[RESENSI][carousel][6]

Rabu, 31 Agustus 2016

Bahasa Kaku

Agustus 31, 2016
"So, what do you think about your training today?"

Itu bukan salah satu jenis wawancara yang patut diteladani. Apalagi kalau narasumbernya orang Indonesia tulen.

Sebenarnya, salah satu pertanyaan bernuansa British itu yang kerap dilontarkan buat narasumber asing. Salah satunya, pelatih klub sepak bola PSM, setiap kali khatam latihan di lapangan. Kata teman, yang juga menjadi tandem liputan (sekaligus senior), itu selalu menjadi pertanyaan pamungkas untuk pelatih asing. Ia sudah khatam berhubungan dengan eks pelatih asing PSM lain, seperti era Hans Peter Schaller, Wolfgang Pikal, hingga pelatih timnas Alfred Riedl.

Saya membenarkannya. Yah, sebagaimana yang sering dipelajari saat menginjak bangku sekolah. Itu salah satu kalimat tanya untuk menanyakan pendapat, selain kalimat lain bernada sama, seperti, "How about......," atau "According to you, ....."

Setelah kalimat-kalimat jawaban terlontar dengan sangat lancar dari sang bule, barulah pertanyaan lanjutan akan muncul. Akan tetapi, disesuaikan dengan keterampilan sang wartawan dalam berbahasa Inggris. Praktis, hanya beberapa wartawan saja yang mampu meladeni wawancara tingkat tinggi itu. #uhukk

Meskipun sebenarnya pelatih klub PSM (yang sebenarnya asli Belanda itu) punya penerjemah sendiri di setiap sesi wawancara dengan para kuli tinta. Pelatih yang "sikit-sikit" pandai berbahasa Melayu itu sudah hampir tiga bulan menukangi skuat kebanggaan Sulsel.

Sumber: nascotours.com

Proses wawancara semacam itu justru menjadi keunikan (dan tantangan) tersendiri bagi saya. Betapa menyenangkannya bisa menjajal keterampilan berbahasa Inggris di dunia yang lebih nyata. Serius. Meski masih belepotan, saya sudah sejak lama menanti-nanti waktu (kocak) bisa bercuap-cuap ala British.

Di waktu lain, saya ditugasi liputan berbeda yang berbau internasional. Masih dalam lingkup olahraga. Kali ini, event tenis berskala internasional sedang dihelat di Makassar. Kalau pernah mendengar nama Sharapova atau Djokovic, berarti jenis olahraga yang dibayangkan sudah benar. Indonesia sendiri ternyata punya petenis andalannya yang masuk ranking dunia; Christopher Rungkat.

Lawan tandingnya berasal dari berbagai negara di luar Indonesia. Singapura. Taipei. China. Thailand. Philipina. Belgia. Jerman. Meksiko. USA. India. Beberapa petenis ranking dunia berkumpul lantaran salah satu event itu masuk dalam agenda International Tennis Federation (ITF).

Gairah "sok-British" saya kembali tersulut. Tentu saja, karena saya tahu, semua peserta bakal disatukan dalam bahasa yang sama: Inggris. Oleh karena itu, kesempatan emas untuk melakukan wawancara dengan para petenis asing, yang tidak benar-benar berasal dari negara "bule". Tinggal mencari "mangsa" saja. Akh, masa bodoh kalau bahasa saya juga terlihat belepotan. Begitu pikiran saya.

"Excuse me, Sir,"

"Yahh?" seorang pria berwajah India, saya cegat paksa.

"Which one player with name Kunal Anand?"

"Oh...hei, Kunal! That is, Sir. Him." ia menunjuk seorang teman yang lebih dulu berjalan dan sempat melewati saya.

"Oh, hei, Sir, sorry," sambil menjabat tangan lelaki asing itu. Tubuhnya leih tinggi beberapa centi dari saya.

"I am Imam, journalist from ~~blabla~~ newspaper. From here, Makassar. Can I get your time, a few minute, for an interview?"

"Yeah...sure," bule itu mengangguk-angguk. Entah mengerti dengan ujaran saya atau sama sekali kebingungan.

