama dipendam. Rindu jalan. Rindu teman. Rindu keramaian. Padahal, sebenar-benarnya rindu saya berputar pada aroma buku-buku baru dari Gramed**. Hahaha...menghabiskan "nafsu" buku. Oiya, bisa sekalian nengok toko-toko perlengkapan outdoor sih.


--Imam Rahmanto--  

Minggu, 26 November 2017

Mandek

November 26, 2017
Hujan baru saja berhenti. Beberapa jam yang lalu, mengguyur tanpa aba-aba. Saya  tak bisa memastikan langit mendung karena tertutup gulita. Kecuali, tak ada gemerlap bintang menjadi penandanya. Toh, samar-samar cahaya sabit masih setia bersinar. Beberapa hari ke depan katanya bakal ada purnama supermoon.

Seperti biasa, senyap menyergap diantara bangku-bangku warkop tongkrongan saya. Meskipun di kosan sudah tersedia Moka Pot untuk mengolah kopi jadi espresso, saya tetap rutin menyesap kopi dari tempat ini. Barangkali sekadar melepas perbincangan ringan dengan pemilik warkop atau teman tongkrongan rutin. Atau hanya menatapi layar notebook yang makin membuat mata saya minus.

Salah satu alat coffee-maker itu baru saja tiba beberapa hari yang lalu di kamar saya. Sebagaimana keinginan untuk mengolah kopi (tanpa instan) secara manual. Sayangnya, masih kurang grinder kopi. Terpaksa, saya memesan kopi setelah digrinder langsung. Tenang saja, saya juga akan melengkapi kosan dengan grinder kopi itu.

Beruntungnya lagi, seorang teman dari Jawa juga berniat mengirimkan biji kopi roasting-nya untuk saya. Malah, biji kopi dari Papua. Katanya sih, coffee-bean itu dari sisa pameran timnya di Jakarta. Lumayan kan buat eksperimen seduhan kopi. 

"Tapi situ yang tanggung ongkir ya," todong teman saya. Pastilah.

Saya memang butuh sesuatu yang baru untuk mengatasi kejenuhan dalam beberapa hari ini. Bahkan, urusan kirim-mengirim berita, saya jadi agak ogah-ogahan atau seadanya. Saya tidak begitu memaksakan diri lagi dalam hal pekerjaan. Bagi saya, bekerja ya secukupnya saja. Mau memaksakan diri juga tidak begitu bermanfaat karena keterbatasan "kuota" atau jatah berita bagi anak-anak daerah. Saya justru harus mengakalinya dari medium lain.

Semenjak "badai" kemarin, saya belum merasakan perubahan berarti di tubuh perusahaan media kami. Saya justru semakin melihat sesuatu yang memang dicemaskan petinggi-petinggi yang hengkang. Keberpihakannya semakin terasa sih. Barangkali hanya karena saya jauh berada di daerah, maka nuansanya tidak terasa. 

Itulah kerennya berada di daerah. Gonjang-ganjing di kota hanya sebatas kabar-kabar yang kabur. Seperti sinyal telepon yang juga agak lemah di perkampungan, informasinya juga tak begitu jelas. Tetapi, itu justru membuat kepala saya terasa tenang dan ringan.

Beberapa hari ini, saya sebenarnya ingin mencari tempat-tempat untuk berkemah atau menjelajah alam. Sayang sekali kalau Sleeping Bag (SB) anyar saya tergeletak saja di dalam kamar. Apalah daya, tak ada ajakan. Atau sebenarnya, saya saja yang tak ada inisiatif. Terlalu banyak pilihan mau kemana. Akhirnya, tergeletak dan tak ada yang terealisasi. Hahaha.....

Menggantikan perjalanan outdoor dengan membaca buku juga masih itu-itu saja. Toh, bacaan saya belum kelar-kelar. Selalu saja ada yang menyela atau mengganggu, termasuk keinginan membuka-buka media sosial. Ckckck... wajar kalau target bacaan tahun ini kembali mandek. 

Ini semua nyambung-nyambung saja ya? Iya. Gitu doang. 

Yang namanya Moka Pot itu tuh. (Imam Rahmanto)


--Imam Rahmanto--

IG: @cappuccino_time