[RESENSI][carousel][6]

Jumat, 20 Oktober 2017

Menanjak (5)

Oktober 20, 2017
"Masih jauh, ndak?"

Napas kami sudah mulai ngos-ngosan. Baru saja beristirahat beberapa menit, kami sudah kembali dihadapkan dengan jalur "tak-normal".

Kami terpaksa meninggalkan tiga orang teman lainnya di Pos II. Rombongan terbagi dua. Hanya saya dan Ohe yang berminat menyambangi lokasi air terjun yang disebut-sebut paling tinggi itu. Tiga teman dari Karangan membantu menuntun arah ke air terjun itu.

"Jangan lama-lama. 30 menit saja disana, karena kita masih harus lanjut perjalanan," pesan Rahim, yang menyiapkan packing untuk perjalanan berikutnya.

Saya terpaksa hanya bisa mengandalkan jepretan smartphone di momen menempuh perjalanan ini. (Imam Rahmanto)

Bukan hal mudah melintasi jalur di tengah-tengah hutan itu. Arahnya berseberangan dengan jalur menuju pos pemberhentian selanjutnya. Wajar jika tak banyak pendaki yang mengetahui (atau menyempatkan) lokasi Air Terjun Sarung Pakpak.

Beberapa kali, kami mesti menyilang arus sungai. Memanjat dataran yang lebih tinggi sembari terus mengikuti aliran sungai. Di bagian lain, menyeberangi batang pohon yang tumbang di atas bebatuan dan sungai. Sebenarnya, prioritas keselamatan utama: kamera.

"Makanya saya suruh mereka yang bawa kameraku," kata Ohe, tanpa raut wajah berdosa.

Beban tas punggung dengan tripod itu digendong dengan santainya oleh teman porter kami, Samrin. Lincah saja ia memanjat dan melompat dari satu batu hingga berpindah ke dahan yang lain.

Aktivitas panjat-memanjat menjadi pemandangan lazim dalam perjalanan kami. Parahnya, tak ada pegangan akar-akar pohon. Adanya cuma akar rumput yang bisa putus sekali tarik. Kami seolah berlatih memanjat tebing dari ketinggian tiga meter di atas permukaan sungai. Meskipun jaraknya hanya sepanjang 5 meter. Satu-satunya pegangan (hidup) ada di celah-celah batu. Beruntunng kaki saya masih mudah bertumpu karena mengenakan sendal.

Meski begitu, yakinlah, usaha berkeringat dan berdarah-darah pegal-pegal akan berbuah manis jika sudah melihat wujud Air Terjun Sarung Pakpak. Gemuruh air terjun begitu jelas terdengar. Tak heran jika suaranya begitu memecah keheningan, karena ketinggian yang mencapai kisaran 70 meter. Dalam jarak sepuluh meter, tempias air juga sudah mengenai wajah.

"Waaahhhh....kerenn!!"

Kami langsung mengambil jarak dan "jurus" untuk momen spesial itu. Tiga orang pemandu kami tak ketinggalan memasang "kuda-kuda" dengan kamera handphone seadanya. Momen seperti itu, kurang afdol jika tidak bergaya selfie. 
JELAJAH - AIR TERJUN SARUNG PAKPAK
Klik atau tunggu sejenak untuk gambar lainnya. (by Flickr)

Saya sendiri benar-benar menikmati kejernihan aliran air terjun itu. Dinginnya tak menghalangi kaki saya untuk menembus permukaannya. Mencari langkah diantara cipratan air. Menciptakan momen-momen terbaik untuk belajar memotret alam. Air terjun itu begitu menggoda. Yah, menggoda kami untuk berlama-lama mengabadikannya.

Pemandangan di sekitar air terjun juga masih teramat asri. Tak ada sampah-sampah bekas peninggalan manusia. Memang, air terjun ini belum banyak terjamah. Hal itu yang membuatnya istimewa dan masih nampak perawan. Apalagi, dibungkus dengan lumut-lumut bebatuan dan batang pohon yang rebah.

Kelak, jika jalan menuju air terjun ini bakal dirintis, barangkali keindahannya taakkan sama lagi. Tak ada jaminan kunjungan para pelancong bisa menjaga keindahan di sekitar air terjun ini. Karena kita adalah manusia, sumber lebih banyak salah dan kelalaian.