Barangkali, potongan translate di atas masih jauh dari sempurna. Yah, kalau dinilai menggunakan TOEFL atau berbagai tes formatif lainnya, masih jauh dari harapan agar mendapatkan sertifikat membanggakannya.

Akan tetapi, ada satu hal soal bahasa yang selalu saya percayai. Bahasa sebenarnya bukan penghalang untuk bisa berkomunikasi dengan siapa saja di dunia ini. Beberapa formalitas hanya untuk menekankan beberapa keperluan administratif untuk kepentingan lainnya.

"Ada satu bahasa universal yang bisa menyatukan siapa saja di belahan dunia ini: senyuman."

Seorang teman, yang pernah melakukan perjalanan nekat backpacking ke negara Malaysia, Singapura, Laos, Vietnam, hingga China bahkan tak butuh teori Bahasa Inggris dalam-dalam. Ia hanya menyempatkan diri terjun ke Kampung Inggris Pare, Kediri, sekira sebulan-dua bulan. Tahu, kan, salah satu perkampungan menimba ilmu bahasa Inggris itu? Selanjutnya, nekat menyeberangi perbatasan negara hanya untuk memuaskan nafsu petualangannya. Hasilnya? Ia masih bisa pulang dengan selamat, membawa ole-ole segudang cerita.

"Saya cuma tahu Yes atau No, dan istilah umum lainnya. Kalau kepepet, bisa pakai bahasa isyarat," ceritanya. Ia cuma membekali diri dengan buku saku percakapan umum dalam bahasa Inggris.

Di tempat lain, sang guru besar Universitas Indonesia, Rhenald Kasali pernah memaksa semua mahasiswanya di kelas Pemintal (Pemasaran Internasional) untuk memantapkan hati pada destinasi negara idaman masing-masing. Syaratnya: tak boleh yang berbahasa akar Melayu. Rinciannya, mereka wajib mengunjungi negara itu bermodal paspor yang telah ditugaskan seminggu sebelumnya. Parahnya, tak semua anak modern di perkotaan ternyata juga paham dengan bahasa yang selalu bersaing dengan pelajaran bahasa Ibu di bangku sekolah itu.

Bagaimanapun, rencana jenius sang guru besar tetap berjalan lancar. Meski sebagian mahasiswa punya kemampuan bahasa pas-pasan, mereka tetap percaya diri untuk "kesasar" di negeri orang. Mereka justru dapat banyak pengalaman berharga yang bisa bikin kita iri setengah mati.

Bukankah, hanya butuh modal nekat?

Salah satu koleksi foto epik sahabat saya. (Foto: Fajrianto Jalil)

Berbincang langsung dengan orang-orang native speaker memang hal yang selama ini saya buru. Beberapa kali, saya meminta teman di Australia untuk mencarikan partner teman asing yang tak pandai berbahasa Indonesia. Alasannya, ya, biar saya bisa berkomunikasi dengan "teman baru" itu. Biar via jejaring sosial, hanya untuk memperdalam "cemplungan" bahasa itu. Saya ingin belajar autodidak. Secara langsung. Sayang, belum dapat.

Selain niat "nyemplung", saya juga berusaha lebih banyak mendengar lagu-lagu Inggris sih. Memasang pengaturan segala perangkat handphone dengan bahasa Inggris. Menyelipkan sedikit istilah Inggris ke beberapa pesan. Atau menonton film (anime) dengan subtitle Inggris.

Intinya, tak perlu menunggu benar kalau ingin belajar berbahasa. Kalau selalu takut salah (berbicara), kapan benarnya?

Kalau Anda penggila PSM, tentu kenal dengan sosok Robert Rene Alberts ini (putih). (Foto: Imam Rahmanto)

***

Itu cuma sedikit dari keasyikan merangkum wawancara dari narasumber asing. Kelak, tak hanya narasumber asing yang akan saya wawancarai. Melainkan tiba di suatu tempat, yang benar-benar asing dan memulai segalanya lewat bahasa asing.

Yes, with my pleasure...

