[RESENSI][carousel][6]

Minggu, 03 Desember 2017

Pelukan

Desember 03, 2017
Puncak Rante Mario begini, kapan lagi ya? (Imam Rahmanto)
"Kalau saya di Enrekang, ajak ke Latimojong nah," komentar seorang teman, yang berlanjut dalam pesan pribadi.

Teman lelaki saya itu baru saja mengomentari sebuah unggahan di Instagram, yang sebenarnya tak berkaitan dengan sesuatu yang dikomentarinya itu. Barangkali, hanya karena merasa momennya, setidaknya mengingatkan saya yang tidak begitu aktif dijumpai di dunia maya. 

Saya menganggap ajakan itu sebagai isyarat, bahwa sudah saatnya saya harus kembali mengepak ransel, menikmati alam. Meskipun saya ragu bisa menjadi penunjuk jalan baginya, setidaknya ada kenalan di sekitar pendakian itu kok. Momen dadakan semacam itu kerap kali lebih bernilai pahala dibanding hal-hal terencana dan sistematis.

Banyak hal yang kemudian saya pelajari sepulang dari proses pendakian itu. Saya dipaksa untuk melengkapi atribut travelling atau perjalanan yang bersifat pribadi atau individual. Sepulang dari gunung, langsung mengencangkan tekad untuk melengkapinya satu demi satu. Kalau sebelumnya saya menginvestasikan gaji bulanan dengan aroma buku, maka berbelok sedikit dengan investasi perlengkapan travelling. Lagipula, nyari toko buku di Enrekang teramat-sangat-amat-susah-sekali-banget.

"Jadi, ceritanya ini ketagihanko mau naik gunung terus?"

Meski bukan pecinta kegiatan mendaki, saya tetap menganggapnya hal yang perlu. Terkadang, kita butuh tempat-tempat maha luas untuk menghilangkan kejenuhan. Sementara alam sudah menyediakan banyak tempat untuk bisa merenung atau berkontemplasi. Siapa yang bisa menyangka saya akan lebih sering menjelajahi tempat-tempat serupa, meski di daerah yang berbeda?

Bukan naik gunungnya yang membuat saya begitu tertarik. Sebaliknya, saya justru menikmati alam yang begitu memukau dalam proses perjalanannya. Pemandangan baru selalu menawarkan sensasi baru. 

Barangkali, kehidupan saya akan diwarnai dengan banyak perjalanan. Entah bagaimana caranya, seolah ada yang membisiki untuk terus bergerak. Ayo, ayo, berjalanlah. Kuy! Bisikan-bisikan itu menjelma dalam bentuk paling dramatis yang bisa saya bayangkan. Bagi manusia, itu sudah terencana. Namun jauh di balik sepengetahuan akal kita, hal semacam itu semata-mata merupakan skenario yang dijalankan semesta.

Serius. Beberapa ajakan berpetualang sempat mendarat dalam lini harian saya. Beberapa hari yang lalu, ada tim pendakian difabel yang hendak menapaki puncak Gunung Sesean, di kabupaten tetangga. Saya cukup familiar dengan puncak itu. Beberapa anggota tim juga merupakan kenalan saya. Sayangnya, saya mengabaikan karena berada di luar wilayah "hukum" tugas peliputan sehari-hari.

"Imam, kau buatkan naskahnya ya," pesan redaktur keesokan harinya. 

Lantaran teman (senior) yang berada di daerah bersangkutan sedang keluar daerah. Lah, kalau tahu begitu, saya lebih baik ikut bersama rombongan itu sejak awal. Penyesalan yang mendalam. #jlebb

Kepolosan seperti ini masih cukup meneduhkan kepala diantara terik tugas-tugas menembus jarak. (Imam Rahmanto)

Kukuhnya pertahanan saya untuk tetap berada di Enrekang juga dilatari oleh keinginan untuk menjelajahi lebih banyak tempat keren. Saya sudah terlalu blenger dengan suasana perkotaan yang hanya bisa memamerkan kebahagiaan-kebahagiaan semu. 

"Yah, teman-teman saya juga lebih banyak bertanya dengan kehidupan saya disini. Mereka kabanyakan iri dengan aktivitas saya, yang kelihatan seolah banyak jalan," cerita seorang teman, yang pernah 18 tahun menghabiskan hidupnya di Jakarta.