***

Kami tak bisa berlama-lama di tempat yang menawan itu. Kami harus memangkas waktu perjalanan untuk tiba di pos camp yaitu Pos V. Kami berencana bakal bermalam disana, sebelum melanjutkan perjalanan ke puncak tertinggi.

Sayangnya, perjalanan pulang ke Pos II tidak semudah menyusur jalan semula. Kegiatan "panjat-memanjat" jauh lebih sulit karena diputar mundur. Saat memanjat "turun", tentu saja agak sulit menjangkau ruang pijakan diantara dinding batu. Salah seorang teman kami, Arman, tercebur lantaran terpeleset dari pijakannya. Beruntung saja, ia tercebur di aliran air sungai yang tidak begitu dalam. Kami yang hendak menolong, justru hanya bisa menertawainya.

"Sedangkan yang sudah biasa bolak-balik saja kesana bisa jatuh begitu, apalagi kita yang baru-baru ini," ujar Ohe, yang selalu menghitung langkahnya dalam perjalanan dengan sangat-teramat-sangat hati-hati.

Kami tertawa saja melihat Arman yang bangkit dari tenggelamnya. Pakaiannya kuyup. Meski begitu, kulitnya sudah telanjur tebal menahan dingin untuk ukuran penduduk Dusun Karangan.

Mereka tak butuh pakaian tebal untuk menahan dinginnya alam Latimojong. (Imam Rahmanto)
Dalam perjalanan berat semacam itu, tak ada hiburan yang bisa mengalihkan pikiran selain menertawakan segala hal. Yah, bagi saya, apa pun bisa ditertawakan. Hal-hal lucu bisa ditemui di sepanjang perjalanan.

Di kala teman-teman mengalihkan tenaganya pada kedua ujung tungkai dan bahu, saya biasanya lebih banyak berbual. Bercerita apa saja. Dasarnya memang saya orang yang cerewet. Setidaknya, hanya ingin mengundang wajah-wajah yang merekah dalam perjalanan ini. Tak elok rasanya wajah ditekuk selama perjalanan. Beban sudah berat, masih ditambahi pula dengan muka yang ingin bersungut-sungut. Belum lagi beban hidup.

Seperti halnya hidup, beban yang berat tak semestinya mengurangi esensi perjalanan itu sendiri. Kita seharusnya menikmatinya. Meresapi setiap lelah yang mendera. Pun, meresapi adrenalin dan emosi yang berkelebat dalam bahayanya perjalanan. Adrenalin itu bukan untuk ditakuti, melainkan ditaklukkan. Bukankah setiap perjalanan seharusnya mengajari kita cara untuk tersenyum?

"Everything that drowns me makes me wanna fly..."[Counting Stars, One Republic; lagu]

Sepertinya begitu. Perjalanan kami bertambah berat setiap langkahnya. Kami yang baru saja tiba di Pos II, harus segera berkemas. Waktu sudah menunjukkan angka tiga. Kata Rahim, waktu perjalanan hingga Pos V masih cukup lama. Jaraknya memang tak begitu jauh, namun berbanding terbalik dengan medan yang harus kami tempuh.

"Kita harus cepat kalau mau sampai di Pos V tidak kemalaman," ucapnya berkemas-kemas saat melihat kami baru saja kembali tiba di Pos II.

Padahal, lelah masih belum sepenuhnya pudar. Menyaksikan keindahan air terjun Sarung Pakpak memang menjadi bonus tersendiri bagi saya dan Ohe. Malangnya, bonus itu juga berlaku kelipatan untuk tenaga kami yang dihabiskan dalam perjalanan. Terkuras dua kali. Perut yang baru saja terisi kalori dari nasi, sayur, mie, telur seolah langsung terbakar setengahnya. Dampaknya, kelak, baru terasa belakangan. Bikin meringis.

"Ini mau langsung pergi? Wah, baru ki juga mau istirahat," ucap saya setengah bercanda. "Tunggu pale. Shalat dulu sekalian."

Tak butuh waktu lama untuk mengepak kembali perlengkapan. Sebentar lagi, gemuruh air akan menghilang dan semakin tenggelam. Gua kecil itu akan dibalut keheningan kembali, sebelum pendaki lainnya tiba disana.

Kata orang, kekuatan sejati perjalanan ke Puncak Rante Mario bakal diuji diantara jalur pendakian menuju Pos III. Tantangan sesungguhnya ada di jalur berkemiringan nyaris 90 derajat itu. Butuh mengencangkan tekad lebih kuat. Butuh kaki dan tangan yang lebih cekatan.