--Imam Rahmanto--

Sabtu, 27 Agustus 2016

Kisah Manis NU dan Muhammadiyah

Agustus 27, 2016
"Menjadi orang Islam modern itu bukan berarti mengabaikan semua hal yang tidak masuk akal. Berpikiran maju itu tidak berarti hal-hal yang berasal dari masa lalu itu kemudian diabaikan." Kambing dan Hujan, hal.117

Pertama kali mendapati sampul hijaunya, bertumpuk bersama jejeran buku lain. Tergolong baru didatangkan oleh toko buku di Jalan Mallengkeri, Makassar. Kebiasaan saya memang rutin mengunjungi toko buku itu tiap bulan. Kalau rezeki bulanan sudah ada, tak jarang saya bakal berburu satu-dua judul buku disana. Selain harganya lebih murah, saya juga masih bisa mendapatkan judul buku yang tak lagi dipasarkan di toko buku resmi, sekelas Gramedia.

Pilihan bacaan tepat. (Imam Rahmanto)

Saya rindu dengan bacaan-bacaan dalam negeri. Memang sih, bacaan-bacaan berkualitas di Tanah Air masih langka. Akan tetapi, saya terkadang suka membaca beberapa karya pengarang lokal lantaran kedekatan dengan jalinan cerita. Gambaran tempat dari secuil ceritanya bisa membuat daya penasaran begitu terjajah. Tak ayal, saya pun tergoda ingin menyelaminya lebih dalam.

Bisa dikatakan, saya jatuh cinta pada pandangan ringkasan pertama Kambing dan Hujan. Sinopsis ringkas di bagian belakang sampulnya memadu roman cinta + aliran agama. Itu semakin membuat saya menggebu-gebu untuk bisa membawanya pulang. Soal penulisnya siapa? Saya lebih suka memilih buku secara acak, tanpa perlu membandingkan kepopuleran penulisnya.

Sebulan, sempat disela satu novel tebal yang membuat kepala terputar-putar. Saat merampungkan "Kambing dan Hujan", saya juga masih menunda untuk menamatkan salah satu novel itu bertema sejarah itu. Karya milik Makhfud Ikhwan ini justru mendorong saya untuk lahap membaca. Serius.

Bahkan, saya berani menggaransi, kisah Kambing dan Hujan akan membuat kita nyengar-nyengir.

Tak ada cerita sedih dalam alur cerita Kambing dan Hujan. Ritmenya justru terkesan agak bersemangat dan mengalir begitu saja. Beberapa kejadian agak lucu lantaran mengaitkan "persaingan" agama (dalam hal ini NU dan Muhammadiyah). Bagian seperti ini yang benar-benar menggelitik dan menampar separuh kesadaran kita.

Jangan berharap menemukan kisah-kisah melankolis dalam buku ini. Bertutur tentang perjuangan cinta antara sang tokoh sentral, Miftahul Abrar (anak tokoh Muhammadiyah) dan Nurul Fauzia (anak tokoh NU). Namun kita takkan menemukan kisah roman seperti Tenggelamnya Kapal van Der Wijk yang romantis nan syahdu, atau Dilan yang lucu nan kreatif. Apalagi kalau kita melambungkan imajinasi ke arah film-film oplosan di televisi (FTV), yang terkesan tak masuk akal, tetapi justru membuat kita terpingkal-pingkal. Kita bahkan dibuat tak ingin meninggalkan layar televisi untuk tahu akhir ceritanya. Buang bayangan itu jauh-jauh!

Saat membaca lembar pertamanya saja, saya sudah diberi harapan kesan lucu di dalamnya. Saya juga cenderung tertarik dengan tokohnya, Fauzia, seorang gadis berkerudung (manis). Bahkan terkesan jutek saat perkenalan pertamanya dengan Miftah. Dalam beberapa novel, saya teramat jarang menemukan tokoh utama (asmara) yang melibatkan gadis muslimah berkerudung (idaman semua lelaki).

Secara umum, kampung kecil bernama Centong terbagi dalam dua kubu, yakni pendukung NU - berafiliasi dengan Masjid Selatan, dan pendukung Muhammadiyah - berafiliasi dengan Masjid Utara. Keduanya kerap kali terlibat dalam berbagai permasalahan yang melibatkan ajaran agama Islam.

Karena perbedaan itulah, Mif (anak tokoh Muhammadiyah) dan Zia, menemui jalan buntu dalam mengukuhkan jalinan cinta mereka. Keduanya tak habis pikir, apa yang menyebabkan dua kubu itu bagaikan kambing dan hujan. Tak bisa disatukan.