Baginya, hidup di perkampungan jauh menawarkan kedamaian. Tak ada kepura-puraan. Meski tak dilumuri banyak kemewahan, ia masih bisa hidup dengan kepuasan. Masih bisa mengangkat tripod dan lensa kameranya ke tempat-tempat tinggi. Masih bisa tertawa-tawa menyiasati masalah percetakan sablonnya yang biasa ketiban listrik padam dadakan. Pun, kemewahan masih bisa dipesan sekali-dua kali melalui jaringan belanja online. Saya juga sudah terpapar "virus" belanja modern semacam itu.

Saya beruntung berkenalan dengan teman-teman yang suka-jalan dan photography enthusiast. Kadangkala, ajakan juga mendarat di pesan-pesan gawai. Tak jarang pula, mereka berpetualang hanya dengan mengajak anggota komunitasnya. 

Saya sendiri berpikir, ada masanya kejenuhan bakal menghampiri kehidupan disini. Sekuat-kuatnya saya bertahan agar tidak beranjak, perasaan itu akan tiba. Kejenuhan bukan hal yang bisa ditolak mentah-mentah. Setiap orang punya titik jenuhnya. Bahkan untuk ukuran orang-orang yang selalu punya waktu luang, tak melakukan apa-apa, bisa juga dihinggapi rasa bosan-tak-melakukan-apa-apa.  

Akan tetapi, sejenuh-jenuhnya kehidupan manusia, alam selalu punya cara terbaik untuk menghadiahkan pelukan. Kehidupan terakhir manusia, juga, semata-mata jatuh ke haribaan alam.

Setidaknya, saya mesti bersiap-siap saja dengan segala kemungkinan (kejenuhan) itu. Tak perlu kecewa dengan risiko terburuk. "Jangan karena takut gelombang, maka kamu takut berlayar. Jangan karena takut patah hati, kamu takut jatuh hati. Dan jangan karena takut hujan, maka kamu takut cuci motor." #ladalah

***

Beberapa hari ini, saya sedang  merancang perjalanan ke Makassar. Banyak janji temu yang mesti ditunaikan. Sayangnya, cuaca kota yang sedang tak bersahabat membuat saya tak ingin begitu tergesa-gesa. Hujan kian menyiratkan lebih banyak genangan di kota ribuan beton itu. Frasa genangan selalu karib dengan kenangan.

Sebenarnya beberapa kenangan memang patut disambangi. Mengutip status teman dari jauh, Apa persamaan mangga dan rindu? Bila sudah matang, segeralah dipanen. 

Jangan biarkan perasaan rindu terlalu lama dipendam. Rindu jalan. Rindu teman. Rindu keramaian. Padahal, sebenar-benarnya rindu saya berputar pada aroma buku-buku baru dari Gramed**. Hahaha...menghabiskan "nafsu" buku. Oiya, bisa sekalian nengok toko-toko perlengkapan outdoor sih.


--Imam Rahmanto--  

Minggu, 26 November 2017

Mandek

November 26, 2017
Hujan baru saja berhenti. Beberapa jam yang lalu, mengguyur tanpa aba-aba. Saya  tak bisa memastikan langit mendung karena tertutup gulita. Kecuali, tak ada gemerlap bintang menjadi penandanya. Toh, samar-samar cahaya sabit masih setia bersinar. Beberapa hari ke depan katanya bakal ada purnama supermoon.

Seperti biasa, senyap menyergap diantara bangku-bangku warkop tongkrongan saya. Meskipun di kosan sudah tersedia Moka Pot untuk mengolah kopi jadi espresso, saya tetap rutin menyesap kopi dari tempat ini. Barangkali sekadar melepas perbincangan ringan dengan pemilik warkop atau teman tongkrongan rutin. Atau hanya menatapi layar notebook yang makin membuat mata saya minus.

Salah satu alat coffee-maker itu baru saja tiba beberapa hari yang lalu di kamar saya. Sebagaimana keinginan untuk mengolah kopi (tanpa instan) secara manual. Sayangnya, masih kurang grinder kopi. Terpaksa, saya memesan kopi setelah digrinder langsung. Tenang saja, saya juga akan melengkapi kosan dengan grinder kopi itu.

Beruntungnya lagi, seorang teman dari Jawa juga berniat mengirimkan biji kopi roasting-nya untuk saya. Malah, biji kopi dari Papua. Katanya sih, coffee-bean itu dari sisa pameran timnya di Jakarta. Lumayan kan buat eksperimen seduhan kopi. 