Menyaksikan rute tanjakan dari Pos II, membuat saya terhenyak dan berpikir ulang, "Apakah kami bisa pulang dalam keadaan hidup-hidup?" Ternyata, toh, kami juga butuh doa yang dirapalkan terus-menerus.

[bersambung]


***

"Butuh berapa episode lagi supaya ceritamu itu berakhir?" tanya seorang teman, suatu ketika.

Sejujurnya, saya sendiri kebingungan bagaimana mengakhiri cerita ini. Bagi saya, banyak hal yang seharusnya terekam dalam perjalanan ini. Mengakhirinya sekaligus, seolah memaksa saya untuk melupakan detail perjalanannya sekaligus. Saya tak ingin, menganggap perjalanan itu sekadar angin lalu, yang tak punya detail menarik untuk dikisahkan bagi anak-cucu kelak. Sebagaimana cara terbaik mengabadikan kenangan adalah dengan menuliskannya.

"Pernah ki naik mendaki Latimojong, Pak?" tanya salah seorang anak saya, di suatu masa, beberapa tahun mengulur jauh ke depan.

"Pernah," jawab saya tersenyum bangga. "Duduklah disini. Maka akan kuceritakan padamu, bagaimana bapakmu dulu memulainya dengan sangat keren."


--Imam Rahmanto--


Senin, 16 Oktober 2017

Revolusi ala Binatang

Oktober 16, 2017
Target bacaan kian menipis. Dalam sepuluh bulan terakhir, saya baru bisa menamatkan hingga 18 buku dari target bacaan tahunan sekitar 30 buku. Saya semakin sadar, kesempatan untuk bisa leluasa membaca buku bukanlah hal mudah. Semakin usia bertambah, prioritas lain juga kian menumpuk.

Dalam sebulan belakangan ini, saya coba mengejar target itu. Salah satunya dengan menamatkan beberapa buku bacaan yang lebih tipis. Curang. Eh, jangan salah. Buku yang tipis tidak menjadi jaminan saya akan menamatkannya hanya dalam sekali duduk. Buktinya, beberapa buku justru terkapar tak berdaya di lantai kamar. Sisanya, diselesaikan sekadar kewajiban untuk "menuntaskan-apa-yang-sudah-saya-mulai."

(Foto: Imam Rahmanto)

Diantara beberapa bacaan itu, buku Animal Farm karya George Orwell (nama assli Eric Arthur Blair) menjadi bahan paling ciamik bagi saya. Yah, saya menyukai segala kesederhanannya. Mulai dari jumlah halaman, jalan cerita, cara berpikir, hingga alur yang menghubungkannya satu sama lain. Meskipun, jujur, saya tak menyukai ending-nya.

Kisahnya tentang Peternakan Manor yang dimiliki dan dikelola oleh keluarga Tuan Jones. Berbagai hewan ternak hidup di dalamnya sebagai peliharaan keluarga itu. Kedamaian kehidupan peternakan sebenarnya berlangsungsebagaimana lazimnya. 

Hingga salah satu babi tua yang paling dihormati hewan lainnya, Mayor tua, menceritakan mimpinya kepada para penghuni peternakan itu. Dari sanalah akar pemberontakan binatang dimulai dan dipelopori oleh dua babi cerdas, Snowball dan Napoleon. Mereka berdua menggerakkan pemberontakan terhadap Tuan Jones dan keluarganya. Itu hanyalah awal pemberontakan para hewan-hewan itu terhadap manusia.

"Manusia adalah satu-satunya makhluk yang mengonsumsi tanpa menghasilkan. Ia tidak memberi susu, ia tidak bertelur, ia terlalu lemah menarik bajak, ia tidak bisa lari cepat untuk menangkap terwelu. Namun, ia adalah penguasa atas semua binatang. Manusia menyuruh binatang bekerja, manusia mengembalikan seminimal mungkin hanya untuk menjaga supaya binatang tidak kelaparan, sisanya untuk manusia sendiri. Tenaga kami untuk membajak tanah, kotoran kami untuk menyuburkan tanah, tetapi tak satu pun dari kami memiliki tanah seluas kulit kami." [hal.6]

Revolusi adalah salah satu hal utama yang ingin disampaikan dalam buku ini. Sebenarnya, kalau ingin dicerna lebih jauh, isi cerita ini justru lebih berat dan rumit. Politik kekuasaan diceritakan dengan gaya-gaya alegori. Bagaimana Snowball dan Napoleon bekerja sama untuk menggulingkan kekuasaan Tuan Jones. Namun, pada akhirnya, kedua pemimpin kawanan hewan itu justru berseteru dalam perbedaan pendapat. Napoleon mengambil alih kekuassaan dengan cara menyingkirkan Snowball.