"Is, bagi sebagian besar dari kami, seperti kambing dan hujan--sesuatu yang hampir mustahil dipertemukan,"

Hingga suatu hari, ketika keduanya nyaris kehilangan harapan dan memutuskan lari dari keluarga masing-masing, kebenaran dari masa lalu terkuak. Muasal kampung yang bernama Centong. Itu pula yang menjadi kunci bagi Mif dan Zia mencari celah memperkuat hubungan mereka.

Potongan percakapan antara ayah dan putranya. (Imam Rahmanto)
***

Kenapa berlatar kisah cinta? Barangkali sang penulis paham bahwa cerita yang tak pernah "usang" bagi semua kalangan pembaca adalah perihal asmara. Yah, asmara. Berbicara cinta, selalu membawa banyak cerita. Seolah-olah hormon tertentu dalam tubuh segera bergerak cepat jika segalanya sudah dimulai dengan "cinta".

Ini bukan soal "baper", seperti yang didengung-dengungkan anak "alay" kekinian. Toh, bawa perasaan tetap dibutuhkan agar kita peka menenggang rasa. Jangan karena takut disebut "baper" kita jadi kehilangan rasa untuk menakar bisa menakar setiap kejadian.

Cinta menjadi bukti adanya kekuatan yang bisa mempersatukan paham yang berbeda. Bukankah kita lahir karena peleburan cinta dari kedua bapak dan ibu?

"Tapi, bukankah tidak sembarang orang diberi kesempatan dan kehormatan untuk memperjuangkan cinta yang dicita-citakannya?" --hlm. 269
"Cinta yang butuh diperjuangkan adalah cinta yang patut dibanggakan," --hal. 270

Barangkali karena berbekal cerita asmara itu, maka Makhfud Ikhwan begitu keren dalam menyusun kata-katanya. It's flow! Bahasanya benar-benar mengalir. Saya dibuat ketagihan untuk membaca lembaran-lembaran berikutnya.

Cara menyusun alur ceritanya pun terbilang sangat rapi. Meski alurnya tak hanya bergerak maju, kepala saya tetap bisa memilin kisah secara utuh. Sekali waktu, penulis berbicara tentang masa kini. Di lembaran lain, saya tak perlu berpikir terlalu keras untuk tahu bahwa penulis mengubah ceritanya ke arah masa lalu.

Hal itu didukung dengan gaya berceritanya yang juga keren. Sudut pandangnya (point of view) kerap dibuat berubah dengan cukup manis, sesuai dengan tokoh yang ada dalam cerita.

Saya menghitung-hitung, cerita disampaikan secara lugas dalam lima-enam sudut pandang. Mif, Zia, Iskandar (ayah Mif), Mat (ayah Zia), dan Anwar (paman Mif dan Zia), serta Yat (ibu Zia). Oiya, tambahan, ada pula sudut pandang umum yang menceritakan keseluruhan isi kepala masing-masing tokoh.

Wajarlah jika buku keren ini menjadi pemenang Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) 2014. Ceritanya benar-benar lekat dengan kultur dan budaya masyarakat Indonesia dalam beragama.

Sejatinya, kita di Indonesia terbagi dalam dua garis besar mazhab (kalau boleh saya menyebutnya demikian); NU dan Muhammadiyah. Perbedaannya cukup mencolok dalam segi menjalankan ibadah. Dalam buku ini, sentilannya sangatlah menohok. Masalah qunut shalat Subuh. Niat shalat. Pengeras suara. Fungsi masjid. Tradisional. Modernisasi. Dan yang paling sering kita jumpai seperti perbedaan waktu Ramadan, hingga Hari Raya Idul Fitri.

Lantas, kapan kita yang beragama mayoritas Islam ini bisa satu suara dalam kebenaran?

Saya memaksa, siapa pun, bacalah buku ini!