"Tapi situ yang tanggung ongkir ya," todong teman saya. Pastilah.

Saya memang butuh sesuatu yang baru untuk mengatasi kejenuhan dalam beberapa hari ini. Bahkan, urusan kirim-mengirim berita, saya jadi agak ogah-ogahan atau seadanya. Saya tidak begitu memaksakan diri lagi dalam hal pekerjaan. Bagi saya, bekerja ya secukupnya saja. Mau memaksakan diri juga tidak begitu bermanfaat karena keterbatasan "kuota" atau jatah berita bagi anak-anak daerah. Saya justru harus mengakalinya dari medium lain.

Semenjak "badai" kemarin, saya belum merasakan perubahan berarti di tubuh perusahaan media kami. Saya justru semakin melihat sesuatu yang memang dicemaskan petinggi-petinggi yang hengkang. Keberpihakannya semakin terasa sih. Barangkali hanya karena saya jauh berada di daerah, maka nuansanya tidak terasa. 

Itulah kerennya berada di daerah. Gonjang-ganjing di kota hanya sebatas kabar-kabar yang kabur. Seperti sinyal telepon yang juga agak lemah di perkampungan, informasinya juga tak begitu jelas. Tetapi, itu justru membuat kepala saya terasa tenang dan ringan.

Beberapa hari ini, saya sebenarnya ingin mencari tempat-tempat untuk berkemah atau menjelajah alam. Sayang sekali kalau Sleeping Bag (SB) anyar saya tergeletak saja di dalam kamar. Apalah daya, tak ada ajakan. Atau sebenarnya, saya saja yang tak ada inisiatif. Terlalu banyak pilihan mau kemana. Akhirnya, tergeletak dan tak ada yang terealisasi. Hahaha.....

Menggantikan perjalanan outdoor dengan membaca buku juga masih itu-itu saja. Toh, bacaan saya belum kelar-kelar. Selalu saja ada yang menyela atau mengganggu, termasuk keinginan membuka-buka media sosial. Ckckck... wajar kalau target bacaan tahun ini kembali mandek. 

Ini semua nyambung-nyambung saja ya? Iya. Gitu doang. 

Yang namanya Moka Pot itu tuh. (Imam Rahmanto)


--Imam Rahmanto--

Sabtu, 18 November 2017

Bayang-bayang di Kepala

November 18, 2017
"Piye kabare, Pak?"

Saya mengawali perbincangan malam itu dengan pertanyaan basa-basi. Tak biasanya saya yang menelepon langsung ke orang tua. Mimpi malam sebelumnya benar-benar membuat pikiran saya agak was-was. Sedikitnya disusupi pula rasa takut.

Mimpi itu tak begitu menakutkan secara realitas. Hanya saja, berbagai tafsir mimpi yang saya jelajahi di Google menyebutkan itu sebagai hal yang sangat menakutkan. Primbon Jawa juga berkata hal yang sama. Gigi tanggal atau copot dalam adegan berdurasi relatif itu sama sekali tak bisa dikatakan bunga tidur. Tanpa sebab, dan tanpa ada adegan seperti yang selalu dibintangi Jackie Chan. 

Ditambah lagi, saya terbiasa tidur tanpa ekspektasi atau drama mimpi apa pun. Bangun tidur, plong, hanya sedikit kesiangan. Namun, entah bagaimana, mimpi itu baru saja muncul dan memaksa saya harus menekan tombol panggilan untuk adik saya, sebelum melanjutkan ke Bapak.

Saya awalnya menyangka, adegan packing dadakan - meninggalkan pekerjaan - menggeser prioritas di kepala, akan terjadi pada waktu itu. 

(Foto: Imam Rahmanto)

***

Belum genap setahun semenjak saya terbang sendirian ke kampung halaman keluarga. Bukan urusan besar, lantaran hanya sekadar menyambangi acara pernikahan saudara sepupu. Hanya saja, saya mesti memangkas jarak Enrekang - Lamongan demi meneguhkan kepercayaan bapak. Bagi bapak, anak sulungnya ini masih belum bisa dipercaya menyediakan prioritas keluarga di segala kerumitan kepala. Apalagi insiden kecil pernah membuat kami "berseteru".