Barangkali, hewan-hewan Animal Farm bisa mengajarkan kita tentang namanya berdemokrasi. Perputaran kekuasaan yang berlandaskan pada kekuatan dan kecerdikan. Babi-babi ini menunjukkan "cara main" politik yang begitu elegan. Revolusi, meski diawali dengan niat yang baik, tetap saja akan memudar pada perjalanannya. 

Babi-babi ini memulai pemberontakan dengan begitu epik. Menciptakan tujuh peraturan "kehidupan hewan" animalisme setelah kemenangannya. Seiring waktu, aturan itu dilanggar demi kepentingan kekuasaan. 

Membaca Animal Farm memang lekat jika dikaitkan dengan kehidupan manusia itu sendiri. Berbagai intrik dan sifat-sifat binatang ada pada diri manusia. Malah, George Orwell nampaknya memang ingin menunjukkan bagaimana "politik" manusia yang sebenarnya. Wajar jika buku ini diganjar beberapa penghargaan dan masuk sebagai 100 best books di Inggris versi BBC. Tak peduli jika buku ini diterbitka tahun 1945.

Sayangnya, saya masih dibuat penasaran dengan ending kisah pemberontakan hewan-hewan ini. Khususnya nasib si cerdik Snowball yang disingkirkan oleh Napoleon. Dan lagi, hewan-hewan yang akhirnya sadar kehidupan mereka tak jauh lebih dibanding sebelumnya. (*)

“The only good human being is a dead one.” Animal Farm, George Orwell

 
--Imam Rahmanto--

Jumat, 06 Oktober 2017

Menanjak (4)

Oktober 06, 2017
(Foto: Ohe Syam Suharso)

Pekerjaan mendaki gunung selalu diasosiasikan dengan hal-hal berat dan sangat melelahkan. Tak jarang, para calon pendaki harus dibekali dengan olah tubuh atau pemanasan, jauh hari sebelumnya. Minimal, kaki dibuat terbiasa bergerak dengan aktivitas fisik. Lari, misalnya.

Hanya saja, kata teman, sebenarnya pendakian perdana tak mesti diiming-imingi ketakutan. Kekuatan hanya menjadi nomor sekian dari persiapan menghadapi segala tantangan di atas gunung. Tubuh kekar, bodi besar, muka sangar bukan jaminan agar tetap tegar. Satu-satunya hal utama yang dibutuhkan hanyalah tekad... yang membara.

Pada awalnya, itu memang hanya semacam "bualan" atau "omong kosong" agar kita mau ikut menanjak mempertaruhkan segala kekurangsiapan. Semacam pembenaran untuk memuluskan ajakan mendaki bersama teman-teman yang lainnya. Akan tetapi, saya merasakan sendiri, tak ada yang lebih dibutuhkan seorang pendaki selain tekad. Yah, tekad. Bertransformasi jadi semangat. Diiringi dengan niat yang baik, tentunya.

Toh, sebagian orang bisa menuntaskan impian terpendamnya untuk memeluk puncak tertinggi tanpa perlu persiapan berbulan-bulan lamanya. Modal nekat. Ketakutan jangan pernah menggerogoti kemauan. Kalau tak mencoba, bagaimana bisa tahu hasilnya? Tekad kuat semestinya sudah cukup untuk menjadi bahan bakar mewujudkan impian apa pun.

Di samping itu, yakinlah, hal-hal baru selalu menyimpan ke(se)nangan berharga.

"Gagal itu urusan nanti, yang terpenting kita berani untuk mencoba dan mencoba!" -- 5cm, The Movies

***

Perjalanan menuju Puncak Rante Mario baru terlihat agak "menyeramkan" saat memasuki Pintu Rimba. Warga menyebutnya demikian, karena lahan yang tak jauh dari Pos I itu menjadi pembatas antara hutan dan lahan perkebunan warga. Dari situ pula pohon-pohon rindang mulai menyapa dan menawarkan kesejukan "semu".