"Ini soal masa lalu, heh?" Pak Anwar bertanya lagi, tapi jelas tidak hendak memberi kesempatan siapa pun mengajukan jawaban.
"Kalau iya, betapa kalian tak pernah menjadi lebih tua dari empat puluh tahun lalu." --hal. 337

***

--Imam Rahmanto--


"Orang tak akan bisa sama-sama terus. Masing-masing orang akan berubah. Masing-masing orang akan mendapati jalannya sendiri-sendiri, baik jalan hidup di dunia maupun jalan hidup di akhirat." --hal.82

"Kamu hendaki anak gadisnja, tentu harus pula kamu maui keluarganja." --hal.150

"Kalau maksudnya baik, tapi dilakukan dengan cara yang kurang baik, ujungnya akan tidak baik. Cara kadang tidak kalah penting dengan tujuan." --hal.166

"Kegagalan seorang guru adalah ketika murid yang dididiknya tetap saja menjadi seorang murid, tidak beranjak meningkat jadi seorang guru." --hal.170

"Belajar sendiri bukan berarti kita tidak menghargai guru kita." --hal.170

"Orang-orang terbiasa menunggu ajakan. Dan, itu jelas tak boleh terjadi dalam sebuah organisasi. Ada komando ketua, tapi siapa pun semestinya ambil bagian dalam percaturan." --hal.220

"Anak memang sering tak mau melibatkan ibunya dalam masalahnya. Mungkin karena si anak tak ingin ibunya ikut susah. Mungkin juga karena si anak tak yakin ibunya bisa membantu. Tapi, seorang ibu tak akan bisa membiarkan anaknya menyelesaikan masalahnya sendirian. Ia selalu ingin ambil bagian. Semampunya. Sebisanya." -ibu Miftah, hal.278

Minggu, 21 Agustus 2016

Firasat dari Jauh

Agustus 21, 2016
Yah, saya pulang lagi. Selalu demen disini.

Kali ini, berbekal notebook pinjaman – meskipun kenyataannya selalu begitu - saya menyendiri di tengah kegaduhan warung kopi (warkop). Sesekali, di lain waktu, di bawah temaram kafe. Bergulat dengan ritual tiap minggu, mengasah hati. Pun, itu setelah nyaris seminggu mengasah kepala.

Sendirian. Bukan tak ingin bersama orang lain. Saya justru cemas, beramai-ramai dengan teman, saya takkan pernah bisa menyelesaikan pekerjaan apapun. Tentu, saya tak mau alih dari obrolan atau perbincangan di depan meja. Bukankah sungguh mengecewakan tak mendapat perhatian dari lawan bicara?

Lagipula, besok adalah hari libur buat saya. Yeah, Monday is my Sunday. Liburnya agak asing? Sengaja dipilih biar saya tak perlu masuk kantor berpakaian formal. Kebetulan di kantor media saya, setiap karyawan wajib berpakaian kemeja putih setiap awal pekan. Psstt

Beberapa hari lalu, kemerdekaan negeri sedang berulang tahun. Ini juga masih hangat-hangatnya. Kalau dirunut, sudah 71 tahun semenjak dibacakannya teks proklamasi oleh Presiden RI pertama, Sorkarno. Katanya, Indonesia sudah merdeka. Meski secara realita, kita masih terjajah saudara sendiri. Ekonomi belum membaik pula. Secara realita, hati juga masih sering tersakiti. #tsaah, itu lain soal.

Saya sebenarnya agak rindu dengan suasana keramaian kampung menjelang perayaan Proklamasi. Berbagai lomba dan gerak jalan riuh berlangsung di setiap pelosok daerah. Teramat berbeda dengan kondisi perkotaan, yang sepi, dan hanya disibukkan rutinitas kegiatan simbolis dari beberapa instansi maupun komunitas.

Sebenarnya masa-masa pesta Proklamasi di bangku sekolah tak sebahagia yang berbunga-bunga. Di kala teman-teman sekelas dan seangkatan berebut tempat untuk pemilihan anggota Paskibraka Kabupaten, saya justru harus membuang muka. Postur tubuh saya sama sekali tak mendukung. Untuk ikut salah satu regu gerak jalan pun saya mesti disisipkan ke barisan paling buntut. Rasa bangga masih bisa meluap jika ada satu atau dua orang tersisa menutup di belakang saya.