Meski begitu, saya belajar banyak hal dari kejadian masa lampau itu. Bahwa keluarga selalu punya tempat khusus dalam kehidupan siapapun. Sekecil-kecilnya permintaan mereka, saya harus menyanggupi semampu-mampunya. Hal itu seiring peran saya yang semakin bertambah. Bapak sudah lama mengidap penyakit, yang memaksanya hanya bisa berbaring meski masih bisa jelas tertawa dan bercanda.

Saya belajar, pekerjaan dan keluarga tentu menjadi hal yang harus tetap terhubung. Hal itu pula yang memaksa saya harus tetap menghubungkan keduanya dengan berbagai jenis penerbangan lintas pulau. 

Saya pernah menjajal perjalanan laut karena biaya yang lebih murah. Hanya saja, waktu untuk bertemu keluarga jauh lebih lambat. Perjalanan melintas pulau tak ada harganya jika dibandingkan momen menatap senyum sumringah bapak dan mamak. Selain itu, saya sudah mulai harus membiasakan diri melakukan perjalanan udara, kelak.

Toh, teknologi sudah menawarkan banyak kemudahan bagi siapa saja yang ingin mencoba. Traveloka ternyata menjadi "kelinci percobaan" pertama saya dalam membandingkan harga dan jadwal tiket pesawat. Saya bisa lebih mudah memilih jadwal dan jenis penerbangan terbaik versi saya. 

Seusang-usangnya hape, harus selalu standby dengan perjalanan kemanapun. (Imam Rahmanto)

Pengalaman terbang beberapa kali membuat saya lebih condong pada maskapai tertentu. Bahkan, saya juga baru paham bahwa tiket melonjak di waktu-waktu tertentu. Itulah gunanya mengecek jadwal penerbangan jauh hari sebelumnya. 

"Serius, sudah pesan tiket? Trus piye cara mbayar? Lewat apa?" tanya bapak, suatu ketika.

Belum genap seminggu putranya melepas rindu di rumah, sudah ujug-ujug ingin kembali lagi berkutat dengan pekerjaannya. Baik masa lowong maupun Idul Fitri tak pernah bisa habis dinikmati di kampung pinggiran Bengawan Solo itu. Maklum, waktu libur pekerja media memang sangat minim. Bahkan, kami harus mencuri-curi waktu demi mengakali cuti.

"Sudah. Kan, tadi aku dari ATM di Pasar Babat. Ngirime ya lewat transfer. Kalau tiket sekarang ndak mesti nyetak. Sudah ada di dalam hape," jawab saya seadanya, menyesuaikan pengetahuan bapak soal smartphone dan tetek-bengeknya.

"Jadi, berangkat jam berapa?" 

Saya cukup menggeser jari diantara menu sederhana yang sudah disediakan Traveloka. Tiket elektronik biasanya sudah dikirimkan hanya dalam rentang perjalanan saya dari pasar kota ke rumah. Segalanya sudah terangkum jadi satu. Bahkan, fitur untuk menjadwal ulang penerbangan sudah tersedia begitu apik. Memesan tiket tak perlu ribet, kan?

Nampaknya saya memang sangat sulit berpisah dengan aplikasi travelling itu. Saya sengaja menyisakannya diantara beberapa aplikasi lain yang memberatkan memori. Alasannya tentu karena saya selalu berpedoman pada aplikasi berlogo burung biru itu untuk urusan tiket penerbangan, kemana pun. Meski pada kenyataannya, history saya masih berputar antara Surabaya dan Makassar. 

Oleh karena itu, jikalau pun kemarin bakal ada skenario packing dadakan - meninggalkan pekerjaan - menggeser prioritas di kepala, saya sudah percaya diri terbang dengan satu-dua ketukan lewat aplikasi tersebut

***

"Seger waras kok, Im..." jawaban Bapak yang tegas terasa melegakan.

Ia juga sedikit bercerita tentang keadaan rumah. Berganti dengan sedikit kabar saya tentang pekerjaan. Meski bukan pekerjaan yang diingini Bapak, lambat laun ia sudah mulai memahami dan nrimo bahwa PNS bukan satu-satunya pekerjaan keren buat anaknya. Ia mengerti, anaknya lebih suka bertualang di luar ruangan kedap udara dan ber-AC.

"Sudahlah, rausah dipikir. Anggap saja sebagai bunga tidur. Yang penting berdoa saja supaya ndak ada apa-apa," pesan Bapak dari ujung telepon. Saya mengangguk pelan. 

Tempat dimana rindu akan selalu berlabuh. (Imam Rahmanto)

--Imam Rahmanto--

IG: @cappuccino_time