Tak ada yang benar-benar menyejukkan dalam perjalanan mendaki semacam itu. Rindang pepohonan dan semak belukar hanya menjadi kilasan asal lewat. Pakaian dibuat basah sepanjang waktu. Peluh mengucur diantara pelipis. Gaya rambut juga dibuat kusut masai. Keinginan untuk memperbaikinya sudah hilang karena didera lelah.

"Tidak bisa berhenti dulu kah?" ucapan yang hanya berhenti di batas kerongkongan. Meski pengalaman pertama, namun gengsi kalau harus terlihat "kalah" dalam perjalanan.

Saban hari, masa kecil saya sudah berlari-larian di jejeran kebun pegunungan. Seharusnya saya bangga sebagai anak kampung.

Harus tetap kelihatan setroong diantara kaki yang hampir patah. (Ohe Syam Suharso)

Setengah perjalanan, kami terpaksa harus berhenti. Menurut Rahim, tempat kami berhenti merupakan salah satu percabangan menuju puncak pegunungan yang lainnya, yakni Nene Mori. Sayangnya, jalur tersebut belum terlihat bersahabat seperti yang lainnya.

"Oh...Nene Mori ya? Itu neneknya Mori yang sakti sekali..."

"Hush....jangan sembarang bicara kalau di hutan," potong Ohe, sembari memasang tampang serius.

Saya sempat terkesiap. Sambil meringis, tak ada lagi suara membahas bualan. Saya langsung teringat, perjalanan di tempat-tempat semacam ini memang harus dilalui dengan sikap mawas diri. Satu hal yang harus diperhatikan para pendaki: tak boleh takabur.

"Dulu toh pernah ada temanku yang bercanda bilang enak sekali tinggal disini, saya juga langsung dimarahi teman yang orang asli sini," ujar teman yang lain, Pandi, saat kami melanjutkan perjalanan.

"Katanya, jangan sembarang bicara kalau di tengah hutan. Tidak baik," lanjutnya lagi.

Barangkali, dengan kekuatan semesta, Tuhan akan mengabulkan omongan yang dianggap takabur. Bukankah lisan adalah penjabaran doa?

Meskipun begitu, saya sebenarnya tidak sedang bercanda atau berbual tentang kisah Nene Mori. Saya sempat membaca referensi terbatas tentang puncak Nene Mori. Alasan di balik pemberian namanya memang bermula dari cerita-cerita rakyat atau folklor.

Tidak ada alur cerita yang jelas tentang salah satu tokoh sakral tersebut. Keberadaannya pun masih dipercaya menghuni pegunungan. Hanya saja, cerita-cerita menyebutkan bahwa Mori merupakan cucu dari nenek yang saban hari berburu di hutan Pegunungan Latimojong. Untuk itulah ia dipanggil dengan sebutan Nene Mori (neneknya Mori).

Kesaktian Nene Mori juga bukan sekadar pepesan kosong diantara penduduk pada masa itu. Ia tak pernah gagal berburu anoa. Konon kabarnya, Nene Mori tak butuh berlelah-lelah jika ingin makan daging anoa. Para anoa sendiri yang datang ke hadapannya untuk disembelih. Di puncak ketiga tertinggi pegunungan itu, ada sebuah batu yang kerap menjadi tempat bersemedi Nene Mori.

Dalam versi yang terbatas, kisah Nene Mori masih ambigu. Saya sendiri menyesal tak sempat menanyakan kisahnya kepada para tetua penduduk di sekitar Punggung Latimojong. Hanya saja, membicarakan hal-hal mistis diantara lebat rimba sudah bisa mengundang bulu kuduk merinding. Kami tak perlu lebih jauh membahasnya. Meski begitu, kelak, kami dibuat kembali bersemangat untuk menanjak ke puncak tersebut.

Berbagai jalur lekukan bisa dijumpai selama menempuh perjalanan menuju Pos II. Sekali waktu kami harus mengangkat lutut tinggi-tinggi. Di lain waktu kami harus menahan tumit agar tidak terjerembab. Pegangan yang tersedia lebih banyak belukar di kiri dan kanan. Beruntung, sendal butut saya masih sangat keren untuk mengatasinya. Sendal merek Consi** memang is the best

***

Peristirahatan di Pos II. (Imam Rahmanto)

"Nah, itu sudah kedengaran suara air. Artinya, kita sudah dekat dari Pos II," ujar Rahim dari depan.