Di kota, saya hanya bisa memelototi berbagai macam euforia di dunia maya. Instagram banjir lomba-lomba Agustusan. Sosmed banjir ucapan Proklamasi dan berbagai macam kalimat nasionalisme lainnya. Barangkali, acara Agustusan hanya bisa didapatkan dari lorong-lorong kota. Meski sempit, sejatinya kampung di kota Makassar memang ada di lorong-lorong yang hendak disulap bernilai seni oleh walikota sekarnag. Liputan yang tak pernah berhenti selama enam hari, memaksa saya hanya bisa memantau keceriaan semacam itu dari balik layar gadget. #fiuhh. Bahkan untuk keriangan festival layang-layang selama Sabtu dan Minggu ini, saya masih dijejali berbagai agenda liputan "wajib".

“Bagaimana acara Agustusan disitu? Ramai?” suara bapak menyela tulisan naskah yang sedang dirampungkan di pinggiran Lapangan Tenis.

“Disini malah ramai, Mam. Sudah tiga hari dari kemarin ramai gerak jalan dan parade. Anak-anak SMA juga semuanya ikut,”

Meskipun sebenarnya bapak tahu, saya tentu sudah hafal segala kebiasaan Agustusan di kampung. Tempat dimana saya dilahirkan dan dibesarkan. Walau, kedua orang tua dan seluruh sanak saudara saya adalah murni berasal dari tanah Jawa. Akan tetapi, saya membiarkannya. Kalau bapak menelepon, bukan sekadar bercerita. Ada keperluan lainnya.

“Oiya, Mam. Tolong ya isikan pulsa di nomore Pa’e iki. Spulo ewu wae. Ingat loh, gak usah akeh-akeh…”

Sebagaimana saya juga menghafal kebiasaan bapak, yang mencoba untuk menguji anaknya dalam hal-hal sepele semacam itu. Saya mengabulkan permintaannya dengan sedikit berlebih. “Loh, kok banyak? Ya sudah.” Padahal, tanpa bapak tahu, itu sudah sisa terakhir.

Belakangan, saya tersadar, nampaknya bapak atau mamak di rumah sedang kroso firasat kalau anaknya sedang kekurangan uang.  Permintaan sepelenya itu jadi semacam “ujian” apakah anaknya benar-benar masih punya kas atau tidak. Mereka juga sadar, kalau anaknya teramat gengsi untuk meminta uang (jika sedang sekarat) di usia pekerjaannya sekarang.

Duh, di masa kemerdekaan ini, pekerjaan sebagai jurnalis memang masih jauh dari rasa-rasa merdeka. Benar kata pimpinan dan semua jurnalis senior, “Kalau mau kaya, jangan jadi jurnalis.” Pak Dahlan Iskan bisa punya banyak uang karena bangun usaha dan direkrut di perusahaan pemerintah.

Beruntung, beberapa hari ini, saya masih diselamatkan oleh rezeki Tuhan yang selalu tak terduga-duga darimana datangnya. Syukurlah.

***

Sedikit pemandangan dari Lapangan Golf Padivalley. Tempatnya lapang, namun jauh dari perkotaan. (Imam Rahmanto)

Saat mengakhiri tulisan ini, saya mungkin harus tersenyum-senyum sendiri. Hampir bersamaan, saya masih berbalas pesan dengan seorang teman. Ada banyak cerita rasa dan rahasia darinya. Sebenarnya, keriuhan dari perempuan yang baru-baru saja sembuh dari sakit ini telah berlangsung sejak siang tadi. Sayang, saya harus menunda rasa penasaran, karena deadline liputan sedang menumpuk jelang petang.

Sejujurnya, saya terheran-heran. Ada banyak kisah dramatis hingga melankolis yang mulai terkuak hari ini. Dari seorang teman, saya mulai paham bagaimana perasaan manusia bisa menjalar sedemikian rupa. Berlabuh pelik sedemikian pahitnya. Yah, saya tak begitu banyak mengalami yang serumit itu. Hanya saja, dari penuturan perempuan itu, saya mulai paham bagaimana namanya lelaki bergelagat. Sebagai laki-laki, saya membenarkan beberapa ceritanya.

Saya akan bercerita lain kali saja. Ini sudah akan mengambil waktu terlalu lama. Soal asmara, memang tak pernah ada habisnya…


--Imam Rahmanto--

FOLLOW @cappuccino_time