Pos II memang seolah menjadi oase bagi pendaki yang sudah kelelahan. Air sungai mengalir tak jauh dari tempat pemberhentian kami. Bening. Hanya jembatan kayu kecil yang membelahnya.

Sebagian pendaki memanfaatkan Pos II sebagai tempat mendirikan tenda. Lokasinya tepat berada di bawah bongkahan batu besar. Aman dari hujan maupun angin kencang. Orang-orang biasa menyebutnya gua Sarung Pakpak.

Bisa dibilang, sumber air juga tak terbatas, kapan pun mereka membutuhkannya. Untuk urusan minum, cukup tangkupkan saja kedua telapak tangan mengadang aliran air. Kesegarannya bahkan melebihi air galon isi ulang yang selama ini kita konsumsi di kota. Tak butuh dimasak. Tak butuh alat isi ulang yang menggunakan sinar ultraviolet.

JELAJAH - SUNGAI POS II LATIMOJONG
Klik atau tunggu sejenak untuk gambar lainnya. (by flickr)

Kami langsung bergabung dengan tiga teman porter yang sudah lebih dulu menanti. Segala perlengkapan dapur mulai dibongkar sedikit. Jam makan siang sudah lewat. Perut yang keroncongan harus diisi ulang. Butuh tenaga lebih banyak untuk melanjutkan perjalanan.

"Satu-satunya momen yang bikin saya makan tiga kali sehari, ya pendakian ini. Biasanya, saya cuma makan sekali dalam sehari kalau di kota," seloroh saya.

"Kalau mau mendaki butuh kalori ekstra dong. Cuma yang susahnya nanti kalau mau buang air besar," jawab teman yang lain. Haha..

Nasi hangat membuat kami lupa sejenak dengan kelelahan selama perjalanan. Suara arus sungai menjadi orkestra hiburan bagi kami. Musik alam. Tak ada yang lebih nikmat dari makan bersama di tengah rimba. Segalanya terasa lebih nikmat dan membuat kami banyak bersyukur.

Sayangnya, agak miris juga melihat coret-coretan dinding batu di hadapan kami. Ada banyak aksi vandalisme yang dilakukan oleh para pendaki tak bertanggung jawab. Seolah-olah, dengan menuliskan nama di dinding batu bisa menjadi rekor terhebat.

Meski sebagai pendaki pemula, saya tahu bahwa sejatinya para pendaki punya semboyan epik yang salah satunya, "tak boleh meninggalkan apa-apa kecuali jejak". Coretan atau sampah di alam terbuka sama sekali bukan jejak. Kalau sampai meninggalkan sampah, barangkali kita lebih pantas disebut sebagai "sampah" itu sendiri.

"Jangan pernah mengambil sesuatu selain gambar. Jangan pernah meninggalkan apa pun selain jejak. Jangan pernah membunuh sesuatu selain waktu." --semboyan pendaki

"Itulah, saya minta sama anak-anak (Karangan) untuk bersihkan kalau mereka lewat sini," ujar Rahim.

Bisa saja, pemuda-pemuda dari dusun Karangan dibuat jengkel dengan ulah para pendaki. Sebagian besar hanya ingin menunjukkan prestise sampai di puncak, tanpa sadar esensi sesungguhnya dari mencintai alam. Bukan hanya perempuan yang butuh kasih sayang. Alam pun demikian.

Apa perlu saya juga mengukirkan namamu, sayang? (Ohe Syam Suharso)

***

Pemberhentian di Pos II tak sekadar membunuh waktu bagi kami. Selain melintasi jalur reguler menuju puncak, kami masih punya misi lain untuk menyingkap keindahan kawasan Latimojong. Ada surga tersembunyi yang tak pernah disadari para pendaki saat melintasi Pos II.

"Cuma sedikit yang pernah kesana. Pokoknya bagus itu air terjun. Paling tinggi diantara semua yang pernah saya datangi," cetus Ohe, yang menggenapkan kesempatan keduanya mendaki pegunungan inni.

Untuk alasan itu pula, kami harus membagi rombongan dalam dua tim. 


[bersambung]


--Imam Rahmanto-- 

IG: @cappuccino_time